60 research outputs found

    Kualitas Tidur Buruh Pabrik di Kabupaten dan Kotamadya Bogor

    No full text
    Sleep is a condition when the brain does not process the information from sensory neurons and does not give the command to motor neurons. During the sleep, a person experiences memory consolidation encompassed process of storing and disposing of information obtained when awake. The aim of this research is to determine sleep quality of factory workers in Bogor region. The sleep quality of a person can be determined using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The sleep quality was obtained from seven components: subjective sleep quality, sleep latency, sleep duration, sleep efficiency, sleep disturbances, use of sleeping medication, and daytime dysfunction. Based on the observations in three factories in Bogor region, female workers have worse sleep quality than male workers. The majority of male workers who have good sleep quality contained in the 15-39 year age class and poor sleep quality are the 40-54 year age class. The majority of female workers who have good sleep quality contained in the 30-54 year age class and poor sleep quality are the 15-29 year age class

    Interaksi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dengan Manusia di Taman Wisata Alam Grojogan Sewu (TWA GS), Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah

    No full text
    Macaca fascicularis merupakan salah satu primata yang mudah beradaptasi terhadap berbagai tipe habitat, sebagai contoh habitat terganggu seperti taman wisata alam. M. fascicularis juga menjadi salah satu jenis hama di berbagai wilayah seperti Borneo, Malaysia, Mauritus, Sumatra dan Thailand karena merusak kebun sayuran dan buah-buahan di wilayah tersebut. Konflik antara M. fascicularis dengan manusia saat ini meningkat karena adanya perubahan ekologi, salah satunya M. fascicularis yang hidup di taman wisata alam. Beberapa taman wisata alam tidak memiliki zona penyangga (buffer zone) dengan area pemukiman. Hal ini menyebakan konflik antara M. fascicularis dengan manusia meningkat karena M. fascicularis mudah menjangkau area pemukiman. Penelitian mengenai interaksi antara M. fascicularis dengan manusia ini dilakukan di Taman Wisata Alam Grojogan Sewu (TWA GS) Tawangmangu yang berada di kabupaten Karanganyar, provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Agustus sampai November tahun 2016 pada kelompok patapan yang memiliki jumlah komposisi kelompok 79 individu, terdiri dari 18 individu jantan dewasa, 23 individu betina dewasa, 33 individu remaja dan 5 individu bayi. Interaksi antara M. fascicularis dengan manusia diamati secara langsung dan wawancara terhadap pengunjung, pekerja dan warga sekitar. Berdasarkan pengamatan secara langsung, frekuensi interaksi afiliasi antara mausia dengan M. fascicularis lebih tinggi jika dibandingkan dengan interaksi agonistiknya. Interaksi afiliasi paling dominan adalah duduk berdekatan diikuti oleh kontak fisik tanpa kekerasan. Interaksi agonistik yang paling dominan adalah mencuri barang, diikuti mengancam dengan mimik muka dan suara, meneriaki dan mengejar, mencakar, menggigit, dan yang paling sedikit adalah mengepung. Hasil wawancara menunjukan bahwa interaksi afiliasi paling dominan adalah M. fascicularis duduk berdekatan dengan manusia, kemudian interaksi agonistik paling dominan adalah interaksi pencurian barang yang dikarenakan M. fascicularis tertarik dengan makanan. Seluruh responden dalam wawancara menyatakan bahwa M. fascicularis di TWA GS perlu dibiarkan hidup dan menurut mereka upaya konservasi atau perlindungan terhadap M. fascicularis di tempat tersebut penting untuk dilakukan

    Pola Interaksi Antara Manusia dengan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Kelompok B di Telaga Warna Bogor

    No full text
    Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) memiliki aktivitas harian dan berinteraksi dengan manusia di beberapa area khususnya kawasan wisata seperti Telaga Warna Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati aktivitas harian, pola interaksi, dan menilai potensi penyebaran penyakit antara manusia dengan M. fascicularis kelompok B di Telaga Warna Bogor. Hasil penelitian menunjukan bahwa M. fascicularis kelompok B memiliki aktivitas harian mencari makan, bergerak, beristirahat, bermain, menelisik, dan kawin. Aktivitas harian M. fascicularis kelompok B tidak berbeda nyata pada hari libur dan hari kerja (p > 0.05). Total interaksi antara manusia dengan M. fascicularis kelompok B sering terjadi pada hari libur dibandingkan hari kerja (p < 0.05). Interaksi afiliasi lebih tinggi dibandingkan interaksi agonistik (p < 0.05). Pola interaksi didominasi oleh interaksi yang diinisiasi manusia. Menonton M. fascicularis memiliki presentase tertinggi dari interaksi yang diinisiasi manusia. Mengamati manusia merupakan respon dari M. fascicularis terhadap interaksi tersebut. Interaksi yang diinisiasi oleh M. fascicularis sangat jarang terjadi yakni interaksi mencuri makanan dari manusia. Respon dari manusia terhadap interaksi tersebut adalah mengusir M. fascicularis yang biasanya dilakukan oleh petugas parkir di Telaga Warna Bogor. Total kehadiran manusia pada hari libur lebih tinggi dibandingkan hari kerja (p < 0.05). Manusia lebih banyak berinteraksi dengan M. fascicularis saat berjalan kaki dibandingkan berinteraksi dari kendaraan (p < 0.05). Tidak ada konflik antara manusia dengan M. fascicularis kelompok B. Risiko penyebaran penyakit antar dua spesies tergolong rendah

    Addiction among Millennials of Internet Usage (Social Networking Sites) in Bandung, West Java

    No full text
    Background: Internet is one of the most powerful media of the 21st century and has revolutionized education and social communication. The internet (Social Networking Sites or SNSs) has a population of over seven million. Internet excessive usage can causes some problems, such as addiction and behavioral symptoms. Internet (SNSs) addiction is a major mental health problem in adolescents worldwide, particularly in Bandung, West Java. Objective: The aim of this research is to examine the relation between internet usage and internet addiction through Young’s Internet Addiction Test (IAT) in Millennials with a focus on Social Networking Sites (SNSs). Methods: Quantitative and qualitative approach were used to collect the data, with a total of 277 respondents in Bandung, West Java. Each participant filled out a questionnaire consisting of the Young’s Internet Addiction Test (IAT), along with general questions relating to internet usage (duration and SNSs). Result: The results of this research suggest that younger respondents more recently acquaintance (p-value = 0.001858). There were 50.20% respondents used internet more than 6 hours (0.4968). The average IAT score 58.61 point, 73.64% respondents had a moderate level of addiction. IAT score will be decreased along with growing age (p-value = 0.001685). Internet addiction was increasing along with the longer duration of internet usage (p-value = 1.252e-14). The most used SNSs are Instagram, Line, WhatsApp, YouTube, and sometimes added Facebook or Game. Conclusion: These findings suggest that there is an association between internet usage (SNSs) and addiction in Millennials. Findings also highlight that younger user have more ploblem than the older user. SNSs increased the internet addiction score and an addiction may lead to mental health problem also behavioral symptoms

    Studi Anatomi Jenis Tumbuhan Pakan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) di Taman Wisata Alam Pangandaran

    No full text
    Studi anatomi digunakan untuk mendukung proses identifikasi tumbuhan jika dari segi morfologi sulit dibedakan. Tumbuhan memiliki struktur jaringan sel yang berbeda untuk setiap jenisnya. Penelitian ini bertujuan mempelajari struktur anatomi 27 jenis tumbuhan pakan lutung jawa di Taman Wisata Alam (TWA) Pangandaran dan mengidentifikasi anatomi tumbuhan pada remahan feses. Pengamatan anatomi dilakukan terhadap sediaan mikroskopis sayatan paradermal menggunakan metode whole-mount. Keberadaan stomata dari tumbuhan pakan lutung, hanya dijumpai pada sisi abaksial (hipostomatik). Sebanyak tujuh tipe stomata yang ditemukan yakni anisositik, anomositik, staurositik, tetrasitik, parasitik, siklositik, dan diasitik. Beberapa tipe stomata dapat ditemukan dalam satu jenis yaitu pada Dolichandrone spathacea. Karakter dinding sel epidermis yang teramati yaitu lurus berlekuk, berlekuk lurus, berlekuk dangkal, dan berlekuk dalam. Ukuran panjang dan kerapatan stomata bervariasi antar jenis. Terdapat dua tipe trikoma yang teramati, yaitu trikoma non kelenjar dan trikoma kelenjar. Trikoma non kelenjar yang dijumpai, yakni trikoma non kelenjar uniselular, trikoma non kelenjar bintang, dan trikoma non kelenjar sisik. Trikoma kelenjar yang dijumpai, yaitu trikoma kelenjar peltat dan kelenjar kapitat. Pengamatan sayatan paradermal buah diamati pada empat jenis. Satu tipe stomata yang ditemukan pada epidermis buah, yaitu tipe parasitik. Anatomi tumbuhan pada remahan feses yang teridentifikasi yaitu sebanyak lima jenis yang berasal dari anatomi daun

    Makanan pilihan monyet ekor panjang di Telaga Warna, Bogor, Jawa Barat.

    No full text
    Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis = crab eating monkey) memiliki area distribusi geografis yang luas dan mereka juga dapat tinggal di ketinggian dan habitat yang bervariasi. Akibatnya mereka memiliki plastisitas ekologi yang luas. Kondisi ini membuat monyet ekor panjang memiliki makanan pilihan untuk makanan tertentu. Monyet ekor panjang biasanya makan di dalam food patch yang terdiri dari feeding site atau food point. Mereka mencari food patch yang memiliki makanan berlimpah di lingkungan yang dapat mendukung ketersediaan makanan. Di Telaga Warna, monyet ekor panjang mencari makan di tiga feeding site (feeding site I, II dan III) dan mereka dapat menemukan makanan alami dan buatan. Namun, saat ini terdapat perubahan lingkungan yang mempengaruhi perilaku dan pola makan dari monyet ekor panjang. Penelitian ini melaporkan bahwa selama dua tahun, makanan pilihan dari monyet ekor panjang di Telaga Warna berubah menjadi makanan buatan yang dilengkapi dengan mengetahui feeding site pilihan di dalam food patch. Penelitian tentang makanan pilihan ini dilakukan di Telaga Warna Bogor, Jawa Barat Indonesia dari bulan Juni sampai September 2014 pada group A (nmax = 49 individu). Aktivitas harian monyet ekor panjang diamati menggunakan metode scanning, dan makanan pilihan yang ditentukan dengan mengetahui durasi makan dan ukuran partai, di setiap feeding site didalam food patch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan pilihan dari monyet ekor panjang di Telaga Warna berubah menjadi makanan buatan, dan mereka lebih banyak menghabiskan waktu di feeding site II yang memiliki kualitas makanan lebih baik daripada feeding site I dan III. Perubahan dari pola makan dan perilaku dipengaruhi oleh berubahan lingkungan yanhg diikuti oleh pertambahan jumlah pengunjung. Di Telaga Warna, hal ini menjadi perhatian karena memiliki kecenderungan peningkatan jumlah pengunjung setiap tahun. Dengan demikian, perlu diperhatikan, terutama untuk tempat-tempat wisata yang dapat menarik pengunjung dalam jumlah besar, sehingga akan membangkitkan kesadaran untuk mengendalikan pengelolaan kawasan wisata untuk menjaga keseimbangan alam

    Interaksi Macaca Fascicularis-Manusia Di Telaga Warna, Bogor, Jawa Barat

    No full text
    M. fascicularis dapat tinggal di berbagai kondisi habitat, salah satunya di habitat terganggu seperti hutan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tentang interaksi M. fascicularis dengan manusia (pengunjung) di Cagar Alam dan Taman Rekreasi Telaga Warna, Bogor. Bentuk interaksi sosial antara Macaca fascicularis dan manusia (pengunjung) ada dua yaitu interaksi afiliasi dan interaksi agonistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas (App) memiliki frekuensi tertinggi dalam kategori afiliasi (45,03%) dan aktivitas intimidasi (In) memiliki frekuensi tertinggi dalam kategori agonistik (44,69%). Aktivitas menggigit pengunjung jarang ditemukan di Telaga Warna (0,06%) dari total frekuensi. Hal ini menunjukkan interaksi agonistik lebih tinggi daripada interaksi afiliasi. Meskipun banyak interaksi fisik dengan manusia, tetapi M. fascicularis di Cagar Alam dan Taman Rekreasi Telaga Warna tidak toleran terhadap sentuhan manusia. M. fascicularis di Telaga Warna juga mengkonsumsi makanan dari pengunjung. Aktivitas pemberian makanan oleh pengunjung disebabkan adanya kontak langsung dengan M. fascicularis. Pisang menjadi jenis makanan tertinggi (40,57%) yang disukai M. fascicularis. Selain itu, seiring meningkatnya jumlah pengunjung yang datang di akhir pekan, kesempatan untuk mendapatkan makanan dan terjadinya interaksi antara M. fascicularis-Manusia semakin tinggi

    Kreatifitas Laki-Laki pada Variasi Orientasi Seksual di Bogor Jawa Barat

    No full text
    Seksualitas manusia memiliki beberapa komponen, salah satunya adalah orientasi seksual. Orientasi seksual berhubungan dengan konsep homoseksual, biseksual dan heteroseksual. Orientasi seksual diduga disebabkan oleh perbedaan genetik, hormon dan struktur otak. Laki-laki dan wanita homoseksual tidak merugikan lingkungan karena mereka melakukan sesuatu sama seperti dengan orang-orang yang ada di dunia ini. Banyak spekulasi bahwa indvidu yang memiliki preferensi homoseksual lebih kreatif dibandingkan dengan individu yang memiliki preferensi heteroseksual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentuka proporsi kreativitas laki-laki di berbagai oriantasi seksual di Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu memilih respondents yang relevant sesuai dengan tujuan penelitian. Subjek penelitian ini adalah 55 responden laki-laki yang disampling secara spesifik di Puskesmas Kedung Badak dan 47 responden laki-laki yang disampling secara acak di Institut Pertanian Bogor untuk menyesuaikan spesifik sample. Orientasi seksual ditentukan dengan menggunakan metode self-confession dan Kinsey Categorization. Kreativitas ditentukan dengan menggunakan metode Adjective Checklist (ACL). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kreativitas homoseksual lebih tinggi dibandingan dengan persentase kreativitas individu biseksual dan heteroseksual

    Respon Tingkah Laku Siamang (Symphalangus syndactylus) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) terhadap Pengunjung di Taman Margasatwa Ragunan.

    No full text
    Efek pengunjung kebun binatang terhadap satwa telah menjadi topik penelitian yang aktif dilakukan selama beberapa dekade terakhir. Satwa di kebun binatang merupakan objek yang dapat diamati, dipelajari, bahkan berinteraksi langsung dengan pengunjung. Tingkah laku satwa yang berkaitan dengan kehadiran pengunjung dapat menjadi tolok ukur untuk mengetahui bagaimana efek pengunjung terhadap tingkah laku satwa. Sampai saat ini, penelitian mengenai efek pengunjung kebun binatang terhadap satwa, khususnya satwa primata non-manusia di Indonesia masih sangat jarang dilakukan. Penelitian ini berfokus kepada respon tingkah laku siamang (Symphalangus syndactylus) dan lutung jawa (Trachypithecus auratus) terhadap pengunjung di Taman Margasatwa Ragunan. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui respon tingkah laku yang ditunjukkan oleh siamang dan lutung jawa ketika jumlah pengunjung tinggi maupun rendah. Pengambilan data menggunakan metode Ad Libitum untuk mencatat respon tingkah laku hewan subjek terhadap pengunjung, serta metode scan sampling untuk mencatat aktivitas harian hewan subjek. Analisis data dilakukan menggunakan metode uji statistik berupa ANOVA, Kruskal-Wallis, dan pairwise t-test. Beberapa aktivitas harian siamang memiliki perbedaan yang signifikan ketika jumlah pengunjung tinggi dan jumlah pengunjung rendah (p < 0.05), sementara hanya aktivitas interaksi sosial pada lutung jawa yang berbeda secara signifikan antara hari ketika jumlah pengunjung tinggi dan jumlah pengunjung rendah. Siamang menunjukkan lima belas tipe respon tingkah laku terhadap kehadiran pengunjung, dan dapat dikategorikan sebagai interaksi yang menstimulasi dampak negatif bagi satwa, sementara lutung jawa cenderung memberikan respon netral terhadap kehadiran pengunjung, dengan hanya menunjukkan lima tipe respon tingkah laku

    Interaksi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dengan manusia dan persepsi manusia terhadap monyet ekor panjang di TWA Telaga Warna, Bogor.

    No full text
    M. fascicularis dapat hidup di berbagai habitat termasuk di habitat yang berjarak cukup dekat dengan tempat manusia beraktivitas. Interaksi M. fascicularis dengan manusia terjadi ketika manusia masuk ke dalam habitat M. fascicularis atau sebaliknya. Tujuan penelitian ini adalah mengamati interaksi M. fascicularis dengan manusia dan persepsi manusia terhadap kehadiran M. fascicularis di TWA Telaga Warna. Penelitian ini menggunakan metode ad libitum untuk mengamati interaksi M. fascicularis dengan manusia dan metode wawancara untuk mengetahui persepsi pengunjung, penduduk, dan karyawan terhadap kehadiran M. fascicularis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa interaksi afiliasi lebih tinggi dibandingkan interaksi agonistik. M. fascicularis remaja melakukan interaksi afiliasi dengan frekuensi tertinggi. Makanan adalah penyebab utama terjadinya interaksi afiliasi sedangkan interaksi agonistik lebih sering terjadi karena provokasi dari manusia. Sebagian besar manusia menyukai kehadiran M. fascicularis di TWA Telaga Warna dan menganggap M. fascicularis bukanlah penyebab konflik. Namun pengetahuan penduduk dan pengunjung tentang potensi penyakit menular dari M. fascicularis masih rendah
    corecore