18 research outputs found
العلاقة بين اللغة والمعنى عند توشيهيكو ايزوتسو (Toshihiko Izutsu) في كتاب Language and Magic. Studies in the Magical Function of Speech"
Bahasa bukan hanya sebatas kumpulan fonologi yang digunakan oleh manusia untuk mengekspresikan maksud dan tujuan mereka. Karena dalam kenyataannya sebuah alat untuk berekspresi itu bukan hanya yang dapat terucap oleh lisan, melainkan juga sebuah tulisan, tanda-tanda atau isyarat dan ekspresi yang didalamnya juga ada sebuah kata-kata atau pesan. Dan karena kode atau symbol itu membentuk sebuah gagasan, sebuah konsep atau teori dan pemikiran dapat kita simpulkan bahwa sebuah Bahasa itu mempunyai makna. Satu dari para ahli bahasa yang memfokuskan pemikirannya pada sebuah Bahasa juga maknanya adalah seorang ilmuan jepang bernama Toshihiko Izutsu yang masyhur dengan idenya tentang "world view" atau pandangan dunia (Weltanschauungslehre) dan juga gagasannya tentang makna dasar dan makna kontekstual dalan ilmu Semantik, yang mana dia berkata bahwa sampai saat inipun belum ada pengertian atau teori yang benar-benar tepat tentang Ilmu Semantik itu sendiri. Dan setiap orang yang mempunyai teori tentang Ilmu Semantik cenderung benar. Izutsu juga mengatakan bahwa sebuah Bahasa itu mempunyai makna dan adanya keterkaitan diantara keduanya karena Bahasa dan makna adalah sebuah proses mental manusia yang tidak dapat dipisahkan. Dan daripada pengertian diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui relasi antara Bahasa dan makna menurut Toshihiko Izutsu dalam buku "Language and Magic. Studies in the Magical Function of Speech". Penelitian ini merupakan sebuah kajian pustaka. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan tiga metode, yang pertama adalah pendekatan Analisis (Metode Analisa). Peneliti menggunakan metode ini untuk mendeskripsikan pemikiran izutsu serta meneliti pemikirannya tentang relasi antara Bahasa dan makna. Yang kedua adalah pendekatan deskriptif (Metode Deskriptif). Peneliti menggunakan metode ini adalah untuk mengulas tentang kehidupan Toshihiko Izutsu seluruhnya serta mengolah data-data yang terkumpul. Dan yang ketiga adalah pendekatan historis (Metode Historis) untuk menjabarkan tentang gambaran kehidupan Toshihiko Izutsu dari sisi tumbuh kembangnya, latar belakang pendidikan dan pemikirannya dalam mengkaji relasi antara bahasa dan makna. Dan di akhir pembahasannya, penulis menyimpulkan beberapa kesimpulan. Diantaranya 1)Bahasa adalah satu sistem tanda tiruan yang direka untuk membagi, mengkategori dan menyatakan realitas bukan- linguistik dan menjadikannya bermakna dan dapat dikategorikan dalam sebuah konsep tertentu. 2) Izutsu mendeskripsikan makna sebagai sebuah nilai yang muncul setelah proses pemikiran manusia ketika berbicara yang menjelaskan tentang emosi dan maksud antara pembicara dan pendengar. Dan dengan melihat Ilmu Semantik menurut pandangan Toshihiko Izutsu, jenis makna itu ada 2, yang pertama Makna Dasar atau Leksikal dan yang kedua adalah Makna Relasional atau Kontekstual. 3) Bahwa relasi antara dan makna adalah Relasi Filsafat. Sebab, jika seorang manusia masih dinyatakan sebagai makhluk yang dapat berbicara, maka filsafat masih berkecimpung juga bermain-main dalam dalam menghasilkan sebuah konsep. Maka aktifitas filsafat adalah sebuah aktifitas Bahasa, yang berfokus pada sebuah makna dan kaitannya dengan filsafat menurut para failasuf yang mempelajari tentang filsafat Bahasa dan pengertian makna. Penulis mengakui bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT, maka pembahasan yang tertulis dalam karya ilmiah ini, sangat jauh dari kata sempurna. Dan harapan penulis selanjutnya adalah agar para pembaca dan. penulis selanjutnya dapat menutupi kekurangan yang ada, serta kedepannya kekurangan ini sedikit demi sedikit dapat tertutupi dan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya
WISATA VIRTUAL DESA WISATA NGLANGGERAN
Desa Wisata Nglanggeran merupakan salah satu desa wisata yang ramai dikunjungi wisatawan di Yogyakarta. Ramainya kunjungan membuat sebagai besar penduduk desa bergantung nasib di sektor ini. Akan tetapi, pandemi Covid-19 membuat tempat wisata tak terkecuali desa wisata harus ditutup sementara. Untuk tetap bertahan, pengelola desa wisata berinisiatif mengadakan virtual tur Desa Wisata Nglanggeran Yogyakarta. Dimulai dengan menjabarkan daya tarik wisata Yogyakarta
Potential Analysis of Tourist Pedicab Innovation Through Si-Cakta Application in Jember Regency
ANALISIS PENERAPAN PHASES EMBOK DALAM PENYELENGGARAAN EVENT FESTIVAL KULINER PANDALUNGAN 2025
This study aims to analyze the application of the Phases dimension in the 2025 Pandalungan Culinary Festival event. The background to this study is that Jember is a regency with a Pandalungan culture and potential for culinary sector development, but this potential has not been fully optimized.. One effort to introduce Pandalungan cuisine in Jember Regency is through a Project-Based Learning activity conducted by students of the D4 Tourism Destination Program at Jember State Polytechnic, which involves organizing a culinary event over sixteen days. The research method used in this study is a qualitative approach with data collection techniques through observation and documentation. The findings of this study indicate that while some adjustments were made, all dimensions of the EMBOK Phases could be applied in organizing the 2025 Pandalungan Culinary Festival, ensuring its successful implementation.
Keyword: Event, Festival Culinary, Project Based Learning.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan dimensi Phases dalam event Festival Kuliner Pandalungan 2025. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah bahwa Jember merupakan kabupaten yang memiliki budaya Pandalungan dan berpotensi dalam pengembangan sektor kuliner, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan optimal. Salah satu upaya mengenalkan kuliner Pandalungan di Kabupaten Jember melalui kegiatan Project Based Learning yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi D4 Destinasi Pariwisata, Politeknik Negeri Jember melalui penyelenggaraan event kuliner selama enam belas hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi. Temuan dalam penelitian ini adalah dengan adanya beberapa penyesuaian yang dilakukan, namun seluruh dimensi Phases EMBOK dapat diterapkan dalam penyelenggaraan event Festival Kuliner Pandalungan 2025 yang menjadikan event tersebut terlaksana dengan baik.
Kata Kunci: Event, Festival Kuliner, Pembelajaran Berbasis Proyek
ANALISIS PENERAPAN PHASES EMBOK DALAM PENYELENGGARAAN EVENT FESTIVAL KULINER PANDALUNGAN 2025
This study aims to analyze the application of the Phases dimension in the 2025 Pandalungan Culinary Festival event. The background to this study is that Jember is a regency with a Pandalungan culture and potential for culinary sector development, but this potential has not been fully optimized.. One effort to introduce Pandalungan cuisine in Jember Regency is through a Project-Based Learning activity conducted by students of the D4 Tourism Destination Program at Jember State Polytechnic, which involves organizing a culinary event over sixteen days. The research method used in this study is a qualitative approach with data collection techniques through observation and documentation. The findings of this study indicate that while some adjustments were made, all dimensions of the EMBOK Phases could be applied in organizing the 2025 Pandalungan Culinary Festival, ensuring its successful implementation.
Keyword: Event, Festival Culinary, Project Based Learning.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan dimensi Phases dalam event Festival Kuliner Pandalungan 2025. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah bahwa Jember merupakan kabupaten yang memiliki budaya Pandalungan dan berpotensi dalam pengembangan sektor kuliner, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan optimal. Salah satu upaya mengenalkan kuliner Pandalungan di Kabupaten Jember melalui kegiatan Project Based Learning yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi D4 Destinasi Pariwisata, Politeknik Negeri Jember melalui penyelenggaraan event kuliner selama enam belas hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi. Temuan dalam penelitian ini adalah dengan adanya beberapa penyesuaian yang dilakukan, namun seluruh dimensi Phases EMBOK dapat diterapkan dalam penyelenggaraan event Festival Kuliner Pandalungan 2025 yang menjadikan event tersebut terlaksana dengan baik.
Kata Kunci: Event, Festival Kuliner, Pembelajaran Berbasis Proyek
Peran Suri Tauladan Guru Dalam Pembinaan Akhlak Siswa Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu
This research aims to (1) Describe the role of teacher role models at SMP IT Mutiara Insani Delanggu (2) Describe the role of teacher role models in student moral training (3) Describe the factors inhibiting teacher role models. This research is field research. The approach used by the author in this research is a qualitative descriptive approach. Data collection was carried out using interviews, observation and documentation methods. The results of the research show that (1) the role of teacher role models at SMP IT Mutiara Insani is very influential on the formation of student morals because morals themselves are a commendable trait that is highly prioritized in schools (2) teacher role models in student moral training are influential and can have a positive effect on development students (3) factors inhibiting teacher role models, namely the lack of totality in providing moral training to students, parents at home in giving direction to their children, social factors and environmental factors which are very influential in forming good character
Eye gaze modeling using Tobii eye tracker for anxiety and mental health detection on Politeknik Negeri Jember student: A case study
Education development is one of United Nation (UN) sustainable development goals (SDGs) number 4 program, where Indonesian ministry of education designed new education curriculum in 2019. Merdeka Belajar program is comprised of certified internship and independent study, which often became a graduation requirement especially for engineering major. However, rapid change in curriculum frequently caused disruption on student concentration that leads into decline in learning motivation and raising anxiety symptom. This research aims to monitor engineering students’ anxiety during courses. Anxiety-ridden students perform poorly on assignments and have a mediocre interest in studying. The eye gaze can be linked with stress level. Its pattern reflects the anxious state that befalls engineering students. Our paper's primary contribution is offering an observational result on how to use eye gazing to address the anxiety that engineering students experience by observing students' eye movements. The 16 zones (1a, 1b, 1c, 1d, 2a, 2b, 2c, 2d, 3a, 3b, 3c, 3d, 4a, 4b, 4c, 4d) make up the eye gazing pattern. 53.8% of the student experience moderate anxiety, while 26.1% of respondent suffers severe anxiety. The research's accuracy rate is 85.5%. These findings offer recommendations for how teachers might quickly assess students' anxiety levels and take specific action to support students in achieving their best learning outcomes
Indonesian Language Teaching Model for Foreign Speakers Cross Generations
Perkembangan teknologi dan komunikasi telah melahirkan generasi Baby Boomers, generasi X, generasi Y, generasi Z, dan generasi Alfa. Setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda dalam kegiatan pengajaran. Pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) dapat diikuti mulai dari generasi Baby Boomers hingga generasi Alfa. Perbedaan karakteristik antargenerasi dalam pengajaran BIPA perlu dilakukan penyesuaian terkait model pengajaran yang digunakan. Model pengajaran yang sesuai dengan karakteristik generasi memudahkan pelajar dan pengajar BIPA dalam mencapai tujuan pengajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pengajaran BIPA yang sesuai dengan karakteristik masing-masing generasi pelajar. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian ini adalah model pengajaran BIPA lintas generasi yang terdiri dari (1) struktur pengajaran BIPA, (2) lingkungan belajar, dan (3) sistem pendukung pengajaran. Struktur pengajaran BIPA merupakan fase-fase pengajaran yang dikembangkan oleh pengajar BIPA sesuai dengan karakteristik generasi pelajar BIPA dengan tujuan mencapai standar kompetensi lulusan. Lingkungan belajar diformat berdasarkan sistem sosial dan karakteristik generasi pelajar BIPA. Sistem pendukung model pengajaran BIPA lintas generasi terdiri dari sumber belajar, media pengajaran, dan bahan ajar yang disesuaikan dengan karakteristik generasi pelajar BIPA.The development of technology and communication has been raising to the Baby Boomers generation, generation X, generation Y, generation Z, and generation Alpha. Each generation has different characteristics in learning activities. Indonesian for Speakers of Other Languages (BIPA) can be learned from the Baby Boomers generation to the Alpha generation. Characteristic differences among generations in learning BIPA should be adjusted regarding the learning model used. The suitable learning model for each generation’s characteristic makes the learning BIPA easier for the students and teachers to achieve the learning goals. This study aims to describe the BIPA learning model based on the characteristics from each generation of students. The research method used is literature studies. The results of this study are producing BIPA learning model across generation which is consisting of (1) BIPA learning procedure, (2) learning environment, and (3) learning support system. The BIPA learning procedure is the teaching phases developed by BIPA teachers based on the characteristics of the BIPA student’s generation with the purpose of achieving the competency standards. The learning environment is created based on the social system and the characteristics of the BIPA students’ generation. The support system for the across generations BIPA learning model consists of learning resources, learning media, and teaching materials that are adjusted to the characteristics of the generation of BIPA students.The development of technology and communication has given birth to the Baby Boomers generation, generation X, generation Y, generation Z, and generation Alpha. Each generation has different characteristics in learning activities. Bahasa Indonesia for foreign speakers (BIPA) can be learned from the Baby Boomers generation to the Alpha generation. Characteristic differences among generations in learning BIPA should be adjusted regarding the learning model used. The suitable learning model for each generation’s characteristic makes the learning BIPA easier for the students and teachers to achieve the learning goals. This study aims to describe the BIPA learning model based on the characteristics from each generation of students. The research method used is literature study. The results of this study are producing BIPA learning model across generation which is consisting of (1) BIPA learning procedure, (2) learning environment, and (3) supporting system in learning. The BIPA learning procedure is the teaching phases developed by BIPA teachers based on the characteristics of the BIPA student’s generation with the purpose of achieving the competency standards. The learning environment is created based on the social system and the characteristics of the BIPA students’ generation. The support system for the across generations BIPA learning model consists of learning resources, learning media, and teaching materials that are adjusted to the characteristics of the generation of BIPA students
Developing English Learning Application Model for Vocational High School Students
This is a research and development (R&D) with the aim of developing a vocational-themed English application model for SMK in Jember. There were three steps carried out to complete this study including categorizing the areas of expertise offered at State Vocational Schools (SMKN) in Jember, analyzing the use of information technology in learning English at SMKN in Jember by distributing questionnaire to the English teachers and interview, and designing a vocational-themed English learning application model. The result of the study is a model of an Android-based application for English learning specific for SMK under seven vocational expertise fields covering four English skills and two components. Those are reading, listening, writing, and speaking. Moreover, the application also covers grammar and vocabulary materials specific for SMK students. The application model is the basis of developing the prototype of the vocational-themed English learning application. From the model, an English learning application which is specifically designed for students of vocational high schools can be created based on 7 areas of expertise, as found through the study, including: 1) Technology and Engineering, 2) Information and Communication Technology, 3) Agribusiness and Agro-technology, 4) Maritime Affairs, 5) Business and Management, 6) Tourism, and 7) Arts and Creative Industries
Rintisan Edible Garden City (EGC) Menuju Agrowisata Kemuning Lor: Edible Garden City (EGC) Pioneer Towards Kemuning Lor Agrotourism
Salah satu upaya dalam menciptakan mata rantai perekonomian adalah melalui kegiatan agrowisata yang dijadikan sebuah bisnis agar memiliki dampak ekonomi langsung pada usaha tani dan masyarakat sekitarnya. Agro wisata merupakan perpaduan antara pertanian dan pariwisata yang dikombinasikan, sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kondisi wilayah pertanian yang memiliki potensi dapat menunjang perencanaan desa sebagai kawasan agrowisata yang nantinya dapat meningkatkan nilai serta pendapatan bagi masyarakat sekitar. Program terobosan Edible Garden City bagi pengembangan Agrowisata ini akan sangat berdampak positif dan sekaligus sebagai salah satu daya tarik wisata potensial di wilayah Agrowisata Kemuning Lor. Permasalahan yang dihadapi di Kelompok PKK Desa Kemuning Lor Calon Mitra PIM yaitu (1) Penurunan Luas Lahan dan Produktivitas Pertanian. (2) Kurangnya peran inovatif dari masyarakat terhadap Agrowisata Kemuning Lor. Adapun Solusi yang dilakukan adalah dengan (1) Pemanfaatan lahan sempit di sekitar rumah, teras rumah dan rooftop yang dapat digunakan sebagai lahan bercocok tanam; (2) Penekanan aksi budaya diversifikasi pangan sebagai alternatif pengganti komoditas pangan pokok; (3) Pengembangan daya tarik agrowisata. Rintisan dari Edible Garden City ini melalui beberapa tahapan, dimulai dari perencanaan program, sosialisasi pada masyarakat, membangun komunitas, mengadakan pelatihan pada masyarakat, serta dilanjutkan pada tahap monitoring dan evalusiSalah satu upaya dalam menciptakan mata rantai perekonomian adalah melalui kegiatan agrowisata yang dijadikan sebuah bisnis agar memiliki dampak ekonomi langsung pada usaha tani dan masyarakat sekitarnya. Agro wisata merupakan perpaduan antara pertanian dan pariwisata yang dikombinasikan, sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kondisi wilayah pertanian yang memiliki potensi dapat menunjang perencanaan desa sebagai kawasan agrowisata yang nantinya dapat meningkatkan nilai serta pendapatan bagi masyarakat sekitar. Program terobosan Edible Garden City bagi pengembangan Agrowisata ini akan sangat berdampak positif dan sekaligus sebagai salah satu daya tarik wisata potensial di wilayah Agrowisata Kemuning Lor. Permasalahan yang dihadapi di Kelompok PKK Desa Kemuning Lor Calon Mitra PIM yaitu (1) Penurunan Luas Lahan dan Produktivitas Pertanian. (2) Kurangnya peran inovatif dari masyarakat terhadap Agrowisata Kemuning Lor. Adapun Solusi yang dilakukan adalah dengan (1) Pemanfaatan lahan sempit di sekitar rumah, teras rumah dan rooftop yang dapat digunakan sebagai lahan bercocok tanam; (2) Penekanan aksi budaya diversifikasi pangan sebagai alternatif pengganti komoditas pangan pokok; (3) Pengembangan daya tarik agrowisata. Rintisan dari Edible Garden City ini melalui beberapa tahapan, dimulai dari perencanaan program, sosialisasi pada masyarakat, membangun komunitas, mengadakan pelatihan pada masyarakat, serta dilanjutkan pada tahap monitoring dan evalus
