189 research outputs found

    HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN INTERAKSI SOSIAL DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI DESA KEROIT KECAMATAN MOTOLING BARAT

    No full text
    Hubungan Dukungan Keluarga dan Interaksi Sosial dengan Tingkat Depresi pada Lansia di Desa Keroit Kecamatan Motoling Barat. Veronica M Sondakh (13061051) Pembimbing Herman Warouw, dan Johanis Kerangan Latar Belakang: Proses kehidupan manusia tidak terlepas dari proses pertumbuhan danperkembangan fisik maupun mentalnya. Depresi adalah gangguan psikiatri yang merupakan masalah kesehatan mental yang sangat penting yang terjadi di kalangan lansia. Depresi adalah suatu perasaan sedih, pesimis, yang berhubungan dengan penderitaan dan perasaan marah yang dalam. Depresi lebih sering terjadi pada lansia dibandingkan pada populasi umum. Seorang yang menginjak usia lanjut akan semakin mengalami peningkatan perasaan terisolasi dan kondisi ini rentan terhadap depresi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dan interaksi sosial dengan tingkat depresi pada lansia di Desa Keroit, Kecamatan Motoling Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif, dengan pendekatan cross-sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 62 lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi dengan cara total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan uji Spearman pada program komputer. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada lansia dengan p value = 0,008. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan interaksi sosial dengan tingkat depresi pada lansia dengan p value = 0,198. Kesimpulan: Peran keluarga dan linkungan sosial yang terkadang kurang mendukung akan dapat membuat depresi pada lansia semakin berat. Maka hendaknya keluarga selalu memberikan dukungan dan kepedulian bagi lansia; para lansia juga harus lebih meningkatkan interaksi sosial dengan orang-orang di lingkungan sekitar. Kata Kunci : Dukungan Keluarga, Interaksi Sosial, Depresi Lansia. Kepustakaan : 21 Jurnal; 4 buku

    Analisis Faktor Intrahospital yang Berhubungan dengan Keterlambatan Waktu Terapi Reperfusi pada Pasien ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) di RSUP Prof. R.D. Kandou Manado.

    No full text
    Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) merupakan salah satu spektrum Sindrom Koroner Akut (SKA) yang paling berat, dan merupakan indikator kejadian oklusi total pembuluh darah arteri koroner, dengan manifestasi gejala nyeri dada yang khas berupa nyeri dada yang berat dengan durasi lebih dari 20 menit. Kondisi ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian, jika tidak dilakukan tindakan revaskularisasi segera untuk mengembalikan aliran darah dan reperfusi miokard. Tindakan reperfusi merupakan strategi utama dalam penanganan pasien STEMI yaitu dengan Intervensi Koroner Perkutan (IKP) dan terapi fibrinolitik. Waktu tindakan reperfusi yang lebih cepat, berhubungan erat dengan rendahnya jumlah mortalitas. Oleh karena itu, pedoman American Heart Association (AHA) dan European Society of Cardiology (ESC) menetapkan waktu tindakan reperfusi pasien STEMI yaitu 30 menit untuk door-to-needle dan 90 menit untuk door-to-balloon. Keterlambatan waktu terapi reperfusi ditentukan oleh lama waktu prehospital dan intrahospital. Lama waktu prehospital terkait faktor pasien merupakan penyebab yang paling menonjol terhadap peningkatan kerusakan jantung dan kematian pada pasien STEMI. Pasien dengan onset gejala 1-2 jam, memiliki komplikasi yang fatal, dan 1/3 pasien meninggal dalam 24 jam setelah onset. Sedangkan untuk lama waktu intrahospital yang dibandingkan dengan angka mortalitas pasien STEMI didapatkan bahwa mortalitas di rumah sakit lebih rendah dengan waktu door-to-needle yang lebih singkat yaitu 2,9% untuk 30 menit, 4,1% selama 31-45 menit, dan 6,2% untuk 45 menit. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi hubungan faktor intrahospital dengan keterlambatan waktu terapi reperfusi pada pasien STEMI. Berdasarkan hasil analisis univariat, rata-rata interval waktu kecepatan door-to-ECG adalah. 28,59 menit (17-40 menit), kecepatan transfer pasien ke ICCU adalah 149,72 menit (22-301 menit) dan kecepatan terapi fibrinolitik adalah 38,22 menit (8-82 menit). Sehingga didapatkan total interval waktu door-to-needle yang dibutuhkan untuk penanganan pasien STEMI adalah 216,54 menit (65-401 menit). Dari hasil analisis bivariat didapatkan: kecepatan door-to-ECG (p value=0,028), kecepatan transfer ke ICCU (p value=0,000), kecepatan terapi fibrinolitik (p value=0,022) berhubungan dengan keterlambatan waktu terapi reperfusi pada pasien STEMI. Kemudian berdasarkan hasil analisis multivariat regresi linear, faktor yang paling dominan hubungannya dengan keterlambatan waktu terapi reperfusi pada pasien STEMI adalah kecepatan transfer ke ICCU (0,871). Faktor kecepatan transfer pasien ke ICCU merupakan faktor yang paling berperan terhadap keterlambatan waktu terapi fibrinolitik pada pasien STEMI. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat 3 faktor intrahospital yang memiliki hubungan signifikan dengan keterlambatan waktu terapi reperfusi pada pasien v STEMI seperti faktor kecepatan door-to-ECG, kecepatan transfer ke ICCU, dan kecepatan terapi fibrinolitik. Namun tidak terdapat hubungan antara faktor kondisi klinis pasien STEMI dengan keterlambatan waktu terapi reperfusi. Sedangkan faktor intrahospital yang paling dominan berhubungan dengan keterlambatan waktu terapi reperfusi adalah faktor kecepatan transfer pasien STEMI ke ICCU untuk menjalani tindakan terapi fibrinolitik. Berdasarkan hasil temuan dari penelitian ini, dapat disarankan: 1. Diperlukan komunikasi yang baik antara pelayanan kesehatan yang merujuk dan rumah sakit yang menjadi rujukan untuk memperpendek waktu pengkajian awal saat pasien tiba di departemen emergensi sehingga tindakan definitif dapat segera dilakukan. 2. Diharapkan perawat dan staf lainnya yang bertugas di departemen emergensi dapat meningkatkan kemampuan dalam menginterpretasikan EKG, sehingga dapat mempersingkat interval waktu door-to-ECG. 3. Diperlukan komunikasi yang baik antar ruang emergensi yang terkait dalam penanganan pasien STEMI sehingga adanya kesiapan untuk tindakan lanjutan. 4. Diperlukan adanya upaya dari petugas kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kepada pasien dan keluarga tentang penanganan pasien STEMI yang membutuhkan waktu penanganan yang cepat, sehingga diharapkan dapat mempersingkat waktu transfer pasien untuk tindakan reperfusi. Mengingat bahwa faktor kecepatan transfer ke ICCU yang merupakan faktor dominan terhadap keterlambatan waktu terapi reperfusi dimana faktor pasien dan keluarga yang menyumbang waktu lebih banyak dalam pengambilan keputusan persetujuan tindakan. 5. Diperlukan adanya jalur evakuasi/ koridor dengan brankar untuk mempercepat proses transfer pasien dari IGD ke ICCU atau semua tindakan fibrinolitk pada pasien STEMI dapat dilakukan diruang emergensi

    ASUHAN KEPERAW ATAN PENE RAPAN KOMBINASI ANKLE PUMP EXERCISE DAN PADA Tn. F.M DENGAN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) DI RSUP. PROF. DR.R.D. KANDOU MANADO

    No full text
    Latar Belakang : Cronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible yang mengakibatkan perubahan fisiologis, dimana tubuh tidak mampu mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan elektrolit. Pasien gagal ginjal biasanya memerlukan dialisis untuk kebelangsungan hidup. Terapi hemodialisis merupakan terapi pengganti ginjal untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh serta membuang zat sisa metabolisme. Pada pasien CKD sering di temukan masalah edema. Edema merupakan penumpukan cairan berlebih di antara sel-sel atau rongga tubuh. Salah satu terapi non farmakologi untuk mengatasi edema terutama di daerah tungkai adalah terapi ankle pump exercise dan elevasi kaki 30⁰ . Ankle pump exercise dilakukan dengan menggerakkan pergelangan kaki secara maksimal ke atas dan ke bawah dengan mengelevasikan kaki 30⁰ apabila ada pembengkakan distal untuk melancarkan aliran darah balik sehingga dapat menurunkan pembengkakan. Tujuan : Studi kasus ini bertujuan untuk menerapkan kombinasi ankle pump exercise dan t v t dalam asuhan keperawatan pada pasien CKD dengan edema pada kaki. Metode : Desain yang digunakan adalah studi kasus. Dengan pengambilan data menggunakan pendekatan kuantitatif proses keperawatan yaitu pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, perencanaan implementasi dan evaluasi. Studi kasus ini dilakukan pada satu responden yaitu pasien CKD yang mengalami masalah edema di ruang ICU RSUP. Prof. DR. R.D. Kandou Manado. Instrumen yang digunakan yaitu Standar Operasional Prosedur (SOP) terapi ankle pumping exercise dan elevasi kaki 30⁰ , untuk mengukur derajat edema pada pasien penulis menggunakan lembar observasi derajat edema. Hasil : Setelah dilakukan penerapan kombinasi ankle pump exercise dan t v t terdapat penurunan derajat edema pada kaki pasien Kesimpulan : Hasil penerapan terapi kombinasi ankle pump exercise dan 30⁰ foot elevation pada pasien CKD dengan Edema kaki terdapat penurunan derajat edema dengan hasil observasi edema derajat II kedalaman 3 mmm dengan waktu kembali selama 16 detik. Kata Kunci : Terapi ankle pump exercise, 30⁰ foot elevation, Edema, Cronic Kidney Disease (CKD) Kepustakaan : 27 (2017-2023

    Penerapan Terapi Realita terhadap Peningkatan Koping Adaptif pada Klien Tn.M dengan Halusinasi Pendengaran di Ruang Bisma Rumah Sakit Jiwa Manah Shanti Mohottama Provinsi Bali

    No full text
    Latar Belakang: Gangguan persepsi sensori berupa halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala utama skizofrenia yang dapat mengganggu fungsi kognitif, emosional, dan sosial klien. Intervensi keperawatan non-farmakologis seperti terapi realita terhadap peningkatan koping adaptif terbukti efektif dalam membantu klien mengenali realitas dan mengelola stimulus internal. Tujuan: Mendeskripsikan penerapan terapi realita terhadap peningkatan koping adaptif pada klien Tn.M yang mengalami gangguan jiwa dengan gejala halusinasi pendengaran di Ruang Bisma Rumah Sakit Jiwa Manah Shanti Mohottama Provinsi Bali. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus asuhan keperawatan jiwa. Intervensi dilakukan melalui Strategi Pelaksanaan (SP) 1–4 selama tiga hari, meliputi edukasi tentang halusinasi, pelatihan teknik menghardik, latihan bercakap- cakap, dan kegiatan terstruktur. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP berdasarkan observasi dan wawancara. Hasil: Klien menunjukkan penurunan intensitas halusinasi, peningkatan kesadaran terhadap realita, serta kemampuan mengelola halusinasi secara mandiri melalui strategi peningkatan koping adaptif. Klien juga mulai terlibat dalam interaksi sosial dan aktivitas bermakna. Kesimpulan: Pemberian terapi realita merupakan intervensi yang efektif dalam meningkatkan orientasi realita dan mengurangi gejala halusinasi pendengaran dan meningkatkan koping adaptif klien. Pendekatan ini relevan untuk diterapkan secara klinis dalam penanganan gangguan jiwa di ruang perawatan psikiatri. Kata Kunci: Halusinasi Pendengaran, Terapi Realita, Koping Adaptif, Asuhan Keperawatan Jiwa, Gangguan Persepsi Sensor

    Asuhan Keperawatan Keluarga Dalam Pencegahan Stunting Di Desa Sonsilo Kecamatan Likupang Barat

    No full text
    Latar Belakang : Stunting adalah masalah kekurangan gizi yang kronis dikarenakan kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak dimana tunggi anak lebih rendah dari standar usianya. Anak yang terkena stunting dapat terhambat perkembangan otaknya Tujuan : Menganalisis asuhan keperawatan pada keluarga dengan tahap perkembangan Childbearing dalam pencegahan stunting. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dalam bentuk studi kasus. Hasil: Keluarga Tn J merupakan keluarga dengan tahap perkembangan childbearing dimana keluarga mereka mengalami transisi peran menjadi orangtua, dimana masih perlu bimbingan serta edukasi dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak, pola asuh keluarga dalam mengurus anak serta perilaku hidup sehat agar terhindar dari stunting. Kata Kunci : Asuhan keperawatan keluarga, stunting

    Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan: Pneumonia di Ruangan Sta. Theresia RS Budi Setia Langowan

    No full text
    Latar Belakang : Pneumonia merupakan penyakit dari infeksi akut yang terjadi di daerah saluran pernapasan bagian bawah yang dapat mempengaruhi paru-paru dan menyebabkan area paru-paru dipenuhi dengan cairan, lendir atau nanah sehingga pasien mengalami kesulitan untuk bernapas. Tujuan : Penulisan karya ilmiah ini agar peneliti mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada ny. M.R Dengan pneumonia di Ruangan Sta. Theresia RS Budi Setia Langowan Metode : Penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dalam bentuk studi kasus. Hasil : kesimpulan yang didapat adalah terdapat kesenjangan berupa perbedaan tanda dan gejala serta diagnosa keperawatan yang ada tentunya disesuaikan dengan kondisi pasien, selain itu pada evaluasi hasil adanya kesenjangan dikarenakan pada karya ilmiah sebelumnya tidak semua masalah keperawatan yang dirumuskan teratasi sesuai tujuan sedangkan pada karya ilmiah ini semua masalah keperawatan teratasi sesuai tujuan yang ditetapkan. Kata Kunci : Asuhan keperarawatan, Pneumoni

    ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KARDIOVASKULER : PENERAPAN THERMOTHERAPY PADA PASIEN ST- ELEVATION MYOCARDIAL INFRACTION (STEMI) DI RUANGAN ICCU RSUP PROF. DR. R. D KANDOU MANADO

    No full text
    Latar Belakang: STEMI merupakan sindrom klinis yang diartikan oleh gejala iskemia miokard, terutama nyeri atau gangguan rasa nyaman di dada yang berhubungan dengan peningkatan segmen ST pada EKG dan peningkatan kadar troponin. Mengontrol nyeri sangat penting dalam perawatan pasien dengan STEMI, jika dibiarkan kebutuhan dasar pada pasien akan terganggu bahkan dapat mengancam jiwa sampai pada kematian, berdampak pada lama perawatan dirumah sakit serta meningkatnya tingkat mortalitas dan mordibitas. Tujuan: Memaparkan analisis asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan kardiovaskular ST-Elevation Myocardial Infraction (STEMI) di Ruangan ICCU Rsup Prof. Dr. R. D Kandou Manado. Metode: Penulisan ini menggunakan metode studi kasus yang diambil dari klien di RSUP Prof. DR. R. D Kandou Manado. Hasil: berdasarkan evaluasi terkait intervensi yang dilakukan untuk mengatasi nyeri dinilai berhasil hal ini dibuktikan dengan keluhan nyeri menurun, meringis menurun, tekanan darah membaik. Kata Kunci : Thermotherapy, STEMI, Kardiovaskule

    Asuhan Keperawatan Pada Klien Tn. J.K. Dengan Gangguan Sistem Respirasi Asma Bronkial Dirunagan Sta. Maria Josep Rumah Sakit Budi Setia Langowan

    No full text
    Latar Belakang : Asma bronchial merupakan inflamasi atau peradangan dimana saluran pernafasan yang menyebabkan hiperaktifitas bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai dengan mengi, batuk berlendir, sesak nafas dan rasa nyeri didada. Tujuan : Penulisan karya ilmiah ini mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien Tn. J.K dengan gangguan sistem asma bronkial diruangan Sta. maria josep rumah sakit budi setia langowan. Metode : Penelitian yang digunakan adalah medote deskriptif dalam bentuk studi kasus. Hasil : Kebiasaan merokok yang dilakukan pasien dapat mempengaruhi terjadinya asma bronkial dan ada juga yang disebabkan oleh bakteri/virus dan akan terjadi inflamasi dimana terjadi hipereaktifitas brokus terhadap rangsangan yang ditandai dengan mengi, batuk berlender dan sesak nafas oleh karena itu penulis memberikan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi, dimana penulis menegakan 3 dignosa keperawatan untuk pasien Tn. J.K dan dari proses keperawan itu dignosa yang diangkat yaitu Bersihan Jalan Nafas, Pola Nafas tidak efektif, dan intoleransi aktifitas dimana setelah dilakukan asuhan keperawatan berhasil dan pasien dapat dapat diijinkan pulang setelah perawatan 3 hari di rumah sakit budi setia langowan. Kata Kunci : Asuhan Keperawatan Asma Bronkia

    Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus pada Pasien Luka Diabetik : Peneparan Madu Pada Tahap Penyembuhan Poliferasi Di Ruangan Angsoka 1 RSUP Prof. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar Bali

    No full text
    Diabetes adalah suatu penyakit metabolis bersifat kronis yang terjadi akibat adanya resistensi insulin dimana pangkreas sedikit atau tidak dapat memproduksi insulin yang memadai sehingga menyebabkan penggunaannya di dalam tubuh tidak efektif. Kandungan pH madu yang asam serta kandungan H2O2 (hydrogen perroxida) mampu membunuh bakteri dan mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh menjadi antibakteri untuk menjaga luka agar tidak terdapat perluasan jaringan nekrosis. Studi kasus ini menggunakan metode berupa rangkaian asuhan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi terdapat perubahan yang signifikan pada area luka yang diberikan intervensi madu. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah penerapan madu sebagai dressing dalam proses penyembuhan luka bagian poliferasi terbukti efektif dikarenakan menunjukkan perbaikan yang signifikan dimana luka pada kaki kiri sudah lebih membaik, tidak terjadi tanda-tanda infeksi, nekrotik berkurang, warna luka kemerahan, ukuran luka semakin mengecil, nyeri menurun dan pasien mampu melakukan teknik relaksasi nafas dalam saat nyeri dirasakan. Keluhan lainnya tidak ada

    Asuhan Keperawatan Penerapan Kombinasi Kompres Hangat Jahe Untuk Menurunkan Nyeri Asam Urat Pada Tn. S.M Di Desa Waleo Dua Kecamatan Kema

    No full text
    Latar Belakang : Asam urat adalah senyawa nitrogen yang dihasilkan dari proses katabolisme atau pemecahan purin baik dari diet maupun dari asam nuklead endogen, upaya pencegahan untuk mengurangi nyeri pada penderita asam urat dengan terapi kompres hangat jahe. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penerapan kombinasi kompres hangat jahe untuk menurunkan nyeri pada Tn. S. M di desa waleo dua kecamatan kema Metode: Desain yang digunakan adalah studi kasus. Dengan pengambilan data menggunakan pendekatan kuantitatif proses keperawatan yaitu: pengkajian, analisa data dan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, evaluasi. Data studi kasus ini melibatkan sebanyak 2 orang. Hasil: Setelah dilakukan penerapan kombinasi kompres hangat jahe dapat berpengaruh dalam menurukan nyeri dengan skala nyeri 5 setelah diberikan kompres hangat jahe di dapatkan skala nyeri 2 Kesimpulan: penerapan terapi kompres hangat jahe mampu memberikan respon positif dimana menurunkan nyeri persendian. Kata Kunci: Asam urat, kompres hangat jahe, nyeri persendian Kepustakaan: 16 jurnal (Tahun2013-2023
    corecore