1,720,973 research outputs found

    Pengaruh Waktu Pemulihan Setelah Pertandingan Terhadap Daya Ledak Otot Tungkai Pada Atlet Sepakbola

    No full text
    Olahraga telah menjadi salah satu bidang yang populer di kalangan masyarakat saat ini. Lingkup olahraga tidak hanya sebagai sarana meningkatkan kebugaran, juga sebagai sarana untuk meningkatkan prestasi melalui kompetisi, baik kompetisi nasional maupun internasional. Salah satu bentuk olahraga prestasi yang banyak diminati adalah olahraga sepakbola. Dalam skala internasional dan nasional, hampir semua klub sepakbola mengikuti beberapa kompetisi dalam satu waktu, sehingga jarak antar pertandingan yang harus dijalani klub menjadi dekat. Selain itu, klub-klub sepakbola juga melakukan latihan rutin dan uji coba dengan tim-tim lain sebagai persiapan dalam menghadapi kompetisi untuk meningkatkan kemampuan setiap atletnya. Hal ini mengakibatkan jadwal latihan dan pertandingan bagi para atlet menjadi sangat padat, sehingga waktu pemulihan menjadi singkat. Waktu pemulihan yang cukup singkat ini dapat menyebabkan kelelahan bagi atlet. Menurut Bengtsson et al (2017), waktu pemulihan <3 hari meningkatkan resiko cedera 18-22% dibandingkan dengan waktu pemulihan ≥5 hari. Kelelahan pasca pertandingan diakibatkan oleh beberapa hal, yakni dehidrasi, deplesi glikogen, kerusakan otot, dan kelelahan mental. Salah satu dampak yang dapat mempengaruhi performa atlet adalah deplesi glikogen karena glikogen yang merupakan sumber energi utama bagi otot dan hal ini akan mempengaruhi kekuatan otot yang merupakan faktor yang mempengaruhi daya ledak otot

    KALSIUM DOSIS TINGGI MENCEGAH PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL TOTAL SERUM

    No full text
    Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1). Kadar kolesterol total serum tikus wistar yang diberi diet tinggi lemak selama 30 hari masa perlakuan adalah sebesar 73,14 ± 2,27 mg/d1. 2). Kadar kolesterol total serum tikus wistar yang diberi diet tinggi lemak disertai pemberian suplemen kalsium dosis tinggi selama 30 hari masa perlakuan adalah sebesar 54,33 ± 6.15 mg/d1. 3). Terdapat perbedaan kadar kolesterol total serum yang bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi diet tinggi lemak tanpa suplemen kalsium dengan kelompok perlakuan yang diberi diet tinggi lemak disertai suplemen kalsium dosis tinggi selama 30 hari masa perlakuan. 4). Terdapat perbedaan kadar kolesterol total serum yang bermakna antara kelompok yang diberi diet normal dengan kelompok perlakuan yang diberi diet tinggi lemak disertai suplemen kalsium dosis tinggi selama 30 hari masa perlakuan

    PENGARUH KOPI JENIS ROBUSTA MULTIDOSE TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LAKI-LAKI DEWASA MUDA

    No full text
    Istilah minuman kopi memang sudah tidak asing lagi dalam masyarakat baik di kalangan pria dan wanita, terutama pada efeknya yang dapat merangsang sistem saraf pusat dan dipercaya sebagai anti tidur, bekerja meningkatkan suasana hati, menurunkan kelemahan. dan meningkatkan kapasitas kerja (Suleman & Hameed, 2004). Setelah dilakukan beberapa penelitian, dinyatakan bahwa satu cangkir kopi mengandung 75-200 mg kafein, dimana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah 5-10 mmHg. Sebagaimana di negara lain, kopi di Indonesia umumnya juga dikonsumsi sebagai minuman penyegar. Tercatat pada tahun 1997/1998 jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi adalah kopi jenis Robusta, dan sekitar 78,3% perninatnya berasal dari golongan pria dewasa. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Departemen Kesehatan Indonesia dengan tegas menetapkan kandungan kadar maksimal kafein di dalam minuman tidak boleh melebihi 50 mg. Jika dikonsumsi lebih daripada itu, kafein akan menimbulkan peningkatan resiko serangan jantung, hipertensi, gagal ginjal hingga diabetes. Untuk itulah bagi penderita penyakit jantung, diabetes, maag, hipertensi dapat berhati-hati dalam mengkonsumsi produk yang mengandung kafein. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah ada pengaruh pemberian kopi jenis Robusta mwidose terhadap tekanan darah pada laki-laki dewasa muda dan membuktikan apakah dosis kafein 50 mg tidak berpengaruh terhadap tekanan darah. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh kopi jenis Robusta multidose terhadap tekanan darah pada laki-laki dewasa muda, sehingga nantinya dapat membuktikan bahwa dosis kafein 50 mg dalam kopi jenis Robusta terbukti berpengaruh terhadap tekanan darah pada laki-laki dewasa muda

    Gambaran Jumlah Eosinofil Pada Pekerja Perkebunan Gunung Pasang Dan Kaliputih Yang Terinfestasi Soil-Transmitted Helminthes

    No full text
    Salah satu penyakit tropis yang umum dijumpai pada daerah dengan angka kemiskinan yang tinggi adalah infeksi parasit, terutama infestasi Soil-Transmitted Helminthess. Soil-transmitted helminthess adalah kelompok cacing yang membutuhkan tanah sebagai media pematangan telur dan larvanya. Lebih dari 1,5 milyar orang di seluruh dunia mengalami infestasi STH. Infestasi STH umumnya ditemui pada daerah tropis dengan tanah yang gembur dan curah hujan yang baik. Kabupaten Jember sendiri merupakan salah satu kabupaten di daerah Jawa Timur dengan lahan perkebunan yang mendominasi luas wilayahnya. Penelitian oleh Subagyo (2008) dan Nisa (2010) pada beberapa sekolah dasar di Jember menunjukan bahwa prevalensi kecacingan di Kabupaten Jember ternyata ditemui masih tinggi (>25%). Infestasi STH akan menimbulkan beberapa reaksi pada tubuh manusia, salah satu reaksi imun yang akan muncul adalah eosinofilia. Hal ini dapat terjadi karena eosinofil adalah leukosit utama yang berperan dalam membunuh parasit multiselular yang tak bisa di fagosit terutama cacing. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif untuk memberi gambaran jumlah eosinofil pada pekerja perkebunan yang terinfestasi soiltransmitted helminthes. Subyek penelitian berjumlah 60 orang yang terdiri dari pekerja dua perkebunan. 24 sampel berasal dari pekerja Perkebunan Gunung Pasang di Kecamatan Panti. 36 sampel lainnya berasal dari pekerja Perkebunan Kaliputih di Kecamatan Ledokombo. Pemilihan subyek penelitian menggunakan metode total sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang harus dipenuhi. Tiap responden memberikan sampel fesesnya untuk diperiksa apakah terdapat infestasi STH atau tidak. Pemeriksaan feses dilakukan di Laboratorium Parasitologi FK UNEJ menggunakan 3 metode yaitu metode Kato-katz, floatasi dan sedimentasi. Setiap responden yang terkonfirmasi mengalami infestasi STH selanjutnya diambil sampel darah tepi sebanyak 3ml untuk dilakukan pemeriksaan jumlah eosinofil di Laboratorium Patologi Klinik FK Unej dengan metode differential count. Hasil pemeriksaan feses ditemukan 14 sampel yang terinfestasi STH. Dari 14 sampel itu, 9 sampel terinfestasi oleh Ascaris lumbricoides sedangkan 5 sampel lainnya terinfestasi Hookworm. Prevalensi infestasi STH dari 24 pekerja Perkebunan Gunung Pasang yang diperiksa adalah sebesar 20,83% (5 orang) sedangkan prevalensi infestasi STH dari 36 pekerja Perkebunan Kaliputih yang terinfestasi adalah sebesar 25% (9 orang). 14 responden yang terinfestasi oleh STH selanjutnya diambil sampel darahnya dan diperiksa untuk menentukan jumlah eosinofilia. Dari 14 orang yang terinfestasi, 12 orang mengalami eosinofilia sedangkan 2 orang lainnya memiliki rasio eosinofilia yang normal (2-4%). Ratarata eosinofilia tertinggi didapatkan pada kelompok sampel yang terinfestasi oleh Hookworm yaitu sebesar 9,4% sedangkan kelompok yang terinfestasi A.lumbricoides memeliki rata-rata rasio eosinofilia sebesar 6,67%. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah prevalensi infestasi STH baik di Perkebunan Kaliputih maupun di Perkebunan Gunung Pasang, tergolong prevalensi sedang (20-50%) menurut Permenkes RI nomor 15 tahun 2017. Selain itu, mayoritas pekerja yang terinfestasi STH ditemukan mengalami eosinofilia. Tingkat eosinofilia pada infestasi Ascaris lumbricoides lebih tinggi dari pada tingkat eosinofilia pada infestasi Hookworm

    PEMBERIAN JUS BUAH PEPINO TERHADAP PENURUNAN KOLESTEROL TOTAL DARAH TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIKONDISIKAN HIPERLIPIDEMIA

    No full text
    Hiperkolesterolemia menjadi menakutkan karena dapat mempengaruhi berbagai penyakit kardiovaskuler, salah satunya gagal jantung. Datanya setiap tahun ± 12 juta orang di dunia meninggal karena serangan jantung, sedangkan di Indonesia 20 juta atau sekitar 10% penduduk Indonesia adalah penderita penyakit jantung yang menempati urutan tertinggi penyebab kematian (Depkes, 2003). Pilar utama pengelolaan hiperkolesterolemia adalah upaya non farmakologis yang meliputi modifikasi diet, latihan jasmani serta pengelolaan berat badan (Anwar, 2004). Paradigma baru dalam pangan telah menunjukkan bahwa pangan dapat digunakan sebagai obat atau terapi serta mencegah terjadinya suatu penyakit dengan disebut sebagai pangan fungsional. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh pemberian dari jus buah pepino dalam menurunkan kadar kolesterol darah tikus, dimana pada penelitian ini menggunakan tikus wistar jantan. Penelitian ini menggunakan jus buah pepino yang mengandung banyak serat. Di dalam saluran pencernaan, serat akan mengikat asam empedu (produk akhir kolesterol) dan kemudian dikeluarkan bersama tinja. Semakin tinggi konsumsi serat, semakin banyak asam empedu dan lemak yang dikeluarkan oleh tubuh. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2010-Juni 2010 di Laboratorium Farmakologi-Biomedik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Sampel terdiri dari 30 ekor tikus Wistar jantan yang dipilih secara acak dan dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok yaitu kelompok perlakuan dengan induksi aquabidest dan diet pakan standar AIN 1993 (K1), kelompok perlakuan dengan diet kolesterol dan diet pakan standar AIN 1993 (K2), serta kelompok perlakuan dengan pengondisian hiperkolesterol terlebih dahulu lalu diberi diet jus buah pepino (K3). Variabel yang diukur adalah kadar kolesterol darah tikus sebelum dan sesudah pemberian jus buah pepino. Pengukuran kadar kolesterol total darah tikus berdasarkan hasil tes Multicheck Cholesterol Nesco . Uji analisis data menggunakan Kruskal-Wallis didapatkan perbedaan bermakna sebesar 0,000. Nilai ini lebih kecil dari p-value sebesar 0,05. Sehingga dapat ditarik kesimpulan pemberian diet jus buah pepino (Solanum muricatum) dapat menurunkan kadar kolesterol total pada tikus wistar jantan yang dalam kondisi hiperkolesterol

    Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Edamame (Glycine Max (L) Merril) terhadap Bakteri E. Coli

    No full text
    Penyakit infeksi masih merupakan masalah kesehatan dunia, baik di negara maju maupun berkembang, salah satunya Indonesia. Salah satu penyebab infeksi pada manusia adalah bakteri Escherichia coli. Escherichia coli adalah bakteri berbentuk batang, merupakan bakteri gram negatif, bersifat aerob fakultatif dan diklasifikasikan anggota keluarga dari Enterobacteriaceae dari kelas Gammaproteobacteria. Bakteri ini tumbuh sebagai flora normal di usus manusia dan mempunyai banyak peran penting. Namun bakteri ini dapat menjadi patogen bila jumlah di saluran pencernaan meningkat atau berada di luar usus. Namun seiring perkembangan zaman, bakteri E.coli mengalami resistensi terhadap beberapa antibiotik. Sehingga dibutuhkan alternatif baru. Salah satu alternatif yang dapat berpotensi menjadi antibakteri baru adalah edamame. Edamame merupakan komoditas asli kacang kedelai yang berasal dari Jepang, Terdapat zat antibakteri golongan isoflavon yang terkandung dalam edamame. Genistein merupakan isoflavon utama pada kedelai edamame yang memiliki efek anti inflamasi, antibakteri, dan antioksidan. Genistein, yang merupakan isoflavon kedelai radioprotektif dan inhibitor protein kinase, menghambat dari invasi bakteri patogen pada sel epitel mamalia. Genistein menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Klibsiella pneumoniae pada percobaan secara in vitro. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian true experimental design. Penelitian ini menggunakan rancangan post test only control group design. Sampel penelitian yakni bakteri E.coli yang didapatkan dari stok kultur di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Total sampel utnuk semua kelompok berjumlah 25 terbagi pada lima kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol positif, kelompok kedua sebagai kontrol negatif, dan sisanya yaitu K1, K2, K3 menjadi kelompok perlakuan yang diberi ekstrak etanol biji edamame. Semua kelompok diberi perlakuan penanaman bakteri E.coli pada media MHA, lalu kelompok kontrol positif diberi perlakuan dengan pemberian antibiotik kotrimoksazol, sedangkan kelompok negative dilakukan pemberian DMSO 10%. Pada kelompok perlakuan K1, K2, dan K3 diberi perlakuan dengan pemberian ekstrak etanol biji edamame konsentrasi bertingkat dari 100 mg/ml, 200 mg/ml, dan 400 mg/ml. Setelah itu diinkubasi selama 24 jam dan diamati hasilnya. Hasil rata-rata dan standar deviasi dari diameter zona hambat pada media MHA masing-masing kelompok didapatkan kelompok K(+) 17,820 ± 0,68, kelompok K(-) 0,0 ± 0,0, kelompok K1 0,260 ± 0,89, kelompok K2 0,300 ± 0,707, kelompok K3 0,360± 0,114. Setelah itu dilakukan uji normalitas pada hasil ratarata tersebut menggunakan metode Shapiro-Wilk dan dilakukan uji homogenitas menggunakan Levene’s Test. Pada uji normalitas didapatkan p>0,05 dan pada uji homogenitas didapatkan p<0,05 yang berarti data tersebut normal namun tidak homogen. Hasil rata-rata diameter zona hambat dianalisis menggunakan metode Kruskal-Wallis dan didapatkan p=0,001 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan pada minimal dua kelompok. Setelah itu dilakukan uji post hoc Mann Whitney dan didapatkan perbedaan yang bermakna pada kelompok kontrol positif dan negative terhadap semua kelompok namun tidak ada perbedaan pada kelompok perlakuan, baik kelompok K1, K2 dan K3 terhadap semua kelompok. Hasil dari penelitian ini dapat dijelaskan karena berbagai macam faktor seperti target pada bakteri E.coli tidak dapat dihambat oleh genistein, faktor ekstrak kasar yang masih mengandung glukosa dan perbedaan varian dari kedelai edamame yang dipakai. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tidak terdapat efek antibakteri dari ekstrak etanol biji edamame Glycinne max L. (Merril) terhadap bakteri Eschericieae coli secara in vitr

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    No full text
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    No full text
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    No full text
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore