2,140 research outputs found
Investigation into laser re-melting of inconel 625 HVOF coating blended with WC
High velocity oxy-fuel (HVOF) spraying of Diamalloy 1005 powders mixed with WC particles onto steel (304) is considered and laser re-melting of the resulting coatings is examined. Laser re-melting process is modeled to determine the melt layer thickness while temperature increase is formulated using the Fourier heating law. The morphological and metallurgical analyses prior and post laser re-melting process are carried out using scanning electron microscopy (SEM) and energy dispersive spectroscopy (EDS). X-ray diffraction (XRD) technique is used to determine the residual stress developed in the coating while the analytical formulation is adopted to predict the residual stress levels at the coating base material interface. The indentation tests are carried out to determine the Young’s modulus and fracture toughness of the coating prior to laser re-melting. Corrosion resistance of coating is measured using potentiodynamic polarization technique prior and post laser treatment process. The predictions of the melt layer thickness are in good agreement with experimental results. The presence of WC particles modifies temperature rise and its gradient in the coating while affecting the Young’s modulus, residual stress levels, and fracture toughness of the coating. The differences in the thermal properties of Inconel 625 powders and WC particles result in formation of small size cellular structure through polyphase solidification. WC dissolution in the central region of the large polycrystalline cells is observed due to the loss of carbon through carbonic gas formation. The results of corrosion tests prevail that significant improvement of corrosion resistance can be achieved after laser treatment process
Specific IgA antibodies to recombinant early and nuclear antigens of Epstein-Barr virus in nasopharyngeal carcinoma
Karakteristik Campuran Aspal AC-WC Menggunakan Serat Selulosa Tumbuhan Resam
Tumbuhan resam banyak ditemukan di Desa Dendang Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat Provinsi Bangka Belitung dan digunakan sebagai bahan kerajinan tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Marshall dan KAO campuran AC- WC menggunakan serat selulosa tumbuhan resam serta mengetahui apakah serat selulosa dapat digunakan pada campuran AC-WC. Kadar serat resam yang digunakan yaitu 0%, 3%, 5%, dan 7% dari kadar aspal. Analisis data dilakukan setelah pembuatan benda uji dilaksanakan dan data-data sudah didapat, kemudian dilakukan pengujian marshall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik Marshall campuran AC-WC menggunakan serat selulosa tumbuhan resam sebagai substitusi aspal yang memenuhi spesifikasi pada semua kadar aspal meliputi nilai density (kepadatan), voids in mineral agregat (VMA), stabilitas, dan marshall quotient (MQ). Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran AC-WC 0% tanpa menggunakan serat selulosa tumbuhan resam didapat nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar 6,5%, Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran AC-WC 3% menggunakan serat selulosa tumbuhan resam didapat nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar 6,25% , Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran AC-WC 5% menggunakan serat selulosa tumbuhan resam didapat nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar 6,5% ,sedangkan Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran AC-WC 7% menggunakan serat selulosa tumbuhan resam tidak mendapatkan nilai Kadar Aspal Optimum (KAO), dikarenakan ada pengujian yang tidak memenuhi spesifikasi dari nilai-nilai karakteristik marshall. Serat selulosa tumbuhan resam dengan kadar pemakaian 0%, 3%, dan 5% dapat dimanfaatkan sebagai substitusi agregat kasar pada campuran aspal beton lapis aus (AC-WC). Tetapi, pada kadar pemakaian 7% menggunakan serat selulosa tumbuhan resam tidak dapat dimanfaatkan untuk substitusi agregat kasar
Clinical experience of hydroxyethyl starch (10% HES 200/0.5) in cerebral perfusion pressure protocol for severe head injury.
Lipoprotein glomerulopathy associated with psoriasis vulgaris: Report of 2 cases with apolipoprotein E3/3
Obtaining Crack-free WC-Co Alloys by Selective Laser Melting
AbstractStandard hardmetals of WC-Co system are brittle and often crack at selective laser melting (SLM). The objective of this study is to estimate the range of WC/Co ratio where cracking can be avoided. Micron-sized Co powder was mixed with WC nanopowder in a ball mill to obtain uniform distribution of WC over the surface of Co particles. Continuous layers of remelted material on the surface of a hardmetal plate were obtained from this composite powder by SLM at 1.07μm wavelength. The layers have satisfactory porosity and are well bound to the substrate. The chemical composition of the layers matches the composition of the initial powder mixtures. The powder mixture with 25wt.%WC can be used for SLM to obtain materials without cracks. The powder mixture with 50wt.%WC cracks because of formation of brittle W3Co3C phase. Cracking can considerably reduce the mechanical strength, so that the use of this composition is not advised
Pemanfaatan limbah cangkang kelapa sawit sebagai substitusi agregat kasar pada campuran aspal beton lapis Aus (AC-WC)
Jalan merupakan sarana transportasi yang sangat penting kedudukannya dalam memenuhi kebutuhaan dan kegiatan hidup manusia secara langsung maupun tidak langsung terutama dari segi ekonomi, sosial politik dan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Marshall campuran (AC- WC) menggunakan limbah cangkang kelapa sawit sebagai substitusi agregat kasar pada campuran aspal beton lapis aus (AC-WC) dengan membuat variasi cangkang kelapa sawit 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%, menentukan Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran (AC-WC) menggunakan limbah cangkang kelapa sawit sebagai substitusi agregat kasar dan untuk menganalisis apakah limbah cangkang kelapa sawit dapat digunakan sebagai substitusi agregat kasar pada campuran (AC-WC). Analisis data dilakukan setelah pembuatan benda uji dilaksanakan dan data-data primer sudah didapat, kemudian dilakukan pengujian marshall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Karakteristik Marshall campuran (AC-WC) menggunakan limbah cangkang kelapa sawit sebagai substitusi agregat kasar yang memenuhi spesifikasi pada semua kadar aspal meliputi nilai density (kepadatan), voids in mineral agregat (VMA), stabilitas, dan marshall quotient (MQ) (2) Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran AC-WC 0% tanpa menggunakan limbah cangkang kelapa sawit didapat nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar 5,75%, Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran AC-WC 25% menggunakan limbah cangkang kelapa sawit didapat nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar 5,95, sedangkan Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran AC-WC 50%, 75% dan 100% menggunakan limbah cangkang kelapa sawit tidak mendapatkan nilai Kadar Aspal Optimum (KAO), dikarenakan ada pengujian yang tidak memenuhi spesifikasi dari nilai-nilai karakteristik marshall. (3) Limbah cangkang kelapa sawit dengan kadar pemakaian 25% dapat dimanfaatkan sebagai substitusi agregat kasar pada campuran aspal beton lapis aus (AC-WC). Tetapi, pada kadar pemakaian 50%, 75% dan 100% menggunakan cangkang kelapa sawit tidak dapat dimanfaatkan untuk substitusi agregat kasar
PENENTUAN KADAR ASPAL OPTIMUM (KAO) DALAM CAMPURAN ASPHALT CONCRETE-WEARING COURSE (AC-WC) DENGAN LIMBAH BETON SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai karakteristik marshall dari aspal beton lapis aus atau asphalt concrete wearing course (AC-WC) yang meliputi: Void In The Mix (VIM), Void In Mineral Agreggate (VMA), Void Filled With Asphalt (VFA), Stabilitas, Kelelehan (Flow) dan Marshall Quotient (MQ) menggunakan limbah beton sebagai pengganti agregat dengan harapan limbah beton dapat menjadi alternatif material dalam campuran perkerasan jalan, sehingga dapat menghemat dari segi biaya dan mengurangi eksploitasi material dari alam. Penelitian ini dalam skala uji laboratorium dan menggunakan pedoman Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2010. Limbah beton yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 35% dari total berat campuran aspal dengan ukuran butir agregat 5-10mm hingga didapatkan proporsi campuran yang optimal dengan ketentuan Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 dengan pengujian Marshall Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada penggunaan limbah beton sebesar 35% dari total berat campuran dengan kadar aspal 5%; 5,5%; 6%; 6,5%; dan 7%. Hasil dari kadar aspal tersebut didapatkan nilai KAO yaitu 6,17% dan nilai VIM dan VMA yaitu 4,8% dan 17,71%, sedangkan untuk nilai VFA sebesar 72,9%. nilai stabilitas sebesar 1627 kg, untuk Flow sebesar 4,5 mm dan nilai MQ sebesar 361,6 Kg/mm. Kata Kunci : AC-WC, Pen 60/70, KAO, Limbah Beton, Marshal
- …
