63 research outputs found
Analisis Tingkah Laku dan Manajemen Penangkaran Owa Jawa (Hylobates moloch)
Owa jawa atau silvery gibbon (Hylobates moloch Audebert 1798) merupakan salah satu satwa primata yang masuk ke dalam Genus Hylobates hanya ditemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten. Owa jawa berstatus terancam punah (endangered) (Roos et al. 2014) dan masuk ke dalam daftar Apendiks I CITES (Maryanto et al. 2008). Hal ini diakibatkan semakin meningkatnya pembalakan liar, pemburuan liar dan konversi hutan menjadi pemukiman penduduk serta lahan pertanian bahkan diubah menjadi pabrik-pabrik, sehingga populasi owa jawa semakin menurun di habitatnya. Dalam menanggapi kondisi ini, Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor (PSSP-IPB) bekerjasama dengan Taman Safari Indonesia (TSI) telah membentuk penangkaran ex-situ owa jawa, dan telah berhasil berkembang biak. Akibat keterbatasan ukuran kandang di PSSP IPB, seluruh keluarga owa jawa telah dipindahkan ke TSI. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengidentifikasi perubahan perilaku setiap individu menggunakan focal animal sampling dan untuk mempelajari manajemen pengembangbiakan owa jawa yang ada di TSI. Penelitian telah dilakukan di TSI dari bulan Februari sampai Juli 2013 pada 5 individu owa jawa. Penelitian ini menggunakan data primer melalui metode observasi, dan data sekunder tentang owa jawa hasil penelitian tim PSSP-IPB, antara lain: Iskandar (2007), Riendriasari et al. (2009), Rahman (2011), Nuraisah et al. (2011). Selain itu, data sekunder juga diperoleh berupa hasil wawancara, dokumen-dokumen, dan studi pustaka yang relevan dari berbagai sumber antara lain: hasil penelitian, laporan dan artikel ilmiah terbaru. Observasi aspek tingkah laku dengan menggunakan metode focal animal sampling (Altman 1974). Pengamatan ini dilakukan selama 6 jam/hari, 5 hari/minggu, dan dibagi menjadi tiga fase mulai pukul 08.00-10.00, 11.00-13.00, dan 13.30-15.30 WIB. Setiap individu owa jawa diamati selama 20 menit dengan mencatat seluruh aktivitas atau tingkah laku. Setelah selesai melakukan pengamatan satu individu dilanjutkan dengan individu yang lainnya dengan waktu yang sama. Aspek manajemen penangkaran diperoleh dari hasil pengamatan langsung dan wawancara, melakukan inventarisasi fasilitas penangkaran, dan perawatan satwa di TSI meliputi sistem perkandangan, pemberian pakan, perawatan kesehatan, sanitasi, dan sumber daya manusia yang terlibat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaperubahan lokasi penangkaran dari PSSP-IPB ke TSI berakibat pada perbedaan frekuensi tingkah lakumeliputi: bergerak, berkelahi, bermain, bersuara, menelisik, makan, membuang kotoran, menyusui, dan menyusu. Tingkah laku istirahat dan kawin tidak mengalami perbedaan frekuensi yang besar. Disamping itu terdapat juga tingkah laku abnormal pada owa jawa di TSI. Secara umum fasilitas penangkaran owa jawa di TSI lebih baik daripada di PSSP-IPB
Hubungan Antara Faktor Lingkungan Dengan Parameter Demografi Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis).
Monyet ekor panjang dari wilayah Asia Tenggara merupakan jenis satwa primata utama yang diperdagangkan di dunia untuk berbagai pemanfaatan seperti di bidang biomedis, bidang antariksa dan lain sebagainya. Hingga akhir tahun 1990-an, permintaan yang tinggi terhadap monyet ekor panjang ternyata lebih banyak dipenuhi dari hasil tangkapan langsung dari alam dan menunjukkan adanya kecenderungan eksploitasi yang berlebihan sehingga dapat membahayakan kelestarian populasinya di alam bila pemanenannya tidak dilakukan dengan suatu kajian ilmiah. Sehubungan dengan pemanfaatannya tersebut, jumlah monyet ekor panjang yang ditangkap dari alam harus berdasarkan kuota tangkap yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan. Namun peraturan terkait kuota tangkap yang dikeluarkan hingga saat ini hanya berisi jumlah yang diambil dan belum terinci sesuai jenis kelamin dan kelas umur dan belum berdasarkan data parameter demografi populasinya. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa parameter demografi monyet ekor panjang yang dapat digunakan sebagai penentu kuota tangkap monyet ekor panjang tersebut adalah rasio jumlah bayi dan anak terhadap betina reproduktif dan peluang hidup. Lingkungan merupakan faktor penting bagi kehidupan populasi monyet ekor panjang di habitat alaminya sehingga seberapa besar pengaruh dari faktor lingkungan terhadap parameter demografi populasi dari monyet ekor panjang di habitat alaminya perlu dilakukan kajian secara menyeluruh. Penelitian tentang hubungan antara faktor lingkungan dengan paramater demografi populasi monyet ekor panjang dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap peluang hidup dan rasio jumlah bayi dan anak per betina reproduktif serta merumuskan model hubungan antara faktor-faktor lingkungan dan populasi yang telah teridentifikasi terhadap kedua parameter demografi tersebut. Pengambilan data parameter demografi populasi monyet ekor panjang dilakukan dengan menggunakan metode titik terkonsentrasi. Pengamatan dilakukan tiga kali yaitu pada pagi hari (06.00-08.00), siang hari (11.00-13.00), dan sore hari (16.00-18.00) masing-masing dengan 5 kali ulangan yang dilakukan selama 7 hari. Data yang dicatat selama pengamatan yaitu jumlah individu tiap kelompok, jumlah individu berdasarkan jenis kelamin serta berdasarkan kelas umur. Untuk parameter biofisik habitat yang diamati antara lain: suhu dan kelembaban udara di bawah tegakan, ketinggian tempat, pH tanah, kemiringan lokasi, intensitas cahaya matahari di bawah tegakan, jarak pohon pakan dari sumber air, jarak pohon pakan dari kebun terdekat milik masyarakat serta kerapatan tumbuhan pakan di berbagai tingkat pertumbuhan. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh faktor lingkungan terhadap parameter demografi digunakan uji regresi linear berganda pada selang kepercayaan 95%. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa peluang hidup kelas umur anak ke muda dipengaruhi oleh kerapatan pakan pada tingkat pancang dengan model hubungan yaitu Y(peluang hidup anak-muda) = 0.144 + 0.002 Kpcg. Rasio jumlah bayi dan anak terhadap betina reproduktif dipengaruhi oleh kerapatan pakan tingkat pancang dan tiang dengan model hubungan Y(rasio jumlah bayi dan anak terhadap betina reproduktif) = 1.186 – 0.005 Kpcg + 0.002 Ktg. Hasil analisis regresi juga menunjukkan bahwa peluang hidup dari kelas umur muda ke dewasa tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan
Habitat dan Kepadatan Populasi Bilou (Hylobates klossii) di Resor Bojakan, Pulau Siberut, Sumatera Barat
Bilou (Hylobates klossii) merupakan satwa primata endemik Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Bilou pada tahun 2008 ditetapkan sebagai satwa primata dengan status terancam/genting (endangered), berdasarkan kategori IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dan Apendiks I berdasarkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Prioritas konservasi dan peningkatan perlindungan sangat dibutuhkan untuk mengurangi ancaman yang terus berlangsung di sisa habitat bilou. Penilaian terhadap populasi dan kualitas habitat dijadikan sebagai landasan dalam menentukan strategi konservasi.
Penelitian dilakukan di Resor Bojakan, Taman Nasional Siberut, Pulau Siberut, Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi serta memperoleh data habitat dan informasi populasi bilou di kawasan hutan Resor Bojakan yang belum ada sebelumnya. Bagian dari lokasi Resor Bojakan yang dilakukan pengamatan, yaitu lokasi Bojakan dan Bekemen. Penelitian ini menggunakan metode line transect sampling. Jumlah transek pengamatan yang digunakan sejumlah 15 transek dan setiap transek dilakukan dua kali ulangan.
Rerata kepadatan individu di kedua lokasi pada penelitian ini 12.8 ind/km2, sedangkan untuk kepadatan kelompok 4.2 kel/km2. Bila dibandingkan dengan estimasi kepadatan yang didapat peneliti terdahulu di Pulau Siberut, nilai kepadatan individu dan kelompok pada penelitian ini lebih tinggi. Hal tersebut diduga karena perbedaan lokasi penelitian, metode yang digunakan, ketinggian lokasi, serta karakteristik hutan. Kepadatan populasi bervariasi berdasarkan lokasi dan tipe hutan, sehingga hasil analisis dari suatu lokasi tidak dapat langsung digunakan untuk lokasi lain.
Kepadatan populasi bilou yang tinggi, maka didukung dengan kualitas habitat di Resor Bojakan yang baik. Bilou yang terdapat di Taman Nasional Siberut khususnya, harus dikelola sedemikian rupa baik habitat maupun populasinya agar kelestariannya dapat terjaga. Berdasarkan hasil penelitian ini, kawasan hutan Resor Bojakan merupakan habitat yang sesuai bagi bilou. Beberapa faktor yang membuat kawasan hutan Resor Bojakan menjadi habitat yang sesuai bagi bilou, yaitu (1) tajuk pepohonan yang kontinu sehingga mendukung pergerakan bilou sebagai satwa primata arboreal; serta (2) ketersediaan pohon pakan yang memadai.
Berdasarkan hasil analisis yang didapat, maka dalam pengelolaan bilou di kawasan hutan Resor Bojakan dapat direkomendasikan dua hal utama kegiatan pengelolaan yang dapat menjamin kelestarian habitat dan populasi bilou. Dua hal utama yang dapat direkomendasikan, yaitu pengelolaan kawasan hutan Resor Bojakan berupa kegiatan restorasi hutan, peningkatan pengamanan kawasan, dan pemantauan populasi bilou secara berkala. Selain itu, perlu dilakukan pengelolaan/penyadartahuan masyarakat di sekitar kawasan Resor Bojakan
Interaksi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dengan manusia dan persepsi manusia terhadap monyet ekor panjang di TWA Telaga Warna, Bogor.
M. fascicularis dapat hidup di berbagai habitat termasuk di habitat yang berjarak cukup dekat dengan tempat manusia beraktivitas. Interaksi M. fascicularis dengan manusia terjadi ketika manusia masuk ke dalam habitat M. fascicularis atau sebaliknya. Tujuan penelitian ini adalah mengamati interaksi M. fascicularis dengan manusia dan persepsi manusia terhadap kehadiran M. fascicularis di TWA Telaga Warna. Penelitian ini menggunakan metode ad libitum untuk mengamati interaksi M. fascicularis dengan manusia dan metode wawancara untuk mengetahui persepsi pengunjung, penduduk, dan karyawan terhadap kehadiran M. fascicularis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa interaksi afiliasi lebih tinggi dibandingkan interaksi agonistik. M. fascicularis remaja melakukan interaksi afiliasi dengan frekuensi tertinggi. Makanan adalah penyebab utama terjadinya interaksi afiliasi sedangkan interaksi agonistik lebih sering terjadi karena provokasi dari manusia. Sebagian besar manusia menyukai kehadiran M. fascicularis di TWA Telaga Warna dan menganggap M. fascicularis bukanlah penyebab konflik. Namun pengetahuan penduduk dan pengunjung tentang potensi penyakit menular dari M. fascicularis masih rendah
Analisis Biologi Reproduksi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) Berdasarkan Tingkah Laku Seksual dan Profil Hormon
Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan satu dari dua puluh genus
Trachypithecus yang berada di Asia. Satwa primata ini tersebar di Pulau Jawa, Bali
dan Lombok. Populasi satwa primata ini termasuk ke dalam satwa yang memiliki
populasi cenderung mengalami penurunan. Penurunan populasi Lutung jawa
diakibatkan oleh perburuan illegal dan degradasi hutan. Usaha peningkatan
populasi melalui fasilitas konservasi eks-situ telah dilakukan, namun masih belum
maksimal. Sampai saat ini studi tentang biologi reproduksi spesies ini masih sangat
terbatas. Oleh karena itu, diperlukan studi reproduksi sebagai dasar untuk
pengembangan teknik reproduksi dan manajemen dalam usaha peningkatan
populasinya. Penelitian ini dilakukan dengan metode non-invasif untuk mengukur
hormon reproduksi dalam sampel feses.
Penelitian ini dilakukan selama 10 bulan terhadap kelompok Lutung jawa
yang dipelihara di fasilitas konservasi eks-situ Taman Safari Cisarua Bogor.
Terdapat dua tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu (1) pengamatan
tingkah laku seksual. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui pola dan indikator
tingkah laku seksual Lutung Jawa; (2) analisis hormon estrogen dan progesterone
dalam sampel feses. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui status reproduksi
berdasarkan profil hormon.
Tingkah laku seksual T.auratus terdiri dari tingkah laku percumbuan dan
kopulasi. Tingkah laku seksual spesifik ditunjukkan adalah head-shaking sebelum
kopulasi terjadi oleh betina. Tingkah laku kopulasi diawali dengan mounting
kemudian thrusting 28 detik. Kopulasi berlangsung selama 60 detik. Kopulasi
terjadi 3 hari sebelum periode estrus. Jenis estrogen dalam feses T. auratus adalah
estradiol-17b, estriol, dan estron; sedangkan progesterone adalah 17-a-OH
Progesteron. Konsentrasi hormon estrogen pada saat puncak mencapai 1030.8 μg/g
feses kering. Panjang siklus estrus T. auratus berdasarkan interval kenaikan hormon
estrogen adalah rentang 21-33 hari. Analisis hormon progesteron menunjukkan
konsentrasi rendah mencapai 81.2 μg/g feses kering. Nilai konsentrasi ini diamati
pada betina post-partus. Pengukuran hormon melalui sampel feses merupakan
metode non-invasif yang dapat digunakan untuk memonitor reproduksi T. auratus
Perilaku Seksual Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles 1821) di Penangkaran Semi Alami Pulau Tinjil, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten
Long-tailed macaque (Macaca fascicularis Raffles 1821) is one of primate species that has not been protected in Indonesia. The wild caught tended to exceed the wild capture quotas that have been set by the government (Rameiyanti & Purnama 2008). This wild capture can reduce the sustainability of this species, so it should be an effort to prevent extinction by conservation effort such as establishing a captive breeding. One of the most important aspect to the succees of captive breeding is animal reproduction, especially sexual behavior. By knowing the sexual behavior of the macaque, it can be known about the appropriate form of management in order to produce a suitable animal production. The objectives of this study were to determine sexual behavior of the long-tailed macaque in Semi Natural Habitat Breeding of Tinjil Island (SNHBTI) and the influences of sexual behavior to daily behavior of long-tailed macaque. This research was conducted in SNHPTI, Pandeglang, Banten from June to August 2009. The study started on 5 to 10 May 2009 to determine location during preliminary observations by establishing the line transect method. Behavioral data was recorded using behavior sampling method during their active time at 06.00-10.00 WIB and 14.00-18.00 WIB. There was 29 group of the macaques in SNHBTI but only group 3 was observe for this study. The sample unit consist of 5 males and 4 females. The result shows that long-tailed macaques in group 3 spent 20% of their active time to eat, 3,9% drinking, 39,6% moving, 21,4% resting, 3,7% grooming, 4,6% agonistic and 6,8% for sexual activity. Sexual activity is frequently done in the morning. This activity also frequently taken place on the trees. The position of the monkey in the social hierarchy positively correlated with the frequency of male sexual behavior and negatively correlated with the frequency of female sexual behavior. There are types of sexual behavior in long-tailed macaque. The highest frequency was approach-genital inspection. Sexual behavior in males have positively correlated with eating, moving, and resting behavior, and also have a significant influence on eating and moving behavior. Sexual behavior at non-pregnant females have negatively correlated and give significant influences to eating behavior. Sexual behavior at pregnant female has negatively correlated with eating behavior, positively correlated and give significant influences to resting behavior
Interaksi Macaca Fascicularis-Manusia Di Telaga Warna, Bogor, Jawa Barat
M. fascicularis dapat tinggal di berbagai kondisi habitat, salah satunya di habitat terganggu seperti hutan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tentang interaksi M. fascicularis dengan manusia (pengunjung) di Cagar Alam dan Taman Rekreasi Telaga Warna, Bogor. Bentuk interaksi sosial antara Macaca fascicularis dan manusia (pengunjung) ada dua yaitu interaksi afiliasi dan interaksi agonistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas (App) memiliki frekuensi tertinggi dalam kategori afiliasi (45,03%) dan aktivitas intimidasi (In) memiliki frekuensi tertinggi dalam kategori agonistik (44,69%). Aktivitas menggigit pengunjung jarang ditemukan di Telaga Warna (0,06%) dari total frekuensi. Hal ini menunjukkan interaksi agonistik lebih tinggi daripada interaksi afiliasi. Meskipun banyak interaksi fisik dengan manusia, tetapi M. fascicularis di Cagar Alam dan Taman Rekreasi Telaga Warna tidak toleran terhadap sentuhan manusia. M. fascicularis di Telaga Warna juga mengkonsumsi makanan dari pengunjung. Aktivitas pemberian makanan oleh pengunjung disebabkan adanya kontak langsung dengan M. fascicularis. Pisang menjadi jenis makanan tertinggi (40,57%) yang disukai M. fascicularis. Selain itu, seiring meningkatnya jumlah pengunjung yang datang di akhir pekan, kesempatan untuk mendapatkan makanan dan terjadinya interaksi antara M. fascicularis-Manusia semakin tinggi
Perilaku Sosial Macaca tonkeana di Pusat Primata Schmutzer (PPS) Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta
Macaca tonkeana or boti is black monkeys inhabit in the central part of the island of Sulawesi, Indonesia, in the districts of Uru, Palopo, Tonkean, Labua Sore, and Parigi. Macaca tonkeana are social animals living in groups. In a group, each individual will interact with others. Social interaction between individuals include grooming, agonistic, playing, and sexual behaviors. Behavioral observation was conducted starting at 08:00 am to 03:30 pm. Ad Libitum sampling and Focal animal sampling were used for daily behavior and social behavior observation respectively. Daily behavior most frequently performed was locomotion and feeding. Agonistic behavior was mostly done by adult females toward people with the percentage 69,2%. Grooming behavior was mostly carried out by adult female toward juvenile female with the percentage 88,9%. On sexual behavior, females are not only accepted but also refused copulation by a percentage 37,5%. Playing behavior was mostly made by juvenile in the form of biting, rolling and wrestling. In the game also found sexual learning
Optimalisasi Manajemen Pemeliharaan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Kebun Binatang
Laju penurunan populasi orangutan kalimantan di habitat alam masih sangat
mengkhawatirkan. Penurunan ini disebabkan beberapa ancaman terhadap
kehidupan orangutan antara lain kehilangan habitat dan perburuan liar, sehingga
status orangutan saat ini masih dalam kategori kondisi terancam punah. Oleh
karena itu, upaya konservasi orangutan baik secara eksitu maupun insitu perlu
ditingkatkan sebagai upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan terhadap
orangutan. Kebun binatang merupakan lembaga konservasi eksitu satwa liar yang
berperan dalam melestarikan sekaligus menjamin kesejahteraan satwa yang dapat
dinilai dari lima aspek utama yaitu bebas dari lapar, haus, dan malnutrisi; bebas
dari ketidaknyamanan; bebas dari rasa nyeri, luka dan penyakit; bebas dari rasa
takut dan cekaman; serta bebas untuk bertingkah laku secara alami. Penelitian ini
bertujuan untuk optimalisasi manajemen pemeliharaan orangutan kalimantan di
kebun binatang berdasarkan parameter manajemen kandang, manajemen pakan,
dan pengunjung. Penelitian ini dilakukan di Taman Margasatwa Ragunan (TMR)
dan Taman Safari Indonesia (TSI).
Metode pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu pengumpulan
data primer (pengamatan langsung dan wawancara) dan data sekunder (studi
pustaka). Penilaian optimalisasi manajemen kandang dilakukan dengan
menganalisis beberapa parameter meliputi desain, tipe dan ukuran kandang
orangutan, pengayaan lingkungan, perawatan kandang, pengaturan individu dan
aktivitas harian orangutan. Pengamatan aktivitas harian orangutan dilakukan
dengan menggunakan metode focal animal sampling yang terdiri dari beberapa
parameter yaitu perbedaan umur dan jenis kelamin, tipe kandang (kandang peraga,
kandang dalam dan kandang tidur), ketinggian tempat beraktivitas, posisi tubuh
saat makan dan penggunaan pengayaan lingkungan. Penilaian optimalisasi
manajemen pakan dilakukan dengan menganalisis beberapa parameter meliputi
jenis dan jumlah pakan, kandungan nutrisi pakan, waktu dan tempat pemberian
pakan dan pemenuhan nutrisi satwa. Kandungan nutrisi pakan dianalisis dengan
melakukan uji proksimat sedangkan pemenuhan nutrisi orangutan dianalisis
dengan software Nutrisurvey dan pengukuran bobot tubuh orangutan.
Persentase aktivitas harian orangutan jantan dan betina dewasa di TSI dan
TMR lebih banyak melakukan aktivitas istirahat. Aktivitas harian anakan
orangutan (aktivitas bergerak dan sosial terutama bermain) lebih tinggi daripada
aktivitas jantan dan betina dewasa. Aktivitas bergerak dan sosial terutama bermain
anakan di TSI lebih tinggi daripada anakan di TMR. Persentase aktivitas bergerak,
makan dan sosial orangutan di kandang peraga TSI lebih tinggi daripada di TMR
meskipun terlihat bervariasi pada tiap individu. Aktivitas bergerak dan sosial
orangutan di kandang tidur TMR lebih rendah daripada TSI. Secara keseluruhan,
orangutan beraktivitas lebih banyak di permukaan tanah, kecuali pada individu
Lindung dan Livia (anakan TSI) yang lebih sering berada pada ketinggian 0-2m
dan individu John (jantan dewasa TSI) di ketinggian 4-8m. Posisi makan
orangutan bervariasi antar kelompok umur-jenis kelamin, tipe kandang maupun
antar individu orangutan. Posisi duduk dan berdiri merupakan posisi makan yang
paling disukai orangutan. Persentase aktivitas harian orangutan di kebun binatang
dipengaruhi oleh faktor tipe kandang, pengaturan individu dan pengayaan
lingkungan. Hal ini sesuai dengan hasil penilaian kandang di TSI dan TMR, yang
memperlihatkan adanya perbedaan dalam jumlah, jenis, penataan dan perawatan
pengayaan lingkungan serta pengaturan individu.
Berdasarkan hasil penelitian ini ada beberapa hal dalam manajemen
kandang yang perlu untuk dioptimalisasi antara lain penataan ulang dan perbaikan
terhadap aspek pengayaan lingkungan, struktur memanjat, pembatas kandang,
pengaturan suhu, pengaturan individu dan perawatan kandang; penambahan,
pemeriksaan dan penataan pengayaan lingkungan; penempatan setiap individu
dengan pengaturan individu kelompok; perbaikan sistem pengaturan suhu,
pembatas kandang dan perawatan kandang orangutan; memaksimalkan peran staf
dalam pengelolaan sistem perkandangan.
Dalam pemberian pakan di TSI dan TMR, ada perbedaan dalam jumlah dan
jenis pakan yang diberikan. Pemberian pakan di TMR sama setiap kandang,
sedangkan TSI berdasarkan jumlah orangutan yang di dalam kandang. Jenis pakan
di TMR lebih banyak daripada TSI sedangkan jumlah pakan di TSI lebih banyak
dibandingkan TMR. TMR dan TSI memberikan pakan kategori buah-buahan
dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan kategori sayuran, biskuit primata
dan umbi-umbian. Jumlah asupan nutrisi pakan yang diberikan kepada orangutan
di TMR dan TSI lebih tinggi daripada kebutuhan nutrisi harian orangutan.
Frekuensi pemberian pakan di TSI dilakukan pada pagi hari di kandang tidur,
sedangkan pakan di TMR diberikan pada pagi dan sore hari di kandang tidur.
Individu betina dewasa di TMR dan betina dewasa serta anakan di TSI
memiliki bobot tubuh yang melebihi kisaran bobot tubuh orangutan liar
(mengalami obesitas). Hal ini berkaitan dengan komposisi pakan yang diberikan
terlalu tinggi sehingga menyebabkan jumlah asupan energi harian yang diperoleh
orangutan melebihi jumlah asupan energi yang dibutuhkan. Dalam upaya
optimalisasi manajemen pakan sebaiknya dilakukan dengan melakukan perbaikan
dalam aspek waktu dan tempat pemberian pakan serta jumlah pakan yang
diberikan. Waktu pemberian pakan hendaknya dapat dilakukan secara bertahap.
Jumlah pakan yang diberikan sebaiknya mempertimbangkan hasil penilaian
kebutuhan nutrisi setiap individu berdasarkan bobot tubuh, umur dan jenis
kelamin, status reproduksi serta tingkat aktivitas harian individu orangutan.
Secara umum persepsi pengunjung mengenai peranan kebun binatang,
berkaitan dengan rekreasi dan konservasi serta edukasi. Upaya untuk
mengoptimalkan pengetahuan, persepsi dan kepedulian pengunjung (terutama
generasi muda) antara lain dengan memanfaatkan fungsi teknologi informasi
sebagai media informasi dalam menyebarluaskan informasi mengenai data biologi,
ekologi dan fungsi satwa dalam kehidupan, sehingga masyarakat lebih memahami
peranan kebun binatang dalam upaya konservasi satwa
- …
