1,720,979 research outputs found
MODEL PEMBELAJARAN KREATIF DALAM MENINGKATKAN MINAT MEMBACA ANAK DI LUAR SEKOLAH
Tulisan ini mengulas pentingnya sebuah pembelajaran kreatif, baik di sekolah maupun luar sekolah, dalam rangka meningkatkan minat membaca anak-anak. Pembelajaran kreatif adalah pembelajaran yang menekankan kepada bagaimana guru atau tutor memfasilitasi kegiatan belajar, sehingga suasana belajar menjadi kondusif dan nyaman, hal ini menuntut pendidik mengemas bahan pembelajaran, sehingga anak-anak dapat terangsang untuk melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dan menyenangkan, terutama membaca. Oleh karena itu dalam proses belajar dan pembelajaran, perlu adanya rekayasa sistem lingkungan yang mendukung, artinya menyiapkan kondisi lingkungan yang kondusif, termasuk diantaranya menyiapkan sarana dan prasarana pembelajaran yang baik, tepat dan mencukupi. Penulisan karya ini didukung aktivitas penulis dan dengan hasil observasi (observation), wawancara (interview), dokumentasi (documentation) dan focus group discussion (FGD), baik di dalam maupun luar negeri. Adapun model-model pembelajaran kreatif yang terkait dengan meningkatkan minat membaca anak, yang dilaksanakan oleh lembaga di luar sekolah diantaranya program parenting, sekolah menulis, praktek buku, melestarikan permainan tradisional, mengenal reptil, menulis mimpi dan teater anak
Laporan Penelitian PERAN PERPUSTAKAAN KOMUNITAS DALAM MENINGKATKAN MINAT MEMBACA ANAK (Studi pada Perpustakaan Komuniti Kuala Lumpur Malaysia)
Perpustakaan
komuniti UTC Keramat Kualalumpur, dalam meningkatkan minat membaca anakanak
memiliki tiga peran layanan utama, yaitu layanan widya-pustaka, layanan
widya-loka dan layanan widya-budaya. Sementara kegiatan dalam meningkatkan
minat membaca anak-anak memiliki beberapa bentuk, yaitu membaca bersama,
mari mewarna, puzzle, teater anak dan my dream
Laporan Penelitian MANAJEMEN PENGUATAN KELEMBAGAAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) (Studi Komparatif TBM Mata Aksara Yogyakarta dengan Perpustakaan Komuniti Setiawangsa Malaysia)
Penelitian bertujuan mengungkap manajemen penguatan kelembagaan pada
lembaga pendidikan nonformal, yaitu Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di
Yogyakarta dan Perpustakaan Komuniti di Kuala Lumpur Malaysia. Fokus
penelitian adalah motivasi pendidirian lembaga, tipologi kelembagaan,
manajemen penguatan SDM, kemiteraan dan penggalangan dana. Jenis penelitian
yang dipakai yaitu penelitian lapangan, studi komparatif, dengan pendekatan
deskripstif kualitatif. Subyek penelitian para pengelola lembaga, dan pegawai
pemerintah yang berwenang di Yoyakarta dan Kuala Lumpur Malaysia.
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi pendirian lembaga TBM dan
perpustakaan komuniti adalah menyalurkan idealisme, spiritual, sosial, kebutuhan
masyarakat dan menjalankan kebijakan pemerintah. Tipologi kelembagaan adalah
bottom-up dan top-down. Manajemen penguatan SDM yaitu sistem volunteer,
pekerja sosial dan pegawai pemerintah. Manajemen penguatan kemiteraan dan
pendanaan ada dua, yaitu sistem madiri dan tergantung kebijakan pemerintah.
Sedang hasil komparatif adalah motivasi pendirian TBM adalah menyalurkan
idealisme, motif spiritual dan motif sosial, sedangkan perpustakaan komuniti
adalah menjalankan kebijakan pemerintah. Tipologi kelembagaan TBM adalah
bottom-up, pada perpustakaan komuniti adalah top-down. Manajemen penguatan
SDM di TBM adalah sistem volunteer dan pekerja sosial, dan di perpustakaan
komuniti adalah pegawai pemerintah. Manajemen penguatan kemiteraan dan
fundraising di TBM adalah kreatif mandiri, dan di perpustakaan komuniti
mengikuti kebijakan pemerintah
Penguatan Lembaga Perpustakaan
Buku ini berjudul ‘Capacity Building Perpustakaan’,
berangkat dari berbagai kegelisahan para pegiat literasi,
baik pustakawan maupun pengelola lembaga perpustakaan.
Diantara kegelisahan tersebut adalah terkait ketergantungan
perpustakaan terhadap institusi pemerintah, seakan sulit
atau bahkan terasa tertutup peluang untuk melakukan
berbagai kerjasama kepada institusi non-pemerintah,
misalnya perusahaan, media, perguruan tinggi dan lainnya.
Akibat dari kenyamanan hidup dalam ketergantungan,
mengakibatkan kemandegan dalam berkreasi untuk
melakukan pengembangan diri secara kelembagaan,
terutama di bidang kemiteraan (networking) dan fundraising,
yaitu penggalangan dukungan, baik dana operasional
maupun sumberdaya non-dana. Karena, jika perpustakaan
tidak memiliki jaringan kemiteraan, dan tidak membangun
funding untuk keberlanjutan lembaga, tentu akan berakibat
fatal, alias mati. Jika perpustakaan berhenti bernafas, yang
akan terjadi adalah lost generation, generasi lemah, terutama
dalam pengembangan dan gerakan budaya baca masyarakat
(reading society).
Kegelisahan berikutnya, perpustakaan besar, memiliki
fasilitas yang cukup, buku yang lengkap, SDM yang
memadai, lokasi yang strategis, tetapi pengunjung saban
hari tidak lebih dari hitungan jari. Pengelola bekerja
hanya di bidang administrasi, tanpa mendapat kecakapan
yang lain, social skill pustakawan, psikologi pengunjung,
meningkatkan produktivitas karya tulis, maka perpustakaan
akan dijauhi oleh pemustaka. Ada anggapan sepinya
pengunjung di perpustakaan, bukan tupoksi pustakawan,
karena pustakawan tugasnya mengolah katalog buku.
Padahal seharusnya bukan begitu, karena jika pustakawan
Muhsin Kalida
memiliki pemikiran parsial semacam ini, yang terjadi
adalah perpustakaan sepi, tidak ada kegiatan kreatif yang
merangsang masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaa
Penguatan lembaga perpustakaan di bidang teknik kerja sama, menggalang dana dan simpati publik, serta dilengkapi kegiatan kreatif perangsang minat hadir di perpustakaan
TBM di PKBM: Model dan Strategi Pengembangannya
Buku ini ditulis oleh mereka yang sejak awal tidak punya citacita
menjadi penggerak literasi. Hanya karena resah terhadap
buruknya kualitas sumber daya manusia di sekitar tempat tinggalnya,
mereka, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, menginisiasi
gerakan pemberdayaan masyarakat yang pintu masuknya adalah
gerakan literasi. Kongkretnya, mereka adalah para pegiat Taman
iv
Muhsin Kalida, dkk.
Bacaan Masyarakat (TBM), salah satu program unggulan di Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Berangkat dari kegelisahan yang sama, di sepanjang bulan November
dan Desember 2014, mereka diorganisir oleh Muhsin Kalida
(Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat DIY dan sekaligus
Pengasuh TBM Cakruk Pintar), untuk bersama-sama saling belajar,
berbagi cerita, semangat dan inspirasi, membangun kesadaran
kolektif bahwa gerakan literasi melalui TBM perlu disemarakkan
lebih intensif di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). TBM,
seperti dikemukakan dalam tulisan Heni Wardatur Rohmah berjudul
Mengaktifkan TBM di PKBM, harus dipahami tidak hanya sebagai
program pelengkap PKBM, namun mesti ditempatkan sebagai ruh
dalam setiap kegiatan PKBM.
Dari hasil kumpul-kumpul inilah kemudian tercetus ide untuk
menulis buku. Sebuah buku yang mengupas tentang pengalaman
mereka mengembangkan TBM di PKBM; sebuah pengalaman yang
inspiratif, yang dilaluinya dengan ceria dan riang gembira untuk
mewujudkan generasi masyarakat yang dahsyat. Walhasil, terbitlah
buku yang sedang Anda pegang ini: TBM di PKBM: Model dan Strategi
Pengembangannya. Begitulah, biarpun isi buku yang hendak ditulis
tersebut tidaklah muluk-muluk, namun jangan salah, seperti akan
Anda lihat nanti, banyak cerita dan pelajaran berharga yang dapat
kita pungut sebagi inspirasi menjadi “Duta Gerakan Literasi” di
sekitar rumah kita.
Buku ini tidak akan terbit tanpa sokongan dari berbagai pihak,
yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,
Bapak Ahmad Fauzy (Ketua Yayasan Yasuka Indonesia), Muhsin
Kalida (Ketua FTBM DIY), Rumi Astuti (Ketua TBM Cakruk
Pintar), Heni W. Rohmah (Pemateri), Moh. Mursyid (Pemateri),
Ahmad Said Hasan Basri (Pemateri), dan para pengelola TBM se-
Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi peserta sekaligus
kontributor buku ini: Bigi Pangestuti, Erna Yuliat Puspawati, Sri
v
Suhartini, Gandung Sunarto, Dyah Nurhayati, Suprihatin, Rahman
Afriyanto, Christanti Widyaningsih, Sudarmaji, Nanang Sujatmiko,
RM. Sudarsono, Mujiyanti, Suprihatin, Priyono, Arifah Rosinati.
Tak ada gading yang tak retak. Semoga buku ini bermanfaat
bagi masyarakat terutama bagi pengelola TBM di PKBM di seluruh
Indonesia
Jogja TBM Kreatif
Kita akui, beberapa tahun belakangan ini, Taman Bacaan
Masyarakat (TBM) mendapatkan perhatian besar, baik dari
institusi pemerintah maupun swasta. Berbagai perusahaan juga
mulai menggeliat untuk mengadakan dukungan yang serius
terhadap gerakan minat baca melalui TBM, baik melalui kegiatan
peduli minat baca maupun CSR-nya diarahkan kepada
dukungan pada gerakan minat membaca.
Ini artinya penghargaan kepada gerakan Tebe-emisasi dapat
kita lihat, munculnya Jambore PTK-PNFI yang memasukkan
TBM sebagai salah satu peserta, bantuan dana rintisan, penguatan
maupun program yang lain, anugrah TBM Kreatif dan
Rekreatif dari pemerintah, bahkan tahun 2012 diadakan Festival
TBM secara nasional, merupakan penghargaan yang luar biasa.
Dalam kurun tiga tahun terakhir, dari 300 lebih TBM yang
ada di Jogjakarta, secara berturut-turut setiap tahun selalu ada
yang mendapatkan anugrah TBM Kreatif dan Rekreatif dari
Kemendikbud, suatu hal yang langka, karena setiap tahun
anugrah ini secara nasional pemerintah hanya menyediakan
untuk enam TBM. Artinya hal ini tidak terlepas dari komunikasi dan informasi yang dibangun oleh Forum Taman Bacaan
Masyarakat (FTBM) DI Jogjakarta, baik secara horisontal
maupun vertikal.
Ada tiga lembaga yang direferensi oleh FTBM untuk
dinominasikan mendapatkan anugrah tersebut, dan selalu lolos,
yaitu;
1. Tahun 2010 : TBM Cakruk Pintar, Jl. Nologaten Gg Selada
106A Caturtunggal Depok Sleman Jogjakarta
2. Tahun 2011 : TBM Luru Ilmu, Gersik Sumbermulyo
Bambanglipuro Bantul Jogjakarta
3. Tahun 2012 : TBM Mata Aksara, Jl. Kaliurang km 14 No. 15
A, Yogyakarta
Buku ini, selain menyajikan panduan pengelolaan TBM juga
menampilkan enam prof il TBM Kreatif yang ada di Jogjakarta.
Juga, buku ini mendakat dukungan dan simpatisan langsung
oleh Gubernur DI Yogyakarta dan Dinas Pendidikan, Pemuda
dan Olah Raga DI Yogyakarta
Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri
Buku Gerakan Literasi; Mencerdaskan Negeri yang ada di
tangan pembaca ini merupakan salah satu wujud dokumentasi
atas “pengembaraan literasi” baik secara spiritual maupun
fisik dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat
melalui pintu utama perpustakaan dan Taman Bacaan
Masyarakat (TBM).
Dalam buku ini, pembaca akan banyak menemui ide dan
gagasan terkait buku, ragam opini perpustakaan dan
optimalisasinya, TBM sebagai alternatif, budaya baca, budaya
tulis, dan gerakan literasi. Buku ini tidak hanya berbicara
dalam tataran konseptual tetapi juga praksis yang menjadi
hasil “pengembaraan literasi” penulis.
Melalui buku ini pula penulis ingin menebar benih-benih
literasi yang ada di Nusantara. Yaitu benih yang siap disemai
dan nantinya tumbuh menjadi sebuah pohon, dari pohon
tersebut akan muncul buah yang dapat dinikmati oleh siapa
saja yang ingin menikmatinya.
Akhirnya, penulis berharap buku ini mampu menjadi
motivator bagi para pegiat literasi di Indonesia untuk terus
berkreasi dan berinovasi dalam rangka mencerdaskan negeri
Laporan Penelitian IMPLEMENTASI METODE PSYCHOWRITING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENULIS BAGI SISWA SLTP-SLTA DI KAB. ENREKANG, PROV. SULAWESI SELATAN
Implementasi psychowriting method untuk
meningkatkan kompetensi menulis bagi Siswa SLTP-SLTA di Enrekang, Sulawesi
Selatan, Kab. Tulungagung, Magetan, Yogyakarta, Cirebon, dan Lampung adalah
merupakan metode yang holistik dengan pendekatan multidimensional tentang
pembelajaran kreatif (creative learning), khususnya dalam upaya peningkatan minat
menulis bagi siswa. Aktivitas menulis ternyata tidak sulit, justru mendatangkan
rekonstruksi pikiran dan perasaan, sehingga subjek mampu mengekspresikan apa
yang ada ke dalam sebuah tulisan.
Dalam implementasi psychowriting method untuk meningkatkan minat menulis
siswa, ada lima tahap yang implementatif, yaitu a) persiapan, b) menghadirkan ide
menulis, c) menciptakan suasana (mood), d) pelaksanaan menulis, dan e) tindak
lanjut
- …
