3 research outputs found
MAKNA KULTURAL LEKSIKON RIAS PENGANTIN SOLO PUTRI: KAJIAN ETNOLINGUISTIK
Indraswari, Rininta Ratlin. 2016. Makna Kultural Leksikon Rias Pengantin Solo
Putri: Kajian Etnolinguistik. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing I: Imam Baehaqie, S.Pd., M.Hum., Pembimbing II:
Ahmad Syaifudin, S.S., M.Pd.
Kata kunci: makna kultural, leksikon, rias pengantin, Solo Putri,
etnolinguistik.
Rias pengantin Solo Putri mengandung makna kultural yang tertuang dalam
lambang-lambang tertentu. Namun, jarang orang mengetahui makna-makna yang
terkandung di balik lambang-lambang tersebut. Padahal jika ditelisik lebih dalam,
riasan pengantin Solo Putri tidak hanya berguna sebagai pemercantik pengantin,
tetapi terdapat harapan kepada pengantin putri dalam menjalani kehidupan
berumah tangga.
Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi bentuk leksikon rias
pengantin Solo Puti dan makna kultural rias pengantin Solo Putri. Berkaitan
dengan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi bentuk
leksikon rias pengantin Solo Putri dan mengungkap makna kultural rias pengantin
Solo Putri.
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan teoretis dan
pendekatan metodologis. Pendekatan teoretis yang digunakan yaitu pendekatan
etnolinguistik, sedangkan pendekatan metodologis yang digunakan yaitu
pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang digunakan yaitu leksikon rias
pengantin Solo Putri yang diperoleh dari wawancara dengan narasumber. Metode
pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik simak bebas libat cakap, teknik
catat, teknik cakap semuka, dan teknik rekam. Kemudian, data dipilah dan
dianalisis untuk disajikan dengan teknik formal dan informal.
Hasil analisis yang diperoleh dari penelitian ini yaitu (1) leksikon rias
pengantin Solo Putri dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu kata dan
frasa. Leksikon bentuk kata dibagi menjadi dua, yaitu monomorfemis dan
polimorfemis. Dalam penelitian ini ditemukan sepuluh kata yang termasuk
monomorfemis dan delapan kata yang termasuk polimorfemis. Bentuk frasa dalam
penelitian ini ditemukan lima leksikon dan (2) makna kultural rias pengantin Solo
Putri merupakan wujud pengharapan leluhur untuk pengantin putri yang
hubungannya erat dengan ketuhanan, kesetiaan pada suami, sikap dan pandangan
hidup, serta hubungan dengan masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat direkomendasikan yaitu
(1) perias dapat menambah variasi riasan untuk menambah leksikon. Namun,
hendaknya tetap mempertahankan riasan pakem yang sarat dengan makna
kultural. (2) pengantin putri hendaknya mengerti dan memahami makna rias
pengantin Solo Putri, sehingga dapat menggunakannya sebagai pedoman hidup.
(3) pranata cara hendaknya menyampaikan makna kultural rias pengantin Solo
Putri dalam acara resepsi, sehingga tamu yang hadir mengetahui makna yang
terkandung di dalam rias. (4) Lembaga Pendidikan Keterampilan (LPK) rias
ix
pengantin hendaknya mengajarkan makna yang terkandung dalam rias pengantin
Solo Putri kepada peserta didiknya, sehingga perserta didik dapat menularkan
pengetahuannya kepada calon pengantin. (5) Dinas Pariwisata dan Dinas
Pendidikan hendaknya ikut melestarikan pengetahuan tentang makna kultural rias
pengantin Solo Putri melalui seminar atau pelatihan
Proposed Customer Experience to Increase Cashless Payment at Gas Stations in Bandung City
Telkom has been assigned by Pertamina to provide digital payment service at gas station and create positive experience as such customers could change their behavior from cash payment to cashless payment, and in turn taking part for the success of Government's program in the Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) or Non-Cash National Movement. However, the number of cashless payments is still smaller in number compare to cash payments. This research was conducted with the objectives, first, to analyze factors those could significantly influence customer experience in using digital payment; and second, to develop customer experience strategy as an effort to increase cashless payment behavior at the gas stations. To help finding the root causes of this problem, the author used mix-methodology of qualitative and quantitative research. First, external analysis of macro environment, industry environment, competitor, and consumers of gas station was conducted consecutively using four methods, i.e., PEST Analysis, Porter Five Forces, Competitor Analysis, and Consumer Analysis. Second, internal analysis toward Telkom company was conducted using three methods, i.e., Marketing Mix, STP, and VRIO Analysis. As the result, this study generates six root causes or problem relates to convenience, brand trust, substitute product, limited features, promotion, and target market, which indicates the need to improve customer experience at Pertamina gas station. Therefore, the authors proposed nine customer experience strategy based on significant factors those influence customer experience in using digital payment; and as an effort to increase cashless payments at Pertamina gas station. Keywords: Digitalization gas stations, Telkom, Customer Experience, Digital Paymen
Financial Performance Assessment of PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) in Comparison with other Port Companies Locally and Globally
Two-thirds of Indonesia is water. Thousands lined the island of Sabang to Merauke. As an archipelago, marine transportation plays an important role in the development of Indonesia. Supported by Indonesia's strategic location as it is situated at the crossroads of world trade routes. Therefore it required sea transportation system that is reliable and efficient. This can be achieved if the management of the navy, both shipping companies and port operator operates properly and professionally.This study focuses on the performance of the port operator, PT Pelabuhan Indonesia II, which has its head office in Jakarta. PT Indonesia II port operational areas of the company covers 10 provinces and it has three subsidiaries, affiliate one, two business units and one joint operation.The performance that discussed in this study focused on financial performance, since only a company with good financial performance that can perform the operations well too.This final will discuss the performance of PT Pe4labuhan Indonesia II and will also be compared with other companies in the same industry both locally and globally. The author will use some framework. In the end, come to the conclusion and recommendation for PT Pelabuhan Indonesia II to achieve better performance.As a conclusion, PT Pelabuhan Indonesia II almost rivaling global competition a leader in several assessment framework, with an optimal capital structure when the WACC minimized at 53% of debt and 47% of equity while the maximum of firm value of IDR 8,620,465,240,669.Keywords: Archipelago, Port, Performance, Comparison, Financial statements analysis
