390 research outputs found

    Pengendalian Penolakan Produk Sosis di PT XYZ Menggunakan Statistical Process Control (SPC).

    No full text
    Masyarakat cenderung memilih makanan yang praktis untuk dikonsumsi, contohnya adalah makanan siap masak. PT XYZ merupakan salah satu industri pangan yang memproduksi makanan siap masak berupa produk sosis. Sosis merupakan pangan olahan yang terbuat dari daging halus atau campuran beberapa daging dan dicampur dengan atau tanpa penambahan bumbu-bumbu. Proses produksi sosis terdiri dari beberapa tahapan sehingga berpotensi adanya mutu produk yang tidak sesuai dengan standar dan spesifikasi perusahaan atau adanya penolakan produk (reject). Pengendalian mutu produk sosis dapat dilakukan melalui pendekatan statistik menggunakan metode Statistical Process Control (SPC). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya reject sosis dan memberikan rekomendasi pengendaliannya. Berdasarkan interpretasi dari diagram Pareto menunjukkan bahwa jenis reject panjang mendominasi proses produksi sosis keseluruhan. Proses produksi sosis ayam merek X berada di luar batas kendali statistik yang ditunjukkan dengan adanya titik-titik di luar batas kendali pada bagan Individual Moving Range (I-MR). Diagram sebab-akibat menunjukkan bahwa terjadinya reject panjang disebabkan oleh beberapa faktor utama yaitu manusia, mesin, metode, material, dan lingkungan. Faktor-faktor yang memengaruhi manusia yaitu kedisiplinan, motivasi, dan keterampilan; faktor untuk mesin yaitu mesin stuffer, mesin pemotong, smoke house, dan perawatan mesin; faktor untuk metode yaitu persiapan proses awal produksi, pengaturan awal mesin, dan cara mengikat ujung sosis; faktor untuk material yaitu adonan dan selongsong sosis; sedangkan faktor untuk lingkungan yaitu suhu dan lantai. Langkah perbaikan yang dapat dilakukan diantaranya yaitu memperketat sortasi, meningkatkan kesadaran pekerja tentang pentingnya menjaga kualitas, dan menjaga performa mesin yang digunakan

    Pengaruh Izin Edar P-IRT dan Sertifikat/Label Halal terhadap Keputusan Pembelian Konsumen dan Perkembangan IKM di Kabupaten Bangka Tengah

    No full text
    Perkembangan industri kecil menengah (IKM) secara nyata telah berkontribusi dalam membangun perekonomian daerah maupun nasional serta mengurangi angka pengangguran dengan adanya penyediaan lapangan kerja, sehingga industri kecil menengah dinilai sangat potensial untuk dikembangkan. Salah satu upaya pemerintah dalam mengembangkan industri kecil menengah adalah dengan memberikan fasilitas pemerolehan izin edar P-IRT dan sertifikat halal secara gratis. Namun, jumlah industri kecil menengah yang belum memiliki izin edar P-IRT dan sertifikat halal masih banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh adanya izin edar P-IRT dan sertifikat halal terhadap keputusan pembelian konsumen dan peningkatan omset IKM, sehingga diharapkan dapat meyakinkan pemerintah dalam meningkatkan penguatan program terkait pengembangan IKM. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Jumlah responden yang ditentukan terdiri dari 60 IKM dan 100 orang dengan kriteria tertentu di Kabupaten Bangka Tengah. Pengumpulan data dan analisis dibantu dengan perangkat lunak Microsoft Excel 2013 dan SPSS 16.0. Analisis data terdiri dari analisis deskriptif, analisis Wilcoxon, dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan pada omset IKM yang telah memiliki sertifikat halal. Selain itu, variabel yang paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen adalah label halal pada kemasan produk

    Praktik magang di LPPOM MUI dan tinjauan ilmiah keharaman daging bangkai dan produk darah dalam islam

    No full text
    Kegiatan magang di Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM MUI) dilakukan selama empat bulan dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan magang umum dan penulisan topik khusus mengenai tinjauan ilmiah keharaman daging bangkai dan produk darah dalam Islam. Kegiatan magang umum yang dilakukan di divisi Sosialisasi dan Informasi LPPOM MUI berupa mengikuti pelatihan sistem jaminan halal dan diskusi strategis halal terhadap CAFTA (China ASEAN Free- Trade Area), pengumpulan dan pembuatan materi promosi pangan halal untuk anak usia TK, SMP, dan masyarakat umum, melaksanakan survei label halal pada produk pangan di supermarket Jakarta, dan berpartisipasi dalam kegiatan (Halal Food Goes To School, seminar Hotel, Restoran dan Katering dan Indonesia Halal Expo) yang diselenggarakan oleh LPPOM MUI

    Uji Enhancer Sebagai Penyebab Kesalahan Positif Pada Strip Uji Imunokromatografi Dengan Uji Banding Real-Time PCR.

    No full text
    Strip uji imunokromatografi adalah salah satu metode deteksi babi pada pangan. Metode ini mendeteksi babi secara cepat, mudah, dan murah, namun memiliki kemungkinan terjadi kesalahan positif/ positif palsu. LPPOM MUI menduga adanya kesalahan positif deteksi babi menggunakan strip uji pada bumbu dari restoran yang bersertifikat halalMUI. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahan yang menyebabkan kesalahan positif dan mengkaji penyebabnya. Pengujian dilakukan pada sampel enhancer α, β, dan γ (bebas babi/halal), menggunakan strip uji A, B, C, D, dan E. Sampel β terhadap strip uji A, B, dan E pada bobot 0.5 g menunjukkan hasil positif ditandai dengan adanya garis merah pada test line dan control line, seolah-olah mengandung babi. Sampel α dan γ terhadap strip uji A pada bobot masing-masing 1.0 g dan 0.75 g menunjukkan hasil positif ditandai dengan adanya garis merah pada test line dan control line, seolah-olah mengandung babi. Uji banding real-time PCR menunjukkan bahwa tidak terdeteksi DNA babi pada sampel α, β, dan γ. Kesalahan positif disebabkan oleh antibodi yang tidak spesifik pada beberapa strip uji sehingga menyebabkan pengikatan terhadap antigen non-target dan sifat asam amino X yang bermuatan sehingga menyebabkan terbentuknya ikatan elektrostatik mengikuti model induce-fit

    Deteksi Residu Derivat Babi pada Model Peralatan Industri Pangan setelah Dicuci dengan Larutan Tanah, Asam, Basa, dan Detergen

    No full text
    Berdasarkan syariah Islam, campuran air dan tanah digunakan untuk menyucikan peralatan yang terkena najis berat termasuk bahan yang berasal dari babi. Akan tetapi, air dan tanah tidak selalu dapat digunakan karena dapat mengkontaminasi dan menyebabkan kerusakan alat pada industri pangan, sehingga dipergunakan bahan lain. Melalui penelitian ini, dilakukan kajian mengenai kemampuan tanah dan bahan-bahan pembersih yang berupa larutan natrium hidroksida (NaOH), asam nitrat (HNO3), asam klorida (HCl), dan detergen dalam menghilangkan residu derivat babi pada peralatan industri pangan yang kontak dengan daging atau lemak babi. Metode PCR untuk mendeteksi DNA dan kromatografi gas spektrofotometri massa (KG-SM) untuk mendeteksi asam lemak telah tervalidasi untuk digunakan dalam autentifikasi kehalalan pangan. Peralatan yang dicuci dengan larutan tanah 0,5% tidak menyisakan residu DNA sedangkan peralatan yang dicuci dengan larutan detergen, asam, dan basa masih menyisakan residu DNA. Keseluruhan perlakuan masih menyisakan residu asam lemak. Residu asam lemak babi yang dominan pada peralatan yang telah dicuci adalah metil heksadekanoat (C16:0), metil 9,12-oktadekadienoat (C 18:2 n6), metil 9-oktadekanoat (C18:1 n9), dan metil oktadekanoat (C18:0). Sisa asam lemak pada peralatan yang dicuci dengan larutan tanah jika dibandingkan dengan kontrol positif adalah 58%. Nilai ini lebih kecil dari sisa asam lemak pada peralatan yang dicuci dengan larutan asam (87-98%) dan lebih besar dari sisa lemak pada peralatan yang dicuci dengan basa (41%) dan detergen (14-17%). Perlakuan pencucian dengan detergen menyisakan asam lemak yang paling sedikit dibanding perlakuan lainnya dan merupakan perlakuan terbaik dalam menghilangkan residu asam lemak. Perlakuan pencucian dengan tanah tidak menunjukkan adanya aroma yang dapat tercium, namun meninggalkan peralatan dalam kondisi agak licin. Nilai ini sama dengan intensitas aroma dan tingkat kelicinan pada peralatan yang dicuci dengan clay detergent. Akan tetapi, intensitas aroma dan tingkat kelicinan ini lebih tinggi dari intensitas aroma dan tingkat kelicinan pada peralatan yang dicuci dengan HCl. Perlakuan pencucian dengan HCl merupakan perlakuan terbaik dalam menghilangkan aroma dan mengurangi kelicinan pada peralatan. Tanah memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh bahan lain dalam membersihkan residu babi/derivatnya, sehingga peranan bahan lain tidak dapat disamakan dengan tanah dalam membersihkan residu babi. Kombinasi antara tanah dengan bahan pembersih lainnya dapat meningkatkan daya pembersihan terhadap najis berat. Meskipun, studi lebih lanjut mengenai daya pembersihan tanah dan bahan pembersih lainnya dibutuhkan untuk mengonfirmasi hal ini

    Praktik Kerja Magang di Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dengan Topik Khusus : Kajian Ilmiah Istiĥālah (Transformasi ) Babi

    No full text
    The development of industry and food technology can not be avoided. The problem then arises when the products resulting from technological developments and the food industry is changing the food component that involves the halal status of food produced. Reviewing raw material is one of the LPPOM MUI strategy to protect the Muslim consumers. In Usl Fiqh, change can be identified as istiĥālah (transformation). Presently, it is not explicitly distinguished about changes including istiĥālah in the category criteria, limits, or a clear and measurable indicators. Therefore, scientific research is necessary to provide an explicit definition of the concept of istiĥālah. Changes that occur will be identified in terms of chemical, physical, molecular, and biochemical changes of components. This research will discuss about the change of pig collagen into gelatin refer to the change pattern of ethanol into acetic acid. There was descriptive research methode used, the non-experimental reseach when the object datas have been available. The datas are collected by studying the literatures and also by interviewing, discussing, and audiencing the experts. The result of ethanol into acetic acid changes are included molecular changes, physical changes, chemical changes, and biochemical changes. When the identified changes in transformation of collagen into gelatin are only include physical and chemical changes. It means the pattern of changes is different. The changes (istihalah) in food also can be classified info six models based on the halal-haram status of the raw materials, agents, and the products

    Isolasi dan Identifikasi Kapang Endofit dari Mangrove Aegiceras corniculatum sebagai Penghasil Antioksidan Alami pada Minyak

    No full text
    Oksidasi lemak merupakan faktor yang dapat menurunkan kualitas pada minyak yang dapat menyebabkan produk memiliki rasa dan bau yang tidak diinginkan serta berpotensi sebagai toksik. Oksidasi lemak dapat dihambat dengan menggunakan antioksidan. Terdapat 2 sumber antioksidan yaitu antioksidan alami dan sintetis. Penggunaan antioksidan sintetis terbatas karena memiliki resiko terhadap kesehatan. Mangrove mengandung senyawa bioaktif yang memiliki kemampuan sebagai bahan antioksidan. Tanaman mangrove memiliki beberapa kapang endofit didalam jaringannya yang mampu menghasilkan senyawa metabolit sekunder seperti tanaman inangnya. Pemanfaatan kapang endofit pada mangrove merupakan hal yang tepat karena produksinya mudah dan dapat digunakan sebagai bahan berkelanjutan karena tidak merusak lingkungan. Penelitian mengenai kapang endofit mangrove khususnya pada spesies Aegiceras corniculatum belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi kapang endofit dari mangrove Aegiceras corniculatum sebagai penghasil antioksidan alami pada minyak. Isolasi kapang endofit dilakukan dengan menggunakan media potato dextrose agar (PDA) dan difermentasi dengan media potato dextrose broth (PDB). Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan perendaman reagen 2,2- difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Isolat terpilih dilakukan pengujian aktivitas antioksidan (IC50), uji penghambatan minyak dengan metode ferro-tiosionat (FTC) dan waktu kultivasi dengan metode shaker. Selanjutkan diidentifikasi senyawa kimia yang terkandung dengan GC-MS dan identifikasi molekular dengan penanda ITS untuk mengetahui spesies kapang endofit. Isolat yang berhasil diisolasi dari daun, buah dan ranting mangrove Aegiceras corniculatum sebanyak 8 isolat. Dari 8 isolat, hanya 1 isolat yang aktif sebagai antioksidan yaitu isolat DBU3 dengan nilai IC50 19,28 ± 1,27 μL/mL. Hasil pengujian uji penghambatan peroksidasi minyak, isolat DBU3 dapat menghambat peroksidasi namun aktivitasnya masih lebih direndah dibandingkan dengan kontrol positif yaitu TBHQ. Waktu kultivasi pada isolat DBU3 terjadi dalam 4 fase yaitu fase lag pada hari ke 0 sampai 2, fase log pada hari ke 2 sampai 7, fase statisioner pada hari ke 7 sampai 14 dan fase kematian terjadi setelah hari ke 14. Senyawa kimia yang berperan sebagai antioksidan pada isolat DBU3 berdasarkan hasil GCMS diantaranya Phenol,3,5-bis(1,1-dimethylethyl), Hexadecanoic acid, Hexadecanoic acid methyl ester, Malic Acid, NAminopyrrolidine, 9-Octadecanoic acid, Methyl ester, (E), Benzeneethanol, 4- hydroxy, 1,2-Benzenedicarboxylic acid, d-Tyrosine, Bis(2-methylpropyl) ester 1- Nonadecene dan Heneicosane. Berdasarkan hasil molekular, isolat DBU3 teridentifikasi sebagai Microdochium sp

    Pemetaan Jenis Bahan Tambahan Pangan Produk Minuman Teh dan Pemenuhan Syarat Pelabelan serta Survei Konsumen di Bogor.

    No full text
    Minuman teh dalam kemasan merupakan minuman yang memiliki tingkat konsumsi tinggi di masyarakat. Pada proses pembuatannya, minuman teh menggunakan berbagai jenis bahan tambahan pangan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan riset pasar terhadap bahan tambahan pangan yang digunakan pada produk minuman teh serta tingkat pemenuhan standar label pada kemasan dan survei konsumen di wilayah Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survei dan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pengolahan data menggunakan tabulasi data, SPSS 20, serta pembuatan diagram. Hasil penelitian terhadap 60 jenis produk dari 9 lokasi pengambilan sampel adalah pemanis (sukrosa), pengatur keasaman (natrium bikarbonat), perisa (perisa identik alami), antioksidan (asam askorbat), pengawet (kalium sorbat), penstabil nabati, sekuestran (natrium EDTA). Tingkat pemenuhan minimum label didapatkan sebesar 100%. Survei konsumen dilakukan menggunakan uji rangking, dan uji chi-square. Hasil survei menunjukkan responden pada kedua kelompok usia peduli terhadap bahan pengawet, masa kedaluwarsa pada label, serta keamanan pangan yang menjadi perhatian utama dalam pemilihan produk. Survei menunjukkan minuman teh merupakan produk dengan intensitas pembelian paling tinggi dibandingkan minuman ringan lainnya yang sejenis

    The Impact of Blanching and Vacuum Packaging to The Shelf Life of Fresh Seasoned Tempe

    No full text
    Tempe is an indigenous fermented food from Indonesia, prepared by the action of molds, Rhizopus sp., on cooked soybeans. In 2012, up to 60% of soybean production went to tempe industry with consumption of tempe reaching 8.5 kg per person per year in Indonesia. However, the export of tempe seems still impossible due to its perishable characteristic whose shelf life is very short. Preblanching and vacuum packaging were expected to extend the shelf life of tempe. This research was aimed to study the application of blanching and vacuum packaging on the shelf life of fresh-seasoned tempe. Steam blanching of 80 oC for three minutes was selected from pre-investigation for pre-treatment of the tempe without inducing cooked-tempe characteristic. The result of main research revealed that steam blanching and vacuum packaging were able to extend the shelf life of fresh-seasoned tempe for two days in room temperature (23-24 oC), 32 days in refrigeration temperature (4-6 oC), and 49 days in chilling temperature (0-4 oC). The pH of tempe was found increasing during storage with texture getting overstuffed or tender during storage

    Pengembangan Penyedap Rasa Sehat Berbasis Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) dan Jamur Kancing (Agaricus bisporus).

    No full text
    Munculnya tren pangan yang berkaitan dengan rasa lezat dan kesehatan menjadikan pengembangan penyedap rasa yang sehat menjadi sesuatu yang menjanjikan. Jamur mengandung asam amino dan 5’-nukleotida yang berkontribusi pada rasa umami dan fungsionalitas jamur, sehingga berpotensi menjadi bahan baku pembuatan penyedap rasa sehat. Metode penelitian terdiri dari penelitian pendahuluan, pembuatan bubuk jamur, analisis sensori, dan analisis mutu. Penelitian dilakukan dengan metode Rancangan Blok Acak Lengkap (RBAL) dua faktorial. Skor kesukaan secara keseluruhan terhadap penyedap rasa berbasis jamur adalah 5.06 yang mengindikasikan bahwa produk dapat diterima secara baik di pasaran. Menurut hasil analisis CATA, atribut produk yang secara positif mempengaruhi nilai kesukaan adalah umami, asin, bawang putih, aroma jamur, dan pedas-manis dengan skor kesukaan secara berurutan 0.268, 0.054, 0.102, 0.218, dan 0.091. Hal ini sesuai dengan atribut produk ideal yaitu pedas-manis, rempah-rempah, dan aroma jamur. Hasil analisis CATA juga menunjukkan bahwa atribut yang perlu ditingkatkan untuk pengembangan produk berupa atribut umami, asin, pedas-manis, dan bawang putih sehingga dapat meningkatkan skor kesukaan produk. Seluruh parameter uji produk telah memenuhi standar kecuali kadar abu, kandungan Cu, dan kandungan As, namun produk tetap aman dikonsumsi. Produk mengandung 15 jenis asam amino yang berkontribusi pada rasa umami dan fungsionalitas produk
    corecore