1,720,965 research outputs found
Society Participation Through Conscious Conscious Tourism In Pkk City Of Tegal City (Cek Similarity)
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write ( TTW) dapat Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis dan Prestasi Belajar pada Mata Pelajaran IPS
Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write salah satu metode pembelajaran di era globalisasi yang dapat menciptakan pembelajaran menyenangkan siswa dan meningkatkan kemampuan berfikir kritis untuk menghasilkan SDM yang berkualitas, mampu bersaing dan memiliki kemampuan intelektual. Model pembelajaran Think Talk Write diperkenalkan oleh Huinker dan Laughlin pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh enam. Pada dasarnya pembelajaran tersebut dibangun melalui tiga aktivitas utama yaitu berpikir atau Think, berbicara atau Talk, dan menulis atau Write. Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis nformasi dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau media komunikasi. Tujuan penelitiannya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar siswa. Dari analisis terbukti Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Think Talk write atau TTW dapat meningkatkan berfikir kritis dan prestasi belajar sisw
Pengaruh Sarana Prasarana dan Prasarana terhadap Minat Belajar Siswa di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal
Pendidikan tidak dapat dilaksanakan tanpa kurikulum, bahwa kurikulum menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Sederhananya, kurikulum menjadi pedoman dalam pelaksanaan sekolah, karena kurikulum menjadi dasar pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah hail ini salah satu faktor penyebab.kualitas pendidikan d Indonesia,sehingga mengakibatkan kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah dikarenakan juga disebabkan beberapa hal yang lainnya pertama, kurangnya sarana dan prasarana yang menjadi penunjang pembelajaran Misalnya kurangnya gedung kelas pada suatu sekolah menyebabkan jumlah murid disetiap melebihi kapasitas Kedua,tenaga pendidik yang kurang profesional. Fasilitas pendidikan pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam empat kelompok yaitu tanah, bangunan, perlengkapan, dan perabot sekolah (site, building, equipment, and furniture). Agar semua fasilitas tersebut memberikan kontribusi yang berarti pada jalannya proses pendidikan, hendaknya dikelola dengan baik.dimaksud meliputi: (1) Perencanaan, (2) Pengadaan, (3) Inventarisasi, (4) Penyimpanan, (5) Penataan, (6) Penggunaan, (7) Pemeliharaan, dan (8) Penghapusan. Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu tolok ukur dari mutu sekolah. Tetapi fakta dilapangan banyak ditemukan sarana dan prasarana yang tidak dioptimalkan dan dikelola dengan baik untuk itu diperlukan pemahaman dan pengaplikasian manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah Secara umum sarana dan prasarana adalah alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan publik, karena apabila kedua hal ini tidak tersedia.Peneliti menggunakan metode Kualitatif. ,teknik pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah,sumber data primer ,dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta, wawancara mendalam ,dan dokumentasi.Langkah langkag tang dilakukan kepala sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal adalah Pengelolaan sarana prasarana di SD Negeri Kecamatan suradadi Kabupaten Tegal, Strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan minat belajar siswa di SD Negeri kecamatan suradadi kabupaten tega
MENUMBUHKAN SIKAP KARAKTER UNTUK MEMBANGUN SEMANGAT GENERASI MUDA BERKELANJUTAN DI KOTA TEGAL
Upaya pembentukan karakter memiliki makna lebih tinggi dari
pembentukan moral, karena pembentukan karakter tidak hanya berkaitan dengan
masalah benar-salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan tentang hal-hal
yang baik dalam kehidupan, sehingga anak atau peserta didik memiliki kesadaran
dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan
kebajikan dalam kehidupan sehari-hari
Menumbuhkan sikap kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka
dan berdaulat di antara negara-negara lainnya di dunia, perlu memahami nilainilai
yang terkandung dalam konsepsi kebangsaan yang meliputi: Wawasan
Nusantara, Ketahanan Nasional, Kewaspadaan Nasional dan Politik Luar Negeri
Bebas Aktif.
Masuknya generasi muda ke sector publik, berarti perannya tidak sekedar
untuk sementara tetapi bertanggung jawab dalam sosialisasi atau bimbingan
untuk generasi muda melahirkan masa depan dapat mengembangkan,
memandirikan, menswadayakan, memperkuat posisi tawar menawar masyarakat
lapisan bawah terhadap kekuatan kekuatan penekan disegala bidang dan sektor
kehidupan. Masyarakat yang mandiri sebagai partisipan terbukanya ruang dan
kapasitas mengembangkan potensi-kreasi, mengontrol lingkungan sumberdaya
sendiri.
Proses partisipatif yang terstruktur dan terkait evaluasi dikembangkan
untuk mendeteksi sistem belajar dengan para pengambil keputusan yang terlibat
dalam pengelolaan sumber daya alam dan partisipatif diuji coba, bukti ilmiah
yang terintegrasi secara sistematis disajikan untuk menantang keyakinan yang ada
berkaitan dengan efektivitas tindakan kebijakan yang diusulkan dan investasi
pembangunan
Kata Kunci : Karakter dan generasi
Pengaruh Metode Fokus Group Discussion dan Perilaku Inovatif Guru PAUD terhadap Pengembangan Modul Ajar Kurikulum Merdeka
Salah satu contoh perilaku inovatif guru dalam penyusunan modul ajar adalah desain kegiatan yang mendorong kolaborasi antar siswa, melatih keterampilan komunikasi dan kerja sama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh metode Fokus Group Discussion terhadap pengembangan modul ajar kurikulum merdeka, perilaku inovatif guru terhadap pengembangan modul ajar kurikulum merdeka, dan interaksi antara metode Fokus Group Discussion (FGD) dan perilaku inovatif guru terhadap pengembangan modul ajar kurikulum merdeka PAUD di Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif yang meneliti populasi atau sampel tertentu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Metode survei adalah proses yang mengambil sampel dari populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Berdasarkan pemaparan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa: Metode Fokus Group Discussion berpengaruh terhadap pengembangan modul ajar kurikulum merdeka di Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal. Dari enam puluh responden yang menjawab kuesioner Sangat Tidak Setuju sebesar dua orang. Tidak Setuju sebesar tiga orang atau sebesar. Netral sebesar delapan orang, dan Setuju sebesar empat puluh tujuh orang. Perilaku inovatif guru berpengaruh terhadap pengembangan modul ajar kurikulum merdeka di Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal. Dari enam puluh tujuh responden yang menjawab Sangat Tidak Setuju sebanyak dua orang. Tidak Setuju sebanyak tiga orang. Netral sebanyak enam orang . Setuju sebanyak empat puluh dua orang. Sangat Setuju sebanyak tujuh orang. Total enam puluh orang. (3) Interaksi antara metode Fokus Group Discussion (FGD) dan perilaku inovatif guru terhadap pengembangan modul ajar kurikulum merdeka antara lain FGD memicu perilaku inovatif guru, mendukung implementasi perilaku inovatif guru, memfasilitasi kolaborasi dan kerjasama, dan FGD sebagai alat evaluasi dan pengembangan
Pengembangan Bahan Ajar IPAS Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Proses pembelajaran IPAS di SD memiliki potensi besar dalam merangsang rasa ingin tahu, membentuk pemahaman konsep awal, serta mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah. Salah satu kendala dalam pembelajaran IPAS yaitu kurangnya bahan ajar yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan dapat meningkatkan hasil belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis, mendesain dan mengembangkan bahan ajar dan untuk mengetahui hasil pengembangan bahan ajar untuk meingkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPAS kelas IV di Kabupaten Tegal.Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Research and Development (R&D) model ADDIE (Analysis, Design, Develop, Implementation dan Evaluation). Tahap Analysis merupakan tahap awal untuk menganalisis kebutuhan peserta didik. Tahap Design merupakan tahap merancang produk yang akan dibuat sesuai dengan kurikulum Merdeka. Develop merupakan tahap validasi oleh ahli materi dari hasil yang diperoleh dari validasi ahli materi bahwa produk valid dan layak. Uji T menunjukkan bahwa nilai t hitung pada penelitian ini -24,698 < 1.295 atau nilai t hitung < nilai t tabel, maka H0 diterima terdapat adanya perbedaan signifikan antara posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Jadi, kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh penggunaan bahan ajar discovery learning berbasis proyek terhadap hasil belajar siswa kelas IV pada materi tumbuhan bagian paling penting dibumi di kelas eksperimen
Implementasi Pembelajaran Kimia Berbasis Project untuk Meningkatkan Kreativitas Berpikir dan Literasi Sains
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik modul pembelajaran kimia berbasis projek, menghasilkan modul pembelajaran kimia berbasis projek yang layak, menganalisis peningkatan kreativitas berpikir dan literasi sains siswa setelah menggunakan modul pembelajaran kimia berbasis Projek Based Learning. Pengembangan modul ini menggunakan metode Research and Development, dengan model Analisys, Design, Development, Implemetation, dan Evaluation. Analisis efektivitas penggunaan modul menggunakan N Gain Score. Temuan penelitian adalah desain modul pembelajaran kimia berbasis project dengan enam sintaks pembelajaran PjBL, uji kelayakan modul memenuhi kriteria layak. Hasil validasi ahli materi menunjukkan kriteria sangat layak dan hasil validasi ahli media menunjukkan kriteria sangat layak. Jadi pembelajaran menggunakan modul berbasis project pada materi hidrokarbon dapat meningkatkan kreativitas berpikir siswa kategori cukup efektif, dan meningkatkan literasi sains siswa kategori cukup efektif
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
