120 research outputs found

    Analisis Dampak Ekonomi Wisata Alam Sentul Paradise Park terhadap Pendapatan Masyaraakat Lokal

    No full text
    Pengembangan sektor pariwisata berpengaruh positif terhadap penerimaan pada suatu daerah dan dapat meningkatkan kemajuan ekonomi masyarakat. Kawasan Sentul Paradise Park merupakan salah satu kawasan yang berpotensi besar dan memiliki daya tarik sebagai kawasan wisata. Tingkat permintaan wisata akan berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap permintaan masyarakat lokal sekitar kawasan wisata. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik pengunjung,unit usaha, tenaga kerja dan masyarakat sekitar Sentul Paradise Park, mengindentifiksi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan wisata Sentul Paradise Park, mengestimasi dampak ekonomi yang timbul akibat adanya kegiatan wisata Sentul Paradise Park. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata pengunjung berusia 19-25 tahun dengan rata-rata pekerjaan sebagai karyawan swasta dengan pendapatan rata-rata sebesar Rp 5.000.000. Faktor-faktor yang berpengaruh pada permintaan wisata ialah pendapatan, umur waktu tempuhdan jumlah rombongan. Nilai dampak ekonomi yang diestimasi menggunakan pendekatan multiplier effect yaitu dampak ekonomi langsung yang dirasakan oleh pemilik unit usaha sebesar Rp 414.990.416, dampak ekonomi tidak langsung yang dilihat dari pengeluaran unit usaha di dalam kawasan wisata sebesar Rp 309.394.297, sedangkan dampak ekonomi lanjutan berupa pengeluaran tenaga kerja di kawasan wisata sebesar Rp 22.810.014. Nilai keynesian income multiplier sebesar 1.7 ratio income mutiplier tipe I sebesar 1.7 dan ratio income multiplier tipe II sebesar 1.8

    Analisis Kelayakan Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (Studi Kasus : Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor)

    No full text
    Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) merupakan suatu program pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan bersama oleh Perum Perhutani dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao Hijau. Program PHBM memberikan manfaat pada bidang ekonomi, sosial dan lingkungan bagi masyarakat sekitar hutan. KTH Cibulao Hijau memanfaatkan kawasan hutan yang sudah tidak berproduksi menjadi lahan untuk ditanami tanaman kopi dan menjadi kawasan wisata. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap terhadap manfaat program PHBM dalam bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan, menganalisis kelayakan finansial dan ekonomi budidaya kopi yang diusahakan KTH Cibulao Hijau melalui program PHBM, dan mengestimasi tarif yang layak berdasarkan nilai kesediaan membayar pengunjung untuk menentukan potensi harga maksimum yang masih bersedia dibayarkan untuk wisata KTH Bike Park. Penelitian dilakukan dengan menggunakan skala likert, Cost and Benefit Analysis, Contingent Valuation Method, dan regresi linier berganda. Hasil analisis persepsi program PHBM telah memberikan manfaat secara langsung maupun tidak langsung serta telah memberikan perubahan yang lebih baik akan tetapi manfaat yang dirasakan belum merata kepada seluruh masyarakat Cibulao. Hasil analisis menggunakan kriteria NPV, Net B/C, dan IRR menunjukan bahwa program ini secara finansial dan ekonomi layak untuk dijalankan. Berdasarkan penelitian diketahui tarif masuk yang layak menggunakan nilai rata-rata WTP pengunjung adalah Rp 33 636

    Analisis Kelembagaan Dalam Pengelolaan Keramba Jaring Apung (Kja) Waduk Cirata

    No full text
    Waduk Cirata yang merupakan Pembangkit Listrik terbesar di ASEAN digunakan juga sebagai lokasi budidaya ikan dengan sistem KJA. Lokasi Waduk yang mencakup tiga wilayah administrasi membuat pengelolaannya cenderung sulit dilakukan. Jumlah KJA meningkat setiap tahunnya dan telah melebihi kapasitas daya dukung waduk. Hal tersebut menyebabkan penurunan kualitas air dan tingginya tingkat sedimentasi. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengelolaan KJA yang tepat dengan membuat sistem kelembagaan yang kuat. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan KJA Waduk Cirata., 2) Menganalisis keterkaitan diantara stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan KJA Waduk Cirata, 3) Menganalisis persepsi stakeholders terhadap KJA Waduk Cirata, 4) Mengidentifikasi aturan yang terkait dalam pengelolaan KJA Waduk Cirata, 5) Menganalisis model kelembagaan dalam pengelolaan KJA Waduk Cirata. Penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif mencakup Analisis Stakeholder, Analisis Persepsi, dan Analisis Peraturan. Hasil penelitian menunjukan : 1) Stakeholders yang berkaitan dengan pengelolaan KJA di Waduk Cirata terdiri dari a) Subject yaitu pedagang ikan, kelompok pengolah hasil perikanan dan POKMASWAS, b) players yaitu Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Cianjur, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung Barat, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta, BPWC, kelompok pembudidaya ikan, ASPINDAC, kelompok penjual pakan, dan kelompok nelayan, c) Bystanders yaitu aparat desa, BPPT dan lembaga peneliti, 2) Keterkaitan stakeholder yang terdapat dalam pengelolaan KJA di Waduk Cirata yaitu antara beberapa pihak yang memiliki kepentingan berbeda dalam suatu lingkup wilayah yang sama dan saling berkoordinasi dalam pengelolaan Waduk Cirata dengan menggunakan tipe pengelolaan instruktif dan konsultatif, 3) Terdapat persamaan persepsi antar stakeholder mengenai kondisi lingkungan Waduk Cirata dan mengenai keberadaan KJA. Namun, untuk persepsi terhadap pengelolaan Waduk Cirata terdapat perbedaan pandangan diantara petani ikan mengenai kejelasan aturan main. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakmerataan dalam sosialisasi peraturan pengelolaan waduk, 4) Aturan-aturan formal yang berlaku telah mengatur pengelolaan sumberdaya perikanan (KJA) yang mencakup tujuan ekonomi dan konservasi (perlindungan terhadap sumberdaya waduk). Namun implementasi dari aturan tersebut belum berjalan. Saksi bagi pelanggar juga belum ditegakkan. Aturan-aturan informal secara tidak langsung memiliki tujuan sosial, ekonomi, dan konservasi yang mendukung pengelolaan perikanan (KJA) di Waduk Cirata, 5) Desain kelembagaan yang sesuai bagi pengelolaan KJA Waduk Cirata yaitu kelembagaan yang mampu menjembatani kepentingan beberapa pihak yang memanfaatkan Waduk Cirata. Hal tersebut dapat dicapai dengan peningkatan koordinasi diantara stakeholder yang terlibat

    Estimasi Nilai Ekonomi dan Analisis Keberlanjutan Kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk (PIK).

    No full text
    Kerusakan ekosistem mangrove di wilayah pesisir DKI Jakarta telah mengancam keberadaan hutan mangrove dan keberlanjutan dari fungsi ekosistem mangrove sebagai penyedia jasa lingkungan bagi makhluk hidup. Alih fungsi lahan hutan mangrove menjadi tambak dan tempat pemancingan menyebabkan kerusakan ekosistem mangrove pada Kawasan Ekowisata Mangrove PIK. Setelah menyadari adanya kerusakan pada lahan mangrove tersebut, Dinas Kehutanan DKI Jakarta mengusir para perusak hutan mangrove untuk keluar dari kawasan, kemudian diikuti pula dengan melakukan upaya rehabilitasi mangrove. Upaya pengendalian kerusakan mangrove tersebut dilakukan dengan cara mengembangkan kawasan tersebut sebagai kawasan ekowisata. Penelitian ini bertujuan mengestimasi nilai ekonomi total dan menganalisis status keberlanjutan ekosistem mangrove pada Kawasan Ekoswisata Mangrove PIK. Penelitian ini menggunakan metode valuasi ekonomi dengan pendekatan harga pasar (market price), benefit transfer, dan Travel Cost Method (TCM) untuk menentukan nilai ekonomi total Kawasan Ekowisata Mangrove PIK. Metode Multi-dimensional Scalling (MDS) dengan alat analisis Rap_Mforest digunakan untuk menganalisis status keberlanjutan ekosistem mangrove pada Kawasan Ekowisata Mangrove PIK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ekonomi total Kawasan Ekowisata Mangrove PIK sebesar Rp 1 509 838 320,52. Analisis status keberlanjutan ekosistem mangrove pada Kawasan Ekowisata Mangrove PIK dengan menggunakan Rap_Mforest menunjukkan status kurang berkelanjutan untuk dimensi ekonomi dengan nilai indeks 49,05. Status cukup berkelanjutan untuk dimensi ekologi dan sosial dengan masing-masing nilai indeks sebesar 59,88 dan 53,75. Pada dimensi kelembagaan berstatus berkelanjutan dengan nilai indeks 92,12

    Analisis Tingkat Kepuasan dan Kesediaan Membayar Pengendara Sepeda Motor di Kota Bogor terhadap Bus Trans Pakuan

    No full text
    Kota Bogor merupakan salah satu kota besar penyangga Ibu Kota Jakarta, hal tersebut menyebabkan peningkatan jumlah penduduk serta mobilitas penduduk di kota ini. Peningkatan jumlah penduduk di Kota Bogor berdampak pada peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Jumlah kendaraan bermotor yang mendominasi Kota Bogor adalah sepeda motor. Peningkatan jumlah sepeda motor menyebabkan kepadatan lalu lintas. Perubahan kebiasaan berkendara ke transportasi umum perlu dilakukan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. Bus Trans Pakuan merupakan salah satu transportasi umum di Kota Bogor yang dapat menjadi pilihan untuk merubah perilaku berkendara pengendara sepeda motor. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengestimasi total beban pencemaran yang dihasilkan sepeda motor di Kota Bogor, (2) menganalisis persepsi pengendara sepeda motor di Kota Bogor terhadap pencemaran udara akibat emisi sepeda motor dan dampaknya, (3) mengestimasi besaran Willingness to Pay (WTP) pengendara sepeda motor terhadap Bus Trans Pakuan di Kota Bogor, dan (4) mengidentifikasi atribut pelayanan yang penting dan mempengaruhi kepuasan pengendara sepeda motor terhadap Bus Trans Pakuan. Penelitian ini dilanalisis dengan menggunakan metode perhitungan kuantitatif, skala likert, Contingent Valuation Method (CVM), Importance Performance Analysis (IPA), dan Customer Satisfaction Index (CSI). Total beban pencemaran sepeda motor di Kota Bogor sebesar 96.502,01 ton/tahun sehingga menimbulkan kerugian sebesar Rp. 4.376.480.462/tahun. Persepsi terkait emisi dan dampaknya didapatkan kesimpulan rata-rata setuju dengan pernyataan yang diberikan. Besar willingness to pay pengendara sepeda motor terhadap Bus Trans Pakuan adalah sebesar Rp. 1.530. Nilai CSI Bus Trans Pakuan adalah 59,02% atau 0,59 yang artinya berada pada rentang “Cukup Puas”, pengendara sepeda motor yang juga merupakan pengguna Bus Trans Pakuan merasa cukup puas dengan atribut-atribut pada Bus Trans Pakuan

    Analisis Kelayakan Finansial dan Ekonomi Pengelolaan Sampah Organik Terintegrasi dengan Integrated Farming System di Kampus Institut Pertanian Bogor, Dramaga

    No full text
    Di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), lebih dari separuh sampah yang dihasilkan merupakan sampah organik dan rutin dihasilkan setiap harinya. Sampahsampah tersebut dapat bernilai ekonomi apabila dilakukan pengelolaan yang tepat. Di sisi lain, pengelolaan sampah membutuhkan biaya investasi dan operasional yang tidak sedikit. Oleh karena itu dibutuhkan rencana proyek yang baik agar pengelolaan sampah tidak rugi, atau bahkan mendapat keuntungan. Memadukan pengelolaan sampah dengan Integrated Farming System (IFS) adalah solusi yang dapat dijalankan kampus IPB. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengestimasi potensi sampah organik kampus IPB yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan nilai ekonomi, (2) menganalisis kelayakan finansial dan ekonomi pengelolaan sampah organik kampus IPB, dan (3) menganalisis kelayakan finansial dan ekonomi pengelolaan sampah organik menggunakan IFS. Metode yang digunakan adalah analisis kuantitatif serta analisis biaya dan manfaat. Hasil penelitian menunjukkan sampah organik kampus IPB yang berpotensi memberikan nilai ekonomi adalah sebesar 506,496 kg per tahun. Nilai ekonomi dan kelayakan dianalisis menggunakan tiga kriteria yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Dalam analisis ekonomi dengan umur proyek selama 20 tahun, pengelolaan sampah organik menggunakan IFS mendapatkan nilai NPV sebesar 1,532,937,495 rupiah, Net B/C sebesar 1.48, dan IRR sebesar 13.04%. Pada analisis finansial, pengelolaan sampah menggunakan IFS mendapatkan NPV sebesar 140,117,711 rupiah, Net B/C sebesar 1.04, dan IRR sebesar 5.85%. Berdasarkan ketiga kriteria tersebut, maka dapat disimpulan pengelolaan sampah organik menggunakan IFS layak, baik secara ekonomi maupun finansial

    Analisis Pendapatan dan Kelembagaan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan Teh Rakyat (Studi Kasus di Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat).

    No full text
    Pengembangan perkebunan teh rakyat adalah salah satu solusi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan sub sektor perkebunan, namun saat ini fokus pengembangan perkebunan teh lebih pada perkebunan besar, karena pada umumnya perkebunan teh rakyat merugikan. Penggunaan pengendalian hama terpadu (PHT) diharapkan dapat meningkatkan produktivitas teh rakyat dan meningkatan pendapatan serta mendukung pada pembangunan teh rakyat yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi pendapatan usahatani teh rakyat yang menerapkan dan tidak menerapkan PHT, menganalisa kelembagaan PHT Perkebunan teh rakyat di Kabupaten Tasikmalaya, menganalisis persepsi pemangku kepentingan PHT untuk keberlanjutan usaha tani teh rakyat dan menganalisa kelembagaan PHT untuk mewujudkan perkebunan teh yang berdaya saing dan berkelanjutan di Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Tasikmalaya pada bulan Oktober sampai dengan bulan November tahun 2016. Jumlah anggota kelompoktani teh rakyat di Kecamatan Sodonghilir, Taraju dan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya berjumlah 2.885 orang dan jumlah responden adalah 100 orang yang ditentukan dengan metode slovin. Pendekatan yang digunakan untuk mengestimasi pendapatan yaitu analisis pendapatan, sedangkan analisis persepsi menggunakan skala linkert. Untuk memperoleh gambaran eksisting kelembagaan dan penataan kelembagaan digunakan pendekatan analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukan bahwa pendapatan usahatani teh rakyat merugi, yaitu sebesar Rp -67,535 untuk PHT dan sebesar Rp -232,768 petani non PHT, kerugian tersebut disebabkan rendahnya standar harga untuk produk teh rakyat dan tidak adanya perbedaan harga untuk PHT dan Non PHT, namun demikian petani PHT memiliki kerugian yang lebih rendah dibanding Non PHT atau dengan kata lain lebih menguntungkan. Kondisi kelembagaan PHT kurang optimal pada usahatani teh, dikarenakan tidak adanya pemangku kepentingan yang mampu menjembatani antara kepentingan pemerintah dan pelaku usaha dalam hal ini yaitu petani teh rakyat. Persepsi pemangku kepentingan untuk keberlanjutan penerapan PHT pada tanaman teh menyatakan bahwa sebagian besar pemangku kepentingan setuju dengan penerapan aplikasi PHT pada perkebunan teh rakyat. Dari hasil analisis diatas diperlukan penataan kelembagaan PHT dengan tujuan untuk mengoptimalkan kelembagaan yang ada agar terlaksananya koordinasi dan monitoring evaluasi ditingkat lapangan

    Analisis Kelembagaan dan Biaya Transaksi dalam Pengelolaan Sea Farming di Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu

    No full text
    Phenomenon of declining fishing production in some Indonesian waters area has raised fears of increasing scarcity of fish resources, therefore many implementative programs and efforts has been developed. One of these programs is sea farming. Sea farming is shallow waters marine resources use system based on mariculture. The main objective is to increase fish resources while sustaining fishing activity, mariculture and marine ecotourism. Sea farming is not exactly the same with mariculture. Mariculture and other economic activities based on marine resources are subsystem of the sea farming. The aim of this research are : 1) to identify the role of institutional in managing coastal resources in Panggang Island Administrative Regency of Kepulauan Seribu, 2) to analyze institutional management of sea farming, 3) to evaluate economic benefit and transaction cost of sea farming management, 4) to analyze sustainability of sea farming program. The data was analyzed by 7 methods: 1) Institutional Analysis and Development (IAD); 2) stakeholders analysis; 3) fisheries resources management conflict analysis; 4) income analysis; 5) transaction cost analysis; 6) cost effectiveness analysis; 7) program scenario evaluation analysis. Based on the identification of institutional role in management of sea farming and coastal resources, the stakeholders actors are subject (sea farming members and trader), players (government, National Parks of Kepulauan Seribu, and university-PKSPL IPB), spectator (village government), and actor (security). Economic benefit of sea farming group member is Rp 6,805,645/year. Transaction cost for institutional management is Rp 875,000/year and the effectivity of transaction is 0.13, which is considered cost effective. Evaluation of sustainable scenario showed that scenario B which is program can be continued with a significant improvement was selected. The improvement of sea farming program includes adaptif institutional development, improvement of group organization and management, in order to achieve sustainability of sea farming program.Pemanfaatan sumberdaya perairan laut di kawasan Kepulauan Seribu selama ini secara nyata dilakukan tanpa perencanaan dan pengawasan yang baik. Kondisi stok ikan di beberapa wilayah telah mengalami tangkap lebih (overfishing), degradasi sumberdaya alam akibat pencemaran, penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan bahan kimia, pengambilan karang yang berlebihan dan lain-lain. Sehingga sebagian besar penduduk akan terperangkap dalam kemiskinan akibat produktivitas sumberdaya yang semakin berkurang dan terjadinya kerusakan lingkungan. Fenomena penurunan produksi tangkapan ini telah menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan terjadinya kelangkaan sumberdaya ikan. Penelitian ini dilakukan bertujuan : pertama, mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Kedua, menganalisis kelembagaan pengelolaan sea farming. Ketiga, mengkaji manfaat ekonomi dan biaya transaksi pengelolaan sea farming. Keempat, menganalisis keberlanjutan pengelolaan sea farming

    Analisis Stategi Pengembangan Peternakan Sapi Potong Rakyat Berbasis Kelompok (Study Kasus Peternak Binaan Sarjana Membangun Desa Wirausahawan Pendamping/SMDWP di Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat).

    No full text
    Pengembangan sapi potong rakyat berbasis kelompok adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi daging sapi yang merupakan masalah dalam pembangunan ketahanan pangan nasional. Upaya untuk mencapai pengembangan sapi potong rakyat diantaranya dengan meningkatkan optimalisasi usaha sapi potong rakyat agar pendapatan para peternak rakyat meningkat. Kelembagaan kelompok peternak menjadi tulang punggung untuk mencapai hal tersebut, sehingga muncullah program Sarjana Membangun Desa Wirausahawan Pendamping (SMDWP) untuk mendukung program swasembada daging, walaupun masih dibutuhkannya suatu strategi pengembangan peternakan sapi potong rakyat berbasis kelompok yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi kelembagaan eksisiting SMDWP di Kabupaten Tasikmalaya, (2) mengestimasi pendapatan dari usaha ternak sapi potong peternak binaan SMDWP di Kabupaten Tasikmalaya, (3) mengestimasi optimalisasi input yang efisien dalam usaha ternak sapi potong peternak binaan SMDWP di Kabupaten Tasikmalaya, dan (4) menganalisis strategi pengembangan serta redesign kelembagaan untuk pengembangan usaha ternak sapi potong rakyat yang berbasis kelompok yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat pada bulan September - Oktober 2016. Metode sensus dilakukan terhadap 77 peternak responden dari 8 kelompok yang merupakan binaan dari SMDWP yang ada di Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2016. Pendekatan yang digunakan untuk mengestimasi tingkat pendapatan adalah analisis pendapatan, sedangkan untuk optimalisasi input menggunakan pendekatan dengan regresi fungsi produksi cobb douglas. Analisis deskriftif digunakan untuk penggambaran eksisiting kelembagaan yang dilanjutkan dengan analisis SWOT serta redesign kelembagaan untuk pendekatan strategi pengembangan sapi potong rakyat yang berkelanjutan. Hasil analisis menunjukkan pengelolaan usahaternak sapi potong rakyat yang berbasis kelompok binaan SMDWP di Kabupaten Tasikmalaya merupakan kelembagaan yang melibatkan banyak pihak. Tatakelola kelembagaan eksisting yang sudah terbentuk (de facto) dalam faktanya belum mampu menjalankan fungsinya dengan efektif. Kelembagaan yang sesuai dengan aturan main (de jure) tidak berjalan di lapangan, dari hasil analisis tersebut berimbas pada pendapatan usaha ternak sapi potong rakyat peternak binaan SMDWP di Kabupaten Tasikmalaya sangat bervariasi, terutama terdapat perbedaan signifikan antara peternak dengan pola penggemukan dan pola pembibitan, selain itu peternak yang sudah mengintegrasikan usahanya dengan pengolahan limbah dan yang belum terintegrasi dengan pengolahan limbahnya. Pengolahan limbah merupakan usaha untuk meningkatkan pendapatan selain berdampak positif pada lingkungan, yaitu mengurangi eksternalitas negatif dari usaha ternak sapi potong. Faktor yang berpengaruh secara teknis pada fungsi produksi adalah, jumlah pemberian HMT, jumlah pemberian konsentrat, pengunaan bobot badan awal pemeliharaan, bangsa sapi, sedangkan penggunaan input produksi dalam usaha sapi potong rakyat kelompok peternak binaan SMDWP di Kabupaten Tasikmalaya belum optimal. Strategi pengembangannya harus agrseif, dengan penguatan kelembagaan dan design kelembagaan yang mampu mewujudkan pengembangan peternakan sapi potong rakyat . Hasil analisis SWOT menunjukan dibutuhkannya redesign kelembagaan yang diharapkan mampu mengakomodir semua kepentingan semua stakeholder pada usahaternak sapi potong rakyat yang berbasis kelompok binaan SMDWP di Kabupaten Tasikmalaya. Koordinasi, pemahaman dari stakeholder, pengawasan, dan penegakan hukum menjadi kunci penting dari implementasi redesign kelembagaan usahaternak sapi potong rakyat yang berbasis kelompok binaan SMDWP di Kabupaten Tasikmalaya untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Saran implikasi kebijakan berdasarkan hasil penelitian yaitu perlu ada kebijakan yang arahnya lebih jelas mengenai pembibitan dan penggemukan, dimana untuk pembibitan diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah. Peternakan terutama peternakan rakyat kebih fokus pada pola penggemukan, untuk meningkatkan nilai tambah secara finansial dan lingkungan seharusnya usaha ternak sudah terintegrasi dengan pengolahan limbah. Impilkasi kebijakan yang disarankan juga harus melihat aspek pembangunan berkelanjutan, yaitu aspek ekonomi, aspek sosial dan aspek lingkungan

    Analisis Nilai Ekonomi dan Kelembagaan terhadap Keberlanjutan Pemanfaatan Mangrove di Pulau Tanakeke

    No full text
    Ekosistem mangrove merupakan urat nadi kehidupan bagi masyarakat di Pulau Tanakeke. Secara ekologi, ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke berperan sebagai pelindung perkampungan. Secara ekonomi, dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sebagai sumber mata pencaharian. Dalam kurun waktu tahun 1980an-2000an awal, sebanyak 60% tutupan mangrove di Pulau Tanakeke hilang dari luasan awalnya + 1.770 hektar. Hilangnya tutupan mangrove tersebut disebabkan oleh adanya penebangan mangrove untuk membuka lahan menjadi tambak dan untuk bahan baku arang. Berkurangnya tutupan mangrove dalam jumlah yang signifikan tersebut menyebabkan menurunnya fungsi fisik ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke. Meskipun hal tersebut sudah terjadi beberapa dekade yang lalu, akan tetapi dampak negatif dari degradasi mangrove masih dapat dirasakan oleh sebagian masyarakat hingga saat ini. Untuk mencegah terjadinya kembali pemanfaatan yang tidak terkendali seperti sebelumnya, masyarakat dibantu oleh organisasi non-pemerintah menyusun peraturan desa yang khusus mengatur tentang pengelolaan ekosistem mangrove di level desa sebagai bentuk penguatan kelembagaan lokal. Kelembagaan merupakan salah satu aspek yang penting dalam mendukung suatu pengelolaan. Kelembagaan diperlukan untuk mengawal pengelolaan suatu sumberdaya agar tetap pada jalurnya. Selain itu, upaya-upaya rehabilitasi juga mulai didorong di beberapa daerah di wilayah Pulau Tanakeke sebagai bentuk usaha perbaikan lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keterkaitan kelembagaan pengelolaan ekosistem mangrove saat ini di Pulau Tanakeke terhadap keberlanjutan pemanfaatan mangrove. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengestimasi nilai manfaat ekonomi dan nilai kerugian yang secara langsung diterima oleh masyarakat dari adanya pemanfaatan ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke; (2) menelaah aturan lokal yang berkaitan dengan pengelolaan ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke dan implementasinya di lapangan; (3) menganalisis kelembagaan pengelolaan ekosistem mangrove yang ada dan kaitannya terhadap keberlanjutan pemanfaatan ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik valuasi ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan untuk mengestimasi nilai ekonomi pemanfaatan dan nilai kerugian yang secara langsung diterima oleh masyarakat, analisis isi dan analisis kesenjangan untuk menganalisis kinerja peraturan lokal di lapangan, dan konsep dinamika perkembangan kelembagaan pengelolaan sumberdaya (Ostrom 1990) untuk memetakan kondisi kelembagaan pengelolaan ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke saat ini dan kaitannya terhadap keberlanjutan pemanfaatan mangrove. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke dimanfaatkan masyarakat dalam bentuk pemanfaatan perikanan (tambak dan perikanan tangkap) dan hasil kayu mangrove (pembuatan arang, kayu bakar, bahan bangunan, patok rumput laut), sedangkan kerugian yang timbul dalam bentuk kerusakan pematang tambak, hilangnya ikan yang dipelihara di tambak, dan iv kerusakan bangunan rumah. Dari hasil valuasi ekonomi, diperoleh total estimasi nilai ekonomi pemanfaatan langsung ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke oleh masyarakat sebesar Rp169.294.439.961,-/tahun, sedangkan total estimasi nilai kerugian langsung yang dialami masyarakat di Pulau Tanakeke sebesar Rp1.316.482.933,/tahun. Dari selisih kedua nilai tersebut, diperoleh nilai manfaat bersih langsung (net benefit) sebesar Rp167.977.957.028,-/tahun. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke masih memberikan nilai manfaat yang positif bagi masyarakat. Implementasi pengelolaan ekosistem mangrove di lapangan dianalisis menggunakan 5(lima) aspek. Dari kelima aspek yang dianalisis, terdapat satu aspek dalam kategori sejalan (aspek pengawasan mangrove dengan nilai kesenjangan 0%), tiga aspek yang cukup sejalan (aspek keterlibatan stakeholder, aspek pengelolaan mangrove, dan aspek pelanggaran dan sanksi dengan nilai kesenjangan berturut-turut : 13,25%, 21,86%, dan 6,67%), dan satu aspek yang tidak sejalan (aspek koordinasi dengan nilai kesenjangan 100%). Secara keseluruhan, diperoleh hasil rata-rata nilai kesenjangan antara Perdes dengan implementasi di lapangan sebesar 28,36% yang dapat diartikan bahwa implementasi pengelolaan ekosistem mangrove di lapangan (Pulau Tanakeke) sudah cukup sejalan dengan peraturan lokal yang mengatur. Pada saat penelitian ini dilakukan, kondisi di lapangan (Pulau Tanakeke) sudah terdapat aturan yang mengatur pengelolaan mangrove dan kegiatan rehabilitasi. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kelembagaan pengelolaan ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke saat ini berada pada tahap institutional self-governing period menurut konsep dinamika perkembangan kelembagaan sumberdaya Ostrom (1990). Dari hasil tersebut dapat diartikan bahwa saat ini kelembagaan pengelolaan ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke sedang menuju ke arah pengelolaan yang mandiri (self-governing) karena sudah mulai mampu untuk mengelola sumberdaya mangrove secara mandiri. Ketika kelembagaan yang ada sudah mendukung ke arah pengelolaan yang mandiri, maka keberlanjutan pengelolaan akan lebih terjamin sehingga keberlanjutan pemanfaatan juga semakin baik. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hingga saat penelitian ini dilakukan, kelembagaan pengelolaan ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke masih mendukung ke arah keberlanjutan pemanfaatan mangrove
    corecore