1,721,678 research outputs found
Half round for three violins (violin 1, violin 2, violin 3) karya Kristiyanto Christinus (2010)
Half Around menceritakan tentang perputaran kehidupan manusia, dari awal kelahiran sampai nafas terakhir. Berikut disampaikan oleh komposer melalui penulisan partitur grafik yang menyerupai circle, rotasi atau perputaran. Karya ini merupakan karya yang dimainkan dengan format 3 Biola. Karya ini adalah bentuk eksplorasi bunyi yang terinspirasi dari kebiasaan membersihkan kotoran biola dengan menggunakan beras yang diisikan kedalam badan biola kemudian digoyang – goyangkan. Medium bunyi dari beras yang digoyang – goyangkan memberi efek perkusif yang kemudian ditransformasikan kedalam karya komposisi musik.
Karya ini dibagi menjadi 3 pola dalam satu sajian. Pola pertama, eksplorasi dengan medium bunyi beras yang dimainkan dengan 3 cara yaitu cara jungkat – jungkit, ayakan, dan menggoyangkan body biola bagian bawah. Ketiga pola tersebut diolah dalam ritme yang berbeda untuk menghasilkan efek perkusi yang variatif. Pola kedua, eksplorasi dengan meniup f-hole pada badan biola serta memainkan teknik pizzicato tangan kiri. Pola ketiga, memainkan teknik double stop , tremollo dan glissando.
Ketiga pola permainan disajikan dengan tuning senar free interval menggunakan patokan nada paling rendah. Seperti, senar E lebih rendah dari senar A, senar A lebih rendah dari senar D, senar D lebih rendah dari senar G dan senar G menjadi senar dengan nada paling tinggi. Ketika karya ini dimainkan, dan pemain mengisikan beras ke badan biola juga sekaligus bermaksud untuk membersihkan kotoran dalam
Kristiyanto Christinus lahir di Surakarta (Solo) tahun 1959, dan sekarang tinggal di Yogyakarta. Saat ini aktif menjadi dosen dan mengajar di Jurusan Musik ISI Yogyakarta. Kristiyanto banyak meghadiri festival orkestra remaja, seperti di Indonesia, Malaysua dan Filiphina. Kristiyanto belajar membuat Biola dari Matthiru Besseling, seorang pembuat Biola ternama dari Amsterdam selama 2 tahun. Prestasi yang pernah diukir oleh Kristyanto Christinus antara lain :
1979 : Memenangkan DKI Composition Contest untuk Komposisi Musik Remaja, dengan judul “Semangat”. Komposisinya yang berjudul “A dan B” untuk kecapi dan orkestra mendapat kesempatan untuk ditampilkan pada Pekan Komponis Muda I di Gedung Teater TIM, Jakarta.
2010 : Karya – karya Kristiyanto telah dipagelarkan di Yogyakarta, seperti pada Yogyakarta Contemporary Music Festival dengan membawakan karyanya berjudul “Half Around”.
Karya ini dibagi menjadi 3 pola dalam satu sajian. Pola pertama, eksplorasi dengan medium bunyi beras yang dimainkan dengan 3 cara yaitu cara jungkat – jungkit, ayakan, dan menggoyangkan body biola bagian bawah. Ketiga pola tersebut diolah dalam ritme yang berbeda untuk menghasilkan efek perkusi yang variatif. Pola kedua, eksplorasi dengan meniup f-hole pada badan biola serta memainkan teknik pizzicato tangan kiri. Pola ketiga, memainkan teknik double stop , tremollo dan glissando.
Ketiga pola permainan itu disajikan dengan tuning senar free interval menggunakan patokan nada paling rendah. Seperti, senar E lebih rendah dari senar A, senar A lebih rendah dari senar D, senar D lebih rendah dari senar G dan senar G menjadi senar dengan nada paling tinggi. Ketika karya ini dimainkan, dan pemain mengisikan beras ke badan biola juga sekaligus bermaksud untuk membersihkan kotoran didalam biola.
Link Karya : https://youtu.be/1yU8VduwJK
MULIAKANLAH Untuk Ansambel Gesek(Violin 1, Violin 2, Viola, Cello dan C.Bass)Kristiyanto Christinus(2009)
“Muliakanlah” adalah kidung yang termuat dalam buku nyanyian Kristen "Kidung Jemaat" Nomor 100, yang diterbitkan oleh Yamuger (Yayasan Musik Gereja, yayasan Kristen di Indonesia yang bergerak di bidang musik gerejawi dan berkantor pusat di Jakarta). Kidung ini biasa digunakan sebagai Nyanyian Gloria pada hari Natal dalam gereja - gereja Protestan. Lagu Natal ini juga populer di kalangan gereja-gereja Reformed Amerika Serikat dan Kanada yang memiliki akar dari gereja Reformasi Belanda. Kidung ini diterjemahkan dari bahasa Belanda "Ere Zij God" dan merupakan salah satu lagu Natal yang paling sering dinyanyikan di gereja-gereja Protestan di Belanda.
Teks asli kidung ini terinspirasi olehLukas 2:14 yang berbunyi “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadanya.” dan setelah dialihbahasakan liriknya berubah sedikit menjadi “Muliakanlah, muliakanlah, Tuhan Allah Maha Tinggi. Damai sejahtera di bumi bagi orang pengasihan-Nya”. Karena liriknya terinspirasi oleh kata-kata bahwa malaikat bernyanyi saat kelahiran Yesus diumumkan kepada para gembala, kidung ini juga sering disebut sebagai Kidung Besar Para Malaikat. Lagu ini pertama kali muncul di media cetak pada tahun 1857 di himne Het nachtegaaltje, yang disusun dan ditulis oleh penulis lirik Bikkers Isaac (1833-1903) dan melodinya digubah oleh F.A. Schulz.
Kidung Muliakanlah ini pernah dibawakan dalam acara natal 2009 Gereja Kristen Jawa Gondokusuman, Yogyakarta yang menyelenggarakan pergelaran string orchestra dan paduan suara serta melibatkan beberapa dosen Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, salah satunya adalah Drs. Kristiyanto Christinus, dosen violin yang mengaransemen kidung ini. Kidung ini diaransemen untuk dimainkan dalam format string quintet (violin I, violin II, viola, cello, dan double bass) dengan tekstur homofoni dan tonalitas D mayor
Mengembangkan Musik Liturgi Khas Indonesia
Karl-Edmund Prier tiba di Indonesia pertama kali tahun 1964. Ia
datang ke Indonesia setelah proses pergumulan yang panjang
dan berliku. Semua berawal dari tahun 1960 semasa Karl-Edmund
Prier menempuh studi filsafat di Munchen. Saat itu, Pater Karl Fank,
SJ berkata kepadanya bahwa dibutuhkan misionaris Yesuit dari
Jerman untuk pergi ke Indonesia. Menanggapi tawaran ini, Karl-
Edmund Prier merasa bimbang. Ia sebenarnya memiliki impian
bertugas di daerah orang Eskimo yang beriklim dingin. Menjadi
misionaris di Indonesia benar-benar tidak pernah dibayangkan
olehnya. Ditambah lagi Indonesia adalah negeri tropis yang asing
bagi Prier, berbeda jauh dengan impiannya.
Perlu waktu dua tahun bagi Prier untuk bergumul dengan
tawaran panggilan misi ke Indonesia. Akhirnya pada tahun 1962
ketika studi filsafatnya berakhir, ia memutuskan untuk mencoba
tawaran tersebut. Prier mengajukan diri kepada provinsial Serikat
Jesus di Jerman untuk berangkat ke Indonesia dan provinsial
segera menyetujuinya. Setelah itu, Prier segera mempersiapkan diri
untuk berangkat ke Indonesia. Namun ternyata pengajuan visanya
ditolak oleh pemerintah Indonesia. Prier harus menunggu dua tahun sampai pada tahun 1964 pengajuan visanya dan ia bisa berangkat ke
Indonesia.
Sepertinya penantian memang sudah menjadi bagian hidup
dari Karl-Edmund Prier. Setelah sampai di Indonesia, ia ditugaskan
untuk belajar bahasa Jawa di Wonosari selama setengah tahun. Pada
awal tahun 1965, Prier menuju Yogyakarta dan berencana untuk
mengambil pendidikan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi
Kentungan, Yogyakarta. Pendidikan teologi memang sebuah
jenjang yang harus dijalani bila seseorang ingin menjadi imam.
Namun rencana ini tiba-tiba berubah. Saat itu situasi sosial politik
di Indonesia sedang memanas dan puncaknya terjadi dengan adanya
peristiwa Gestapu. Akibat situasi ini provinsial memberitahukan
bahwa masa pendidikan teologi ditunda sampai keadaan kembali
stabil dan aman. Pada tahun 1965 pula berakhir Konsili Vatikan
II yang sudah berlangsung sejak tahun 1962. Konsili Vatikan II
membawa berbagai hasil sebagai perubahan besar dalam tubuh
Gereja Katolik di seluruh dunia. Salah satu hasil konsili adalah
pembaruan musik liturgi yang disesuaikan dengan kebudayaan umat
setempat.
Pada tahun 1967 ketika situasi sosial politik di Indonesia
kembali stabil, Karl-Edmund Prier diperbolehkan untuk mengambil
pendidikan teologinya di Kentungan. Saat itu, usia Prier sudah 29
tahun. Akibat penundaan masa studi teologi, Karl-Edmund Prier
justru mendapat kuliah teologi baru dari Konsili Vatikan II. Sebab,
Romo Tom Jacobs, SJ dan Romo Hardowiryono, SJ baru saja pulang
dari Roma untuk belajar mengenai teologi baru hasil konsili. Kuliah
teologi baru ini banyak memberi inspirasi dan membentuk pemikiran
Prier, karena di dalamnya juga dibahas mengenai inkulturasi liturgi.
Prier mulai terpanggil untuk berkarya di bidang inkulturasi
musik liturgi. Ia memohon kepada provinsial supaya kelak ditugaskan di bidang inkulturasi musik liturgi. Setelah ditahbiskan menjadi imam
pada 18 Desember 1969, Prier ditugaskan sebagai pastor kategorial
untuk merintis inkulturasi musik liturgi di Indonesia. Romo Prier
bersama sahabatnya, Paul Widyawan bekerja keras merintis Pusat
Musik Liturgi Yogyakarta untuk menangani musik Gereja secara
profesional dan menciptakan lagu-lagu liturgi baru khas Indonesia.
Pada 11 Juli 1971 Pusat Musik Liturgi berdiri sebagai karya baru
Yesuit di Yogyakarta.
Sosok Romo Prier sebagai pemimpin PML benar-benar
mengagumkan. Romo Prier selalu tekun dan bekerja keras untuk
mengembangkan inkulturasi musik liturgi bersama PML. Prinsip
kemandiriannya yang kuat patut diteladani. Sejak PML berdiri,
Romo Prier tidak pernah menunggu dan mengharap bantuan dana
dari pihak luar bagi perkembangan PML. Ia selalu mengajari stafnya
untuk bisa hidup mandiri. Caranya adalah dengan memproduksi
buku-buku liturgi serta rekaman lagu inkulturasi untuk dijual,
mengadakan kursus organ, penataran musik Gereja, dan lain-lain.
Bagi Romo Prier kemandirian adalah prinsip utama, tidak masalah
jika harus hidup secara sederhana. Romo Prier juga seorang pribadi
yang disiplin dalam bekerja. Di bawah kepemimpinannya sejak
tahun 1971, PML telah berkembang pesat dengan berbagai program
yang konstruktif dan konsisten di bidang inkulturasi musik liturgi.
Karya-karya PML sangat bermanfaat bagi umat Katolik di
Indonesia khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. PML
telah menerbitkan berbagai buku mengenai inkulturasi musik liturgi,
buku-buku pelajaran musik, buku-buku lagu daerah Indonesia, dan
masih banyak lagi. Sebagian besar dari buku-buku tersebut adalah
tulisan Romo Prier. PML juga memproduksi berbagai kaset dan
CD rekaman lagu-lagu inkulturasi liturgi dan lagu daerah sebagai
kerja sama dengan paduan suara Vocalista Sonora pimpinan Paul Widyawan. Selain kegiatan produksi, PML juga menyelenggarakan
Kursus Musik Gereja dan berbagai penataran untuk pengembangan
musik Gereja.
Romo Prier dengan karya-karyanya bersama PML Yogyakarta
sejak tahun 1971 benar-benar layak untuk diteladani dan dihormati.
Ia datang sebagai misionaris asing dari Jerman pada tahun 1964.
Indonesia yang semula adalah negeri tropis yang tidak dikenalnya,
perlahan mulai dicintainya. Dalam benaknya, Indonesia adalah
negeri yang penuh dengan kekayaan budaya yang berbeda-beda,
namun bersatu seperti bunga rampai yang indah. Bersama PML,
Romo Prier telah berkeliling Indonesia, mengadakan berbagai
lokakarya komposisi musik liturgi, menggali keindahan Indonesia,
dan merangkumnya menjadi karya-karya nyata yang bermanfaat
bagi orang banyak. Dari berbagai lokakarya komposisi pula, lahir
buku Madah Bakti yang sudah begitu dekat di hati umat Katolik
di Indonesia. Buku Madah Bakti sejatinya juga mencerminkan
semangat Bhineka Tunggal Ika.
Romo Prier tidak pernah letih berkarya sesuai dengan panggilan
hidupnya di bidang inkulturasi musik liturgi. Bersama PML
Yogyakarta, ia berusaha melayani sesama sesuai teladan Kristus
sebagai pemimpin dan pelayan sejati bagi umat manusia
PERISTIWA PIDANA DALAM SUAP MENYUAP YANG DILAKUKAN OLEH HASTO KRISTIYANTO DAN HARUN MASIKUN TERHADAP WAHYU SETIAWAN
Pertanggung jawaban pidana terhadap hasto krisiyanto dan harun masikum memberikan suap kepa wahyu setiawan komisioner komisi pemilihan umum RI mengenai pergantian antar waktu atau PAW anggota DPR RI.terhadap kesalahan atau pertanggung jawaban pidana penerima suap oleh wahyu setiawan telah dilakukan proses dari awal kepolisian, dilimpahkan ke penuntut umum karena patut diduga melakukan tindak pidans suap, oleh jaksa penuntuk umum dibuat kan surat dakwaan terdakwa dalam hal ini wahyu setiawan, akhirnya dilimpahkan ke pengadilan untuk diperiksan dan diputus ,karena sudah memenuhi unsur kesalahan atau pertanggungan jawab pidana, pada akhirnya dijatuhi hukuman, dan sudah dijalani hukuman tersebut kemudian wahyu setiawan sudah menghirup udara bebas. Terhadap hasto kristanto tidak bisa dipungkiri lagi yang menerima suap sudah bertanggung jawab secara pidana, kemudian hasto kristiyanto, sesuai peristiwa hukum, dalam melakukan penyelidikan (pasal1 angka 2 KUHAP), peristiwa hukum pidananya ada, dan dilanjutkan pada proses penyidikan diatur dalam pasal 1 angka 5 KUHAP menetapkan tersangka hasto kristiyanto, dengan dimulainya proses penyidikan oleh KPK,dengan nomo surat. Spiri.Dik/153/Dik.00/01/12/2024, tertanggal 23 Desember 2024, besoknya pada tanggal 24 Desember 2024 KPK menyatakan hasto kristiyanto sebagai TERSANGA
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
DIALOG for string quartet (violin 1, violin 2, viola dan cello) karya Kristiyanto Christinus
Karya berjudul Dialog untuk kuartet gesek ini mengungkapkan jalinan komunikasi antar instrumen yang bergantian dan terjadilah suatu tanya-jawab. Dialog secara umum dapat dipahami sebagai proses komunikasi antara 2 atau lebih subjek, dalam dialog makna harus dipertimbangkan agar memenuhi kaidah semantis dan pragmatis. Dalam karya ini dialog direpresentasikan oleh permainan kuartet gesek yang terdiri dari violin 1, violin 2, viola, dan cello.
Proses pembuatan karya ini didasari sistem penyusunan musik yang tidak sesuai atau menyimpang dari kaidah musik tonal. Ketidak sesuaian dengan kaidah musik tonal dalam karya ini dikarenakan penggunaan interval-interval tritonus atau augmented fourth di dalamnya. Interval tritonus sendiri menjadi titik tolak dasar penciptaan seluruh karya ini. Interval tritonus adalah interval dari tiga buah whole-tone (enam semitone), satu-satunya interval yang jika dibalik akan tetap sebagai interval yang sama. Whole-tone sendiri memiliki jarak 1 setiap nadanya. Dalam tangga nada mayor pada umumnya memiliki jarak 1-1-1/2-1-1-1-1/2 atau dalam tangga nada C Major berisi C-D-E-F-G-A-B-C. Namun, dalam Whole Tone Scale setelah diterapkan jarak 1 disetiap nada, akan menjadi C-D-E-F#-G#-A#-C.
Interval tritonus sendiri biasanya dipakai pada harmoni modern. Pada harmoni modern interval triton dapat diaplikasikan pada akor. Secara umum dianggap merepresentasikan perasaan gelisah atau netral sesuai konteksnya.
Berikut contoh kualitas tritonus dan interval-interval lainnya.
Dalam harmoni modern “konteks” menjadi penting, yaitu dalam area yang konsonan interval triton akan terasa berbunyi disonan, sebaliknya dalam area yang disonan interval triton akan terasa berbunyi konsonan.
Dalam karya ini, interval tritonus diaplikasikan dalam setelan antarsenar pada instrumen violin, viola, dan cello. Hal ini menjadi sesuatu yang berbeda dengan setelan interval kuint yang biasa digunakan pada setelan instrumen tersebut. Interval tritonus ini mengubah setelan pada violin dari G-D-A-E menjadi G#-D-Ab-Ebb; pada viola dan cello dari C-G-D-A menjadi C##-G#-D-Ab.
Berikut merupakan contoh penulisan dan bunyi yang akan didengar apabila setelan tersebut diterapkan.
Hasil dari ide pembuatan karya dengan menggunakan interval tritonus, utamanya terdapat dalam setelan antarsenar pada instrumen violin, viola, dan cello. Dengan setelan seperti ini akan didapatkan ciri khas yang tidak ditemukan pada musik tonal umumnya. Ciri khas itu sendiri memiliki harmoni yang lebih luas jangkauannya seperti contoh pada karya di bawah ini yang dimainkan menggunakan teknik double stops.
Pada contoh tersebut jika dimainkan dengan setelan pada senar dengan interval tritonus, suara yang dihasilkan memiliki warna yang berbeda dengan setelan pada umumnya.
Teknik permainan dalam karya ini juga dikembangkan dengan cara pizzicato (dimainkan dengan di petik), harmonics (dimainkan dengan meraba senar sehingga menghasilkan suara satu oktaf lebih tinggi), double stops (dimainkan dengan menggesek dua nada atau lebih pada senar yang berbeda secara bersamaan), dan glissando (dimainkan nada berpindah dengan cepat dari senar yang sama). Teknik-teknik permainan tersebut masih bisa dikembangkan untuk memperluas kekaryaan yang dihasilkan.
Perluasan figur-figur turut pula diterapkan dalam karya ini yang tidak ada kaitannya dengan bentuk pengolahan (development) yang lazim dilakukan pada komponis terdahulu. Figur-figur tadi dikembangkan sampai ketingkat bentuk tertentu yang mempunyai otonomi ekspresinya sendiri seperti layaknya komponis-komponis pada era Neo Klasik
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
