1,720,966 research outputs found
Evaluasi Peran Taruna Siaga Bencana (Tagana) dalam Penanggulangan Bencana Alam
Tujuan penelitian untuk melihat peran tagana dan melihat faktor pendorong dan penghambat, dampak sosialisasi terhadap masyarakat serta kemitraan dalam menjalankan peran. Pendekatan kualitatif deskriptif bahwatagana berperan aktif membantu dalam menangani bencana. Faktor modal sosial berupa motivasi mendorong keterlibatan dalam penanganan bencana. Posisi Tagana kurang kuat lepas dari organisasi pemerintah daerah dan tidak ada dukungan regulasi daerah. Pendanaan sangat tergantung pada APBN dan sangat sedikit, sumberdaya manusia terbatas, minimnya sarana dan prasarana. Sosialisasi dan pelatihan berdampak positif terhadap perubahan sikap, peduli, meningkatnya pengetahuan dan keterampilam dalam menangani bencana. Kemitraan Tagana berfungsi membantu penanganan bencana berjalan efektif, tetapi kemitraan sejajar dengan lembaga lain belum efektif
PROFIL KOMPETENSI GURU SMAN BERDASARKAN PP 19 TAHUN 2005 DI KOTA KEDIRI
Guru profesional memiliki kualifikasi akademik minimal D4 atau S1 pada bidang studi yang sesuai dengan yang diajarkannya. Guru juga harus memiliki kompetensi yang meliputi profesional, pedagogik sosial dan personal
Kualitas Pelayanan Aparatur RSUD Kota Mojokerto, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Kediri terhadap Masyarakat Miskin
Abstrak
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitiatif, yang bertujuan (1) mengetahui penilaian pasien miskin terhadap kualitas pelayanan aparatur kesehatan yang dilakukan RSUD; (2) mengetahui analisa celah (gap analysis) dan alternatif penyelesaian masalah kondisi kualitas pelayanan kesehatan masyarakat miskin di RSUD Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Kediri dan Kota Mojokerto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan aparatur RSUD ketiga daerah penelitian rata-rata mempunyai kinerja pelayanan sangat baik, dengan IKM sebesar 3,3 atau nilai interval IKM 82,50 dengan mutu pelayanan A, sangat baik. Namun demikian masih ada kesenjangan antara penilaian aparatur maupun pasien miskin yaitu berupa masih ada kekurangan dan kendala pelayanan yang kemudian akan diambil berbagai kebijakan sebagai langkah perbaikan terhadap program, sistim administrasi, prosedur pelayanan, SDM aparatur maupun sarana dan prasana.
Abstract
This research uses quantitative and qualitative descriptive approach, which aims to (1) determine the assessment of the patient's poor quality of health services apparatus who conducted RSUD (the Regional Public Hospital), (2) to know the gap analysis and alternative problem solving of condition of the poor health services quality in RSUD of District of Pasuruan, District of Kediri and Mojokerto City. The results showed that the services quality of RSUD apparatus on third area of study have an average service performance is excellent, with the IKM (Community Health Index) of 3.3 or 82.50 IKM interval value with quality of service A, very good. However, there is still a gap between apparatus and poor patient assessment is still no shortage of services and constraints. From here then will take up many policies, as a measure to enhance the program, system administration, procedures of service , human resources of apparatus, facilities and infrastructures also
KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP KUALITAS PELAYANAN PUSKESMAS SANANWETAN KOTA BLITAR
Penyelenggaraan pelayanan publik haruslah dimaknai sebagai sebuah usaha untuk pemenuhan hak-hak dasar masyarakat dan merupakan kewajiban pemerintah untuk melakukan pemenuhan hak-hak dasar tersebut. Pengaduan masyarakat adalah hal penting yang harus disikapi, karena mereka yang mengetahui dan merasakan baik buruknya pelayanan
ANALISIS KELAYAKAN PEMEKARAN KECAMATAN KOTA DI MOJOKERTO BERDASARKAN PP 19 TH.2008
Penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif ingin mengetahui kelayakan pembentukan kecamatan Kota Mojokerto. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan 20 (du puluh) indicator yang dipersyaratkan oleh PP 19 tahun 2008 mendapatkan total nilai dari seluruh indicator sebesar 351.35 dalam kategori mampu dan direkomendasikan dibentuk kecamatan baru. Kondisi pembentukan kecamatan baru didukung oleh berbagai pihak terutama yang menjadi stake holder seperti legislatif, eksekutif, dan tokoh masyarakat setempat
Daya Tarik Iklan Politik pada Pemilu Legislatif
Penelitian ini bersifat eksploratif dengan pendekatan deskriptif kuantitatif antara lain bertujuan untuk mengetahui penggunaan media pengenalan kandidat pada pemilu legislatif 2009, mengidentifikasi daya tarik iklan politik parpol dan prioritas program yang menarik pemilih serta mengetahui persepsi pemilih terhadap peran media komunikasi pada pemilu legislatif 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosialisasi pada saat pemilu 2009 masih kurang berperan dengan baik. Iklan politik parpol yang mereka tawarkan relatif menarik. Media komunikasi yang digunakan berupa televisi, internet, surat kabar efektif untuk memengaruhi pemilih dan dijadikan pertimbangan dalam memilih kandidat. Demikian juga media komunikasi lewat organisasi keagamaan dan perkumpulan warga dipandang lebih efektif untuk memengaruhi pemilih. Sedangkan mereka yang berpendidikan menengah-bawah cenderung orientasi politik pada pilihan ideologi, sedangkan mereka yang berpendidikan tinggi lebih cenderung orientasi politiknya pada “problem solving policy”
EFEKTIVITAS SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001:2008 TERHADAP KUALITAS PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KOTA BLITAR
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, yang bertujuan (1) mengetahui efektivitas SMM ISO 9001:2008 terhadap kualitas pelayanan kependudukan; (2)mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas SMM ISO 9001:200 dalam mewujudkan pelayanan berkualitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis mengenai efektivitas SMM ISO 9001:2008 di Kota Blitar mengenai layanan administrasi kependudukan meliputi bukti langsung, kehandalan, daya tanggap aparat pelayanan, jaminan,dan empati diperoleh nilai kualifikasi rata-rata 3,18 dengan kriteria baik, tingkat pencapaian rata-rata sebesar 79,99% dengan kriteria pencapaian efektif. Faktor yang mempengaruhi tidak efektivitasnya pelayanan disebabkan oleh karena faktor tangibel dan kenyaman pelayanan masih kurang; kehandalan petugas pelayanan yang masih kurang; akurasi dan daya tanggap petugas pelayanan perlu diperhatikan;dan masih kurangnya empati aparat, tingkat ketrampilan dan kedislipinan aparat dalam memberikan pelayanan yang masih perlu ditingkatkan, adanya biaya tambahan di luar ketentuan untuk mendapatkan pelayanan, petugas dalam memberikan pelayanan masih ada yang kurang ramah.
This research used quantitative descriptive approach, which aims to know (1) the effectiveness of QMS ISO 9001:2008 in realizing a population service quality (2) to know factors that influence the effectiveness of QMS ISO9001:2008 in realizing quality service. The results showed that the analysis of the effectiveness of QMS ISO 9001:2008 in Blitar City on population administration service covering direct evidence, reliability, responsiveness of service, assurance, and empathy qualifier values obtained with the 3.18 average good criteria, average achievement of 79.99% with the effective achievement criteria. The factors that affect is not effectiveness of the service caused the tangible and comfort care; reliability of service personnel; accuracy and responsiveness of care apparatus, and f empathy apparatus are lacking, the level of skill and discipline personnel in providing services to be improved, the additional costs beyond the provision for services, personnel in providing services there are less friendly
Political Behavior of Women's Voter of Mojokerto City on Legislative Election 2014
Kehadiran demokratisasi dan peran media massa berdampak terhadap perilaku pemilih perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskritif kuantitatif dengan tujuan mengidentifikasi peran lembaga sosialisasi dan media informasi pada Pemilu Legislatif 2014, dan mengetahui preferensi pemilih perempuan dalam menentukan pilihan politiknya serta mengetahui terpaan media massa dan daya tarik iklan politik parpol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga sosialisasi dan media informasi pada Pemilu Legislatif 2014 berperan dalam memberikan sosialisasi dan pengenalan kandidat kepada pemilih. Preferensi pemilih perempuan dalam menentukan pilihan politiknya dari sisi sosiologis lebih banyak memertimbangkan latar belakang agama, organisasi profesi, asal daerah, informasi dari keluarga, dan intelektualitas kandidat. Dari sisi psikologis, kebanyakan perempuan cenderung memertimbangkan kedekatan emosional, kesamaan parpol, integritas, dan minat yang sama. Preferensi politik dari pertimbangan rasional cenderung kepada persoalan pengalaman dan keberhasilan kandidat dalam memimpin organisasi baik itu lokal maupun nasional, intelektualitas dan kualitas kandidat, isu-isu kampanye, visi dan misi, program kerja, kredibilitas, memunyai komitmen, kepribadian, gaya hidup sederhana, performa kinerja yang baik, kapabilitas yang bagus, kinerja/citra partai bersih, dan kedekatan dengan rakyat kecil.The presence of democratization and the role of the mass media have an impact on the behavior of women voters. This research used a descriptive quantitative approach with the aim to identifying the role of institutions of socialization and media information on the legislative elections 2014, and to know the preferences of women’s voter in determining their political choice and to know the exposure of mass media and the appeal of political advertising from political parties. The results indicate that the institution of socialization and information media on the legislative elections 2014 was instrumental in disseminating information and introduce the candidates to the voters. The preferences of women’s voter in determining their political choices from the sociological side is more considering the religious background, professional organizations, origin of place, family information, and intellectuality of the candidates. From the psychological side, most women tend to consider the emotional closeness, similarity of political parties, the integrity, the same interest. The political preferences of rational considerations tend to the issue of the candidate experience and success in leading the organization, whether it locally or nationally, intellectuality and the quality of candidates, campaign issues, vision and mission, programs, credibility, commitment, personality, modest, good performance, good capability, clean image and performance, and closeness with ordinary people.
Kinerja Birokrasi Pelayanan Sektor Publik: Perspektif Perkembangan Teori
Teori kinerja birokrasisektor publik selalu perkembang sesuai dengan perkembangan administrasi negara. Pendekatan dan ukuran kinerja birokrasi publik di negara yang menggunakan sistem politik totaliter tentunya berbeda dengan sistem politik demokrasi. Dalam tulisan ini lebih banyak berbicara kinerja birokrasi publik pada sistem politik demokrasi. Konsep kinerja birokrasi publik dipengaruhi oleh konsep kinerja di sektor bisnis.Pengaruh teori kinerja yang paling dominan adalah New Publik Management (NPM) yang berkembang di dunia sejak akhir 1970-an. Pada 1990-an, istilah NPM digunakan untuk menggambarkan pembenahan radikal dalam manajemen layanan publik di beberapa negara seperti Inggris dan Austria.Teori kinerja dari satu ahli dengan ahli lainya tentunya ada perbedaan, akan tetapi saling melengkapi. Teori kinerja yang sekiranya cocok untuk kinerja birokrasi publik model input– output karya Pollit & Bouckaert, namun teori Pollit & Bouckaert tersebut perlu ada novelty yaitu unsur keadilan (equity).Â
PERILAKU POLITIK PEMILIH MASYARAKAT PERKOTAAN PADA PEMILU LEGISLATIF 2009
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku politik pemilih pada pemilu legislatif 2009, mengetahui penyebab mereka golput serta mengidentifikasi isu-isu politik dan prioritas program yang menarik pemilih. Merupakan penelitian melalui pendekatan deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pilihan politik mereka antara lain faktor sosiologis berupa latar belakang agama, faktor psikologis berupa kedekatan emosional, kesalehan kandidat, popularitas kandisat, performen, integritas diri kandidat. Kemudian faktor-faktor rasionalitas berupa pengalaman kandidat, status pendidikan, kalangan profesional iklan politik, dan kredibilitas kandidat. Sedangkan yang menjadi penyebab golput di antaranya faktor kepercayaan pada kandidat dan rendahnya kepercayaan pada pihak pemerintah. Isu-isu politik dan prioritas program yang menarik pemilih antara lain, reformasi birokrsi, perbaikan pelayanan, kepastian hukum, pemberantasan KKN, lapangan kerja, dan pengangguran
- …
