6 research outputs found
Uji Efikasi Beberapa Fungsida untuk Mengendalikan Pythium spp pada Pembibitan Tanaman Tembakau Deli (Nicotiana Tabaccum L.) di Kec.Percut Sei Tuan
In general, disease of Pythium spp attacks in seedling and ocasionally found in plant area. The disease causes low production of tobacco where infected young plants will rot on its basic stem, faded and fall. Spraying fungiside is one of control actions to patogent Pythium spp in seedling of Deli tobacco plants.
This research was performed in PTPN II research of Deli Tobacco and laboratory of plant disease, faculty of agriculture, University of South Sumatera, Medan, in April to June, 2004. This researchis purposed to know what fungicide is more effective to control Pythium spp in seedling of Deli Tobacco (Nicotiana Tabaccum L.) at Kec. Percut Sei Tuan.
This method's research used the Randomized Block Desig of non factorial group with 8 kids and 4 replication of fungisides activites they are FO: the control (without fungicide), Fl Propamocarb hidroklorida (Previcur N) fungicides, F2: Metalaksil (Saromyl 350 SD) fungicides, F3 Mancozeb and Simoksanil (Curzate 8/64 WP) fungisides, F4: Asam fosfit (Folirfos 400 As) fungicides, F5: Mancozeb (Delsene Mx 80 WP) fungicides, F6: Tiram (Tanicol 80 WP) fungicides, F7: Mancozeb (Taniram 80 WP) fungicides.
The parameters notrced are persentage of disease attack and fitotoxicity to the
sced.
From the research we conclude that application of fungicide can effect development disease attack caused by Pythium spp. As result without using fungicide, the attack is 55,55 %, by doing application of fungicide, the attack is F1: promamocab hidroklorida (Previcur N) fungicides 7,40 %, F2: Malaksil (Saromyl 350 SD) fungicides 8,79 %, F3: Mancozeb and Simoksanil (Curzate 8/64 WP) fungicides 9,95%, F1 Asam fosfit (Folirfos 400 As) fungicides 11,10 %, F5 Mancozeb (Delsene Mx 80 WP) fungicides 15 %, F6: Tiram (Tanicol 80 WP) fungicides 10,18%, F7: Mancozeb (Taniram 80 WP) fungicides 9,01 %.58 HalamanSkripsi Sarjan
Kajian Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada Petani Padi di Kabupaten Tapanuli Selatan
Integrated Pest Control (IPM) is the technology using comprehensive approach base on ecology within environment attempts the integration of various compatable controls and to maintain the environment health and profitted farmers. The objectif of study is to know the implementation of IPM to rice farmer in South Tapanuli. The research was performed in 6 regions in South Tapanuli subdistricts, 3 regions belong to Farmer Field School (FFS) and 3 regions don’t belong to the FFS, Data was collecved using questioner and analysed using druble linier regretion. The result of analyse on ecologycal variable, economy and technology of the Pest Integrated Control system of the farmers belong to the Farmer Field School was with regretion coefisien of ecology 0.106, economy 0.100 and technology variable 0.077. Total correlation coefision (r) was 0.225 and ditermination coefision (R2) 0.474. Where F value and F Tabel 7.63 and 3.11 respectively. The regretion coefisien -0.146, economy – 0.189 and technology variable 0,294. The correlation coeficien (r) was 0.125 and ditermination coeficient (R2) 0.353, where F value and F Table were 3.75 and 3.11 respectively. Ecologycal, economyc, and technology factor have significantly influencd toward the application of the Integrated Pest Control (IPM) of the farmers belong to the Farmer Field School (FFS) and also the aplication of Integrated Pest Control of the farmers don’t belong to the Farmer Field School give clear influences on their ecology, economy and technology factorsPengendalian Hama Terpadu ádalah teknologi pengendalian hama yang pendekatannya komprehensif berdasarkan ekologi yang dalam keadaan lingkungan mengusahakan pengintegrasian berbagai taktik pengendalian yang kompatibel satu sama lain serta mempertahankan kesehatan lingkungan dan menguntungkan bagi pihak lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Penerapan Pengendalian Hama Terpadu pada petani padi di Tapanuli Selatan. Penelitian ini dilaksanakan di 6 kecamatan yang ada di Kabupaten Tapanuli Selatan, 3 kecamatan yang ikut Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan 3 Kecamatan yang tidak ikut SLPHT. Dengan teknik pengumpulan data ádalah kuisioner. Dengan skala likert lima rintangan. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variable ekologi, ekonomi, dan teknologi dalam sistem pengendalian hama terpadu pada petani yang ikut SLPHT diperoleh koefisien regresi pada ekologi sebesar 0,106; pada ekonomi sebesar 0,100 dan pada varioabel teknologi diperoleh sebesar 0,077; sehingga diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,225 dan koefisien determinasi (R2) sebesar 0, 474; dengan F hitung sebesar 7,63 dan F tabel sebesar 3,11 pada taraf ? sebesar 5 %. Pada variabel ekologi, ekonomi, dan teknologi dalam sistem pengendalian hama terpadu pada petani yang tidak ikut SLPHT diperoleh koefisien regresi pada ekologi sebesar - 0,046; pada ekonomi sebesar – 0,189 dan pada variabel teknologi diperoleh sebesar 0,294; sehingga diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,125 dan koefisien determinasi R2 sebesar 0,353. dengan F hitung sebesar 3,75 dan F tabel sebesar 3,11 pada tarap ? sebesar 5 %. Faktor ekologi, ekonomi, dan teknologi berpengaruh nyata terhadap penerapan PHT bagi petani yang ikut SLPHT dan bagi petani yang tidak ikut SLPHT.117 HalamanTesis Magiste
Uji Efikasi Beberapa Fungisida untuk Mengendalikan Pythium spp pada Pembibitan Tanaman Tembakau Deli (Nicotiana tabaccum L.) di Kec. Percut Sei Tuan
In general, disease of Pythium spp attacks in seedling and ocasionally found in pant area. The disease causes low production of tobacco where infected young plants will rot on its basic stem, faded and fall. Spraying fungiside is one of control actions to patogent Pythium spp in seedling of Deli tobacco plants.
This research was performed in PTPN II research of Deli Tobacco and laboratory of plant disease, faculty of agriculture, University of South Sumatera, Medan, in April to June, 2004. This researchis purposed to know what fungicide is more effective to control Pythium spp in seedling of Deli Tobacco (Nicotiana Tabaccum L.) at Kec. Percut Sei Tuan.
This method's research used the Randomized Block Desig of non factorial group with 8 kids and 4 replication of fungisides activites they are FO: the control (without fungicide), Fl Propamocarb hidroklorida (Previcur N) fungicides, F2: Metalaksil (Saromyl 350 SD) fungicides, F3 Mancozeb and Simoksanil (Curzate 8/64 WP) fingisides, F4 Asam fosfit (Folirfos 400 As) fungicides, FS Mancozeb (Delsene Mx 80 WP) fungicides, F6: Tiram (Tanicol 80 WP) fungicides, F7: Mancozeb Caniram 80 WP) fungicides. The parameters notrced are persentage of disease attack and fitotoxicity to the
sced.
From the research we conclude that application of fungicide can effect development disease attack caused by Pythium spp. As result without using fungicide, the attack is 55,55 %, by doing application of fungicide, the attack is F1: promamocab hidroklorida (Previcur N) fungicides 7,40 %, F2 Metalaksil (Saromyl 350 SD) fungicides 8,79 %, F3: Mancozeb and Simoksanil (Curzate 8/64 WP) fungicides 9,95 %, F4: Asam fosfit (Folirfos 400 As) fungicides 11,10 %, FS: Mancozob (Delsene Mx 80 WP) fungicides 15 %, F6: Tiram (Tanicol 80 WP) fungicides 10,18 %, F7: Mancozeb (Taniram 80 WP) fungicides 9,01 %.57 HalamanSkripsi Sarjan
Kajian Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada Petani Padi di Kabupaten Tapanuli Selatan
Integrated Pest Control (IPM) is the technology using comprehensive approach base on ecology within environment attempts the integration of various compatable controls and to maintain the environment health and profitted farmers. The objectif of study is to know the implementation of IPM to rice farmer in South Tapanuli. The research was performed in 6 regions in South Tapanuli subdistricts, 3 regions belong to Farmer Field School (FFS) and 3 regions don’t belong to the FFS, Data was collecved using questioner and analysed using druble linier regretion. The result of analyse on ecologycal variable, economy and technology of the Pest Integrated Control system of the farmers belong to the Farmer Field School was with regretion coefisien of ecology 0.106, economy 0.100 and technology variable 0.077. Total correlation coefision (r) was 0.225 and ditermination coefision (R2) 0.474. Where F value and F Tabel 7.63 and 3.11 respectively. The regretion coefisien -0.146, economy – 0.189 and technology variable 0,294. The correlation coeficien (r) was 0.125 and ditermination coeficient (R2) 0.353, where F value and F Table were 3.75 and 3.11 respectively. Ecologycal, economyc, and technology factor have significantly influencd toward the application of the Integrated Pest Control (IPM) of the farmers belong to the Farmer Field School (FFS) and also the aplication of Integrated Pest Control of the farmers don’t belong to the Farmer Field School give clear influences on their ecology, economy and technology factorsPengendalian Hama Terpadu ádalah teknologi pengendalian hama yang pendekatannya komprehensif berdasarkan ekologi yang dalam keadaan lingkungan mengusahakan pengintegrasian berbagai taktik pengendalian yang kompatibel satu sama lain serta mempertahankan kesehatan lingkungan dan menguntungkan bagi pihak lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Penerapan Pengendalian Hama Terpadu pada petani padi di Tapanuli Selatan. Penelitian ini dilaksanakan di 6 kecamatan yang ada di Kabupaten Tapanuli Selatan, 3 kecamatan yang ikut Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan 3 Kecamatan yang tidak ikut SLPHT. Dengan teknik pengumpulan data ádalah kuisioner. Dengan skala likert lima rintangan. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variable ekologi, ekonomi, dan teknologi dalam sistem pengendalian hama terpadu pada petani yang ikut SLPHT diperoleh koefisien regresi pada ekologi sebesar 0,106; pada ekonomi sebesar 0,100 dan pada varioabel teknologi diperoleh sebesar 0,077; sehingga diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,225 dan koefisien determinasi (R2) sebesar 0, 474; dengan F hitung sebesar 7,63 dan F tabel sebesar 3,11 pada taraf ? sebesar 5 %. Pada variabel ekologi, ekonomi, dan teknologi dalam sistem pengendalian hama terpadu pada petani yang tidak ikut SLPHT diperoleh koefisien regresi pada ekologi sebesar - 0,046; pada ekonomi sebesar – 0,189 dan pada variabel teknologi diperoleh sebesar 0,294; sehingga diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,125 dan koefisien determinasi R2 sebesar 0,353. dengan F hitung sebesar 3,75 dan F tabel sebesar 3,11 pada tarap ? sebesar 5 %. Faktor ekologi, ekonomi, dan teknologi berpengaruh nyata terhadap penerapan PHT bagi petani yang ikut SLPHT dan bagi petani yang tidak ikut SLPHT.117 HalamanTesis Magiste
[Pemanfaatan Daun Mimba (Azadirachta indica) sebagai Pestisida Nabati] : Review
Senyawa metabolit sekunder berperan sebagai pengendali populasi serangga hama dan pertumbuhan agen biologi penyebab penyakit tanaman. Sifat dan mekanisme kerja bahan nabati tersebut dalam melindungi tanaman dapat sebagai antifitopatogenik (antibiotik pertanian), fitotoksik atau mengatur pertumbuhan tanaman (fitotoksin, hormon, dan sejenisnya), dan bahan aktif terhadap serangga. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sumber bahan pestisida (Pestisida nabati) adalah mimba yang telah banyak dimanfaatkan dan cukup efektif untuk mengendalikan beberapa hama dan penyakit pada tanaman. Mimba memiliki bahan aktif azadirachtin, salanin, meliantriol, nimbin dan nimbidin sebagai hasil metabolit sekunder yang mengendalikan hama dan penyakit tanaman dengan cara mempengaruhi pertumbuhan, daya makan, reproduksi, dan oviposisi Prinsip penggunaan pestisida nabati tersebut untuk mengurangi dan bukan untuk meninggalkan pemakaian pestisida kimia, karena efektivitasnya masih dibawah pestisida kimia. Ulasan ini kemudian disusun untuk memaparkan efektifitas mimba sebagai pestisida nabati dalam mengatasi berbagai gangguan hama dan penyakit tanaman yang berpotensi menurunkan produksi
Pengaruh Arang Aktif (Charcoal) pada Media MS untuk Meningkatkan Pertumbuhan Anggrek pada Kultur In Vitro
Media MS (Murashige and Skoog) merupakan media dasar yang paling banyak digunakan dalam perbanyakan secara kultur in vitro dengan modifikasi komposisi atau penambahan bahan lain di dalamnya. Salah satu bahan adenda yang berpotensi untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman in vitro adalah arang aktif karena kemampuannya sebagai penyedia unsur hara bagi tanaman, adsorbsi zat toksik serta menghambat penggelapan media. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan arang aktif pada komposisi media MS yang berbeda terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium secara in vitro ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan BPTP Sumatera Utara pada bulan April – September 2017. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 4 taraf perlakuan meliputi media 1 MS (M0), media ½ MS (M1), media MS + charcoal (M2), dan media ½ MS + charcoal (M3) yang diulang sebanyak 5 kali. Data hasil penelitian dianalisis dengan ANOVA diikuti uji lanjut DMRT 95 %. Pemberian arang aktif pada media kultur mendukung pertumbuhan tinggi planlet, berat planlet, dan pertambahan tunas namun tidak mendukung pertumbuhan lebar daun dan panjang dau
