341 research outputs found
Sintesis dan Karakterisasi Nanohidroksiapatit dari Cangkang Telur Ayam dengan Metode Ultrasonikasi
In this research synthesis and characterization of nanohidoxyapatite from chicken eggshell has been done using ultrasonication method and precipitation. To obtain nanohydroxyapatite, two treatments were applied which areCaO powder ultrasonication and HA powder ultrasonication. The aim of ultrasonication is toreduce particle size. This research was carried out by using two variation of ultrasonication time which are 1.5 and 2 hours each with three repetitions. The results of XRD characterization show that HA still contains impurities like OCP and TCP. The optimum ultrasonication time is 1.5 hours due to its smaller particle size and few impurities obtained
Sintesis Fluorapatit Nanopartikel Berbasis Cangkang Telur Ayam dengan Metode Sonokimia
Apatit alami yang ada dalam gigi berskala nanometer sehingga diperlukan
fluorapatit nanopartikel agar sesuai dengan gigi alami manusia dan meningkatkan
biokompatibilitasnya. Fluorapatit nanopartikel dalam penelitian ini disintesis
menggunakan metode sonokimia dengan variasi molaritas kalsium oksida, asam
fosfat, amonium fluorida, dan variasi amplitudo ultrasonikasi. Hasil karakterisasi
XRD menunjukkan bahwa fluorapatit telah terbentuk pada setiap sampel.
Meningkatkan molaritas kalsium oksida, asam fosfat, ammonium fluorida dan
amplitudo ultrasonikasi dapat meningkatkan kristalinitas dan ukuran kristalit
fluorapatit. Berdasarkan hasil karakterisasi FTIR dan EDX, sampel dengan
perlakuan ultrasonikasi memiliki persentase fluor lebih banyak dibanding sampel
tanpa perlakuan ultrasonikasi. Berdasarkan hasil SEM ukuran rata-rata partikel
sampel tanpa ultrasonikasi cenderung lebih kecil daripada sampel dengan
perlakuan ultrasonikasi
Sintesis Dan Karakterisasi Biphasic Calcium Phosphate Berpori Dari Cangkang Telur Ayam Dengan Porogen Na-Alginat.
Biphasic calcium phosphate (BCP) berpori merupakan biomaterial berbasis kalsium fosfat berbentuk scaffold yang diaplikasikan sebagai material implantasi tulang. BCP berpori memanfaatkan cangkang telur ayam sebagai sumber kalsium dan Na-alginat sebagai porogen dengan teknik freeze drying. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui Na -alginat dapat digunakan sebagai porogen dalam sintesis BCP berpori dengan variasi komposisi BCP dan Na-alginat 80:20, 70:30 dan 60:40 dan pengaruh variasi komposisi BCP dan Na-alginat terhadap kristalinitas, gugus fungsi dan morfologi BCP berpori. Penelitian diawali dengan sintesis BCP menggunakan teknik mekanik yakni penggabungan hidroksiapatit dan β-TCP. Persentase hidroksiapatit dan β-TCP dalam sintesis BCP adalah 70:30 (B1) dan 60:40 (B2). Hasil sintesis BCP berupa bubuk berwarna putih. Bubuk BCP kemudian dibentuk menjadi BCP berpori dengan variasi BCP dan Na-alginat yakni 80:20, 70:30 dan 60:40. Sintesis BCP berpori diawali dengan membuat suspensi BCP dan Na-alginat dan dilanjutkan pembentukkan gel dengan crosslink agent berupa CaCl2. Suspensi BCP/Naalginat dicetak menggunakan multiwell plate 48-well dan pembentukan scaffold menggunakan instrumen freeze drying sehingga diperoleh BCP berpori. BCP berpori dikarakterisasi kristalinitas menggunakan XRD, gugus fungsi menggunakan FTIR dan morfologi menggunakan μ-CT scan dan SEM. Hasil karakterisasi XRD scaffold B1/Na-alginat dan B2/Na-alginat menunjukkan fasa yang terbentuk didominasi oleh fasa hidroksiapatit dan β-TCP. Penggunaan Na-alginat berdampak pada penurunan derajat kristalinitas dengan nilai terendah pada komposisi 70:30 sebesar 47.2% untuk B1/Na-alginat dan 38.1% untuk B2/Na-alginat. Pengaruh Na-alginat juga ditandai dengan munculnya gugus fungsi C=O di kisaran bilangan gelombang 1627 cm-1 dan COO- dibilangan gelombang 1419.7 cm-1. Gugus fungsi P=O dan P-O juga ditemui di kisaran bilangan gelombang 1049.28 cm-1 dan 570.93 cm-1 yang menunjukkan daerah sidik jari BCP. Data μ-CT scan yang didukung oleh hasil SEM menunjukkan bahwa sebaran ukuran pori scaffold B1/Na-alginat terkecil dijumpai pada komposisi 70:30 sebesar 237.28 μm dan diikuti oleh porositas sebesar 65.39%. Scaffold B2/Na-alginat memperoleh nilai sebaran ukuran pori terkecil sebesar 218.96 μm dengan porositas 58.8% pada komposisi 60:40. Penggunaan Na-alginat sebagai porogen tidak berdampak pada besarnya ukuran pori dan porositas seiring penambahan komposisi
Studi Pembentukan Co-Cr Dengan Metode Ultrasonik
Paduan Co-Cr merupakan material yang memiliki sifat mekanik, tahan aus dan tahan korosi yang sangat baik serta biokompatibel, sehingga dapat digunakan sebagai material biomedis. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan dapat dilakukannya pembentukan paduan Co-Cr dengan metode ultrasonik. Iradiasi ultrasonik yang digunakan berfrekuensi 20 kHz dan amplitudo 40% dengan kompisisi berat 80% Co dan 20% Cr. Perlakuan ultrasonik dilakukan dengan memvariasikan waktu ultrasonikasi selama 0, 3, 6, 12, 24, dan 48 jam menggunakan pelarut etanol 98%, di-sintering pada suhu 1300 oC lalu diamplas. Co-Cr sebelum dilakukan ultrasonikasi memiliki tiga fase, yaitu hcp-Co, fcc-Co, dan bcc-Cr. Seiring bertambahnya waktu ultrasonikasi, terdapat puncak bcc-Cr yang hilang dan intensitas hcp-Co lebih tinggi dibanding intensitas fcc-Co, menunjukan bahwa fasa fcc mulai bertransformasi menjadi fase hcp setelah dilakukan ultrasonikasi selama 48 jam. Hasil dari perlakuan ultrasonik setelah 24 jam diperoleh komposisi 24,45% Cr dan 71.65% Co. Setelah dilakukannya proses sintering terhadap serbuk Co-Cr yang telah diultrasonikasi 48 jam, fasa bcc dan fcc hilang. Campuran Co-Cr dalam bentuk padat hasil ultrasonikasi selama 48 jam memiliki fasa tunggal yaitu hcp. Perlakuan ultrasonik terhadap campuran Co-Cr memberikan efek pengurangan ukuran partikel dan peningkatan nilai tegangan mikro suatu material, nilai ukuran partikel terkecil dan tegangan mikro terbesar yaitu setelah ultrasonikasi 48 jam. Nilai parameter kisi pada serbuk yang telah diultrasonikasi selama 48 jam yaitu untuk hcp-Co yaitu a=b=0.25074 nm dan c=0.40699 nm, fcc-Co a=b=c=0.35411 nm, dan bcc-Cr a=b=c=0.28827 nm. Sedangkan nilai parameter kisi padatan Co-Cr setelah serbuk diultrasonikasi selama 48 jam untuk hcp-Co memiliki nilai yaitu a=b=0.25230 nm dan c=0.41223 nm, dan fcc-Co a=b=c=0.35232 nm. Sebaran nilai kekerasan padatan Co-Cr setelah serbuk diultrasonikasi selama 48 jam lebih homogen, yaitu 110.049 + 0.596 HVN. Setelah proses sintering pada serbuk Co-Cr yang diultrasonikasi 48 jam diperoleh komposisi pada matrik padatan Co-Cr dengan persentase diharapkan yaitu 20,58% Cr dan 79,42% Co
Sintesis dan Karakterisasi Hidroksiapatit dari Cangkang Kerang Ranga
Hidroksiapatit adalah material keramik yang digunakan sebagai biomaterial yang baik untuk tulang karena bersifat bioaktif. Dalam rangka meningkatkan sifat bioaktif tersebut maka dipilih bahan alami sebagai sumber prekursor kalsium, pada penelitian ini bahan yang digunakan sebagai sumber kalsiumnya adalah cangkang kerang ranga. Serbuk cangkang kerang yang digunakan diperoleh dari perairan Belitung. Sebelum digunakan, serbuk cangkang kerang diidentifikasi fase kalsiumnya dengan x-ray diffractometer dan atomic absorption spectrophotometer. Hasil analisis menunjukkan fase kalsium yang dimiliki oleh cangkang kerang adalah CaCO3 dengan kadar kalsium 79,68%. Sintesis hidroksiapatit dilakukan dengan metode presipitasi pada suhu 800C yaitu dengan meneteskan larutan H3PO4 pada larutan kalsium. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan 1100C dan sintering pada suhu 9000C. Nisbah konsentrasi kalsium dan fosfat yang digunakan yaitu 1,67 dengan konsentasi kalsium 0,5 M dan 1 M. Hasil sintesis dikarakterisasi dengan X-ray diffractometer, UV-VIS Spektrometer, atomic absorption spectrophotometer, dan spektrofotometer fourier transform infrared. Dari hasil analisis, hidroksiapatit diperoleh dari sintesis dengan konsentrsi kalsium 0,5 M dan sintering pada suhu 9000C. Pada konsentrasi ini, jika hanya dikeringkan pada suhu 1100C hasilnya campuran hidroksiapatit dan apatit karbonat. Sintesis dengan konsentrasi kalsium 1,0 M menunjukan masih terdapat raw material pada sampel, sedangkan pada proses sintering dengan suhu kalsinasi 9000C hasil yang diperoleh adalah hidroksiapatit
Kajian Struktur dan Morfologi Hidroksiapatit yang Disintesis Menggunakan Metode Hidrotermal
Hydroxyapatite is a material that can be bonded to the building blocks of bone. In this study has been carried out the synthesis of hydroxyapatite using hydrothermal method. Precursor calcium is derived from leghorn chicken eggshell as well as to the source of phosphate using (NH4)2HPO4. In the hydrothermal method to various temperatures of 150 oC, 200 oC, 250 oC, and 300 oC at 3 hours and variations in time of 1 hour and 5 hours at a temperature of 150 oC. Phase and crystal structure of hydroxyapatite were analyzed using X-ray diffractometer (XRD). While the morphology of hydroxyapatite imaged using scanning electron microscopy (SEM). The samples were synthesized using hydrothermal method has formed hydroxyapatite phase. Hydroxyapatite synthesized by hydrothermal method have a value close to the lattice parameter of data JCPDS. XRD characterization results on the various temperatures and hydrothermal time of the 6 samples such as 150 oC, 200 oC, 250 oC, 300 oC for 3 hours and 150 oC at 1 hour, 3 hours, and 5 hours showed that the optimum phase HAp formed it a sample temperature of 150 oC time 3 hours is equal to 98.6% which an efficiency is 45.6%, 78.028 nm crystal size, and degree of crystallinity of 83.4%. Test result by SEM showed that formation of space between microsized HAp particles were clearly visible on the sample. Space of this size is about 2.1 μm
Developing Guidebook of Sexual Violence Prevention and Control in Universitas Ahmad Dahlan
Higher education should be a safe and comfortable place for students to receive education. However, in reality, many cases of sexual violence occur in the university environment. Many victims of sexual violence do not dare to report the incident to the authorities. Meanwhile, some victims who have reported their cases have not received a resolution to the problems they complained about. Based on the results of a student needs survey, as many as 64.7% of students need a guidebook for preventing and controlling sexual violence. Based on the survey results, the author aims to research and develop a guidebook for preventing and controlling sexual violence. After going through four stages of R&D 4D model, this guidebook contains the background, scope, juridical and empirical studies, and mechanisms for preventing and controlling sexual violence. Based on the results of media expert validation tests, this book obtained an Index Aiken’s V Coefficient of 0.81 which is in the high category. Meanwhile, the results of material expert validation tests show that the Index Aiken’s V Coefficient of this book is 0.83, which is also included in the high category. This guidebook will be used as a reference in realizing efforts to prevent and overcome sexual violence in the higher education environment, especially at Universitas Ahmad Dahlan
Karakterisasi Fasa dan Sifat Listrik Fluorhidroksiapatit: Pengaruh Variasi Molaritas dan Iradiasi Gelombang Mikro
Peningkatan karies dalam beberapa decade terakhir terjadi pada anak-anak dan orang dewasa, baik pada gigi primer maupun sekunder. WHO memperkirakan DMFT (Decayed, Missing and Filled Teeth) secara global terjadi anak berusia 12 tahun di 209 negara yang termasuk dalam database mereka. Fluorhidroksiapatit merupakan fasa yang stabil dari kalsium fosfat yang dapat digunakan untuk memperbaiki gigi. Substitusi fluor kedalam material hidroksiapatit akan meningkatkan stabilitas dan mencegah karies kedua dengan cara inhibisi metabolisme bakteri. Adanya fluor juga meningkatkan mineralisasi dan kristalisasi kalsium fosfat dalam proses pembentukan gigi dan tulang dan memengaruhi penambahan sel, proliferasi, diferensiasi dan morfologi sel osteoblas.
Penelitian yang dilakukan adalah sintesis fluorhidroksiapatit berbasis cangkang telur ayam menggunakan metode presipitasi berbantukan iradiasi gelombang mikro (microwave), dengan melakukan variasi rasio molaritas [P]/[F] dan iradiasi gelombang mikro. Penggunaan gelombang mikro dalam sintesis fluorhidroksiapatit dapat meningkatkan efisiensi, sehingga mengurangi biaya dan metode ini efektif karena iradiasi dan waktu penahanan dapat bervariasi sehingga memengaruhi kecepatan reaksi dan dapat mengurangi pemakaian. Pengaruh dari variasi molaritas dan iradiasi gelombang mikro dianalisis melalui pola difraksi sinar-X, spektra FTIR. Selain itu juga dilakukan penelitian mengenai sifat listrik dari flurhidroksiapatit khususnya nilai konduktifitas listrik karena dari penelitian sebelumnya, material kalsium fosfat memiliki keterkaitan antara nilai konduktivitas dan proses proliferasi sel dan penyembuhan tulang.
Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa fluorhidroksiapatit telah terbentuk pada semua sampel yang ditunjukkan dengan munculnya gugus fungsi OH...F pada bilangan gelombang 3539-3550 cm-1. Penggunaan iradiasi gelombang mikro yang tinggi (100P) mampu mempercepat reaksi sehingga menghasilkan fluorhidroksiapatit yang lebih murni dan pengotor yang lebih sedikit. Pada penelitian ini juga dilakukan eksperimen dengan jumlah CaO yang lebih banyak dan hasilnya menunjukkan masih terdapat pengotor berupa CaO dan Ca(OH)2. Iradiasi gelombang mikro dan rasio molaritas [P]/[F] menunjukkan tidak adanya hubungan dengan nilai konduktivitas fluorhidroksiapatit, namun dengan adanya pengotor berupa CaO membuat konduktivitas fluorhidroksiapatit meningkat
Sintesis Nanopartikel Ca(OH)2 dari Cangkang Telur Ayam dengan Metode Presipitasi Berbantukan Ultrasonik
Cangkang telur ayam berpotensi untuk dijadikan sumber kalsium pada gigi.
Kalsinasi cangkang telur ayam pada suhu 1000 oC dapat membentuk senyawa CaO
sebagai komponen utama untuk memperoleh senyawa Ca(OH)2. Komposisi
kalsium tertinggi hasil kalsinasi yang diperoleh mencapai 63.21% dan data yang
didapatkan sesuai dengan pola XRD CaO. Gelombang ultrasonik digunakan untuk
membantu sintesis nanopartikel Ca(OH)2. Sampel yang diperoleh dikarakterisasi
dengan XRD, FTIR, SEM, dan EDS. Gugus fungsi yang muncul pada spektra FTIR
diantaranya karbonat (CO32-) dan hidroksil (-OH). Sonikasi dilakukan selama 2
jam untuk membentuk senyawa Ca(OH)2 yang berukuran nano. Endapan Ca(OH)2
disaring dan di sintering dengan variasi suhu 100 oC, 200 oC dan 400 oC. Variasi
suhu saat sintering tidak terlalu mempengaruhi karakteristik sampel Ca(OH)2 yang
terbentuk. Citra SEM menunjukkan bahwa nanopartikel Ca(OH)2 memiliki
morfologi berbentuk hexagonal. Karakterisasi EDS menunjukkan bahwa terdapat
kandungan unsur kimia pada sampel diantaranya oksigen, emas, dan kalsium
Perancah Berpori Hidroksiapatit Dan Β-Tricalcium Phosphate Dari Limbah Cangkang Telur Ayam Dengan Porogen Alginat
Serbuk Hidroksiapatit (HA) telah berhasil disintesis menggunakan limbah cangkang telur dan melalui metode wise drop (presipitasi) dengan jumlah berkisar 97% fraksi volume. Ukuran rata-rata kristalin serbuk HA adalah 65 nm dengan derajat kristalinitas sebesar 89.87%. Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa dalam serbuk HA terdapat gugus fungsi fungsi PO4 3-, HPO4 3-, OH-, CO3 2-, dan air yang terserap. Metode freeze-drying dapat digunakan untuk mensintesis perancah HA/alginat dengan ukuran pori yang ideal, karena tidak menggunakan temperatur yang tinggi pada proses freeze-drying maka analisis XRD dan FTIR menunjukkan tidak adanya fasa baru dalam perancah HA/alginat. Fasa dalam perancah HA/alginat tetap terdiri dari fasa serbuk HA dan alginat yang dicirikan oleh gugus COO- simetrik dan asimetrik. Penggunaan crosslink agent CaCl2 menyebabkan adanya substitusi Ca ke dalam Na pada gugus COO- simetrik. Melalui pemindaian μ-CT scan dan SEM diketahui bahwa perancah HA-82, HA-73, dan HA-64 masingmasing memiliki ukuran pori rata-rata sebesar 127 μm, 124 μm, dan 103 μm dengan porositas adalah 72%, 68%, dan 70%. Ukuran pori dari seluruh perancah HA/alginat yang disintesis dalam penelitian ini tidak seragam dan sampel HA-64 memiliki distribusi ukuran pori yang paling seragam dibandingkan lainnya. Melalui proses presipitasi antara kalsium oksida dari cangkang telur dan H3PO4 juga telah berhasil disintesis serbuk β-Tricalcium Phosphate (β-TCP) dengan jumlah berkisar 79% fraksi volume. Fasa lain yang terbentuk adalah β- Ca2P2O7 yang berasal dari transformasi fasa tidak sempurna dari kalsium selama proses pemanasan yang kurang baik. Ukuran rata-rata kristalin serbuk β-TCP adalah 75 nm dengan derajat kristalinitas sebesar 72%. Gugus fungsi yang terdapat dalam serbuk β-TCP adalah PO4 3- , P2O7 4-, CO3 2-, dan air yang teradsorbsi. Dalam penelitian ini juga telah berhasil disintesis perancah β-TCP/alginat yang memenuhi persyaratan perancah untuk proses terapi tulang melalui metode freeze-drying. Penerapan metode freeze-drying tidak menyebabkan adanya transformasi fasa atau reaksi kimia dalam perancah β-TCP. Kristal yang terbentuk dalam perancah berkaitan dengan kristal pada serbuk β-TCP. Gugus fungsi yang terdeteksi merupakan gabungan antara gugus fungsi dalam serbuk β-TCP dan alginat yaitu PO4 3-, P2O7 4-, CO3 2-, COO-, dan OH. Melalui pemindaian μ-CT scan dan SEM diketahui bahwa ukuran pori rata-rata perancah TA-82, TA-73, dan TA- 64 masing-masing adalah 260 μm, 224 μm, dan 322 μm dengan porositas 63%, 62%, dan 69%. Perancah β-TCP/alginat yang paling seragam adalah TA-73
- …
