1,720,981 research outputs found

    Pengembangan Bisnis Jasa Kursus Make Up Artist Dengan Pendekatan Business Model Canvas

    No full text
    Bisnis di bidang make up artist (MUA) tidak hanya menawarkan jasa tata rias wajah, namun menawarkan jasa kursus MUA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi business model canvas (BMC), memberikan strategi dan mendesain perbaikan BMC yang dapat digunakan dalam mengembangkan bisnis jasa kursus MUA di Ziamakeup. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kaulitatif yaitu riset deskriptif. Purposive sampling merupakan teknik penentuan responden pada penelitian ini. Jenis data pada penelitian yaitu data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui wawancara. Metode analisis yang digunakan yaitu BMC dan SWOT. Hasil peneltian menunjukkan bahwa perbaikan BMC pada Ziamakeup adalah memperluas segmen pasar, menciptakan proposisi nilai yang dibutuhkan pelanggan, memperluas saluran pemasaran, membangun long term relationship, memaksimalkan aktivitas dalam sebuah kegiatan MUA, menambahkan sumber daya manusia untuk memaksimalkan kinerja, memperluas relasi dalam komunitas, meningkatkan arus pendapatan dengan penjualan dan kegiatan, serta biaya kegiatan dan sumber daya manusia untuk meningkatkan kualitas

    Marketing analysis of pondoh snakefruit in Wonokerto village, subdistrict Turi, Sleman regency

    No full text
    Salak Pondoh adalah salah satu buah yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Harga Salak Pondoh yang fluktuatif dan terdapat perbedaan harga yang tinggi antara petani dengan konsumen menyebabkan rendahnya perolehan yang diterima petani. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) menganalisis lembaga, fungsi dan saluran tataniaga dan 2) menganalisis efisiensi sistem tataniaga Salak Pondoh melalui pendekatan marjin tataniaga, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya. Observasi dan wawancara dilakukan kepada 35 petani dan 12 lembaga tataniaga dengan metode snowball sampling. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif.Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui lembaga, fungsi dan saluran tataniaga Salak Pondoh di Desa Wonokerto, sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk menghitung marjin tataniaga, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 saluran tataniaga Salak Pondoh yang ada di Desa Wonokerto yang menjalankan fungsi yang berbeda-beda. Saluran III relatif efisien dibandingkan saluran lainnya. Saluran ini merupakan saluran terpendek yang hanya melibatkan pedagang pengecer sebagai lembaga tataniaga dengan harga jual di tingkat petani sebesar Rp 5750 per kg, marjin tataniaga sebesar Rp 3500 per kg, farmer’s share tertinggi sebesar 76.67% dan rasio keuntungan terhadap biaya sebesar 1.40.Pondoh snakefruit is one of the fruit products that has a great economic value. The fluctuating price of Pondoh snakefruit and the high price difference at the farmers and end consumers cause low price that farmer’s receive. The purposes of the research are : 1) to analyse the institution, function and marketing distribution, and 2) to analyse the efficiency of Pondoh snakefruit with the approach of marketing margin, farmer’s share and benefit cost ratio. The interview and observation were conducted with 35 farmers and 12 institutions with snowball sampling methods. Data analyse method used in the research are qualitative and quantitative analysis. Qualitative analysis is used to know the institution, function and marketing distribution of Pondoh snakefruit in Wonokerto Village, while quantitative analysis is used to measure marketing margin, farmer’s share and benefit cost ratio. Result of the research shows that there are five channels of Pondoh snakefruit marketing distribution at Wonokerto Village that run different functions. Third channel is relatively more efficient than other channels. This channel is the shortest channel that involves only retailer as a marketing distribution with selling price on farmer’s level at Rp 5 750 per kg, marketing margin at Rp 3 500 per kg, highest farmer’s share at 76.67% and benefit to cost ratio at 1.40

    Strategi Kebijkan Subsidi Pupuk terhadap Pendapatan Petani

    No full text
    Pupuk merupakan salah satu input pertanian yang sangat esensial dalam proses produksi pertanian. Ketiadaan pupuk dalam usahatani dapat menyebabkan produktivitas hasil produksi menjadi kurang optimal. Tanpa pupuk, penggunaan input lainnya, seperti benih unggul, air, dan tenaga kerja hanya akan memberikan manfaat yang kecil sehingga produktivitas pertanian dan pendapatan petani rendah. Dengan begitu, kebijakan subsidi pupuk melalui mekanisme Harga Eceran Tertinggi (HET) menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan yang didekati menggunakan Nilai Tukar Petani (NTP) dari dua komoditas tersebut. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi kebijakan dalam penerapan subsidi pupuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuadrat terkecil atau Ordinary Least Square (OLS) untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani. Analisis SWOT dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan strategi kebijakan dalam penerapan subsidi pupuk. Hasil penelitian menujukkan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani kedua komoditas tersebut adalah harga pupuk bersubsidi, harga output, dan upah buruhtani. Sementara, kebijakan yang diprioritaskan pada penelitian ini adalah memperbaharui data kebutuhan pupuk bersubsidi secara berkala

    Economic cost and benefit analysis of forest land conversion to coal mining. (case study: wiup ptba bukit munggu, tanjung enim district, muara enim regency, south sumatra province)

    No full text
    Batubara adalah salah satu sumberdaya alam yang masih sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Konsumsi batubara Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan sekitar 13.4 persen per tahun (BPPT, 2013). Hal tersebut berdampak pada produksi batubara nasional yang terus meningkat, sehingga menuntut adanya perluasan areal pertambangan batubara. Salah satu wilayah yang akan menjadi perluasan areal pertambangan batubara adalah kawasan hutan Bukit Munggu, Kelurahan Tanjung Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Namun, perluasan areal pertambangan batubara harus mengorbankan beberapa nilai lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi manfaat dan biaya pertambangan batubara, mengestimasi nilai ekonomi sumberdaya kawasan hutan Bukit Munggu, dan menganalisis biaya dan manfaat ekonomi rencana kegiatan konversi kawasan hutan Bukit Munggu menjadi pertambangan batubara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah valuasi nilai ekonomi kawasan hutan menggunakan Contingen Valuation Method (CVM) dan analisis market value serta metode analisis market value untuk pertambangan batubara, sedangkan untuk analisis biaya dan manfaat ekonomi kegiatan konversi menggunakan B/C rasio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manfaat yang dapat dihasilkan dari produksi batubara di kawasan hutan Bukit Munggu adalah sekitar empat triliun rupiah per tahun, biaya untuk pertambangan batubara adalah sekitar satu triliun rupiah per tahun, dan Total Economic Value (TEV) sebagai opportunity cost adalah sekitar seratus tujuh puluh ribu triliun rupiah per tahun. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan B/C rasio dari kegiatan konversi adalah < 1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa konversi lahan kawasan hutan Bukit Munggu menjadi pertambangan batubara perlu dipertimbangkan kembali.Coal is one of natural resources that is still needed to meet the need of national energy. The consumption of Indonesian coal increases about 13.4 persen every year (BPPT, 2013). This influeces the production of national coal which keeps increasing so that this requires the extension of coal mining area. One of the areas that will be become the coal mining area extension are Bukit Munggu forest area, Tanjung Enim District, South Sumatra Province. However, this extension must sacrifice some environmental value. This research aimed to estimate the cost and benefit of coal mining, to estimate the economic value of Bukit Munggu forest resources, and to analyze the economic cost and benefit of plan to change the function of Bukit Munggu forest to coal mining. The method used in this research was valuation of economic value of forest area using Contingen Valuation Method (CVM) and market value analysis and the method of market value analysis for coal mining. Whereas the analysis of economic cost and benefit of conversion activity used B/C ratio. The results showed that the benefit yielded from the coal production in Bukit Munggu forest area was about four trillion rupiah per year, cost for coal mining was about one trillion rupiah per year, and total economic value (TEV) as the opportunity cost was about one hundred seventy thusand trillion rupiah per year. Based on the calculation result, B/C ratio obtained from conversion activity was < 1. The result showed that the land conversion of Bukit Munggu forest area to coal mining should be reconsidered

    Analisis Pendapatan dan Kelayakan Usahatani Sawah Apung di Desa Ciganjeng Kecamatan Padaherang Pangandaran Jawa Barat

    No full text
    Pangan merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia memiliki dampak terhadap meningkatnya permintaan kebutuhan pangan seperti beras. Seiring laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang cukup tinggi menyebabkan lahan pertanian banyak yang dialih fungsikan menjadi pemukiman. Berkurangnya luas areal panen di Kecamatan Padaherang tiap tahunnya diperparah dengan beberapa daerah selalu terendam banjir setiap tahunnya yang menyebabkan produksi padi terus menurun. Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang menggunakan metode sawah apung dalam memanfaatkan lahan persawahan yang terendam banjir. Hal ini didukung oleh adanya kelompok tani Taruna Tani Mekar Bayu yang bekerja sama dengan Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usahatani sawah apung, membandingkan pendapatan sawah apung dan sawah konvensional di Desa Ciganjeng. Metode yang digunakan dalam penelitian ini pada aspek finansial menggunakan Net Present Value (NPV) , Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period. Perbandingan pendapatan menggunakan R/C rasio. Hasil perhitungan kelayakan investasi sawah apung didapatkan hasil NPV sebesar Rp 2.074.740 yang menunjukkan bahwa penanaman investasi pada sawah apung akan memberikan keuntungan. Perbandingan pendapatan pada sawah apung atas biaya total bernilai 1,05 dan menguntungkan jika dijalankan, sedangkan pendapatan pada sawah konvensional atas biaya total bernilai 1,69 dan menguntungkan. Usahatani sawah apung lebih layak dan menguntungkan untuk dijalankan apabila output yang dihasilkan tidak hanya sampai gabah kering melainkan sampai beras organik

    Analisis Volatilitas Harga Cabai Merah besar di Pasar Induk Kramat Jati.

    No full text
    Cabai merah besar diproduksi oleh hampir seluruh provinsi di Indonesia, menurut data Produksi Cabai Merah Besar di setiap provinsi di Indonesia dari Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta tidak mampu menghasilkan cabai merah besar di wilayahnya sendiri. Provinsi DKI Jakarta memasok cabai merah besar dari beberapa daerah sentra penghasil. Lokasi pertama di DKI Jakarta yang menjadi pemasok cabai merah besar dengan jumlah yang besar setiap harinya dan menjadi pusat belanja para pedagang ecer adalah Pasar Induk Kramat Jati. Harga cabai merah besar cenderung berfluktuasi akibat persediaan yang tidak menentu dan permintaan yang bergantung dari konsumen pedagang ecer. Dengan demikian, tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis nilai volatilitas harga cabai merah besar di tingkat pedagang ecer serta melihat keterkaitan pasar antara pasar induk dengan pasar ecer. Periode analisis yang digunakan sejak tahun 2014- 2017 dengan menggunakan data harga mingguan serta menggunakan model Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH) dan Generalized Autoregressive Conditional Heteroscedasticity(GARCH) dan model Vector Error Correction Model(VECM). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa volatilitas harga cabai merah besar bervariasi antar waktu (time varying) dan terdapat keterkaitan jangka panjang antara harga di Pasar Induk Kramat Jati dan keempat pasar ecer yang dijadikan sampel oleh Kementerian Perdagangan

    Dampak belanja daerah di sektor pertanian terhadap perekonomian Wilayah Kota Bogor

    No full text
    Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Jawa Barat. Sektor pertanian masih memegang peranan strategis sebagai sektor yang terbanyak menyerap tenaga kerja dan memberikan kontribusi PDRB di Jawa Barat seperti halnya di Kota Bogor. Sektor pertanian merupakan sektor primer yang berperan pening dalam mewujudkan visi Kota Bogor sebagai “ Kota Perdagangan dengan Sumberdaya Manusia yang Produktif dan Pelayanan Prima”. Kontribusi sektor pertanian di Kota Bogor dapat ditingkatkan dengan adanya dukungan kebijakan , termasuk dalam kebijakan anggaran untuk pelaksaan program pembangunan di Kota Bogor. APBD berperan sebagai pendorong dan salah satu penentu tercapainya target dan sasaran makro ekonomi daerah Sektor pertanian dapat menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan kontribusi PDRB, namun saat ini ironisnya lahan pertanian Kota Bogor selalu menyusut setiap tahunnya. Alih fungsi lahan terjadi karena petani tidak memiiliki insentif untuk tetap mempertahankan lahannya dan tetap bertahan pada sektor pertanian. APBD di sektor pertanian sangat berperan dalam pembangunan pertanian dan menjadi insentif bagi para petani agar tetap mempertahankan lahan pertanian yang tersisa untuk menunjang perekonomian wilayah Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan menganalisis pembiayaan pertanian dalam struktur APBD, kemampuan sektor pertanian dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sektor hulu dan sektor hilirnya serta dampak belanja daerah di sektor pertanian terhadap perekonomian wilayah Kota Bogor. Metode yang digunakan adalah analisis Input-Output dengan mengguanakan program IOAP (Input Output Anlysis for Practioners) dan Microsoft Excel. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari Tabel Input-Output Kota Bogor tahun 2008, klasifikasi 28 sektor. Analisis yang dilakukan terdiri dari analisis keterkaitan, analisis multplier dan analisis dampak pengeluaran pemerintah di sektor pertanian dari APBD Kota Bogor. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat diketahui bahwa sektor pertanian dalam Tabel Input-Output Kota Bogor tahun 2008 memiliki kemampuan untuk meningkatkan permintaan output sektor lain yang yang akan dijadikan input dalam kegiatan ekonominya yang berarti bahwa sektor pertanian lebih mendorong pertumbuhan hulunya. Sektor hulu dari sektor pertanian adalah industri pupuk, mesin pertanian, bibit dan tenaga kerja. Output dari sektor pertanian habis dikonsumsi secara langsung sehingga belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sektor hilirnya. Sektor hilir sektor pertanian adalah sektor perdagangan, industri pengolahan dan sektor jasa. Berdasarkan analisis dampak pengeluaran, pengeluaran pemerintah di sektor pertanian sebesar Rp 11.67 milyar yang berasal dari APBD tahun 2012, injeksi anggaran di sektor pertanian akan berdampak besar pada sektor perdagangan, industri pengolahan dan jasa yang merupakan sektor hilir dari sektor pertanian dilihat dari segi pembentukan output, tingkat pendapatan rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja. Kontribusi sektor pertanian di Kota Bogor dapat berperan dalam membangun perekonomian wilayah dan mewujudkan visi Kota Bogor sebagai ″Kota Perdagangan dengan Sumberdaya Manusia Produktif dan Pelayanan Prima“, untuk itu diharapkan sektor pertanian menjadi perhatian pemerintah Kota Bogor seperti memperhatikan rencana tata ruang wilayah dengan menetapkan peraturan mengenai lahan abadi, meningkatkan nilai produk tambah pertanian dan membantu perluasan akses permodalan, pola kemitraan dengan perusahaan swasta sekaligus memperbanyak jejaring pasar sehingga sektor pertanian tidak hanya mengandalkan dana dari pemerintah Kota Bogor

    Dampak Volatilitas Harga Komoditas Daging Ayam dan Sapi Terhadap Inflasi di Kota Bogor

    No full text
    Komoditas daging merupakan salah satu dari komoditas pangan di Kota Bogor yang sering mengalami fluktuasi harga. Komoditas daging yang sering mengalami fluktuasi harga, yaitu daging sapi, daging ayam broiler, dan daging ayam kampung. Fluktuasi harga pada komoditas daging dapat memengaruhi inflasi suatu daerah. Inflasi berhubungan positif dengan tingkat volatilitas harga komoditas. Pasar tradisional di Kota Bogor memberikan harga yang berbeda untuk daging sapi, daging ayam broiler, dan daging ayam kampung. Peningkatan harga daging di suatu pasar dapat memengaruhi harga daging tersebut di pasar lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis volatilitas harga ketiga komoditas daging di pasar Kota Bogor menggunakan metode ARCH-GARCH, menganalisis pengaruh volatilitas harga daging terhadap inflasi di Kota Bogor, dan menganalisis keterkaitan pasar pada harga daging di pasar Kota Bogor menggunakan metode VAR/VECM. Penelitian ini menganalisis lima pasar di Kota Bogor, yaitu Pasar Bogor, Gunung Batu, Jambu Dua, Sukasari, dan Merdeka. Periode yang digunakan adalah Januari 2016-Juni 2018. Hasil analisis volatilitas menunjukkan bahwa harga ketiga daging yang dianalisis memiliki volatilitas di Pasar Jambu Dua dan daging ayam broiler di Pasar Sukasari. Dalam jangka panjang kenaikan volatilitas harga daging sapi, daging ayam kampung di Pasar Jambu Dua, dan daging ayam broiler di Pasar Sukasari dapat meningkatkan inflasi Kota Bogor, dan terdapat keterkaitan dua arah pada harga daging ayam broiler di Pasar Jambu Dua dan Sukasari, Pasar Gunung Batu memiliki keterkaitan satu arah dengan pasar lainnya untuk daging sapi, dan tidak terdapat keterkaitan pasar yang dominan dalam memengaruhi harga ayam kampung di kelima pasar Kota Bogor

    Peranan Agroindustri terhadap Pertumbuhan Wilayah, Pendapatan, dan Penyerapan Tenaga Kerja di Kota Bogor (Analisis Input-Output)

    No full text
    Kota Bogor merupakan wilayah yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Pertumbuhan ekonomi tersebut, terutama didorong oleh berkembangnya sektor industri pengolahan. Menurut Badan Pusat Statistik (2011), sektor industri pengolahan memiliki kontribusi terbesar kedua dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDRB) Kota Bogor yaitu sekitar 28 persen dari total PDRB selama periode 2006-2010. Sektor agroindustri merupakan subsektor penting dalam sektor industri pengolahan yang menyumbang PDRB terbesar dalam sektor industri pengolahan. Pembangunan sektor agroindustri diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan ekonomi wilayah, terutama menciptakan nilai tambah, menyediakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Peranan sektor agroindustri tersebut dapat dijadikan sebagai informasi dalam penyusunan perencanaan pembangunan sektoral dan ekonomi Kota Bogor mendatang. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah (1) menganalisis peran sektor agroindustri dalam pembentukan permintaan antara, permintaan akhir, nilai tambah bruto, dan output sektoral Kota Bogor, (2) menganalisis keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan ke depan (forward linkage) sektor agroindustri di Kota Bogor, (3) menganalisis besarnya multiplier output, pendapatan, dan tenaga kerja sektor agroindustri, dan (4) menganalisis dampak investasi di sektor agroindustri terhadap perekonomian Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan Input-Output (I-O) dengan basis data Tabel Input- Output Kota Bogor Tahun 2008 klasifikasi 28 yang diagregasi menjadi 10 dan 12 sektor. Pengolahan data dengan menggunakan bantuan software I-O Analysis for Practitioners dan Microsoft Excel 2007. Hasil penelitian memperlihatkan kontribusi sektor agroindustri yang cukup besar terhadap pembentukan permintaan antara, permintaan akhir, nilai tambah bruto, dan output Kota Bogor. Permintaan total dan permintaan akhir menempati urutan pertama dari klasifikasi sepuluh sektor dengan nilai masing-masing sebesar 27.61 persen dan 34.80 persen dari total permintaan. Permintaan antara sektor agroindustri menempati urutan ketiga dengan nilai sebesar 18.33 persen dari total permintaan antara. Tingginya permintaan akhir dibanding dengan permintaan antara menunjukkan bahwa output sektor agroindustri sebagian besar digunakan untuk dikonsumsi langsung dibandingkan sebagai input langsung oleh sektor perekonomian lain. Selanjutnya untuk pembentukan nilai tambah bruto, sektor agroindustri menempati urutan ketiga dengan nilai sebesar 10.05 persen dari total nilai tambah bruto dan untuk output sektoral, sektor agroindustri menempati urutan pertama terbesar dengan nilai sebesar 27.61 persen dari total output Kota Bogor. Berdasarkan hasil analisis keterkaitan, diperoleh hasil bahwa sektor agroindustri memiliki nilai keterkaitan ke belakang (backward linkage) yang relatif lebih besar dibandingakan dengan nilai keterkaitan ke depan (forward linkage). Hal ini dapat disimpulkan bahwa keberadaan sektor agroindustri memiliki kemampuan menarik yang lebih besar terhadap sektor hulunya dibandingkan dengan kemampuan mendorong pertumbuhan sektor hilirnya. Sektor hulu agroindustri yang dimaksud adalah sektor pertanian atau sektor yang outputnya digunakan sebagai input oleh sektor agroindustri. Sedangkan sektor hilir agroindustri yang dimaksud adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran atau sektor yang inputnya berasal dari output sektor agroindustri. Sesuai dengan hasil analisis multiplier output, pendapatan, dan tenaga kerja menunjukkan bahwa sektor agroindustri memiliki nilai pengganda relatif tinggi dibandingkan sektor-sektor ekonomi lainnya sehingga sektor agroindustri dapat diandalkan untuk mendorong peningkatan output, pendapatan, dan penciptaan lapangan kerja di Kota Bogor. Analisis dampak dalam penelitian ini menggunakan nilai investasi sektor agroindustri berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bogor tahun 2010-2014 sebesar Rp 2.18 triliun. Jika diasumsikan target investasi dalam RPJMD terealisasi, maka injeksi investasi tersebut berdampak besar terhadap perekonomian Kota Bogor dalam hal pembentukan output sebesar Rp 2.01 triliun, pendapatan sebesar Rp 265 miliar, dan penyerapan tenaga kerja sebesar 102 318 orang. Berdasarkan hasil analisis, disarankan Pemerintah Kota Bogor mengadakan kerjasama dengan pemerintah kota atau kabupaten yang merupakan kawasan agropolitan sebagai usaha dalam menjamin kontinuitas bahan baku bagi sektor agroindustri di Kota Bogor, membuat inovasi produk baru hasil pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah produk, menerapkan teknologi untuk produk agroindustri, memberikan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kerja lokal demi meningkatkan kualitas SDM Kota Bogor, dan mengadakan penelitian yang mengkaji secara mendalam dan menyeluruh berbagi aspek yang terkait dengan agroindustri secara terpadu, mulai dari produksi bahan baku, pengolahan dan pemasaran. Selain itu Pemerintah Kota Bogor diharapkan mengembangkan strategi investasi yang tepat untuk meningkatkan investasi di sektor agroindustri, diantaranya dengan pemberian fasilitas-fasilitas demi menarik para investor baik dalam negeri maupun asing, seperti perbaikan infrastruktur yang menunjang dalam kegiatan usaha, penciptaan birokrasi yang efisien, kepastian hukum di bidang investasi, dan penciptaan iklim usaha yang kondusif di bidang keamanan dalam berusaha

    The strategy to achieve sugar self-sufficiency program in central java

    No full text
    Gula merupakan komoditas pangan yang sampai saat ini belum tergantikan dengan bahan pangan lain sebagai pemanis buatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengestimasi konsumsi dan produksi gula di Jawa Tengah dan merumuskan alternatif strategi yang sesuai untuk mencapai target swasembada. Penelitian ini menggunakan metode ARIMA untuk menghasilkan peramalan jangka pendek yang akurat dan metode AHP untuk menentukan strategi yang tepat dan efektif. Hasil dari penelitian ini adalah Jawa Tengah belum mampu mencapai swasembada sesuai target 2014-2018 terkait dengan permasalahan baik dalam on-farm maupun offfarm. Kriteria yang perlu ditingkatkan adalah rendemen dan produktivitas (29,5%), revitalisasi pabrik gula (27,1%) dan teknologi atau alat ukur rendemen (19,3%) . Untuk mendukung tiga kriteria tersebut perlu adanya kerjasama antara pabrik gula dan petani yaitu dalam sistem bagi hasil, kredit murah dan mudah, dan kerjasama maupun kemitraan supaya program swasembada dapat dicapai secara berkelanjutan.Sugar is a food commodities that until now has not been replaced by other foodstuffs as sweetener. The aim of this research was to estimate the consumption and production of sugar in Central Java and to formulate the alternative strategy which is suitable to obtain the self-sufficiency target. This research used ARIMA method to produce an accurate short-term forecasting and AHP method to determine the right and effective strategy. The results showed that Central Java had not been able to reach self-suffiency as targeted 2014-1018 related to both problems, on-farm or off-farm. The criteria that must be increased were the yield and productivity (29%), revilatization of sugar plant (27,1%) and technology and yield measuring instrument (19,3%). To support those three criteria, the cooperation between sugar plant and farmer is needed. The cooperation could be in the forms of income sharing system, cheap and easy credit, and cooperation or partherships so that the self-sufficiency program could be obtained continously
    corecore