114 research outputs found

    ANALISIS STRUKTURAL DAN AMANAT NOVEL JEMINI KARYA SUPARTO BRATA

    No full text
    Jemini�s novel is one of the modern Javanese literature prose created by Suparto Brata. Suparto Brata is a talented writer who is very prominent among the other Javanese literary authors created many works of literature. There are many awards received by Suparto Brata as a Javanese author. One of literary works that produced by Suparto Brata are novel. Jemini�s novel structured using Java language as a whole, but there are some Dutch words in the novel. This novel tells the life of a Javanese woman named Jemini. The suffering that he feel being \"munci\" Raden Radian makes Jemini grow strong. At the end of the story, Jemini find happiness in her life. Jemini patience and strength to be a better life. A novel can be understood as a whole, it needs to be analyzed. In this research, Jemini�s novel analyzed use structural theory. Elements analyzed include: character, setting, plot, theme, title, point of view, style and tone, symbolism, and irony. In conducting research novel, the first determined the object of research. Second, determines what theory use an analysis and search for reference books to strength the research. Next step is formulate the problem will discussed. And then, doing the research with data and theory that determined. Final step, the conclusion can be drawn based on the discussion that has been done before

    Isolasi Senyawa Lutein dari Ekstrak Bunga Brokoli sebagai Antioksidan

    No full text
    Antioxidant activity is important to protect our body from free radicals. Green vegetables such as broccoli has high content of lutein which can act as an antioxidant. The objective of this study was to isolate and characterize lutein extract of broccoli flowers, and then further evaluated its antioxidant activity by using α,α-diphenyl-β-picrylhydrazyl (DPPH). The extraction used n-hexane as solvent and KOH/ethanol for saponification process. Extracted lutein was characterized with preparative thin layer chromatography (TLC). Four fractions were obtained from preparative TLC and fraction 3 had the same Rf compared with lutein standard. This fraction was further analyzed with Fourier transform infrared (FTIR) spectrophotometer and had similar functional groups with lutein standard. Based on this result, it can be concluded that broccoli flower extract has lutein compound and potential as an antioxidant with 99.321 μg/mL IC50 value

    Pelapisan Komposit Hidroksiapatit-Kitosan Pada Paduan Logam Tial Dengan Metode Elektroforesis Deposisi

    No full text
    Aplikasi implan tulang dapat menggunakan TiAl karena biokompatibilitasnya. Namun, penggunaan dalam jangka panjang dapat membahayakan tubuh karena akan terjadi pelepasan ion logam. Untuk itu dilakukan penelitian dengan tujuan mengompositkan hidroksiapatit dengan kitosan dan melapiskannya pada paduan logam TiAl dengan metode elektroforesis deposisi (EPD). Untuk membandingkan pengaruh lamanya waktu perlakuan pada hasil pelapisan logam, metode elektroforesis dilakukan dengan interval waktu berbeda, yaitu 40 dan 60 menit dengan tegangan 200 V. Paduan logam yang telah terlapisi diamati dengan menggunakan mikroskop electron payaran (SEM). Hasil SEM menunjukkan bahwa waktu proses pelapisan selama 60 menit menghasilkan lapisan yang lebih homogen dan merata. Pencirian yang dilakukan dengan difraksi sinar-X dan inframerah menunjukkan bahwa paduan logam telah terlapisi oleh komposit hidroksiapatit-kitosan. Paduan logam TiAl yang telah terlapisi komposit hidroksiapatit-kitosan memiliki laju korosi yang lebih rendah dibandingkan dengan sebelum dilapisi oleh komposit hidroksiapatit-kitosan

    Sintesis dan Pencirian Komposit Hidroksiapatit-Zink Oksida (HAp-ZnO) sebagai Biomaterial Antibakteri.

    No full text
    Hidroksiapatit (HAp) merupakan material yang lazim dimanfaatkan sebagai bahan implan tulang dan gigi. Penelitian berkembang untuk mencari dan menyintesis HAp dengan kemampuan antibakteri yang baik. Pada penelitian ini, senyawa HAp hasil sintesis dikompositkan dengan seng oksida (ZnO) untuk menghasilkan material antibakteri. HAp disintesis dengan metode presipitasi basah menggunakan cangkang tutut (Bellamya javanica) sebagai sumber kalsium. Pengompositan dengan senyawa ZnO dilakukan secara in situ. Persen kristalinitas material menurun dengan penambahan ZnO yang mengindikasikan bahwa substitusi ion Zn menghambat pertumbuhan kristal. Sifat antibakteri HAp dan komposit HAp-ZnO diuji terhadap Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Daya hambat terhadap bakteri uji meningkat pada HAp yang dikompositkan dengan ZnO. Komposit HAp-ZnO menunjukkan daya hambat yang lebih baik pada Eschericia coli yang merupakan bakteri Gram negatif

    Sintesis Dan Pencirian Komposit Hidroksiapatit-Gelatin Dengan Presipitasi Basah Secara In-Situ Dan Ex-Situ

    No full text
    Kasus kerusakan tulang seperti patah tulang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan implan tulang sintetik semakin meningkat. Implan tulang tersebut dapat diperoleh dari bahan berupa keramik seperti hidroksiapatit (HAp). HAp dapat disintesis dengan metode presipitasi basah. Metode ini terdiri atas kalsinasi, hidrasi, sintesis HAp, dan perlakuan termal. Cangkang tutut (Bellamya javanica) yang merupakan bahan utama dipreparasi sehingga terbentuk CaCO3, dikalsinasi membentuk CaO, kemudian dibiarkan bereaksi dengan udara membentuk Ca(OH)2, yang digunakan sebagai bahan baku sintesis HAp. Kadar Ca diperoleh sebesar 71% dari spektrofotometer serapan atom. HAp sintetik diperoleh melalui pencampuran (NH4)2HPO4 0.3 M dan Ca(OH)2 0.5 M menggunakan 2 metode, yaitu in-situ dan ex-situ dengan ragam konsentrasi gelatin, yaitu 10, 20, dan 30%, selanjutnya komposit HAp-gelatin dianalisis dengan difraksi sinar-X, spektrofotometer inframerah, dan mikroskop elektron payaran (SEM) untuk menentukan komposit HAp-gelatin yang terbaik. Komposit terbaik adalah HAp-gelatin 30% yang disintesis dengan metode in-situ karena kristalinitasnya paling tinggi dan hasil SEM menunjukkan bentuknya granula yang lebih kecil dan lebih homogen

    Sintesis Hidroksiapatit dari Cangkang Keong Sawah (Bellamya javanica) dengan Metode Basah dan Modifikasi Pori dengan Kitosan

    No full text
    Hydroxyapatite (HAp) was synthesized using calcium originated from rice fields snail shell, that was reacted with phosphate obtained from diammonium hydrogen phosphate. The resulted ore was modified using chitosan. The HAp was prepared using wet method. Chitosan was used as porogen due to its bioactivity and biocompatibility properties. Sonication time in the synthesis was varied in 2, 4, and 6 hours. The longer the synthesis time, the higher the purity of the HAp. Pore modification was applied to HAp with the highest purity. Pore modifications were conducted by adding 4% and 6% chitosan. Scanning electron microscope identification showed no significant differencein pore sizes using 4% and 6% chitosan. Fourier transform infrared spectrum of HAp with 6% chitosan showed almost similar functional groups with that of the unporogened HAp. In vitro test of the porogened HAp revealed its bioactivity

    Pelapisan Komposit Hidroksiapatit-Kitosan Pada Paduan Logam Tial Dengan Metode Elektroforesis Deposisi

    No full text
    Aplikasi implan tulang dapat menggunakan TiAl karena biokompatibilitasnya. Namun, penggunaan dalam jangka panjang dapat membahayakan tubuh karena akan terjadi pelepasan ion logam. Untuk itu dilakukan penelitian dengan tujuan mengompositkan hidroksiapatit dengan kitosan dan melapiskannya pada paduan logam TiAl dengan metode elektroforesis deposisi (EPD). Untuk membandingkan pengaruh lamanya waktu perlakuan pada hasil pelapisan logam, metode elektroforesis dilakukan dengan interval waktu berbeda, yaitu 40 dan 60 menit dengan tegangan 200 V. Paduan logam yang telah terlapisi diamati dengan menggunakan mikroskop electron payaran (SEM). Hasil SEM menunjukkan bahwa waktu proses pelapisan selama 60 menit menghasilkan lapisan yang lebih homogen dan merata. Pencirian yang dilakukan dengan difraksi sinar-X dan inframerah menunjukkan bahwa paduan logam telah terlapisi oleh komposit hidroksiapatit-kitosan. Paduan logam TiAl yang telah terlapisi komposit hidroksiapatit-kitosan memiliki laju korosi yang lebih rendah dibandingkan dengan sebelum dilapisi oleh komposit hidroksiapatit-kitosan

    Membran Paduan Kitosan-Polivinil Alkohol yang Mengandung Ekstrak Daun Bandotan Berpotensi sebagai Pembalut Luka.

    No full text
    Membran pembalut luka yang mengandung ekstrak daun bandotan dibuat dari paduan kitosan dan polivinil alkohol (PVA) dengan perbandingan komposisi 8:2, 7:3, dan 6:4. Membran yang dihasilkan kemudian diuji dan dicirikan berdasarkan sifat mekanik, bobot jenis, ketebalan, permeabilitas uap air, dan spektrum inframerahnya. Ketebalan membran dan permeabilitas uap air yang dihasilkan pada ketiga komposisi hampir sama. Sifat mekanik membran khususnya pada pemanjangan meningkat dengan bertambahnya PVA dan sejalan dengan turunnya bobot jenis membran. Jumlah ekstrak pada membran dengan komposisi 6:4 memberikan sifat antibakteri yang baik sebesar 75.5%. Interaksi antara komponen penyusun membran dan ekstrak daun bandotan terjadi secara fisik dibuktikan tidak adanya puncak baru pada membran. Puncak khas gugus fungsi C-O yang dimiliki esktrak juga ditemukan pada membran yang mengandung ekstrak pada bilangan gelombang 1118 cm-1

    Fraksionasi miristisin dari minyak atsiri pala (Myristica fragrans Houtt) sebagai pelangsing aromaterapi secara in vivo

    No full text
    Nutmeg is a spice plant native of Indonesia that contains essential oils, including myristicin as the main psychoactive compound. In this study, myristicin was fractionated from nutmeg essential oil and analyzed for its potency as slimming aromatherapy with in vivo assay. Nutmeg essential oil was fractionated by using column chromatography resulting fraction 5 (F5) having similar chromatogram pattern to myristicin standard. Nutmeg essential oil, F5, and α- pinene were then analyzed by gas chromatograph-mass spectrometer, and the slimming aromatherapy potencies were studied on white adult male Sprague- Dawley rats. Inhalation of nutmeg essential oil, F5, and α-pinene for 30 days showed lower percentage of body weight gain compared with positive control group (high fat and cholesterol feed) although the differences were not significant. Rats treated with nutmeg essential oil and F5 inhalation showed the lowest body weight gain responses, 9.18 and 9.45% (w/w), respectively. However, nutmeg essential oil and F5 were not potential as slimming aromatherapy yet

    Synthesis of CaTiO3 by Using Eggshell as Source of CaO.

    No full text
    Until now, eggshells are wasted and pollute the environment without further utilization. The high content of CaCO3 makes eggshell a high potential commodity for precursors in the synthesis of materials, such as calcium titanate (CaTiO3). CaTiO3 is often used as dielectric material for capacitors, as catalyst in photocatalysis and photoluminescence process. CaTiO3 could be synthesized by reacting CaO obtained from eggshell calcination and TiCl4 through hydrothermal method. The synthesis was conducted at three pH conditions, i.e. pH 1, 4, and 14, at temperature of 150 °C for 8 hours. Based on X-ray diffraction analysis result, synthesis at pH 1 and pH 4 only gave TiO2 crystals. CaTiO3 was obtained at pH 14 condition. The result of particle size analyzer test showed that CaTiO3 crystals was not homogeneous with crystal size ranges between 400 and 1400 nm.Selama ini, cangkang telur hanya menjadi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan tanpa dimanfaatkan lebih lanjut. Tingginya kandungan CaCO3 menjadikan cangkang telur sebagai komoditas yang berpotensi sebagai prekursor dalam sintesis material, seperti kalsium titanat (CaTiO3). CaTiO3 sering digunakan sebagai bahan dielektrik untuk kapasitor, selain itu juga berfungsi sebagai katalis pada proses fotokatalis dan fotoluminesens. CaTiO3 dapat disintesis dengan mereaksikan CaO dari kalsinasi cangkang telur dan TiCl4 melalui metode hidrotermal. Sintesis dilakukan pada 3 kondisi pH, yaitu pH 1, 4, dan 14, dengan suhu 150 oC selama 8 jam. Berdasarkan hasil analisis difraksi sinar-X, sintesis pada pH 1 dan pH 4 hanya menghasilkan kristal TiO2. Kristal CaTiO3 berhasil disintesis pada kondisi pH 14. Hasil uji penganalisis ukuran partikel menunjukkan bahwa kristal CaTiO3 yang terbentuk masih belum homogen dengan ukuran kristal 400–1400 nm
    corecore