1,720,994 research outputs found
Kelayakan Ekonomi Teknologi Petani Pada Usahatani Bawang Merah Varietas Sumenep (Studi Kasus di Desa Rajun Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep)
Gambaran kemampuan petani dalam mengalokasikan sumberdayanya dapat dilihat dari kedudukan ekonomi usahatani tersebut dan besarnya nilai manfaat yang diperoleh. Penelitian ini dilakukan di Desa Rajun Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep yang dipilih secara sengaja (purposive), karena merupakan salah satu sentra uasahatani bawang merah dengan jumlah petani terbanyak (75 petani). Sampel pada penelilitian ini diambil secara acak berstrata secara proporsional (proportionate stratified random sampling), dengan pertimbangan, luas areal penanaman bawang merah pada masing-masing responden, yang dibagi ke dalam 3 strata. Dari strata 1 dengan luas tanah garapan sempit (< 0,250 ha) diambil sebanyak 27 responden, strata 2 dengan luas tanah garapan sedang (≥ 0, 250 ha s/d ≤ 0,375 ha) dambil sebanyak 28 responden, dan strata dengan luas tanah garapan luas (> 0,375 ha) diambil sebanyak 10 responden. Untuk melihat kedudukan ekonomi usahatani bawang merah digunakan analisa nisbah antara penerimaan dengan biaya (R/C rasio) dan untuk menilai besarnya manfaat dari penerapan teknologi yang dilakukan oleh petani menggunakan analisis B/C. Hasil penelitian menunjukkan nilai R/C = 1,5 yang memberikan gambaran usahatani bawang merah memberikan keuntungan, yaitu sebesar Rp. 17,853,644.10 per hektar. Namun demikian, karena analisanya menggunakan biaya riil, sehingga ada biaya usahatani yang tidak diperhitungkan (seperti sewa lahan, tenaga kerja dalam keluarga dan pajak), maka dapat dikatakan keuntungan usaha tersebut masih rendah. Penggunaan paket tekologi yang diterapkan petani tidak mampu memberikan manfaat atau penambahan biaya dari setiap rupiah penerapan paket teknologi petani tidak mampu memberikan tambahan penerimaan sebesar penambahan biaya tersebut, karena nilai B/C < 1, yaitu hanya mencapai 0,49. Kata kunci : keuntungan, efisiensi, nilai manfaat</jats:p
KAJIAN PENGEMBALIAN KREDIT PENGUATAN MODAL DI KABUPATEN SUMENEP
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis faktor-faktor yang mendasari keputusan petani meminjam kredit, (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani, (3) Menganalisis tingkat efisiensi usahatani, dan (4) Menganalisis tingkat pengembalian kredit dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, dengan menggunakan alat analisis faktor (Exploratory Factor Analysis), analisis regresi berganda, analisis R/C (Return Cost Ratio), dan analisis regresi logistik. Hasil analisis faktor menunjukkan, bahwa alasan utama petani mengambil kredit penguatan modal yaitu; (1) Faktor internal petani; (2) Faktor fasilitas kredit; serta (3) Faktor persyaratan kredit. Kemudian faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani dari petani peminjam kredit penguatan modal adalah (a) Produksi usahatani, (b) Biaya sarana produksi, (c) Biaya tenaga kerja, dan (d) Biaya input lainnya. Efisiensi usahatani padi di Kabupaten Sumenep telah mencapai tingkat yang efisien. Petani yang melunasi kredit penguatan modal mempunyai tingkat efisiensi lebih tinggi (R/C = 1,60) daripada petani yang belum melunasi kredit penguatan modalnya (R/C = 1,54), sehingga lebih mempunyai kemampuan dalam mengembalikan (melunasi) kredit penguatan modalnya. Tingkat pengembalian kredit penguatan modal di Kabupaten Sumenep dari Tahun 2003 sampai Tahun 2006 cenderung menurun (jumlah tunggakannya semakin meningkat). Dan faktor-faktor yang mempengaruhi peluang pengembalian kredit penguatan modal yaitu; (a) Pendapatan usahatani; (b) Kelas kelompok tani; dan (c) Penerapan paket teknologi budidaya
KELAYAKAN DAN RISIKO USAHATANI JERUK KEPROK MADURA DI KABUPATEN SUMENEP
Menurut Direktorat Budidaya Tanaman Buah Deptan (2009), potensi pengembangan tanaman jeruk keprok Madura di Kabupaten Sumenep, cukup besar yaitu seluas 400 hektar yang tersebar di 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Dasuk, Kecamatan Ambunten dan Kecamatan Pasongsongan. Salah satu faktor yang dapat menenunjang keberhasilan pengembangan komoditas jeruk ini, adalah kelayakan ekonomis (menguntungkan secara finansial).Dipihak lain, petani sebagai pelaku utama kegiatan pengembangan jeruk keprok Madura dan sebagai produsen, harus mengetahui kemungkinan resiko yang akan diterimanya dan besarnya keuntungan dari usaha ini. Pengetahuan terhadap hubungan antara resiko dan keuntungan ini, akan memberikan dasar pertimbangan yang rasional bagi petani dalam mengembangkan komoditas jeruk keprok Madura. Informasi/data pada penelitian ini, diperoleh dari petani jeruk keprok Madura yang bibitnya berasal dari cangkokan dan mulai dibuahkan pada umur 3 (tiga) tahun.Pengukuran kelayakan finansial usahatani jeruk keprok Madura dilakukan dengan melihat kriteria investasi, dan pengukuran terhadap hubungan antara tingkat resiko dengan keuntungan, diukur secara statistik dengan melihat koefisien variasi (coefficient of variation) dan batas bawah keuntungan. Kriteria investasi pada usahatani jeruk keprok Madura menunjukkan nilai NPV sebesar Rp. 118,342,271 (> 0), Net B/C sebesar 1.38 (> 1) dan IRR sebsar 23,7% (> discount rate), sehingga proyek usahatani jeruk keprok Madura dapat dikatakan go! (layak dilaksanakan).Periode yang diperlukan untuk menutup biaya investasi, yaitu 9 tahun 10 bulan (di bawah dari umur ekonomis proyek), sehingga proyek ini layak diusahakan. Selama periode proyek (15 tahun) nilai koefisien variasi (CV) didapatkan 0.588 (CV > 0.5) dan nilai batas bawah keuntungan (L) didapatkan sebesar Rp. (31,204,042) yang menunjukkan L < 0. Dengan demikian, pengusahatani jeruk keprok Madura harus berani menanggung resiko (kerugian) sebesar Rp. 31,204,042,- pada setiap proses produksi. Kata kunci: Usahatani Jeruk Keprok Madura, Kelayakan, dan Resiko Finansial</jats:p
KELAYAKAN DAN RISIKO USAHATANI JERUK KEPROK MADURA DI KABUPATEN SUMENEP
Menurut Direktorat Budidaya Tanaman Buah Deptan (2009), potensi pengembangan tanaman jeruk keprok Madura di Kabupaten Sumenep, cukup besar yaitu seluas 400 hektar yang tersebar di 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Dasuk, Kecamatan Ambunten dan Kecamatan Pasongsongan. Salah satu faktor yang dapat menenunjang keberhasilan pengembangan komoditas jeruk ini, adalah kelayakan ekonomis (menguntungkan secara finansial).Dipihak lain, petani sebagai pelaku utama kegiatan pengembangan jeruk keprok Madura dan sebagai produsen, harus mengetahui kemungkinan resiko yang akan diterimanya dan besarnya keuntungan dari usaha ini. Pengetahuan terhadap hubungan antara resiko dan keuntungan ini, akan memberikan dasar pertimbangan yang rasional bagi petani dalam mengembangkan komoditas jeruk keprok Madura. Informasi/data pada penelitian ini, diperoleh dari petani jeruk keprok Madura yang bibitnya berasal dari cangkokan dan mulai dibuahkan pada umur 3 (tiga) tahun.Pengukuran kelayakan finansial usahatani jeruk keprok Madura dilakukan dengan melihat kriteria investasi, dan pengukuran terhadap hubungan antara tingkat resiko dengan keuntungan, diukur secara statistik dengan melihat koefisien variasi (coefficient of variation) dan batas bawah keuntungan. Kriteria investasi pada usahatani jeruk keprok Madura menunjukkan nilai NPV sebesar Rp. 118,342,271 (> 0), Net B/C sebesar 1.38 (> 1) dan IRR sebsar 23,7% (> discount rate), sehingga proyek usahatani jeruk keprok Madura dapat dikatakan go! (layak dilaksanakan).Periode yang diperlukan untuk menutup biaya investasi, yaitu 9 tahun 10 bulan (di bawah dari umur ekonomis proyek), sehingga proyek ini layak diusahakan. Selama periode proyek (15 tahun) nilai koefisien variasi (CV) didapatkan 0.588 (CV > 0.5) dan nilai batas bawah keuntungan (L) didapatkan sebesar Rp. (31,204,042) yang menunjukkan L < 0. Dengan demikian, pengusahatani jeruk keprok Madura harus berani menanggung resiko (kerugian) sebesar Rp. 31,204,042,- pada setiap proses produksi. Kata kunci: Usahatani Jeruk Keprok Madura, Kelayakan, dan Resiko Finansia
KINERJA USAHATANI DAN PEMASARAN JAGUNG LOKAL SUMENEP VARIETAS TALANGO
Usahatani varietas jagung lokal merupakan komoditas yang sangat strategis bagi petani di Kabupaten Sumenep, karena tidak hanya sebagai bahan pangan keluarga tani, tetapi sebagian juga merupakan sumber pendapatan keluarga tani, maka penelitian mengenai kinerja usahatani jagung dan pemasarannya penting dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai aspek usahatani dan pemasarannya. Kinerja usahatani jagung dilihat dari tingkat pengelolaan petani mulai dari persiapan tanam sampai panen. Kegiatan pemasaran dilihat dari jalur pemasaran mulai dari petani produsen sampai ke tingkat pengecer atau konsumen akhir. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi praktek usahatani (budidaya) jagung lokal varietas Talango oleh petani (2) mengetahui tingkat pendapatan dan efisiensi usahatani jagung lokal varietas Talango dan (3) memberikan gambaran mengenai saluran pemasaran, margin pemasaran dan bagian yang diterima petani (farmer’s share) dari harga yang dibayar konsumen akhir. Pengambilan contoh untuk melihat keadaan usahatani dilakukan secara contoh acak kelompok (cluster random sampling), dengan dua tingkat (two stage cluster sampling). Untuk melihat aspek pemasaran jagung lokal varietas Talango, pengambilan contohnya dilakukan dengan cara contoh bola salju (snowball sampling). Petani contoh dijadikan sebagai informasi awal, untuk selanjutnya informasi tersebut diikuti sesuai dengan alur pemasaran komoditas (jagung varietas Talango) sampai kepada konsumen akhir (pedangang besar tingkat kecamatan). Hasil penelitian menunjukkan petani jagung lokal Varietas Talango, dalam aspek budidayanya masih dlakukan secara tradisional, yakni benih berasal dari tanaman sebelumnya atau pertanamannya sendiri yang berkualitas rendah, jarak tanam tidak teratur, pemupukan seadanya dan tidak dilakukan pengendalian OPT. Tingkat produktivitas jagung lokal Varietas Talango masih rendah, yaitu 1,93 ton per hektar. Namun demikian perhitungan analisis usahataninya secara finansial masih efisien. Terdapat 2 (dua) jalur pemasaran jagung lokal di Kecamatan Talango, yaitu dari petani langsung ke pedagang besar dan dari petani melalui pedagang pengumpul, kemudian ke pedagang besar. Distribusi margin pemasaran tidak merata antar lembaga pemasaran, share keuntungan terbesar diterima oleh pedagang besar, baik pada jalur 1 maupun pada jalur 2. Dan nilai terkecil dari rasio keuntungan dengan biaya diterima oleh petani
PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS GULA KELAPA DI KABUPATEN SUMENEP
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kelayakan usaha dan sensitivitas dari agribisnis gula kelapa di Kabupaten Sumenep. Dengan menggunakan analisis Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) diperoleh hasil bahwa agribisnis gula kelapa di Kabupaten Sumenep layak untuk diusahakan. Hal ini dapat dilihat dari nilai NPV sebesar Rp. 48.222.068,- (NPV > 0), nilai IRR 37,34% (IRR > discount rate), dimana usaha gula kelapa ini masih layak dilaksanakan sampai pada tingkat suku bunga (discount rate) sebesar 37,34% per tahun, dan dengan discount factor 19,2% per tahun diperoleh nilai net B/C ratio sebesar 1,43 (Net B/C > 1). Sedangkan dari hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha agribisnis gula kelapa di Kabupaten Sumenep lebih sensitif terhadap penurunan pendapatan daripada kenaikan biaya operasional
ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI TEPUNG KELOR PADA CV. NURUL JANNAH KECAMATAN BLUTO KABUPATEN SUMENEP
Agroindustri ialah industri yang bergerak dibidang pertanian, yaitu pengolahan hasil pertanian dengan memanfaatkan bahan baku dari pertanian, sehingga dapat menghasilkan produk akhir yang siap dikonsumsi, ataupun sebagai bahan baku industri lain. Metode penelitian ini bersifat eksperimental, Penentuan sampel dalam penelitian ini ditentukan secara sengaja (purposife samlping). Dan permasalahan tentang investasi digunakan studi kelayakan investasi pada CV. Nurul Jannah. Analisis kelayakan pada penelitian ini mengacu pada aspek finansial dimana mengacu pada beberapa indikator Net benefit cost ratio, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period.
Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa analisis kelayakan dari usaha tepung daun kelor layak untuk dijalankan karena kriteria investasi NPV lebih besar dari 0 (NPV>0). Berdasarkan Nilai IRR yang diperoleh pada analisis kriteria investasi ini memiliki nilai sebesar 27,57 persen artinya memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan nilai cost of capital yang telah ditentukan yaitu sebesar 13 persen (IRR>DR) sehingga usaha tepung daun kelor layak untuk dijalankan. Pada perhitungan Net B/C dalam perhitungan kriteria investasi, diperoleh nilai Net B/C sebesar 1,45. Hal ini berarti setiap tambahan biaya sebesar Rp 1.00 dapat menghasilkan tambahan manfaat bersih sebesar Rp 1,45. Nilai Net B/C pada usaha tepung daun kelor CV. Nurul Jannah terbukti lebih besar dari satu sehingga dari usaha tepung daun kelor ini layak untuk dijalankan (Net B/C>1). Serta Perhitungan payback period mengindikasikan bahwa seluruh biaya investasi dapat dikembalikan dalam jangka waktu 1 Tahun 9 bulan 2 hari. Bila dibandingkan dengan umur usaha yakni selama 5 tahun, maka jangka waktu pengembalian modal usaha dapat dikatakan lebih cepat daripada umur usaha sehingga usaha tepung daun kelor di CV. Nurul Jannah ini layak untuk dijalankan
Analisis Fisika-Kimia Perairan dan Komunitas Bakteri terkait Kemunculan Penyakit Ice-ice pada Rumput laut (Kappaphycus alvarezii)
Penyakit ice-ice merupakan penyakit yang menyerang rumput laut golongan karaginofit terutama Kappaphycus alvarezii. Penyakit ini menyebabkan penurunan produksi rumput laut dengan menurunkan kualitas karaginan. Oleh karena itu, penanggulangan penyakit ice-ice perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas rumput laut melalui deteksi dan identifikasi bakteri terkait penyakit ice-ice pada kedalaman berbeda sehingga dapat ditentukan kedalaman terbaik budidaya rumput laut dalam menghindari infeksi penyakit ice-ice. Isolasi bakteri dari perairan K. alvarezii dilakukan dengan metode pengenceran bertingkat dan metode sebar. Data isolat bakteri penyebab ice-ice yang didapatkan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa komunitas bakteri direct attack teridentifikasi dari genus Bacillus dan Vibro terdistribusi pada kedalaman 20 cm. Bakteri direct attack mampu melakukan aktifitas karaginase dan menghasilkan selulase untuk menyerang thallus K.alvarezii, maka penanaman K. alvarezii dapat dilakukan pada kedalaman lebih dari 20 cm untuk menghindari dampak yang lebih besar dari penyakit ice-ice
PENETAPAN HARGA JUAL BUAH JERUK OLEH PEDAGANG PENGECER (STUDI KASUS PADA PEDAGANG PENGECER BUAH DI KAWASAN KOTA SUMENEP)
Peran pedagang pengecer buah jeruk dalam menciptakan permintaan efektif terhadap buah jeruk oleh konsumen, dimana konsumen didalam membuat keputusan pembelian dan besarnya jumlah pembelian buah jeruk sangat ditentukan oleh kepantasan harga, maka penetapan harga penjualan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Responden pada penelitian ini adalah pedagang pengecer buah yang berjualan di kawasan Kota Sumenep. Metode pengambilan contoh dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling), penggunaan metode ini didasarkan pada kesamaan (homogenitas) dari populasi yaitu sebagai pedagang buah dan buah yang diperdagangkan juga samaData utama yang diperlukan pada penelitian ini adalah data primer yang bentuknya kuantitatif dan kualitatif yang bersumber dari pedagang pengecer buah jeruk di kawasan Kota Sumenep. Analisis data yang digunakanadalah analisis deskriptif dengan melihat berbagai pertimbangan yang dilakukan oleh pedagang pengecer buah jeruk dalam melakukan penetapan herga.Penetapan harga dihitung dengan menggunakan metode harga pokok berdasarkan pertimbangan biaya Dalam hal menyediakan buah-buhan yang akan diperdagangkan, baik terhadap jenis maupun jumlahnya para pedagang pengecer buah umumnya mempertimbangkan besarnya tingkat permintaan (disukai konsumen), dan daya tahan buah untuk menghindari resiko kerugian.Penyediaan (pembelian) buah dilakukan melalui pedagang besar buah-buahan yang ada di Kota Sumenep, dimana pasokan buahnya berasal dari pasar buah di Kota Surabaya.Kebijakan penetapan harga yang dilakukan oleh para pedagang pengecer buah dilakukan dengan mempertimbangkan biaya (harga beli), harga pesaing dan elemen individu buah jeruk
PENERAPAN STRATEGI BAURAN PEMASARAN PADA USAHA MIKRO KERIPIK GAYAM “HAMIDAH” DI DESA GEDUNGAN
Penerapan strategi bauran pemasaran pada Usaha Mikro Keripik Gayam Hamidah. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen Keripik Gayam Hamidah. Sampel yang diambil sebanyak 40 responden dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan kuesioner. Selanjutnya diolah dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif yang diukur dengan menggunakan Skala Likert. Dimana hasil yang diperoleh dari penerapan strategi pemasaran yang digunakan pada Usaha Mikro Hamidah yang meliputi produk, harga, lokasi, dan promosi secara keseluruhan berada pada kriteria Setuju dengan hasil yang diperoleh 76,46%. Artinya perusahaan dapat dikatakan baik dalam menerapkan strategi pemasarannya pada Usaha Mikro Keripik Gayam Hamidah
- …
