1,720,987 research outputs found

    Pengaruh Kebisingan Terhadap Tingkat Konsentrasi Pada Pekerja Pemotongan Kayu di Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember

    No full text
    Gangguan pada konsentrasi pekerja menyebabkan menurunnya kemampuan pekerja dalam memusatkan perhatian pada pekerjaan yang dilakukan sehingga dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Salah satu faktor fisik penyebab gangguan konsentrasi adalah kebisingan. Kebisingan juga terdapat di area kerja industri. Salah satu industri yang memilki intensitas kebisingan yang tinggi adalah industri pemotongan kayu. Salah satu industri pemotongan kayu di Kabupaten Jember terletak di wilayah Kecamatan Arjasa. Kecamatan Arjasa memiliki wilayah hutan produksi sehingga industri pemotongan kayu untuk dijadikan bahan baku pembuatan plywood cukup berkembang di wilayah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kebisingan terhadap tingkat konsentrasi pada pekerja pemotongan kayu di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Maret 2019 di 3 pabrik pemotongan kayu Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Besar sampel ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dan didapatkan 32 responden. Hasil penelitian menunjukkan responden berusia antara 20-45 tahun dan telah bekerja selama 1-5 tahun. Responden masih dalam kategori usia produktif. Usia produktif menjadi pertimbangan pihak pabrik dalam memberikan beban kerja karena pekerjaan pemotongan kayu memerlukan tenaga dan kondisi kesehatan pekerja yang baik. Responden juga telah bekerja dalam masa kerja yang cukup lama sehingga responden telah cukup lama terpapar dengan kondisi lingkungan dalam pabrik terutama faktor kebisingan. Pengukuran intensitas kebisingan pada pabrik pemotongan kayu menggunakan alat sound level meter (SLM). Hasil pengukuran didapatkan rerata intensitas kebisingan dari 3 pabrik pemotongan kayu untuk area pemotongan kayu sebesar 97,5 dB(A). Intensitas kebisingan pada area pemotongan kayu lebih dari Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan dalam lingkungan kerja industri yang telah ditetapkan sebesar 85 dB(A). Rerata kebisingan pada area bongkar muat sebesar 76,2 dB(A) sehingga intensitas kebisingan pada area bongkar muat kurang dari NAB. Sumber utama kebisingan pada pabrik pemotongan kayu berasal dari mesin gergaji. Tingkat konsentrasi dinilai menggunakan Trail Making Test A (TMT A) dan Trai Making Test B (TMT B) yang dinilai ketika responden telah bekerja selama 30 menit sesuai sektor kerja responden. Hasil penilaian tingkat konsentrasi didapatkan rerata TMT B:TMT A pada kelompok pekerja pemotong kayu sebesar 1,89 detik sedangkan untuk kelompok pekerja area bongkar muat sebesar 1,28 detik. Tingkat konsentrasi pada kelompok pekerja area bongkar muat lebih baik dibandingkan dengan kelompok pekerja area pemotongan kayu karena pekerja area pemotongan kayu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengerjakan TMT A dan TMT dibandingkan pekerja area bongkar muat. Waktu pengerjaan berkaitan dengan proses konsentrasi baik dari proses penerimaan dan pengolahan informasi di dalam thalamus. Uji statistik menggunakan indepent t test menunjukkan adanya pengaruh kebisingan terhadap tingkat konsentrasi pada pekerja pemotongan kayu di Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Penurunan tingkat konsentrasi akibat bising dapat diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu intensitas kebisingan, usia, masa kerja, riwayat kesehatan, dan adanya faktor stress akibat bising yang akan mempengaruhi proses konsentrasi pekerja

    Hubungan Posisi Kerja Mencangkul Terhadap Kejadian Low Back Pain Pada Petani Di Desa Sukowono, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember

    No full text
    Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan desain penelitian case control. Penelitian dilakukan di Desa Sukowono, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember pada bulan Desember 2018. Populasi dari penelitian adalah petani yang ada di Desa Sukowono yang berjumlah 1598 petani dengan sampel penelitian sebanyak 90 orang yang digambarkan melalui aplikasi Gpower 3.1.9.2 . Teknik pengambilan sampel yaitu menggunakan teknik non random convenience sampling. Penelitian ini memiliki beberapa variabel, diantaranya yaitu variabel bebas berupa posisi kerja pada petani dan variabel terikat berupa low back pain. Penelitian ini menggunakan uji Chi-Square Test dan hasil nya akan dianalisis menggunakan software analisis statistik. Pengamatan posisi kerja dilakukan pada kelompok kasus dan kelompok kontrol dan didapatkan hasil bahwa seluruh petani tidak ada yang menggunakan posisi ergonomis dan dibagi menjadi beberapa tingkat yaitu ringan, sedang dan berat. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara posisi kerja mencangkul dan kejadian LBP. Nilai X2 hitung atau nilai Pearson Chi-Square Test adalah sebesar 28.526a dan Asymp. Sig. (2-sided) memiliki nilai 0.000. Dalam pengambilan keputusan nilai chi-square test dapat melihat pada tabel Asymp. Sig. (2-sided) dengan batas kritis yakni 0,05. Oleh karena 0.000 < 0.05 maka terdapat pengaruh yang signifikan antara posisi kerja terhadap kejadian LBP

    Pengaruh Waktu Pemulihan Setelah Pertandingan Terhadap Daya Ledak Otot Tungkai Pada Atlet Sepakbola

    No full text
    Olahraga telah menjadi salah satu bidang yang populer di kalangan masyarakat saat ini. Lingkup olahraga tidak hanya sebagai sarana meningkatkan kebugaran, juga sebagai sarana untuk meningkatkan prestasi melalui kompetisi, baik kompetisi nasional maupun internasional. Salah satu bentuk olahraga prestasi yang banyak diminati adalah olahraga sepakbola. Dalam skala internasional dan nasional, hampir semua klub sepakbola mengikuti beberapa kompetisi dalam satu waktu, sehingga jarak antar pertandingan yang harus dijalani klub menjadi dekat. Selain itu, klub-klub sepakbola juga melakukan latihan rutin dan uji coba dengan tim-tim lain sebagai persiapan dalam menghadapi kompetisi untuk meningkatkan kemampuan setiap atletnya. Hal ini mengakibatkan jadwal latihan dan pertandingan bagi para atlet menjadi sangat padat, sehingga waktu pemulihan menjadi singkat. Waktu pemulihan yang cukup singkat ini dapat menyebabkan kelelahan bagi atlet. Menurut Bengtsson et al (2017), waktu pemulihan <3 hari meningkatkan resiko cedera 18-22% dibandingkan dengan waktu pemulihan ≥5 hari. Kelelahan pasca pertandingan diakibatkan oleh beberapa hal, yakni dehidrasi, deplesi glikogen, kerusakan otot, dan kelelahan mental. Salah satu dampak yang dapat mempengaruhi performa atlet adalah deplesi glikogen karena glikogen yang merupakan sumber energi utama bagi otot dan hal ini akan mempengaruhi kekuatan otot yang merupakan faktor yang mempengaruhi daya ledak otot

    Pengaruh Paparan Kebisingan Kronis Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Pekerja Pemotongan Kayu Di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember

    No full text
    Kebisingan merupakan salah satu permasalahan yang terjadi pada para pekerja. Sekitar 80% kebisingan bersumber dari penggunaan mesin pada aktivitas industri. Dampak negatif kesehatan yang ditimbulkan akibat kebisingan dibagi menjadi dua, yaitu dampak auditori dan nonauditori. Kebisingan dapat merusak selsel sensori pendengaran di koklea yang menimbulkan terjadinya Noise Induced Hearing Loss (NIHL). Kebisingan juga dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Kebisingan sebagai stressor dapat menstimulasi saraf simpatis dan mengaktivasi hipotalamus pituitari adrenal (HPA) serta meningkatkan hormon stres, yaitu kortisol. Peningkatan kortisol ini dapat meningkatkan pembentukan glukosa melalui proses glukoneogenesis. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain studi cross sectional. Penelitian dilakukan pada pekerja pemotongan kayu di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember pada bulan Desember 2018-Januari 2019. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi: (1) diizinkan oleh pemilik usaha dagang untuk menjadi responden, (2) bersedia menjadi responden dengan menandatangani lembar inform consent, (3) berjenis kelamin laki-laki dalam keadaan sehat, (4) mempunyai masa kerja ≥ 1 tahun, (5) berusia 18-45 tahun, (6) memiliki Body Mass Index (BMI) normal, yaitu 18,5 – 24,9 kg/m2 , (7) bekerja pada shift pagi, (8) pekerja tidak terpapar matahari secara langsung, (9) memiliki pola makan yang sesuai dengan angka kecukupan energi; dan kriteria eksklusi: (1) mengkonsumsi alkohol dalam kurun waktu satu bulan terakhir, (2) memiliki riwayat diabetes melitus, (3) memiliki riwayat keluarga diabetes melitus, (4) memiliki riwayat penyakit jantung, (5) memiliki riwayat hipertensi, (6) memiliki riwayat pankreatitis. Pengukuran intensitas kebisingan menggunakan alat V&A VA8080 sound level meter dan pengukuran glukosa darah menggunakan alat blood glucose meter merk On Call Plus. Analisis data menggunakan uji Statistical Package for Social Science (SPSS). Uji normalitas data menggunakan Shapiro-Wilk dan uji komparasi menggunakan independent t test dengan nilai p < 0,05. Penelitian ini memperoleh sampel sebanyak 34 orang. Sebagian besar responden berusia 25-39 tahun (79,4%) dan bekerja selama lebih dari 2 tahun sejumlah 58,8%. Intensitas kebisingan pada usaha dagang pengolahan kayu melebihi nilai ambang batas kebisingan yaitu 97,5 dB(A). Sebagian besar responden memiliki pola makan dengan asupan energi dalam kriteria kurang (91,3%). Rerata kadar glukosa darah puasa pada kelompok bising (106 mg/dl) lebih tinggi daripada kelompok tidak bising (73 mg/dl). Hasil analisis data independent t test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata kadar glukosa darah puasa yang bermakna antara kelompok yang terpapar bising dan kelompok yang tidak bising (p=0,000). Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh paparan kebisingan kronis terhadap kadar glukosa darah pada pekerja pemotongan kayu di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember

    Hubungan Faktor Keluarga dan Rumah Tangga dengan Kejadian Stunting pada Balita di Tiga Desa Wilayah Kerja Puskesmas Sumberbaru Jember

    No full text
    Stunting ialah kondisi panjang atau tinggi badan anak menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (World Health OrganizationMulticentre Growth Reference Study) nilai z-scorenya kurang dari -2SD. Stunting pada anak dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia dimasa mendatang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan faktor keluarga dan rumah tangga dengan kejadian stunting (khusunya faktor jenis kelamin balita, usia balita, pendidikan ayah, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, jumlah anak, jarak kelahiran, pendapatan keluarga, dan tinggi badan ibu) serta mengetahui faktor yang paling berpengaruh pada balita di tiga desa wilayah kerja Puskesmas Sumberbaru Jember. Penelitian analitik observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional dilakukan di Poli Gizi Puskesmas Sumberbaru Jember untuk mendapatkan data hasil operasi timbang Puskesmas Sumberbaru tahun 2018 dan di rumah masing-masing responden untuk pengambilan data pada bulan November hingga Desember 2018. Populasi penelitian ini ialah balita yang berada di tiga desa wilayah kerja Puskesmas Sumberbaru Jember dan tercatat dalam operasi timbang bulan Februari tahun 2018 yaitu sebanyak 2.249 balita. Besar sampel dihitung mengunakan Rumus Lemeshow yaitu sebanyak 130 responden dengan rincian 65 stunting dan 65 non stunting yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel mengunakan teknik non probability sampling dengan metode teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terpimpin dengan ibu subyek penelitian dan mengukuran tinggi badan balita dan ibu dengan menggunakan midline. Analisis data bivariat menggunakan chi square test dan analisis data multivariat menggunakan metode regresi logistik berganda (binary logistic regression) dengan interval kepercayaan (IK) 95% (p<0,05). Hasil analisis bivariat penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin balita (p=0,013; OR=0,409) yaitu laki-laki, jumlah anak (p=0,033; OR=2,570) yaitu >2, pendapatan keluarga (p=0,023; OR=2,429) yaitu pendapatan keluarga dibawah UMK Jember, dan tinggi badan ibu (p=0,002; OR=3,667) yaitu <147 cm. Fakto lainnya seperti usia balita (p=0,247; OR=1,567), pendidikan ayah (p=0,128; OR=2,226), pendidikan ibu (p=0,784; OR=0,860), status pekerjaan ibu (p=0,833; OR=1,093), dan jarak kelahiran (p=0,463; OR=1,310) menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor keluarga dan rumah tangga yang terbukti mempengaruh kejadian stunting yaitu tinggi badan ibu <147cm (p=0,007; OR=3,345), pendapatan keluarga di bawah UMK Jember (p=0,045; OR=2,344), dan jenis kelamin balita laki-laki (p=0,044; OR=0,456). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan kejadian stunting pada balita di tiga desa wilayah kerja Puskesmas Sumberbaru Jember dipengaruhi secara langsung oleh tinggi badan ibu <147cm, pendapatan keluarga di bawah UMK Jember, dan jenis kelamin balita laki-laki. Sedangkan faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung yaitu jumlah anak >2. Faktor-faktor yang tidak mempengaruhi yaitu usia balita, pendidikan ayah, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan jarak kelahiran. Tinggi badan ibu <147cm merupakan faktor yang paling mempengaruhi kejadian stunting dengan risiko sebesar 3,345 kali. Pendapatan keluarga di bawah UMK Jember berisiko 2,344 kali memiliki anak stunting. Sedangkan jenis kelamin balita laki-laki merupakan faktor pendukung dengan risiko sebesar 0,456 kali

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore