1,720,956 research outputs found

    "Menguduskan" Pancasila : Sebuah Tinjauan terhadap Kekudusan Allah sebagai Standar Moral Komunitas Israel dalam Narasi Kitab Yosua dan Implikasinya bagi Pembentukan Moral Bangsa Indonesia

    No full text
    Negara Indinesia terkenal sebagai negara muultikultur dan multietnis tapi juga multiagama. Keadaan demikian di padukan dengan keindahan alam yang luar biasa, membuat negara archipelago ini marak dikunjungi turis mancanegara. Setidaknya ada lima agama besar yang diakui oleh pemerintah Indonesia, yaitu Islam, Budha, Hindu, Katolik, dan Kristen. Kelima agama diatas berusaha untuk mengkontekstualkan iman dan ajaran mereka dalam praktik kehidupan bernegara dengan pancasila sebagai pot yang mewadahinya. Kebebasan berekpresi kelima agama dalam pot pancasila, secara tidak langsung merujuk pada penetapan standar moral bangsa

    Tinjauan terhadap Praktik Pujian dalam Ritual Pengusiran Setan

    No full text
    Melantunkan puji-pujian saat melakukan ritual pengusiran setan (exorcism) merupakan praktik yang biasa dilakukan oleh umat Kristiani, termasuk pendeta. Praktik ini tidak hanya dilakukan oleh pendeta dari kalangan kharismatik tetapi juga dari kalangan injili. Biasanya para pendeta akan membentuk suatu tim pengusiran setan yang terdiri dari tiga, atau bahkan lebih, orang. Tim tersebut tidak hanya berfungsi untuk memegangi orang yang kerasukan atau membantu pendeta bila ada sesuatu yang dibutuhkan namun juga untuk menaikkan puji-pujian. Dari fenomena ini saja tampak pujian dipercaya memegang peranan yang cukup penting dalam ritual pengusiran setan. Walaupun praktik menyanyikan pujian ini masuk dalam daftar penting dan sudah biasa dilakukan oleh para pendeta ketika mengusir setan, sebenarnya ada satu pertanyaan yang masih mengganjal dalam pikiran penulis. Pertanyaan ini muncul karena penulis merasa bingung: mengapa hampir di setiap ritual pengusiran setan selalu menyanyikan pujian? Apakah pujian memiliki fungsi dalam ritual pengusiran setan? Apakah menyanyikan pujian saat melakukan ritual pengusiran setan itu memiliki dasar yang alkitabiah? Dengan berdasar dari pertanyaan-pertanyaan di atas maka penulis tertarik untuk membahas peran atau fungsi pujian dalam ritual pengusiran setan dalam agama Kristen. Penulis pertama-tama akan membahas tentang mengapa pujian itu penting dalam pengusiran setan sekaligus mengupas dasar-dasar Alkitab di dalamnya. Setelah itu penulis akan membahas orientasi dan kuasa puji-pujian dalam pengusiran setan

    Konsep Ras Paulus Berdasarkan Eksposisi Galatia 3:28; Kolose 3:10-11; dan Efesus 2:11-22, dan Implikasinya Terhadap Problem Rasisme Dalam Gereja Tionghoa di Indonesia.

    No full text
    Ideologi tentang hierarki ras merupakan konstruksi sosial buatan manusia. Ideologi ini pertama kali diciptakan oleh bangsa Eropa di abad pertengahan untuk membenarkan sistem perbudakan terhadap bangsa lain. Cara menjalankan ideologi ini adalah dengan menanamkan kepercayaan tentang adanya ras superior dan inferior. Sementara, untuk mendukung kepercayaan tersebut, segala upaya pembelaan dilakukan, mulai dari dukungan biologis sampai teologis. Pengklasifikasian ras superior dan inferior sangat bergantung pada ciri fisik masing-masing orang atau kelompok. Dalam hal ini, ideologi hierarki ras jelas sangat menguntungkan orang kulit putih sebab mereka berada di posisi paling atas dan layak untuk memperbudak orang berwarna kulit lainnya. Berdasarkan kerangka ideologi hierarki ras inilah pemerintah kolonial Belanda membagi sistem sosial masyarakat Indonesia ke dalam tiga kasta besar: Eropa, Tiongkok, pribumi (warga asli Indonesia). Pembagian masyarakat berdasarkan ras oleh Belanda berdampak pada segregasi di berbagai sektor sosial masyarakat, misalnya: tempat tinggal, politik, dan ekonomi. Segregasi dalam berbagai sektor tersebut menyebabkan kesenjangan ekonomi dan sosial di antara warga Tionghoa dan pribumi selama sekian ratus tahun lamanya. Akhirnya, konflik bertajukkan ras tidak dapat dielakkan lagi―tidak jarang pula korban berjatuhan akibat konflik tersebut. Kedua kelompok saling berbenturan, namun sering kali yang menjadi korban adalah warga keturunan Tionghoa. Konflik tersebut menorehkan pengalaman pahit, menyisakan duka, dan luka yang begitu mendalam bagi warga Tionghoa. Pengalaman sakit hati inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal sikap rasisme orang Tionghoa kepada pribumi dalam gereja. Menanggapi permasalahan ini, penulis mencoba menawarkan solusi yakni konsep ras Paulus. Secara singkat, konsep ras Paulus dapat dijabarkan ke dalam tiga poin pengajaran yakni: dibaptis di dalam Kristus, kesatuan di dalam kematian dan kebangkitan-Nya, serta manusia baru di dalam Dia. Inti dari ketiga pengajaran tersebut adalah bahwa semua umat percaya telah disatukan dalam satu identitas di dalam Kristus. Di dalam Kristus ada pengampunan, penerimaan, kesamaan, saling menghargai, dan menghormati. Tujuan akhir dari kebersatuan umat percaya di dalam Kristus adalah kesatuan umat percaya dalam gereja. Gereja dimampukan untuk bersatu sebab Kristus yang telah terlebih dahulu melakukannya bagi umat percaya. Pengajaran Paulus mengenai identitas umat percaya, salib Kristus, dan tugas gereja, menjadi dasar teologis bagi umat percaya di masa kini (khususnya bagi gereja Tionghoa) untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Di dalam Kristus, identitas seseorang tidak lagi dilihat berdasarkan ciri fisik, etnis, suku, dan golongan. Oleh sebab itu, tidak ada istilah superior-inferior, serta pembedaan perlakuan dalam gereja. Di dalam Kristus juga ada kasih, kasih yang cukup untuk mengampuni sesama dan membalut hati yang terluka oleh pengalaman masa lalu

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore