47 research outputs found
Hubungan antara Helicopter Parenting terhadap Perilaku Narsis pada Mahasiswa Mahasiswi Aktif
Helicopter parenting atau yang dikenal juga sebagai Overparenting merupakan istilah keseharian yang dipergunakan untuk menggambarkan orang tua yang terlalu ikut mencampuri permasalahan kehidupan anak-anaknya secara langsung. Helicopter parenting pertama kali diciptakan dalam bentuk buku berkelanjutan (series book) oleh Cline dan Fay yang memuat tentang pengasuhan anak. Penerapan helicopter parenting yang berlebihan pada anak khususnya pada usia remaja hingga dewasa awal dapat mengarahkan anak ke dalam perilaku narsis. Hal ini dikarenakan pada masa remaja perasaan egosentrisme mulai berkembang. Adapun karakteristik egosentrisme yang memiliki kesamaan dengan gangguan perilaku narsis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Helicopter Parenting terhadap Perilaku Narsis pada Mahasiswa/i Aktif. Adapun responden dalam penelitian ini berjumlah 200 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Helicopter Parenting Instrument yang dibuat oleh Odenweller dkk (2014) untuk mengukur keterlibatan orang tua dalam kehidupan sehari-hari anaknya dan Narcissistic Personality Inventory atau NPI-13 yang dibuat oleh Terry dan Raskin (1988) untuk mengukur perilaku narsis dalam diri suatu individu. Teknik analis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis Pearson Correlation dengan menggunakan SPSS versi 23. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya Hubungan antara Helicopter Parenting terhadap Perilaku Narsis pada Mahasiswa/i Aktif dengan didukung nilai dari koefisien korelasi sebesar 0,450 dengan nilai signifikan sebesar 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi Helicopter Parenting atau keterlibatan orang tua dalam keseharian anak-anaknya maka, perilaku narsis pada mahasiswa/i aktif juga semakin meningkat
REPRESENTASI SOSOK PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KAKEK-KAKEK NARSIS (ANALISIS SEMIOTIKA)
ABSTRAKSI
REPRESENTASI SOSOK PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KAKEK-KAKEK
NARSIS
(ANALISIS SEMIOTIKA)
Kemampuan media untuk menampilkan sosok perempuan sebagai objek dominasi lakilaki
menyebabkan eksploitasi fisik perempuan sebagai daya tarik tayangan. Di tengah
persaingan industri media, eksploitasi kemenarikan fisik perempuan menjadi hal yang wajar.
Kemenarikan sosok perempuan menjadi komoditas yang dilekatkan dengan kualitas tayangan,
atau justru melengkapi kekurangmenarikan isi program. Secara ekstrim, kemenarikan fisik
perempuan dimanfaatkan oleh tayangan talk show Kakek-Kakek Narsis untuk membawa
imajinasi khalayak ke tema seksualitas yang menjadi segmentasi program.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sosok perempuan dalam tayangan talk show
komedi Kakek-Kakek Narsis. Dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes,
representasi konstruksionis Stuart Hall, serta kacamata Fiske, penulis mencoba membedah
simbol-simbol tayangan yang disajikan melalui tiga level analisis yaitu reality, representation,
dan ideology. Kemudian yang terakhir, penulis menggunakan teori humor milik Hobbes untuk
menganalisis kategori humor yang terdapat pada tayangan Kakek-Kakek Narsis.
Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga temuan mengenai representasi sosok
perempuan dalam tayangan Kakek-Kakek Narsis. Pertama adalah mitos kepasifan perempuan
sebagai objek kelucuan melalui superioritas laki-laki dan perempuan sebagai sosok penggoda.
Seorang perempuan akan dianggap lucu jika melontarkan kata-kata tertentu adalah karena
penonton memiliki mitos tentang gambaran perempuan secara ideal. Kemudian temuan kedua
adalah komodifikasi sosok perempuan melalui physical attractiveness. Komodifikasi tersebut
menggunakan sosok perempuan sebagai nilai jual utama program. Penggunaan daya tarik fisik
dalam tayangan Kakek-Kakek Narsis termasuk dalam komodifikasi buruh di mana pemilik modal
(stasiun televisi) memaksimalkan nilai fungsi atau guna talent. Sedangkan temuan yang terakhir
adalah adanya penokohan dan naturalisasi peran perempuan yang dikemas dalam bingkai humor.
Perempuan “dipaksa” oleh tayangan untuk menampilkan diri sebagai sosok yang pasif sehingga
dapat dimanfaatkan untuk menimbulkan kelucuan.
ABSTRACT
REPRESENTATION OF WOMEN IN DISPLAY figure In KAKEK-KAKEK NARSIS
(Semiotic analysis)
The ability of the media to show women as objects of male dominance led to the
exploitation of women's physical attractiveness impressions. In the midst of the media industry
competition, exploitation of women's physical attractiveness be normal. The woman
attractiveness into a commodity that is attached to the quality of impressions, or even
attractiveless complete program content. In the extreme, physical attractiveness of women
exploited by talk show impressions KAKEK-KAKEK NARSIS (KKN) to bring audiences to the
theme of sexuality imagination the segmentation program.
This study aims to analyze the female figure in the talk show comedy impressions. Using
a semiotic approach Roland Barthes, Stuart Hall constructionist representation, as well as glasses
Fiske, the author tries to dissect the symbols of impressions served through three levels of
analysis, reality, representation, and ideology. Finally, the author uses the theory of Hobbes
humor belong to analyze humor category contained on impressions KKN.
Results showed that the three findings regarding the representation of the female figure in
impressions KKN. First is the myth of passivity of women as objects of humor through the
superiority of men and women as seductive figure. A woman would be funny if it threw certain
words is because the audience has a myth about the image of the ideal woman. Then the second
finding is the commodification of the female figure through physical attractiveness.
Commodification is using women as major selling program. The use of physical attractiveness in
impression KKN included in the commodification of labor in which the owners of capital
(television station) in order to maximize the value of the function or talent. While the latter
finding is the naturalization characterizations and the role of women in the frame packaged
humor. Woman 'forced' by the impressions to present yourself as someone who is passive so that
it can be exploited to cause cuteness
Upaya mengurangi sikap narsis siswa melalui layanan bimbingan kelompok teknik role playing di kelas VIII MTs PAB 1 Helvetia
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Bagaiaman sikap narsis siswa besrerta indikatornya, 2) Bagaimana sikap narsis siswa sebelum diterapkan layanan bimbingan kelompok teknik role playing 3) Bagaimana sikap narsis siswa
setelah diterapkan layanan bimbingan kelompok teknik role playing. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) yang dilaksanakan dengan dua siklus. Di dalam pendekatan setiap siklus
menggunakan model Kemmis dan Teggart yaitu : 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi, 4) Refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah
PAB 1 Helvetia tepatnya di kelas VIII.B yang jumlah siswanya sebanyak 30 siswa. Jumlah siswa laki-laki sebanyak 9 orang dan jumlah siswa perempuan sebanyak 21 orang. Adapaun teknik analis data yang digunakan adalah 1) Angket,
dan 2) Observasi. Hasil Penelitian yang diperoleh dari hasil instrumen angket yang diberikan setelah tindakan pada siklus I (30%) dan siklus II meningkat mnjadi (80%). Jadi hasil peningkatan dari siklus I ke II sebesar 50%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka kesimpulan yang diperoleh adalah layanan bimbingan kelompok teknik role playing dapat mengurangi sikap narsis siswa. Berdasarkan penjelasn diatas dapat disimpulkan bahwa penggunanaan layanan bimbingan kelompok teknik role playing dapat digunakan untuk
mengurangi sikap narsis siswa secara signifika
PENGARUH PERILAKU NARSIS DAN SELF ESTEEM TERHADAP PENGENDALIAN DIRI SEORANG AKUNTAN DALAM BERINTERAKSI DI MEDIA SOSIAL DENGAN ETIKA PROFESI AKUNTAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
ABSTRAK
Anis Setiyani, 2020. “Pengaruh Perilaku Narsis dan Self Esteem terhadap Pengendalian Diri Seorang Akuntan dalam Berinteraksi Di Media Sosial dengan Etika Profesi Akuntan sebagai Variabel Intervening”.Skripsi, Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Majapahit (UNIM).
Pembimbing I : Hari Setiono, SE., M.Si
Pembimbing II : Rubiyanto, SE.,M.SA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Perilaku Narsis dan Self Esteem Terhadap Pengendalian Diri Akuntan dengan Etika Profesi Akuntan Sebagai Variabel Intervening. Populasi dalam penelitian ini adalah 65 orang responden yang merupakan akuntan pendidik atau dosen, mahasiswa jurusan akuntansi semester akhir. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Sumber data yang digunakan menggunakan data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif. Metode analisis data dilakukan dengan menggunakan Path Analaysis. Data yang didapatkan sudah memenuhi persyaratan uji kualitas data dan uji asumsi klasik. Hasil pengolahan data menggunakan SPSS dengan diperoleh hasil bahwa perilaku narsis dan self esteem berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap pengendalian diri seorang akuntan, perilaku narsis secara parsial tidak berpengaruh terhadap pengendalian diri seorang akuntan, self esteem berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri seorang akuntan, etika profesi akuntan tidak mengintervening perilaku narsis terhadap pengendalian diri seorang akuntan. Etika profesi akuntan tidak mengintervening self-esteem terhadap terhadap pengendalian diri seorang akuntan. Etika profesi akuntan secara simultan tidak mengintervening perilaku narsis dan self-esteem terhadap pengendalian diri seorang akuntan. Koefisien determinasi menunjukkan sebesar 2,5% variabel pengendalian diri akuntan dipengaruhi oleh perilaku narsis, self esteem dan etika profesi akuntan, sedangkan sisanya 97,5% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Kata kunci: Perilaku Narsis, Self Esteem, Etika Profesi Akuntan, Pengendalian Diri Akuntan, Media Sosial
The Goal of the New Approach to Reactor Safety Improvements (NARSIS) Project
Eighteen academic, research and industrial European institutions from Slovenia (GEN, JSI), Croatia (APOSS), Italy (ENEA, UNIPI), France (CEA, BRGM, IRSN, EDF, Framatome – ex Areva NP), Austria (NUCCON), Poland (NCBJ, WUT), Germany (KIT, Framatome - ex. Areva), Finland (VTT), The Netherlands (TU Delft, NRG), United Kingdom (EDF Energy) formed a consortium and applied to the H2020-Euratom call. The main ambitions of the consortium are to fill some gaps identified in existing external events probabilistic safety analyses (PSA) and to improve parts of the existing methodologies by 3 points: (1) to adapt most up to date frameworks and methodologies already existing or under development outside of nuclear community; (2) to use knowledge and experience on recent national and international projects; (3) to develop demonstration cases at the real NPP scale. Interactions are envisaged with on-going international initiatives and with the International Advisory Board, which will follow and discuss the project results with the aim to propose recommendations for future regulations. The main expected results are the development of an integrated risk framework for safety analyses and the development of a decision-making tool for demonstration of nuclear facility management. The integrated risk framework consists of: • Scenarios comprising single or multiple external hazards. Hazards can be combined or 165-2 cascading and include earthquake, flooding, extreme weather and others, • The physical and functional fragilities and interdependencies between systems/equipment are taken into account, • Human factors are taken into account and may play important role during severe accidents. • A support decision-making tool will be developed to demonstrate nuclear facility management during severe accidents due to external natural events. The project is structured into seven work packages (WP): • WP1: External hazards characterisation, • WP2: Fragility assessment of main NPPs critical elements, • WP3: Integration and safety analysis, • WP4: Applying & comparing various safety assessment approaches on a virtual reactor, • WP5: Supporting tool for severe accident management, • WP6: Dissemination, recommendation, and training, • WP7: Project management and coordination. The NARSIS project started in autumn 2017, with the duration of 4 years.Green Open Access added to TU Delft Institutional Repository ‘You share, we take care!’ – Taverne project https://www.openaccess.nl/en/you-share-we-take-care Otherwise as indicated in the copyright section: the publisher is the copyright holder of this work and the author uses the Dutch legislation to make this work public.Geo-engineerin
Pornografi Dalam Acara Televisi (Analisis Isi Unsur-Unsur Seksualitas dalam Tayangan Talk Show KKN “Kakek-Kakek Narsis” Trans TV Episode 115-118),
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah unsur-unsur
pornografi yang ditayangkan dalam acara Talk Show Kakek-KakekNarsis.
Tayangan KKN „Kakak-Kakek Narsis” adalah sebuah tayangan Talk Show di
stasiun televisi Trans TV yang tayang setiap hari senin-jum‟at pukul 00.00-01.00.
Talk Show KKN yang dibawahkan dengan 3 host dan beberapa bintang tamu
yang berpakaian sexy.. Acara Talk Show KKN disetiap episodenya menyajikan
tema yang berbeda-beda dan menarik, serta dalam tema tersebut dapat
memberikan ajaran atau nasehat yang berpengaruh positif bagi khalayknya.
Namun cara penyampaian pesan dengan relasi fisikal yang ditampilkan bintang
tamu dan host KKN dapat berpengaruh negatif bagi khalayaknya disebabkan
sering menampilkan hal-hal yang berbau unsur pornografi. Tayangan ini sering
mengeksploitasikan tubuh dalam reaksi fisikal perempuan dengan menampakkan
bagian- bagian tertentu seperti paha, dada, lengan, pundak, dan pinggul, serta
dengan menunjukkan ekspresi wajah yang telah diberikan yang mempunyai unsur
pornografi. Dengan banyaknya sajian yang dapat berpengaruh negatif bagi
khalayak, sifat pornografi sangat kental di tayang talk show ini. Pada program
acra talk show KKN ada beberapa episode yang sering ditayangkan dalam bulan
Juni-Agustus yakni episode 115-118 tahun 2012, episode ini sering ditanyangkan
karena mempunyai rating yang tinggi dari episode lainnya.
Dalam Penelitian ini penulis menggunakan metode Analisis isi. Metode
Analisis isi adalah suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang
dapat ditiru (replicabel) dalam memperhatikan konteksnya. Jenis penelitian ini
menggunakan dua pengkode, penkode I dan pengkode II, yang akan dihitung
dengan menggunakan rumus
N1 N2
2M
CR
dengan beberapa variabel yang telah
ditentukan yang berunsur andegan seksualitas yang akan di teliti dari episode 115-
118 Kakek-Kakek Narsis.
Dari analisis penelitian yang dilakukan dalam beberapa episode tayangan
KKN, penulis dapat menyimpulkan bahwa acara Talk Show KKN episode 115-
118 yang sering tayang pada bulan juli-agustus 2012, tetap menayangkan adegan
berunsur pornografi. Hasil ini didapatkan dengan menghitung beberapa variabel
yang mengandung unsur adegan seksualitas yang terdapat dalam tayangan Kakek-
Kakek Narsis. Perhitungan ini dianggap objektif karena persentasinya telah
mencapai 100% dari hasil penelitian
Del 3.1: Risk integration methods for high risk industries
Nuclear power plants are exposed to a variety of hazards, which may result in risks (the product of the likelihood of the hazard and resulting consequence). One of the key objectives of the NARSIS project is to improve the integration of external hazards and their consequences with existing state-of-the-art risk assessment methodologies in the industry. Accordingly, the main goals of this deliverable are to:- Review the various aspects of risk integration and associated methodologies- Review case histories of accidents in complex industrial set-ups, both nuclear and non-nuclear, and highlight prevalent ‘latent weaknesses’ that eventually led to these accidents- Review deterministic and probabilistic methods to identify latent weaknesses- Review risk integration methods currently used in high-risk industries such asnuclear, chemical and aviation- Review accident investigation procedures and international initiatives associated withmajor nuclear accidents- Discuss specific risk integration method(s) that are relevant to the NARSIS projectGeo-engineeringSafety and Security Scienc
Linking Stock Selection Criteria to Perceived Investment Success: An Equity Market Perspective
In the Dynamic Retail Investment Context, it is important to know how stock selection criteria correlate with investor satisfaction and perceived success. The current research examines the effects of three commonly known stock selection approaches—Fundamental Analysis, Technical Analysis, and Peer Pressure—on perceived investment outcomes, in terms of satisfaction with expected returns, risk management confidence, and satisfaction with investment decisions. The research applies theories of behavior and decision-making to formulate and empirically test a conceptual model, using Structural Equation Modelling (SEM) with a sample of 312 equity investors. The model demonstrates the differential effect of different selection processes on investors' perception. Technical analysis is the strongest predictor of returns satisfaction, indicating that investors desire short-term, empirical measures of their perceived success. Fundamental analysis strongly boosts confidence in risk-taking and decision satisfaction overall but paradoxically demonstrates a negative correlation with satisfaction for returns, and this can be attributed to conservative expectations or delayed outcomes. Social pressure provides poor affective support and has minimal influence on perceived returns or self-confidence, indicating the limitations of investment behavior based on social forces. The results highlight the psychological factors in investing and the necessity of balancing strategies with temperament of investors. The study offers practical implications for policymakers, platforms, and education about finance, who want to promote informed and confident investment participation by retail investors. The research contributes to the knowledge on how investors evaluate success in volatile equity markets by combining both analytical and behavioral factors
