116 research outputs found

    Pendugaan Vigor Benih dan Bibit dengan Uji Pemunculan Radikula (Radicle Emergence) pada Benih Buncis (Phaseolus vulgaris L.)

    No full text
    Pengembangan metode uji vigor benih diperlukan untuk memperoleh metode yang mudah, objektif, dan cepat. Salah satu uji cepat vigor yang sudah divalidasi ISTA yaitu pemunculan radikula (RE). Penelitian ini bertujuan menentukan waktu pengamatan RE yang tepat pada enam varietas benih buncis dan mengkorelasikannya dengan uji vigor benih lainnya serta performa bibit di lapangan. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikarawang, dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan April-Agustus 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pengamatan berulang untuk pengujian RE dan RKLT satu faktor untuk uji vigor bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode uji RE pada benih buncis dengan uji antar kertas pada suhu 25 ± 2 ºC, pada periode pengecambahan 39 jam ± 15 menit berkorelasi erat dengan nilai rataan waktu berkecambah (r = -0.91, R2 = 0.83), daya berkecambah (r = 0.86, R2 = 0.75), kecepatan tumbuh (r = 0.84, R2 = 0.71), daya hantar listrik (r = -0.83, R2 = 0.70), daya tumbuh (r = 0.89, R2 = 0.79), dan rataan pemunculan bibit (r = 0.89, R2 = 0.79). Sebagai alternatif uji daya berkecambah pada benih buncis setara dengan 80%, maka direkomendasikan nilai RE setara dengan 70%

    Pematahan Dormansi Benih Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) dengan Perendaman dalam Air Panas dan Giberelin

    No full text
    This research was conducted at Seed Processing Unit PT Astra Agro Lestari Tbk, Pangkalan Bun, Central Borneo on May-August 2014. The purpose of this research was to study dormancy breaking methods of oil palm seeds by hot water soaking and gibberellin application. The experiment was arranged in a completely randomized design with two factors. The first factor was water soaking intensity, consisted of five levels (seeds were soaked in water at 26 ˚C for 7 days [P0], seeds were soaked in 80˚C hot water for 3x24 hours [P1], P1 + water at 26 ˚C for 2 days [P2], P1 + water at 26 ˚C for 4 days [P3], dan P1 + water at 26 ˚C for 6 days [P4]). The second factor was soaking in gibberellin (0, 50, and 100 ppm) after water soaking treatment. The result showed that gibberellin application did not give significant effect on germination of oil palm seed. Seeds of crossing number 2 which was soaked in hot water for 3x24 hours (P1) or seeds of crossing number 5 which was soaked in hot water for 3x24 hours then in water at 26 ˚C for 6 days (P4) were considered as the best treatments with average germination of 41% and 41.6%. However, the percentage of seeds attacked by fungi in treatment P4 was higher (2.3-2.7%) compared to P1 (0-0.7%). Total time required for dormancy breaking and germination by soaking in hot water was faster (46 days) than conventional method (113 days). However, germination percentage of oil palm seeds soaked in hot water was still low (42%), compared to the conventional method (74.7%)

    Studi Fenologi dan Penentuan Masak Fisiologis Benih Mentimun (Cucumis sativus L.) Berdasarkan Unit Panas

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari fenologi perkembangan bunga sampai menjadi buah dan mengetahui unit panas yang tepat untuk menentukan masak fisiologis benih mentimun (Cucumis sativus L.). Studi fenologi dilakukan sejak antesis sampai batas terakhir pemanenan. Unit panas tanaman diperoleh dari pengukuran suhu harian. Studi penentuan masak fisiologis benih mentimun menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor. Faktor percobaan adalah umur panen mentimun yang terdiri atas 20 taraf, yaitu 15 sampai 34 hari setelah antesis (HSA). Hasil menunjukkan, masak fisiologis benih mentimun varietas Vanesa dicapai pada umur panen 29 HSA dengan ciri-ciri warna kulit buah kuning, benih berwarna putih kecoklatan, dan biji mudah dilepas dari daging buah. Pada umur panen ini kadar air benih 41.5%, bobot kering benih 2.5 g, viabilitas benih maksimum (daya berkecambah 96%), serta vigor maksimun (indeks vigor 93.5% dan keserempakan tumbuh 96%). Unit panas benih mentimun varietas Vanesa saat masak fisiologis (29 HSA) adalah 979.80Cd

    Pengembangan Metode Uji Vigor Benih Buncis (Phaseolus vulgaris) dengan Pengukuran Pemunculan Radikula (Radicle Emergence).

    No full text
    Pengujian vigor benih membutuhkan metode yang objektif, mudah, dan pelaksanaannya cepat. Salah satu metode uji vigor menurut ISTA 2014 adalah uji pemunculan radikula (RE). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode uji RE pada benih buncis (Phaseolus vulgaris) dan mengkorelasikannya dengan mutu fisiologis benih serta performa bibit di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo, dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB pada bulan Februari-Mei 2016. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap untuk percobaan 1 (pengembangan metode uji RE), dan rancangan kelompok lengkap teracak untuk percobaan 2 (uji performa bibit di lapangan) dengan satu faktor (lot benih) dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode uji RE pada benih buncis dapat dilakukan dengan uji antar kertas pada suhu 25 ± 2 oC, dan pengukuran radikula dilakukan setelah benih dikecambahkan selama 42 jam ± 15 menit. Hasil uji RE ini berkorelasi negatif dengan hasil uji daya hantar listrik (DHL) dan rata-rata waktu berkecambah (MGT), serta berkorelasi positif dengan mutu fisiologis benih lainnya dan performa bibit di lapangan

    Matriconditioning Improves Thermotolerance in Pepper Seeds through Increased in 1-Aminocyclopropane-1-Carboxylic Acid Synthesis and Utilization

    No full text
    Matriconditioning using a solid carrier, Micro-Cel E, was applied on pepper seeds and its effects on the improvement of thermotolerance through the ethylene biosynthesis were studied. Untreated and matriconditioned seeds were soaked in 5 mM 1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid (ACC) for various time at 25 oC to studies the time course of ACC-derived ethylene production. To study the performance of the seeds at high temperature, they were planted at temperature regime of 35 oC, 12h light/27 oC, 12h dark. The ACC-oxidase activity of the seeds after incubated in ACC at 35 oC was also determined. The ACC contents in untreated and matriconditioned seeds during the 24h imbibition period at 35 oC were monitored. No ethylene was detected during soaking of pepper seeds in the absence of ACC. In 5 mM ACC detectable levels of ethylene were produced; the matriconditioned seeds producing 10-fold larger amounts than the untreated seeds at the time of germination. It is postulated that matriconditioning greatly increases the ACC-oxidase activity at the time of germination. Matriconditioned seeds imbibed at 35 oC produced larger amounts of ACC and greater ACC-oxidase activity than the untreated seeds. Thus, the basis for the thermotolerance by matriconditioned seeds may be increasing ability to synthesize ACC and to utilize it for ethylene production and stress alleviation

    Pengembangan Metode Uji Cepat Vigor Benih Kedelai dengan Pemunculan Radikula.

    No full text
    Pengujian vigor untuk mengevaluasi mutu benih memerlukan metode yang lebih cepat, tepat, dan mudah. Uji pemunculan radikula (radicle emergence = RE) merupakan metode pengujian vigor yang telah divalidasi ISTA sejak tahun 2014 pada benih jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode uji RE pada benih kedelai dengan menentukan waktu pengamatan yang tepat serta mengkorelasikan uji RE dengan vigor benih lainnya, viabilitas, dan vigor bibit di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyimpanan dan Pengujian Mutu Benih, rumah kaca Cikabayan, dan Kebun Percobaan Sawah Baru IPB pada bulan November 2018-Maret 2019. Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan pengamatan berulang digunakan pada percobaan RE. Rancangan percobaan RKLT sebagai rancangan dua faktor dengan pola split-plot, dengan varietas (Agromulyo, Dena 1, Deja 1, Detap 1, Devon 1, Devon 2, Demas 1, Gepak kuning, Anjasmoro, dan Grobogan) sebagai petak utama dan waktu pengamatan (36, 38, 40, 42, 44, 46, dan 48 jam) sebagai anak petak. Rancangan percobaan RKLT digunakan untuk pengujian vigor benih di laboratorium, rumah kaca, dan vigor bibit di lapangan dengan satu faktor yaitu varietas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji RE pada benih kedelai yang berbeda tingkat vigor dengan metode uji diatas kertas pada suhu 25 ± 2°C dan diamati pada 42 jam ± 15 menit setelah pengecambahan, terbukti berkorelasi erat dan dapat memprediksi daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, rataan waktu perkecambahan, daya berkecambah di media pasir, daya tumbuh di lapangan, dan rataan waktu pemunculan bibit

    Biomatriconditioning, Perendaman Akar Atau Penyemprotan Tanaman Dengan Agens Hayati Untuk Mengendalikan Hawar Daun Bakteri, Meningkatkan Hasil Dan Mutu Benih Padi

    No full text
    Penyakit hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo), menurunkan produksi padi hingga 80%. Sifat patogen Xoo adalah terbawa benih, ditularkan melalui udara, tular tanah, bahkan tular air. Penelitian ini terdiri atas dua percobaan. Percobaan I bertujuan memperoleh konsentrasi agens hayati (Pseudomonas diminuta A6 + Bacillus subtilis 5/B) terbaik untuk perendaman akar bibit, yang efektif mengendalikan HDB, meningkatkan hasil dan mutu benih padi di rumah kaca. Percobaan I menggunakan rancangan lingkungan rancangan acak kelompok dan rancangan perlakuan petak terbagi. Petak utama adalah perlakuan benih dan anak petak adalah konsentrasi agens hayati untuk perendaman akar bibit. Hasil percobaan I menunjukkan, biomatriconditioning (matriconditioning dengan agens hayati P. diminuta A6 + B. subtilis 5/B 4.5 x 108 cfu mL-1) meningkatkan daya tumbuh, indeks vigor dan bobot kering bibit padi dibandingkan kontrol negatif. Biomatriconditioning juga meningkatkan tinggi tanaman, bobot kering tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif per rumpun, dan jumlah gabah total per rumpun, serta menurunkan tingkat keparahan penyakit HDB. Perendaman akar dalam suspensi P. diminuta A6 dan B. subtilis 5/B 106 cfu mL-1 meningkatkan jumlah anakan produktif per rumpun. Perlakuan perendaman akar menurunkan tingkat keparahan penyakit HDB pada umur 91 HST. Biomatriconditioning dilanjutkan dengan perendaman akar dalam suspensi agens hayati 108 cfu mL-1 menurunkan populasi Xoo terbawa benih dibandingkan kontrol (benih dengan Xoo tanpa perlakuan benih tanpa perendaman akar bibit). Percobaan II bertujuan memperoleh konsentrasi agens hayati filosfir F112 terbaik untuk penyemprotan tanaman, yang efektif mengendalikan HDB, meningkatkan hasil dan mutu benih padi di lapangan. Percobaan II menggunakan rancangan lingkungan rancangan acak kelompok dan rancangan perlakuan petak terbagi. Petak utama adalah perlakuan benih dan anak petak adalah konsentrasi agens hayati untuk penyemprotan tanaman. Hasil percobaan II menunjukkan, biomatriconditioning meningkatkan bobot kering bibit umur 21 HST dibandingkan kontrol negatif. Biomatriconditioning mengurangi keparahan penyakit HDB pada 72 HST, meningkatkan bobot gabah bernas per rumpun, dan viabilitas benih hasil panen. Penyemprotan tanaman dengan F112 108 cfu mL-1 menurunkan keparahan penyakit HDB 72 HST dibandingkan kontrol tanpa penyemprotan maupun penyemprotan dengan bakterisida (streptomisin 0.1%), meningkatkan jumlah anakan produktif, bobot gabah panen, dan viabilitas benih hasil panen dibandingkan kontrol tanpa penyemprotan

    Efektivitas Frekuensi Dan Volume Penyemprotan Daun Dengan Agens Hayati Filosfer Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Dan Produksi Benih Padi.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan frekuensi dan volume penyemprotan agens hayati filosfir pada tanaman padi terinfeksi Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi benih bermutu, serta kejadian penyakit hawar daun bakteri (HDB) di lapangan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB dan Kebun Percobaan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Muara, Bogor mulai Maret 2014 hingga September 2014. Percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan dua faktor, dan ulangan sebagai kelompok. Faktor pertama yaitu lima taraf frekuensi penyemprotan agens hayati: P0 = kontrol, P1 = benih diinokulasi Xoo kemudian diinvigorasi dengan biomatriconditioning plus agens hayati, P2 = benih diinokulasi Xoo, kemudian diinvigorasi dengan biomatriconditioning, dan tanaman disemprot agens hayati filosfer F112 satu kali saat 60 hari setelah pindah tanam (HST), P3 = benih diinokulasi Xoo, kemudian diinvigorasi dengan biomatriconditioning, dan tanaman disemprot F112 dua kali (60 dan 80 HST), dan P4 = benih diinokulasi Xoo, kemudian diinvigorasi dengan biomatriconditioning, tanaman disemprot F112 tiga kali (40, 60, dan 80 HST). Faktor kedua yaitu tiga taraf volume semprot F112: V1 = 300 liter/ha, V2 = 400 liter/ha, dan V3 = 500 liter/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomatriconditioning dengan agens hayati rizosfer Pseudomonas diminuta A6 dan Bacillus subtilis 5/B meningkatkan daya tumbuh dan bobot kering bibit. Benih yang diberi perlakuan biomatriconditioning kemudian dilanjutkan dengan penyemprotan tanaman menggunakan agens hayati filosfer F112 pada umur 40, 60 dan 80 HST paling efektif menurunkan serangan HDB dan meningkatkan bobot kering brangkasan, serta bobot benih ubinan berukuran 12 m2. Semua perlakuan nyata meningkatkan bobot kering gabah ubinan dibanding kontrol. Volume penyemprotan tidak menunjukkan perbedaan nyata sehingga dapat digunakan volume terendah yaitu 300 liter/ha

    Pengembangan Bioformulasi sebagai Perlakuan Benih untuk Mengendalikan Penyakit Hawar Daun Bakteri dan Meningkatkan Hasil Benih Padi

    No full text
    Hawar daun bakteri (HDB) merupakan penyakit penting pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo), terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang seluruh bagian tanaman padi mulai dari benih, bibit, dan tanaman dewasa, sehingga menurunkan hasil padi serta kerugian ekonomi. Potensi rizobakteri Bacillus subtilis 5B dan Pseudomonas diminuta A6 sebagai agens hayati telah dievaluasi dapat mengendalikan penyakit HDB. Formula agens hayati dengan bahan pembawa yang tepat dapat meningkatkan stabilitas produk dan daya hidup serta tidak mempengaruhi efikasi agens hayati. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan umum untuk mendapatkan formula agens hayati terbaik guna meningkatkan produksi benih padi serta menurunkan gejala serangan penyakit HDB. Penelitian ini terdiri atas tiga percobaan, yaitu: 1) pengembangan bioformulasi agens hayati Bacillus subtilis 5B + Pseudomonas diminuta A6 dalam tiga jenis bahan pembawa (gipsum, talk, dan zeolit); 2) pengujian pengaruh perlakuan benih dengan bioformulasi terhadap daya simpan benih padi IR64 selama 6 bulan penyimpanan, dan 3) pengujian pengaruh perlakuan benih dengan bioformulasi terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil benih padi di lapangan. Daya simpan agens hayati tergantung pada bahan pembawa yang digunakan dalam bioformulasi. Setelah disimpan selama 1 bulan, populasi agen hayati pada bahan pembawa talk tertinggi (43.0 x 107colony forming unit (cfu)) sedangkan pada zeolit (5.33 x 107 cfu) dan gipsum (0.47 x 107 cfu) lebih rendah dibandingkan kontrol (16.0 x 107 cfu). Namun, populasi agens hayati mulai menurun seiring dengan pertambahan periode simpan. Populasi agens hayati pada bioformulasi talk pada bulan ketiga (1.15 x 107cfu) nyata lebih tinggi dibandingkan kontrol (1.0 x 107cfu) dan perlakuan lainnya 0.25 x 107 cfu pada zeolit dan 0 pada gipsum. Benih yang telah diinokulasi dengan Xoo dan diberi perlakuan formula agens hayati serta disimpan selama 6 bulan mengalami penurunan populasi Xoo dari konsentrasi awal 4.9 x 108 cfu. Pengaruh perlakuan bioformulasi zeolit 2.5 g dapat meningkatkan daya berkecambah benih (89.11%) dibandingkan kontrol (79.72%). Perlakuan talk 5 g (daya berkecambah: 84.5%) dan gipsum 5 g (daya berkecambah: 85.67%) memberikan pengaruh yang tidak berbeda dengan zeolit 2.5 g dalam meningkatkan daya berkecambah. Perlakuan bioformulasi gipsum 5 g dapat meningkatkan indeks vigor benih (72%) dibandingkan kontrol (64%). Perlakuan bioformulasi talk 2.5 g (67.61%), talk 5 g (70.28%), gipsum 1 g (66.33%), zeolit 1 g (69.33%) dan zeolit 2.5 g (70.22%) memberikan pengaruh yang tidak berbeda dengan perlakuan gipsum 5 g dalam meningkatkan indeks vigor benih. Secara umum, perlakuan benih dengan bioformulasi belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit di persemaian. Namun, bibit yang diberikan perlakuan bioformulasi talk 1 g menghasilkan tinggi bibit dan panjang akar tertinggi dibandingkan kontrol dan perlakuan lainnya. Perlakuan benih dengan bioformulasi talk 5 g menghasilkan jumlah anakan tertinggi (26) dibanding kontrol dan perlakuan dengan bioformulasi lain. Keparahan penyakit HDB pada perlakuan benih dengan formula talk 5 g juga paling rendah, yaitu 0.25%. Perlakuan benih dengan bioformulasi berbahan pembawa talk 1 g dapat meningkatkan persentase gabah bernas sebesar 25.6% dari perlakuan kontrol

    Keragaman Genetik, Pertumbuhan Tanaman dan Produksi Benih Kacang Bambara (Vigna subterranea (L.) Verde.) pada Musim Tanam Berbeda

    No full text
    Bambara adalah tanaman legum yang biasa ditanam oleh petani subsisten di wilayah kering sub-Sahara Afrika. Tanaman kacang bambara hingga saat ini termasuk tanaman underultilized crop, yaitu tanaman yang kurang diperhatikan oleh pemerintah, peneliti dan perusahaan. Tidak tersedianya varietas menjadi kendala bagi peneliti untuk mengembangkan varietas unggul kacang bambara. Pemurnian galur dan karakterisasi beberapa lanras Indonesia penting dalam pengembangan kacang bambara di Indonesia. Kacang bambara memiliki banyak keragaman, baik dari warna testa, bentuk benih, bentuk polong, bentuk daun, tinggi tanaman, lebar kanopi dan lain-lain. Karakterisasi beberapa genotipe kacang bambara lanras lokal maupun luar negeri sangat penting dilakukan. Karakterisasi berdasarkan morfo-agronomi bertujuan untuk menggali informasi tentang sifat-sifat penting yang menguntungkan dan dapat dikembangkan. Analisis molekuler juga merupakan salah satu analisis penting guna memastikan bahwa terdapat perbedaan secara genetik dari setiap individu. Kacang bambara dikenal dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi gersang. Beberapa wilayah di Indonesia memiliki curah hujan yang cukup rendah yaitu Maluku, NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan. Sejumlah daerah di Indonesia dilaporkan memiliki tingkat kekeringan atau curah hujan yang rendah sehingga cocok untuk pengembangan kacang bambara. Kondisi kekeringan pada tanah dapat diukur dengan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Pengukuran NDVI digunakan untuk mengukur kadar N pada berbagai tanaman seperti jagung dan tebu. Pengukuran NDVI diharapkan mampu memprediksi tanaman yang toleran terhadap cekaman kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi keragaman genetik kacang bambara lanras Indonesia dan respon pertumbuhan tanaman pada dua metode budidaya, (2) mendeskripsikan karakter pertumbuhan tanaman, karakter hasil dan mutu benih kacang bambara lanras Indonesia dan galur murni koleksi CFF, (3) mengevaluasi respon pertumbuhan tanaman dan produksi benih kacang bambara lanras Indonesia pada dua musim tanam. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Mekarmulya, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, pada 1 Agustus hingga 29 Desember 2017. Percobaan kedua dilaksanakan di tempat yang sama pada 24 Maret hingga Juli 2018. Analisis molekuler dilaksanakan di Molecular Laboratory, Crops For the Future (CFF), Jalan Broga, Semenyih, Malaysia dari 7 Agustus hingga 22 Agustus 2019. Percobaan pertama terdiri atas dua faktor yang disusun split plot dengan faktor metode budidaya sebagai petak utama, dan faktor genotipe sebagai anak petak. Faktor metode budidaya terdiri atas dua taraf, yaitu metode budidaya petani lokal dan metode standar yang digunakan oleh CFF. Faktor genotipe terdiri atas delapan lanras lokal Indonesia yaitu Sumedang krem, Sumedang cokelat, Sumedang hitam, Gresik hitam, Gresik cokelat, Madura hitam, Tasikmalaya hitam, Sukabumi hitam. Pengamatan karakter kuantitatif dan kualitatif mengikuti deskriptor kacang bambara yang kemudian dianalisis dengan analisis cluster. Analisis cluster dilakukan berdasarkan marka morfologi, kemudian dibandingkan dengan analisis molekuler menggunakan 3 primer. Amplifikasi PCR menggunakan label M13 pada tiga primer, produk PCR selanjutnya di-running menggunakan gel agarose dan DNA fragment analysis Applied Biosystem atau dinamakan elektroforesis kapiler. Percobaan kedua terdiri atas dua faktor yang disusun split plot dengan faktor metode budidaya sebagai petak utama, dan faktor genotipe sebagai anak petak. Faktor metode budidaya terdiri atas dua taraf, yaitu metode budidaya petani lokal dan metode standar yang digunakan oleh CFF. Faktor genotipe terdiri atas 16 taraf, delapan lanras lokal (Sumedang krem, Sumedang cokelat, Sumedang hitam, Gresik hitam, Gresik cokelat gelap, Madura hitam, Tasikmalaya hitam, Sukabumi hitam) dan delapan genotipe core lines (M-14 Gresik, LUNT, Tiga Necuru, IITA 686, DodR-R II, S 19-3, Uniswa Red, Uniswa R/G) dari lembaga riset CFF (Malaysia). Kacang bambara lanras Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan marka morfologi. Kelompok 1 terdiri atas Sumedang krem dan Sumedang cokelat, kelompok 2 terdiri atas Sumedang hitam dan Tasikmalaya hitam, sedangkan kelompok 3 terdiri atas Sukabumi hitam, Gresik cokelat, Gresik hitam dan Madura hitam. Kelompok 1 dan 3 menunjukkan perbedaan jarak yang paling jauh. Tingkat kemiripan antar kelompok yang tinggi (81.87%) menunjukkan rendahnya keragaman genetik kacang bambara lanras Indonesia. Pembagian lanras berdasarkan warna testa menunjukkan perbedaan pada lanras Sumedang hitam yang berbeda dengan Sumedang krem dan cokelat, sedangkan pada lanras Gresik, perbedaan warna testa tidak terlihat. Terdapat kecenderungan persamaan antara lanras Gresik hitam dan Madura hitam berdasarkan marka morfologi dan molekuler (SSR). Penggunaan elektroforesis kapiler pada analisis molekuler dapat menunjukkan polimorfisme antar lanras dan dalam lanras. Faktor metode budidaya berpengaruh pada lebar kanopi, bobot polong basah per plot, panjang benih dan lebar benih pada musim 2. Ukuran benih (panjang dan lebar) pada musim 1 nyata lebih tinggi daripada musim 2. Ukuran benih pada metode petani nyata lebih tinggi daripada metode CFF di musim 2. Penggunaan pupuk kandang pada metode petani diduga mempengaruhi ketersediaan air pada saat pengisian polong sehingga pengisian polong lebih optimal. Nilai NDVI tidak sepenuhnya berkorelasi dengan bobot polong. Budidaya kacang bambara pada musim 1 (total curah hujan 882 mm) menghasilkan polong yang lebih banyak dibandingkan musim 2 (total curah hujan 454.7 mm). Waktu berkecambah, periode muncul bunga, dan umur panen musim tanam 2 lebih cepat dibandingkan musim tanam 1. Genotipe yang memiliki umur panen cepat yaitu Tiga Necuru (99.2 hari), Gresik hitam (107.3 hari), Madura (105 hari), Sukabumi hitam (105 hari) dan DodR-R II (106.2 hari) pada musim tanam 2. Perbedaan musim tanam tidak berpengaruh nyata terhadap produksi benih, perbedaan nyata hanya terdapat pada faktor genotipe. Produksi benih tertinggi yaitu genotipe Sukabumi hitam (2.52 ton ha-1) yang berbeda nyata dengan tujuh genotipe lain. Beberapa galur koleksi CFF menunjukkan produktivitas polong kering yang cukup tinggi, diantaranya Uniswa R/G, S 19-3 dan DodR R-II
    corecore