16 research outputs found
MANAJEMEN LALU LINTAS DI KAWASAN PASAR BITINGAN KABUPATEN KUDUS
Kemacetan lalu-lintas di kota-kota besar di Indonesia selain disebabkan oleh tidak seimbangnya jumlah kendaraan dan kapasitas jalan yang ada, juga disebabkan oleh manajemen lalu-lintas yang kurang baik, serta disebabkan oleh penataan tata ruang kota yang kurang baik. Oleh karena itu tidak terkecuali kemacetan yang ditimbulkan di kawasan pasar Bitingan Kabupaten Kudus. Terjadi kemacetan di karenakan jumlah kendaraan yang melebihi ruas kapasitas jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengurai tingkat kemacetan pada kawasan pasar Bitingan Kabupaten Kudus. Dalam hal ini metode penelitian menggunakan analisis data seperti survey data eksisting untuk mengetahui tingkat kemacetan pada pasar Bitingan Kabupaten Kudus tersebut. Oleh karena itu maka di analisis tingkat pertumbuhan lalu lintas yang terjadi saat ini. Rata rata kemacetan yang ditimbulkan oleh MC lebih besar dibandingkan dengan LV atau HV. Hal ini disebabkan ruas jalan major merupakan jalan menuju pusat perekonomian, pusat perkantoran dan perbelanjaan. Maka dalam hal ini perlu manajemen lalu lintas yang tepat dan efektif
ANALISIS HAMBATAN SAMPING PADA RUAS JALAN DI DEPAN STASIUN PONCOL KOTA SEMARANG (Studi Kasus Masa Pandemi Covid-19)
Kemacetan masih menjadi salah satu persoalan transportasi di kota Semarang, terutama di beberapa ruas jalan yang merupakan daerah aktivitas perekonomian seperti pada ruas jalan di depan Stasiun Poncol. Tingginya tingkat kemacetan di jalan tersebut disebabkan oleh kapasitas jalan dan volume kendaraan yang tidak seimbang, persimpangan antara pintu masuk dan keluar stasiun serta adanya faktor hambatan samping yang menambah kemacetan di ruas jalan tersebut. Banyaknya taksi online dan taksi konvensional yang berhenti serta parkir di bahu jalan depan Stasiun Poncol juga menambah kemacetan pada lokasi tersebut. Akan tetapi, pada masa Pandemi Covid-19 ini mengalami penurunan sementara jumlah volume kendaraan akibat adanya peraturan pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besar kelas hambatan samping yang terjadi pada ruas jalan Stasiun Poncol Kota Semarang pada masa Pandemi Covid-19. Metode pengumpulan data dilakukan dengan survei kemudian dianalisis berdasarkan MKJI 1997. Hasil yang didapat menunjukan besar kelas hambatan samping pada ruas jalan di depan Stasiun Poncol adalah rendah selama masa pandemic covid-19
Pemilihan Moda Transportasi Saat Pandemi Covid-19 dengan Metode Promethee (Studi Kasus : Ruas Jalan Pemuda Kota Semarang)
Kejadian Pandemi Covid-19 di Indonesia memunculkan banyak perubahan baik di bidang ekonomi, sosial, politik dan sistem transportasi. Salah satunya adalah pembatasan kegiatan yang dilakukan pemerintah guna menghentikan sebaran virus Covid-19. Penyebaran Covid-19 yang relatif cepat menjadi alasan masyarakat khususnya di Kota Semarang lebih selektif dalam memilih moda transportasi. Tujuan dilakukan penelitian adalah guna mengetahui jenis moda transportasi darat yang dipilih oleh masyarakat saat pandemi Covid-19. Metode pengumpulan data dengan menyebar kuesioner ke pelaku perjalanan di ruas Jalan Pemuda Kota Semarang. Data tersebut terbatas pada jenis moda transportasi darat tertentu, yaitu transportasi umum (a1), transportasi online (a2) dan kendaraan pribadi (a3). Analisis data dilakukan dengan Metode Promethee. Batasan kriteria yang menjadi penentu pemilihan moda transportasi darat berupa kenyamanan, waktu perjalanan dan biaya perjalanan. Nilai net flow (NF) merupakan hasil akhir perhitungan data dari Metode Promethee dengan a1 sebesar -1,333; a2 sebesar -2,667 dan a3 sebesar 4. Hasil NF tersebut diurutkan untuk pilihan pertama dengan NF yang terbesar adalah kendaraan pribadi, transportasi umum, dan transportasi online
ANALISIS KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL KAWASAN PEREKONOMIAN PASAR BEKA SIMONGAN SEMARANG
Persimpangan adalah bagian dari ruas jalan dimana arus dari berbagai arah atau jurusan bertemu. Itulah sebabnya di persimpangan terjadi konflik antara arus dari jurusan yang berlawanan dan saling memotong, sehingga mengakibatkan terjadinya kemacetan di sepanjang lengan simpang. Salah satu contoh permasalahan lalu lintas yang terjadi pada simpang tak bersinyal kawasan perekonomian Pasar Beka Simongan, Semarang adalah sering terjadinya konflik lalu lintas yang memiliki resiko terjadinya kecelakaan lalu lintas juga berdampak pada pergerakan kendaraan saat melalui simpang tersebut. Permasalahan ini muncul terutama pada saat jam sibuk pagi hari, dimana aktivitas perekonomian serta aktivitas harian masyarakat seperti bekerja dan sekolah sangat tinggi. Volume kendaraan yang tinggi mengakibatkan kemacetan yang mengganggu aksesibilitas kendaraan yang melalui simpang tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kinerja simpang tak bersinyal pada kawasan perekonomian Pasar Beka Simongan Semarang. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI, 2014) sebagai pemutakhiran dari Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI, 1997)
Pelatihan Karya Ilmiah Dengan Metode Data Kualitatif Dan Kuantitatif Di SMA Sultan Agung 1 Semarang
Pembelajaran menulis karya ilmiah merupakan salah satu materi wajib yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia SMA pada kurikulum 2013. Setiap sekolah memiliki cara tersendiri dalam menyajikan materi tersebut pada siswa . Literasi dalam hal ini adalah literasi baca tulis. Peneliti merupakan key instrument dalam mengumpulkan data, peneliti harus terjun sendiri ke lapangan secara aktif. Pendekatan kuantitatif ialah pendekatan yang di dalam usulan penelitian, proses, hipotesis, turun ke lapangan, analisis data dan kesimpulan data sampai dengan penulisannya mempergunakan aspek pengukuran, perhitungan, rumus dan kepastian data numerik. Hal pokok dari perbedaan tersebut adalah dalam penelitian kualitatif peneliti sendiri yang harus mengumpulkan data dari sumber, sedangkan dalam penelitian kuantitatif orang yang diteliti dapat mengisi sendiri kuisioner tanpa kehadiran peneliti, umpamanya survei electronik atau kuesioner yang dikirimkan . Dalam penulisan karya ilmiah, diharapkan para siswa SMA mampu mengetahui dan membuat jenis penelitian yang menggunakan data kualitatif maupun kuantitatif
Pendampingan Pembuatan Sumur Untuk Memenuhi Kebutuhan Air Bersih Di Dusun Kenongo, Desa Lemahireng, Kabupaten Semarang
Air merupakan kebutuhan pokok manusia yang paling penting. Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia karena dapat digunakan oleh manusia untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi, cuci, dan kakus. Menurut Permenkes No.32 Tahun 2017 mempersyaratkan bahwa air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari hendaknya memenuhi syarat kesehatan. Bambang , mengungkapkan syarat air minum harus aman, artinya bebas dari mikroba patogen dan zat yang berbahaya, terutama oleh kontaminasi mikroba yang berbahaya seperti bakteri koliform. Air bersih seharusnya tidak mengandung mikroorganisme patogen apapun, akan tetapi masih banyak air bersih yang tercemar mikroorganisme berbahaya, sehingga air bersih sampai saat ini masih menjadi kendala terbesar dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan seringkali menjadi sumber atau perantara berbagai penyakit. Dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bawah Besi tidak memenuhi syarat dengan hasil yang sangat tinggi. Sumur artesis yang memiliki kandungan zat mineral berlebihan sebaiknya perlu penanganan lebih lanjut
Edukasi K3 Tenaga Lapangan Seksi Sungai, Irigasi dan Pantai Bidang SDA & Drainase Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang
Sejak tahun 1984 dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Kep. 13/MEN/1984 tentang Pola Kampanye Nasional K3 yaitu selama 1 (satu) bulan dimulai tanggal 12 Januari sampai dengan 12 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai bulan K3 Nasional. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sangat penting bagi moral, legalitas, dan finansial dikarenakan berkaitan dengan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah instansi maupun lokasi kontruksi seperti pembangunan infrastruktur bidang pengairan. Meningkatnya produktivitas kerja secara nasional harus diseimbangkan dengan meningkatnya kesadaran dan kepatuhan norma K3. Adanya pemahaman dan penerapan K3 yang belum maksimal maka memunculkan permasalahan bagi penyedia jasa khususnya di DPU Kota Semarang. Edukasi yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi pekerja di DPU kota Semarang. Metode yang digunakan yaitu pemberian edukasi. Kegiatan dilaksanakan dalam waktu 1 hari, kemudian melakukan evaluasi dengan pre-tes dan post-test. Hasilnya menunjukkan adanya pemahaman yang meningkat sebanyak 92% peserta sudah memahami dalam menerapkan budaya K3
EFEKTIFITAS MODA TRANSPORTASI BUS RAPID TRANSIT (BRT) DALAM MENUNJANG AKTIFITAS BEKERJA DI KOTA SEMARANG
Transportation is the lifeblood of everyday life and one of the basic needs of society. Almost everyone needs transportation to meet their needs, such as the need for work, school, recreation and social interaction. The choice of transportation modes in an urban area is now increasingly varied, starting from private or public transportation. Various activities such as government administrative centers, communication centers, industrial centers and trade centers located in the city of Semarang are factors in all people's choices in using modes of transportation. This analysis uses AHP analysis by presenting it in the form of numbers, graphs, tables and narratives. AHP is a method used to rank decision alternatives and to choose the best of several criteria. AHP develops a numerical value to rank each decision alternative, which is based on how far each alternative meets the criteria of the respondent. Based on the data, it can be explained that the most important criteria for respondents to the choice of transportation mode are the time criteria of 96.78%, then the cost criteria of 2.90%, the next for the age criteria of 0.21% and the last for the criteria worker characteristics of 0.01%. Furthermore, the order of priority for selecting the first working mode of transportation is motorbikes at 91.41%, the second is BRT at 8.01% and the last is Angkot at 0.48%. This study concluded that based on the results and discussion of this study are as follows: Based on calculations AHP data processing can be explained that the most important criteria for respondents to the selection of work transportation modes are time criteria of 96.78%, then cost criteria of 2.90%, next for age criteria of 0.21% and finally for characteristic criteria workers by 0.01%. After obtaining the results of alternative weights, the priority for choosing the first working mode of transportation is motorbikes at 91.41%, the second is BRT at 8.01% and the last is Angkot at 0.48%.Transportasi ssat ini menjadi urat nadi dan satu diantara kebutuhan pokok dalamkehidupan masyarakat sehari-hari. Dapat dipastikan bahwa hampir masing-masingindividu membutuhkan transportasi guna mencukupi kebutuhan hidupnya, yakni untuksekolah, rekreasi, bekerja, maupun interaksi antar sesama. Dewasa kini, terdapatfenomena dalam suatu wilayah perkotaan dimana terdapat variasi dalam pemilihan modatransportasi, baik pada transportasi umum ataupun pribadi. Berbagai macam aktivitasseperti pusat administrasi pemerintah, pusat komunikasi, pusat industri dan pusatperdagangan yang terdapat di Kota Semarang menjadi faktor dalam segala pemilihanmasyarakat dalam menggunakan moda transportasi. Analisis dalam penelitian inimenerapkan analisis AHP yang menampilkan data dalam wujud grafik, angka, tabel, dan narasi. AHP ialah suatu metode yang digunakan untuk melakukan pemeringkatan pada alternatif keputusan dan menetapkan pilihan terbaik berdasarkan beberapa kriteria. AHP melakukan pengembangan terhadap satu nilai numerik guna memeringkat tiapalternatif keputusan, yang didasari oleh seberapa jauh tiap alternatif yang memenuhikriteria dari responden. Mengacu pada data yang dihasilkan dapat dipaparkan bahwakriteria yang paling penting bagi responden terhadap pemilihan moda transportasi yaknikriteria waktu sebesar 96,78%, kemudian kriteria biaya sebesar 2,90%, berikutnya untukkriteria usia sebesar 0,21% dan yang terakhir untuk kriteria karakteristik pekerjasebesar 0,01%. Selanjutnya urutan prioritas pemilihan moda transportasi kerja yang pertama motor sebesar 91,41%, yang kedua BRT sebesar 8,01% dan yang terakhirAngkot sebesar 0,48%.kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil dan pembahasandari penelitian ini adalah : Berdasarkan perhitungan pengolahan data AHP dapatdibuktikan bahwa kriteria yang paling penting bagi responden terhadap pemilihan modatransportasi kerja yakni kriteria waktu sebesar 96,78%, kemudian kriteria biaya sebesar2,90%, berikutnya untuk kriteria usia sebesar 0,21% dan yang terakhir untuk kriteriakarakteristik pekerja sebesar 0,01%. Setelah didapat hasil bobot alternatif, prioritaspemilihan moda transportasi kerja yang pertama adalah motor sebesar 91,41%, yang kedua BRT sebesar 8,01% dan yang terakhir Angkot sebesar 0,48%
Pendampingan Teknis Pemasangan Jaringan Distribusi Air Bersih Di Desa Kandangan Kabupaten Semarang
Air merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling penting. Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia karena dapat digunakan oleh manusia untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi, cuci, dan kakus. Sistem distribusi air bersih merupakan suatu jaringan perpipaan yang tersusun atas sistem pipa, pompa, reservoir dan perlengkapan lainnya. Sistem penyediaan air bersih sering mengalami masalah dalam hal debit maupun tekanan yang berkaitan dengan kriteria hidrolis yang harus dipenuhi dalam sistem pengaliran air bersih. Salah satu bagian terpenting dari sistem penyediaan air bersih adalah jaringan distribusi. Permasalahan yang terjadi di wilayah Desa Kandangan yaitu minimnya debit pada waktu-waktu tertentu pada beberapa titik rumah. Untuk pendistribusiannya diperlukan pipa saluran primer yang menghubungkan sumber air dengan pipa saluran sekunder. Pipa saluran sekunder ini yang digunakan untuk menyalurkan air dari pipa saluran primer ke rumah setiap warga. Sangat disayangkan hingga saat ini air tersebut belum terdistribusi secara maksimal ke rumah-rumah warga dikarenakan keterbatasan biaya yang dimiliki warga. Oleh karena itu diperlukan adanya pemasangan pipa saluran primer maupun sekunder untuk menyalurkan air bersih tersebut. Untuk pipa saluran yang menghubungkan langsung ke rumah warga merupakan tanggung jawab masing-masing kepala keluarga sesuai dengan hasil musyawarah warga Desa Kandangan. Pendistribusian air bersih ke wilayah warga menggunakan sistem gravitasi
Perencanaan Flyover Persimpangan Jalan Kereta dengan Ruas Jalan Raya Gubug - Kedungjati
Gubug District is one of the centers of activity in the Grobogan area because the area is densely populated so the traffic density has an impact on the local community, such as disruption of comfort and safety caused by traffic conditions in the local area. Traffic congestion itself is a state of traffic flow exceeding the predetermined road capacity and causing a decrease in road performance, so that vehicle speeds are close to 0 km/h, therefore it can cause queues of vehicles, such as severe congestion, reckless drivers breaking through railway bars, and many other violations. The Gubug – Kedungjati Road section is an area prone to congestion because there is a highway that intersects with a railway crossing in Kuwaron Village, the intersection is a level intersection. Connecting Grobogan City with Salatiga City. Therefore, flyover planning is carried out, in addition to the need to widen the flyover road later to maximize the performance of the previous highway. The flyover construction plan also aims to maximize traffic flow performance and avoid traffic accidents. In the planning of this flyover, the loading was carried out by the Guidelines for the Loading of Bridges and Highways (Public Works Departement, 1987). This flyover is planned with an undivided two-lane road type (2/2 UD), divided into two lanes, namely from the direction of Jalan Gubug to Jalan Kedungjati and the direction of Jalan Kedungjati to Jalan Gubug with a width of 3.5 meters for each lane. This flyover is planned to be 338.94 meters long; and 9.5 meters wide, and the height of this flyover is planned to be 9 meters high from the ground level to the girder. This flyover road is planned to be used for the next 15 years and can still be crossed by heavy vehicles (HV)
