6 research outputs found

    Kesukubangsaan dan Negara Kebangsaan di Indonesia: Prospek Budaya Politik Abad ke-21

    No full text
    In this article the author examines the problem of ethnicity and the Indonesian nation-state. He asserts that Indonesia's history is marked by the tension between the country's ideological basis - as started in the preamble to its constitution- and the structural foundations stipulated in the chapters of that constitution. Working to achieve unity in diversity through the power granted him by the constitution, Soekarno applied the geopolitics based upon the Blut und Boden Theorie. However, each and every ethnic group that was to be united met the criteria of Blut und Boden and others. The concentration of power upon the president, reinforced by the Javanese conception of power, continued with Soeharto; eventually leading to the reform movement wherein in the many smaller groups  in the union have begun to speak out. The author concludes that the centralization of power of the past must be replaced by a system with broad regional autonomy. While remaining true to the principle of the constitution, the distribution of economic power among the regions serve also as  a safeguard against future crisis

    Manusia dan Kebudayaan Bugis - Makassar dan Kaili di Sulawesi

    No full text
    In this article, the author describes the ethnography of the Bugis-Makassar, the largest inhabitants in South Sulawesi. His description includes: the historical background, their social stratification, kinship system, traditional political structure, and folklore. How the Bugis-Makassar elite groups are developed and how their social structure influenced by such development is also discussed by the author. Based on the historical evidences it is revealed that identification of the elite groups which is underlined by nobility, emerged in 15th century. In the period of Dutch colonization, composition of the elite groups changed into: pangreh-praja (government administration official) which subsequently emerged as a new elite group. In the era of independence, the position of elites were mostly occupied by the rulling class and well-educated persons. In the last section, the author explains the sirik an institution which refers to human dignity and self-respect - in relation to the conditioning of Indonesian national culture

    Manusia dan Kebudayaan Kaili di Sulawesi Tengah

    No full text
    In this article, the author describes the ethnography of the To-Kaili, the largest ethnics group in Central Sulawesi. To-Kaili had an important historical role in the period of Dutch colonization. At least four kingdoms tried to rebel against Dutch rule namely Moutong, Banawa, Sigi, and Kulawi. The author goes on to discuss the "modal personality" of Kaili people which covers social and religious life, ethos, language, art and literature.  In the last section, he tries to predict how those people will face changes in the near future

    Lontaraq suqkuna wajo: telaah ulang awal Islamisasi di wajo

    No full text
    Tesis ini bertujuan untuk melakukan edisi kritis atas Lontaraq Suqkuna Wajo (LSW) koleksi Datu Sangaji Sengkang, sebagai bukti bahwa Islam telah diperkenalkan di lembaga pemerintahan Wajo pada akhir abad ke-XVI, yaitu sekitar tahun 1590-an. Sebuah fakta yang terungkap dalam naskah tersebut bahwa konsep tauhid (D�wata S�wwa�) telah berkembang dalam kehidupan masyarakat Wajo pada waktu itu sebagaimana yang diyakini oleh Arung Matowa La Mungkace> To Uddama Matinro� ri Kana>na. Dalam naskah ditegaskan, pada hari Selasa 15 S}afar 1019 H, bertepatan dengan hari Ahad, 9 Mei 1610 M, Islam diterima sebagai agama resmi kerajaan dan telah melembaga pada masa pemerintahan Arung Matowa Sangkuru Patau Sult}a>n Abd. Al-Rahma>n Matinro� ri Alepperenna. Arung Matowa Sangkuru Patau Sult}a>n Abd. Al-Rahma>n Matinro� ri Alepperenna disyahadatkan oleh Datuk Sulaiman setelah pihak Kerajaan Wajo melakukan diplomasi dengan pihak Kerajaan Gowa di bawah pimpinan I Mangarani Da�ng Marabbi>ya Sult}a>n �Ala>u al-di>n Tomi>nanga ri Gaukanna. Temuan tesis ini merupakan rekonstruksi dari kesimpulan beberapa akademisi sebelumnya, di antaranya J. Noorduyn, Christian Pelras, Mattulada, Abu Hamid, Abdul Razak Daeng Patunru, Edwar L Poelinggomang, Andi Mansur Hamid, Dawas Rasjid, dan M. Ilyas Salewe, yang menyatakan bahwa Islam masuk di Wajo pada tahun 1610 M, yaitu satu tahun setelah Soppeng dikuasai oleh Kerajaan Gowa. Tesis ini menunjukkan bahwa Islam telah masuk di Wajo berdasarkan keterangan LSW halaman 142. Dalam naskah ini diceritakan bahwa Arung Matowa Sangkuru menyatakan pada Datuk Sulaiman, ?Keyakinan saya tentang D�wata S�uwwa� (Tuhan Yang Tunggal) diwarisi dari Lamungkace>, Dia-lah yang menciptakan dan Dia-pulah yang memusnahkan, menghidupkan dan mematikan, sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang tidak ada awal dan akhinya, tidak bertempat tinggal kecuali hekendak-Nya apa saja yang dikehendaki itu jugalah yang dihadapkan (oleh) hati dan tubuh.? Pernyataan lain terdapat pada halaman 143, yaitu ketika Lamungkace> telah mengamanahkan�jika dibelakangku 4 nanti, ada yang dinamakan rukun Islam mengikutlah?. Selanjutnya proses Islamisasi yang berkembang di Wajo memberikan warna yang berbeda, tidak berdasarkan Islam yang dibawa oleh Datuk Sulaiman dan Datuk ri Bandang tetapi lebih kepada Islam lokal atau disebut sebagai Islam akomodatif. Sumber utama penelitian ini adalah Naskah Lontaraq Suqkuna Wajo koleksi Datu Sangaji Sengkang. Cara yang digunakan dalam menguraikan isi dan kandungan teksnya adalah dengan cara kroscek dan membandingkan dengan teks LSW koleksi M. Salim Makassar dan Sudirman Sengkang, serta LBGT, Lontaraq Tellumpocco�, Lontarak Wajo VT.127 koleksi PNRI, yang bisa memberikan interprestasi, penjelasan, dan uraian lebih lanjut dari objek kajian ini. Dalam melakukan analisis dan kontekstualisasi naskah LSW, metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan sejarah

    Penerbitan, La Galigo, dan Wacana Pembangunan Karakter Bangsa

    No full text
    PENERBITAN, LA GALIGO, DAN WACANA PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA\ud Ilham Daeng Makkelo\ud Pengantar\ud Dunia penerbitan telah menjadi bagian penting dari sejarah umat manusia. Sejak dikenalnya teknologi pencetakan dalam jumlah besar. Maka sejak itu pula lah setiap memori atas suatu zaman dapat diterbitkan, disebarluaskan, dan perkenalkan kepada khalayak lebih luas. Di Indonesia penerbitan awal telah di mulai sejak masa kolonial, dengan pencetakan surat kabar di berbagai daerah. Aktifitas dunia penerbitan dan percetakan melalui dinamika tersendiri, sejak masa Orde Lama, Orde Baru, masa reformasi hingga saat ini. Era reformasi telah menandai pula bangkitnya dunia penerbitan, baik di tingkat nasional, maupun di tingkat lokal. Beberapa pihak dengan latar belakang berbeda telah berinisiatif dan bergiat dalam penerbitan, khususnya yang berhubungan dengan tema Sulawesi Selatan. \ud Pada saat yang hampir bersamaan, terutama sejak era otonomi daerah pasca tahun 2000an, juga memperlihatkan bangkitnya perhatian atas warisan budaya lokal. Berbagai kegiatan dilakukan oleh pemerintah daerah/lokal di hampir semua wilayah Indonesia dalam usaha menelusuri jejak-jejak kesejarahan, budaya, dan kearifan lokalnya. Hal ini sebagai bagaian dari upaya dalam mendukung konsep keotonomian yang dibangun. Masing-masing daerah seolah berlomba dalam menampilkan kekhasannya sendiri, hingga bisa dikatakan memiliki identitas sendiri. Termasuk penelusuran hari jadi/ulang tahunnya, yang kadang diusahakan ditelusuri hingga periode yang paling tua. \ud La Galigo sebagai karya besar dalam dunia sastra di Nusantara, tentu saja memiliki daya tarik besar dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam ranah budaya di Sulawesi Selatan. Setiap zaman memiliki jiwanya sendiri, dan dalam lintas perubahan zaman itu pula, karya besar La Galigo terus menjadi perhatian zamannya. Nilai-nilai penting dan daya tariknya sebagai karya sastra terus menggoda orang untuk mengkajinya hingga mementaskannya. Nilai-nilai luhur dalam La Galigo telah lama dipelajari, tetapi beberapa waktu belakangan ini seiring dengan mengemukanya konsep pembangunan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia. Maka karya besar ini, sekali lagi telah mengundang banyak ahli untuk mengungkapkan nilai-nilai pentingnya yang dapat ditransformasi sebagai usaha dalam pembangunan karakter yang sedang digalakkan.\ud Tulisan ini akan menjelaskan beberapa hal yang masing-masing berdiri sendiri, namun juga saling berhubungan, yakni pertama; tentang dunia penerbitan, khususnya di Makassar, kedua; selayang pandang tentang kajian La Galigo yang telah diterbitkan, dan ketiga; gagasan nilai-nilai La Galigo dalam pembangunan karakter bangsa.\ud Jagad Penerbitan Setelah Orde Baru\ud Bermunculan begitu banyak penerbit pasca Orde Baru, baik dalam skala nasional maupun di tingkat lokal. Dari penerbitan dalam organisasi besar, hingga penerbitan skala rumahan. Bukan hanya semata karena datangnya era reformasi yang menyebabkan penerbit tumbuh subur, tapi juga karena gairah atas kebutuhan buku-buku dari berbagai tema/masalah dan segmen yang semakin besar. Bukan hanya semata buku-buku ilmiah di bangku sekolah, tapi dari buku-buku populer hingga yang bertema hobby juga sudah mulai dicari. \ud Tema yang berhubungan dengan sejarah, sastra dan budaya Sulawesi Selatan juga menjadi perhatian penerbit baik yang berskala nasional maupun lokal. Penerbit skala nasional yang telah menerbitkan buku bertema Sulawesi Selatan diantaranya; Gramedia Group, penerbit Komunitas Bambu, Penerbit Obor, dan Penerbit Ombak. Gramedia Group menerbitkan diantaranya; Makassar Abad XIX. Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim (Edward L. Poelinggomang, 2002). ........ Penerbit Komunitas Bambu diantaranya; beberapa buku tentang sejarah maritim karya Adri B. Lapian. Penerbit Obor, diantaranya; Kopra Makassar, Perebutan Pusat dan Daerah. Kajian Sejarah Ekonomi Politik Regional di Indonesia (Abd. Rasyid Asba, 2007). Penerbit Obor juga pernah menerbitkan buku tentang La Galigo. Khusus untuk penerbit Ombak yang berkantor di kota Yogyakarta telah menerbitkan cukup banyak buku tentang sejarah, budaya, hingga buku populer tentang Sulawesi Selatan. Beberapa buku Penerbit Ombak, diantaranya; Abdul Qahhar Mudzakkar. Dari Patriot hingga Pemberontak (Anhar Gonggong, 2004), Kontinuitas dan Perubahan dalam Sejarah Sulawesi Selatan (Dias Pradadimara & Muslimin A.R. Effendy, 2004), dan puluhan buku terbitan dengan beragam tema, bahkan hingga novel berbahasa Makassar.\ud Di tingkat lokal, perjalanan dunia penerbitan telah melalui fase yang panjang. Terdapat penerbit yang tergolong tua dan masih mampu bertahan hingga kini, yakni penerbit universitas, di antaranya Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (LEPHAS), Lembaga Penerbitan UNM, dan Umitoha (penerbit Universitas Muslim Indonesia). Penerbit yang paling tua adalah LEPHAS, didirikan pada tahun 1968. Penerbit inilah yang pada umumnya menerbitkan hasil penelitian atau karya-karya para dosen Universitas Hasanuddin, yang kemudian menjadi bahan bacaan bagi para mahasiswa dan bacaan umum. \ud Setelah bergulirnya reformasi, muncul beberapa penerbit kecil yang memiliki oplah antara 500 ??? 1500 eksemplar per judul. Hal yang menarik dari penerbit baru ini adalah spirit yang dimilikinya, yaitu mengangkat wacana idealis, seperti seni, sejarah, kebudayaan, dan pemikiran. Kalangan seniman merupakan salah satu pihak yang mendorong penerbit lokal Makassar. Goenawan Monoharto, direktur La Macca Press adalah seorang seniman sangat konsisten menerbitkan buku wacana seni dan kebudayaan. Penerbit lain yang diprakarsai oleh kalangan seniman adalah Baruga Nusantara, yang didirikan oleh Shaifuddin Bahrum juga memilih tema-tema seni dan kebudayaan. \ud Kalangan jurnalis (wartawan) juga mewarnai kelahiran penerbit baru di Makassar. Wanua Tanke dan Anwar Nasyaruddin (Pustaka Refleksi), Moh. Yahya Mustafa (Fahmis Pustaka), M. Ruslan (Era Media) adalah pentolan jurnalis, yang kemudian berkiprah di dunia penerbitan buku. Kalangan aktivis mahasiswa dan akademisi, di luar penerbit kampus (university press), seperti LEPHAS, Penerbit UNM, Umitoha, dan UIN Press. Telaga Zam-Zam dan Padat Daya adalah diprakarsai oleh akademisi dari Universitas Negeri Makassar, yaitu Kulla Lagousi dan Halilintar Lathief serta La Galigo Press yang diprakarsai oleh Nurhayati Rahman dari Universitas Hasanuddin. Demikian pula kalangan aktivis mahasiswa melahirkan penerbit, seperti Ininnawa, Era Media, Pustaka Sawerigading, dan Gora. Penerbit Ininnawa didirikan oleh sekelompok kecil aktivis mahasiswa Universitas Hasanuddin, dengan pemrakarsanya Nurhady Sirimorok dan Hasriady yang sejak awal memilih wacana idealis, yang masih dipertahankan hingga kini. Era Media didirikan oleh M. Ruslan, aktivis mahasiswa periode 1990-an memilih tema sastra dan kebudayaan, Penerbit Gora yang didirikan oleh Muhary Wahyu Nurba, sastrawan dan aktivis mahasiswa Universitas hasanuddin periode 1990-an memilih tema sastra dan kebudayaan. Ada pula kolaborasi antara mantan aktivis mahasiswa dengan aktivis LSM mendirikan penerbit Masagena Press juga memilih tema-tema sejarah kebudayaan dan kearifan lokal.\ud Penerbit hadir dengan mengusung beragam tema terbitan. Di Kota Makassar tidak kurang dari 20 penerbit yang lahir pasca reformasi. Beberapa di antaranya penerbit ini telah bergabung dalam IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) , sebuah organisasi penerbit yang cukup mengakar di Indonesia. \ud Daftar Anggota Dan Bukan Anggota IKAPI Sulawesi Selatan \ud No. Nama Penerbit Anggota Ikapi Sulsel Penerbit Bukan Angota Ikapi\ud 1.\ud 2.\ud 3.\ud 4.\ud 5.\ud 6.\ud 7.\ud 8.\ud 9.\ud 10.\ud 11.\ud 12.\ud 13.\ud 14. Lembaga Penerbitan UNHAS\ud Pustaka Refleksi \ud Intermedia Publishing \ud La Macca Press \ud Telaga Zam-Zam \ud Mitra Media\ud Umitoha \ud Citra Adi Bangsa\ud Indobis Penerbit UNM\ud UIN Press\ud Baruga Nusantara\ud Era Media\ud Penerbit Ininnawa\ud Pustaka Sawerigading\ud To Accae\ud Padat Daya\ud Penerbit Gora\ud Pelita Pustaka\ud Yapensi\ud Masagena Press\ud La Galigo Press\ud Fahmis Pustaka.\ud \ud Salah satu penerbit yang cukup produktif dalam jumlah terbitan adalah penerbit Pustaka Refleksi. Penerbit dengan perhatian pada tema-tema sejarah dan budaya lokal, tapi juga tema-tema populer mengenai Sulawesi Selatan. Pustaka Refleksi adalah sebuah penerbit buku yang didirikan pada tahun 2000. Pendiri dari penerbit ini adalah Andi Wanua Tangke, seorang jurnalis senior di Makassar. Penerbit ini memiliki visi berobsesi menumbuhkan nilai-nilai dan budaya lokal untuk memberi peran dalam pembangunan peradaban bangsa. Dari visi ini terlihat bahwa Pustaka Refleksi menjadikan budaya dan nilai-nilai lokal sebagai wacana idealismenya. Kesadaran yang mendasari wacana idealime tersebut adalah adanya kecenderungan semakin terpinggirkannya nilai-nilai budaya lokal oleh modernisasi dan globalisasi. Segmen pasar dari penerbit ini adalah masyarakat umum, peneliti dan mahasiswa.\ud Penerbit lainnya adalah Penerbit Zam-Zam, yang didirikan oleh Prof. Dr. H. Kulla Lagousi, M.S., guru besar pada Universitas Negeri Makassar (UNM) pada tahun 1995. Latar belakang pendirian lembaga penerbit buku ini adalah kesadaran tentang tingginya kebutuhan buku ajar pada sekolah-sekolah di Sulawesi Selatan. Pendirinya menyadari bahwa selama ini pengadaan buku-buku pelajaran sekolah didominasi oleh penerbit-penerbit dari Pulau Jawa. Padahal, kota Makassar memiliki sumber daya manusia yang memadai, yang memiliki kapasitas baik dalam menulis, editing, maupun menerbitkan buku. Visi dari penerbit ini ikut serta dalam mencerdaskan bangsa, dan secara khusus mengangkat muatan-muatan lokal Sulawesi Selatan, seperti sejarah lokal, bahasa daerah, sastra daerah, dan kearifan lokal. Penerbit ini telah menerbitkan ratusan buku pelajaran, yaitu buku pengayaan keterampilan (sains, beternak, teknologi sederhana, kewirausahaan, bercocok tanam, perikanan, kerajinan tangan, PKK, etika pergaulan, dll) dan pengayaan pengetahuan (IPA, pengetahuan umum, pengetahuan populer, sains pemula,Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, Budi Pekerti, sejarah, sastra, dll).\ud Salah satu penerbit aktif adalah Penerbit Ininnawa. Penerbit ini didirikan oleh sekelompok aktivis mahasiswa Universitas Hasanuddin pada tahun 2000. Kelompok mahasiswa ini pada awalnya berupa komunitas kecil yang gandrung berdiskusi tentang wacana sosial dan kebudayaan. Pendirian lembaga penerbit ini bermula dari keresahan dari ???kelompok kecil??? tersebut atas situasi pasca reformasi. Pada masa itu, sejumlah intitusi yang berperan sebagai penjaga moral, agen perubahan, pembela rakyat, dan pendorong perubahan, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lembaga kemahasiswa, dan pergurusan tinggi mengalami kemunduran, dan terjebak dalam politik wacana politik dan ekonomi. Oleh karena itu, mereka mulai memikirkan lembaga alternatif yang dapat berperan mencerdaskan masyarakat dan mendorong perubahan. Penerbit ininnawa memfokuskan perhatian pada buku-buku sastra, pemikiran, dan kebudayaan yang ditulis oleh akademisi, peneliti, dan seniman di Makassar. Penerbit ini juga menerbitkan buku-buku terjemahan dari bahasa Inggris, yang ditulis oleh peneliti-peneliti asing. Dua buah buku terjemahan yang telah diterbitkan, yaitu Warisan Arung Palakka; Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 (judul asli: The Heritage of Arung Palakka; A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century) dan Tapak-Tapak Waktu, Kebudayaan, Sejarah, dan Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan.\ud Penerbit lainnya adalah La Macca Press, yang didirikan oleh Goenawan Monoharto dan Ajiep Padindang pada tahun2001. Goenawan adalah seorang berlatar belakang pekerja seni sedangkan Ajeip adalah anggota DPRD Sulawesi Selatan dari Partai Golkar, yang juga pernah aktif dalam kegiatan kesenian. Pendiri penerbit ini menyadari perlunya penerbit buku tentang seni dan kebudayaan di Kota Makassar. Mereka menyadari bahwa masyarakat Sulawesi Selatan memerlukan bacaan seni dan kebudayaan daerah. Sejauh ini, buku-buku yang mengisi toko buku dan perpustakaan di Makassar atau di kota-kota lain di Sulawesi Selatan didominasi oleh penerbit dari Jawa. La Macca Press tergolong penerbit lokal yang sangat produktif. Penerbit ini sedikitnya telah menerbitkan 100 judul buku yang mengangkat isu seni dan kebudayaan. Lembaga ini sering bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga lainnya dalam bidang penerbitan.\ud Masagena Press adalah salah satu penerbit lokal yang cukup aktif. Masagena Press adalah salah satu divisi Yayasan Masagena. Lembaga ini didirikan pada tahun 1994 oleh Prof. Dr. H. Mattulada dan Prof. Drs. Burhamzah, MBA. Sejumlah aktivis mahasiswa angkatan 1980-an bersama sejumlah aktivis LSM adalah pemrakarsa pendirian lembaga ini. Tujuan utama pendiriannya adalah berusaha untuk ikut dalam proses pencerahan dan pemberdayaan masyarakat. Upaya-upaya yang dilakukan guna mencapai tujuan tersebut adalah: 1) menggali nilai, pengetahuan, teknologi, sejarah lokal, sebagai aset pembangunan, guna memperluas wawasan bagi lahirnya pemikiran pembangunan yang berbasis kebudayaan; 2) menciptakan arus informasi timbal balik dalam upaya mencapai masyarakat makmur sejahtera. Masagena Press pertama kali menerbitkan buku pada tahun 2002 dengan mendapatkan dukungan Program Pustaka Regional Makassar Sulawesi Selatan, kerja sama Yayasan Adikarya IKAPI dengan Ford Foundation. Penerbit ini cukup aktif menerbitkan buku-buku bertema sejarah kebudayaan dan nilai-nalai kearifan lokal Sulawesi Selatan. Penerbit ini dipimpin oleh Kasmir (Kepala Divisi Penerbitan).\ud Jika dicermati dari terbitan-terbitan penerbit lokal, terlihat bahwa mereka memiliki latar belakang pendirian dan segemen pasar yang berbeda. Ada yang pendiriannya diprakarsai oleh kalangan jurnalis (wartawan), aktivis mahasiswa, akademisi, seniman, dan aktivis LSM. Namun, mereka memiliki spirit yang relatif sama, yaitu membangun wacana kebudayaan dan menyediakan bacaan bermutu bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Selain itu, ada juga semacam upaya perlawanan terhadap gempuran industri perbukuan yang didominasi penerbit dari Pulau Jawa. \ud \ud La Galigo: Dari Penerbitan hingga Wacana Pembangunan Karakter Bangsa\ud Usaha gigih dari berbagai pihak telah membuat La Galigo dikenal begitu luasnya dewasa ini. Kitab sastra yang terdiri atas 30 Jilid dan 100 episode, dengan jumlah halaman kira-kira 6000 halaman ini, telah ditulis dan diterbitkan dengan berbagai perspektif. Perhatian serius yang dilakukan oleh R.A. Kern dengan menerbitkan tulisannya tentang La Galigo tahun 1939, 1954, dan 1961 yang diterbitkan dalam edisi Indonesia ???I La Galigo??? tahun 1989 oleh Gadjah Mada University Press, menandai episode penerbitan yang penting atas kajian ini. Penerbitan penting setelah ini adalah ???I La Galigo Jilid I. Menurut Naskah NBG188???, yang ditranskripsi dan terjemahan oleh Muhammad Salim dan Facruddin Ambo Enre dengan bantuan Nurhayati Rahman, yang diterbitkan oleh Penerbit Djambatan. Usaha ini dilanjutkan dengan diterbitkannya Jilid II oleh Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin tahun 2000, dengan transkripsi dan terjemahan oleh Muhammad Salim dan Fachruddin Ambo Enre, dengan Ko-editor oleh Nurhayati Rahman. Beberapa kumpulan tulisan yang diterbitkan dalam bentuk buku seperti oleh Mattulada, dkk yaitu ???Sawerigading. Folktale Sulawesi ??? tahun 1990 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan 25 tema tulisan. Kumpulan tulisan penting lainnya yang disusun oleh Nurhayati Rahman, dkk tahun 2003 yang diterbitkan oleh Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin dengan judul ???La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia???, dengan 33 judul tulisan.\ud Buku yang diterbitkan dari penelitian disertasi doktoral, yakni oleh Fachruddin Ambo Enre ???Ritumpanna Welenrennge. Sebuah Episode Sastra Bugis Klasik Galigo??? yang diterbitkan kerjasama; Ecole francaise d???Estreme-Orient, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Yayasan Obor Indonesia pada tahun 1999. Disertasi penting yang telah diterbitkan adalah karya Nurhayati Rahman yang berjudul ???Cinta, Laut, dan Kekuasaan dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik). Buku ini diterbitkan oleh La Galigo Press pada tahun 2006. Ada juga terbitan dengan latar cerita La Galigo dalam bentuk populer, seperti novel dari Idwar Anwar ???La Galigo (Episode Mutiara Tompoq Tikkaq) yang diterbitkan oleh Jarahnitra Makassar tahun 2004. Serta satu buku ringkas yang disusun oleh H.M. Sanusi Daeng Mattata ???Sawerigading. Kelana dari Luwu??? yang diterbitkan atas kerjasama Jarahnitra Makassar dan Pemkab Luwu Utara. Tulisan dalam bentuk jurnal, diantaranya oleh Basiah dan Dias Pradadimara ???Semesta Galigo. Tentang Tempat-tempat yang disebutkan dalam Naskah NBG 188, dalam Jurnal Lensa Budaya Universitas Hasanuddin tahun 2007. Penerbitan terakhir tentang La Galigo dilaksanakan atas kerjasama Pusat Kebudayaan Universitas Hasanuddin dan Penerbit Pustaka Refleksi , yang disusun oleh Nunding Ram, dkk, dengan judul ???I La Galigo??? dalam bentuk penyelarasan cerita sebanyak 6 jilid.\ud Kajian atas La Galigo terus mengalami perkembangan, berdasar sudut pandang para penulisnya, maupun kajiannya karena tuntutan zamannya. Saat ini dalam dunia pendidikan nasional Indonesia ditekankan bagaimana penggalian karakter tangguh generasi mendatang, yang juga banyak dikaji dan digali dari kearifan lokal atau nilai-nilai tradisional suatu masyarakat. Kebutuhan tersebut, telah mendorong pula kajian serius untuk mendalami naskah La Galigo dalam usaha transformasi nilai-nilai yang dapat dikembangkan sebagai dasar pembangunan karakter bangsa. \ud Beberapa nilai utama yang dapat dikembangkan dari ???pembacaan??? dari kisah La Galigo, diantaranya; ketegasan, keteguhan hati, dan pantang menyerah. Keteguhan, ketegasan, dan pantang menyerah seorang Sawerigading dalam mencintai seorang wanita yang menjadi pujaan hatinya mewarnai episode pelayarannya ke tana Cina. Meski mendapat banyak hambatan, seorang Sawerigading jika telah mengucapkan janji, maka sulit baginya untuk tidak menepatinya. Ketegaran dan keteguhan hati Sawerigading yang tetap memegang teguh janji yang telah diucapkannya, merupakan nilai yang harus diteladani. Ini berarti seseorang haruslah amanah, yakni menjaga kepercayaan orang. Makna utama lainnya adalah musyawarah dan dialog. Kebiasaan ini tergambar dalam pengembaraan Sawerigading, yang mana setiap ada rintangan dan permasalahan, segenap pihak terlibat untuk membicarakan pemecahannya. Seperti yang dilakukan La Pananrang sebagai penasehat dan jurubicara Sawerigading yang senantiasa membangun dialog, komunikasi baik dengan pasukannya maupun dengan pihak musuh. Aspek penting lainnya adalah penataan diri, yakni usaha terus menerus dalam memperbaiki pribadi dan hubungan sesama manusia. Hal ini penting sebagai landasan dalam mengembangkan keberanian, kepercayaan, dan eksistensi diri sebagai orang dipercaya oleh sekelilingnya. Makna penting lainnya dari penataan diri ini adalah bagaimana menempatkan diri dalam kedudukan kita di masyarakat. Dalam artian menekankan arti tanggungjawab dalam berkehidupan. Baik pemimpin atau yang dipimpin harus bertanggungjawab atas perannya masing-masing.\ud Penutup\ud Hadirnya era keterbukaan pasca reformasi telah membuka kesempatan lahirnya banyak penerbit, baik di tingkat nasional maupun skala lokal. Kajian tentang Sulawesi Selatan dari berbagai perspektif terus mendapat perhatian para peneliti dan penulis yang bermuara pada usaha gigih penggiat penerbitan, khususnya penerbit di Makassar. Tumbuh suburnya penerbit berskala lokal menjadi kesempatan besar bagi penyebarluasan berbagai ide, gagasan, hasil penelitian, buku-buku pelajaran, hingga karya non ilmiah. \ud Kesempatan yang luas untuk penerbitan\ud Daftar Pustaka\ud Akhmar, Andi M. 2008. ???Penerbit di Makassar dan Pembelajaran Kebudayaan???. Makasar: Makalah pada Seminar Nilai Kebudayaan oleh JARAHNITRA Makassar.\ud Bandung, A.B. Takko. 2012. ???Nilai-nilai Luhur I La Galigo: Episode Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina???. Makassar: Makalah pada Seminar Internasional peringatan Dies Natalis Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.\ud Basiah & Dias Pradadimara. 2007. ???Semesta Galigo. Tentang Tempat-tempat yang disebutkan dalam Naskah La Baligo NBG 188???. Makassar: Jurnal Lensa Budaya UNHAS.\ud Enre, Fachruddin Ambo. 1999. Ritumpanna Welenrennge. Sebuah Episode Sastra Bugis Klasik Galigo. Jakarta: Ecole francaise d???Estreme-Orient, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Yayasan Obor Indonesia.\ud Kern, R.A. 1989. I La Galigo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press\ud Mattulada dkk. 1990. SawergadingFolktale Sulawesi. Jakarta: 1990\ud Rahman, Nurhayati Rahman yang berjudul ???Cinta, Laut, dan Kekuasaan dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik). Buku ini diterbitkan oleh La Galigo Press pada tahun 2006.\ud Rahman, Nurhayati. 2003. La Galigo. Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Makassar: Pusat Studi La Galigo UNHAS dan Pemkab. Barru.\ud Ram, Nunding dkk. 2010. I La Galigo. 6 Jilid. Makassar: Pusat Kebudayaan UNHAS dan Pustaka RefleksiDunia penerbitan telah menjadi bagian penting dari sejarah umat manusia. Sejak dikenalnya teknologi pencetakan dalam jumlah besar. Maka sejak itu pula lah setiap memori atas suatu zaman dapat diterbitkan, disebarluaskan, dan perkenalkan kepada khalayak lebih luas. Di Indonesia penerbitan awal telah di mulai sejak masa kolonial, dengan pencetakan surat kabar di berbagai daerah. Aktifitas dunia penerbitan dan percetakan melalui dinamika tersendiri, sejak masa Orde Lama, Orde Baru, masa reformasi hingga saat ini. Era reformasi telah menandai pula bangkitnya dunia penerbitan, baik di tingkat nasional, maupun di tingkat lokal. Beberapa pihak dengan latar belakang
    corecore