133 research outputs found
Pengemasan Secara Atmosfer Termodifikasi pada Sayuran Kubis, Selada, dan Wortel Terolah Minimal
Sayuran merupakan produk hortikultura yang salah satunya dapat dijadikan
salad, seperti kubis, selada, dan wortel dilakukan dengan cara pengolahan minimal.
Pengolahan minimal merupakan serangkaian kegiatan meliputi pencucian,
penyortiran, pemotongan, pengupasan, dan pengirisan. Tujuan penelitian ini adalah
mengkaji laju respirasi sayuran kubis, selada, wortel, dan campuran terolah minimal,
merancang simulasi, dan mengkaji pengaruh jenis kemasan terhadap perubahan
mutu sifat fisik sayuran kubis, selada, dan wortel terolah minimal dalam satu
kemasan. Penelitian ini terdiri atas empat tahap, yaitu tahap persiapan, pengukuran
laju respirasi, perancangan simulasi, serta pengemasan dan penyimpanan. Hasil
penelitian menunjukkan laju respirasi sayuran terolah minimal berpengaruh dengan
suhu penyimpanan. Semakin tinggi suhu penyimpanan, maka semakin tinggi laju
respirasinya. Berdasarkan hasil simulasi didapatkkan nilai bobot, ketebalan plastik,
dan luas permukaan plastik agar mencapai konsentrasi O2 dan CO2 sebesar 2 % dan
3 % untuk kemasan Stretch Film sebesar 0.081 kg, 0.050 mm, dan 0.050 m2,
sedangkan agar mencapai konsentrasi O2 dan CO2 sebesar 2 % dan 8 % untuk
kemasan Low Density Polyethylene sebesar 0.081 kg, 0.060 mm, dan 0.050 m2 pada
suhu 5 °C. Berdasarkan parameter pengamatan mutu sayuran kubis, selada, dan
wortel terolah minimal dalam satu kemasan yang terbaik, yaitu kemasan Low
Density Polyethylene pada suhu 5 °C
Kajian Pengeringan Manisan Mangga (Mangifera Indica L.) Menggunakan Hot Air Rotary Oven
Processing of mango become dry candied is one of a method to improve the added value and to extend the shelf life of the product. The objectives of this study was to investigate the effect of adding sugar concentration and drying temperature to the drying rate and quality of mango candied. The treatments of sugar concentration of 40 o and 60 oBrix and temperature of 40 oC, 45 oC, and 50 oC were applied to this research. Air velocity of hot air rotary oven that used in this experiments was 2 m/sec. The result showed that sugar concentration and drying temperature affected the drying rate. The lower sugar concentration and higher drying temperature was accelerate the drying rate. Drying temperature affected colour and hardness of mango candied. Mango candied that was processed using hot air rotary oven with 40 oBrix of sugar concentration and 40 oC of drying temperature resulting the best quality of mango candied based on parameter quality of hardness, colour, and organoleptic test
Analisis desain fungsional dan kondisi lingkungan mikro pada gudang beras: studi kasus gudang Bulog Dramaga-Bogor
Bulog merupakan salah satu lembaga pangan yang diberi tugas pemerintah untuk menangani masalah pasca produksi, khususnya dalam bidang harga, pemasaran, dan distribusi. Dalam bidang distribusi Bulog melakukan aktivitas pengiriman dan penyimpanan beras. Salah satu jenis gudang Bulog yang digunakan untuk menyimpan beras adalah Gudang Bulog Baru (GBB). Pada penelitian ini dilakukan analisa terhadap desain fungsional dan kondisi lingkungan mikro GBB. Penelitian dilaksanakan di Gudang Bulog Dramaga-Bogor dan Laboratorium Lingkungan dan Bangunan Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB pada bulan Agustus hingga November 2010. Parameter desain bangunan yang diamati antara lain ukuran bangunan, bahan konstrusi, dan desain fungsional bagian-bagian bangunan GBB. Parameter lingkungan mikro yang diukur antara lain suhu, kelembaban relative (RH), intensitas cahaya, dan kecepatan udara/angin
Kajian Pemanfaatan Asap Cair Tempurung Kelapa sebagai Bahan Koagulan Lateks dalam Pengolahan Ribbed Smoked Sheet (RSS) dan Pengurang Bau Busuk Bahan Olahan Karet
Ribbed Smoked Sheet (RSS) adalah salah satu jenis produk olahan karet alam yang berasal dari lateks/getah tanaman karet Hevea brasiliensis yang diolah secara teknik mekanis dan kimiawi dengan pengeringan menggunakan rumah asap serta mutunya memenuhi standard The Green Book dan konsisten. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh petani karet adalah rendahnya mutu sit yang dihasilkan karena bahan pembeku yang digunakan tidak dapat mencegah pertumbuhan bakteri yang merusak protein sehingga nilai plastisitas PRI (Plasticity Retention Index) menjadi rendah. Bahan baku yang diperoleh dari kelompok tani mempunyai tingkat kontaminasi yang tinggi karena bahan dasar yang digunakan sebagai bahan pembekunya bermacam-macam. Pada kebun inti bahan pembeku yang biasa digunakan adalah asam format (asam semut), sedangkan bahan pembeku yang biasa digunakan oleh para petani adalah air perasan buah-buahan, tawas dan pupuk TSP. Kerusakan serta degradasi protein pada karet akibat bahan baku yang kurang baik juga dapat menyebabkan terbentuknya gas amoniak (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) yang menimbulkan bau busuk menyengat pada bahan olahan karet sejak dari kebun sampai di pabrik karet. Asap cair merupakan suatu hasil kondensasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa serta senyawa karbon lainnya. Kandungan kimia yang terdapat di dalam asap cair diantaranya adalah fenol, asam dan karbonil. Komponen-komponen tersebut berpotensi sebagai alternatif bahan koagulan pengganti asam semut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan asap cair tempurung kelapa sebagai bahan koagulan lateks dalam pengolahan karet RSS serta pengurang bau tak sedap/busuk pada bahan olahan karet dalam pengolahan karet alam. Hasil yang diharapkan adalah untuk mengetahui pemanfaatan dan cara penggunaanya dalam proses pengolahan yang lebih efisien serta memenuhi standar karet sit yang sesuai dengan permintaan pasar
“Desa asap” penerapan teknologi tepat guna pada pengolahan tempurung kelapa untuk meningkatkan pendapatan home industry masyarakat desa cihideung udik, bogor
RINGKASANSalah satu komoditi pertanian yang sangat penting di Indonesia adalah kelapa. Produksi buah kelapa Indonesia rata-rata 15,5 milyar butir/tahun. Saat pengolahan kelapa di Indonesia hanya terfokus pada daging buahnya saja, sedangkan industri yang mengolah hasil samping buah (by-product) seperti; air, sabut, dan tempurung kelapa masih secara tradisional dan berskala kecil, padahal potensi ketersediaan bahan baku untuk membangun industri pengolahannya masih sangat besar. Hasil samping dari pengolahan daging buah kelapa atau limbah kelapa sangat potensial untuk dinaikkan nilai jualnya.Namun pada kenyataannya industri pengolahan tempurung kelapa masih sangat jarang dan teknologi yang digunakan masih sangat sederhana.Tempurung kelapa hanya dikonversikan untuk dijadikan arang.Selain itu teknologi yang sederhana ini cenderung membuat banyak permasalahan lingkungan akibat limbah yang dihasilkan.Oleh karena itu dibutuhkan berbagai teknologi tepat guna untuk meningkatkan nilai jual dari tempurung kelapa tersebut.Program Kreativitas Mahasiswa ini bertujuan untuk membantu home industry masyarakat Cihideung Udik Bogor dalam memanfaatkan secara maksimal potensi dari tempurung kelapa tersebut. Kegiatan ini akan dimulai dengan penyuluhan teknologi tepat guna apa saja yang cocok diterapkan yang sesuai dengan kondisi di tempat tersebut. Setelah mengetahui teknologinya, pihak home industryakan diperkenalkan para pemasok atau produsen limbah tempurung kelapa untuk meningkatkan bahan baku produksi. Penerapan teknologi menjadi hal yang paling penting dalam program kreativitas ini, oleh sebab itu masyarakat pengelola industri pengolahan akan menerima sejumlah teknologi yang nantinya digunakan untuk menunjang prduksi. Pelatihan kerja untuk penggunaan teknologi baru ini juga sangat diperlukan, hal ini dikarenakan untuk meningkatkan efektifitas kerja serta menambah pengetahuan pekerja dalam proses pemeliharaan alat. Dengan adanya berbagai kegiatan tersebut diharapkan terciptanya industri rumah tangga yang berbasis teknologi dan ramah terhadap lingkungan serta meningkatkan pendapatan dari industri rumahan tersebut akibat meningkatnya jenis dan jumlah barang produksi.DIKT
Kajian Laju Respirasi Buah Naga pada Berbagai Suhu Penyimpanan dengan Pendekatan Model Arrhenius
Buah-buahan masih mengalami proses respirasi setelah pemanenan. Proses
respirasi ini akan memengaruhi umur simpan dan kualitas dari buah. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkai pengaruh suhu dan pola respirasi buah naga selama
penyimpanan, serta menerapkan model Arrhenius untuk menggambarkan pengaruh
suhu terhadap laju respirasi. Buah naga diperoleh dari kebun Sabisa Farm dengan
umur panen 28 hari setelah bunga, dengan berat 300-450 gram disimpan pada toples
berukuran 300 ml. Metode yang digunakan yaitu closed system, dengan suhu
penyimpanan 5 ºC, 10 ºC, 15 ºC, 20 ºC dan suhu ruang. Pengukuran sampel gas
dilakukan pada interval 4 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu
mempengaruhi laju respirasi buah. Nilai kuosien respirasi yang normal pada suhu
rendah menunjukkan bahwa respirasi berlangsung aerobik. Hubungan laju respirasi
dengan suhu yang digambarkan dengan model Arrhenius memiliki nilai R² ≈ 0.993.
Faktor pre-eksponensial (Ro) untuk O2 dan CO2 berturut-turut yaitu 1.0298x1013
ml/kg.jam dan 4.6645x10¹² ml/kg.jam serta nilai energi akivasi untuk konsumsi O2
dan produksi CO2 berturut-turut yaitu 66.8 kJ/mol dan 65.5 kJ/mol
Kajian Proses Pengukusan Gabah untuk Meningkatkan Mutu Fisik Beras Pratanak pada Gabah Varietas Ciherang dan IR 42
Pratanak adalah proses yang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas beras. Tahapan pengolahan beras pratanak meliputi pembersihan, perendaman, pengukusan, pengeringan, dan penggilingan. Pengolahan beras pratanak bertujuan untuk mengurangi kehilangan dan kerusakan beras, baik ditinjau dari nilai gizi maupun mutu fisiknya, meningkatkan rendemen giling dan menurunkan kadar Indeks Glikemik (IG) beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama pengukusan dan varietas gabah terhadap mutu fisik beras pratanak serta menentukan kondisi terbaik proses pengolahan beras pratanak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu pengukusan menunjukkan rendemen giling beras pratanak yang semakin tinggi. Ditinjau dari mutu fisiknya, pengolahan beras pratanak varietas Ciherang dengan lama pengukusan 20 menit menghasilkan persentase butir kepala tertinggi (69.6±10.0%), persentase butir patah terendah (25.3±9.8%) dan persentase butir menir terendah (4.9±2.8%). Pada hasil organoleptik uji hedonik nasi pratanak, nasi pratanak Ciherang dengan lama pengukusan 20 menit merupakan hasil yang terbaik yang dapat diterima oleh panelis. Oleh karena itu, kondisi terbaik yang dipilih adalah gabah varietas Ciherang dengan suhu perendaman 55.9±1.4 oC selama 4 jam, suhu pengukusan 100.63±0.09 oC dengan lama pengukusan 20 menit
Penerapan Teknologi Iradiasi untuk Mempertahankan Mutu Bawang Merah (Allium ascalonicum L.).
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan produk hortikultura yang
mudah rusak. Umbi bawang merah mengalami kerusakan akibat keropos, penyakit,
berakar, dan pertunasan selama penyimpanan. Iradiasi merupakan salah satu
teknologi yang dapat digunakan untuk mempertahankan mutu produk hortikultura.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis iradiasi dan suhu yang optimal
untuk menjaga mutu bawang merah selama penyimpanan. Sampel yang digunakan
adalah bawang merah yang dibeli dari petani di Cirebon. Bawang merah
dikeringkan selama seminggu kemudian disortasi dan dibersihkan. Bawang merah
dibagi menjadi beberapa kantong rajut masing-masing 1.5 kg, kemudian dilakukan
iradiasi pada dosis 2.2.5 kGy, 4.65 kGy, 6.55 kGy dan kontrol.. Setelah diiradiasi
bawang disimpan pada suhu 15 oC dan suhu ruang (28 oC) selama 8 minggu.
Parameter mutu meliputi kadar air, susut bobot, kerusakan, kekerasan, dan kadar
sulfur diamati setiap seminggu sekali selama 8 minggu. Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa perlakuan terbaik yang dapat mempertahankan mutu bawang
merah sampai akhir penyimpanan yaitu perlakuan dosis kontrol dengan suhu 28 oC
dan dosis 2.25 kGy dengan suhu 15 oC
Model Isotermis Sorpsi Air dan Pendugaan Umur Simpan Bubuk Jahe Merah pada Berbagai Jenis Kemasan
Jahe merah memiliki manfaat bagi kesehatan yaitu memiliki aktivitas
antioksidan, antimikroba, dan anti inflamasi. Salah satu produk olahan jahe yang
banyak diminati oleh konsumen yaitu bubuk jahe merah. Bubuk jahe merah
bersifat higroskopis, mudah menyerap air secara cepat, dimana peningkatan
penyerapan air mengakibatkan terjadinya penurunan mutu produk baik sifat fisik
maupun kimia. Oleh karena itu, diperlukan untuk menganalisis pola penyerapan
air dan pendugaan umur simpan supaya mutu bubuk jahe merah tetap stabil.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan (i) kadar air kesetimbangan bubuk jahe
merah pada kondisi kelembaban dan tingkat kehalusan yang berbeda, (ii) model
kurva isotermis sorpsi air yang tepat pada bubuk jahe merah dengan tingkat
kehalusan yang berbeda, dan (iii) menduga umur simpan bubuk jahe merah
menggunakan pendekatan kadar air kritis pada berbagai jenis kemasan.
Penelitian ini dibagi tiga tahap, dimana tahap pertama adalah menentukan
karakteristik mutu awal bubuk jahe merah yaitu: derajat kehalusan, dimensi ratarata
partikel, uji organoleptik, analisis kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar
karbohidrat, kadar minyak atsiri. Tahap kedua adalah penentuan kadar air
kesetimbangan, penentuan kurva isotermis sorpsi air menggunakan model Hasley,
Oswin, Chen-Clayton, Henderson dan Caurie dan menggunakan Mean Relative
Determination (MRD) untuk mengevaluasi ketepatan masing-masing model, dan
penentuan nilai kemiringan (slope). Tahap ketiga adalah pendugaan umur simpan
bubuk jahe merah dikemas dengan alumunium foil, HDPE (High Density
Polyethylene), dan plastik PP (Polypropylene) menggunakan metode ASLT
pendekatan kadar air kritis.
Hasil penelitian menunjukkan kadar air kesetimbangan bubuk jahe merah
pada RH 33, 52, 75, 84, dan 97% untuk ukuran partikel 60 mesh berturut-turut
adalah 6.12, 8.64, 13, 15.5, dan 22.23 (%bk), dan untuk ukuran partikel 80 mesh
adalah 7.41, 9.9, 14.44, 18.16, dan 25.44 (%bk). Model yang tepat dalam
menggambarkan kurva isotermis sorpsi air pada bubuk jahe merah ukuran partikel
60 dan 80 mesh adalah model Henderson dengan nilai MRD masing-masing
adalah 1.18 dan 2.67. Umur simpan bubuk jahe merah dipengaruhi oleh jenis
plastik kemasan dan permeabilitas kemasan. Umur simpan bubuk jahe merah
ukuran partikel 60 mesh dan menggunakan kemasan HDPE, PP, dan alumunium
foil yang disimpan pada RH 75% dan suhu 30 °C adalah berturut-turut 4.6 bulan,
18.4 bulan, dan 23.9 bulan, sedangkan untuk bubuk jahe merah ukuran partikel 80
mesh adalah berturut-turut 4.3 bulan, 16.9 bulan, dan 22.0 bulan
Perlakuan Air Panas Diikuti Pencelupan Dalam Larutan Cacl2 Untuk Mempertahankan Kualitas Belimbing Manis (Averrhoa Carambola L.).
Belimbing (Averrhoa carambola L.) merupakan salah satu buah potensial Indonesia yang banyak dibudidayakan diberbagai daerah. Buah belimbing banyak mengandung vitamin C dan dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti batuk rejan, gusi berdarah, sariawan, gigi berlubang, hipertensi, kelumpuhan, memperbaiki fungsi pencernaan, dan radang rektum, akan tetapi buah belimbing merupakan buah yang mudah rusak (perishable), memiliki umur simpan yang pendek, dan mudah terserang oleh mikroba yang menyebabkan munculnya penyakit pascapanen. Perendaman air panas (hot water treatment) dan pencelupan dalam larutan kapur (CaCl2) adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk mempertahankan mutu pascapanen buah belimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama hot water treatment (HWT) dan pencelupan larutan CaCl2 terhadap kualitas belimbing manis selama penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu lama perendaman HWT dan konsentrasi CaCl2. Lama perendaman HWT terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa perendaman, perendaman selama 5 dan 10 menit dengan suhu HWT 46±0.2 °C. Konsentrasi CaCl2 juga terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa konsentrasi CaCl2, 1, dan 3%. Parameter yang diamati adalah laju respirasi, kualitas buah yang terdiri dari susut bobot, kekerasan, browning index, total padatan terlarut, vitamin C, kadar air dan kandungan kalsium, serta tingkat serangan penyakit yang diuji dengan nilai total mikroba. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan uji Duncan pada taraf (α<0.05). HWT selama 5 dan 10 menit pada suhu 46±0.2 °C mampu menekan pertumbuhan total mikroba dan mempertahankan warna buah selama penyimpanan. HWT selama 10 menit merupakan perlakuan terbaik karena mampu menekan pertumbuhan total mikroba lebih besar dan mempertahankan warna lebih baik walaupun secara statistik tidak berbeda nyata dengan perlakuan HWT selama 5 menit. Pencelupan buah belimbing dalam larutan CaCl2 1 dan 3% tidak direkomendasikan karena meningkatkan laju konsumsi O2 dan produksi CO2, meningkatkan susut bobot dan total mikroba, serta menurunkan kekerasan buah yang berdampak pada umur simpan buah yang lebih pendek. Interaksi perlakuan HWT selama 5 menit dan tanpa pencelupan CaCl2 merupakan kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan parameter laju respirasi, susut bobot, kekerasan, browning index, kadar air, dan kandungan total mikroba
- …
