1,721,009 research outputs found

    Kualitas Biopellet Kayu Pulai (Alstonia scholaris) dan Kayu Merbau (Intsia bijuga).

    No full text
    Wood pellet sebagai bahan bakar biomassa berbentuk pelet pada umumnya memiliki keseragaman ukuran, bentuk, kelembaban, densitas, dan kandungan energi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas wood pellet Kayu Merbau dan Kayu Pulai dengan ukuran diameter yang berbeda. Wood pellet dibuat dengan metode konvensional memiliki ukuran diameter wood pellet Kayu Merbau besar sebesar 1.04 cm, Merbau kecil sebesar 0.63 cm, Pulai besar sebesar 0.84 cm, dan Pulai kecil sebesar 0.63 cm. Pengujian karakteristik kualitas wood pellet berdasarkan standar SNI 8021-2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai wood pellet Kayu Merbau besar, Merbau kecil, Pulai besar, dan Pulai Kecil secara berurutan yaitu rata rata kerapatan sebesar 1.3 g/cm3, 1.3 g/cm3, 1.2 g/cm3, 1.4 g/cm3, rata rata keteguhan tekan sebesar 15.3 kgf/cm2, 6.0 kgf/cm2, 8.2 kgf/cm2, 7.0 kgf/cm2, rata rata kadar air sebesar 9.2%, 9.4 %, 9.5%, 7.5%, rata rata kadar zat terbang sebesar 65.5%, 65.2%, 71.7%, 72.1%, rata rata kadar zat abu sebesar 0.84%, 0.82%, 1.5%, 2.2%, rata rata kadar karbon terikat sebesar 25%, 25%, 17%, 18%, dan rata rata kadar kalor sebesar 4471 Kkal/kg, 4387 Kkal/kg, 4123 Kkal/kg, 4206 Kkal/kg. Penelitian ini menunjukkan bahwa wood pellet yang berkualitas paling baik yaitu Merbau besar

    Kualitas Wood Pellet Kayu Pulai (Alstonia scholaris R.Br.) dan Kayu Merbau (Intsia bijuga O.K.) sebagai Bahan Bakar Alternatif

    No full text
    Limbah pengolahan kayu pulai (Alstonia scholaris R.Br.) dan kayu merbau (Intsia bijuga O.K.) memiliki potensi untuk dijadikan bahan bakar berupa wood pellet. Wood pellet merupakan salah satu sumber energi alternatif dari biomassa yang menjadi solusi alternatif pengganti minyak dan batu bara karena memiliki harga yang terjangkau dan memiliki keseragaman ukuran, bentuk, densitas, dan kandungan energi. Penelitian ini menggunakan bahan baku limbah pengolahan kayu pulai dan kayu merbau berupa serbuk serta serbuk (50%:50%) dengan tambahan perekat molase/tetes tebu pada masing-masing bahan baku yaitu 0%, 1%, 3%, dan 5%. Kualitas wood pellet di uji berdasarkan standar SNI 8021-2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu pulai menghasilkan kualitas wood pellet yang lebih baik dari kayu merbau. Penambahan molase yang semakin tinggi akan menghasilkan kualitas wood pellet yang semakin baik pada pengujian nilai kerapatan dan kadar karbon terikat

    Teknologi Penurunan Emisi Formaldehida pada Produksi Kayu Lapis dan Papan Partikel

    No full text
    Pemakaian perekat semakin meningkat seiring dengan meningkatnya produksi kayu lapis dan papan partikel. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kajian upaya penurunan emisi formaldehida pada produksi kayu lapis dan papan partikel dengan perekat urea formaldehida. Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka. Hasil studi memperlihatkan penurunan emisi formaldehida dapat dilakukan antara lain dengan penambahan arang aktif, penambahan perekat lain, penambahan bahan nano, dan penambahan ammonium. Penambahan arang aktif dapat menurunkan emisi formaldehida sebesar 80%, penambahan perekat lain dapat menurunkan emisi formaldehida sebesar 50-70%, penambahan bahan nano dapat menurunkan sebesar 53%, dan penambahan ammonium menurunkan sebesar 50%-90%. Selain dapat menurunkan emisi formaldehida, penambahan perekat lain dan penambahan bahan nano juga dapat meningkatkan internal bond papan partikel dan keteguhan rekat kayu lapis. Sementara itu, penambahan arang aktif dapat menurunkan internal bond papan partikel dan keteguhan rekat kayu lapis

    Karakteristik Papan Partikel Campuran Bambu Sembilang Tanpa Kulit dengan Batang Jagung Menggunakan Perekat Asam Sitrat

    No full text
    Papan partikel adalah panel kayu dari partikel kayu yang direkatkan dengan perekat sintetis atau perekat lain dengan menggunakan metode pengempaan. Perekat asam sitrat merupakan salah satu perekat alami yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kadar perekat dan berbagai komposisi bahan baku terhadap sifat fisis dan mekanis papan partikel dari campuran bambu sembilang dan batang jagung. Papan partikel dibuat dari campuran bambu sembilang dan batang jagung dengan komposisi 0:100, 25:75, 50:50, 75:25, dan 100:0 menggunakan perekat asam sitrat dengan kadar perekat 15%, 20% dan 25% berdasarkan berat kering papan partikel. Papan dikempa panas selama 10 menit pada suhu 200ºC dengan tekanan spesifik 66.67 kgf/cm2. Papan diuji sifat fisis dan mekanis sesuai dengan standar JIS A 5908:2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air 3,13-6,54%, pengembangan tebal 3.78-8.41%, daya serap air 17.47-30.79%, MOE 2730.84-5553.78 N/mm2, MOR 13.85-25.62 N/mm2, keteguhan rekat internal 0.11-1.29 N/mm2, dan kuat pegang sekrup 120.32-385.43 N. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, sifat fisis dan mekanis papan partikel yang dihasilkan dipengaruhi oleh komposisi bahan baku dan kadar perekat. Papan partikel dengan sifat fisis dan mekanis yang paling baik ada pada komposisi 100% bambu sembilang dengan perekat asam sitrat 20%

    Pemanfaatan Limbah Padat Penyulingan Kayu Putih (Melaleuca Leucadendron) Sebagai Bahan Baku Papan Partikel.

    No full text
    Papan partikel merupakan papan komposit terbuat dari partikel kayu atau bahan berlignoselulosa lain yang ditambah perekat kemudian dikempa. Limbah padat penyulingan kayu putih (Melaleuca leucadendron) mengandung lignoselulosa yang berpotensi sebagai bahan baku alternatif pembuatan papan partikel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis dan mekanis papan partikel dari limbah padat penyulingan kayu putih (Melaleuca leucadendron) yang diperoleh dari KPH Indramayu, Jawa Barat. Selanjutnya limbah padat dicacah hingga berbentuk partikel, kemudian dioven selama dua hari dengan suhu 65-70 0C. Papan partikel dibuat dengan memberi perlakuan perekat UF sebanyak 10%, 12%, dan 14% dengan target kerapatan mencapai 0.9 g/cm3. Karakteristik papan diuji secara fisis dan mekanis berdasarkan JIS A 5908:2003. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan kadar perekat berbeda sangat nyata terhadap kualitas papan. Hasil uji fisis dan mekanis menunjukkan bahwa papan dengan kadar perekat 14% memiliki sifat paling baik

    Karakteristik Papan Partikel Bambu Sembilang dengan Perendaman NaOH Menggunakan Perekat Fenol Formaldehida

    No full text
    Papan partikel merupakan salah satu produk panel yang terbuat dari bahan berlignoselulosa kayu atau bukan kayu berbentuk partikel, selanjutnya direkat menggunakan perekat kemudian dikempa panas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kadar perekat dan perendaman NaOH 5% terhadap sifat fisis dan mekanis papan partikel bambu sembilang. Papan partikel dibuat dengan menggunakan perekat fenol formaldehida sebesar 6%, 8% dan 10%, kemudian partikel direndam larutan NaOH 5% selama 0.5, 1 dan 2 jam. Karakteristik papan partikel diuji secara fisis dan mekanis berdasarkan standar JIS A 5908:2003. Hasil penelitian menunjukkan kadar air 9.13-11.47%, daya serap air 43.13-93.12%, pengembangan tebal 17.69-44.10%, MOE 749-2400 N/mm2, MOR 11-28 N/mm2, keteguhan rekat 0.17-1.07 N/mm2, dan kuat pegang sekrup 170-561 N. Hasil uji fisis dan mekanis papan partikel menunjukkan bahwa papan partikel dengan perekat 10% dan perendaman NaOH 5% selama 2 jam memiliki sifat paling baik

    Papan Partikel dari Campuran Limbah Vinir Sengon dengan Batang Sorgum Menggunakan Perekat Berbasis Formaldehida

    No full text
    Produk samping industri kehutanan dan produk samping pertanian berupa sisa vinir dan batang sorgum memiliki potensi untuk dijadikan bahan baku dalam pembuatan papan partikel. Papan partikel merupakan produk panel yang dihasilkan dengan memanfaatkan partikel-partikel kayu yang diikat dengan perekat kemudian dikempa panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis perekat dan pengaruh komposisi campuran bahan baku terhadap sifat fisis dan mekanis papan partikel. Papan partikel dibuat dengan menggunakan perekat urea formaldehida dan fenol formaldehida masing masing pada kadar 10%, kemudian diberi perlakuan campuran sengon:sorgum dengan komposisi 100:0, 75:25, 50:50, 25:75, 0:100. Karakteristik papan partikel di uji secara fisis dan mekanis berdasarkan standar JIS A 5908:2003. Nilai kadar air 9.76-10.70%, daya serap air 43.16-61.12%, pengembangan tebal 15.46-20.63%, MOE 1519-3767 N/mm2, MOR 17.86-29.10 N/mm2, keteguhan rekat 0.43-0.76 N/mm2, kuat pegang sekrup 261.96-349.48 N/mm2. Hasil uji fisis dan mekanis papan partikel menunjukkan bahwa papan partikel dengan perekat urea formaldehida dan komposisi campuran 100% sorgum memiliki sifat paling baik

    Kualitas Papan Partikel Campuran Sengon (Albizia chinensis Osbeck Merr.) dan Bagas Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) dengan Perlakuan Alkali.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman partikel dalam alkali 5% (0 menit, 30 menit, 60 menit, dan 120 menit) dan konsentrasi perekat Phenol Formaldehyde (PF) (6%, 8%, dan 10%) terhadap sifat fisis dan mekanis papan partikel campuran sengon dan bagas sorgum. Target kerapatan papan partikel dalam penelitian ini sebesar 0.8 g/cm3 dan standar yang digunakan JIS A 5908 : 2003. Berdasarkan hasil penelitian papan partikel yang menunjukkan sifat fisis terbaik adalah papan partikel yang dibuat dari partikel tanpa perlakuan alkali dengan kadar perekat PF 10% (daya serap air = 29.94% dan pengembangan tebal = 20.51%), sedangkan papan partikel yang menunjukkan sifat mekanis terbaik adalah papan partikel yang dibuat dari partikel yang diberi perlakuan alkali 30 menit dengan kadar perekat PF 10% (keteguhan lentur = 2822.45 N/mm2, keteguhan patah = 32.61 N/mm2, keteguhan rekat = 0.94 N/mm2, dan kuat pegang sekrup = 787.28 N). Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan alkali tidak memperbaiki sifat fisis tetapi memperbaiki sifat mekanis papan partikel, sedangkan penambahan kadar perekat PF memperbaiki sifat fisis dan mekanis papan partikel. Interaksi perlakuan alkali selama 30 menit dan kadar perekat 10% menghasilkan kualitas papan partikel yang baik

    Analisis Fatigue Tekan Kayu Pinus

    No full text
    HERMAWAN dan EFFENDI TRI BAHTIAR. Menara pendingin di Indonesia biasanya menggunakan kayu Douglas fir sebagai komponen utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis, sifat mekanis, tegangan ijin, dan batas endurance kayu pinus untuk komponen struktur menara pendingin. Rata-rata kadar air (Mc), kerapatan (), dan berat jenis (BJ) masing-masing adalah 13.55%, 0.55 g/cm3; dan 0.48. Berat jenis kayu pinus lebih tinggi dibandingkan Douglas fir (BJ = 0.46) yang saat ini digunakan untuk komponen menara pendingin. Hasil uji-t menunjukkan bahwa rata-rata MOE dan MCS kayu pinus sebesar 7197 N/mm2 dan 30 N/mm2, tidak berbeda nyata dengan kayu Douglas (9104 N/mm2 dan 33 N/mm2). Uji dinamis menghasilkan kurva S-N dan diagram Goodman. Kurva S-N menunjukkan kayu pinus memiliki batas tegangan patah minimum (min) sebesar 3.1476 N/mm2, batas tegangan patah maksimum (maks) sebesar 16.577 N/mm2, dan batas tegangan patah rata-rata (m) 10.012 N/mm2, sedangkan diagram Goodman menghasilkan nilai akhir (u) sebesar 30 N/mm2 dan batas endurance (e) sebesar 8.50 N/mm2. Batas ketahanan endurance kayu pinus tersebut setara dengan kayu Douglas fir (8.12 N/mm2)

    Pengembangan Papan Partikel Tiga Lapis Batang Sorgum dengan Perekat Asam Sitrat-Sukrosa

    No full text
    Batang sorgum sangat berpotensi untuk dijadikan bahan baku papan partikel. Papan partikel dibuat 3 lapis untuk memudahkan papan partikel pada proses pengerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan ukuran partikel halus dan kasar pada papan partikel tiga lapis. Pengujian sifat fisis dan mekanis papan partikel mengacu pada standar JIS A 5908:2003. Hasil terbaik dari penelitian menunjukkan bahwa papan partikel dengan ukuran partikel halus sebanyak 50% pada permukaan (25% atas dan 25% bawah) dan partikel 4-14 mesh sebanyak 50% pada bagian tengah, memiliki sifat fisis dan mekanis terbaik. Papan partikel dari sorgum tersebut memiliki nilai kadar air 6.32%, daya serap air 35%, pengembangan tebal 8.09%, MOE 2057.98 N/mm2, MOR 10.24 N/mm2, keteguhan rekat 0.31 N/mm2, dan Kuat pegang sekrup 155.5 N/mm2. Sifat fisis dan mekanis papan partikel tersebut memenuhi standar JIS A 5908:2003 tipe 8, kecuali untuk pengujian kuat pegang sekrup
    corecore