1,721,071 research outputs found

    MEMFUNGSIKAN RUANG DI BAWAH PERMUKAAN TANAH SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK MENYELAMATKAN RUANG TERBUKA DI PUSAT KOTA SEMARANG

    Get PDF
    Permasalahan menyangkut “penggusuran” ruang terbuka kota di Semarang dengan berbagai alasan, antara lain untuk “Bangunan komersial” dsb, merupakan hal yang tidak asing di kota Semarang. Dari tahun ke tahun ruang terbuka hijau di pusat kota Semarang semakin menyusut. Beberapa fakta yang telah terjadi antara lain lenyapnya alun-alun tradisional depan masjid Agung Kauman Semarang demi pembangunan tempat perbelanjaan Ya’ik Johar, dsb. Wacana yang berkembang sekarang adalah rencana pembangunan hotel di lingkungan lapangan olahraga dan GOR Jatidiri Mugas. Sementara di beberapa daerah lain: Usaha memfungsikan ruang di bawah ruang terbuka sudah terealisir. Sebagai contoh; Pembangunan tempat perbelanjaan di bawah terminal bus-way Blok M Jakarta. Pembangunan sarana perbelanjaan di bawah lapangan Karebosi Makassar yang saat ini masih dalam taraf ‘’Under Construction”. Bahkan pada tahun 1996 sudah ada disain pembangunan sarana perbelanjaan dan parkir di bawah lapangan simpang lima, karena terjadi krisis moneter rencana itu hingga kini tak terdengar lagi. Konsep pembangunan di bawah permukaan tanah merupakan salah satu alternativ untuk mempertahankan ruang terbuka termasuk ruang terbuka hijau. Karena, meskipun pada bagian bawah dipergunakan untuk bangunan bagian permukaan atas tetap dapat dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau sebagai upaya untuk menjamin terlaksananya proses ekologie dsb. Pembangunan di bawah permukaan tanah pada ruang terbuka di Semarang tentu harus memperhatikan perencanaan yang sesuai dengan ikim tropis lembab. Penerapan teknologi infrastruktur untuk menghindarkan genangan air dengan menggunakan bak penampung limbah cair, pompa air, dinding kedap air harus diterapkan dengan seksama. Upaya lain yang perlu diperhatikan adalah pemanfaatan cahaya alami dan proses pertukaran udara serta upaya untuk menghindarkan akumulasi panas dan kelembaban dalam ruangan dibawah permukaan tanah tersebut harus pula diperhatikan dengan baik

    UNSUR ESTETIKA PRASARANA KOTA DI TEPI SUNGAI BATANGHARI JAMBI

    Get PDF
    Penataan prasarana kota di tepi sungai Batanghari Jambi sangatlah penting karena sangat mempengaruhi performance kota. Sehingga kawasan sepanjang tepian sungai harus ditata dengan memperhatikan unsur estetika. Mengingat saat ini kondisi kawasan tepi sungai Batanghari masih nampak kumuh tidak teratur. Dengan memperhatikan kaidah perencanaan river front city diharapkan kawasan sungai Batanghari dapat berperan sebagai kebanggaan kota Jambi. Penataan dan pengembangan kawasan tepian sungai Batanghari tidak harus mengutamakan pertimbangan fihak tertentu saja, tetapi juga memperhatikan pelayanan kepada masyarakat kota dengan mengutamakan pengadaan open space / public space. Dalam arti kawasan tepian sungai dapat digunakan oleh masyarakat untuk aktifitas rekreasi dan aktifitas yang berkaitan dengan angkutan air. Aktifitas yang ada harus berorientasi terhadap keleluasaan pandangan ke sungai dan dapat meningkatkan citra budaya setempat. Prasarana lingkungan utama untuk kawasan tepi sungai antara lain dermaga yang berfungsi sebagai penghubung antara moda angkutan darat dan moda angkutan air, serta taman yang dapat mengurangi dominasi pembangunan gedung di daerah bantaran sungai. Kata Kunci : Estetika, prasarana Kota, Tepian Sunga

    Kenyamanan dan Keamanan Bangunan ditinjau dari kondisi tapak, bahan dan utilitas

    Get PDF
    Pertimbangan atau pemikiran tentang strategi untuk kenyamanan dan keamanan bangunan harus mulai dilakukan sejak proses awal perencanaan dan perancangan. Permasalahan yang ditimbulkan oleh suatu bangunan dapat memberikan dampak pada lingkungan sekitarnya. Sebenarnya Pemerintah Pusat/Daerah melalul Institusi yang berkaitan dengan masalah bangunan telah memiliki berbagai peraturan untuk mengantisipasi masalah kenyamanan dan keselamatan bangunan. Namun dalam proses perencanaan dan perancangan suatu bangunan kecermatan dan kesadaran untuk mematuhi serta mengakomodasikan peraturan tersebut sering kali belum dilaksanakan dengan sadar dan konsekuen. Sehingga banyak dijumpai kasus yang memprihatirikan pada masa pasca konstruksi. Dengan demikian apabila proses perencanaan dan perancangan dilaksanakan secara komprehensif maka berbagai aspek harus dipertimbangkan, antara lain: Analisis kondisi tapak, berbagai peraturan yang berkaitan dengan site plan, pemilihan bahan bangunan, pertimbangan penerapan utilitas bangunan dsb. Pembahasan terhadap aspek yang harus dilakukan secara multi disiplin agar didapat suatu konsep dan strategi yang akurat dan optima

    THE POSITIVE IMPACT OF WALKUP FLAT BUILDING TO IMPROVE THE QUALITY OF SLUM AREA

    Get PDF
    Upon the developed country with high people population growth and low economic level, at several big cities such as Semarang and Makassar, slum areas could be discovered. Several inconvenient problems can cause fire and flood hazard. Those problems emerge because of the lack of environmental infrastructure and the social - economic condition. The theory of infrastructure explains that there is an interactive relationship between physical, social and economical development. Therefore, the developing of social and economical condition can be done by physical development such as environmental infrastructure. Due to the direct field observation in several low-prize flat building for low-income societies, which have been built closed to slum area, such as in Marisso Makassar, and Sawah Besar Semarang. One can get awareness to investigate, whether the building of walkup flat closed to slum area, can give the significant positive impact and stimulate the improvement and the enhancement of the quality of slum area or not, and how far those positive impacts will be. Even though staying in the walkup flat is the new experience for the Indonesian people, more and more people can complete the adaptation. Compared to staying in the slum area, there are many advantages, such as the certainty of the healthiness, fire hazard avoiding, and flood hazard avoiding, etc. The advantage can act as positive impact for the slum area, which is closed, or surrounding the flat. In the future, it is expected that there will be a mutual interaction between walkup flat and slum area

    Pengamatan pengembangan ruang publik di tepi pantai dari beberapa kota di Pulau Sulawesi dari aspek "tropis lembab"

    Get PDF
    Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak kota yang terletak ditepi pantai. Beberapa diantaranya telah mencoba secara kreatif mengekplorasi dan mengekspresikan, potensi, keunikan kawasan pantai dalam perencanaan dan perancangan ruang terbuka publik yang sesuai dengan karakteristik iklim tropis lembab. Usaha tersebut, bisa dilihat antara lain di kawasan pantai Kamali kota Bau Bau Sulawesi Tenggara, Pantai Losari Makassar, Pantai di kota Palu dsb. Sehingga kawasan tersebut merupakan magnet yang dapat menarik perhatian masyarakat untuk datang dan melaksanakan berbagai aktivitas rekreasi. Kawasan pantai tersebut sekaligus menjadi Landmark kota. Namun pada sebagian kota lain di Indonesia potensi kawasan pantai di perkotaan belum di ekplorasi dengan maksimal. Sehingga perlu adanya pengungkapan strategi khusus untuk mengembangkan kawasan pantai sebagai ruang terbuka publik sesuai dengan potensi fisik, sosial, ekonomi serta kondisi iklim tropis lembab. Usaha yang dapat dilakukan antara lain melaksanakan analisis kawasan secara komprehensif, mengembangkan infrastructur yang memadai, mensinergikan elemen landskap baik soft maupun hard material, mengangkat nilai nilai kearifan lokal. Nilai nilai kearifan lokal dapat berupa karakteristik arsitektur setempat, tradisi masyarakat dalam mengantisipasi permasalahan dan memanfaatkan potensi iklim tropis lembab. yang dapat di ekspresikan sebagai citra kawasan. Realisasi perencanaan dan perancangan ruang publik secara ekspresif dan kreatif di daerah pantai dapat memberikan kontribusi yang sangat positif bagi perwujudan kota tropis yang asri

    The Wisdom Of Traditional Architecture In Indonesia To Anticipate The Problem Of The Thermal Comfort Inside The Building

    Get PDF
    Traditional building in some places in Indonesia such as Batak, Toraja, Timor, Papua, had already adapted with the nature and environment through trial and error process in the long period. Due to the various cultural factors, the performance of the building Architecture are different. Even though the performance of building architecture are different, every traditional building has similarity to create the thermal comfort of the building. For example the way of using material, natural ventilation, solar radiation protection, etc. In the design process of vernacular or modern Architecture. The wisdom traditional architecture to create the thermal comfort of the building can be used as a referency. That’s mean we are not only depend on the mechanical air condition, but we have to pay more attention to the use of natural system, due to energy saving. Therefore, we can hope that the use of traditional architecture in this decade does not only implement in the use of architectural performance or the ornament. But also in the application of the wisdom traditional architecture it self to create the thermal comfort inside of the building

    The Acoustical Properties of The Polyurethane Concrete Made of Oyster Shell Waste Comparing Other Concretes as Architectural Design Components

    Get PDF
    This research aims to determine the acoustical properties of concrete material made of polyurethane and oyster shell waste as both fine aggregate and coarse aggregate comparing to other concrete mortar. Architecture needs aesthetics materials, so the innovation in architectural material should be driven through the efforts of research on materials for building designs. The DOE methods was used by mixing cement, oyster shell, sands, and polyurethane by composition of 160 ml:40 ml:100 ml: 120 ml respectively. Refer to the results of previous research, then cement consumption is reduced up to 20% to keep the concept of green material. This study compared three different compositions of mortars, namely portland cement concrete with gravel (PCG), polyurethane concrete of oyster shell (PCO) and concrete with plastics aggregate (PCP). The methods of acoustical tests were conducted refer to the ASTM E413-04 standard. The research results showed that polyurethane concrete with oyster shell waste aggregate has absorption coefficient 0.52 and STL 63 dB and has a more beautiful appearance when it was pressed into moulding. It can be concluded that polyurethane concrete with oyster shell aggregate (PCO) is well implemented in architectural acoustics-components

    PERANCANGAN PUSAT PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN INDIVIDU AUTIS DI BERBASIS LINGKUNGAN ARSITEKTUR MULTISENSORI DI KOTA SEMARANG

    Get PDF
    Abstract: In the city of Semarang, there are many therapy facilities for autistic individuals that are part of a central health facility such as a hospital or are located in a single building, but the author considers the infrastructure to be less than representative. Also with the characteristics of the rooms provided, which often causes clients to be less focused on the material and less relaxed. The aim of this research is to obtain a conclusion about how the influence of multisensory architecture-based design is able to optimize therapy activities and development of autistic individuals. The theoretical basis used is multisensory architectural design and other aspects related to this. The research method used is through data collection in the form of literature studies through previous sources and precedent studies, design approaches, data analysis, then the entire method is formulated into a design synthesis which will become the design concept. The design concept consists of three parts, namely, land design concept, architectural design and landscape design. The principle of multisensory architectural design which is realized in an environment/built area in one location, which is supported by aspects of inclusivity, is the basic basis for building design which accommodates various kinds of activities for autistic individuals.Keyword : Autism, Multisensory Architecture, TherapyAbstrak: Di Kota Semarang, banyak dijumpai fasilitas terapi individu autis yang menjadi satu bagian dengan pusat fasilitas kesehatan seperti rumah sakit maupun berada pada bangunan tunggal, namun secara prasarana penulis anggap kurang representatif. Juga dengan karakteristik ruangan-ruangan yang disediakan, yang tidak jarang menyebabkan klien kurang fokus terhadap materi dan kurang rileks. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan suatu kesimpulan bagaimana pengaruh perancangan berbasis arsitektur multisensori, mampu mengoptimalkan kegiatan terapi dan pengembangan individu autis. Landasan teori yang digunakan adalah perancangan arsitektur multisensori dan aspek lainnya yang berkaitan dengan hal tersebut. Metode penelitian yang digunakan yaitu melalui pengumpulan data berupa kajian literatur melalui sumber – sumber terdahulu maupun studi preseden , pendekatan desain, analisa data, yang kemudian keseluruhan metode tersebut dirumuskan menjadi suatu sintesa desain yang akan menjadi konsep perancangan. Konsep desain terdiri dari tiga bagian yaitu, konsep perancangan lahan, perancangan arsitektur dan perancangan lansekap. Prinsip perancangan arsitektur multisensori yang diwujudkan dalam suatu lingkungan / Kawasan binaan dalam satu lokasi, yang ditunjang dengan aspek inklusivitas menjadi landasan dasar desain bangunan yang didalamnya mengakomodir berbagai macam kegiatan bagi individu autis.Kata Kunci : Autisme, Arsitektur Multisensori, Terap
    corecore