1 research outputs found
Kegagalan Inovasi Pertanian Desa pULE 1968-1964
ABSTRAK Fitarida, Hefi. 2010. Kegagalan Inovasi Pertanian Desa Pule 1968-1984. Skripsi, Program Studi Ilmu Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Joko Sayono, M. Pd. M. Hum. Kata Kunci : Petani Padi, Modernisasi Desa, Inovasi Pertanian, Revolusi Hijau. Padi mempunyai peranan yang sangat penting dalam bidang perekonomian, karena perekonomian merupakan bagian dari kegiatan yang harus dilakukan untuk menentukan berhasil tidaknya sebuah negara mensejahterakan rakyatnya. Indonesia adalah negara berkembang yang mencoba menerapkan program Revolusi Hijau. Revolusi Hijau tersebut bertujuan untuk dapat meningkatkan produksi padi guna menghindari impor beras yang pernah terjadi pada tahun 1971. Desa Pule merupakan desa agraris yang juga melaksanakan program Revolusi Hijau mulai tahun 1974. Pertanian Desa Pule sebelum Revolusi Hijau tahun 1968 bercirikan sebuah pertanian tradisional yang sangat bergantung dengan alam, sampai dilaksanakannya Bimas tahun 1974 pertanian berubah menjadi sebuah pertanian semi modern. Rendahnya tingkat pendidikan petani Desa Pule telah menyebabkan kegagalan proses Revolusi Hijau. Pada saat Indonesia berswasembada beras tahun 1984, Desa Pule tidak banyak mengalami perubahan dan menempati posisi terendah sekabupaten Trenggalek. Pada tahun 1984 hasil produksi padinya hanya mencapai rata-rata 4,7 ton/ha. Berdasarkan hasil paparan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah, yaitu, (1) bagaimana kondisi pertanian sebelum penerapan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984, (2) bagaimana kondisi pertanian selama penerapan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984, dan (3) apa yang menyebabkan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984 mengalami kegagalan. Tujuan diadakan penelitian ini, antara lain sebagai berikut: (1) mendeskripsikan kondisi pertanian sebelum penerapan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984, (2) mendeskripsikan kondisi pertanian selama penerapan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984, dan (3) mendeskripsikan penyebab inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984 mengalami kegagalan. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode sejarah, yaitu pemilihan topik (memilih topik yang layak untuk tema penelitian), heuristik (pengumpulan sumber-sumber sejarah), verifikasi (melakukan kritik sumber, melalui kritik eksternal/pengujian terhadap aspek luar sumber sejarah dan kritik intern/ pengujian terhadap aspek dalam sumber sejarah), interpretasi (melakukan penafsiran terhadap fakta satu dengan fakta yang lain), dan historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian ini sebagai berikut (1) kondisi pertanian Desa Pule sebelum Revolusi Hijau tahun 1968 merupakan sebuah desa dengan pertanian yang masih tradisional karena bergantung pada alam. Teknik bertani dan peralatan pertaniannya pun masih sangat sederhana sesuai dengan kondisi dan cara fikir petani awam yang masih berorientasi pada kebiasaan adat. (2) Pertanian Desa Pule mulai berubah pada tahun 1974 ketika petani Desa Pule mulai mengadopsi teknik bertani dan peralatan pertanian. Proses adopsi tersebut menyebabkan kondisi pertanian Desa Pule berubah, yaitu dari pertanian tradisional menjadi pertanian semi modern. (3) Penerapan Inovasi pertanian di Desa Pule yang dilaksanakan tahun 1974, merupakan sebuah inovasi yang mengalami kegagalan. Penyebabnya karena dua hal yaitu, rendahnya pendidikan petani Desa Pule berdampak pada tingkat penguasaan teknologi baru di mana penerapannya tidak bisa maksimal, dan PPL (Petugas Pertanian Lapangan) sebagai agen pembawa program Bimas tahun 1974, dalam memberikan bimbingan kepada petani realitanya lebih berorientasi pada teori bukan pada keadaan wilayah Desa Pule. (4) Kegagalan inovasi pertanian yang disebabkan dua hal di atas menyebabkan Desa Pule tidak mampu memberikan sumbangsih terhadap bangsa Indonesia ketika berswasembada beras pada tahun 1984, karena produktivitas padinya hanya 4,7 ton/ha. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Pule dapat disimpulkan bahwa inovasi pertanian Desa Pule tahun 1974 mengalami kegagalan, karena tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat petani Desa Pule. Peneliti memberikan saran terutama bagi mereka yang ingin meneliti lebih lanjut tentang keadaan pertanian padi setelah tahun 1984, sehingga dapat diketahui bagaimana kehidupan petani Desa Pule setelah tahun 1984
