9,989 research outputs found

    Leptin-dependent Phosphorylation of PTEN Mediates Actin Restructuring and Activation of ATP-sensitive K+ Channels

    No full text
    Leptin activates multiple signaling pathways in cells, including the phosphatidylinositol 3-kinase pathway, indicating a degree of cross-talk with insulin signaling. The exact mechanisms by which leptin alters this signaling pathway and how it relates to functional outputs are unclear at present. A previous study has established that leptin inhibits the activity of the phosphatase PTEN (phosphatase and tensin homolog deleted on chromosome 10), an important tumor suppressor and modifier of phosphoinositide signaling. In this study we demonstrate that leptin phosphorylates multiple sites on the C-terminal tail of PTEN in hypothalamic and pancreatic beta-cells, an action not replicated by insulin. Inhibitors of the protein kinases CK2 and glycogen synthase kinase 3 (GSK3) block leptin-mediated PTEN phosphorylation. PTEN phosphorylation mutants reveal the critical role these sites play in transmission of the leptin signal to F-actin depolymerization. CK2 and GSK3 inhibitors also prevent leptin-mediated F-actin depolymerization and consequent ATP-sensitive K+ channel opening. GSK3 kinase activity is inhibited by insulin but not leptin in hypothalamic cells. Both hormones increase N-terminal GSK3 serine phosphorylation, but in hypothalamic cells this action of leptin is transient. Leptin, not insulin, increases GSK3 tyrosine phosphorylation in both cell types. These results demonstrate a significant role for PTEN in leptin signal transmission and identify GSK3 as a potential important signaling node contributing to divergent outputs for these hormones.</p

    A disaster-resistant community: A case study of Cishan District of Kaohsiung City

    No full text
    The disaster resistant community emphasizes the use of the community-based emergency management approach to improve the willingness of preparedness, risk awareness, and the implementation of the pre-disaster mitigation plans, and the capacity of community emergency management. Taiwan government has emphasized the importance of disaster -resistant community, but much has questioned the effectiveness of implementing the disaster resistant plans. Significantly, we have not clearly understood the developmental difference the communities who has joined the disaster resistant community plans and those who has not. In order to fill the current research gap, this study adopts the case of Cishan District, a rural disaster-prone district located in the Cishan Fault in Kaohsiung City. After comparing these two types of communities, three communities who has joined the disaster resistant community plans and the other three communities who has not, this study grabs the vital points from the case comparison and provides suggestions to the scholars and public officials

    Fig. 24 in Biema Huo & Zhao gen. nov., a new flower fly genus (Diptera, Syrphidae) from China

    No full text
    Fig. 24. The ecological environment of Biema wanglangensis Huo & Zhao gen. et sp. nov. collection area in China.Published as part of Huo, Ke-Ke, Zhao, Le, Mengual, Ximo, Li, Gang, Liu, Xin, Zhao, Lian-Jun & Chen, Zhen-Ning, 2022, Biema Huo & Zhao gen. nov., a new flower fly genus (Diptera, Syrphidae) from China, pp. 98-116 in European Journal of Taxonomy 852 on page 106, DOI: 10.5852/ejt.2022.852.2015, http://zenodo.org/record/747114

    Fig. 42 in Biema Huo & Zhao gen. nov., a new flower fly genus (Diptera, Syrphidae) from China

    No full text
    Fig. 42. The ecological environment of Biema qilianensis Huo & Liu gen. et sp. nov. collection area in China.Published as part of Huo, Ke-Ke, Zhao, Le, Mengual, Ximo, Li, Gang, Liu, Xin, Zhao, Lian-Jun & Chen, Zhen-Ning, 2022, Biema Huo & Zhao gen. nov., a new flower fly genus (Diptera, Syrphidae) from China, pp. 98-116 in European Journal of Taxonomy 852 on page 109, DOI: 10.5852/ejt.2022.852.2015, http://zenodo.org/record/747114

    EFEKTIVITAS PENERAPAN APLIKASI CURHAT NING ITA TERHADAP KEPUASAN MASYARAKAT DALAM MENYAMPAIKAN ASPIRASI

    No full text
    Curhat Ning ita merupakan sebuah inovasi yang di naungi Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Mojokerto yang menjadi media penghubung antara warga dan walikota untuk berinteraksi secara langsung. Aplikasi yang memiliki kepanjangan Curahan Hati Ning Instansi Pemerintah ini telah di resmikan oleh walikota pada tanggal 12 maret 2020.Curhat Ning Ita dapat diakses melalui beberapa kanal diantaranya WhatssApp, Instagram, Twitter, SMS, Facebook, website, Lapor.go.id, dan juga bisa datang langsung ke kantor Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mojokerto. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penerapan aplikasi curhat ning ita terhadap kepuasan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Jeis penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan sampel sebanyak 100 responden yang di ambil dari seluruh kelurahan di kota Mojokerto. Teknik analisis data menggunakan uji T regresi.hasil pengujian menunjukan bahwa terdapat efektivitas dalam penerapan aplikasi curhat ning ita terhadap kepuasan masyarakatdalam menyampaikan aspirasi

    Fig. 43 in Biema Huo & Zhao gen. nov., a new flower fly genus (Diptera, Syrphidae) from China

    No full text
    Fig. 43. The phylogenetic tree of the tribes Bacchini Bigot, 1883 and Melanostomini Williston, 1885 based on the COI gene. Statistical support values (posterior probability) of BI methods are shown above each node. Groups resulting from jMOTU, GMYC and ABGD tests are indicated on the right side.Published as part of Huo, Ke-Ke, Zhao, Le, Mengual, Ximo, Li, Gang, Liu, Xin, Zhao, Lian-Jun & Chen, Zhen-Ning, 2022, Biema Huo & Zhao gen. nov., a new flower fly genus (Diptera, Syrphidae) from China, pp. 98-116 in European Journal of Taxonomy 852 on page 112, DOI: 10.5852/ejt.2022.852.2015, http://zenodo.org/record/747114

    Figs 5–7 in Biema Huo & Zhao gen. nov., a new flower fly genus (Diptera, Syrphidae) from China

    No full text
    Figs 5–7. Biema wanglangensis Huo & Zhao gen. et sp. nov., paratype, ♀ (ZFMK-DIP-00097119). 5. Habitus, dorsal view. 6. Habitus, left lateral view. 7. Head, frontal view. Scale bars: 5–6 = 1 mm; 7 = 0.5 mm.Published as part of Huo, Ke-Ke, Zhao, Le, Mengual, Ximo, Li, Gang, Liu, Xin, Zhao, Lian-Jun & Chen, Zhen-Ning, 2022, Biema Huo & Zhao gen. nov., a new flower fly genus (Diptera, Syrphidae) from China, pp. 98-116 in European Journal of Taxonomy 852 on page 104, DOI: 10.5852/ejt.2022.852.2015, http://zenodo.org/record/747114

    ANALISIS FEMINISME LIBERAL DALAM NOVEL NING ANAK WAYANG KARYA NIKEN DAN ANJAR

    No full text
    Novel Ning Anak Wayang merupakan karya dari dua penulis yaitu Niken dan Anjar. Novel Ning Anak Wayang ini merupakan novel dengan kisah perjuangan seorang anak wayang untuk meraih pendidikan. Isi dari novel tersebut berkaitan dengan aspek feminisme liberal. Selama ini pendidikan bagi seorang perempuan pekerja seni tidaklah terlalu dipentingkan. Dalam novel ini dibuktikan bahwa perempuan di novel ini bisa memacu semangat belajar walaupun anak orang miskin. Tujuan dari penelitian adalah: (1) mendeskripsikan keterjalinan antarunsur dalam novel Ning Anak Wayang. 2) mendeskripsikan feminisme liberal dalam novel Ning Anak Wayang karya Niken dan Anjar. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan motivasi agar tidak mudah patah semangat demi menggapai cita-cita. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan struktural dan pragmatik. Metode pendekatan struktural diimplementasikan dalam wujud analisis struktural, sedangkan pendekatan pragmatik diimplementasikan dalam wujud analisis feminisme liberal. Dari analisis struktural novel Ning Anak Wayang dapat diketahui bahwa tema mayor dalam novel Ning Anak Wayang adalah perjuangan seseorang yang berhasil dalam menempuh pendidikan. Sebuah perjuangan anak wayang yang bernama Ning dalam meraih pendidikannya. Tema minor dalam novel Ning Anak Wayang adalah seorang Ibu akan berjuang dan berkorban demi anak-anaknya yang dapat dilihat dalam tokoh Ibu Ning, dan dalam bersaing seseorang berusaha lebih baik yang dapat dilihat dalam tokoh Golam. Watak dalam tokoh novel Ning Anak Wayang ada yang berwatak datar ada pula yang berwatak bulat. Tokoh Ning dan Ibu Ning memiliki watak datar sedangkan Golam berwatak bulat. Analisis feminisme liberal dalam novel Ning Anak Wayang yaitu perjuangan untuk mendapatkan pendidikan, dan peran gender. Beberapa poin yang dibahas dalam feminisme liberal tersebut dikaitkan dengan realitas sosial yang ada. Perjuangan Ning untuk mendapatkan pendidikan ada beberapa tahap, dimulai dari SD hingga Ning lulus kuliah. Perjuangan Ning masa SD yang berjalan kaki menuju sekolahnya, mencatat semua pelajaran dan buku sekolah, membantu Ibunya dengan berjualan kue, dan ingin membeli sepatu baru ia bekerja menjual tiket layar tancap. Perjuangan Ning masa SMP Ning yang masih berjalan kaki, mencatat buku pelajaran, membantu Ibunya disela-sela belajarnya, dan tetap bekerja menjual tiket layar tancap untuk membantu Ibunya membayar uang sekolah. Perjuangan Ning masa SMA adalah Ning yang masih berjalan kaki, mencatat buku pelajaran, dan mulai bekerja sebagai penyanyi di tempat hiburan malam bersama Pak Denya untuk biaya masuk ke perguruan tinggi. Perjuangan Ning masa kuliah Ning yang masih bekerja sebagai penyanyi di tempat hiburan malam untuk membiayai kuliahnya dan sekolah adikadiknya. Gender dalam novel Ning Anak Wayang terdapat dua yaitu Subordinasi dan streotip. Stereotip dalam novel Ning Anak Wayang berasal dari anggapan Bu Lik Wid dan Tarsih yang menganggap pendidikan itu tidak penting bagi seorang anak wayang. Anggapan itulah yang menyebabkan anak wayang tersubordinasi. Subordinasi dialami oleh Tarsih yang akhirnya menjadi wanita panggilan dikarenakan faktor biaya

    ANALISIS FEMINISME LIBERAL DALAM NOVEL NING ANAK WAYANG KARYA NIKEN DAN ANJAR

    No full text
    Novel Ning Anak Wayang merupakan karya dari dua penulis yaitu Niken dan Anjar. Novel Ning Anak Wayang ini merupakan novel dengan kisah perjuangan seorang anak wayang untuk meraih pendidikan. Isi dari novel tersebut berkaitan dengan aspek feminisme liberal. Selama ini pendidikan bagi seorang perempuan pekerja seni tidaklah terlalu dipentingkan. Dalam novel ini dibuktikan bahwa perempuan di novel ini bisa memacu semangat belajar walaupun anak orang miskin. Tujuan dari penelitian adalah: (1) mendeskripsikan keterjalinan antarunsur dalam novel Ning Anak Wayang. 2) mendeskripsikan feminisme liberal dalam novel Ning Anak Wayang karya Niken dan Anjar. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan motivasi agar tidak mudah patah semangat demi menggapai cita-cita. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan struktural dan pragmatik. Metode pendekatan struktural diimplementasikan dalam wujud analisis struktural, sedangkan pendekatan pragmatik diimplementasikan dalam wujud analisis feminisme liberal. Dari analisis struktural novel Ning Anak Wayang dapat diketahui bahwa tema mayor dalam novel Ning Anak Wayang adalah perjuangan seseorang yang berhasil dalam menempuh pendidikan. Sebuah perjuangan anak wayang yang bernama Ning dalam meraih pendidikannya. Tema minor dalam novel Ning Anak Wayang adalah seorang Ibu akan berjuang dan berkorban demi anak-anaknya yang dapat dilihat dalam tokoh Ibu Ning, dan dalam bersaing seseorang berusaha lebih baik yang dapat dilihat dalam tokoh Golam. Watak dalam tokoh novel Ning Anak Wayang ada yang berwatak datar ada pula yang berwatak bulat. Tokoh Ning dan Ibu Ning memiliki watak datar sedangkan Golam berwatak bulat. Analisis feminisme liberal dalam novel Ning Anak Wayang yaitu perjuangan untuk mendapatkan pendidikan, dan peran gender. Beberapa poin yang dibahas dalam feminisme liberal tersebut dikaitkan dengan realitas sosial yang ada. Perjuangan Ning untuk mendapatkan pendidikan ada beberapa tahap, dimulai dari SD hingga Ning lulus kuliah. Perjuangan Ning masa SD yang berjalan kaki menuju sekolahnya, mencatat semua pelajaran dan buku sekolah, membantu Ibunya dengan berjualan kue, dan ingin membeli sepatu baru ia bekerja menjual tiket layar tancap. Perjuangan Ning masa SMP Ning yang masih berjalan kaki, mencatat buku pelajaran, membantu Ibunya disela-sela belajarnya, dan tetap bekerja menjual tiket layar tancap untuk membantu Ibunya membayar uang sekolah. Perjuangan Ning masa SMA adalah Ning yang masih berjalan kaki, mencatat buku pelajaran, dan mulai bekerja sebagai penyanyi di tempat hiburan malam bersama Pak Denya untuk biaya masuk ke perguruan tinggi. Perjuangan Ning masa kuliah Ning yang masih bekerja sebagai penyanyi di tempat hiburan malam untuk membiayai kuliahnya dan sekolah adikadiknya. Gender dalam novel Ning Anak Wayang terdapat dua yaitu Subordinasi dan streotip. Stereotip dalam novel Ning Anak Wayang berasal dari anggapan Bu Lik Wid dan Tarsih yang menganggap pendidikan itu tidak penting bagi seorang anak wayang. Anggapan itulah yang menyebabkan anak wayang tersubordinasi. Subordinasi dialami oleh Tarsih yang akhirnya menjadi wanita panggilan dikarenakan faktor biaya
    corecore