23 research outputs found
PENDEKATAN POLA PEREMAJAAN DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN LOUHAN UNTUK PENGENDALIAN IKAN ASING INVASIF DI DANAU MATANO, SULAWESI SELATAN
Ikan louhan tergolong jenis ikan hibrid (sehingga tidak dapat ditentukan nama ilmiahnya) dari famili Cichlidae yang terindikasi sebagai ikan asing invasif di Danau Matano. Keberadaan ikan tersebut di Danau Matano perlu dikaji dan dikendalikan untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati jenis ikan endemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola peremajaan dan laju eksploitasi ikan louhan sebagai pendekatan dalam pengendalian ikan asing invasif di Danau Matano, Sulawesi Selatan. Analisis data dilakukan terhadap 2.931 ekor ikan louhan yang ditangkap menggunakan jaring insang percobaan berbagai ukuran mata jaring dilengkapi data enumerator secara bulanan pada bulan Februari hingga November 2016 dengan bantuan perangkat lunak FiSAT II. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan louhan di Danau Matano bersifat alometrik positif. Pertumbuhan mengikuti persamaan Lt=23,67[1-e0,41(t+0,4281)]. Umur maksimum (tmax) mencapai 7,32 tahun dengan performa pertumbuhan (Ø’) sebesar 2,36. Laju mortalitas total (Z) tahunan didapatkan sebesar 1,46 tahun-1. Laju mortalitas penangkapan tahunan (F = 0,38 tahun-1) lebih rendah daripada laju mortalitas alami tahunan (M = 1,08 tahun-1). Laju eksploitasi (E) ikan louhan di Danau Matano hanya sebesar 0,26 tahun-1 dimana menunjukkan bahwa upaya pemanfaatannya masih sangat rendah. Pola peremajaan terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada Mei (16,19%) dan Oktober (6,05%). Upaya pengendalian ikan louhan sebagai ikan invasif di Danau Matano perlu dilakukan pada saat puncak peremajaan tertinggi secara berkesinambungan disertai peningkatan laju eksploitasi e” 48% dari upaya yang ada, terutama pada April-Mei dan September-Oktober di daerah litoral perairan danau.Flowerhorn cichlid is classified as hybrid species (so that the scientific name can’t be determined) from Cichlidae which indicated as invasive alien fish in Lake Matano. The existence of flowerhorn in Lake Matano need to be assessed and controlled to preserve the biodiversity of endemic fish species. This research aims to assess recruitment pattern and utlization status of flowerhorn cichlid for controlling of invasive alien species at Lake Matano, South Sulawesi. Data analysis was carried out on 2,931 flowerhorn Cichlid caught using experimental gillnets of various mesh sizes included enumerators data which recorded monthly from February to November 2016 using FiSAT II software. The analysis resulted the growth pattern of flowerhorn cichlid in Matano louhan Lake was positive allometric. The growth equation of flowerhorn cichlid was Lt=23.67[1-e0,4(t+0.4281)]. Longevity (tmax) attained 7.32 years with growth performance (Ø’) was 2.36. The annual total mortality rate (Z) obtained 1.46 years-1. The annual fishing mortality rate (F = 0.38 years-1) is lower than the annual natural mortality rate (M = 1.08 years-1). Exploitation rate (E) of flowerhorn cichlid in Lake Matano only 0.26 years-1, which was indicated under exploitation. Recruitment pattern occurs twice a year, in May (16.19%) and October (6.05%). The eradication efforts to control population of flowerhorn cichlid as invasive alien species in Lake Matano needs to be done at the peak of recruitment and also increased exploitation rate about e” 48% of existing efforts, especially on April-May and September-October in the littoral area of Lake Matano
Studi Kebiasaan Makanan Ikan Keperas (Cyclocheilichthys apogon) di Daerah Aliran Sungai Musi, Sumatera Selatan
SEBARAN DAN HABITAT JUVENIL UDANG PENAEID DI PERAIRAN KUBU RAYA,KALIMANTAN BARAT
Tingkat keterkaitan juvenil udang terhadap habitat dapat dijadikan salah satu dasar untuk penentuan kawasan daerah asuhan. Penelitian tentang sebaran dan keterkaitan antara juvenil udang penaeid dengan habitatnya dilakukan di perairan Kubu Raya, Kalimantan Barat pada bulan Juni, September, November (tahun 2012) dan bulan April, Juli, Oktober (tahun 2013). Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sapuan (swept area method)menggunakan mini beam trawl. Indeks constancy dan fidelity digunakan untukmengetahui pola sebarandan derajat keterkaitan udang penaeid dengan habitatnya sebagai dasar penentuan daerah asuhan juvenil udang. Identifikasi juvenil udang diperoleh 3 genera dan 12 spesies. Kelimpahan total tertinggi berasal dari genus Metapenaeus (70,5%), diikuti genus Parapenaeopsis (29,3%) dan Fenneropenaeus (0,2%). Juvenil udang dari genera tersebut memiliki pola sebaran dan preferensi habitat yang berbeda karena memiliki perbedaan pola daur hidup. Juvenil udangwangkang (F. indicus)memiliki derajat keterkaitan dengan kategori sangat tinggi di perairan Tanjung Bunga Dalam, sedangkan derajat keterkaitan dengan kategorimediumterdapat di perairan Tanjung Intandan Pulau Dabung. Habitat daerah asuhan udangwangkang terutama terdapat di daerah estuari dengan kerapatan mangrove cukup tinggi, mendapat massa air tawar secara langsung dengan tipe substrat pasir bercampur lumpur dan serasah. Udang dogol putih (M. elegans) dan udang rotan (P.gracillima)memiliki derajat keterkaitan dengan kategori mediumdi perairan Tanjung Tempurung. Habitat daerah asuhan yang disenangi adalah daerah estuaria yang memiliki banyak masukan massa air tawar dan air laut atau sangat dipengaruhi oleh proses pasang-surut dengan tipe substrat terdiri dari lumpur dan pasir serta banyak serasah.Habitat preference of juvenile shrimps as an indicator to determine of main shrimp nursery ground. Study on distribution and habitat preference of juvenile penaeid shrimps in Kubu Raya waters,West Kalimantan were carried out on June, September, November (2012) and April, July, October (2013). Sampling was conducted with a sweep area method using a mini beam trawl. Distribution pattern and habitat preference of juvenile shrimps were analyzed by constancy and fidelity index. Identification of juvenile penaeid shrimp consisted of 3 genera and 12 species with the highest of total abundance from genus ofMetapenaeus (70.5%), followed by Parapenaeopsis (29.3%) and Fenneropenaeus (0.2%). Juvenile shrimp for those genera have different distribution patterns in certain habitats because of different life cycle pattern. The habitat preference of indian white shrimp juvenile (F. indicus) in the waters of Tanjung Bunga Dalam have very high category. Meanwhile, in the waters of Tanjung Intan and Pulau Dabung has medium category. The main nursery ground of F. indicus were estuaries with high enough of mangrove density and most affected by freshwater discharge with the dominant substrate type is sandas sandly mud and mix with litters. The habitat preference of Juvenile of fine shrimp (M. elegans) and thin shrimp (P. gracillima) have medium category in the waters of Tanjung Tempurung. The main nursery ground characterneeds estuaries that have a lot of freshwater and saltwater mass input depending on the tides with substrate type are mud, sand and mix with litters.</jats:p
RELATIONS OF SEVERAL PHYSICOCHEMICAL PARAMETERS AND PHYTOPLANKTON IN COASTAL KUBU RAYA DISTRICT, WEST KALIMANTAN
This research was conducted in April, July and October 2013 at 8 (eight) stations: 1. Tj. Intan, 2. Tj. Tempurung, 3. Tj. Bunga Dalam, 4. Tj. Bunga dalam, 5. Tj. Burung, 6. P. Dabung, 7. Tasik Malaya, and 8. Tj. Harapan. This study aims to determine the relationship between several physic-chemical parameters and phytoplankton abundance. The results show the growth of phytoplankton biomass (chlorophyll a) was determined by high concentration of NH4 and NO3, while its growth is limited by turbidity (turbidity). Station that has high fertility in the Coastal District of Kubu Raya is Dabung Island. Keyword: water quality, chlorophyll a, coastal Kubu Raya district</jats:p
KEBIASAAN MAKAN DAN LUAS RELUNG BEBERAPA JENIS UDANG DAN IKAN DI PESISIR MUARA KAKAP, KALIMANTAN BARAT
Sumberdaya udang dan ikan merupakan komoditas ekspor dari sektor perikanan dan merupakan sasaran utama bagi usaha penangkapan di Kalimantan Barat. Makanan merupakan kunci pokok bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kebiasaan makan dan luas relung beberapa jenis udang dan ikan di perairan pesisirMuara Kakap, Kalimantan Barat. Pengambilan sampel udang dan ikan diperoleh dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan sebanyak 4 kali ulangan (Maret, Juni, September dan November 2012). Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui kebiasaan makan ikan adalah kombinasi antara analisis kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan indeks bagian terbesar (Indeks of Preponderance) dan estimasi tingkat tropik jens ikan menggunakan analisis pengelompokkan (dendogram) berdasarkan pada jarak euklidean pautan lengkap (complete linkange). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok udang di perairan ini umumnya pemakan bangkai (scavenger) berupa sisa-sisa organisme hewanimaupun nabati yang berada di dasar perairan. Ikan di perairan banyakmemanfaatkan krustasea, tumbuhan dan cacing sebagai sumber makanannya, sehingga peluang terjadinya kompetisi sangatrendah, baikmakanan maupun ruang.Shrimp and fish resources are export commodities of the fisheries sector and are a main target for fishing effort inWest Kalimantan. Food is an important key to the growth and survival of fish. The purpose of this study was to evaluate eating habits and extensive niche some kind of shrimp and fish in the coastal waters of Muara Snapper,West Kalimantan. Samples were obtained from shrimp and fish catches of fishermen landed at the fish auction place as much as 4 replications (March, June, September and November 2012). The analytical method used to determine the feeding habits of fish is a combination of qualitative and quantitative analysis using the lion’s share index (index of preponderance) and estimated trophic level of fish jens using clustering analysis (dendogram) based on the Euclidean distance of the complete linkage (complete linkange). The results showed that the group of shrimp in these waters are generally scavengers (scavenger) in the form of remnants of animal and vegetable organisms that are in the bottom waters. The fish in the waters of many utilizing crustaceans, plants and worms as a source of food, so the chances are very low competition, good food and space
KEBIASAAN MAKANAN DAN INTERAKSI TROFIK KOMUNITAS UDANG PENAEID DI PERAIRAN ACEH TIMUR
Udang penaeid merupakan komoditas perikanan udang yang umum tertangkap di perairan Aceh Timur. Pengelolaan perikanan udang dengan pendekatan ekosistem membutuhkan informasi terkait kebiasaan makanan udang dan interaksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makanan dan interaksi trofik komunitas udang penaeid di perairan Aceh Timur. Penelitian dilaksanakan pada April dan September tahun 2014-2015 serta April 2016 di perairan Aceh Timur. Contoh udang diperoleh dari tangkapan mini beam trawl dan hasil tangkapan nelayan. Analisis dilakukan menggunakan indeks bagian terbesar, tingkat trofik, luas relung dan interaksinya. Hasil penelitian menunjukkan komunitas udang penaeid di perairan pantai Aceh Timur terdapat sekitar 20 jenis udang pada stadia yuwana hingga dewasa. Kebiasaan makanan pada 8 jenis udang penaeid dominan berbeda tergantung spesiesnya dengan makanan utama berupa krustasea, detritus dan moluska. Interaksi trofik menunjukkan terdapat peluang kompetisi yang tinggi antara Penaeus monodon dengan Penaeus sp., Fenneropenaeus indicus, F. merguiensis dan Parapenaeopsis stylifera coromandelica serta Metapenaeus brevicornis dengan M. ensis karena memanfaatkan sumberdaya makanan yang sama.The penaeid shrimps communities have been caught in the waters of East Aceh and some become the main fisheries commodities. Management of shrimp fisheries with ecosystem approach required information related to its food habits and their interactions. The purpose of this study were to examine food habits and trophic interactions of penaeid shrimp communities in the East Aceh waters. The study was conducted in April and September 2014-2015 and April 2016 in the waters of East Aceh. Shrimp samples were obtained from mini beam trawl and fisherman catches. The analysis was performed using index of preponderance, trophic level, niche breadth and its interaction. The results showed that the community of Penaeid shrimp in East Aceh coastal waters consisted of about 20 species of shrimp in juvenile to to adult phase. Food habits of 8 dominant penaeid shrimp was differ depending on the species with the main foods of crustaceans, detritus and molluscs. Trophic interactions suggest that there is a high probability of competition between Penaeus monodon and Penaeus sp., Fenneropenaeus indicus, F. merguiensis and Parapenaeopsis stylifera coromandelica and Metapenaeus brevicornis with M. ensis for utilizing the same food resources.
INTERAKSI PEMANFAATAN PAKAN ALAMI OLEH KOMUNITAS IKAN DI WADUK PENJALIN, JAWA TENGAH
Faktor ketersediaan pakan alami di perairan waduk dapat menentukan komposisi dan penyebaran serta proses adaptasi beberapa jenis ikan (adaptasi dari lingkungan mengalir menjadi tergenang). Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji interaksi dalam memanfaatkan pakan alami yang tersedia dari komunitas ikan di Waduk Penjalin. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada bulan Juni dan Agustus 2011 menggunakan jaring insang percobaan (ukuran 1-3 inci dengan interval 0,25 inci) dan hasil tangkapan nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan beunteur (Puntius binotatus), nila (Oreochromis niloticus) dan tawes (Barbonymus gonionotus) tergolong sebagai planktivora dengan makanan utama berupa fitoplankton masing-masing sebesar 92,23%, 86,91% dan 70,00%. Ikan nilem (Osteochilus vittatus) tergolong sebagai herbivora dengan makanan utama berupa tumbuhan/makrofita sebesar 100,00%. Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) dan manila gift (Parachromis managuensis) tergolong sebagai predator dengan makanan utama berupa ikan masing-masing sebesar 89,33% dan 95,34%. Ikan manila gift merupakan jenis ikan introduksi yang saat ini mendominasi perairan Waduk Penjalin. Interaksi komunitas ikan dalam memanfaatkan pakan alami cenderung memiliki kompleksitas yang rendah. Hal ini diduga akibat tingginya tingkat predasi oleh ikan predator asing, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan antara jumlah ikan predator dan ikan yang dimangsa.The availability of food resources in water reservoir determine the composition, dispersal rate and adaptation of some species of fish (an adaptation from riverine to lacustrine). The purpose of this study is to analysing the interaction in utilizing the available of natural resources by fish communities in Penjalin Reservoir. Research was done on June and August 2011 using experimental gillnets (size 1-3 inches with intervals about 0.25 inches) and the catch of fishermen. The results showed that spotted barb (Puntius binotatus), nile tilapia (Oreochromis niloticus) and silver barb (Barbonymus gonionotus) classified as planktivora with the primary food were phytoplankton respectively 92.23%, 86.91% and 70.00%. Bonylip Barb (Osteochilus vittatus) classified as herbivores with the primary food were plant/macrophyte 100.00%. Marble goby (Oxyeleotris marmorata) and jaguar guapote (Parachromis managuensis) classified as a predator with the primary food were fish (prey) respectively 89.33% and 95.34%. Jaguar guapote was aliens species who dominated Penjalin Reservoir. Interaction of food resource utilization of fish communities in Penjalin Reservoir tend to have a lower complexity. This is due to the high levels of predation by dominance of alien predatory species, thus resulting in an imbalance comparison between population of predator and prey
Biological Aspect of Squid (Urotheutis Chinensis) in Bangka
This report is under the SEAFDEC/UNEP/GEF Project on “Establishment and Operation of a Regional System of Fisheries Refugia in the South China Sea and Gulf of Thailand”The biological aspects of squids are one of the keys to fisheries management. The biological data of the squid were used to get essential approach in managing their resources. The squids, Urotheutis (Photololigo) chinensis, were collected in November 2021. This report focuses on the length distribution, length at first capture and length at maturity of the squid in Bangka.UNEP/GE
INTERAKSI TROFIK KOMUNITAS IKAN DI DANAU MATANO, SULAWESI SELATAN PASCA BERKEMBANGNYA IKAN ASING INVASIF
Interaksi trofik pasca masuknya ikan introduksi ataupun ikan asing invasif merupakan dasar untuk mengkaji tekanan ekologis terhadap ikan asli. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi trofik komunitas ikan pasca berkembangnya jenis-jenis ikan asing invasif di Danau Matano, Sulawesi Selatan. Ikan contoh diperoleh dari hasil tangkapan jaring insang percobaan, jala lempar, dan seser pada Mei, Oktober, dan November 2015 serta Februari, Juli, dan September 2016. Analisis ekologi trofik yang dilakukan meliputi indeks bagian terbesar, tingkat trofik, luas relung dan tumpang tindih relung makanan, serta pola strategi makan. Hasil penelitian menunjukkan komunitas ikan yang tertangkap di Danau Matano terdiri atas 9 famili, 11 genera, dan 17 spesies. Ikan louhan mendominasi komunitas ikan di Danau Matano sebesar 53,62%. Makanan alami yang banyak dimanfaatkan oleh sejumlah ikan dalam komunitas adalah insekta (Diptera), Gastropoda (Tylomelania sp.), dan larva insekta (Chironomidae). Kelompok trofik komunitas ikan di Danau Matano terdiri atas detritivora, herbivora, insektivora, zoobentivora, dan piscivora. Masuknya ikan introduksi memunculkan kelompok trofik baru (detritivora dan herbivora). Ikan introduksi cenderung memiliki luas relung makanan yang lebih bervariasi. Kompetisi terhadap makanan alami kategori moderat banyak terjadi antara ikan asli dengan louhan. Strategi pola makan ikan asli di Danau Matano cenderung bersifat spesialis, sedangkan ikan introduksi memiliki strategi pola makan yang lebih bervariasi dan oportunistik. Ikan louhan sebagai ikan introduksi dominan yang bersifat invasif mampu memanfaatkan seluruh sumber daya makanan alami yang tersedia dan menempati tingkat trofik tertinggi di Danau Matano. Tekanan ekologi terhadap ikan asli oleh ikan asing invasif di Danau Matano terjadi karena adanya kompetisi terhadap makanan alami.Trophic interactions post-develpment of non-native fish or invasive alien fish species are the basis knowledge for assessing and preventing the ecological pressure on native fish. This research aims to analyze the trophic interactions of fish community post-development of invasive alien fish species in Lake Matano, South Sulawesi. Fish samples were obtained from the catch of experimental gill nets, cast nets, and push nets in May, October, and November 2015 along with February, July, and September 2016. Trophic ecological analysis carried out included index of preponderance, trophic level, niche breadth and niche overlap of natural food, and feeding strategy. The fish community caught in Lake Matano consists of 9 families, 11 genera, and 17 species. Flowerhorn cichlid dominates the fish community in Lake Matano by 53.62%. Natural foods that are widely used by a number of fish in the community are Insecta (Diptera), Gastropods (Tylomelania sp.), and larvae of Insecta (Chironomidae). The guild trophic of fish community in Lake Matano consists of detritivores, herbivores, insectivores, zoobentivores, and piscivores. The introduction of non-native species bring up to new guilds (detritivores and herbivores). Non-native fishes tends to have a variety niche breadth. Moderate competition for natural food resources between native fish and flowerhorn cichlid is quite high. Feeding strategy of native species in Lake Matano tend to be specialist, while non-natives species have more variety and opportunistic. Flowerhorn cichlid as dominant invasive alien fish species is able to utilize all natural food resources and occupies the highest trophic level in Lake Matano. Ecological pressure on native fish by invasive alien fish species in Lake Matano occurs due to competition in obtaining natural food resources
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN GOLSOM (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT
Ikan golsom (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) merupakan jenis ikan introduksi yang tidak disengaja masuk ke perairan Waduk Cirata. Populasi ikan ini telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek biologi reproduksi ikan golsom meliputi nisbah kelamin, dugaan musim pemijahan TKG, ukuran pertama kali matang gonad, fekunditas dan sebaran diameter telur. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada bulan Maret, Mei, Juli dan September 2011 menggunakan jaring insang percobaan dengan ukuran mata jaring yang berbeda. Ikan golsom yang diamati berjumlah 316 ekor dengan nisbah kelamin adalah 1:1,20. Nisbah kelamin berada pada kondisi seimbang pada setiap waktu penelitian. Ikan golsom dapat memijah lebih dari satu kali dalam setahun dengan dugaan puncak pemijahan pada musim kemarau, dimulai pada bulan Maret hingga Juli. Ikan jantan mencapai pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 11,3 cm (kisaran antara 10,5-12,2 cm), sedangkan ikan betina pada ukuran 10,7 cm (kisaran antara 10,1-11,5 cm). Fekunditas berkisar antara 511-4.900 butir (rata-rata 2.131 butir), diameter telur berukuran antara 0,28-1,58 mm dengan tipe pemijahan bersifat partial spawner.Banded jewel cichlid (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) is unintentional introduced fish in Cirata Reservoir. These fish populations have significant increased in the last five years. The objective of this research were to analyze reproductive biological aspects of banded jewel cichlid such as sex ratio, spawning season, length at first maturity, fecundity and distribution of egg diameter. Research was conducted in March, May, July and September 2011. Experimental gillnet segregated into seven different mesh size were used for fish sampling. Banded jewel cichlid samples observed were 316 fishes with sex ratio of 1:1.20. Sex ratio indicated balanced conditions. The fish spawned more than once a year with peak spawning period was occurred at dry seasons, from March until July. Total length at first maturity of banded jewel male was 11.3 cm (range of 10.5 to 12.2 cm), while for the female it was 10.7 cm (range of 10.1 to 11.5 cm). Fecundity of this fish in the ranged of 511 to 4,900 eggs (average of 2,131 eggs), with eggs diameter in the range of 0.28 to 1.58 mm indicating that banded jewel was categorized as partial spawner fish
