1,720,985 research outputs found

    PENGGUNAAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENENTUKAN POTENSI KETERSEDIAAN AIR TANAH Kasus di Sub DAS Cisangkuy, DAS Citarum Bandung

    No full text
    Informasi ketersediaan air tanah sangat diperlukan dalam perencanaan pertanian, manajemen irigasi dan perencanaan pola tanam. Agar dapat menggambarkan sebaran spasial informasi ketersediaan air suatu suatu wilayah secara lebih rinci, maka informasi data visual geografik menjadi sangat menarik untuk digunakan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan distribusi spasial ketersediaan air tanah menggunakan teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Penelitian ini dilakukan dengan metode kesetimbangan air yang dikemukakan oleh Thornthwaite menggunakan input data visual geografis yang berupa peta dan citra satelit. Penggunaan data input visual diharapkan mampu menggambarkan sebaran nilai ketersediaan air tanah secara rinci mengikuti sebaran geografis sesuai kondisi di lapangan. Dalam penelitian ini dibandingkan pula dua jenis input data yang digunakan yaitu input peta karakteristik lahan serta input dari citra dan informasi topografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan data input spasial dapat menggambarkan distribusi nilai ketersediaan air tanah. Penggunaan citra satelit dan informasi topografi ternyata lebih handal dibandingkan input peta karakteristik lahan. Kehandalan tersebut dapat dilihat dari angka root mean square (RMS) dan angka koefisien korelasi. Nilai RMS untuk masing-masing cara yaitu 27,8% untuk input peta karakteristik lahan serta 21.3% untuk penggunaan indeks kelembaban dan indeks topografi. Sedangkan angka koefisien korelasi untuk input peta karakteristik lahan adalah 0,6, serta angka koefisien korelasi untuk input indeks kelembaban dan indeks topografi adalah 0,65. Kata kunci : Ketersediaan Air, Sistem Informasi Geografis, Penginderaan jauh, Kesetimbangan air

    IDENTIFIKASI DISTRIBUSI LAHAN KRITIS BERDASARKAN METODE ANFIS (ARTIFICIAL NEURO-FUZZY INFERENCE SYSTEM) STUDI KASUS DI SUB DAS CILAKI HULU, DAS CITARUM HULU

    No full text
    Pertumbuhan lahan kritis yang cepat perlu dicegah melalui identifikasi distribusi spasial lahan kritis. Dalam kajian ini metode sistem inferensi Neuro-Fuzzy buatan - Artificial neuro-fuzzy inference system (ANFIS) digunakan untuk identifikasi kekritisan lahan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ANFIS dapat digunakan untuk identifikasi kekritisan lahan dengan mempertimbangkan jumlah faktor penentu, kualitas data training dan pembobotan untuk masing-masing variabel. Dari hasil analisis kehandalan menunjukkan bahwa tingkat kesalahan ANFIS dalam analisis kekritisan lahan 0.75. Kendala terjadi pada tingkat ketelitian data yang beragam, sehingga tingkat akurasi mengikuti akurasi data terrendah. Selain itu,  dalam penentuaan aturan ANFIS tidak dilakukan pembobotan antar variabel, sehingga variabel mempunyai derajat pengaruh yang sama antar variabel.  Kata kunci : Kekritisan lahan, Artificial Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS), Distribusi spasia

    EVALUASI METODE PRAKIRAAN IKLIM DI WILAYAH KARAWANG MENGGUNAKAN KARAKTERISTIKA OPERASI RELATIF (ROC) Evaluation of Climate Prediction Method in Karawang Region Using Relative Operating Characteristics (ROC)

    No full text
    Informasi mengenai prakiraan musim hujan untuk menentukan awal musim hujan dan awal musim kemarau diperlukan dalam penentuan awal musim panen dan penyusunan pola tanam yang akan diterapkan di suatu lokasi berdasarkan pengamatan terhadap data pola cuaca dan pola curah hujan harian atau bulanan. Metode ROC (Relative Operating Characteristic) digunakan sebagai alat untuk menguji kehandalan data yang diperoleh. Nilai prakiraan, dalam penelitian ini diperoleh berdasarkan data curah hujan di stasiun curah hujan Karawang tahun 1971-2007, dan data indeks Sea Surface Temperature (SST) dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai prakiraan awal musim hujan maju atau mundur dapat dihitung cukup baik dengan potensi proposional, di mana kurva hasil prakiraan musim hujan maju lebih baik daripada prakiraan musim hujan mundur. Kata Kunci: Evaluasi, nilai prakiraan, karakteristika operasi relatif (ROC) Information for predicting rainy season in the determination of rainy and dry seasons is required in determining the beginning of harvesting time and in arranging what plant pattern would be applied and developed in a certain location. The prediction is based on climate pattern as well as on daily or monthly rainfall pattern observation. ROC (Relative Operating Characteristic) method was used as a mean to test the reliability of the data obtained. The predicted value in this research was based on data of Karawang’s rainfall station of 1971 up to 2007 and those of the index of sea surface temperature of BMKG (The Office of Meteorology, Climatology and Geophysique). Result analysis showed that the forward or retreat values of the beginning of rainfall seasons could be sufficiently well calculated at a proportional potency where ROC curve obtained was at a level above normal and the result curve of forward rainfall prediction was better than that of the retreat curve.Keywords: Evaluation, Predicted value, relative operation characteristics (ROC

    ANALISIS PERHITUNGAN KEBUTUHAN OPTIMUM TRAKTOR RODA DUA DI KABUPATEN BANDUNG

    Full text link
    Mekanisasi pertanian berperan penting dalam meningkatkan daya saing sektor pertanian. Efisiensi waktu dan biaya dapat dicapai dengan proses mekanisasi. Waktu panen juga dapat lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan tenaga kerja padat karya sehingga efisiensi biaya meningkat hingga 40%. Traktor sebagai salah satu produk mekanisasi telah banyak diaplikasikan di petani, akan tetapi kebutuhan optimum suatu daerah terhadap traktor seringkali belum diketahui. Kajian ini mencoba menghitung jumlah traktor yang dapat diserap secara optimum berdasarkan potensi lahan pertanian, perubahan lahan dan dinamika kependudukan di Kabupaten Bandung. Analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis desriptif menggunakan aplikasi analisis spasial untuk memperoleh data luasan area lahan pertanian eksisting maupun potensi berdasarkan arahan penggunaan lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah di sekitar Kabupaten Bandung jumlah kebutuhan traktor roda dua masih kurang, namun demikian jumlah kekurangan dalam analisis proyeksi menunjukkan kecenderungan menurun. Jumlah kebutuhan traktor pada tahun 2025 adalah 2237 untuk kebutuhan traktor dengan berdasarkan pada luas lahan dan proyeksi ketersediaan traktor adalah 2393.Kata kunci: Optimasi pengembangan traktor, neraca ketersediaan dan kebutuhan traktor, karakteristik laha

    Kajian Kebutuhan Air Irigasi Tanaman Jagung (Zea mays L.) Berdasarkan KP-01 dan Metode Thornthwaite-Mather

    Full text link
    Two different methods for determining irrigation water requirement for corn, is  KP-01 and  Thornthwaite-Mather method. Two Methods have different parameter such as reference crop evapotranspiration (ETo) and effective rainfall. The average ETo value using Penman-Monteith for Thornthwaite-Mather was lower (82,5%) than using Penman Modification method (KP-01) . The ratio of effective rainfall between KP-01 and Thornthwaite-Mather was 33,02%.  Corn water irrigation requirement for a pattern planting based on KP-01 is 806,96 mm, while corn water irrigation requirement based on Thornthwaite-Mather method is 254,4125 mm.  Corn water irrigation requirement using KP-01 is higher than Thornthwaite-Mather because effective rainfall method for KP-01 (using USDA Soil Conservation Service) is lower than rainfall effective for Thornthwaite-Mather

    Kajian Penggunaan Metode Mean Annual Flood (MAF), Rasional, Der Weduwen Dan Haspers Untuk Menentukan Debit Banjir Pada Sub Das Cikeruh

    Full text link
    Water is an essential thing for every living creature. However, it can cause several problems, namely floods, droughts, and water pollution. The Cikeruh sub-watershed area is frequently flooded, especially in the Rancaekek and Bojongsoang sub-districts, causing damage to public facilities and infrastructure and property losses. Therefore, a flood discharge analysis is carried out to determine the magnitude of the planned flood discharge in the Cikeruh sub-watershed. This study aims to obtain the deviation of the planned flood discharge value using the Mean Annual Flood method, the Rational method, the Der Weduwen method and the Haspers method with the planned flood discharge with measured data. This study uses a literature study and analyzes the frequency of the maximum precipitation to obtain the planned flood discharge in the Cikeruh sub-watershed. The results of the calculation of precipitation data using the Mean Annual Flood, Rational, Der Weduwen and Haspers methods on the frequency analysis of the measured discharge data is the smallest deviation occurs against the Mean Annual Flood method, which is 20.98% for the 2-year return period, 17.47% for the 5-year return period, 27.22% for 10-year return period, 42.68% for 20-year return period, 62.68% for 50 year return period, and 83.87% for 100 year return period. The results of this study are useful to know the methods that can be used as a reference in calculating the flood discharge plan and taken into consideration in planning the construction of waterworks.Air sangat penting bagi setiap makhluk hidup, tetapi dapat menyebabkan beberapa masalah yaitu banjir, kekeringan dan polusi air. Kawasan Sub DAS Cikeruh sering mengalami banjir terutama daerah kecamatan Rancaekek dan Bojongsoang sehingga merusak sarana dan prasarana umum serta menimbulkan kerugian harta. Dengan demikian, dilakukan analisis debit banjir untuk menentukan besarnya debit banjir rencana di Sub DAS Cikeruh. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh simpangan nilai debit banjir rencana menggunakan metode Mean Annual Flood, metode Rasional, metode Der Weduwen, dan metode Haspers dengan debit banjir rencana data terukur. Penelitian ini menggunakan studi literatur dan menganalisis frekuensi curah hujan maksimum untuk mendapatkan debit banjir rencana pada Sub DAS Cikeruh. Hasil perhitungan data curah hujan menggunakan metode Mean Annual Flood, Rasional, Der Weduwen, dan Haspers pada analisis frekuensi data debit terukur didapatkan penyimpangan terkecil terjadi terhadap metode Mean Annual Flood yaitu sebesar 20,98% untuk periode ulang 2 tahun, 17,47% untuk periode ulang 5 tahun, 27,22% untuk periode ulang 10 tahun, 42,68% untuk kala ulang 20 tahun, 62,68% untuk periode ulang 50 tahun, dan 83,87% untuk periode ulang 100 tahun. Hasil penelitian ini berguna untuk mengetahui metode yang dapat digunakan sebagai referensi dalam menghitung debit banjir rencana serta menjadi pertimbangan dalam perencanaan pembangunan bangunan air

    PENGGUNAAN METODE FUZZY DALAM PENENTUAN LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI DAERAH SUBDAS CIPELES

    No full text
    Untuk mengatasi permasalahan akibat ketidakpastian identifikasi, ketidakpastian kualitatif dalam menilai lahan kritis melalui Sistem Informasi Geografis (GIS) dengan metode skoring, telah dilakukan penelitian dengan menggunakan metode fuzzy. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif rujukan metode dalam penentuan lahan kritis diberbagai instansi yang kerap kali menggunakan data spasial terutama yang berkaitan dengan bidang pertanian dan kehutanan. Penelitian dilakukan di subDAS Cipeles, DAS Cimanuk, Kabupaten Sumedang dari tanggal 21 Agustus 2006 hingga 30 September 2006. Analisis dilakukan di Laboratorium Sistem & Manajemen Keteknikan Pertanian, Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Kampus Jatinangor. Alat bantu analisis yang digunakan adalah GPS (global positions system) beserta software-nya yaitu  ArcView 3.3, AV spatial analyst 2.0a (extension ArcView), AV 3D analyst 1.0.(extension ArcView), MatLab ver.7.0.1, SPSS 13.0, Office acces 2003, dan Office excel 2003. Metode analisis fuzzy berbeda dengan metode skoring, yang biasa dilakukan dalam analisis spasial pada data GIS. Data diskrit pada metode skoring terlebih dahulu diubah ke dalam data dari fungsi keanggotaan fuzzy melalui pendekatan interpolasi fuzzy. Hasil interpretasi data melalui metode fuzzy dengan defuzzifikasi Centre of Grafity (COG) menunjukkan bahwa Metode fuzzy mampu mengatasi ketidak pastian dalam klasifikasi data lahan kritis yang disajikan dalam bentuk diskrit, dimana dari hasil uji Wilcoxon interpretasi hasil analisis fuzzy mendekati kondisi yang sebenarnya di lapangan. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis (GIS), Analisis Fuzz

    PENGGUNAAN TRANSFORMASI NDVI (NORMALIZED DEFFERENCE VEGETATION INDEX) UNTUK IDENTIFIKASI SUHU PERMUKAAN LAHAN PADA CITRA SATELIT LANDSAT TM ”STUDI KASUS DI SUB DAS CISANGKUY KABUPATEN BANDUNG”

    No full text
    Informasi suhu sangat penting bagi para perencana wilayah dalam menganalisis potensi ketersediaan air, perencanaan kalender tanam, kekeringan dan sebagainya. Informasi suhu permukaan sering kali masih berupa data titik, artinya informasi tersebut diperoleh pada suatu stasiun (satu lokasi) yang mewakili suatu wilayah. Informasi suhu secara spasial sering kali juga diturunkan dari informasi titik (data stasiun) dengan model interpolasi menjadi kontur suhu. Padahal informasi suhu adalah informasi spasial yang secara dinamik setiap lokasi mempunyai nilai yang mencerminkan nilai temparetur lokasi tersebut. Namun jika pemetaan secara langsung itu dilakukan akan membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar. Oleh sebab itu perlu kiranya dicari suatu metode yang memungkinkan dapat menggambarkan distribusi suhu yang handal dengan efisien. Penginderaan jauh sebagai suatu ilmu yang dapat menggambarkan informasi kebumian secara baik memungkinkan digunakan sebagai suatu metode pemetaan distribusi suhu permukaan.Perkembangan penginderaan jauh dan teknologi satelit memungkinkan memperoleh informasi yang handal dalam memetakan suatu informasi. Informasi suhu permukaan merupakan salah satu hasil interaksi antara intensitas sinar matahari dengan karakteristik lahan. Interaksi intensitas sinar matahari dan karakteristik lahan digunakan sebagai metode untuk identifikasi suhu permukaan. Identifikasi informasi karakteristik lahan yang handal dalam remote sensing adalah penggunaan transformasi NDVI (Normalized Vegetation Index). Oleh sebab itu dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan NDVI untuk indentifikasi suhu permukaan. Hasil NDVI dikonversi menjadi suhu permukaan. Analisis kesalahan digunakan untuk menguji kehandalan metode ini melalui data lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NDVI mampu digunakan sebagai cara untuk identifikasi suhu permukaan. Kesalahan yang terjadi antara suhu permukaan hasil NDVI dengan data lapangan adalah 1,76. Kata kunci : Suhu permukaan, Penginderaan jauh, Citra Satelit Landsat TM, NDVI (Normalized Defference Vigetation Index

    Analisis Perubahan Penggunaan Lahan di Kabupaten Bandung Barat

    Full text link
    Kebutuhan hidup pada Kabupaten Bandung Barat akan bertambah seiring dengan tingginya pertumbuhan jumlah penduduk. Oleh karena itu, pembangunan akan bertambah seiringnya meningkatnya jumlah penduduk, sehingga perlu adanya pertimbangan keseimbangan lingkungan agar memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat. Perubahan tataguna lahan menjadi konsekuensi dengan adanya pembangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola perubahan penggunaan lahan dan menganalisis penggunaan lahan wilayah Kabupaten Bandung Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif, dengan menggunakan fakta-fakta yang ada dengan menggunakan data hidroklimatologi, tataguna lahan, dan jenis tanah. Software ArcGis 10.3 digunakan untuk mengolah data spasial, melakukan analisis spasial, mencakup pembuatan peta, penentuan luas daerah, overlay peta dan penyajian peta. Selama dalam kurun waktu 7 tahun terdapat banyak perubahan tataguna lahan yang ada pada wilayah Kabupaten Bandung Barat berbentuk hutan, perkebunan, pertanian lahan kering dan basah, serta lahan terbangun. Terdapat beberapa pola perubahan penggunaan lahan yang terjadi. Terdapat 11.000 ha lebih perubahan yang ada pada wilayah Kabupaten Bandung Barat. Penggunaan yang berubah terdapat pada Tanaman Pertanian Lahan kering dan basah, Perkebunan, Hutan, dan lahan terbangun. Perkebunan mengalami perubahan yang cukup banyak, dikarenakan banyaknya profesi dari masyarakat Kabupaten Bandung Barat yang menjadi petani, dan mengsumberkan mata pencarian dari hasil kebun
    corecore