1,721,022 research outputs found

    Performa Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica) Periode Starter Terhadap Penambahan Infusa Daun Sirih (Piper Betle Linn.)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh performa puyuh periode starter terhadap penambahan infusa daun sirih. Penelitian ini menggunakan 400 ekor puyuh umur 1 hari (DOQ) dengan empat perlakuan dan 5 ulangan yang terdiri dari 20 ekor puyuh, pemeliharaan dilakukan selama 28 hari. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan yang digunakan yaitu R0 (air minum + Vita Stress), R1 (10% infusa daun sirih dalam air minum), R2 (20% infusa daun sirih dalam air minum), dan R3 (30% infusa daun sirih dalam air minum). Peubah yang diamati yaitu konsumsi pakan, konsumsi air minum, konversi pakan, bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, mortalitas, persentase karkas, dan persentase organ dalam (sekum, rempela, hati, dan jantung). Hasil menunjukkan bahwa perlakuan dengan taraf 10%, 20%, dan 30% memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) untuk konsumsi air minum, konsumsi pakan, bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konversi pakan, persentase karkas, dan persentase organ dalam (sekum, rempela, hati, dan jantung

    Suplementasi Infusa Daun Sirih (Piper betle L.) terhadap Salmonella sp. pada Usus Halus dan Performa Puyuh Petelur

    No full text
    Infeksi Salmonella pada peternakan unggas mampu mengakibatkan penyakit salmonelosis pada manusia. Kontaminasi Salmonella yang paling sering dijumpai berasal dari kontaminasi pada pakan dan minum. Langkah dalam mencegah kontaminasi pada peternakan unggas, peternak biasanya menggunakan Antibiotic Growth Promotors (AGP) untuk membunuh Salmonella. Penggunaan antibiotik alamimerupakan salah satu upaya yang mampu dilakukan untuk menggantikan peran dari AGP. Antibiotik alami biasanya diperoleh dari ekstrak atsiri tanaman dan metabolit sekunder lainnya yang mampu menghambat atau membunuh bakteri. Infusa daun sirih memiliki efek antimikroba, anti-oksidarif, dan anti-hemolitik. Daun sirih mengandung banyak kandungan senyawa aktif yang mampu menghambat beberapa bakteri. Kandungannya telah diuji di beberapa penelitian yang menyatakan bahwa daun sirih memiliki mpotensi untuk digunakan sebagai antibiotik alami untuk unggas di beberapa negara. Proses ektraksi daun sirih juga penting ditelaah untuk memastikan efektivitas dalam menghambat bakteri. Ekstrak etanol daun sirih lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen jika dibandingkan dengan ektrak air. Metode ekstraksi air lebih mudah untuk dilakukan jika dibandingkan dengan metode ekstraksi metanol. Sebagian besar dari metode ekstraksi air tidak menunjukkan zona hambat pada koloni Salmonella. Tetapi metode yang tepat dalam ekstraksi air mampu menghasilkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan ektrak etanol. Beberapa metode ekstraksi air pada tanaman menunjukkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan metode ekstraksi etanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi kontaminasi Salmonella sp. pada puyuh dengan menambahkan infusa daun sirih dalam air minum. Kontaminasi Salmonella sp. telah dievaluasi pada usus halus yang telah diberikan perlakuan selama 6 minggu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Penelitian ini terdiri dari 7 perlakuan: P0 = suplementasi Vita Stress sejak DOQ; P1 = suplementasi 10% infusa daun sirih sejak DOQ; P2 = suplementasi 20% infusa daun sirih sejak DOQ; P3 = suplementasi 30% infusa daun sirih sejak DOQ; P4 = suplementasi 10% infusa daun sirih sejak layer; P5 = suplementasi 20% infusa daun sirih sejak layer; P6 = suplementasi 30% infusa daun sirih sejak layer. Hasil menunjukkan bahwa penambahan infusa daun sirih (P1, P2, P3, P4, P5, dan P6) mampu mengurangi koloni Salmonella sp. pada usus halus jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol (P0) secara signifikan (P>0.05). Suplementasi infusa daun sirih lebih baik jika diberikan saat periode bertelur dibandingkan sejak DOQ

    Suplementasi Infusa Daun Sirih (Piper betle L.) pada Air Minum terhadap Salmonella sp. Pada Usus Halus Puyuh (Cortunix cortunix japonica) 0-4 Minggu

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi kontaminasi Salmonella typhimurium pada puyuh dengan menambahkan infusa daun sirih dalam air minum. Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan penelitian. Penelitian pertama merupakan evaluasi daya hambat daun sirih terhadap Salmonella typhimurium. Penelitian kedua bertujuan untuk mengetahui daya simpan dosis tersebut dalam beberapa hari (1, 3, 5, dan 7 hari). Penelitian ketiga bertujuan untuk mengevaluasi cemaran Salmonella sp. pada usus halus puyuh yang diberi perlakuan selama empat minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dosis infusa yang tepat adalah 10%, 20%, dan 30% dari minuman. Penelitian ini memiliki 4 perlakuan yaitu: R0 = ransum komersial + Vita Stress; R1 = ransum komersial + 10% infusa daun sirih dalam air minum; R2 = ransum komersial + 20% infusa daun sirih dalam air minum; R3 = 30% infusa daun sirih dalam air minum. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan pemberian infusa daun sirih (R1, R2, dan R3) jika dibandingkan dengan kontrol (R0), pemberian infusa mampu memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,05) dalam menurunkan koloni bakteri Salmonella sp. dalam usus halus puyuh

    Evaluasi Pemanfaatan Kayu Apu (Pistia stratiotes L.) sebagai Campuran Pakan terhadap Performa dan Karkas Itik Hibrida

    No full text
    Pistia stratiotes L. merupakan tanaman air yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi dan kandungan nutrien yang baik sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai pakan ternak seperti itik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pemanfaatan kayu apu sebagai campuran pakan terhadap performa, karkas, dan Meat Bone Ratio pada itik hibrida. Penelitian ini menggunakan 128 ekor DOD (day old duck) itik hibrida. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan tersebut adalah pakan tanpa pemberian kayu apu (P0), pakan mengandung 10% kayu apu (P2), pakan mengandung 20% kayu apu (P2), dan pakan mengandung 30% kayu apu (P3). Kayu apu diberikan pada itik dalam keadaan segar. Peubah yang diamati adalah performa, bobot karkas, persentase karkas, persentase bagian karkas, persentase bagian nonkarkas, serta Meat Bone Ratio. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilakukan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian kayu apu sebagai campuran pakan tidak berbeda nyata terhadap nilai konversi pakan, bobot badan, persentase karkas, maupun Meat Bone Ratio pada itik hibrida. Perlakuan P2 dapat meningkatkan nilai IOFC dengan margin keuntungan sebesar 48.57%. Simpulan dari penelitian ini adalah kayu apu dapat digunakan sampai 30% sebagai pakan itik tanpa menurunkan performa, persentase karkas, maupun Meat Bone Ratio, serta dapat meningkatkan IOFC

    Evaluasi Pemanfaatan Kayu Apu (Pistia stratiotes L.) sebagai Campuran Pakan terhadap Performa dan Karkas Itik Hibrida

    No full text
    Pistia stratiotes L. merupakan tanaman air yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi dan kandungan nutrien yang baik sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai pakan ternak seperti itik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pemanfaatan kayu apu sebagai campuran pakan terhadap performa, karkas, dan Meat Bone Ratio pada itik hibrida. Penelitian ini menggunakan 128 ekor DOD (day old duck) itik hibrida. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan tersebut adalah pakan tanpa pemberian kayu apu (P0), pakan mengandung 10% kayu apu (P2), pakan mengandung 20% kayu apu (P2), dan pakan mengandung 30% kayu apu (P3). Kayu apu diberikan pada itik dalam keadaan segar. Peubah yang diamati adalah performa, bobot karkas, persentase karkas, persentase bagian karkas, persentase bagian nonkarkas, serta Meat Bone Ratio. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilakukan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian kayu apu sebagai campuran pakan tidak berbeda nyata terhadap nilai konversi pakan, bobot badan, persentase karkas, maupun Meat Bone Ratio pada itik hibrida. Perlakuan P2 dapat meningkatkan nilai IOFC dengan margin keuntungan sebesar 48.57%. Simpulan dari penelitian ini adalah kayu apu dapat digunakan sampai 30% sebagai pakan itik tanpa menurunkan performa, persentase karkas, maupun Meat Bone Ratio, serta dapat meningkatkan IOFC

    Performa Puyuh yang Diberi Minum Ekstrak Buah Asam Kandis (Garcinia cowa Roxb)

    No full text
    Penelitian ini dilakukan untuk menguji performa burung puyuh yang diberi minum ekstrak buah asam kandis selama masa pemeliharaan. Ternak yang digunakan adalah puyuh (Coturnix coturnix japonica) periode layer (umur 6 minggu) sebanyak 132 ekor. Penelitian dilakukan selama 6 minggu dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tingkat pH ekstrak asam kandis yang berbeda, yaitu control (P0), pH 4 (P1), pH 3 (P2) dan pH 2 (P3). Air minum ekstrak buah asam kandis diberikan 2 kali per minggu selama penelitian. Peubah yang diamati ialah konsumsi pakan, bobot telur, produksi telur dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air minum ekstrak buah asam kandis tidak berpengaruh nyata terhadap performa produksi puyuh selama pemeliharaan. Simpulan penelitian ini adalah pemberian ekstrak buah asam kandis pada taraf pH 4 – pH 2 tidak memberikan perbedaan terhadap performa puyuh

    Pemberian Jus Kulit Nanas dalam Air Minum terhadap Performa dan Kualitas Fisik Telur Puyuh (Cortunix cortunix japonica).

    No full text
    Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pemberian jus kulit nanas dalam air minum terhadap performa dan kualitas fisik telur puyuh. Perlakuan pada penelitian ini yaitu pemberian jus kulit nanas dalam air minum dengan level berbeda yaitu 0%, 3%, 6%, dan 9%. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Data yang didapat dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Duncan jika hasilnya berbeda secara signifikan. Peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, konsumsi minum, produksi telur, massa telur, konversi pakan, IOFC, bobot telur, bobot putih telur, bobot kuning telur, bobot kerabang, tebal kerabang, nilai haugh unit dan skor kuning telur. Hasil penelitian ini menunjukan pemberian jus kulit nanas dalam air minum hingga taraf 9% tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap performa dan kualitas fisik telur. Penggunaan 3% jus kulit nanas dalam air minum mampu meningkatkan produksi telur 5.63% lebih tinggi dibandingkan kontrol

    Pemberian Tepung Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) dalam Ransum Terhadap Status Kesehatan dan Organ Imunitas Ayam Broiler

    No full text
    Tanaman kayu manis (Cinnamomum burmannii) adalah tanaman herbal yang mempunyai sifat anti inflamasi, antioksidan, dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari status kesehatan ayam broiler pada hari ke 37 dan organ imunitas pada hari ke 39 yang telah diberikan tepung kayu manis dalam ransum. Sebanyak 160 ekor DOC betina dibagi menjadi 4 perlakuan dan 4 ulangan dengan diberikan tepung kayu manis dalam ransum sebanyak 0%,2%,4%, dan 6%. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada status kesehatan (eritrosit, leukosit, haemoglobin, hematokrit, heterofil, limfosit, monosit, eosinophil, basophil dan rasio HLˉ¹) dan organ imunitas (timus, bursa fabricius, dan limpa). Tepung kayu manis sebanyak 2%, 4%, dan 6% dalam ransum yang diberikan kepada ayam broiler menghasilkan ayam broiler yang sehat dan organ imunitas yang normal

    Penambahan Tepung dan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandiss Linn. F.) Pada Puyuh coturnix coturnix japonica

    No full text
    Tectone leaf is plant perennial who had the chance very large for use as fodder. The availability and its abundant known was selected as one alternative plant a source of materials local feed. Generally of tecton trees used to be taken wood as major commodity logistics. Hence in the study is done the utilization of waste in the form of tecton leaf meal in diet laying quail. Active ingredients that was found in the leaves of flavonoid tecton namely. A compound phytochemistry is able to inhibit the growth of pathogenic bacteria in the digestive tract so that the absorption of nutrient could be optimal and no mortality on experiment. The supplementation tecton leaf can improve balance the necessary of feed nutrient quails and increase productivity of egg quail. This study aimed to analyze supplementation meal and extract tectone leaf in quails diet on antimicrobial activities such as bacteria pathogen E.coli and S.typhimurium on digestive tract so it could improve the quail performance and egg quality. This research used the laying Japanese quail (Coturnix coturnix japonica) aged 4-12 weeks as many as 180 bird given the supplementation tecton meal in diet and extract tecton leaf in drinking water. A method of research is experiment with design random complete (CRD) consist of six treatments and three replications. Treatments consist of : R0 = commercial rations, R1 = commercial rations + Vitachick, R2 = commercial rations + 6% meal tecton leaf, R3 = commercial rations +6% extract tecton leaf, R4= commercial rations+ 9% meal tecton leaf, R5 = commercial rations + 9% esxtract tecton leaf in drinking water. Parameters observed were feed consumption, water consumption, egg production, egg weight, egg mass, feed conversion, yolk weight and albumin weight, egg yolk colour score, eggshell weight, eggshell thickness, haugh unit, total of colonies bacteria, and analysis of Income Overfeed Cost. The analysis showed that meal tecton leaf proximate containing crude protein 11.01%, crude fat 3.80%, crude fiber 22.01%, and ash 8.11%. Active compound of flavonoid that was found in extract and meal tecton leaf is 0.241% and 0.643%. The result showed that the addition of meal and extract tecton leaf didn’t affect significantly (P>0.05 ) of feed consumption, water consumption, egg production and feed conversion. There was no mortality during this experiment. The addition of meal tecton leaf 6% and 9% could be increase a score of yolk colour to 8 with a yellow color. Supplementation extract tectone leaf 9% to reduce the total bacteria colonies E.coli and S. typhimurium. Flavonoids were able to inhibit the growth of pathogenic bacteria with the concentration of the medium. The conclusion of this research was supplementation 6% tecton leaf was able to increase the egg yolk color score while was able to reduce the total population of the colonies of pathogenic bacteria of the digestive tract quail can be given the addition of 9% extract tecton leaf. The content of flavonoid that serves as the meal contained in the antibacterial meal and extract tecton leaf is 0.643% and 0.24%

    Efektivitas Kombinasi Ramuan Herbal dalam Ransum terhadap Persentase Karkas dan Organ Dalam Ayam Broiler.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian ramuan herbal formula A, B dan C dalam ransum terhadap persentase bobot karkas dan organ dalam ayam broiler. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 4x2x4. Faktor pertama adalah formula herbal (R0: Pakan kontrol; R1: Pakan mengandung 0.5% ramuan herbal formula A; R2: Pakan mengandung 0.5% ramuan herbal formula B; R3: Pakan mengandung 0.5% ramuan herbal formula C) dan faktor kedua adalah jenis kelamin (jantan dan betina). Data dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) dan jika berbeda nyata (P<0.05) dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan formula herbal pakan dan jenis kelamin tidak ada interaksi (P>0.05), tetapi pemberian ramuan herbal dalam pakan nyata (P<0.05) meningkatkan persentase bobot karkas dan bobot sekum, namun tidak berpengaruh pada bobot organ dalam. Simpulan dari penelitian ini adalah ramuan herbal formula B dan C meningkatkan persentase bobot karkas dan formula A meningkatkan persentase bobot sekum
    corecore