4,939 research outputs found
Gaya Ornamentasi Vokal Sri Hartati Dalam Membawakan Lagu Keroncong “Bandar Jakarta” Ciptaan Iskandar
Ornamentasi vokal sangat perlu dilakukan bagi seorang penyanyi. Ornamentasi vokal dapat diterapkan pada beberapa genre lagu, salah satunya lagu keroncong. Dalam membawakan lagu keroncong baik Keroncong Asli, Langgam maupun Stambul memiliki ciri khas ornamentasi vokal tersendiri. Setiap penyanyi juga memiliki ciri khas tersendiri dalam membawakan lagu Keroncong. Oleh karena itu penelitian ini terfokus pada gaya ornamentasi vokal Sri Hartati dalam membawakan lagu Keroncong "Bandar Jakarta" Ciptaan Ismail Marzuki. Memilih lagu ini karena lebih familier dan banyak dikenal masyarakat, bahkan sering digunakan sebagai materi awal untuk belajar lagu Keroncong. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dapat digunakan sebagai acuan dan bahan kajian dalam pembelajaran Keroncong di Prodi Pendidikan Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitataif dengan contents analysis. Metode ini dipilih untuk menghasilkan simpulan mengenai pola-pola tertentu secara obyektif dan sistematis. Analisis dilakukan untuk gaya ornamentasi vokal Sri Hartati dalam menyanyikan lagu Kr. Bandar Jakarta" yang meliputi cengkok, gregel, luk, embat dan nggandul. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran ornamentasi vokal bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah keroncong terutama sebagai vokalnya atau penyanyi keroncong. Oleh karena itu penelitian ini terfokus mengkaji mengapa Sri Hartati sebagai barometer untuk penyanyi keroncong dan bagaimana pola gaya ornamentasi vokal Sri Hartati dalam membawakan lagu “Bandar Jakarta”, Hasil Penelitian menunjukkan bahwa gaya ornamentasi vokal Sri Hartati banyak didominasi pada luk, meskipun ada cengkok dan gregel. Gaya ornamentasi vokal Sri Hartati sederhana namun memiliki keunikan tersendiri, sehingga banyak meraih prestasi di tingkat Nasional
Gaya Ornamentasi Vokal Sri Hartati Dalam Membawakan Lagu Keroncong "Bandar Jakarta" Ciptaan Iskandar
Ornamentasi vokal sangat perlu dilakukan bagi seorang penyanyi. Ornamentasi vokal dapat diterapkan pada beberapa genre lagu, salah satunya lagu keroncong. Dalam membawakan lagu keroncong baik Keroncong Asli, Langgam maupun Stambul memiliki Ciri khas ornamentasi vokal tersendiri. Setiap penyanyi juga memiliki Ciri khas tersendiri dalam membawakan lagu Keroncong. Oleh karena itu penelitian ini terfokus pada gaya ornamentasi vokal Sri Hartati dalam membawakan lagu Keroncong "Bandar Jakarta" Ciptaan Ismail Marzuki. Memilih lagu ini karena lebih familier dan banyak dikenal masyarakat, bahkan seringdigunakan sebagai materi awal untuk belajar lagu Keroncong. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dapat digunakan sebagai acuan dan bahan kajian dalam pembelajaran Keroncong diProdi Pendidikan Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitataif dengan contents analysis. Metode ini dipilih untuk menghasilkan simpulan mengenai pola-pola tertentu secara obyektif dan sistematis. Analisis dilakukan untuk gaya ornamentasi vokal Sri Hartati dalam menyanyikan lagu Kr. Bandar Jakarta" yang meliputi cengkok, gregel, luk, embat dan nggandul. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran ornamentasi vokal bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah keroncong terutama sebagai vokalnya atau penyanyi keroncong. Oleh karena itu penelitian ini terfokus mengkaji mengapa Sri Hartati sebagai barometer untuk penyanyi keroncong dan bagaimana pola gaya ornamentasi vokal Sri Hartati dalam membawakan lagu "Bandar Jakarta", Hasil Penelitian menunjukkan bahwa gaya ornamentasi vokal Sri Hartati banyak didominasi pada luk, meskipun ada cengkok dan gregel. Gaya ornamentasi vokal Sri Hartati sederhana namun memiliki keunikan tersendiri, sehingga banyak meraih prestasi di tingkat Nasional
Analisis Pembawaan Vokal Sri Hartati Pada Lagu Keroncong Tanah Airku Karya Kelly Puspito
Penelitian Ini Bertujuan Untuk Mendeskripsikan Tentang Ciri Khas Sri Hartati Dalam Membawakan Lagu Keroncong Tanah Airku. Penulis Menemukan Beberapa Permasalahan Yang Menjadi Alasan Untuk Melakukan Penelitian Ini Lebih Mendalam Dan Berharap Dapat Bermanfaat Dan Hasilnya Dapat Digunakan Sebagai Refrensi Tambahan. Penelitian Ini Menggunakan Metode Penelitian Kualitatif Sebagai Pendekatan Dalam Menggali Data-Data Serta Tahapan-Tahapan Yang Harus Dilalui Sesuai Prosedur Yang Tertera. Tempat Penelitian Adalah Rumah Kediaman Sri Hartati Desa Tukangan, Kecamatan Danurejan, Kabupaten Kodya, Yogyakarta. Sumbersumber Data Diperoleh Melalui Metode Observasi Yang Dilakukan Pada Saat Narasumber Berlatih Dengan Orkes Keroncong Surya Mataram, Yang Rutin Diselenggarakan Pada Setiap Senin Pukul 21.00 Dikediaman Narasumber, Yang Meliputi Mendengarkan Narasumber Dalam Membawakan Lagu Keroncong Tanah Airku Bersama Orkes Surya Mataram. Wawancara Dilakukan Bersama Narasumber Yaitu Sri Hartati Dan Narasumber Kedua Yaitu Singgih Sanjaya Selaku Aktivis Keroncong Yang Cukup Mengenal Secara Dekat Dengan Pencipta Lagu Keroncong Tanah Airku Yaitu Kelly Puspito, Dan Yang Terakhir Adalah Dokumentasi. Dokumentasi Dilakukan Pada Proses Wawancara, Dan Proses Latihan Orkes Keroncong Surya Mataram Serta Proses Mendengarkan Gaya Bernyanyi Keroncong Asli Yang Diterangkan Oleh Narasumber Melalui Tampilan Audio, Foto Dan Video. Proses Analisa Data Dilakukan Dengan Mendengarkan Gaya Bernyanyi Keroncong Asli Oleh Sri Hartati Dan Dibandingkan Dengan N Notasi Yang Tertulis, Kemudian Mengkaji Pembawaan Vokal Narasumber Dalam Gaya Keroncong Asli Sesuai Penjelasan Narasumber Dan Teori Secara Umum. Hasil Dan Kesimpulan Yang Didapat Menunjukan Bahwa Lagu Keroncong Tanah Airku Mempunyai Bentuk Lagu Sama Seperti Lagu Keroncong Asli Lainya Yaitu Mempunyai Tiga Bagian Yaitu A B Dan C. Banyak Ditemui Notasi Yang Beredar Diluar Kurang Tepat Dan Menyesatkan. Dalam Proses Penelitian Dapat Mengetahui Ciri Khas Bernyanyi Keroncong Sri Hartati. Selain Itu, Dalam Mengenal Teknik Vokal Keroncong Asli Sangat Dibutuhkan Waktu Belajar Yang Cukup Ekstra Karena Pada Lagu Keroncong Tanah Airku Terdapat Kesulitan Cukup Tinggi, Yang Terdapat Pada Notasinya, Dan Penghayatan Dalam Membawakannya. Selain Itu, Dapat Disimpulkan Bahwa Suara Sri Hartati Mempunyai Ciri Khas Yang Mendayu Dan Mempunyai Jenis Suara Alto, Yang Bila Didengarkan Terdengar Tenang Dan Syahdu
In pursuit of 1 Sri Lanka: Lessons from a Malaysian counterpart
The quest for national unity has become a leadership challenge for successive leaders of both Malaysia and Sri Lanka. While the two countries record significant differences in contexts and background, the similarities are equally striking. The following is an article that is based on a two-country study undertaken by the author to unpackage and explore the "1Malaysia" Programme that was launched in 2009 following the election of Malaysian Prime Minister's, Tun Najib Razak into his first term in office. The author spent a two week resident attachment at the 1Malayisa Foundation in Malaysia in the summer of 2012 to study further the facets of the governance programme that had been formulated with the intention of resolving the ethnic tensions that have plagued Malaysia since it gained independence, or Merdeka. The purpose of the endeavour was three-fold: First, to identify and extract aspects of the 1Malaysia Programme as relevant to the Sri Lankan context so as to formulate a potential 1Sri Lanka programme that is cognizant of the variables at stake. Secondly, the article seeks to critique the already existent framework of the 1Malaysia Programme by providing recommendations for improvement where necessary. Third, to begin dialogue and deliberations on the rich learning and exchange that can be cultivated between the two countries by providing a framework for bilateral cooperation between the Governments of Malaysia and Sri Lanka
Gaya Bernyanyi Sri Hartati sebagai Materi Pelatihan Vokal Keroncong di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta
Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta merupakan wadah dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di bidang musik yang dilakukan secara gratis. Observasi yang dilakukan di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta dalam kelas keroncong bahwa ditemui permasalahan yang berkaitan dengan pelatihan teknik bernyanyi keroncong yang kurang tepat dan belum optimal. Peserta didik hanya bermodalkan mendengarkan rekaman yang terdapat dalam platform youtube yang tidak diketahui secara tepat dan tidaknya notasi serta lirik lagu tersebut. Peneliti memberikan sebuah solusi dengan menawarkan gaya bernyanyi Sri Hartati untuk dapat digunakan sebagai acuan pelatihan di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakrta. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi gaya bernyanyi keroncong Sri Hartati serta penerapan gaya bernyanyi keroncong Sri Hartati di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mencari data-data yang dibutuhkan. Peneliti menggunakan lagu “Kr. Sepercik Nyala Api” untuk acuan pelatihan di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta. Peserta didik memperoleh hasil dapat menyanyikan dengan menggunakan teknik luk, gregel, cengkok, embat, dan nggandul dengan baik dan tepat. Serta peserta didik mampu mempraktikan dengan menggunakan notasi yang tepat, pemenggalan kalimat lirik dengan baik, serta dapat menggunakan dan mengatur nafas dengan benar. Sehingga produksi suara dalam bernyanyi “Kr. Sepercik Nyala Api” terdengar indah dan jelas
Neo Klasik Metal Volume 1
Buku Neo Klasik Metal yang disusun oleh R.A. Dinar Sri Hartati, merupakan satu sumbangsih berharga bagi para peminat musik, terlebih yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai genre musik ini. Dalam buku ini diuraikan secara sangat rinci berbagai hal yang berhubungan dengan keberadaan musik Neo Klasik Metal. Berbagai teknik komposisi dan teknik bermain musik Neo Klasik Metal dijelaskan secara sangat jelas dalam buku ini. Usaha R.A. Dinar Sri Hartati, pantas diapresiasi. Buku yang padat informasi tentang musik Neo Klasik Metal ini patut dan penting untuk dibaca, baik bagi peminat musik Pop, mahasiswa dan para pencinta musik secara umum. Buku ini dapat menjadi salah satu bahan atau referensi bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah perkembangan musik secara umum. Buku ini dibagi dalam dua volume yakni: volume I berbicara tentang periodisasi perkembangan musik, di mana di dalamnya dapat dilihat posisi musik Neo Klasik Metal dan dalam volume II berisi struktur musikal musik Neo Klasik Metal
Promoting growth in Sri Lanka : lessons from East Asia
Sri Lanka's weak economic performance, although compounded by the civil war and budgetary imbalance, largely reflects the following: 1) a stop-and-go pattern of policy reform, because of political constraints - even though the results of reform were generally positive; 2) weak economic management, resulting in high inflation and a high fiscal and balance of payments deficit; 3) poor management of public spending; 4) mixed performance in exchange-rate management, with periods of substantial overvaluation; 5) financial policies that (despite recent improvements) hamper efficient financial intermediation; 6) prolonged trade protection, followed by selective trade liberalization; 7) continued distortion in agricultural policies; 8) inflexible labor markets and, despite Sri Lanka's outstanding track record on human development, problems with the quality of the labor force. To address a substantially unfinished policy agenda, Sri Lanka needs to intensify efforts to peacefully resolve civil conflict. There is also a need to squarely address its macroeconomic imbalances, involving a sharp reduction in the fiscal deficit, a cutback on public spending and redefinition of spending priorities, improvement of cost recovery for public services, and continuing to improve the management of the exchange rate. In trade policy, eliminate most quanitative restrictions, further reduce tariff protection, simplify the tariff structure, and, possibly, reform customs (to reduce leakage and abuse). Rationalize employment, exit, and bankruptcy regulations and procedures. The authors recommend improvement in communications between government and the private sector. It is necessary for the financial sector to become more competitive by legislating banking reform, giving state-owned banks more autonomy and putting private commercial banks on an equal footing with the two state banks, with the ultimate goal of privatizing the state banks, and also strengthen the supervision of banking. Also in the financial sector the authors have identified a need for privatization in insurance and pension funds to strengthen the capital market. Several aspects of the agricultural sector need to be revamped. Primarily, privatization of the estate plantations, perhaps through long-term management contracts and the gradual sale of share in assets; reduced trade protection; implementation of land reform; strengthen agricultural support; and possibly support rural financing institutions. Lastly, the authors suggest an end to government controls on hiring, firing, and wage setting as well as rationalization in civil service employment decisions.Labor Policies,Economic Theory&Research,Environmental Economics&Policies,Decentralization,Banks&Banking Reform,Banks&Banking Reform,Economic Theory&Research,Environmental Economics&Policies,Achieving Shared Growth,Inequality
Penampilan Beberapa Galur Mutan Kacang Hijau Asal Irradiasi Sinar Gamma Cobalt-60 (M3)
Performance of Several Mungbean Lines Resulted from Mutation of Co-60 Gamma Rays Irradiation. Sri Hartati, 23 pages. The objectives of the research were to evaluate the agronomic traits of the fourth generation (M3) of mungbean mutants and to get at least one potential genotype for further selection in order to achieve a new high yielding variety. He research was done in Grumosol of Joho Mojolaban, Sukoharjo.
The experimental design was completely randomized design with 12 treatments: G1/V1R0: the third generation of ‘Merpati’ with no radiation; G2/V1R1: the third generation of ‘merpati’ radiated at rate of 5 K rad; G3/ViR2: the third generation of ‘Merpati’ radiated at rate of 10 K rad; G4/V1R3: the third generation of ‘Merpati’ radiated at rate of 15 K rad; G5/V2R0: the third generation of ‘Camar’ with no radiation; G6/V2R1: the third generation of ‘Camar’ radiated at rate of 10 K rad; G7/V2R3: the third generation of ‘Camar’ radiated a rate of 15 K rad; G9/V3R0: the third generation of ‘Walet’ no with radiation; G10/V3R1: the third generation of ‘Walet’ radiated at rate of 5 K rad; G11/V3R2: the third generation of ‘Walet’ radiated at rate of 10 K rad; G12/V3R3: the third generation of ‘Walet’ radiated at rate of 15 K rad.
The research conclude that weight of 1000 seeds and weight of seed per plot from the first to the fourth generation were achieved by ‘Walet’ variety irradiated at the rate of 10 K rad; and thus, this was the potential lines for further selection program
- …
