35 research outputs found
Fenomena Makam Syekh Papan Tinggi Sebagai Wisata Religi di Desa Panggahan Kecamatan Barus Kabupaten Tapanuli Tengah
Syekh Papan Tinggi is a scholar who has named Syekh Mahmud Al Muhtazan which came from Yaman. He was came to Barus Indonesia for carrying Islamic religious. The purpose is to trade kapur barus , they live in Indonesia to teach the knowledge of Islamic religious and Tajwid. Syekh Machmud was carrying Islamic Religious since the 7th-17th century. In 1990, the Government of Barus create a grave of Syekh Papan Tinggi as a muslim tour destination was located in village of Pananggahan have surrounded by non muslim society. The location of this destination serve as a livelihood of the social community in the village of everyday life.
This research was conducted in the village of Pananggahan Kec. Barus. The purpose of this research to find out the phenomena of existence Syekh Papan Tinggi grave as a muslim religious destination has been made as a muslim and non muslim destination. The method in this research use qualitative approach with descriptive . In determining the informant using purposive sampling technique informant taken is qualified in research. Method of data collection using questionnaires, interviews, observation and documentaries. Data analysis technique is done by data reduction , data presentation and conclusion.
The result of this reseach indicate the reason of the social community in village of Pananggahan for manage the destination of Syekh Papan Tinggi grave are 1. Solidify the relationship in the society surrounded of the grave, between muslim and non muslim traders and the muslim and non muslim visitors. 2. Interaction between the society surrounded the grave and with the muslim and non muslim visitors.3. cooperate to maintain the location of the destination .4 As the place for trade to fill the necessity in everyday life.Syekh Papan Tinggi adalah seorang ulama yang bernama Syekh Mahmud Al-Mutahzam yang datang dari negeri Yaman, yang datang ke Barus, Indonesia untuk menyiarkan agama Islam. Tujuan dari para ulama adalah untuk berdagang kapur barus, kemudian tinggal di nusantara sambil mengajarkan ilmu agama Islam dan ilmu pengetahuan Tajwid. Syekh Mahcmud menyiarkan agama Islam sejak abad ke 7-17 Masehi. Pada tahun 1990, pemerintah kota Barus menjadikan makam Syekh Papan Tinggi menjadi tempat wisata muslim, dan berada di Desa Pananggahan ini dikelilingi oleh masyarakat non muslim. Lokasi wisata ini dijadikan sebagai tempat mata pencaharian masyarakat di desa sekitarnya dalam sehari-harinya
Penelitian ini dilakukan di Desa Pananggahan Kecamatan Baru Kabupaten Tapanuli Tengah. Adapun tujuan peneliti ini adalah untuk lebih mengetahui fenomena keberadaan makam Syekh Papan Tinggi sebagai wisata religi yang telah telah dijadikan sebagai tempat wisata muslim dan non muslim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pendekatan Kualitatif dengan Deskriptif. Dalam menentukan informan menggunakan teknik purposive sampling. Informan yang diambil adalah memenuhi syarat dalam penelitian. Metode pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner, wawancara mendalam, observasi dan dokumenter. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan.
Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa, alasan masyarakat Desa Pananggahan ikut serta mengurus tempat wisata makam Syekh Papan Tinggi yaitu (1) mengeratkan hubungan antara penduduk di sekitar makam, antara pedagang yang beragama Islam dengan pedagang yang bukan beragama Islam, antara pengunjung yang beragama Islam dengan pengunjung makam yang bukan beragama Islam (2) saling berintraksi antara penduduk di sekitar makam dengan pengunjung makam, baik yang beragama Islam maupun yang bukan beragama Islam (3) bekerjasama dalam mengurus lokasi wisata (4) sebagai tempat berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Skripsi Sarjan
Kajian Sosiologi Pendidikan dalam Konteks Belajar Mengajar : Perbandingan Pandangan Siswa SMAN 3 Medan dan siswa SMAN 1 Sibolangit Terhadap Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Guru Honor
Education is a tool that will determine the human model that will result. Teachers are one of the educators who are considered popular because dealing directly with students or learners. In this study, the focus is on students 'views on how to teach teachers in the classroom to attract students' interest in the teaching-learning process delivered by teachers. Teachers intended in this study are Honor teachers and civil servant teachers. Is there a different way of teaching given by the teacher in teaching and which teacher is more desirable in the teaching and learning process that is done. This research was conducted in SMA Negeri 1 Sibolangit Deli Serdang Regency and SMA Negeri 3 Medan.
This research use descriptive research method by using quantitative approach. With the data source of questionnaires and interviews filled by the students. Sampling method using Total Sampling with a total sample of 180 students consisting of 85 students SMAN 1 Sibolangit and 95 students SMAN 3 Medan. Data analysis was performed using single table analysis technique and cross table.
From the results of research conducted, SMAN 3 Medan on teaching and learning process conducted by civil servant teachers or even honor teachers in SMAN 3 Medan, showed that students are more interested in teachers Honor. Due to several factors in the process of teaching and learning in the classroom. As in terms of appearance, the appearance of honor teachers tend to be more attractive and fashionable compared to civil servant teachers. SMAN 1 Sibolangit school shows more interest to civil servant teachers than Honor teachers. By the existence of various factors such as civil servant teachers are more authoritative and experienced in teaching, another case with teachers honor less in insightful in learning.Pendidikan merupakan sarana yang akan menentukan model manusia yang akan dihasilkannya. Guru merupakan salah satu tenaga pendidik yang dianggap popular karena berhadapan langsung dengan siswa atau peserta didik. Dalam penelitian ini yang difokuskan adalah pandangan siswa terhadap cara mengajar guru di dalam kelas untuk menarik minat siswa terkait proses belajar mengajar yang dibawakan oleh guru. Guru yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah guru Honor dan guru PNS. Adakah perbedaan cara mengajar yang diberikan oleh guru tersebut dalam mengajar dan guru manakah yang lebih diminati dalam proses belajar mengajar yang dilakukan. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Sibolangit Kabupaten Deli Serdang dan SMA Negeri 3 Medan.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian dekriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Dengan sumber data dari kuesioner dan wawancara yang diisi oleh para siswa-siswi . Metode pengumpulan sampel menggunakan Total Sampling dengan total sampel 180 siswa yang terdiri dari 85 siswa SMAN 1 Sibolangit dan 95 siswa SMAN 3 Medan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis tabel tunggal dan tabel silang.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, SMAN 3 Medan tentang Proses belajar mengajar yang dilakukan oleh Guru PNS atau pun Guru Honor di SMAN 3 Medan, menunjukan bahwa siswa lebih tertarik kepada guru Honor. Dikarenakan oleh beberapa faktor dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Seperti halnya dari segi penampilan, penampilan guru honor cenderung lebih menarik dan modis dibandingkan dengan guru PNS. sekolah SMAN 1 Sibolangit menunjukan adanya lebih ketertarikan kepada guru PNS dibanding guru Honor. Oleh adanya berbagai faktor seperti guru PNS lebih berwibawa dan berpengalaman dalam mengajar,lain halnya dengan guru honor yang kurang dalam berwawasan dalam pembelajaran.Skripsi Sarjan
Pendidikan Homeschooling dan Modalitas Sosial Pelajar di dalam Keluarga
This research is motivated by the concern of parents that their children will
become victims of an unhealthy school environment and outside of school.
Although not all children at school become perpetrators of violence. Through
homeschooling, parents can actually better direct the development and growth of
children according to their talents and interests. Because the results of this
education are more personal and flexible. Parents feel that the child's education
starts from the family. The family is a place for the development and growth of
children. Some of the reasons behind parents choosing homeschooling include so
that children have satisfactory learning achievements, poor school learning
environment and religious reasons. Parents' concerns can be enlightened by the
presence of homeschooling which seeks to meet the specific educational needs of
the family because homeschooling does have a customized nature so that it can be
adapted to the conditions of each family. This study aims to describe the
modalities of students who take homeschooling education. This study uses the
theory of DePorter and Hernacki and uses a descriptive research method with a
qualitative approach. The method of taking the research subject is by using
purposive sampling. While the data collection techniques are by means of
observation, interviews, and documentation. The location of this research was
conducted in Medan City, North Sumatra Province. The results obtained from this
study indicate that teachers in homeschooling learning activities explain more
about learning materials. Means, the teacher familiarizes students to learn with
an auditory learning style. Of the 15 students who took homeschooling the most
dominant applied the auditory learning style as many as 7 people, followed by the
visual learning style 5 people and only 3 people had the characteristics of the
kinesthetic learning style.115 HalamanSkripsi Sarjan
Generasi Kedua Petani Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Kelapa Sawit Desa trans Sosa Kecamatan Hutaraja Tinggi Kab. Padang Lawas: Perubahan Kepemilikan Lahan dan Hubungan Sosial Diantara Para Petani
Farmers are creative people with an economic culture characterized by a rational economy as Samuel L. Popkin studies. Attitudes and thoughts that plasma farmers have in decision making for the long or short term are always based on rational choices. Moving from their home areas to new areas in the PIR program (Nucleus Estate Smallholder) by taking the considerations and risks that will be obtained. In this case, the first generation of PIR farmers take consideration to making decisions for the distribution and determination of the plasma plantation heirs.
This research was conducted In the village of Pir Trans Sosa Kecamatan Hutaraja Tinggi Kabupaten Padang Lawas. The purpose of this research, is to know various problems of land ownership change in the next generation. The method used in this research is using qualitative and descriptive approach. the selection of informants determined by purposive sampling technique. The informant that taken in this research are who qualified for this research.The Methods of data collection using questionnaires, interviews, observations and documentaries. Data analysis technique is done by data reduction, data presentation and conclusion.
The research results indicate that, the division of land that has been done and that has been planned based on customary law, Islamic inheritance law and mutual agreement. While in the PIR law between the nucleus and plasma, that ownership of plasma plantation is owned by one name and should not be split its ownership. So in this case, many peasant children are forced out of the PIR location and looking for work outside the PIR location.Petani adalah orang-orang yang kreatif dengan budaya ekonomi yang bercirikan ekonomi rasional seperti yang dikaji Samuel L.Popkin. Sikap dan pemikiran yang dimiliki petani plasma dalam pengambilan keputusan dalam jangka panjang dan pendek selalu didasarkan pada pilihan-pilihan rasionalnya. Berpindah dari daerah asal mereka ke daerah baru pada program PIR (Perkebunan Inti Rakyat) dengan memperhitungkan pertimbangan-pertimbangan serta resiko-resiko yang akan diperolehnya. Dalam hal ini, petani PIR generasi pertama melakukan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk pembagian dan menentukan ahli waris kebun plasma.
Penelitian ini dilakukan di desa Pir Trans Sosa Kecamatan Hutaraja Tinggi Kabupaten Padang Lawas. Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui bentuk persoalan perubahan kepemilikan lahan pada generasi kedua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekataan kualitatif dengan deskriptif. Dalam menentukan informan menggunakan teknik purposive sampling, Informan yang diambil adalah yang memenuhi syarat dalam penelitian. Metode pengumpulan data dengan mengunakan kuesioner, wawancara, observasi dan dokumenter. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Adapun hasil penelitian menujukan bahwa, pembagian lahan yang telah dilakukan dan yang telah direncanakan berdasarkan Hukum adat, hukum waris Islam dan kesepakatan bersama. Sedangkan pada peraturan Undang-Undang PIR antara inti dan plasma, bahwa kepemilikan kebun plasma dimiliki atas satu nama dan tidak boleh dipecah-pecah kepemilikannya. Sehingga dalam hal ini, banyak anak petani yang terpaksa keluar dari lokasi PIR dan mencari pekerjaan di luar lokasi PIR.Skripsi Sarjan
Rasa Sepi: Kehidupan Orang Tua Lanjut Usia Sepanjang Hari dalam Keluarga pada Masyarakat Pesisir di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Provinsi Sumatera Utara (The Relationship Between The Lives Of Elderly Parents Throughout The Day In a Family With Loneliness)
Pada umumnya masalah yang paling banyak terjadi pada lanjut usia adalah
kesepian. Kesepian merupakan hal yang bersifat pribadi dan akan ditanggapi
berbeda oleh setiap orang, bagi sebagian orang kesepian merupakan yang bisa
diterima secara normal namun bagi sebagian orang kesepian bisa menjadi sebuah
kesedihan yang mendalam. Dukungan keluarga merupakan bagian dari dukungan
sosial yang berfungsi sebagai sistem pendukung anggota-anggotanya dan
ditujukan untuk meningkatkan kesehatan dan proses adaptasi. Bahwa Kesepian
yang di derita lanjut usia dan menurunnya derajat kesehatan mengakibatkan
seseorang lansia secara perlahan-lahan menarik diri dari pergaulan di lingkungan
sekitarnya. Penelitian ini untuk Mengetahui rasa sepi pada lanjut usia dalam
kehidupan sehari-hari dalam keluarga.
Penelitian ini menggunakan metode campuran kualitatif dan kuantitatif.
Dalam penelitian ini, pemilihan sampel/responden sebagai unit penelitian
dilakukan dengan metode simple random sampling (acak sederhana). Populasi
dalam penelitian ini adalah penduduk lanjut usia yang bertempat tinggal di
Kelurahan Belawan Sicanang dengan sampel yang dipilih secara acak. Jumlah
populasi yaitu 756 jiwa. Responden dalam penelitian ini sebanyak 75 orang
responden.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa masyarakat lanjut usia di Lingkungan
XII kelurahan Belawan Sicanang terdapat banyak responden merasakan dari
indikator kesepian. Dari 75 Responden, terdapat sebanyak 61 responden dengan
nilai persentase (79,2%) mengalami merasa terasing dan terkucil. sebanyak 45
responden dengan nilai persentase (58,4%) mengalami merasa tidak mempunyai
harapan. 61 responden dengan nilai persentase (79,2%) mengalami merasa rendah
diri. sebanyak 57 responden dengan nilai persentase (74,1%) mengalami merasa
takut sendirian. Keluarga seharusnya selalu menjadi perantara bagi lansia untuk
berhubungan dengan kerabat lain seperti sepupu, keponakan dan juga temantemannya
yang mungkin sudah sulit ditemui. Dengan cara demikian para lanjut
usia di lingkungan XII. Kelurahan Belawan Sicanang, agar terhindar dari rasa sepi
(lonelinnes) dan terhindar dari penarikan diri (disengagement) dalam lingkungan
sosialnya. Penarikan diri yang di alami lanjut usia dari lingkungannya pada
masyarakat Lingkungan XII. Kelurahan Belawan Sicanang. Di latar belakangi
dengan kurangnya dukungan dan perhatian dari anggota keluarga kepada para
lanjut usia dilingkungannya tersebut, Hanya akan memperburuk kondisi lanjut
usia baik secara mental maupun fisik, seperti terjadi penurunan hasrat untuk
hidup, bersosialisasi dan merawat diri sendiri. Pada akhirnya membuat lanjut usia
jadi tidak produktif dan menjadi bergantung pada orang lain dan bergantung
kepada anggota keluarganya.In general, the most common problem in the elderly is loneliness.
Loneliness is a personal matter and will be responded to differently by everyone,
for some lonely people are those who can be accepted normally but for some
people loneliness can be a deep sadness. Family support is part of social support
that functions as a support system for its members and is intended to improve
health and adaptation processes. That loneliness suffered by the elderly and
declining health status results in an elderly person slowly withdrawing from the
association in the surrounding environment. This research is to find out loneliness
in the elderly in daily life in the family.
This study uses a mixture of qualitative and quantitative methods. In this
research, the selection of samples / respondents as a unit of research is carried out
by simple random sampling method. The population in this study were elderly
residents residing in Belawan Sicanang Village with randomly selected samples.
The population is 756 people. Respondents in this study were 75 respondents.
The results of the study showed that there were many respondents in the XII
neighborhood of Belawan Sicanang village who felt that the indicators were
lonely. From 75 respondents, there were 61 respondents with a percentage value
(79.2%) experiencing feeling alienated and isolated. as many as 45 respondents
with a percentage value (58.4%) experiencing feeling hopeless. 61 respondents
with a percentage value (79.2%) experienced feeling inferior. 57 respondents with
a percentage value (74,1%) experienced feeling afraid of being alone. Families
should always be an intermediary for the elderly to connect with other relatives
such as cousins, nieces and also friends who may have been difficult to find. In
this way the elderly in the XII environment. Belawan Sicanang Village, to avoid
loneliness (lonelinnes) and avoid (disengagement) in its social environment.
disengagement experienced by the elderly from the environment in the XII
Environment community. Belawan Sicanang Village. In the background with the
lack of support and attention from family members to the elderly in their
environment, it will only worsen the elderly condition both mentally and
physically, such as a decrease in the desire to live, socialize and take care of
themselves. In the end it makes the elderly become unproductive and becomes
dependent on others and depends on their family members.155 HalamanSkripsi Sarjan
Pemetaan Konflik Nelayan Tradisional Dengan Nelayan Pukat Tarik Menggunakan Model Sipabio (Kajian Pada konflik masyarakat nelayan di Desa Bagan Asahan, Kec. Tanjung Balai, Kab. Asahan Tahun 2011-2013)
Indonesia dikenal sebagai negara maritim karena memiliki SDA Kelautan
yang luas yakni 5,8 juta km2 atau 70% dari luas territorial Indonesia. Selain kaya akan
berbagai jenis ikan, masih banyak lagi sumber daya laut yang bisa dimanfaatkan
seperti hutan mangrove, wilayah tambak udang, tambak garam, daerah wisata, dan
lain-lain. Ketersediaan sumber daya laut yang tinggi seharusnya mampu
mengimbangi kebutuhan hidup masyarakat yang tinggal di daerah pesisir. Namun
saat ini sumber daya kelautan tersebut dirasakan semakin menurun oleh nelayan
tradisional sehingga menyebabkan timbulnya konflik terbuka diantara sesama
nelayan. Keberadaan nelayan pukat trawl di perairan Asahan menuai kontra dari
masyarakat pesisir, mengingat sebahagian besar mata pencaharian masyarakatnya
adalah nelayan dan tidak banyak berada di sektor bukan nelayan sehingga
mengakibatkan kondisi nelayan tradisional semakin terjepit.
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian terletak di pesisir Kecamatan Tanjung Balai,
Kabupaten Asahan. Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah
nelayan tradisional dan pihak-pihak yang terkait dalam kejadian pembakaran kapal
pukat trawl di laut Asahan dalam rentang tahun 2011-2013. Teknik pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik wawancara,
observasi, dan studi kepustakaan termasuk dokumentasi. Interpretasi data dilakukan
dengan menggunakan catatan dari lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama penyebab konflik di antara
nelayan tradisional dengan nelayan pukat trawl dikarenakan 1)berkurangnya hasil
tangkapan nelayan tradisional, 2)pengrusakan lingkungan oleh nelayan trawl
sehingga menyebabkan semakin berkurangnya hasil tangkapan nelayan tradisional,
3)kesenjangan antar nelayan sehingga menimbulkan rasa iri, 4)adanya oknum yang
memprovokasi nelayan tradisional, 5)kurangnya fungsi pengawasan dan tindakan dari
lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah dalam mengatasi penyebab konflik.110Skripsi Sarjan
Hubungan Kualitas Interaksi Sosial Guru dengan Prestasi Belajar Sosiologi Siswa Rayon SMA Negeri 12 Medan
One of the determinants of success in education at schools is the
teachers’ role as the main educational resource in managing the teaching
process and social interaction (social competence), either in class or outside
class, professionally in order to yield qualified output and high learning
performance. Social competence is the ability 1) to communicate verbally, in
written form, and in hints, 2) to use communication and information technology
functionally, 3) to socialize effectively with students, colleagues, and students’
parents, and 4) to socialize politely with the surrounding people.
The objective of the research was to describe the interaction pattern
between teachers ad students and to find out some factors which influenced the
intensity of social interaction between them during the process of learning
sociology, and to find out the correlation of the quality of teachers’ social
interaction (verbal and non-verbal) with students’ learning performance in
sociology (their grades) in the Rayon of SMA Negeri 12, Medan.
The research used explanatory method with a survey on 160
respondents, taken by using purposive sampling technique with the hypothesis
that there was the correlation between the quality of teachers’ social interaction
and students’ learning performance in sociology in the Rayon of SMA Negeri
12, Medan.
The result of the research showed that a) students’ learning
performance in the subject of Sociology was very good, b) the students got
competence in behavior by learning sociology; they were adaptive in learning to
see their environmental situation and began to avoid deviant behavior, but their
high interest in learning sociology, they are not interested in becoming
sociologists, c) there was significant correlation between teachers’ social
interaction quality and students’ learning performance in the subject of
Sociology; it was indicated by teachers’ behavior in the subject of Sociology
during their interaction with students at school or outside school. They
considered their students as friends. Sociology teachers are transparent figures
in socialization with students, new reference users, and good preparation before
teaching which was related to students’ high grades in Sociology in the
learning-teaching process at their school.158 HalamanTesis Magiste
Kontestasi Antroposentrisme-Ekosentrisme pada Masuknya Investasi Sawit di Laman Satong, Ketapang, Kalimantan Barat
Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa keberadaan sawit banyak memberikan manfaat namun juga mendatangkan ancaman serius bagi kehidupan. Penelitian dalam paradigma positivistik menempatkan kontradiksi hasil penelitian pada polarisasi sudut pandang antroposentrisme dan ekosentrisme. Sebagai alternatif, pendekatan fenomenologi tidak terjebak pada dualitas subjek-objek sebagaimana positivistik. Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini dilaksanakan di Desa Laman Satong pada Februari-Mei 2019, melibatkan dua belas subjek penelitian, bertujuan untuk menggambarkan kontestasi paradigma antroposentrisme-ekosentrisme dalam masuknya investasi sawit, lebih lanjut dapat mengungkapkan persepsi mereka terhadap sawit sebelum dan sesudah masuknya investasi, peran serta sikap subjek terhadap investasi sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ada satu dari dua belas subjek yang mempunyai informasi yang cukup tentang sawit, sebelas lainnya hanya mendengar. Ketidakcukupan informasi tentang sawit menciptakan kekhawatiran tentang nasib dan masa depan mereka jika investasi sawit masuk, sehingga ada aksi penolakan berupa penggalangan petisi. Kontestasi antroposentrisme-ekosentrisme terjadi secara personal dan simbolik, perbendaharaan pengetahuan menjadi lebih esensial daripada kontestasinya. Investasi sawit akhirnya diterima dengan berbagai syarat. Sawit semula dipersepsikan sebagai hal yang negatif dan sumber bencana, berangsur dianggap sebagai suatu kesempatan untuk menata kehidupan yang lebih baik.129 HalamanTesis Magiste
Remedi Sosial Terhadap Perilaku Menyimpang Siswa SMA Negeri 21 Medan (Suatu Kajian Sosiologi)
Social Remediation is a series of actions to improve social circumstances that have a negative impact on people's lives. The main principle of social remedy is the attempts to improve the social situation at risk. Social remedies are human-oriented and focus on specific remedies for the state of troubled individuals. The purpose of this study is to find out how social remedies that have been done by the school to improve the deviant behavior of students that often occur in SMA Negeri 21 Medan, how students' views of deviant behavior, why students always do the behavior diverging repeatedly, what role in fact played by students on when performing deviant behavior and how appropriate social remedy in order to improve student deviant behavior.
This research uses qualitative method with case study form. The location of the research was conducted in SMA Negeri 21 Medan. The informants consist of the Principal, Counseling Guidance Teacher (BP), Vice Principal in the field of student affairs, homeroom teacher, subject teachers and students performing deviant behavior categorized as primary deviant behavior and secondary deviant behavior. Data collection techniques used are observation, in-depth interviews and documentation.
The results of the field research indicate that after the social remedy is done by the school to the students who often perform deviant behavior in the form of advice by the teacher BP (Counseling Advice), advice by the homeroom, advice by subject teachers, SPO (Letter of Calls Parents) and advised in front of the parents even make a signed agreement signed on stamp duty if students' deviant behavior can no longer be tolerated again. From the results of research conducted still found some students repeat again deviant behavior and do not heed social remedy conducted by the school because when performing deviant behavior turned out to students play the role as said Erving Goffman in dramaturgy theory that an actor has a front stage and back stage. In doing deviant behavior sometimes does not come from within the students themselves but the invitation of his group's friends to play. Due to the deviant behavior done repeatedly then there are some students who got expelled from school or with the term returned to the parents, but there are also some students who directly change his behavior and not repeat again when social remedial done.Remedi sosial adalah sebagai serangkaian tindakan memperbaiki keadaan sosial yang mempunyai dampak negatif dalam kehidupan masyarakat. Prinsip utama remedi sosial adalah usaha-usaha untuk memperbaiki keadaan sosial yang beresiko. Remedi sosial berorientasi kepada manusia dan memfokuskan kepada tindakan-tindakan memperbaiki secara spesifik keadaan individu yang bermasalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana remedi sosial yang telah dilakukan pihak sekolah untuk memperbaiki perilaku menyimpang siswa yang sering terjadi di SMA Negeri 21 Medan, bagaimana pandangan siswa terhadap perilaku menyimpang, mengapa siswa selalu melakukan perilaku menyimpang berulangkali, peran apa yang sebanarnya diperankan siswa pada saat melakukan perilaku menyimpang serta bagaimana bentuk remedi sosial yang tepat agar dapat memperbaiki perilaku menyimpang siswa.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bentuk studi kasus. Lokasi penelitian dilakukan di SMA Negeri 21 Medan. Informan terdiri dari Kepala Sekolah, guru Bimbingan Penyuluhan (BP), Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan, wali kelas, guru mata pelajaran dan siswa yang melakukan perilaku menyimpang yang dikategorikan melakukan perilaku menyimpang primer dan perilaku menyimpang sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara mendalam serta dokumentasi.
Hasil penelitian di lapangan menunjukan bahwa setelah remedi sosial dilakukan oleh pihak sekolah kepada siswa yang sering melakukan perilaku menyimpang yang berupa nasihat oleh guru BP (Bimbingan Penyuluhan), nasehat oleh wali kelas, nasehat oleh guru-guru mata pelajaran, SPO (Surat Panggilan Orangtua) dan dinasehati di depan orangtua bahkan membuat surat perjanjian yang ditandatangani diatas materai apabila perilaku menyimpang siswa tidak dapat lagi ditolerir lagi. Dari hasil penelitian yang dilakukan masih ditemukan sebagian siswa mengulangi lagi perilaku menyimpang dan tidak mengindahkan remedi sosial yang dilakukan pihak sekolah karena saat melakukan perilaku menyimpang ternyata siswa bermain peran seperti yang dikatakan Erving Goffman dalam teori dramaturgi bahwa seorang aktor mempunyai panggung depan dan panggung belakang. Dalam melakukan perilaku menyimpang terkadang bukan berasal dari dalam diri siswa sendiri melainkan ajakan teman-teman kelompoknya bermain. Akibat perilaku menyimpang yang dilakukan berulangkali maka ada beberapa siswa yang sampai dikeluarkan dari sekolah atau dengan istilah dikembalikan kepada orangtua, tetapi ada juga sebagian siswa yang langsung merubah perilakunya dan tidak mengulangi lagi ketika remedi sosial dilakukan.Tesis Magiste
Musik Gerejawi sebagai Jembatan Solidaritas Sosial Antar Etnis : Gambaran pada Komunitas Connect Group di Gereja Mawar Sharon Kota Medan
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana musik gerejawi menjembatani solidaritas sosial antar etnis serta menjelaskan gambaran komunitas sel di gereja karismatik sebagai sebuah komunitas rohani dikota Medan atau dikenal dengan connect group. Penelitian ini dilakukan pada connect group di Gereja Mawar Sharon yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan terbesar dikota Medan pada Agustus - November 2020. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan pengamatan lapangan dengan observasi partisipan secara langsung, wawancara mendalam dengan berbagai informan kunci, kajian kepustakaan dan dokumen-dokumen tertulis sehubungan dengan keberadaan komunitas connect group di Gereja Mawar Sharon kota Medan. Hasilnya menunjukkan bahwa alasan para informan untuk bergabung dalam connect group berawal dari rasa penasaran akan kegiatan didalam connect group, keinginan untuk menemukan komunitas yang dapat memahami dirinya serta keinginan memperluas relasi dan jaringan pertemanan. Pada akhirnya aktivitas seperti fellowship, ice breaker, praise and worship dan sharing material mampu menjawab keinginan para anggota. Sehingga tanpa disadari membangun ikatan sosial dan pembauran etnis dalam connect group. Selain itu, modal dan jaringan sosial serta struktur yang terbangun dalam connect group juga menjadi sorotan penting dalam penelitian ini.150 HalamanTesis Magiste
