1,721,010 research outputs found
Pengaruh Pemaparan Alami terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Berbagai Jenis Sambungan Kayu
Perubahan sifat fisis dan mekanis kayu atau produk kayu yang diaplikasikan
di luar ruangan disebabkan oleh berbagai faktor. Sinar ultraviolet dan kelembapan
merupakan agen utama penyebab kerusakan pada kayu. Sambungan pada produk
kayu juga penyebab turunnya sifat fisis dan mekanis pada kayu. Tujuan penelitian
ini adalah menentukan perubahan sifat fisis dan mekanis yang terjadi pada
berbagai jenis sambungan kayu meranti (Shorea spp.) dan keruing (Dipterocarpus
spp.) akibat pemaparan alami selama 210 hari. Papan kayu meranti dan keruing
dipotong dan dibentuk menjadi non joint (kontrol), butt joint, scarf joint, dado
joint dan finger joint. Contoh uji diletakkan pada rak pemaparan selama 210 hari.
Selama masa pemaparan, dilakukan pengujian sifat fisis setiap 15 hari dan sifat
mekanis setiap 30 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan sifat fisis dan mekanis
dari sambungan kayu menurun selama pemaparan 210 hari. Finger joint meranti
merupakan jenis sambungan yang paling tahan terhadap penurunan sifat fisis dan
mekanis akibat pemaparan
Keawetan Alami Kayu Mangium (Acacia Mangium Willd.) Umur 5, 6, Dan 7 Tahun
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian keawetan alami kayu
berupa uji kubur kayu mangium pada umur 5, 6, dan 7 tahun serta berbagai posisi
kayu. Metode yang diterapkan adalah uji kubur mengacu kepada ASTM D 1758-
06. Hasil penelitian menunjukkan kehilangan berat terhadap umur kayu tertinggi
pada umur 5 tahun sebesar 34.13% dan terendah pada umur 7 tahun sebesar 14.02%.
Kehilangan berat terhadap posisi kayu terendah terdapat pada bagian pangkal kayu
sebesar 11.16%, sedangkan kehilangan berat tertinggi terdapat pada bagian ujung
kayu sebesar 29.00%. Analisis statistik menyimpulkan bahwa umur kayu, posisi
kayu di pohon, serta interaksi antara umur dan posisi kayu di pohon terhadap
kehilangan berat berbeda nyata. Umur 7 tahun posisi pangkal memiliki kehilangan
berat yang paling kecil, sedangkan umur 5 tahun posisi ujung memiliki kehilangan
berat yang paling besar. Kelas mutu kayu mangium yang mengacu kepada ASTM
D1758-06 pada umur 5 tahun yaitu kelas mutu 4, kelas mutu 7 pada umur 6 tahun,
dan kelas mutu 6 pada umur 7 tahun. Posisi kayu pangkal dan tengah memiliki kelas
mutu 6 sedangkan posisi kayu ujung memiliki kelas mutu 4. Pengujian kondisi
lingkungan menunjukkan suhu lingkungan, suhu dalam tanah, serta kelembapan
sebesar 28.10 oC, 25.10 oC, dan 78.10 %
Karakeristik Sifat Mekanis Tangkai Palem Raja (Rosystonea regia) (Kunth) F. Cook
Palem merupakan tumbuhan monokotil (berkeping satu) yang berbatang tunggal maupun berumpun. Salah satu palem yang saat ini banyak ditanam sebagai tanaman hias adalah palem raja (Roystonea regia). Dengan meningkatnya pemanfaatan palem oleh masyarakat, maka semakin tinggi limbah yang ditinggalkan salah satunya adalah bagian daun. Daun palem raja yang selama ini kurang dimanfaatkan oleh masyarakat dan lebih bersifat limbah biasanya daun ini hanya ditumpuk disekitar pohon saja. Daun ini sebenarnya memiliki potensi. Pemanfaatan daun ini bermula dari banyaknya pelepah yang dibuang pada saat pemanenan yang tidak digunakan. Dalam pemanfaatannya, palem raja perlu diketahui karakteristiknya seperti sifat fisis dan mekanisnya pada bagian tangkai. Dalam pengujian ini tangkai palem raja dibedakan dalam dua kondisi (hijau dan coklat) dan tiga bagian pangkal, tengah, dan ujung untuk pengujian tarik ikatan serat. Tangkai pada kondisi hijau memiliki nilai kadar air dan kerapatan lebih tingi daripada tangkai pada kondisi coklat. Berbanding lurus dengan sifat mekanis yaitu tarik ikatan serat, tarik sejajar serat, dan kekerasan yang memiliki nilai lebih tinggi pada kondisi hijau. Tangkai palem raja memiliki potensi untuk dijadikan material penguat atau sebagai serat alam dalam pembuatan komposit
Pengujian Panel Akustik Papan Partikel Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria)
Peningkatan kebisingan lingkungan saat ini banyak disebabkan oleh aktivitas manusia sehari-hari. Untuk mengurangi kebisingan, dapat digunakan bahan yang berfungsi untuk menyerap suara dan isolasi suara. Kayu sengon dipilih sebagai alternatif bahan baku panel akustik karena harganya murah, dan banyak terdapat di pasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat akustik absorbs suara dan rugi transmisi suara serta sifat fisis dan mekanis papan partikel sengon berdasarkan variasi kerapatan papan dan ukuran partikel. Penelitian ini menggunakan partikel kayu sengon dengan ukuran halus, sedang dan wol dengan menggunakan perekat diphenylmethane dissocyanate (MDI). Kerapatan target papan partikel yang akan dibuat adalah 0,8 g/cm3 dan 0,5 g/cm3 dengan ketebalan papan 1 cm. Pengujian papan partikel mengacu pada standar JIS A 5908 (2003). Pengujian sifat akustik menunjukkan nilai rataan koefisien absorbsi suara pada frekuensi rendah (100 – 400) Hz, sedang (400 – 1000) Hz dan tinggi (1000 – 4000) Hz sebesar 0,3, 0,19 dan 0,38, nilai rataan rugi transmisi suara (STL) pada frekuensi rendah, sedang dan tinggi sebesar 14,2 dB, 19,3 dB dan 24 dB. Pengujian sifat fisis dan mekanis menunjukkan bahwa nilai kadar air, Modulus of Rupture, internal bond dan kuat pegang sekrup telah memenuhi standar JIS A 5908 tipe 8 (2003). Pada frekuensi tinggi, panel akustik kerapatan 0,5 g/cm3 memiliki nilai koefisien absorbsi suara yang lebih tinggi dibandingkan kerapatan 0,8 g/cm3. Pada frekuensi sedang, seluruh panel akustik memiliki nilai koefisien absorbsi suara yang rendah. Nilai STL panel akustik pada kerapatan 0,8 g/cm³ lebih tinggi dibandingkan dengan kerapatan 0,5 g/cm³. Partikel wol memiliki nilai STL yang paling rendah. Partikel dari kayu sengon dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku panel akustik
Variasi Peletakan Transduser Alata Pengujian Nondestruktif Berbasis Gelombang Ultrasonik Pada Balok Lentur
Kekuatan komponen struktur kayu menjadi salah satu faktor penting dalam konstruksi bangunan. Saat ini telah dikembangkan metode untuk menduga sifat mekanis lentur secara nondestruktif berbasis kecepatan gelombang ultrasonik. Pada umumnya metode tersebut digunakan pada kayu yang belum dijadikan konstruksi, karena pengujiaannya menggunakan kedua ujung kayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh jarak pengujian (direct dan indirect) dan posisi sisi pengujian (flatwise dan edgewise) terhadap nilai kecepatan gelombang (Vus), MOEd (Modulus Elastisitas dinamis) yang ditentukan berdasarkan Vus, dan MOEp (Modulus Elastisitas Panter) yang ditentukan berdasarkan metode defleksi menggunakan mesin Panter. Sebanyak 30 balok kayu dari berbagai ukuran dan berat jenis kayu yang telah dipilah disesuaikan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan penempatan transduser pada pengujian langsung (direct) dan pengujian tidak langsung (indirect), serta posisi sisi pengujian baring dan tegak (flatwise dan edgewise) memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai Vus dan nilai MOEd kayu. Pada pengujian tidak langsung semakin pendek jarak alat pengujian semakin tingi nilai Vus dan MOEd. Selain itu, nilai MOEd lebih tinggi 48.1% dibandingkan nilai MOEp
Pola Serangan Rayap Kayu Kering pada Kayu Bangunan Struktural
Di Indonesia evaluasi kondisi rumah tradisional atau bangunan masih jarang
menjadi perhatian utama. Serangan rayap kayu kering menyebabkan kerugian
ekonomi yang signifikan, terutama karena keberadaan rayap kayu kering di dalam
komponen bangunan sangat sulit dideteksi. Namun, informasi mengenai analisis
karakterisasi serangan rayap kayu kering menggunakan metode berbasis akustik
pada bangunan di Indonesia masih jarang ditemukan. Penelitian ini mencakup
karakteristik rambatan gelombang ultrasonik dari instrumen NDT pada komponen
kayu yang terserang rayap kayu kering. Karakteristik rambatan gelombang seperti
waktu tempuh (ToF), kecepatan, dan energi puncak gelombang pada tiga bidang
orthogonal kayu (aksial-z, transversal-y, dan transversal-x) akan diamati. Tingkat
serta pola serangan rayap kayu kering pada komponen kayu struktural juga ditelaah.
Komponen kayu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari rumah kayu
tradisional berusia sepuluh tahun di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Karakteristik anatomi makroskopik dasar dari komponen kayu tersebut diamati
seperti kerapatan, berat jenis, dan MOE dinamis. SylvatestDuo® digunakan untuk
mengevaluasi keadaan komponen kayu actual melalui pendekatan perambatan
gelombang ultrasonik. Fitur perambatan gelombang (ToF dan kecepatan) kemudian
digunakan untuk merekonstruksi kondisi komponen kayu aktual melalui model tiga
dimensi serta untuk mengevaluasi tingkat serangan rayap kayu kering pada balok
struktural yang diamati. Setelah itu, pola serangan rayap kayu kering diamati secara
visual dan luasan penampang yang terserang dihitung secara kualitatif perangkat
lunak ImageJ.
Penelitian ini menunjukkan bahwa evaluasi komponen kayu dari rumah
tradisional berusia sepuluh tahun dapat dilakukan berbasis pendekatan gelombang
ultrasonik. Gelombang ultrasonik pada balok kayu struktural terserang rayap kayu
kering dari rumah kayu tradisional berusia sepuluh tahun memiliki waktu tempuh
(ToF) dan kecepatan gelombang yang berbeda secara signifikan pada tiga arah
pengukuran, tetapi energi puncaknya serupa. ToF dan kecepatan rambat tertinggi
diperoleh dari arah pengukuran bidang aksial-z atau longitudinal. Kecepatan
gelombang ultrasonik berbanding terbalik dengan waktu tempuh; dengan demikian,
semakin cepat gelombang merambat, waktu transmisi akan semakin rendah.
Tingkat serangan rayap kayu kering diklasifikasi berdasarkan kecepatan
rambat gelombang ultrasonik. Tingkat serangan rayap kayu kering pada balok kayu
struktural dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu suara untuk balok yang tidak
terserang (Vus> 5500 m/s), balok dengan tingkat serangan rendah > 25% (2857 m/s
50% (1535 m/s < Vus <
2857 m/s), dan balok dengan tingkat serangan berat > 75% (Vus < 1535 m/s).
Tingkat serangan rayap kayu kering pada balok yang diamati dari rumah kayu
tradisional berumur sepuluh tahun bervariasi dari rendah hingga berat.
Pola serangan rayap kayu kering dari balok kayu yang diperiksa adalah
sebagai berikut: serangan terjadi secara longitudinal (ke-arah panjang) mengikuti
orientasi serat kayu, liang gerek berbentuk lingkaran yang terdiri dari bekas makan
memanjang dengan diameter berkisar antara (0,08 - 3,91) cm, tidak ditemukan
queen chamber, frass atau serbuk gerek rayap kayu kering ditemukan di
sepanjangliang gerek. Jumlah rayap kayu kering yang menempati balok kayu
berkisar antara 1800 - 2200 individu per 4050 cm3 - 19470 cm3. Setiap sentimeter
kuadrat diperkirakan ditempati oleh 0,6 hingga 1 individu rayap kayu kering jika
tersebar secara merata
Kerusakan Pohon Peneduh di Wilayah Jakarta Selatan
Keberadaan pohon peneduh (shade trees) di wilayah perkotaan sangat penting. Hal ini terkait dengan besarnya nilai dan manfaat pohon tersebut, baik secara estetika, sosial, dan ekologis. Sehubungan dengan hal tersebut, pemantauan kesehatan pohon di wilayah perkotaan sangat penting. Namun demikian saat ini perhatian terhadap kesehatan pohon peneduh di kota-kota di Indonesia masih relatif rendah. Hal ini tercermin antara lain dari kurangnya informasi tentang kesehatan pohon peneduh dan kurangnya antisipasi sebagian besar pemerintah kota terhadap kemungkinan tumbangnya pohon peneduh di wilayah masingmasing. Salah satu cara yang paling sederhana untuk mengetahui kesehatan pohon adalah dengan pengamatan secara visual terhadap fisik pohon. Selain itu, dapat digunakan teknologi pemantauan kesehatan pohon secara Nondestructive Evaluation/Testing (NDE/T) berbasis gelombang ultrasonik. Teknologi ini sangat sesuai untuk mengetahui kondisi bagian dalam batang pohon berdiri, seperti keberadaan gerowong yang sering tidak terdeteksi dari luar. Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kesehatan pohon peneduh di wilayah Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, baik secara visual maupun dengan memanfaatkan rambatan gelombang ultrasonik yang dihasilkan dari alat Sylvatest Duo® (frekuensi 22 KHz). Pengamatan secara visual dilakukan terhadap ada tidaknya gejala deteriorasi pada pohon sasaran, dari pangkal batang hingga tajuk pohon. Sementara itu penilaian kesehatan pohon dengan alat Sylvatest Duo® didasarkan atas kecepatan rambatan gelombang di dalam batang pohon sasaran pada ketinggian setinggi dada (DBH). Pohon peneduh yang berdiameter ≥ 45 cm dipilih sebagai pohon sasaran. Pohon sasaran tersebar di 11 ruas jalan contoh di seluruh kecamatan (10 kecamatan) di wilayah Jakarta Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 13,85% pohon peneduh di wilayah Jakarta Selatan yang secara visual tidak menunjukkan gejala deteriorasi, sedangkan sisanya (86,15%) menunjukkan adanya gejala deteriorasi berupa kanker (16,45%); luka terbuka (16,02%); gerowong (9,52%); perubahan warna daun (9,10); mata kayu (6,49%); keropos akibat serangan rayap (5,20%); kerusakan kuncup, daun atau tunas (4,33%); kematian ranting atau cabang (dieback) (3,46%); lapuk (3,46%); lapuk hati (konk) (3,03%); tumbuhan pengganggu (2,60%); resinosis (0,43%); dan lain-lain (6,06%). Hal ini sejalan dengan hasil evaluasi berbasis gelombang ultrasonik, dimana sebanyak 11,26% pohon sasaran termasuk ke dalam kategori kecepatan I (kondisi pohon sehat), sisanya (88,74%) mengalami deteriorasi yang terdiri dari kategori II (14,71%); III (23,81%); dan IV (17,75%), sementara itu untuk pohon yang masuk kategori V 4 (sakit) mencapai 32,47%. Pada pohon sakit, rambatan gelombang ultrasonik mengalami hambatan internal dalam batang pohon akibat adanya gerowong, lapuk atau bentuk deteriorasi lainnya. Adanya deteriorasi dalam batang pohon sasaran tersebut mempengaruhi sifat fisis kayu, khususnya kadar air. Upaya pemeliharaan dan perawatan pohon peneduh di Jakarta Selatan perlu diintensifkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan pohon peneduh. Perhatian khusus perlu diberikan terhadap kondisi kesehatan pohon glodogan dan pohon angsana, bahkan perlu dipertimbangkan kembali kebijakan penggunaan kedua jenis pohon tersebut sebagai pohon peneduh
Sifat Fisis dan Mekanis Bambu Oriented Strand Board (BOSB) pada Berbagai Jenis Bambu dan Kadar Perekat
INTRODUCTION. Bamboo has been used as raw material for construction, furniture, paper, composite boards including bamboo oriented strand board (BOSB) and others. In order to reduce production cost in manufacturing BOSB, phenol formaldehyde (PF) resin was used in this research. The objectives of this research were to evaluate the physical and mechanical properties of BOSB prepared from various bamboo species and resin content. MATERIALS AND METHOD. Strands were prepared from tali bamboo (Gigantochloa apus (J.A & J.H. Schultes) Kurz) and hitam bamboo (Gigantocholoa atroviolacea Widjaja). The strands were dried in oven at a temperature of 60 °C to reach the moisture content (MC) around 5%. Commercial phenol formaldehyde (PF) resin was used in amount of 6%, 8% and 10%. Paraffin was used in amount of 1%. The geometry strand, physical properties (i.e., density, MC, water absorption (WA), and thickness swelling (TS)), mechanical properties (i.e., modulus of elasticity static (MOEs), modulus of rupture (MOR), internal bond (IB), and screw holding power (SHP)) were evaluated. Nondestructive test (NDT) of stress wave velocity (SWV) and MOE dynamic (MOEd) parameter was also evaluated. The results were also compared with CSA 0437.0 (grade O-2) standard for OSB. RESULT. The average value of slenderness ratio of tali and hitam bamboo strands were 75.24 and 67.74, respectively. The average value of aspect ratio of tali and hitam bamboo strands was 3.6 and 3.44, respectively. Physical and mechanical propertes of BOSB were much affected by bamboo species and resin content. BOSB prepared from tali bamboo strands showed better physical and mechanical properties compared to BOSB prepared from hitam bamboo strands. The higher the resin content applied resulted in the better the physical and mechanical properties of BOSB. Based on NDT (i.e., sound waves) the best relationship was achieved by SWV-MOEs parallel to the grain direction, MOEd- MOR and MOEd-MOEs from parallel and perpendicular to the grain direction (95% confidence level). BOSB made from tali bamboo strands with 10% PF resin content had excellent physical and mechanical properties. All the parameters measured fulfilled the requirement of CSA 0437.0 (grade 0-2) standard for OSB.Bambu sudah dimanfaatkan sebagai bahan baku konstruksi, furniture, kertas, papan komposit, termasuk papan OSB bambu dan lain-lain. Perekat fenol formaldehida (PF) digunakan pada penelitian ini dalam rangka untuk menurunkan biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisis-mekanis OSB, menentukan OSB terbaik dari dua jenis bambu dan tiga kadar perekat dan menduga sifat mekanis lentur OSB bambu dengan melihat hubungan SWV (stress wave velocity) dan MOEd (modulus of elasticity dinamyc) dengan MOEs (modulus of elasticity static) dan MOR (modulus of rupture). Bambu yang digunakan adalah tali (Gigantochloa apus (J.A & J.H. Schultes) Kurz) dan hitam (Gigantocholoa atroviolacea Widjaja). Strand-strand dikeringkan di dalam oven pada suhu 60 oC sampai mencapai kadar air (KA) sekitar 5%. Kadar perekat fenol formaldehida yang digunakan yaitu 6%, 8% dan 10% dan penambahan parafin sebanyak 1%. Pengujian yang dilakukan antara lain geometri strand, sifat fisis (kerapatan, kadar air, daya serap air, dan pengembangan tebal) dan sifat mekanis (modulus elastisitas statis (MOEs), modulus patah (MOR), internal bond (IB), dan pegang kuat sekrup (KPS)). Metode pengujian nondestruktif (NDT) juga dilakukan untuk menduga nilai stress wave velocity (SWV) dan modulus elastisitas dinamis (MOEd). Standar yang digunakan yaitu CSA 0437.0 (grade 0-2) untuk oriented strand board (OSB)
Evaluasi Kesehatan Pohon Peneduh Jenis Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) secara Sonic Tomography di Kota Surabaya
Shade trees in urban areas have very important roles for social, economic, ecological and aesthetics benefits. The health of shade trees could be detected by visual assessment as well as by non-destructive method. The internal condition of trunk is assessed by Sonic Tomography which is based on sound waves propagation in the wood. The objective of this research was to understand the health of shade trees in median street of Surabaya city. Ten street samples were chosen by purposive sampling according to the median paths. The result of this research shows that angsana (Pterocarpus indicus Willd.) was the dominant species found in Surabaya city. The results of sonic tomograph found that 75 trees were healthy trees with more than 75% of solid wood with sound wave propagation above 900 m / sec. Meanwhile there were four trees which suffered severe damage below 50% of solid wood.Visual observation showed that 44% healthy trees and 56% unhealthy condition
Pemilahan Bambu Utuh Untuk Jenis Bambu Andong (Gigantochloa Psedoarundinaceae) Dan Bambu Betung (Dendrocalamus Asper)
Bambu sering digunakan sebagai bahan konstruksi bangunan pengganti
kayu. Penentuan kekuatan bambu dapat dilakukan berdasarkan dua cara yaitu
destruktif dan nondestruktif. Kegiatan pemilahan merupakan usaha untuk
menentukan mutu kekuatan bahan. Penelitian ini bertujuan mengetahui sifat
modulus elastisitas (MOE) bambu melalui kegiatan pemilahan berdasarkan
metode defleksi dan kecepatan gelombang ultrasonik. Bahan yang digunakan
adalah bambu andong (Gigantochloa psedoarundinaceae) dan bambu betung
(Dendrocalamus asper). Pengujian dilakukan menggunakan alat nondestruktif
berbasis metode defleksi dengan menggunakan UTM (universal testing machine)
dan mesin pemilah “Panter”, serta pengujian berbasis gelombang ultrasonik
menggunakan “Sylvatestduo®”. Hasil penelitian menunjukkan bambu andong
memiliki karakteristik tebal dinding pembuluh, kerapatan, kadar air, dan MOE
lebih kecil dibandingkan bambu betung. Pemilahan bambu menggunakan metode
gelombang ultrasonik menghasilkan nilai MOEus 2.83 kali lebih besar daripada
pemilahan defleksi “Panter” (MOEp), dan 2.91 kali lebih besar lipat dibandingkan
pengujian statis lentur (MOEs) baik pada bambu andong maupun bambu betung.
Pemilahan bambu berdasarkan metode defleksi menghasilkan MOEp 1.03 kali
lebih besar dibandingkan pengujian statis lentur (MOEs)
- …
