1,720,974 research outputs found
Identifikasi Perubahan Karakteristik Curah Hujan 30 Tahunan Di Wilayah Indonesia Berdasarkan Data GHCN
Makalah ini membahas perubahan curah hujan 30 tahunan dari data GHCN (Global Historical Climatology Network) dengan resolusi horisontal 2,5o x 3,75o. Perubahan diamati melalui intensitas, anomali, pola dan peluang kejadian hujan. Data yang digunakan adalah data dari tahun 1900 sampai dengan 1990, yang kemudian dibuat rata-rata setiap 30 tahun untuk mengamati pola dan anomali curah hujan. Sedangkan untuk mengamati intensitas dan peluang curah hujan diklasifikasikan menjadi: periode 1 (1901-1930), periode 2 (1911-1940), periode 3 (1921-1950), periode 4 (1931-1960), periode 5 (1941-1970), periode 6 (1951-1980), dan periode 7 (1961-1990). Hasilnya menunjukkan terjadi perubahan pola curah hujan di seluruh wilayah Indonesia dengan nilai yang beragam. Perubahan pola yang paling besar terjadi di Aceh dan sekitarnya (dalam grid dengan ukuran 2,5o x 3,75o) serta Maluku dan sekitarnya. Berdasarkan standar deviasi 15%, terjadi anomali curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Anomali terbesar terjadi di atas Pulau Halmahera, Pulau Seram dan Ambon, Selat Bangka, Sulawesi selatan, Papua barat dan Aceh. Grafik peluang juga menunjukkan perubahan. Perubahan peluang curah hujan yang besar terjadi di Pulau Halmahera, Pulau Seram dan Ambon, Selat Bangka, Sulawesi selatan, Papua barat dan Aceh. Terjadi perubahan intensitas curah hujan di Indonesia pada 30 tahun terakhir (1961-1990) dan perubahannya sangat bervariasi, mulai dari 0,58 mm/bulan sampai 89,21 mm/bulan. Peningkatan curah hujan yang sangat ekstrim terjadi di Papua sebesar 89,21 mm/bulan periode 1961-1990 terhadap periode 1931-1960.Hlm.135-14
Simulasi Curah Hujan Berbasis Model Dinamis Cubic Conformal Atmospheric Model (CCAM)
The shift of the rain belt from the south to the north at the begin of year and the shift of the rain belt from thenorth to the south starting from September that it were demonstrated by the map of the climatological rainfallcould be simulated well by CCAM which are forced by SST from GFDLCM20 and GFDLCM21. In the lateranalysis, Indonesia region is divided into six part of region i.e north west, south west, middle north, middlesouth, north east and south east. The north east condition is not included in discussion because of the lack ofthe observation data. In the comparison of simulated rainfall and observed rainfall, CCAM with GFDLCM20and GFDLCM21 showed excellent performance in the southwest and in the middle south parts of Indonesia.The good correlation showed by such parameters. First, the pattern correlation reach the high value (>0,8).Second, rainfall spectrum and dominant period simulated have a good correlation with rainfall spectrum anddominant period observed. Third, differencies of variation coefficient are less thanHal. 59-6
Feed Back Peningkatan Temperatur Permukaan Pada Curah Hujan Di Wilayah Indonesia Bagian Tengah Selatan Berbasis Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM)
Proyeksi curah hujan dan temperatur pada tahun 2050 dengan skenario A2 yang dihasilkan dari Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan resolusi 55,5 km digunakan untuk mengidentifikasi wilayah Indonesia bagian tengah selatan (mencakup daratan dan laut/lautan) yang mengalami feedback positif maupun negatif pada curah hujan akibat peningkatan temperatur. Feedback positif terjadi jika peningkatan temperatur membangkitkan kontras temperatur permukaan yang semakin tinggi dan menjadi pemicu terjadi peningkatan proses pembentukan awan rendah dan hujan. Dengan kadar uap air yang cukup tinggi akibat meningkatnya evaporasi maka curah hujan semakin tinggi. Feedback negatif terjadi jika peningkatan temperatur menyebabkan terjadi peningkatan albedo. Akibatnya proses evaporasi dan konveksi berkurang dan dampaknya berlanjut pada penurunan intensitas curah hujan. Berbasis hasil penelitian terdahulu, penelitian ini diutamakan di wilayah Indonesia bagian tengah selatan. Peningkatan temperatur sebesar 0,5oC sampai 1oC yang terjadi di daratan wilayah Indonesia bagian tengah selatan pada tahun 2050, sedangkan di laut terjadi peningkatan temperatur sampai 2oC. Peningkatan temperatur ini berkaitan dengan variasi alami dan asumsi dalam skenario A2. Sementara itu proyeksi curah hujan pada tahun 2050 pada umumnya menyebabkan terjadi penurunan intensitas curah hujan (feedback negatif), akan tetapi di sebagian kecil wilayah terjadi peningkatan intensitas curah hujan (feedback positif). Feedback negatif terjadi di Jawa pada Januari, Februari dan Mei, Sulawesi (Januari, Februari, April, Mei dan Juli) serta di laut Jawa (Januari, Februari, April, Oktober dan November). Feedback positif terjadi di Kalimantan (Januari sampai dengan Desember), di Jawa (September dan Oktober), di Sulawesi (Mei, Juni sampai dengan Desember) serta di laut Jawa pada September dan Oktober.Hlm.191-20
Aktivitas Konveksi Di Kototabang Berbasis X-Band Meteorological Radar
Horizontal distribution of precipitation echo observed by X-band meteorological radar on the 2 km of height in campaigns periods ie November 2 until November 28, 2002 and November 10 to December 9, 2005 representative of wet month and April 10 to May 5 2004 as a dry period, show convection activity over Kototabang and surrounding areas that are within radar coverage (circle area on 30 km of diameter). On the wet month, November and December 2005, horizontal distribution of precipitation echo slightly enaugh with a maximum frequency of about 45 db (decibels). Cloud cover is observed from the distribution of precipitation echo varies from 2.5% to 90% compare to coverage of radar. Convective activity starts early morning and then reaches a maximum in the afternoon. Convective mass over Kototabang primarily from west, north west, east, north east and south east, sometimes come from the north or south direction. Convective activities produce rain with maximum rate of about 40 mm/hour based on ORG (Optical Rain Gauge). Strength of vertical convection observed by radarwas very weak, both in wet and dry month. Frequency of vertical convection is about 0,05 % compare to total convective activity and produce light rain as measured by ORG.Hal. 123-13
Akurasi Temperatur Virtual Radio Acoustic Sounding System (RASS) Terhadap Data Radiosonde Di Kototabang
Lapisan-lapisan atmosfer berdasarkan perbedaan temperatur virtual (Tv) terhadap ketinggian ditunjukkan dengan jelas baik oleh data RASS maupun data Radiosonde, begitu pula dengan fluktuasi Tv terhadap waktu. Berdasar kedua data tersebut telah dilakukan penelitian dengantujuan mengetahui akurasi temperatur virtual estimasi RASS terhadap temperatur virtual Radiosonde hasil perhitungan. Data yang digunakan adalah data Kototabang pada bulan November 2002 dan April-Mei 2004. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa perbandingan kuantitas Tv pada November 2002 menunjukkan bahwa Tv RASS pada umumnya lebih kecil dibandingkan Tv Radiosonde. Hal serupa juga ditunjukkan oleh data April-Mei 2004, bahwa Tv RASS pada umumnya lebih kecil dibandingkan Tv Radiosonde, untuk lapisan permukaan sampai ketinggian 9600 m. Di atas itu, Tv RASS lebih besar dari Tv Radiosonde. Bias/perbedaan Tv RASS dengan Tv Radiosonde bervariasi antara -1,4 sampai 5,9 K untuk data tahun 2002 dan -0,3 K sampai 22 K untuk data tahun 2004. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa akurasi Tv RASS terhadap Tv Radiosonde terkecil mencapai 99,2 % atau Tv RASS mempunyai kesalahan terbesar 0,8 %pada lapisan dengan ketinggian 1500 msampai 10000 m. Akurasi semakin berkurang di atas ketinggian tersebut.Hlm.145-15
Simulasi Numerik Konvensi Termal Dan Konvensi Awan Cumulus
ABSTRACT A model of Cumulus Cloud is presented that combines the vertical equation of mass continui-ty, the first law of thermodynamics and the following cloud microphysical processes : condensa-tion of water vapour and evaporation of cloud droplets. The result of time integration of model shows that, with the inclusion of the micro physical processes, some aspect of three stages of the life cycle of a cumulus cloud as depicted by Byers in 1965 (developing stage, mature stage and decaying stage) are simulated qualitatively by the model. Model investigated is the relative importance of various microphysical processes in determining dynamic behaviour of cloud during the entire life cycle.' A model of thermal and cumulus convection usefull for short period weather prediction especially for flight, soaring and gliding. RINGKASAN Model awan Cumulus dinyatakan sebagai gabungan dari persamaan gerak vertical, persamaan kontinuitas massa, hukum termodinamilca pertama dan proses mikrofisika awan yang meliputi kondensasi uap air dan evaporasi tetes awan. Dari hasil integrasi terhadap waktu pada model memperlihatkan tiga tahap siklus hidup sel konveksi seperti yang dikemukakan oleh Byers (1965), yaitu tahap pertumbuhan, tahap matang dan tahap peluruhan. Dari model dapat diperlihatkan peranan proses mikrofisika awan dalam menentukan dinamika awan selama siklus hidupnya. Model konveksi termal dan konveksi awan konveksi ini berguna dalam peramalan cuaca jangka pendek, khususnya untuk kepentingan penerbangan.Hlm.17-28:Il.; 30 cm
Analisis Outlier Data Curah Hujan Berdasarkan Tropical Rainfall Measuring Mission Untuk Wilayah Jawa-Bali
Hal.18-2
DAMPAK PENERAPAN PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA) DALAM CLUSTERING CURAH HUJAN DI PULAU JAWA, BALI, DAN LOMBOK [IMPACT OF PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA) IMPLEMENTATION ON RAINFALL CLUSTERING OVER JAVA, BALI AND LOMBOK ISLANDS]
hal. 97-10
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
