1,720,973 research outputs found
KAJIAN PEMANFAATAN TANIN DARI EKSTRAK GAMBIR KERING DAN ALBUMIN TELUR AYAM PADA PEMBUATAN DAN SIFAT FISIK BUSA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bahan pelarut ekstraksi gambir asalan terhadap perolehan tanin dan mengidentifikasi pengaruh perbandingan konsentrasi ekstrak gambir dan albumin telur ayam pada pembuatan dan sifat fisik busa tanin-albumin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial 3x3 dan 3 ulangan. Faktor A (pemakaian albumin) terdiri dari 3 taraf : A1 (16%), A2 (24%), A3 (32%). Faktor B (pemakaian ekstrak gambir ) terdiri dari 3 taraf : B1 (14%), B2 (24%), B3 (34%). Data hasil pengamatan dianalisa dengan sidik ragam (Anova) dengan uji lanjut Duncan’n New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf nyata 5%. Pengamatan dan pengujian terhadap busa tanin-albumin yang dilakukan yaitu : pengamatan pada suhu ruang, SEM, pengukuran kondusktivitas termal, pH, densiti, pengembangan, porositas dan pengujian kuat tekan serta kekerasan busa. Perbedaan proses ekstraksi gambir asalan memberikan hasil yang berbeda terhadap perolehan tanin. Ekstrak gambir kering yang diekstrak dengan menggunakan etanol mempunyai kadar tanin yang lebih tinggi yaitu 37,32% dibandingkan dengan ekstrak gambir yang diekstrak menggunakan air 34,16% dan etil asetat 25,49%. Perbandingan pemakaian konsentrasi albumin telur ayam dan ekstrak gambir berpengaruh pada karakteristik busa tanin albumin. Untuk perlakuan A1B1 dan A1B3 nilai densiti (0,29 gr/cm3 dan 0,27 gr/cm3), nilai porositas busa (80,44% dan 81,30%) pada penggolongan busa dapat digolongkan busa fleksibel, sedangkan untuk perlakuan lainnya dapat digolongkan pada busa semi kaku (semi rigid) dan busa kaku (rigid). Nilai konduktivitas termal yang rendah didapatkan pada perlakuan A1B3 (4,29 W/0C). Nilai pH 6-7 berkisar pada pH normal untuk semua perlakuan. Untuk nilai kuat tekan dan kekerasan busa tertinggi didapatkan pada perlakuan A3B3 dengan nilai 2,82 kg/cm2 dan 106,66 N/cm2. Gambar foto SEM perbesaran 150x untuk perlakuan A3B1, A2B1, A2B2 dan A2B3 secara struktur morfologi berpori teratur, dan pengamatan secara fisik baik.
Kata kunci : ekstrak gambir, albumin, tanin, busa tanin-albumin
Pengaruh Penambahan Gula dan Karagenan Terhadap Mutu Jelly Mentimun
Jelly is a semi-solid form of snacks made from fruit juice which is cooked with sugar. Vegetables and fruits Jelly are a drink that is made from natural ingredients such as cucumber jelly maker given additional flour as a thickener, cane sugar as a sweetener, salt and citric acid. Cucumber jelly contains elements of nutritional and functional, efficacious for preventing high blood pressure, digestive cleanse, rejuvenate the skin and others. The purpose of this study to provide an alternative of cucumber processing became cucumber jelly and to increase the added value and shelf life of cucumbers processed products. Research design used a completely randomized design (CRD) in factorial used to see the effect of adding sugar 40%, and 30% as well as the addition of carrageenan treatment variations 1% and 0.75%. The results showed that the addition of sugar 30% and 1% carrageenan gave jelly yield of cucumber preferred organoleptic taste, aroma, color and texture was favored on the organoleptic, whereas treatment of sugar concentration 40% and 1% carrageenan gave the highest results for sugar 22.99%, 44.99% moisture content, ash content 0.99%. All treatments showed no contamination of Cu, Sn, As and Pb, for microbial contamination such as Fungus / Yeast and Total Plate Count undetectable (<10 colonies / g) as well as Coliform bacteria <2 APM / g as well as shelflife for 3 months at storage temperature conditions 5 - 10 degC.ABSTRAKJelly adalah sejenis makanan ringan berbentuk semi padat yang terbuat dari sari buah-buahan yang dimasak dengan gula. Jelly sayuran adalah minuman yang dibuat dari bahan-bahan alami seperti mentimun yang diberi tambahan tepung pembuat jelly sebagai pengental, gula tebu sebagai pemanis, garam dan asam sitrat. Jelly mentimun mengandung unsur nutrisi dan bersifat fungsional, berkhasiat untuk mencegah darah tinggi, membersihkan pencernaan, meremajakan kulit dan lain-lain. Penelitiani ini bertujuan untuk memberikan alternatif pengolahan mentimun menjadi jelly mentimun dan dapat meningkatkan nilai tambah serta daya simpan dari produk olahan mentimun Rancangan penelitian menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) secara faktorial digunakan untuk melihat pengaruh penambahan gula 40%, dan 30% serta variasi perlakuan penambahan karagenan 1% dan 0,75%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan gula 30% dan karagenan 1% memberikan hasil jelly mentimun yang lebih disukai dari uji organoleptik rasa, aroma, warna dan cukup disukai dari organoleptik tekstur, sedangkan perlakuan kosentrasi gula 40% dan karagenan 1% memberikan hasil yang tertinggi untuk kadar gula 22,99%, kadar air 44,99%, kadar abu 0,99%. Semua perlakuan menunjukkan tidak adanya cemaran logam Cu, Sn, As dan Pb, untuk cemaran mikroba seperti Kapang/Khamir dan Angka Lempeng Total tidak terdeteksi (<10 koloni/g) serta bakteri Koliform <2 APM/g serta memiliki ketahanan simpan selama 3 bulan penyimpanan pada kondisi suhu 5 - 100C.</p
Pemanfaatan Daun Ubi Kayu Menjadi Dendeng Sebagai Makanan Alternatif Vegetarian Pengganti Protein
Pemanfaatan Gambir sebagai Bahan Dasar Pembuat Tinta Spidol Ramah Lingkungan
Gambier can be used as a raw material for the manufacture of eco-friendly ink. This study was aimed to produce an alternative marker ink which is safer for the environment and human health. The current ink products generally contain volatile organic compound the chemical that can damage health. The study was done in several stages, raw material preparation, gambier extraction, color pigment making, ink formulation, and continued with stirring by used a high-speed homogenizer for the best formula. Variations of stirring speed were 1000, 1500, 2000 rpm and stirring time 10, 20, 30 minutes. The results showed that the best ink was obtained from the homogenization process with stirring time 30 minutes and speed 1000 rpm. The composition of gambier pigment 85%, glycerol 3%, polyethylene glycol 2%, propylene glycol 5%, and the addition of preservatives crystal violet 1%. The characteristics of markers ink were size particles 15.44 d.nm with a poly diversity index 0.186 and specific gravity 1.0254, black color ink, homogeneous, writings were not disjointed, and 6 minutes dry time.ABSTRAK Gambir dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tinta spidol yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan tinta spidol alternatif yang lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Tinta yang diproduksi saat ini pada umumnya masih mengandung volatile organic compound yang merupakan bahan kimia yang dapat merusak kesehatan. Pembuatan tinta dilakukan dalam beberapa tahap yaitu persiapan bahan baku gambir, pengekstrakan gambir, pembuatan pigmen warna, pembuatan formula tinta, dan dilanjutkan dengan pengadukan menggunakan alat high speed homogenizer untuk formula terbaik. Variasi kecepatan pengadukan adalah 1000, 1500, 2000 rpm dan lama pengadukan 10, 20, 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinta spidol yang terbaik diperoleh dari proses homogenisasi dengan waktu pengadukan 30 menit pada kecepatan 1000 rpm. Komposisi pigmen gambir 85%, gliserin 3%, polietylen glikol 2%, dan propilen glikol 5% serta penambahan pengawet kristal violet 1%. Karakteristik tinta spidol berupa partikel dengan ukuran 15,44 d.nm dengan indek polidiversitas 0,186 dan berat jenis 1,0254, tinta berwarna hitam, homogen, tulisan tidak terputus-putus dan waktu kering 6 menit.</p
Pengaruh Jenis Tepung dan Pengolahan Ikan Terhadap Mutu Tepung Sala Lauk
Sala lauk is a specific food of Pariaman City of West Sumatera which is made from rice flour, fish, chilli and other spices, then mixed together, cooked with low heat until smooth. The dough was formed into small balls and then fried. It is now available sala lauk flour mixed with spices, but chilli and fish are not included in the mixture and the flour still has short shelf life. The research was conducted to enrich the nutrients in the sala lauk by adding fish as a protein source. Completely randomized design (CRD) in factorial was used to see the effect of the use of flour, rice flour 100%, rice flour 95% and glutinous rice flour 5%, rice flour 95% and tapioca flour 5% and the variation of fish treatment that was directly dried, cooked in a pressure cooker and steamed. The result showed that sala lauk flour using rice flour 95% and glutinous rice flour 5% with directly dried fish gave preferred result in terms of organoleptic (taste, colour, flavour, and texture), with water content was 8.97%, acid degree was 0.35%, and protein content was 71.31%. Mold/yeast, salmonella and other bacteria were not found and the product had shelf life for 3 months.ABSTRAKSala lauk merupakan makanan khas Pariaman Sumatera Barat yang terbuat dari bahan baku tepung beras, ikan, cabe, dan bumbu lainnya dengan cara diadon, dimasak dengan api kecil sampai kalis. Adonan dibentuk menjadi bulat-bulat kecil dan kemudian digoreng. Saat ini sudah tersedia tepung sala lauk yang dicampur langsung dengan bumbubumbu, tetapi cabe dan ikan belum termasuk dalam campuran, dan tepung tersebut masih memiliki daya tahan simpan yang masih rendah. Penelitian dilakukan untuk memperkaya nutrisi dalam sala lauk dengan menambahkan sumber protein yaitu ikan. Rancangan acak lengkap (RAL) secara faktorial digunakan untuk melihat pengaruh tiga perlakuan pemakaian tepung yaitu tepung beras 100%, tepung beras 95% dan tepung beras ketan 5%, tepung beras 95% dan tepung tapioka 5% dan variasi pengolahan ikan yaitu langsung dikeringkan, dipresto serta dikukus. Hasil penelitian menunjukkan, tepung sala lauk yang menggunakan komposisi tepung beras 95% dan tepung beras ketan 5% dengan variasi pengolahan ikan yang langsung dikeringkan memberikan hasil yang lebih disukai dari segi organoleptik (rasa, warna, aroma dan tekstur), dengan kadar air 8,97%, kadar abu 0,44%, derajat asam 0,35% dan kadar protein 71,20%. Kapang/khamir, Salmonella dan bakteri lainnya tidak ditemukan, dan memiliki ketahanan simpan selama 3 bulan.</p
Pengaruh Penggunaan Senyawa Pengomplek dan Bahan Tambahan Terhadap Mutu Tinta Pemilu dari Ekstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb)
Physical properties of a natural foam made from gambier: influence of proportion of gambier extract used
Tannin made from gambier extract contains hydroxyl groups and so can be modified to synthesize polymers. Gambier extract has a high tannin content that contains polyflavonoids with other additives. This allows it to be modified by polycondensation to make a polymer foam which can be used as an insulator for heat and sound, an absorber of heavy metal pollutants and for protective packaging. This study investigates the utilization of gambier in the manufacture of foam and determines the physical properties of the foam produced. The study was conducted using ethanol to produce the gambier extract from leaves of the plant which was used in the proportions of 14%, 24%, and 34% by weight to make different foam samples. Foam produced from 24% gambier extract had optimum qualities with a density value of 0.34 g/cm3, pH 6.83, compressive strength of 0.14 kg/cm2, thermal conductivity of 5.52 W/moC, and was semi-flexible foam. AbstrakSalah satu senyawa kelompok OH yang dapat dimodifikasi untuk tujuan sintesis polimer adalah tanin dari ekstrak gambir. Ekstrak gambir dengan kandungan tanin tinggi dapat dimodifikasi untuk pembuatan busa yang dapat digunakan sebagai bahan isolator panas, suara, dan penyerap logam serta untuk pengemasan. Pada pembuatan busa berbasis gambir, tanin yang terdapat pada gambir berfungsi sebagai isolasi materi yang terjadi karena polikondensasi dari poliflavonoid tanin dengan bahan tambahan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan gambir dalam pembuatan busa dan mengetahui sifat fisik busa yang dihasilkan. Penelitian dilakukan dengan tahap awal ekstraksi gambir menggunakan etanol. Perlakuan penelitian adalah pemakaian ekstrak gambir 14%, 24%, dan 34%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa busa yang dihasilkan dari pemakaian ekstrak gambir 24% memiliki nilai densiti 0,34 g/cm3, pH 6,83, kuat tekan 0,14 kg/cm2, konduktivitas termal 5,52 W/moC, dan busa dapat digolongan sebagai busa semi fleksibel.</p
- …
