1,721,154 research outputs found

    Pengaruh Media Tanam dan Intensitas Naungan Terhadap Pertumbuhan Bibit Bakau Minyak (Rhizophora apiculata).

    No full text
    Kerusakan hutan mangrove membuat luasan hutan dan jenis tanaman mangrove berkurang. Perbaikan hutan mangrove memerlukan bibit yang memiliki pertumbuhan baik serta tahan terhadap hama dan penyakit. Intensitas naungan dan media tanam merupakan faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh media tanam dan intensitas naungan terhadap pertumbuhan bibit bakau minyak (R. apiculata). Penelitian ini dilakukan selama 12 minggu dan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) untuk menganalisis data. Faktor pertama yaitu media tanam (A) dengan 3 taraf perlakuan yaitu tanah lumpur (A0), tanah lumpur dan kompos (A1), serta campuran tanah lumpur, pasir, dan kompos (A2). Faktor kedua yaitu intensitas naungan (N) yang terdiri dari 3 taraf yaitu intensitas naungan 0% (N0), 50% (N1), dan 70% (N2). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas naungan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan R. apiculata, sedangkan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan R. apiculata. Pertumbuhan terbaik pada bakau minyak (R. apiculata) yaitu pada perlakuan intensitas naungan 0% (N0)

    Species Composition, Stand Structure, Biomass, and Carbon Storage of Stands in the Lower Mountain Forest of Gunung Ciremai National Park

    No full text
    Ekosistem hutan pegunungan bawah memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan fungsi ekologis yang sangat penting. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi jenis, struktur tegakan, menduga potensi biomassa, dan simpanan karbon tegakan di hutan pegunungan bawah Taman Nasional Gunung Ciremai. Metode penelitian ini menggunakan analisis vegetasi dengan metode plot kombinasi jalur dan garis berpetak. Biomassa dan simpanan karbon pada tingkat tiang dan pohon dihitung menggunakan persamaan alometrik. Komposisi jenis hasil analisis vegetasi terdiri dari 11 jenis pohon beserta permudaannya, dan 14 jenis tumbuhan bawah. Ageratina riparia merupakan jenis tumbuhan bawah dominan yang paling banyak ditemukan. Calliandra calothyrsus merupakan jenis dominan pada tingkat semai, pancang, dan tiang, serta Pinus merkusii merupakan jenis dominan pada tingkat pohon. Nilai kerapatan tumbuhan bawah, pohon beserta permudaannya mendekati bentuk kurva J terbalik. Stratifikasi tajuk tegakan didominasi oleh pohon-pohon stratum C (tinggi pohon 4-20 m). Nilai total dugaan biomassa dan simpanan karbon tegakan masing-masing sebesar 452,11 ton/ha dan 212,49 ton/ha.The lower montane forest ecosystem harbors high biodiversity and plays a vital ecological role. This study aimed to analyze species composition, stand structure, and estimate biomass potential and carbon stock of forest stands in the lower montane forest of Gunung Ciremai National Park. The research employed vegetation analysis using a combination of line and plot sampling methods. Biomass and carbon stock at pole and tree levels were estimated using allometric equations. Vegetation analysis identified 11 tree species (including regeneration stages) and 14 understory plant species. Ageratina riparia was the most dominant understory species. Calliandra calothyrsus was dominant at the seedling, sapling, and pole levels, while Pinus merkusii dominated the tree layer. The density distribution of understory vegetation and tree regeneration resembled a reversed J-shaped curve. Canopy stratification was dominated by trees in stratum C (tree height of 4–20 m). The total estimated biomass and carbon stock of the stand were 452.11 tons/ha and 212.49 tons/ha, respectively

    The Growth Responses of Tancang (Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk.) Seedling on Inundation Level in Kawasan Mangrove Jalan Tol Sedyatmo, Jakarta Utara.

    No full text
    Indonesia as a mega biodiversity country has mangrove forest amounted to 7.7 million hectares. Mangrove forest with whole benefits in ecology, economy, and social aspects, also have the problems, such as forest conversion and land overuse. Besides the problems in Indonesia, there is also world environment problem. That is global warming that take effect mangrove forest for rising of sea level effect. Related to that things, we need to know the information about species of mangroves that can be adaptived at increasing sea level and also species that can support for mangrove rehabilitation. Because of that, information needed about mangrove species growth responses at various inundation levels and shading caused this research important to do. This research used Randomized Complete Block Design with inundation level treatment that placed in two blocks, shading block and without shading block. The treatment is divided into three treatment stages, that are inundation until limit of the root neck, inundation between ¼ clear bole height and ½ clear bole height, and inundation between ½ clear bole height and ¾ clear bole height. Mangrove species that is used in this research is 6 months years old seedling of tancang (Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk.). The research results showed that inundation level which gave the best influence to the growth of B. gymnorrhiza seedling is inundatoion until limit of neck of the root. However, B. gymnorrhiza can adapt and having good growth at inundation up to ½ clear bole height. In general, the influence of research block did not give effect to the growth parameter responses, except in branch of seedling.Indonesia sebagai negara mega biodiversitas memiliki luas hutan mangrove sekitar 7.7 juta hektar. Hutan mangrove dengan berbagai manfaatnya pada aspek ekologi, ekonomi, dan sosial, tidak terlepas dari permasalahan, di antaranya konversi hutan dan pemanfaatan hutan secara berlebihan. Selain permasalahan di Indonesia, terdapat pula permasalahan lingkungan dunia. Permasalahan tersebut adalah global warming yang berpengaruh pula terhadap hutan mangrove di Indonesia atas dampak kenaikan permukaan air laut yang ditimbulkan. Terkait hal tersebut, diperlukan informasi mengenai jenis mangrove yang adaptif atas kenaikan permukaan air laut dan juga jenis yang mampu mendukung untuk rehabilitasi lahan mangrove. Oleh sebab itu, kebutuhan informasi tentang respon pertumbuhan jenis mangrove pada berbagai tingkat penggenangan juga naungan menjadikan penelitian ini penting untuk dilakukan. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan perlakuan tingkat penggenangan yang diletakkan dalam dua blok atau kelompok, yaitu blok naungan dan tanpa naungan. Perlakuan tersebut terbagi menjadi tiga taraf perlakuan, yakni penggenangan hingga batas leher akar, penggenangan antara ¼ tinggi batang bebas daun (T) dan ½ T, serta penggenangan antara ½ T dan ¾ T. Jenis tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah semai tancang (Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk.) yang berumur 6 bulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat penggenangan yang berpengaruh paling baik terhadap pertumbuhan semai B. gymnorrhiza adalah penggenangan hingga batas leher akar. Namun, B. gymnorrhiza dapat beradaptasi dan tumbuh baik pada penggenangan hingga batas ½ tinggi batang bebas daun. Adapun pengaruh blok tidak memberikan pengaruh terhadap respon parameter pertumbuhan semai, kecuali dalam hal jumlah cabang

    Respon Pertumbuhan Semai Bakau (Rhizophora mucronata Lamk.) terhadap Tingkat Kedalaman dan Lama Penggenangan

    No full text
    Bakau (R. mucronata) represents the type of mangrove plant that growing in a group, located closely or in tidal area. Global warming affected the rise of sealevel brought the longer and deeper inundate of tidal water to mangrove zone. This research aims to analyze the tolerance of bakau seedling from various inundations level and duration. This research was conducted factorial 3 x 3 in Randomize Complete Design with the first treatment is the inundation duration (3-6, 6-9 and 12-15 hours) and the second treatment is the inundation level (until the the root neck, between ¼-½ stem height and between ½-¾ stem height). Results of this research clearly showed that inundation duration bring significant effect to height growth and amount of internodes. Duration inundation treatment on 3-6 hours and 6-9 hours gave better responses than 12-15 hours

    Respon Pertumbuhan Bibit Api-api (Avicennia alba) terhadap Tingkat Kedalaman Genangan dan Lama Penggenangan

    No full text
    Peningkatan muka air laut adalah salah satu dampak yang ditimbulkan dari terjadinya pemanasan global. Hutan mangrove akan menjadi ekosistem pertama yang akan terkena dampak dari meningkatnya air laut. Lama penggenangan dan tingkat kedalaman genangan merupakan faktor yang mempengaruhi hutan mangrove sebagai akibat meningkatnya muka air laut. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit Avicennia alba terhadap berbagai tingkat kedalaman dan lama penggenangan, serta mengetahui kombinasi perlakuan yang terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan dua faktor dalam rancangan acak lengkap (RAL). Faktor pertama yaitu lama penggenangan dan faktor kedua tingkat kedalaman. Hasil penelitian menunjukkan hanya tingkat kedalaman yang mempegaruhi pertumbuhan bibit A. alba. Perlakuan B2 ( ¼–½ tinggi total) adalah perlakuan terbaik pada variabel pertumbuhan tinggi. Perlakuan B3 ( ½–¾ tinggi total) adalah perlakuan terbaik pada variabel berat kering total. Adapun kombinasi perlakuan yang memberikan hasil terbaik berdasarkan nilai pembobotan terdapat pada perlakuan A1B3 (lama penggenangan 3–6 jam dan tingkat kedalaman ½–¾ tinggi total)

    Species Composition, Stand Structure, Biomass, and Carbon Storage of Stands in the Lower Mountain Forest of Gunung Ciremai National Park

    No full text
    Ekosistem hutan pegunungan bawah memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan fungsi ekologis yang sangat penting. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi jenis, struktur tegakan, menduga potensi biomassa, dan simpanan karbon tegakan di hutan pegunungan bawah Taman Nasional Gunung Ciremai. Metode penelitian ini menggunakan analisis vegetasi dengan metode plot kombinasi jalur dan garis berpetak. Biomassa dan simpanan karbon pada tingkat tiang dan pohon dihitung menggunakan persamaan alometrik. Komposisi jenis hasil analisis vegetasi terdiri dari 11 jenis pohon beserta permudaannya, dan 14 jenis tumbuhan bawah. Ageratina riparia merupakan jenis tumbuhan bawah dominan yang paling banyak ditemukan. Calliandra calothyrsus merupakan jenis dominan pada tingkat semai, pancang, dan tiang, serta Pinus merkusii merupakan jenis dominan pada tingkat pohon. Nilai kerapatan tumbuhan bawah, pohon beserta permudaannya mendekati bentuk kurva J terbalik. Stratifikasi tajuk tegakan didominasi oleh pohon-pohon stratum C (tinggi pohon 4-20 m). Nilai total dugaan biomassa dan simpanan karbon tegakan masing-masing sebesar 452,11 ton/ha dan 212,49 ton/ha.The lower montane forest ecosystem harbors high biodiversity and plays a vital ecological role. This study aimed to analyze species composition, stand structure, and estimate biomass potential and carbon stock of forest stands in the lower montane forest of Gunung Ciremai National Park. The research employed vegetation analysis using a combination of line and plot sampling methods. Biomass and carbon stock at pole and tree levels were estimated using allometric equations. Vegetation analysis identified 11 tree species (including regeneration stages) and 14 understory plant species. Ageratina riparia was the most dominant understory species. Calliandra calothyrsus was dominant at the seedling, sapling, and pole levels, while Pinus merkusii dominated the tree layer. The density distribution of understory vegetation and tree regeneration resembled a reversed J-shaped curve. Canopy stratification was dominated by trees in stratum C (tree height of 4–20 m). The total estimated biomass and carbon stock of the stand were 452.11 tons/ha and 212.49 tons/ha, respectively

    Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina dan Rhizophora apiculata di Kawasan Tambak Tumpangsari Muara Blacan Bekasi.

    No full text
    Dekomposisi serasah merupakan komponen penting dari proses siklus nutrisi yang memberikan kontribusi besar terhadap kesuburan air. Tujuan penelitian ini adalah mengukur laju dekomposisi serasah daun Avicennia marina dan Rhizophora apiculata serta kandungan unsur hara yang dilepas (C organik, N, dan P) selama proses dekomposisi serasah di kawasan tambak tumpangsari Muara Blacan, Bekasi. Dekomposisi serasah daun mangrove dilakukan dengan menggunakan kantong serasah berukuran 30 x 40 cm. Setiap kantong serasah berisi 100 g berat kering serasah jenis A. marina, R apiculata, dan jenis campuran antara A. marina dan R. apiculata. Kantong serasah diletakkan di lahan tambak yang ditumbuhi jenis A. marina (LTAv), lahan tambak yang ditumbuhi jenis R. apiculata (LTRa), dan lahan tambak yang ditumbuhi oleh kedua jenis tersebut (LTAr). Hasil penelitian selama 8 minggu pengamatan menunjukkan bahwa laju dekomposisi serasah daun R. apiculata pada LTRa berkisar antara 0.012 hingga 0.189 lebih tinggi dibandingkan serasah daun A. marina pada LTAv berkisar antara 0.011 hingga 0.180, dan serasah campuran R. apiculata dan A. marina pada LTAr berkisar antara 0.011 hingga 0.174

    Komposisi Jenis dan Struktur Vegetasi Hutan Mangrove di Pulau Putri dan Pulau Mengkubung, Kabupaten Bangka

    No full text
    Keberadaan pulau-pulau kecil di Indonesia bergantung pada hutan mangrove ataupun hutan pantai yang berada di atasnya. Komposisi jenis dan struktur vegetasi pulau-pulau kecil umumnya berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta membandingkan komposisi jenis dan struktur vegetasi di Pulau Putri yang berada di perairan terbuka dan Pulau Mengkubung yang berada di perairan semi tertutup, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey vegetasi berupa metode kombinasi antara jalur dan garis berpetak pada bulan Oktober-November 2016. Selain jumlah dan jenis dominan, nilai indeks dominansi jenis (C), indeks keanekaragaman jenis (H’), indeks kemerataan jenis (E), dan indeks kekayaan jenis (R) di kedua pulau cenderung sama. Jumlah jenis tumbuhan yang ditemukan di Pulau Putri sebanyak 11 jenis dari 11 famili, sedangkan di Pulau Mengkubung sebanyak 24 jenis dari 19 famili. Jenis Heritiera littoralis mendominasi vegetasi tingkat pohon di Pulau Putri, sedangkan Pulau Mengkubung didominasi oleh jenis Sonneratia alba. Indeks kesamaan jenis pandan dan palem di kedua pulau tergolong tinggi dengan persentase 77,78%, sedangkan pada kriteria pertumbuhan lainnya tergolong rendah. Struktur horizontal tegakan di kedua pulau menunjukkan kurva huruf J terbalik yang artinya kondisi hutan tergolong normal. Adapun struktur tegakan vertikal di kedua pulau terdiri dari tiga strata yaitu stratum C, D, dan E

    Pengaruh Tingkat Kedalaman dan Lama Penggenangan terhadap Pertumbuhan Bibit Bakau (Rhizophora apiculata).

    No full text
    Pemanasan global merupakan salah satu fenomena alam yang menyebabkan naiknya muka air laut. Dampak yang disebabkan oleh naiknya muka air laut yaitu terganggunya ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari tingkat kedalaman dan lama penggenangan terhadap pertumbuhan bibit Rhizophora apiculata. Rancangan penelitian yang digunakan adalah percobaan faktorial 3x3 dalam Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan perlakuan lama penggenangan (3-6,6-9 dan 12-15 jam) sebagai faktor pertama dan tingkat kedalaman penggenangan (penggenangan sampai leher akar, penggenangan ¼ - ½ tinggi batang dan penggenangan ½ - ¾ tinggi batang) sebagai faktor kedua. Hasil penelitian menunjukkan lama penggenangan 3-6 jam memberikan respon pertumbuhan tinggi, diameter, dan jumlah buku yang lebih besar dibandingkan lama penggenangan lainnya. Tingkat kedalaman penggenangan sampai batas leher akar memberikan respon pertumbuhan diameter yang lebih baik dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lainnya

    Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan Hutan di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara

    No full text
    Forest is an ecosystem that combines the interaction between biotic and abiotic factors. Ecologically, the formation of forest community formed gradually through the changing of the vegetation and habitat. Community of forest is a dynamic and always changing until it reaches a optimum stage. The growth of a tree species in a forest community is influenced by several factors, including climatic factors, edaphic, physiological and biotic factors. The changing in the factors mentioned previously will take effect on the vegetation structure and composition. Forest with a variety functions and benefits provide a tremendous influence both directly and indirectly to several aspects such as ecology, economic, and social. Utilization of forests can be well manage and reach the sustainably if the information about the forest condition are available. Sibolangit Nature Reserve which is located in Deli Serdang regency. The existence of the Sibolangit Nature Reserve with high biodiversity information still limited, therefore it is necessary needed to have a study of nature reserve in order to explore the benefits and potency of the nature reserve without disturbing the presence and preservation of the forest. Hence, we need a study to in the Nature Reserve Sibolangit of the forest, analyze species the composition, and structure. This research conducted from December 2008 until January 2009 using vegetation analysis techniques with the transeet methods. As preliminary, the transeet divided into plots of 20m x 20m to inventory the trees, 10m x 10m to analyze the pole, 5m x 5m to inventory the saplings, and the 2m x 2m to inventory the seedling. For the sampling unit it uses a sampling design in the form of systematic sampling with random start. Based on the results of observation, the seedlings and saplings dominated by Sono keling (Dalbergia latifolia). While for the poles and trees dominated by Angsana (Pterocarpus indicus). The diversity value in Sibolangit Nature Reserve classified as medium diversity. In Sibolangit Nature Reserve, the highest Similarity Index values was found in the north-south slope and the lowest one found in north-eastern slopes. Forest vegetation Sibolangit Nature Reserve in vertical point of view consists of three strata, namely the stratum A (tree height over 30 meters), stratum B (tree 20-30 meters high), and stratum C (tree height 4- 20 meters), where most of the tree population is distributed in the canopy stratum from 11 until 20 meters. All individuals in the forest show clustered distributed at both the tree and forest regeneration level
    corecore