313 research outputs found
The effect of waste on chlorophyll content of leaves and regeneration of mangrove forest at Angke Kapuk Protection Forest, Jakarta
Lestari F, Kusmana C. 2015. The effect of waste on chlorophyll content of leaves and regeneration of mangrove forest at Angke Kapuk Protection Forest, Jakarta. Bonorowo Wetlands 5: 77-84. Mangrove ecosystem is a transition ecosystem between land and sea. Currently the mangrove forests at Angke Kapuk Protection Forest, North Jakarta has been degraded by large amount waste. In connection with this situation, the forest research was carried out with the aim to consider the effect of waste existence on the chlorophyll content of tree’s leaf and the regeneration of mangrove forests in Angke Kapuk Protection Forest. The results showed that the existence of the waste has no effect on the chlorophyll content of leaves, but it has significant by impact on the regeneration of mangrove forest. This is shown with a density of mangrove seedlings in the less waste-occupied mangrove area is bigger than that of medium and high waste-occupied mangrove areas.</jats:p
Pengaruh Media Tanam dan Intensitas Naungan Terhadap Pertumbuhan Bibit Bakau Minyak (Rhizophora apiculata).
Kerusakan hutan mangrove membuat luasan hutan dan jenis tanaman mangrove berkurang. Perbaikan hutan mangrove memerlukan bibit yang memiliki pertumbuhan baik serta tahan terhadap hama dan penyakit. Intensitas naungan dan media tanam merupakan faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh media tanam dan intensitas naungan terhadap pertumbuhan bibit bakau minyak (R. apiculata). Penelitian ini dilakukan selama 12 minggu dan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) untuk menganalisis data. Faktor pertama yaitu media tanam (A) dengan 3 taraf perlakuan yaitu tanah lumpur (A0), tanah lumpur dan kompos (A1), serta campuran tanah lumpur, pasir, dan kompos (A2). Faktor kedua yaitu intensitas naungan (N) yang terdiri dari 3 taraf yaitu intensitas naungan 0% (N0), 50% (N1), dan 70% (N2). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas naungan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan R. apiculata, sedangkan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan R. apiculata. Pertumbuhan terbaik pada bakau minyak (R. apiculata) yaitu pada perlakuan intensitas naungan 0% (N0)
Species Composition, Stand Structure, Biomass, and Carbon Storage of Stands in the Lower Mountain Forest of Gunung Ciremai National Park
Ekosistem hutan pegunungan bawah memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan fungsi ekologis yang sangat penting. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi jenis, struktur tegakan, menduga potensi biomassa, dan simpanan karbon tegakan di hutan pegunungan bawah Taman Nasional Gunung Ciremai. Metode penelitian ini menggunakan analisis vegetasi dengan metode plot kombinasi jalur dan garis berpetak. Biomassa dan simpanan karbon pada tingkat tiang dan pohon dihitung menggunakan persamaan alometrik. Komposisi jenis hasil analisis vegetasi terdiri dari 11 jenis pohon beserta permudaannya, dan 14 jenis tumbuhan bawah. Ageratina riparia merupakan jenis tumbuhan bawah dominan yang paling banyak ditemukan. Calliandra calothyrsus merupakan jenis dominan pada tingkat semai, pancang, dan tiang, serta Pinus merkusii merupakan jenis dominan pada tingkat pohon. Nilai kerapatan tumbuhan bawah, pohon beserta permudaannya mendekati bentuk kurva J terbalik. Stratifikasi tajuk tegakan didominasi oleh pohon-pohon stratum C (tinggi pohon 4-20 m). Nilai total dugaan biomassa dan simpanan karbon tegakan masing-masing sebesar 452,11 ton/ha dan 212,49 ton/ha.The lower montane forest ecosystem harbors high biodiversity and plays a vital ecological role. This study aimed to analyze species composition, stand structure, and estimate biomass potential and carbon stock of forest stands in the lower montane forest of Gunung Ciremai National Park. The research employed vegetation analysis using a combination of line and plot sampling methods. Biomass and carbon stock at pole and tree levels were estimated using allometric equations. Vegetation analysis identified 11 tree species (including regeneration stages) and 14 understory plant species. Ageratina riparia was the most dominant understory species. Calliandra calothyrsus was dominant at the seedling, sapling, and pole levels, while Pinus merkusii dominated the tree layer. The density distribution of understory vegetation and tree regeneration resembled a reversed J-shaped curve. Canopy stratification was dominated by trees in stratum C (tree height of 4–20 m). The total estimated biomass and carbon stock of the stand were 452.11 tons/ha and 212.49 tons/ha, respectively
The Growth Responses of Tancang (Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk.) Seedling on Inundation Level in Kawasan Mangrove Jalan Tol Sedyatmo, Jakarta Utara.
Indonesia as a mega biodiversity country has mangrove forest amounted to 7.7 million hectares. Mangrove forest with whole benefits in ecology, economy, and social aspects, also have the problems, such as forest conversion and land overuse. Besides the problems in Indonesia, there is also world environment problem. That is global warming that take effect mangrove forest for rising of sea level effect. Related to that things, we need to know the information about species of mangroves that can be adaptived at increasing sea level and also species that can support for mangrove rehabilitation. Because of that, information needed about mangrove species growth responses at various inundation levels and shading caused this research important to do. This research used Randomized Complete Block Design with inundation level treatment that placed in two blocks, shading block and without shading block. The treatment is divided into three treatment stages, that are inundation until limit of the root neck, inundation between ¼ clear bole height and ½ clear bole height, and inundation between ½ clear bole height and ¾ clear bole height. Mangrove species that is used in this research is 6 months years old seedling of tancang (Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk.). The research results showed that inundation level which gave the best influence to the growth of B. gymnorrhiza seedling is inundatoion until limit of neck of the root. However, B. gymnorrhiza can adapt and having good growth at inundation up to ½ clear bole height. In general, the influence of research block did not give effect to the growth parameter responses, except in branch of seedling.Indonesia sebagai negara mega biodiversitas memiliki luas hutan mangrove sekitar 7.7 juta hektar. Hutan mangrove dengan berbagai manfaatnya pada aspek ekologi, ekonomi, dan sosial, tidak terlepas dari permasalahan, di antaranya konversi hutan dan pemanfaatan hutan secara berlebihan. Selain permasalahan di Indonesia, terdapat pula permasalahan lingkungan dunia. Permasalahan tersebut adalah global warming yang berpengaruh pula terhadap hutan mangrove di Indonesia atas dampak kenaikan permukaan air laut yang ditimbulkan. Terkait hal tersebut, diperlukan informasi mengenai jenis mangrove yang adaptif atas kenaikan permukaan air laut dan juga jenis yang mampu mendukung untuk rehabilitasi lahan mangrove. Oleh sebab itu, kebutuhan informasi tentang respon pertumbuhan jenis mangrove pada berbagai tingkat penggenangan juga naungan menjadikan penelitian ini penting untuk dilakukan. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan perlakuan tingkat penggenangan yang diletakkan dalam dua blok atau kelompok, yaitu blok naungan dan tanpa naungan. Perlakuan tersebut terbagi menjadi tiga taraf perlakuan, yakni penggenangan hingga batas leher akar, penggenangan antara ¼ tinggi batang bebas daun (T) dan ½ T, serta penggenangan antara ½ T dan ¾ T. Jenis tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah semai tancang (Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk.) yang berumur 6 bulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat penggenangan yang berpengaruh paling baik terhadap pertumbuhan semai B. gymnorrhiza adalah penggenangan hingga batas leher akar. Namun, B. gymnorrhiza dapat beradaptasi dan tumbuh baik pada penggenangan hingga batas ½ tinggi batang bebas daun. Adapun pengaruh blok tidak memberikan pengaruh terhadap respon parameter pertumbuhan semai, kecuali dalam hal jumlah cabang
Respon Pertumbuhan Semai Bakau (Rhizophora mucronata Lamk.) terhadap Tingkat Kedalaman dan Lama Penggenangan
Bakau (R. mucronata) represents the type of mangrove plant that growing in a group, located closely or in tidal area. Global warming affected the rise of sealevel brought the longer and deeper inundate of tidal water to mangrove zone. This research aims to analyze the tolerance of bakau seedling from various inundations level and duration. This research was conducted factorial 3 x 3 in Randomize Complete Design with the first treatment is the inundation duration (3-6, 6-9 and 12-15 hours) and the second treatment is the inundation level (until the the root neck, between ¼-½ stem height and between ½-¾ stem height). Results of this research clearly showed that inundation duration bring significant effect to height growth and amount of internodes. Duration inundation treatment on 3-6 hours and 6-9 hours gave better responses than 12-15 hours
Respon Pertumbuhan Bibit Api-api (Avicennia alba) terhadap Tingkat Kedalaman Genangan dan Lama Penggenangan
Peningkatan muka air laut adalah salah satu dampak yang ditimbulkan dari terjadinya pemanasan global. Hutan mangrove akan menjadi ekosistem pertama yang akan terkena dampak dari meningkatnya air laut. Lama penggenangan dan tingkat kedalaman genangan merupakan faktor yang mempengaruhi hutan mangrove sebagai akibat meningkatnya muka air laut. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit Avicennia alba terhadap berbagai tingkat kedalaman dan lama penggenangan, serta mengetahui kombinasi perlakuan yang terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan dua faktor dalam rancangan acak lengkap (RAL). Faktor pertama yaitu lama penggenangan dan faktor kedua tingkat kedalaman. Hasil penelitian menunjukkan hanya tingkat kedalaman yang mempegaruhi pertumbuhan bibit A. alba. Perlakuan B2 ( ¼–½ tinggi total) adalah perlakuan terbaik pada variabel pertumbuhan tinggi. Perlakuan B3 ( ½–¾ tinggi total) adalah perlakuan terbaik pada variabel berat kering total. Adapun kombinasi perlakuan yang memberikan hasil terbaik berdasarkan nilai pembobotan terdapat pada perlakuan A1B3 (lama penggenangan 3–6 jam dan tingkat kedalaman ½–¾ tinggi total)
Species Composition, Stand Structure, Biomass, and Carbon Storage of Stands in the Lower Mountain Forest of Gunung Ciremai National Park
Ekosistem hutan pegunungan bawah memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan fungsi ekologis yang sangat penting. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi jenis, struktur tegakan, menduga potensi biomassa, dan simpanan karbon tegakan di hutan pegunungan bawah Taman Nasional Gunung Ciremai. Metode penelitian ini menggunakan analisis vegetasi dengan metode plot kombinasi jalur dan garis berpetak. Biomassa dan simpanan karbon pada tingkat tiang dan pohon dihitung menggunakan persamaan alometrik. Komposisi jenis hasil analisis vegetasi terdiri dari 11 jenis pohon beserta permudaannya, dan 14 jenis tumbuhan bawah. Ageratina riparia merupakan jenis tumbuhan bawah dominan yang paling banyak ditemukan. Calliandra calothyrsus merupakan jenis dominan pada tingkat semai, pancang, dan tiang, serta Pinus merkusii merupakan jenis dominan pada tingkat pohon. Nilai kerapatan tumbuhan bawah, pohon beserta permudaannya mendekati bentuk kurva J terbalik. Stratifikasi tajuk tegakan didominasi oleh pohon-pohon stratum C (tinggi pohon 4-20 m). Nilai total dugaan biomassa dan simpanan karbon tegakan masing-masing sebesar 452,11 ton/ha dan 212,49 ton/ha.The lower montane forest ecosystem harbors high biodiversity and plays a vital ecological role. This study aimed to analyze species composition, stand structure, and estimate biomass potential and carbon stock of forest stands in the lower montane forest of Gunung Ciremai National Park. The research employed vegetation analysis using a combination of line and plot sampling methods. Biomass and carbon stock at pole and tree levels were estimated using allometric equations. Vegetation analysis identified 11 tree species (including regeneration stages) and 14 understory plant species. Ageratina riparia was the most dominant understory species. Calliandra calothyrsus was dominant at the seedling, sapling, and pole levels, while Pinus merkusii dominated the tree layer. The density distribution of understory vegetation and tree regeneration resembled a reversed J-shaped curve. Canopy stratification was dominated by trees in stratum C (tree height of 4–20 m). The total estimated biomass and carbon stock of the stand were 452.11 tons/ha and 212.49 tons/ha, respectively
Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina dan Rhizophora apiculata di Kawasan Tambak Tumpangsari Muara Blacan Bekasi.
Dekomposisi serasah merupakan komponen penting dari proses siklus
nutrisi yang memberikan kontribusi besar terhadap kesuburan air. Tujuan
penelitian ini adalah mengukur laju dekomposisi serasah daun Avicennia marina
dan Rhizophora apiculata serta kandungan unsur hara yang dilepas (C organik, N,
dan P) selama proses dekomposisi serasah di kawasan tambak tumpangsari Muara
Blacan, Bekasi. Dekomposisi serasah daun mangrove dilakukan dengan
menggunakan kantong serasah berukuran 30 x 40 cm. Setiap kantong serasah
berisi 100 g berat kering serasah jenis A. marina, R apiculata, dan jenis campuran
antara A. marina dan R. apiculata. Kantong serasah diletakkan di lahan tambak
yang ditumbuhi jenis A. marina (LTAv), lahan tambak yang ditumbuhi jenis R.
apiculata (LTRa), dan lahan tambak yang ditumbuhi oleh kedua jenis tersebut
(LTAr). Hasil penelitian selama 8 minggu pengamatan menunjukkan bahwa laju
dekomposisi serasah daun R. apiculata pada LTRa berkisar antara 0.012 hingga
0.189 lebih tinggi dibandingkan serasah daun A. marina pada LTAv berkisar
antara 0.011 hingga 0.180, dan serasah campuran R. apiculata dan A. marina
pada LTAr berkisar antara 0.011 hingga 0.174
Komposisi Jenis dan Struktur Vegetasi Hutan Mangrove di Pulau Putri dan Pulau Mengkubung, Kabupaten Bangka
Keberadaan pulau-pulau kecil di Indonesia bergantung pada hutan mangrove ataupun hutan pantai yang berada di atasnya. Komposisi jenis dan struktur vegetasi pulau-pulau kecil umumnya berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta membandingkan komposisi jenis dan struktur vegetasi di Pulau Putri yang berada di perairan terbuka dan Pulau Mengkubung yang berada di perairan semi tertutup, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey vegetasi berupa metode kombinasi antara jalur dan garis berpetak pada bulan Oktober-November 2016. Selain jumlah dan jenis dominan, nilai indeks dominansi jenis (C), indeks keanekaragaman jenis (H’), indeks kemerataan jenis (E), dan indeks kekayaan jenis (R) di kedua pulau cenderung sama. Jumlah jenis tumbuhan yang ditemukan di Pulau Putri sebanyak 11 jenis dari 11 famili, sedangkan di Pulau Mengkubung sebanyak 24 jenis dari 19 famili. Jenis Heritiera littoralis mendominasi vegetasi tingkat pohon di Pulau Putri, sedangkan Pulau Mengkubung didominasi oleh jenis Sonneratia alba. Indeks kesamaan jenis pandan dan palem di kedua pulau tergolong tinggi dengan persentase 77,78%, sedangkan pada kriteria pertumbuhan lainnya tergolong rendah. Struktur horizontal tegakan di kedua pulau menunjukkan kurva huruf J terbalik yang artinya kondisi hutan tergolong normal. Adapun struktur tegakan vertikal di kedua pulau terdiri dari tiga strata yaitu stratum C, D, dan E
- …
