2 research outputs found
Analisis Semiotik Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca sebagai Media Pembelajaran Matapelajaran Sejarah Indonesia SMA Kelas XII K.D 3.7
ANALISIS SEMIOTIK LAGU JINGGA KARYA BAND EFEK RUMAH KACA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATAPELAJARAN SEJARAH INDONESIA KELAS XII K.D 3.7 Jemy Patriya1 Drs. Kasimanuddin Ismain, M. Pd 2 Indah W. P. Utami, S.Pd., S. Hum., M. Pd 3 Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia Email: [email protected] ABSTRACT: One of the classic problems of history lesson is that it is boring and makes people sleepy when studying it. Based on preliminary observations conducted by the researcher found several results of the research suggested that in history lesson is still less attractive to students and seemed monotonous so it feels boring. In addition, the researcher also found the song entitled Jingga by Efek Rumah Kaca Band which included the lyrics of figures who has historical story but not many people know what the background of it. From the problems above, the researcher tries to make the song lyrics of Jingga by Efek Rumah Kaca Band as an learning media for Indonesian History lesson. The aim of this research is to describe the semiotic meaning of the song lyrics of Jingga by Efek Rumah Kaca Band as learning media on subjects in Indonesian History class XII. This research uses a qualitative approach. This research is conducted with a type of semiotic research. The data collection in this research uses documentation techniques. Documentation techniques were chosen because in this research, the data sources used were written sources, namely song lyrics. The unit of analysis in this research uses words as the main focus. This is because the researcher wants to examine the meaning contained in each word in the song lyrics of the Jingga. The collection techniques itself using interpreting the text contained in the Jingga song, so that the meaning contained in the lyrics can be drawn. The result showed that the song lyrics of the Jingga by Efek Rumah Kaca Band has a meaning within it that contained historical events. The event was about disappearance of 13 people from pro-democracy activists in 1997-1998, which was not found until this research was conducted. This song also can be used as an learning media for Indonesian History subject. It is due to the background of the Jingga song by Efek Rumah Kaca Band contained in the K.D (basic competency) 3.7 in the class XII Indonesian History subject on the learning material about the impact of economic and political policies during the New Order period. From this research, the researcher recommends that the Jingga song by Efek Rumah Kaca Band be used as an learning media for Indonesian History lesson. Keywords : Semiotic, Learning Media, Indonesian History Sejarah pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang kehidupan manusia pada masa lampau. Materi sejarah yang menceritakan peristiwa masa lampau menuntut perlu adanya unsur keindahan dalam penulisannya ataupun penyampaiannya agar terlihat menarik dan memunculkan ketertarikan dalam mempelajari sejarah itu sendiri. Kuntowijoyo (2013: 52) menyebutkan bahwa sejarah memerlukan intuisi, sejarah memerlukan imajinasi, juga sejarah memerlukan emosi, dan bagaimana sumbangan seni bagi sejarawan. Seni juga sangat diperlukan dalam penulisan sejarah untuk menciptakan suatu keindahan dalam penulisan sejarah sehingga akan lebih meningkatkan minat pembaca. Dari berbagai macam seni yang ada, musik adalah salah satu seni yang menarik untuk dikaji dalam sejarah. Musik dalam dunia sejarah bukanlah istilah yang asing lagi. Musik digunakan sebagai alat propaganda oleh beberapa negara. Salah satunya adalah Bangsa Indonesia. Penyebarluasan lagu di masa kolonial Hindia Belanda, bukan saja dilakukan oleh organisasi politik, tetapi juga pers dan dunia dagang. Sama halnya dengan masa lalu, musik di Indonesia pada masa sekarang pun banyak yang memiliki fungsi lain salah satunya digunakan sebagai alat untuk mengkritik. Salah satu pemusik yang aktif menyuarakan tentang hal itu adalah Band Efek Rumah Kaca. Efek Rumah Kaca atau biasa dipanggil ERK ini merupakan Band Indie yang beraliran musik popular atau pop. Adrian Yunan Faisal (dalam Mubarok, 2013: 27) mengemukakan bahwa komposisi dari lagu yang di ciptakan oleh ERK sebangun dengan tema agar musik yang dihasilkan tidak hanya sekedar hiburan saja. Lirik harus mengandung unsur refleksi dan pesan dari realitas yang ingin disampaikan. Lirik yang terkandung dalam lagu-lagu milik ERK memiliki makna yang tersirat dan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran, tidak terkecuali pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah menekankan pada tujuan pembelajarannya, namun dalam pelaksanaannya masih terdapat banyak permasalahan Sejarah terkenal sebagai mata pelajaran yang membosankan dan membuat orang cepat mengantuk, hal ini tentu saja membuat sebagian orang tidak tertarik. Permasalahan dalam pembelajaran sejarah perlu adanya tindakan yang nyata untuk mencari solusi pemecahannya Salah satunya adalah dengan mencari media pembelajaran sejarah yang di arahkan untuk menumbuhkan motivasi, minat, dan kreatifitas siswa. Dari permasalahan di atas peneliti mencoba mencari salah satu pemecahan masalah dalam pembelajaran sejarah yaitu dengan menggunakan media lagu. Lagu Jingga dari ERK merupakan media yang solutif untuk memecahkan permasalahan pembelajaran sejarah. Lagu Jingga juga sangat relevan dengan materi pembelajaran sejarah khususnya pada materi dampak kebijakan politik Orde Baru yang terdapat pada kurikulum pembelajaran KD 3.7 matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII. Lagu Jingga dipilih karena di dalam liriknya ada beberapa kata-kata yang memiliki relevansi dengan peristiwa yang terjadi pada masa pergantian rezim. Namun yang menjadi permasalahan adalah penikmat musik tidak mengetahui makna yang terkandung dalam lirik dan peristiwa yang melatarbelakangi terciptanya lagu Jingga ini. Para penikmat musik tidak mengetahui bahwa dibalik lagu tersebut ada peristiwa sejarah. Untuk itu peneliti mencoba mencari makna dari lirik lagu Jingga karya ERK agar dapat digunakan sebagai media pembelajaran pada matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Berangkat dari permasalahan ini peneliti ingin mengkaji lirik lagu Jingga karya Efek Rumah Kaca sebagai media pembelajaran matapelajaran Sejarah Indonesia. Media pembelajaran memang perlu selalu diteliti dan di kritisi agar permasalahan pembelajaran sejarah khususnya dapat diselesaikan dengan baik. Peneliti mengambil lirik lagu Jingga karya Efek Rumah Kaca dikarenakan terdapat lirik-lirik yang mengandung tokoh dan peristiwa sejarah yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran pada matapelajaran sejarah, elain itu agar pembelajaran sejarah tidak monoton dan menjadikan pembelajaran sejarah lebih bervariatif. Penelitian ini dilakukan menggunakan analisis semiotik model Roland Barthes, penggunaan analisis semiotik ini karena objek kajiannya merupakan makna yang terkandung di dalam teks lirik lagu. Melalui analisis semiotik Roland Barthes ini diharapkan akan diperoleh informasi baik yang tertulis di dalam lirik lagu maupun yang tersirat secara lebih mendalam. Informasi yang tersirat ini akan diolah oleh peneliti agar dapat difungsikan menjadi media pembelajaran sejarah pada materi yang terdapat pada kurikulum 2013 Kompetensi Dasar 3.7 matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII. Adapun rumusan masalah yang dapat diajukan dan bisa membawa pemahaman pada topik yang dibahas, yaitu mengenai bagaimana makna semiotik lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas permasalahan yang dibahas yakni mendeskripsikan makna semiotik lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca sebagai media pembelajaran pada matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian semiotik. Metode semiotik bersifat kualitatif interpretatif, atau dapat dijelaskan bahwa metode tersebut memfokuskan pada tanda dalam teks sebagai objek kajian, serta bagaimana peneliti menafsirkan dan memahami kode dibalik tanda dan teks tersebut dan memberikan kesimpulan yang komprehensif mengenai hasil penafsiran dan pemahaman yang telah dilakukan. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer pada penelitian ini adalah Transkrip lirik Lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca dari CD original album Sinestesia. Data sekunder dari penelitian ini adalah sumber-sumber tertulis seperti artikel ilmiah yang membahas mengenai analisis Lirik lagu Band Efek Rumah Kaca, media online resmi efekrumahkaca.net, selain itu ada banyak dokumen-dokumen, dan sumber pendukung lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi dipilih karena dalam penelitian ini sumber data yang digunakan merupakan sumber tertulis yaitu lirik lagu. Unit analisis dalam penelitian menggunakan kata sebagai fokus utama. Teknik pengumpulan sendiri dengan menggunakan cara interpretasi teks yang terdapat pada lagu Jingga sehingga dapat ditarik makna yang terkandung dalam liriknya. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan cara sebagai berikut: 1. Pada tahap yang pertama peneliti akan mengelompokan dan memilah kata-perkata pada lirik lagu Jingga per kata agar mempermudah analisis. 2. Setelah dikelompokan peneliti akan mencari makna denotatif dari liri-lirik tersebut. 3. Setelah dikelompokan dan diketahui makna denotatifnya maka peneliti akan mencari makna konotatifnya. 4. Setelah diketahui denotatif dan konotatifnya maka peneliti akan menetukan simbol. 5. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi Berdasarkan jenis penelitian yang digunakan, peneliti melakukan pengecekan keabsahan temuan dengan metode ketekunan pengamat. Ketekunan pengamatan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Sugiyono (2016: 370) mengemukakan bahwa dengan meningkatkan ketekunan maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Berdasarkan pemaparan diatas maka peneliti melakukan pengecekan awal tentang bentuk media pembelajaran Sejarah Indonesia yang terdapat pada lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca yang kemudian akan diuraikan dalam bentuk analisis secara deskrptif. Setelah peneliti selesai melakukan analisis, maka akan dilakukan kembali pengecekan data mulai dari awal yang terkandung di dalam lirik, data-data yang terkumpul, hingga data yang telah dianalisis oleh peneliti untuk meminimalisir kesalahan yang ada. Pengecekan data ini akan dilakukan terus menerus hingga peneliti yakin bahwa hasil yang telah diperoleh tidak ada kesalahan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis yang relevan dengan analisis semiotik. Peneliti menggunakan analisis data yang dikembangkan oleh Roland Barthes. Analisis ini menekankan pada makna denotatif dan makna konotatif yang terkandung di dalam sebuah tanda. Makna konotatif sendiri dalam hal ini adalah makna denotatif (makna yang sebenarnya) ditambah dengan segala gambaran, ingatan, dan, perasaan yang ditimbulkan oleh kata tersebut. Makna konotatif ini mengarah kepada makna-makna kultural yang berbeda dengan kata (Sobur, 2006: 262). Peneliti memilih model ini karena sesuai dengan fokus penelitian yakni analisis lirik lagu yang digunakan sebagai media pembelajaran pada matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Adapun kerangka analisisnya dapat digambarkan dengan peta tanda dari Roland Barthes sebagai berikut. 1. Signifer (Penanda) 2. Signified (Petanda) 3. Denotative Sign (Tanda Denotatif) 4. Conotative Signifer (Penanda Konotatif) 5. Conotative Signified (Petanda Konotatif) 6. Conotative Sign (Tanda Konotatif) Disadur dari Sobur (2006: 69) Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4) (Sobur, 2006: 69). Hasil Efek Rumah Kaca adalah Band indie yang dibentuk di Jakarta pada tahun 2001. Band ini beranggotakan Cholil Mahmud sebagai vokalis, Adrian Yunan Faisal sebagai pemain bass, dan Akbar Bagus Sudibyo sebagai pemain drum. Dari tahun 2001 hingga tahun 2019, Band Efek Rumah Kaca telah meluncurkan 3 album. Lagu Jingga merupakan salah satu lagu dalam album ketiga Band Efek Rumah Kaca yang berjudul Sinestesia. Album tersebut dilucurkan pada 22 Desember 2015. Pada album ini Efek Rumah Kaca Menggunakan Label Demajors Independent Music Industry sebagai distributor pemasaran album mereka. Dalam lagu Jingga terdapat 3 judul lagu. Judul yang pertama adalah Hilang, kemudian judul yang kedua adalah Nyala Tak Terperi, dan judul lagu yang ketiga adalah Cahaya, Ayo Berdansa. Dari ketiga lagu itu, penelitian lebih fokus terhadap lirik lagu hilang. Lagu kedua yang berjudul Nyala Tak Terperi tidak terdapat lirik mengenai peristiwa sejarah dan menurut Cholil sendiri lagu ini adalah lagu yang diciptakan oleh Adrian Yunan dan menceritakan tentang sakit yang dialaminya. Sedangkan pada lagu ketiga yang berjudul Cahaya, Ayo Berdansa merupakan lagu instrumentasi atau hanya alunan musik tanpa disertai lirik jadi lagu ini tidak dapat dianalisis. Pada penelitian kali ini yang akan dianalisis adalah fragmen Hilang. Lirik lagu Hilang ini diciptakan oleh Cholil Mahmud yang merupakan vokalis Band Efek Rumah Kaca. Cholil (2018: 120) mengatakan bahwa Lagu Hilang ini tercipta pada tahun 2010 ketika ERK beberapa kali mengikuti Aksi Kamisan untuk mempelajari bagaimana para peserta aksi rata-rata adalah keluarga korban penghilangan aktivis 1997-1998 yang memiliki semangat yang tak pernah putus untuk menuntut keadilan. Lagu Hilang tercipta sebagai upaya untuk memetik pelajaran dan menyebarluaskan semangat aktivisme Aksi Kamisan. Lagu Hilang ini masuk dalam album kompilasi PEACE yang digagas oleh Buffetlibre dan Amnesty Internasional. Amnesty Internasional sendiri merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam bidang HAM. Album ini berisikan 50 lagu baru dari berbagai negara di dunia. Indonesia diwakili oleh 3 Band indie yakni Efek Rumah Kaca, White Shoes and The Couple Company, dan Mocca. Tujuan diadakannya album ini adalah untuk mengkampanyekan mengenai pencegahan dan penyelesaian pelanggaran HAM yang terjadi di seluruh dunia. Berdasarkan analisis yang dilakuakan, terdapat beberapa temuan penelitian yaitu sebagai berikut: a. Korelasi lirik lagu Jingga dengan materi Sejarah Indonesia Korelasi yang dimaksud adalah keterkaitan antara lirik lagu dengan media pembelajaran sejarah. Lirik lagu yang di gunakan adalah lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca, sedangkan materi yang dipilih adalah tentang peran pelajar, mahasiswa dan pemuda dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia yang terjadi pada tahun 1997-1998. Materi ini dipilih karena ada kaitannya dengan peristiwa dan tokoh-tokoh yang ada di lirik lagu Jingga. Selain itu materi ini juga ada dalam kurikulum 2013 matapelajaran Sejarah Indonesia. Beberapa hal yang dapat dijadikan landasan Lirik Lagu Jingga dapat digunakan sebagai media pembelajaran sejarah matapelajaran Sejarah Indonesia adalah sebagai berikut. 1. Permendikbud No. 24 Tahun 2016 pada lampiran matapelajaran Sejarah Indonesia. Tabel 4.1 KI dan KD Materi yang memiliki hubungan dengan lagu Jingga KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 3. memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan 3.7. Mengevaluasi peran pelajar, mahasiswa, dan pemuda dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia 4. 7. Menulis sejarah tentang peran pelajar, mahasiswa, dan pemuda dalam peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia Disadur : Permendikbud No. 24 Tahun 2016 2. lirik lagu Jingga juga memiliki keterkaitan pada materi pembelajaran sejarah pada materi masa akhir Orde Baru dan masa awal Reformasi bahkan masih relevan untuk dibicarakan pada masa sekarang karena menurut UU internasional kasus penghilangan paksa itu tidak memiliki batas kedaluarsa (Statute of Limitations). Sebagaimana diatur dalam prinsip untuk perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia melalui tindakan untuk memberantas impunitas Pasal 23, guna menjamin hak atas upaya hukum yang efektif, tidak ada waktu kadaluwarsa yang bisa diterapkan untuk tindakan pidana, perdata atau administratif yang diajukan korban yang berusaha mendapatkan reparasi untuk cedera mereka. (Amnesty International, 2011: 23) 3. Pada lirik lagu Jingga terdapat nama-nama korban penghilangan secara paksa yang dikategorikan sebagai pelanggaran HAM. Materi mengenai pelanggaran HAM juga di temukan pada buku siswa mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XII pada halaman 140. 4. Selain itu korban-korban yang dihilangkan secara paksa atau diculik memiliki latar peristiwa yang sama yaitu terjadi pada kurun waktu 1997-1998 saat masa-masa akhir Orde Baru berkuasa. Materi ini tercantum pada Buku Siswa Sejarah Indonesia kelas XII halaman 147-151. 5. Materi tentang penghilangan secara paksa atau penculikan aktivis 1997-1998 tidak disebutkan secara tertulis pada buku sejarah Indonesia kelas XII namun kejadian ini termasuk dampak dari kebijakan politik orde baru yang merupakan kejahatan pelanggaran HAM yang tertulis pada buku Sejarah Indonesia kelas XII. Orang-orang yang dihilangkan secara paksa atau diculik yang tercantum pada lirik lagu Jingga ini merupkan korban-korban dari dampak terjadinya krisis politik dan krisis ekonomi pada masa Orde Baru. Namun orang-orang itu tidak tercantum pada buku pelajaran. Meskipun demikian peristiwa penghilangan para aktivis pada tahun 1997-1998 juga merupakan dampak dari kebijakan politik pada masa akhir Orde Baru. Sepintas lagu ini terdengar seperti lagu pada umumnya, namun pada lirik yang menyebutkan tentang nama-nama korban yang dihilangkan secara paksa atau diculik ini belum banyak siswa mengetahui peristiwa apa yang ada dibalik lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca tersebut. Untuk itulah peneliti mencoba melakukan analisis semiotik tentang lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini agar dapat digunakan sebagai media pembelajaran Sejarah Indonesia pada materi kelas XII tentang dampak kebijakan politik yang terjadi pada menjelang masa akhir Orde Baru. Setelah diketahui makna dan diketahui memiliki korelasi dengan materi pembelajaran sejarah maka selanjutnya adalah cara pemanfaatan dan penerapannya dilapangan. Pemanfaatan Lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca pada pembelajaran sejarah dapat dilakukan dengan menggunakan saran dari Turner-Bisset (2005: 137) yang memberikan saran-saran berikut ketika menggunakan lagu di kelas sejarah: a). Pilih lagu di sekitar tema yang terkait dengan konten historis sehingga lagu tersebut menjadi sumber bukti lain untuk digunakan bersama orang lain. Setelah melakukan analisis diketahui bahwa lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca memiliki korelasi dengan materi pembelajaran sejarah jadi dapat digunakan sebagai media pembelajaran b). Mengekstrak informasi dari lagu sebagai teks. Dalam tahap ini siswa dapat mencari tahu makna pada lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca c). Biarkan para siswa membandingkan sumber-sumber yang berbeda secara berdampingan untuk membantu membandingkan apa yang dikatakan oleh berbagai jenis sumber. Pada tahap ini siswa diberikan kesempatan yang luas untuk riset dari manapun yang dapat mereka akses baik dari buku, internet, maupun sumber lainnya yang terkait dengan materi sejarah dan lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca. d). Nyanyikan dan mainkan lagu asli untuk kesenangan. Lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca dapat diputar di kelas agar siswa mengetahui seperti apa lagunya dan siswa juga dapat menikmati pembelajarannya karena tidak monoton pada teks saja. e). Ajukan pertanyaan tentang lagu-lagu seperti mengapa lagu-lagu ditulis dan siapa yang menulis lagu. Guru dapat menanyakan dan memberi tugas kepada siswa mengenai mengapa lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini di tulis. Penugasan ini dilakukan agar siswa memahami peristiwa sejarah yang melatarbelakangi terciptanya lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini. b. Analisis Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca a. Analisis Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca 1. Analisi Denotatif pada lirik Jingga Tabel 4.2 Analisis denotatif lirik lagu Jingga No Objek Penelitian Denotatif 1 Rindu kami seteguh besi Rindu adalah perasaan ingin bertemu seseorang. Kami menggambarkan objek melebihi satu atau jamak. Seteguh besi adalah gambaran untuk sesuatu yang sangat keras atau kuat sekeras besi. Bisa dikatakan bahwa kalimat ini menggambarkan sekelompok orang yang sedang rindu yang teramat sangat. 2 Hari demi hari menanti Menunggu dengan waktu yang lama 3 Tekad kami segunung tinggi tekad adalah perasaan atau niatan. Kami menunjukan jamak. Segunung tinggi menggambarkan bahwa keinginan yang sangat kuat 4 Takut siapa? Semua hadapi Tidak ada perasaan takut dan yang ditakuti sama sekali 5 Yang hilang menjadi katalis Kata Yang hilang maksudnya adalah orang yang diculik. Katalis adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru
The Market Maven, a new ally in the diffusion of innovations process
The initial motive for undertaking this research, was a desire to better understand those
factors which were said to affect the diffusion of ethnic foods. In attempting to develop
the general methodology for this study, the author revisited seminal studies on
diffusion of innovations, word-of-mouth, opinion leadership, and innovator / early
adopter influence. During this process, the author discovered Feick and Price's (1987),
emergent "Market Maven", theory. Said to be distinctly different from opinion leaders
and early adopters, market mavens were not only believed to have a higher awareness
of general marketplace information, but also more source credibility than other word-
of-mouth influencers. Employing a replication study approach, a telephone survey of
400 households in urban, suburban and rural north Bedfordshire was undertaken. The
author found that the market maven construct was not a purely US phenomenon, but
was also present in the UK. Developing further Feick and Price's (1987) preliminary
investigations, this study confirmed that (in common with related opinion leadership
studies), it had not been possible to identify market mavens using demographic / socio-
economic variables. VAiilst classifying market mavens remained problematic, the
author was nonetheless able to confirm Feick and Price's (1987) earlier findings, that
market mavens had an inherently increased propensity for general marketplace
information gathering. As this behaviour was considered by the author to be unique to
market mavens, the construct was employed to test those factors, said to affect ethnic
food diffusion, with interesting, if largely inconclusive results.
The author concluded, that the potential of the market maven construct in the diffusion
of innovations process was significant, particularly as a conduit for internal word-of-
mouth information in the business-to-business / industrial marketing context. In that
situation, market mavens' heightened awareness of, and active search for, general
marketplace information, would make them ideal targets for the type of marketing
communication message that innovators and opinion leaders alike, reputedly ignore
