26,296 research outputs found
Muslim Tionghoa : Cheng Ho
Buku ini membahas catatan perjalanan muhibah Cheng Ho untuk bahan kajian ataupun renungan bagi generasi yang akan datang bahwa pada abad ke-14 telah ada seorang bahariwan asal tiongkok yang telah berlayar ke Asia Afrika.Buku ini terdiri dari Bagian:1. Mengembalikan sejarah yang tenggelam2. Cheng Ho di Indonesia - Apa dan Siapa3. Apa dan siapa Cheng Ho dalam Sejarah Indonesia4. Menggali sejarah Cheng Ho di Indonesia5. Cheng Ho dan Sejarah Indonesiaxiiv, 299 hlm.: ilus.; 22 c
Laksamana Cheng Ho (kedatangan ke Nusantara dan pengaruhnya terhadap diplomatik Cina-Nusantara tahun 1405-1433)
Skripsi ini menunjukkan bahwa kedatangan Cheng Ho ke Nusantara merupakan misi diplomatik yang diembannya dari Kekaisaran Ming. Dalam rentang waktu kurang lebih 27 tahun, Cheng Ho melakukan tujuh kali pelayaran ke Nusantara dengan armada yang besar. Kedatangan yang membawa misi diplomatik turut berimbas pada hubungan perniagaan dan kebudayaan Nusantara waktu itu.x, 66 hlm.; 29 c
SEJARAH DAN KEUNIKAN NILAI BUDAYA MASJID CHENG HO DI PALEMBANG
Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mengetahui sejarah dan keunikan nilai budaya Masjid Cheng Ho di Palembang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif melalui observasi langsung dan mengkaji dengan melakukan studi kepustakaan (library research) untuk memperoleh data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya Palembang atau sering dikenal dengan masjid Cheng Ho yang merupakan salah satu masjid bernuansa Islam Tionghoa yang diresmikan pada tahun 2008. Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho didirikan oleh keluarga PITI Sumsel di atas tanah hibah dari PT. Amen Mulia kepada Organisasi PITI melalui perantara H. Syahrial Oesman atas berkah jasa kyai Palembang KH.Mudarrin. SM dan Kgs KH. M. Zen Syukri bin Kgs K. H Hasan Syukri yang juga merupakan pendiri Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho dan Yayasan Muhammad Cheng Ho Sriwijaya PITI Sumsel yang saat itu diketuai oleh Bapak H. Haryanto. Berdasarkan penelitian menyatakan bahwa Masjid Cheng Ho juga memiliki keunikan pada bagian ornamen. Dimana ornamen masjid Cheng Ho memiliki perpaduan antara kebudayaan muslim Tionghoa dengan budaya Melayu, dan Nusantara. Ornamen yang menjadi ciri khas masjid Cheng Ho yaitu ada pada bagian gapura dan menara masjid. Hal ini dapat dilihat dari bentuk dan warna yang digunakan yaitu seperti nuansa Tionghoa atau Cina.Abstract: This study aims to determine the history and unique cultural values of the Cheng Ho Mosque in Palembang. The method used in this study is a qualitative method through direct observation and review by conducting library research to obtain research data. The results showed that the Al-Islam Muhammad Cheng Ho Mosque Sriwijaya Palembang or often known as the Cheng Ho mosque which is one of the mosques with Chinese Islamic nuances which was inaugurated in 2008. Al-Islam Muhammad Cheng Ho Mosque was founded by the PITI family in South Sumatra on a land grant. from PT. Amen Mulia to the PITI Organization through the intermediary of H. Syahrial Oesman for the blessing of the Palembang kyai KH.Mudarrin. SM and Kgs KH. M. Zen Syukri bin Kgs K. H Hasan Syukri who is also the founder of the Muhammad Cheng Ho Al-Islam Mosque and the Muhammad Cheng Ho Sriwijaya Foundation PITI Sumsel which at that time was chaired by Mr. H. Haryanto. Based on research, it is stated that Cheng Ho Mosque also has a uniqueness in the ornament section. Where the ornaments of the Cheng Ho mosque have a blend of Chinese Muslim culture with Malay culture, and the archipelago. The ornaments that characterize the Cheng Ho mosque are on the gates and minarets of the mosque. This can be seen from the shapes and colors used, which are like Chinese or Chinese nuances
Muslim Tionghoa Cheng Ho : misteri perjalanan muhibah di Nusantara
Laksamana Cheng Ho seorang muslim Tionghoa sebagai pelaut sejati, pada abad ke- 14 telah memimpin perjalanan dalam perjalanan muhibah ke Asia dan Afrika, dengan membawa lebih 208 kapal. Disamping menjalin persabatan dengan negara-negara yang dikunjungi, beliau juga berniaga dan memperkenalkan agama Islam. Yang patut kita contoh bagaimana pola niaga serta manajerial Nabi Muhammad SAW beliau terapkan dikombinasikan dengan manajemen Tao Zhugong, Confusiusme dan Lautze, sehingga membawa kesuksesan dalam kepemimpinannya.Daftar isi Bagian I : Mengembalikan sejarah yang tenggelamBagian II : Cheng Ho di Indonesia - apa dan siapaBagian III : Apa dan siapa Cheng Ho dalam sejarah IndonesiaBagian IV : Menggali sejarah Cheng Ho di IndonesiaBagian V : Cheng Ho dan sejarah Indonesiaxliv, 299 hlm.: ilus.; 21 cm
Laksamana Cheng Ho : Panglima Muslim Tionghoa Penakluk Dunia
Buku ini mengupas kisah perjalanan hidup Cheng Ho yang dikenang sebagai penebar perdamaian dan persaudaraan. Buku ini juga mengupas perjalanan muhibah Cheng Ho ke seluruh daratan di dunia, terutama ketika ia dan armadanya singgah di Nusantara.Buku ini mengulas secara popular tentang ekspedisi Cheng Ho di berbagai negara, terutama di Nusantara sehingga mudah dan nyaman dibaca siapa saja. Sejarah pelayaran Cheng Ho ini layak diangkat karena di dalamnya sarat dengan nilai-nilai pluralisme, kemanusiaan, kemaslahatan, dan perdamaian
DINAMIKA PELESTARIAN SEJARAHPENINGGALAN CHENG HO DI SEMARANG 1970 - 2005g
Kebudayaan merupakan khas manusia yang riil, dengan kebudayaan
tersebut manusia dengan sendirinya akan mewujudkan eksistensinya, dan
perkembangan budaya manusia dari waktu ke waktu akan menciptakan suatu
sejarah tersendiri bagi hidup manusia. Sejarah budaya tentang peninggalanpeninggalan
Cheng Ho merupakan suatu kajian dalam konteks historis yang
menuturkan tentang bermacam peninggalan budaya Cheng Ho yang berupa
bangunan bersejarah ataupun tentang tradisi-tradisi yang berasal dari Cheng Ho
yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat etnis Tionghoa
khususnya dan seluruh etnis pada umumnya di kota Semarang. Selain itu
perkembangan budaya-budaya peninggalan Cheng Ho di kota Semarang
menunjukkan kemajuan yang baik, sehingga dari perkembangan tersebut terlihat
bahwa budaya-budaya tersebut dapat diterima dengan baik oleh semua masyarakat
Semarang. Dalam penelitian ini mengangkat suatu permasalahan yang berkaitan
dengan latar belakang kehidupan Cheng Ho, budaya dan tradisi peninggalan
Cheng Ho serta dinamika perkembangan pelestarian peninggalan Cheng Ho.
Penelitian ini merupakan penelitian sejarah budaya, yang berbentuk
deskriptif kualitatif dengan memberikan gambaran utuh dan gambaran detailnya,
karenanya disamping menggunakan studi lapangan (field research) juga
menggunakan studi pustaka (library research), agar mendapatkan data yang
benar-benar valid (aktual dan faktual) serta teruji kebenarannya.
Sebagaimana penjelasan di atas metode pengumpulan data dilakukan
dengan cara (1) wawancara; (2) observasi langsung; (3) studi kepustakaan.
Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif, dimana data
dianalisis selama kegiatan penelitian berlangsung dan dilakukan secara terus
menerus dari awal hingga akhir penelitian. Sehingga data-data yang didapat
memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain.
xv
Berdasarkan hasil penelitian banyak sekali pengaruh kebudayaan Cheng
Ho bagi masyarakat etnis Tionghoa di Semarang, selain dari segi religi dan
kepercayaan, banyak pula berupa cerita mitologi dan tradisi-tradisi budayanya.
Budaya-budaya peninggalan Cheng Ho di Semarang memiliki sifat yang yang
sangat plural, hal ini dapat terlihat dari salah satu peninggalannya yang berupa
bangunan Klenteng, yang semula berupa masjid namun dalam perkembangannya
berubah sebagai tempat peribadatan umat Tri Dharma, kendatipun demikian
masih banyak berbagai umat beragam lain yang masih mengunjunginya, dengan
demikian bangunan peninggalan Cheng Ho tersebut menjadi bukti nyata
pluralisme dari budaya peninggalan Cheng Ho.
Dari sifat pluralisme tersebut maka kebudayaan peninggalan Cheng Ho
dengan mudah akan diterima masyarakat luas tanpa batasan etnis apapun.
Perkembangan dari waktu ke waktu tradisi-tradisi peninggalan Cheng Ho juga
mengalami kemajuan, dari yang semula dirayakan oleh etnis Tionghoa saja, kini
telah menjadi tradisi kalender wisata masyarakat Semarang
Tipologi Elemen Visual Pada Masjid Cheng Ho Di Jawa
Masjid adalah bangunan atau lingkungan berpagar di sekitarnya yang didirikan khusus
sebagai tempat ibadah kepada Allah SWT, terutama untuk sholat. Dalam perkembangannya,
masjid tidak hanya menjadi bangunan rumah ibadah (tempat sujud atau tempat sholat), tetapi
juga sebagai ruang sosial atau pusat kehidupan komunitas Muslim (masyarakat Islam). Masjid
tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat atau tempat ibadah, tetapi juga memenuhi fungsi
dalam berbagai aspek lainnya. Seperti yang terlihat di masjid-masjid yang ada, arsitektur
bangunan masjid dipengaruhi oleh kondisi alam dan perkembangan budaya lokal dan eksternal.
Perkembangan budaya dapat dilihat dari sejarah penyebaran Islam dan proses masuknya Islam
ke daerah tersebut.
Perpaduan budaya dapat dilihat dalam arsitektur bangunan Masjid Cheng Ho di Indonesia.
Setidaknya ada 12 Masjid Cheng Ho di Indonesia, yang terbanyak tersebar di Pulau Jawa,
sebanyak lima masjid. Lima Masjid Cheng Ho di Jawa yaitu Masjid Cheng Ho Surabaya,
Pasuruan, Purbalingga, Jember, dan Banyuwangi diduga menggunakan elemen dan prinsip
desain arsitektur Islam, arsitektur Jawa, dan arsitektur Tionghoa. Arsitektur Masjid Cheng Ho
di Jawa diduga memiliki persamaan dan perbedaan. Bagaimana tipologi elemen visual pada
Masjid Cheng Ho di Jawa? Penelitian ini berfokus pada elemen visual terhadap 5 (lima)
Masjid Cheng Ho di Jawa dan hubungannya dengan tipologi elemen visual.
Penelitian ini adalah penelitian arsitektur dengan paradigma konstruktivisme,
menggunakan metode kualitatif-deduktif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Pengumpulan
data dilakukan dengan observasi lapangan. Analisis data dilakukan dengan interpretasi kritis
terhadap bahan sumber, memilih tema, dan mensistematisasikan dan meringkas data
pengamatan. Pembahasan dengan membahas tema analisis dengan teori eklektik, kemudian
interpretasi.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa arsitektur Masjid Cheng Ho di Jawa memiliki
beberapa persamaan dan perbedaan. Kesamaannya bisa dilihat dari elemen visual bentuk,
elemen visual ornamen, dan elemen visual warna. Elemen visual Bentuk, Ornamen, dan warna
di Masjid Cheng Ho di Jawa adalah hasil dari konsep arsitektur eklektik yang menggabungkan
gaya arsitektur Islam (Arab), gaya arsitektur Jawa, dan gaya arsitektur Cina. Tema-tema
pemikiran eklektisisme yang digunakan di Masjid Cheng Ho di Jawa adalah referensi sejarah,
sifat, fungsi, seni, simbol, dan gagasan individu
- …
