1,721,212 research outputs found

    MENGUAK DAN MEMPROVOKASI PERSOALAN PENCIPTAAN SENI LUKIS DENGAN PENDEKATAN: BRAINSTORMING TANGRAM DAN INTERPRETASI SEMANTIK.

    Full text link
    PENGANTAR Puja dan puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena dapat menyelesaikan buku kecil ini. Telah disadari untuk membuat buku kecil ini dengan tiga materi yakni, Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Simantik yang baik dan lengkap tentunya diperlukan suatu pengalaman dan pengetahuan yang mendalam dan waktu yang cukup. Buku kecil ini dimaksudkan untuk menggarisbawahi metode dalam beberapa tahap proses kreatif dengan meminjam / mempergunakan Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Simantik sehingga akan terbukalah ruang-ruang imajiner dan kebolehjadian dalam proses kreatif. Konsep-konsep yang dikemukakan dalam Brainstorming dapat dipergunakan untuk menggali ide-ide dan sebagai kunci untuk membuka semua pintu dan menawarkan hasil-hasil yang sangat mengejutkan. Memacu meningkatkan kemampuan mengkaitkan apa yang lazimnya tidak terkait, merelevankan suatu relasi yang sebelumnya tidak relevan. Tangram dapat menolong untuk mendapatkan identitas baru dari yang sederhana, dari hal-hal kecil yang ada dan hidup disekitar kita karena disitu tergelar serta terpendam potensipotensi yang penting dan berarti untuk membuka imej-imej yang bergema. Sedangkan interpretasi semantik mampu memberikan kerangka pengalaman yang lebih komprehensif, dengan memasuki relung-relung relasi yang tersembunyi dari suatu fenomena. Secara operasional semantik dapat membantu untuk melihat hubungan antara subtansi karya seni lukis dan bahasa ungkap / ekspresinya. Hal diatas sesuai dengan tulisan Victor Shklovsky, seorang ahli estetika dari Rusia menulis: Seni muncul untuk membantu kita menemukan sensasi hidup: seni muncul untuk membuat kita merasakan sesuatu, membuat batu menjadi berbatu. Tujuan dari seni adalah memberi sensasi pada suatu obyek seperti yang terlihat, bukan seperti yang terkenali. Teknik dari seni adalah untuk membuat sesuatu “tidak lazim”. Pada kesempatan ini saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam pembuatan buku kecil ini terutama kepada M. Dwi Marianto atas nasehat dan dorongan dengan segala komentar dan saran yang nilainya tak terhitung. Diharapkan buku ini akan memberi dasar-dasar dan arah berpikir untuk proses kreativitas dengan wawasan yang lebih luas. I Wayan Setem

    METODE PENCIPTAAN SENI LUKIS Melalui Pendekatan: Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Semantik

    Full text link
    KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena dapat menyelesaikan bisa membuat bahan pembelajaran Metode Penciptaan Seni Lukis Melalui Pendekatan: Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Semantik. Buku ini sebagai upaya melengkapi proses pembelajaran seni lukis yang terstruktur dengan tahapan-tahapan untuk mencapai apa yang menjadi tujuan pembelajaran, yaitu berkarya seni lukis dengan kemampuan untuk menggali ide-ide dan sebagai kunci untuk kreativitas. Metode pembelajaran dengan alternatif-alternatif berbagai pendekatan merupakan cara-cara yang ditempuh para pengampu mata kuliah Seni Lukis (Seni Lukis Pemandangan, Seni Lukis Alam Benda, Seni Lukis Modern, Seni Lukis Kontemporer) untuk menciptakan situasi pengajaran yang menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar yang memuaskan. Hal ini diharapkan agar setiap mahasiswa dapat lebih memahami dan mampu mengembangkan konsep gagasan dan metodologi seni lukis dalam riset dan kemampuan teknik. Dengan harapan kemampuan mahasiswa sebagai seorang pelukis bisa melukis secara akademis, berangkat dari riset, berdasarkan pengamatan, pengalaman dan internalisasi diri. Kemudian dibuat prosedur berkarya seni lukis, dengan berbagai pendekatan sehingga lahirnya sebuah karya menjadi pengetahuan yang bermakna. Pembelajaran seni lukis bukan saja bagaimana bisa melukis dengan baik dan mampu secara teknis dan gagasan. Tetapi juga belajar seni lukis mengetahui bagaimana sebuah karya seni menjadi sebuah karya seni. Sejalan dengan perkembangan zaman, yang disebut dengan seni bukan saja dari karya seninya kemampuan teknik membuat karya, tapi juga mempunyai pengetahuan seni, yang menjadi karya itu disebut dengan seni. Buku kecil ini dimaksudkan untuk menggarisbawahi metode dalam beberapa tahap proses kreatif dengan meminjam/ mempergunakan pendekatan Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Simantik sehingga akan terbuka ruang-ruang imajiner dan kebolehjadian dalam proses kreatif. Konsep-konsep yang dikemukakan dalam brainstorming dapat dipergunakan untuk menggali ide-ide dan sebagai kunci untuk membuka semua pintu dan menawarkan hasil-hasil yang sangat mengejutkan. Memacu meningkatkan kemampuan mengkaitkan apa yang lazimnya tidak terkait, merelevankan suatu relasi yang sebelumnya tidak relevan. Tangram dapat menolong untuk mendapatkan identitas baru dari yang sederhana, dari hal-hal kecil yang ada dan hidup disekitar kita karena disitu tergelar serta terpendam potensipotensi yang penting dan berarti untuk membuka imej-imej yang bergema. Sedangkan interpretasi semantik mampu memberikan kerangka pengalaman yang lebih komprehensif, dengan memasuki relung-relung relasi yang tersembunyi dari suatu fenomena. Secara operasional semantik dapat membantu untuk melihat hubungan antara subtansi karya seni lukis dan bahasa ungkap/ekspresinya. Hal di atas sesuai dengan tulisan Victor Shklovsky, seorang ahli estetika dari Rusia menulis: Seni muncul untuk membantu kita menemukan sensasi hidup: seni muncul untuk membuat kita merasakan sesuatu, membuat batu menjadi ”berbatu”. Tujuan dari seni adalah memberi sensasi pada suatu obyek seperti yang terlihat, bukan seperti yang terkenali. Teknik dari seni adalah untuk membuat sesuatu “tidak lazim‛. Terselesaikannya buku ini adalah berkat adanya dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini, saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu terlaksananya penerbitan buku ini. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini, editor menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn atas segala dukungannya terhadap penulisan buku ini dari sejak perencanaan, proses penulisan, hingga ke tahap penerbitan; 2. Kepala LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar, Dr. I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si yang telah memberikan arahan, dan memfasilitasi proses penerbitan buku ini. 3. Dr. A.A. Gde. Bagus Udayana, S.Sn, M.Si, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar beserta jajarannya atas dukungan moral, sarana, dan prasarana yang sangat berharga; 4. Kepada pihak-pihak lainnya yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu yang juga telah memberikan dukungan sepanjang proses penerbitan buku ini. Disadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu kritik dan saran para pengguna dan pembaca buku ini sangat diharapkan. Akhirnya, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, buku ini dipersembahkan kepada pembaca, semoga bermanfaat adanya. I Wayan Setem tapi dari pengetahuan seni. Karya seni lahir bukan saja dar

    Lekesan Fenomena Seni Musik Bali

    No full text
    Hubungan antara seni dengan bentuk-bentuk di alam merupakan sikap para seniman dari masa ke masa dalam menanggapi begitu kuatnya impresi alam yang mampu menembus imajinasinya. Ada yang mengaguminya lantas dengan setia ingin menerjemahkan ke dalam karyanya. Bahkan karena kekagumannya itu maka alam ini diidealisasikan, dipilihnya yang baik-baik, diagungkan dalam berbagai mitologi untuk kemudian diekpresikan. Ada juga yang tidak ingin berpendapat apa-apa dan berusaha melukiskan nuansa alam ini seperti apa adanya, walaupun sering kali susah dapat dicapai. Yang lain lagi ingin mengintensifkan alam ini, disana- sini didistorsikan disesuaikan dengan pandangan subyektifnya. Akan tetapi apapun sikap seniman terhadap alam, ternyata alam telah banyak memberikan sumbangan kepada lahirnya suatu karya. Itulah seniman yang hidup dengan kreativitas, sehingga selalu melakukan eksplorasi terhadap apa saja yang bisa dijadikan objek

    Manunggaling Kala Desa Melintas Fenomena Ruang Dan Waktu Dalam Penciptaan Seni Lukis

    Full text link
    Having observed and studied lingga-yoni, I have got an idea about “The Unity of Time-Space, Crossing the Phenomena of Time and Space in the Creation of Painting is the theme of my Works. What I would like to analyze here is the psychoanthropological aspects of lingga-yoni. Hopefully this analysis is viewed as an effort to reread reinterpret the symbol of linggayoni in my paintings. My perception of lingga-yoni related to the unity of time-space is not merely understood as a sensing quality but as a self projection of various values involving new interpretations. I can perceive the significance of lingga-yoni so that I am fully aware of its relationship with time and space. This perception is related not only to the cognitive achievement but also to the feelings of various values such as aesthetical, moral, and religious. Thus in this context, I place the creative exploration in the painting creation as a critical reflection crossing the time and space phenomena with the theme of “Manunggaling KalaDesa” (the unity of time-space). Keyword: lingga-yoni, manunggal, kala desa, ruang, and waktu

    Intercultural Balinese Painting from the Classic to the Modern

    Full text link
    This article examines the representation mode painting like a change parallel to the profound transformation of the technical or theoretical knowledge, and also parallel to changes in the Balinese society values due to the physical evolution and the evolution of the system of values. In fact, within one century of painting it has been like moving from the classical, traditional, standard, homogeneous, local, and collectively turned into a painting that has been varied, heterogeneous, individual, and internationally with a modern twist. These waves of change occurred in the span of time through several stages, and most striking result from cash capitalistic economy and culture, especially tourism. In pre-colonial time the painting is a narrative religious functions until the time of breath commercialism modernist touches to always make innovations or changes. From the sacred space of temples and palaces to moving objects souvenirs, hotel interiors, fashion and even interior and exterior car. Developments of painting through innovation should not be interpreted as a discontinuity (rapture) or discontinuity of the local context, but on the contrary, to appreciate again the classical values (pastiche), not by road of preserving it rigidly, but the process of reinterpretation and re-contextualization. Keywords: Intercultural, reinterpretation and recontextualisatio

    Water's Flow/ Alir Air

    Full text link

    LAPORAN AKHIR PENELITIAN DAN PENCIPTAAN SENI (P2S) DANA DIPA ISI DENPASAR: GUNUNG MENYAN SEGARA MADU: MEMULIAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI UNDA DALAM PENCIPTAAN SENI LUKIS

    Full text link
    Tujuan utama dari penelitian dan penciptaan seni ini adalah mencipta dan menyajikan karya ―Gunung Menyan Segara Madu: Memuliakan Daerah Aliran Sungai Unda dalam Penciptaan Seni Lukis‖ sebagai representasi pendidikan kesadaran ramah lingkungan untuk menyangga kesinambungan ekosistem bumi. Model penciptaan seni lukis menjadi ekspresi budaya yang mampu memainkan peran kritis sebagai media peningkatan apresiasi masyarakat untuk membangkitkan semangat ketahanan ekologi sebagai upaya solusi atas permasalahan kerusakan daerah aliran sungai (DAS) Unda saat ini. Penciptaan ini berbasis riset dengan demikian metodenya terdiri dari dua bagian yang tidak terpisah yakni metode penelitian dan metode penciptaan. Metode penelitian menggunakan pendekatan Antropologi, khususnya terkait etnografi untuk mengumpulkan data empiris tentang prilaku dan budaya masyarakat di seputaran DAS Unda. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan dan wawancara. Dengan pengamatan akan mendapat gambaran nyata kondisi empirik DAS Unda dari hulu sampai ke muara. Wawancara dilakukan terhadap beberapa orang buruh tambang pasir, pengusaha tambang pasir, warga, tokoh masyarakat, LSM, guru, murid, dan pemerintah. Sedangkan metode penciptaan melewati tiga tahap yakni: eksplorasi, improvisasi, dan perwujudan karya yang didahului dengan telaah karya seni sejenis dan kajian literatur. Tahapan eksprimen/percobaan alat dan bahan untuk menemukan desain penyajian karya yang memiliki kebaruan yang kemudian disosialisasikan/ dipamerkan untuk menyampaikan pendidikan ekologis bagi masyarakat. Proses penciptaan bersifat kalaborasi dengan, tiga orang mahasiswa dan seorang alumni Prodi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar sehingga terjadi saling merespon. Penciptaan ini juga memanfaatkan teknologi proyektor untuk meningkatkan akurasi dalam berkarya. Penggunaan perangkat tersebut secara sadar memposisikan teknologi bukan sebagai counter atas medium lukisan yang konvensional, melainkan sebagai perluasan strategi representasi atas konsep yang ingin disampaikan termasuk memanfaatkan sampah menjadi karya seni. Target khusus dari penelitian dan penciptaan seni ini: (1) tersajikannya karya yang unik dan imaginatif sehingga masyarakat mendapat tuntunan nilai luhur dan tontonan seni yang inspiratif untuk menumbuhkembangkan watak kesadaran ekologis; (2) terbitnya artikel ilmiah pada jurnal nasional; dan (3) terdaftarnya HKI. Kata-kata kunci: Seni lingkungan, DAS Unda, dan kesadaran ekologis

    KARYA SENI MONUMENTAL: “Lingga di Pusaran Bumi”

    Full text link
    Berangkat dari pengamatan terhadap lingga-yoni dan setelah mendalaminya maka muncul gagasan tentang ”Manunggaling Kala Desa, Melintas Fenomena Ruang dan Waktu dalam Penciptaan Seni Lukis” sebagai tema. Yang ingin saya cermati di sini ialah sudut-sudut psiko-antropologisnya pada lingga-yoni. Telaahnya hendaknya dipandang sebagai upaya pembacaan kembali/reinterpretasi atas simbol lingga-yoni untuk ditawarkan pada seni lukis. Persepsi saya terhadap lingga-yoni terkaitkan dengan manunggaling kala desa tidak semata-mata diartikan sebagai kualitas pengindraan, tetapi mengandaikan proyeksi diri atas nilai-nilai dengan melibatkan interpretasi. Persepsi saya dapat menghayati lingga-yoni menjadi bermakna, sehingga dapat menyadari hubungannya dengan ruang (desa) dan waktu (kala). Persepsi tidak semata- mata ditujukan kepada pencapaian pengetahuan kognitif semata, tetapi membawa muatan pada feeling yang berkaitan dengan nilai-nilai, seperti nilai estetik, nilai moral, dan nilai religius. Pada konteks itulah, saya menempatkan eksplorasi kreatif penciptaan karya seni lukis sebagai upaya refleksi kritis melintas fenomena ruang dan waktu dengan tajuk ”manunggaling kala desa”. Di dalam ketegangan kreatif serupa itu saya ingin mengkritisi kondisi Bali yang telah menjadi ajang “pertempuran” berbagai ideologi akibat globalisasi. Manunggal secara teknis melukis juga berarti menggabungkan unsur-unsur/elemen-elemen seni rupa, media berbeda serta beragam teknik menjadi satu kesatuan yang harmoni. Semakin jelaslah, bahwa azas fragmentaris merupakan fondasi dari entitas yang diwujudkan. Di samping itu diperlukan kemampuan menata segenap unsur rupa tidak saja di dalam kepentingan hukum komposisi, melainkan pula pada kepentingan makna dan ekspresi. Dalam pembentukan menggali dan aspek memanfaatkan nilai-nilai probabilitas dari berbagai aspek dan yang terkait dengan aspek visual maupun teknik artistik lainnya serta representasi konsep estetikanya. Dengan menggali dan membuka berbagai kemungkinan mampu memunculkan gagasan, imajinasi dan berbagai pencitraan yang bersifat simbolik dan metaforik dalam kerangka untuk melahirkan jati diri/keunikan. Proses penciptaan karya seni lukis ini difokuskan pada pendekatan hermeneutik yaitu dengan melakukan pengamatan, pencermatan terhadap tanda-tanda, dan menafsirkannya atau menginterpretasi dengan pemaknaan terhadap subyect matter dengan jukstaposisi dan sintesis. Dalam perwujudannya ke dalam karya seni lukis, kajian estetik sebagai suatu pendekatan yang utama berkaitan dengan tujuan penciptaan. Kata-kata kunci: lingga-yoni, manunggal, kala desa, ruang, dan waktu

    KARYA SENI MONUMENTAL: “KomangSu Menimbun Lemak”

    Full text link
    Melalui pengamatan atas aktivitas penambangan eksploitatif pasir di Kecamatan Selat ada banyak hal yang mengejala luluh menjadi bagian internal pengkarya. Dampak penambangan telah memicu peningkatan pertumbuhan sektor ekonomi, namun masyarakat penambang tampaknya tidak pernah sadar dengan dampak kerusakan lingkungan yang sudah dan akan ditimbulkan. Eksploitatif penambangan pasir menimbulkan persoalan yang luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya, utamanya dari aspek keberlanjutan ekosistem sangat merugikan dan tidak akan bisa terbentuk seperti matra alam sebelumnya. Realitas kerusakan yang dialami tukad (sungai) membuat rasa terhenyuh, miris, dan sedih. Pengkarya merakan kerusakan yang terjadi juga seperti kerusan tubuh pengkarya sendiri. Fenomena penambangan eksploitatif pasir tersebut menjadi thema dan subject matter kekaryaan. Selanjutnya dari hasil observasi dilakukan pengumpulan dan pemilahan data sehingga pengkarya memperoleh pemahaman, kedalaman dan keluasan cara pandang. Setelah mendapat pemahaman, lalu insights diubah menjadi proses kreatif melalui dua aksi yakni aksi simbolis berupa kekaryaan dan aksi fisik pemberdayaan masyarakat. Untuk mewujudkan kekaryaan mengunakan metode pendekatan dan langkah-langkah kreatif untuk membantu mengembangkan kemampuan mencipta yang mencakup tahapan-tahapan terstruktur maupun langkah yang tidak terduga, spontan dan intuitif. Problematikanya dinyatakan ke dalam bentuk bahasa rupa menggunakan metode penyangatan/hiperbola. Karya- karya diciptakan berupa object art patung celeng, di sini yang dipertimbangkan antara lain penyesuaian skala, kelayakan, dan penempatan. Namun karya masih dibuat atau digagas di studio dan pindahkan ke, atau dirangkai di sekitar wilayah areal penambangan. Situs wilayah penambangan dijadikan galeri untuk mempresentasikan kekaryaan. Hubungan antara lokasi presentasi dan masyarakat Selat mampu menjadi sebuah kekuatan tersendiri karena sesuai dengan konteks persoalan. Target kekaryaan tidak hanya sebagai ekspresi individual yang terbatas pada persoalan estetik namun menjadi cara atau alat untuk menyeberangkan (mengkampanyekan) isu lingkungan. Penciptaan seni adalah sebagai modus yang mampu untuk menginspirasi masyarakat agar tergugah secara kolektif maupun individual untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian eco-system. Kata Kunci: Tukad, penambnagan eksploitatif pasir, celen

    KARYA SENI MONUMENTAL: “Lestari Bumiku”

    Full text link
    Tujuan utama dari penelitian dan penciptaan seni ini adalah mencipta dan menyajikan karya “Gunung Menyan Segara Madu: Memuliakan Daerah Aliran Sungai Unda dalam Penciptaan Seni Lukis” sebagai representasi pendidikan kesadaran ramah lingkungan untuk menyangga kesinambungan ekosistem bumi. Model penciptaan seni lukis menjadi ekspresi budaya yang mampu memainkan peran kritis sebagai media peningkatan apresiasi masyarakat untuk membangkitkan semangat ketahanan ekologi sebagai upaya solusi atas permasalahan kerusakan daerah aliran sungai (DAS) Unda saat ini. Penciptaan ini berbasis riset dengan demikian metodenya terdiri dari dua bagian yang tidak terpisah yakni metode penelitian dan metode penciptaan. Metode penelitian menggunakan pendekatan Antropologi, khususnya terkait etnografi untuk mengumpulkan data empiris tentang prilaku dan budaya masyarakat di seputaran DAS Unda. Sedangkan metode penciptaan melewati tiga tahap yakni: eksplorasi, improvisasi, dan perwujudan karya yang didahului dengan telaah karya seni sejenis dan kajian literatur. Tahapan eksprimen/percobaan alat dan bahan untuk menemukan desain penyajian karya yang memiliki kebaruan yang kemudian disosialisasikan/ dipamerkan untuk menyampaikan pendidikan ekologis bagi masyarakat Atas dasar pemikiran kesadaran terhadap kondisi realitas yang terjadi pada sungai di era industri maka pencipta punya harapan, cita-cita, kerinduan, dan nilai spritual yang merupakan idealisme sebagai manusia kosmos maka lahir pandangan yang merupakan gagasan penciptaan karya seni lukis dengan judul “Gunung Menyan Segara Madu: Memuliakan Daerah Aliran Sungai Unda dalam Penciptaan Seni Lukis”. Maksudnya dengan merefresentasikan sungai dengan simbol-simbol yang bisa dipahami maka karya seni yang diciptakan merupakan bahasa metafor yang mampu berkomunikasi dengan khalayak (oudience) dan akan terbangun apresiasi. Kata-kata kunci: Seni lingkungan, DAS Unda, dan kesadaran ekologis
    corecore