1,720,987 research outputs found

    Dialogic Elements of Bakhtin in the Novel Siddhartha

    Full text link
    This article analyzes the voices of the characters which are intertwining into dialogic forms. The voices did not demonstrate its own power, but rather let other voices have its own characteristic while remaining there until the end of the story. For example, Siddharthas parents voices remained a Brahmin . Govinda’s voice remained a Samana . Mikhail Bakhtin called such characteristic dialogue as Internally Persuasive Discourse . Apparently this novel is loaded full of Bakhtins carnival behavior, because the composition and the plot of the story, or the position of the author as well as the dialogue, a hallmark of Socratic Dialogue or Menippean Satire . Unveiling Bakhtin’s carnival stage, a variety of scandals, eccentric behaviors, ethic violations, sharp contrasts appear. The polyphony nature in this novel is in the form of counterpoint models voices intertwined together without negating each other, similar to the Weltemperklavier by Johan Sebastian Bach in the Baroque music era

    Pengantar Linguistik Bahasa Tionghoa

    Full text link
    Buku ini terdiri atas enam bab. Bab I pendahuluan, menjabarkan pengertian bahasa secara umum dan keunikan dari bahasa Tiionghoa dalam hal unsur suprasegmental dan segmental. Unsur suprasegmental dalam buku ini mengacu kepada unsur yang tidak dapat dipenggal seperti nada, jeda, tekanan. Menjelaskan juga perbedaan istilah linguistik umum mengenai konsonan dengan sh#275ngm#468 dan vocal dengan yùnm#468 dalam bahasa Tionghoa. Bab II Fonologi bahasa Tionghoa, menjabarkan mengenai fonologi bahasa Tionghoa yang meliputi nada, jeda dan intensitas bahasa Tionghoa, serta pola tampilan katanya dalam kalimat berita / tanya / perintah / seru agar pembaca dapat menggunakan program Praat. Bab II ini juga menjabarkan langkah–langkah cara penggunaan program ini dalam penelitian unsur bunyi bahasa. Bab III morfologi bahasa Tionghoa yang menjabarkan ciri-ciri kosakata bahasa Tionghoa sifat dan pembagian kata bahasa Tionghoa morfem bahasa Tionghoa serta istilah-istilah bahasa Tionghoanya. Bab IV sintaksis bahasa Tionghoa, menjabarkan kalimat-kalimat bahasa Tionghoa dan pembagiannya serta contoh-contohnya dalam ejaan p#299ny#299n dan huruf Tionghoanya serta makna kalimat yang dituliskan dalam tanda petik tunggal. Bab V semantik bahasa Tionghoa meliputi semua makna, baik makna sinonim, makna berlawanan, dan sifat-sifat makna kata bahasa Tionghoa, serta idiom-idiom. Bab VI pragmatik bahasa Tionghoa, hanya secara umum menjabarkan tentang ilmu pragmatik. Semoga buku ini berguna bagi kalangan pembaca, baik yang ingin mengenal selayang pandang bahasa Tionghoa, maupun yang ingin belajar sendiri bahasa Tionghoa secara mendetail.atau menggunakannya sebagai buku ajar dan referensi saat menulis tugas akhir akademik

    Analisis Kontrastif Kata Satuan Bahasa Tionghoa dan Bahasa Indonesia

    No full text
    Adanya keragaman tata bahasa mengakibatkan bahasa Tionghoa dan bahasa Indonesia memiliki banyak persamaan dan perbedaan yang layak untuk dianalisis. Bukan hanya karena bahasa Tionghoa merupakan bahasa bernada sementara bahasa Indonesia bukan bahasa bernada saja, hurufnyapun juga sudah berbeda. Hal-hal mengenai nada sudah banyak dibicarakan orang, sementara dalam hal kata satuan belum pernah dituliskan dalam sebuah artikel. Makalah ini akan menganalisis persamaan dan perbedaan dalam hal kata satuan dalam bahasa Tionghoa dan bahasa Indonesia. Kata satuan bahasa Tionghoa memiliki kategori penggunaan yang sangat rinci dikontraskan dengan kata satuan bahasa Indonesia. Untuk tujuan lebih memahami kata satuan bahasa Tionghoa cara terbaik adalah dengan analisis kontrastif kaidah-kaidah kata satuan ke dua bahasa tersebut sehingga lebih mudah untuk diingat dan dimengerti. Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka, yaitu dengan membandingkan teori-teori dari kata satuan bahasa Tionghoa dan bahasa Indonesia, kemudian memberikan contoh-contoh agar lebih jelas. Hasil analisis kontrastif mengenai kata satuan ini diharapkan akan berguna bagi materi pengajaran bahasa Tionghoa

    Perbandingan Lafal Bahasa Indonesia Bahasa Tionghoa

    Full text link
    Buku ini pada bab pertama dijabarkan mengenai fungsi bahasa pada masa kini yaitu untuk berkomunikasi, untuk itu bahasa lisan berupa ujaran lebih memegang peranan penting daripada bahasa tulis. Ditambah lagi bahasa Tionghoa merupakan rumpun bahasa bernada, sehingga bila dalam ujaran siswa Indonesia mengandung pola gerak nada yang tidak tepat akan mempengaruhi makna ujaran. Bab dua dijabarkan persamaan unsur segmental berupa konsonan dan vokal antara bahasa Indonesia dan bahasa Tionghoa. Bab tiga dijabarkan tentang perbedaan unsur segmental konsonan dan vokal. Mengenai nada jelas nada bahasa Tionghoa sangatlah berbeda dengan nada bahasa Indonesia yang hanya mempengaruhi makna kalimat, yaitu berupa intonasi kalimat. Bab empat dijabarkan cara pengajaran bahasa Tionghoa yang efisien bagi siswa Indonesia. Contoh-contoh ditampilkan dengan gambar Praat yang diambil dari hasil penelitian penulis sendiri dengan tujuan agar siswa mengetahui lebih jelas penyimpangan pola gerak nada yang

    Pengaruh Budaya Tionghoa Terhadap Bahasa Tionghoa

    Full text link
    Tujuan penulisan artikel ini adalah menganalisis adanya pengaruh budaya tradisional terhadap bahasa Tionghoa. Pengaruh tersebut terjadi pada bahasa Tionghoa bentuk tertulis dan bahasa Tionghoa bentuk lisan. Pengaruh budaya terhadap bahasa Tionghoa bentuk tertulis tercermin dalam bentuk guratan hurufnya, sementara pengaruh budaya terhadap bahasa Tionghoa bentuk lisan tercermin dalam kalimat-kalimat ujaran yang sering digunakan oleh rakyat Tiongkok. Metode penulisan menggunakan metode studi pustaka, yaitu mengumpulkan sebanyak-banyaknya data informasi yang berasal dari buku,dan jurnal, yang dapat dipercaya. Dari data tersebut dikelompokkan dan dianalisis berdasarkan rumusan masalah yang diajukan dalam bagian pendahuluan. Hasil analisis ditemukan bahwa huruf Tionghoa penuh dengan filosofi-filosofi yang dapat langsung diketahui karena sudah tergambar pada bentuk hurufnya atau radikal-radikal pembentuk komponen guratan hurufnya. Sementara pengaruh budaya dapat tercermin dalam kalimat-kalimat ujaran yang sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari.Bahasa Tionghoa memiliki banyak idiom-idiom yang beraneka macam yang penuh dengan makna pendidikan moral yang sering diujarkan oleh rakyat Tiongkok. Jadi pengaruh budaya terhadap bahasa Tionghoa dapat terjadi baik dalam bentuk huruf, kosakata,dan susunan kalimat

    Perkembangan dan Perubahan Huruf Tionghoa 汉字的å‘展与å˜è¿

    Full text link
    Makalah ini menjabarkan perkembangan dan perubahan huruf Tionghoa yang unik. Bentuk huruf Tionghoayang paling awal ditemukan pada zaman akhir dinasti Shang殷商yang dinamakan huruf jiÇŽgÇ”wén甲骨文. Huruf jiÇŽgÇ”wén甲骨文ini ditulis pada kulit tempurung kura-kura, dan kemudian mengalami perkembangan dan menjadi bentuk huruf yang dinamakan jÄ«nwén金文pada awal dinasti Zhou 周, ditulis pada tembaga dengan kuas berbulu sehingga bentuknya alamiah dan lebih rapi. Pada zaman dinasti Qín秦, huruf Tionghoa mengalami perubahan menjadi bentuk huruf yang dinamakan dàzhuàn大篆, ditulis pada batu berbentuk tambur dan bentuk hurufnya lebih rapi. Setelah dinasti Qin mempersatukan negara Tiongkok saat itu, menghapuskan jenis-jenis huruf Tionghoa dari enam negara zaman sebelumnya, sehingga terbentuklah bentuk huruf Tionghoa yang dinamakan xiÇŽozhuànå°ç¯†, menjadi awal terjadinya standardisasi huruf Tionghoa. Pada era dinasti Hàn汉 huruf xiÇŽozhuànå°ç¯† ini mengalami perubahan bentuk lagi menjadi huruf yang dinamakan lìshū隶书 yang ditulis berdasarkan guratan, sehingga memiliki jenis guratan seperti huruf Tionghoa yang digunakan sekarang. Huruf Tionghoa terus mengalami proses penyesuaian terhadap politik masyarakat, Huruf Tionghoa bentuk yang disederhanakan yang sekarang digunakanpun oleh negara Tiongkok masih mendapat banyak kritikan oleh rakyat Taiwan yang menghendaki bentuk huruf Tiongkok tanpa penyederhanaa

    Evolusion and Gender Bias Reflected in Chinese Characters

    Full text link
    Evolution of Chinese characters besides the form of its streaks, also occur in change and meaning of vocabulary. Vocabulary containing radical women which is expressed with the pictograph #22899 n#474 contained a lot of negative meanings, so it is very interesting to study the gender bias. To analyze the evolution of the character content and gender bias in Chinese characters, an analytical literature method was used. Results of the analysis found that Chinese characters contain a high philosophy. By seeing the form of the characters we are already aware of the culture reflected in the nation. Besides that many Chinese characters used „woman#8223 radical with a derogative meaning, showing that the time these characters were created, the woman position of women were regarded lower than men. In simplification of the character streaks it was found that some negative meaning characters no longer contain the „woman radical#8223, marking a change in the view about women, but the percentage is still small

    Pemenfaatan Teknologi Media Program Praat dalam Pendidikan Bahasa #35486#35328#25945#23398#20013#24212#29992#39640#31185#25216#22810#23186#20307Praat #32434#39046#20043#25928#29992

    Full text link
    Dengan kemajuan teknologi terutama terciptanya kompiuter dewasa ini sangat membantu sekali proses kemajuan pendidikan. Lebih-lebih adanya program Praat yang dapat mengubah gelombang bunyi yang dahulu hanya dapat didengarkan sekarang menjadi dapat dilihat oleh mata manusia. Selain itu program Praat dilengkapi perangkat untuk melihat gerak nada, besaran jeda, lama ujaran yang semua ini diperlukan untuk menentukan kekurangtepatan daripada sebuah ujaran atau kesalahan dari ujaran tersebut. Dengan membandingkan tampilan gambar Praat dari penutur Tiongkok dan penutur Indonesia dapat mengetahui mengapa ujaran penutur Indonesia kurang mirip. Artikel ini mengambil contoh ujaran sebuah kalimat yang telah ditentukan oleh seorang penutur Indonesia dan seorang penutur Tiongkok, hasil analisis menemukan bahwa dalam ujaran penutur Tiongkok semua kata yang terdiri atas dua suku selalu terjadi jeda, sementara ujaran penutur Indonesia kadang terjadi jeda kadang tidak terjadi jeda. Selain itu ditemukan juga perbedaan adanya jeda ketika mengujarakan kata bernada ringan, penutur Tiongkok kata bernada ringan yang terletak di belakang sebuah kata yang terdiri atas dua suku kata bernada empat tidak terjadi jeda, sementara ujaran penutur Indonesia terjadi jeda

    Batik Madura dan Budaya Tionghoa

    No full text
    Buku ini meliputi lima Bab, Bab I Batik Pamekasan; Bab II Batik Tanjung Bumi; Bab III Batik Sumenep; Bab IV Batik Sampang; Bab V Akulturasi Budaya Tionghoa dengan Madura pada Batik Madura. Pembagian Bab berdasarkan empat kota yang merupakan sentra batik di Madura dan ciri-ciri motif yang ditemukan pada batik Madura. Sementara dalam setiap Bab tidak ada sub-bab karena ingin menonjolkan motif-motifnya. Buku ini menjelaskan adanya dua jenis batik Madura, yaitu batik klasik dan batik modern. Batik klasik mengandung nilai filosofi dan motifnya memang sudah diturunkan sejak nenek moyang orang Madura membatik. Batik modern atau motif kontemporer adalah motif yang sekarang lagi digemari oleh konsumen karena harganya yang relatif murah. Motif kontemporer ini tidak mengandung makna filosofi. Bila ditanya mengapa orang Madura sekarang tidak memikirkan makna filosofi pada batik Madura, menurut penulis karena motif-motif yang sekarang sebagian besar atas permintaan konsumen dan sebagian besar yang laku dijual adalah yang harganya relative murah, sementara batik klasik cara membatiknya sulit, membutuhkan waktu yang lama sehingga harga jual menjadi mahal. Faktor penyebab tidak adanya nilai filosofi mungkin juga karena sekarang jumlah pembatik semakin sedikit karena pengrajin batik banyak yang merantau ke luar pulau terutama ke pulau Jawa bekerja bukan sebagai pengrajin batik. Menyadari buku ini masih memilik kekurangan, penulis terbuka untuk menerima masukan dan saran. Tidak lupa penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia (DIKTI) dan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasra Wilayah VII (KOPERTIS VII) yang telah memberi bantuan baik berupa moril maupun materiel sehingga dapat mewujudkan tercetaknya buku ini

    LAGAM BAHASA ETNIS TIONGHOA JAWA TIMUR SEBAGAI SEBUAH IDENTITAS

    Full text link
    Artikel ini bertujuan menunjukkan bahwa lagam bahasa seseorang dapat merupakan sebuah identitas perorangan maupun kelompok bila memiliki kesamaan ujaran kosakata. Diketahui oleh umum bahwa etnis Tionghoa yang tinggal di Indonesia tersebar di semua wilayah republik Indonesia, tetapi etnis Tionghoa yang tinggal di Jawa Timur justru memiliki ciri khas dalam berbicara bahasa Indonesia yang membedakan mereka dengan etnis Tionghoa daerah lain. Metode penelitian yang digunakan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data secara observasi dan pencatatan data ujaran yang terdengar ketika para etnis Tionghoa Jawa Timur bercakap-cakap secara informal. Informan yang digunakan adalah etnis Tionghoa yang kelahiran Jawa Timur atau yang sudah tinggal lebih dari lima tahun di Surabaya. Hasil analisis menemukan bahwa ujaran etnis Tionghoa Jawa Timur memiliki lagam bunyi yang khas yang tidak diujarkan oleh etnis Tionghoa di daerah lain di Indonesia. Lagam bunyi ini ternyata terinterferensi oleh bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dialek Surabaya, dan bahasa Tionghoa
    corecore