280 research outputs found
Gaya Pelatih Emosi Ayah Ibu Hubungannya dengan Kecerdasan Emosional dan Prestasi Akademik Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor
Adolescent with good academic achievement not necessarily had good emotional intelligence also. Emotional intelligence could be developed through the pattern of parental emotional style that were carried out by parents. The objective of the research was to analyze parental emotional style, emotional intelligence, and student’s academic achievement at human ecology faculty Bogor agricultural university. This research used cross sectional study design with proportional random sampling method that involved 77 students of the human ecology faculty. Results of the research showed parental emotional style was negatively correlatte with family size. Woman’s emotional intelligence was higher than men’s. Father’s parental emotional style was positively correlated with self regulation and empathy. Mother’s parental emotional style was positively correlated with empathy. Father’s occupation was positively correlated with adolescent’s self-regulation and mother’s occupation was negatively correlated with adolescent’s self-awareness. Parental emotional style was positively correlated with emotional intelligence. Parental emotional style and emotional intelligence did not have significant relationship with student’s academic achievement.Remaja dengan prestasi akademik baik belum tentu memiliki kecerdasan emosional yang baik pula. Kecerdasan emosional dapat dikembangkan melalui gaya pelatih emosi yang dilakukan orang tua. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis gaya pelatih emosi, kecerdasan emosional, dan prestasi akademik mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan metode proporsional random sampling yang melibatkan 77 mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Hasil penelitian menunjukkan gaya pelatih emosi berhubungan negatif besar keluarga. Kecerdasan emosional remaja perempuan lebih baik dari remaja laki-laki. Gaya pelatih emosi ayah berhubungan positif signifikan dengan penagturan diri dan empati. Gaya pelatih emosi ibu berhubungan positif dengan empati. Ayah yang bekerja berhubungan positif signifikan dengan pengaturan diri remaja dan ibu yang bekerja berhubungan negatif signifikan dengan kesadaran diri remaja. Gaya pelatih emosi juga berhubungan positif signifikan dengan kecerdasan emosional. Gaya pelatih emosi dan kecerdasan emosional tidak berhubungan dengan prestasi akademik mahasiswa
Sumber Daya, Interaksi Sosial, dan Kepuasan Hidup Lansia yang Bekerja Penuh dan Paruh Waktu
Kepuasan hidup menjadi salah satu prediktor keberhasilan lansia di akhir kehidupannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh sumber daya dan interaksi sosial terhadap kepuasan hidup lansia yang bekerja penuh dan paruh waktu. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study di Desa Tegalbang, Kecamatan Palang dan Desa Kowang Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Contoh penelitian berjumlah 60 orang dipilih secara purposive yaitu lansia laki-laki dan perempuan berusia 60 sampai 69 tahun yang bekerja paruh (<35 jam per minggu) dan penuh waktu (≥35 jam per minggu). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan antara sumber daya lansia yang bekerja penuh dan paruh waktu. Lansia yang bekerja paruh waktu memiliki interaksi sosial dan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan lansia yang bekerja penuh waktu. Bertambahnya jumlah jam kerja dan jenis kelamin perempuan akan menurunkan kepuasan hidup lansia. Semakin tinggi sumber daya dan interaksi sosial, maka kepuasan hidup lansia akan semakin tinggi
Gejala Stres, Strategi Koping, Penyesuaian Diri, dan Aktivitas Sehari-hari Lansia Berpenyakit Kronis.
Lansia dengan penyakit kronis mengalami perubahan fisik, psikososial dan spiritual, sehingga berdampak pada penurunan kemampuan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis gejala stres, strategi koping, dan penyesuaian diri terhadap aktivitas sehari-hari pada lansia laki-laki dan perempuan yang memiliki penyakit kronis. Desain yang digunakan dalam penelitian ini ialah cross-sectional study di Rumah Sakit Medika Dramaga, Kota Bogor. Contoh penelitian berjumlah 60 lansia dengan minimal umur 60 tahun dan mengidap penyakit kronis lebih dari 6 bulan. Teknik yang digunakan dalam pengambilan contoh adalah accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan gejala stres, strategi koping, penyesuaian diri, dan aktivitas sehari-hari pada lansia laki-laki dan perempuan. Usia lansia yang semakin tua dan gejala stres cenderung menyebabkan penurunan kemampuan aktivitas dasar. Semakin tinggi penyesuaian diri dimensi penguasaan akan cenderung meningkatkan kemampuan aktivitas dasar lansia. Lansia yang masih bekerja cenderung berpengaruh pada peningkatan aktivitas fisik, sedangkan gejala stres yang tinggi akan cenderung menurunkan aktivitas fisik lansia
Gaya Pengasuhan Ibu, Interaksi Saudara Kandung, dan Motivasi Belajar Remaja Anak Bungsu
Motivasi belajar menjadi penggerak dalam diri remaja untuk belajar
dengan sungguh-sungguh guna memperoleh hasil belajar yang baik. Tujuan
penelitian ini adalah menganalisis pengaruh gaya pengasuhan ibu dan interaksi
saudara kandung terhadap motivasi belajar remaja anak bungsu. Penelitian ini
dilakukan di SMPN X Dramaga Bogor dengan sampel penelitian sebanyak 60
orang remaja anak bungsu (30 laki-laki dan 30 perempuan) yang berusia 13-15
tahun. Gaya pengasuhan ibu otoritatif, interaksi kehangatan dan motivasi belajar
remaja anak bungsu perempuan lebih tinggi dibandingkan remaja anak bungsu
laki-laki. Usia ibu dan rentang usia saudara berhubungan negatif dengan motivasi
belajar remaja sedangkan, gaya pengasuhan ibu otoriter, gaya pengasuhan ibu
otoritatif, dimensi kehangatan dan kekuasaan saudara kandung berhubungan
positif dengan motivasi belajar pada remaja anak bungsu. Motivasi belajar
dipengaruhi oleh usia ibu, gaya pengasuhan ibu otoritatif, serta dimensi kekuasaan
dan konflik
Sumber Daya, Interaksi Sosial, dan Kepuasan Hidup Lansia yang Bekerja Penuh dan Paruh Waktu
Kepuasan hidup menjadi salah satu prediktor keberhasilan lansia di akhir kehidupannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh sumber daya dan interaksi sosial terhadap kepuasan hidup lansia yang bekerja penuh dan paruh waktu. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study di Desa Tegalbang, Kecamatan Palang dan Desa Kowang Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Contoh penelitian berjumlah 60 orang dipilih secara purposive yaitu lansia laki-laki dan perempuan berusia 60 sampai 69 tahun yang bekerja paruh (<35 jam per minggu) dan penuh waktu (≥35 jam per minggu). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan antara sumber daya lansia yang bekerja penuh dan paruh waktu. Lansia yang bekerja paruh waktu memiliki interaksi sosial dan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan lansia yang bekerja penuh waktu. Bertambahnya jumlah jam kerja dan jenis kelamin perempuan akan menurunkan kepuasan hidup lansia. Semakin tinggi sumber daya dan interaksi sosial, maka kepuasan hidup lansia akan semakin tinggi
Hubungan Kecerdasan Emosi – Sosial Terhadap Gaya dan Praktik Kepemimpinan Ketua Lembaga Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor
This study was aimed to determine the correlation between emotional-social intelligence with leadership styles and practices. The research was conducted at IPB during June 2012, involved 94 student’s during the period of 2011-2012 that chose using census technique (however 2 students could not joint the research). Data was analyzed using descriptive and inference statistics such as Pearson correlation and Chi-Square analysis. Results showed that emotional-social intelligence of chairmen were in high category. Styles of leadership were relatively democratic style, while the dominant leadership practice were in high category. Pearson correlation test result showed a positive relationship existed significantly between emotional-social intelligence and leadership practices. In the other hand, emotional intelligence (emotional awareness, emotion management, and total emotional intelligence) and social intelligence (social awareness, social facilities, and total social intelligence) was negatively correlated with laissez faire style of leadership
Komunikasi dan Kelekatan Orang Tua, Kelekatan Teman Sebaya, serta Kepuasan Hidup Remaja berdasarkan Status Bekerja Ibu
This study aimed to analyze the influences of parent communication and attachment to peer attachment and adolescent life satisfaction. The samples of this study is a family with teenagers aged 12-15 years, as many as 100 families were selected randomly from two villages in Tanah Sareal, Bogor City. Data was collected through interview using questionnaires. The results showed there was significant different a type of positive communication was according father perception, peer attachment as alienation dimension, adolescent life satisfaction as global, self, and school dimensions. The results of correlation test showed there was significant relationship between parent’s communication, parent and peer attachment with adolescent life satisfaction. The based of regression test, the factor’s which the influences of peer attachment that female, employment mother’s, family incomes, and mother’s communication, where as the factor’s which the influences of adolescence life satisfaction that was employment mother’s, father’s communication, and peer attachment
Dukungan Sosial, Religiusitas dan Kepuasan Hidup Lansia Empty Nest dan Non- Empty Nest
Peningkatan usia harapan hidup tidak diiringi dengan peningkatan angka kepuasan hidup pada lansia. Angka kepuasan hidup di Indonesia menurun sering dengan bertambahnya usia. Hal ini harus mendapat perhatian khusus karena seperti yang diketahui kepuasan hidup merupakan aspek penting yang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh dukungan sosial dan religiusitas terhadap kepuasan hidup lansia empty nest dan non-empty nest. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study di Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Contoh penelitian berjumlah 80 orang dipilih secara purposive yaitu lansia perempuan berusia 60-69 tahun yang masih memiliki pasangan hidup dan beragama Islam (untuk pengukuran variabel religiusitas) Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan antara dukungan sosial, religiusitas, dan kepuasan hidup lansia empty nest dan non-empty nest. Semakin tinggi pendidikan, dukungan sosial yang diterima serta religiusitas lansia maka kepuasan hidup lansia akan semakin meningkat
Manajemen Sumber Daya Keluarga, Pemenuhan Tugas Perkembangan, dan Kesejahteraan Keluarga Launching Stage di Perdesaan dan Perkotaan
Kesejahteraan keluarga merupakan tingkat pemenuhan kebutuhan dasar dan kebutuhan perkembangan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh manajemen sumber daya keluarga dan pemenuhan tugas perkembangan terhadap kesejahteraan keluarga launching stage di perdesaan dan perkotaan. Penelitian ini melibatkan 60 istri dari keluarga utuh yang salah satu anaknya meninggalkan rumah, dengan jumlah 30 responden di wilayah perdesaan dan 30 responden di wilayah perkotaan serta dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, lalu dianalisis menggunakan analisis deskriptif, uji beda independent t-test, uji korelasi Pearson, dan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan tingkat manajemen sumber daya keluarga di perdesaan dan perkotaan berada pada kategori sedang, dan tingkat manajemen sumber daya keluarga di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Pemenuhan tugas perkembangan keluarga di perdesaan dan perkotaan berada pada kategori tinggi, serta tidak terdapat perbedaan nyata antara pemenuhan tugas perkembangan keluarga di perdesaan dan perkotaan. Tingkat kesejahteraan keluarga di perdesaan dan perkotaan berada pada kategori tinggi, dan kesejahteraan keluarga di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Lama pendidikan suami dan istri, dan pemenuhan tugas perkembangan memiliki hubungan positif signifikan dengan kesejahteraan keluarga. Penelitian ini menemukan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga launching stage adalah lama pendidikan istri, manajemen sumber daya manusia, manajemen keuangan dan pemenuhan tugas perkembangan
Tingkat Kecemasan, Dukungan Sosial, Dan Mekanisme Koping Terhadap Kelentingan Keluarga Pada Keluarga Dengan Tb Paru Di Kecamatan Ciomas Bogor
General purpose of this research is to know factors that can affect family resilience in families with pulmonary tuberculosis disease at Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. The purpose of research are 1) to identify socioeconomic characteristics of families with pulmonary tuberculosis disease, 2) identify the health behavior of pulmonary tuberculosis disease, 3) measuring the level of anxiety patients with pulmonary tuberculosis disease, 4) measure of social support patients with pulmonary tuberculosis disease; 5) measure coping mechanism in families with pulmonary tuberculosis disease; 6) measuring family resilience with pulmonary tuberculosis disease; 7) analyze the correlations between variables of family resilience with pulmonary tuberculosis disease; 8) analyze the influence of variables with family resilience with pulmonary tuberculosis disease. The population of research were family members (parents) as patient with pulmonary tuberculosis disease at Kecamatan Ciomas Bogor, there are: Desa Ciomas, Ciomas Rahayu, and Pagelaran. The subjects in this research are 49 samples chosen purposively. Variables studied were: socioeconomic characteristics, health behavior, anxiety level, social support, coping mechanism, and family resilience. Data analysis using descriptive analysis, correlations to examine relationships between variables, and multiple linear regression to determine the factors that influence the family resilience. The results showed that families with pulmonary tuberculosis disease have good and very good sanitation (73%), good health behavior (57%), anxiety level patient is relatively low to moderate (65%), high coping health mechanism (60%), high coping mechanism (49%), moderate social support (84%), and high family resilience (47%). Based on correlation analysis showed a negative relationship between family income with family resilience. Are positively correlated between family coping health mechanism (CHIP), family coping mechanism, anxiety level, social support with family resilience. Based on multiple linear regression analysis obtained the factors that influence family resilience: large families (β = -0.317, p = 0.003), anxiety level (β = 0.239, p = 0.027), and family coping mechanism (β = 0.511, p = 0.000 .
- …
