41 research outputs found
Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Rimpang Temu Putih terhadap Larva Udang dan Embrio Ikan Zebra
Curcuma zedoaria, known as temu putih, is commonly used as traditional medicine in Indonesia. The toxicity of this herb needs to be studied to improve its application. This research aims to evaluate the toxicity of the crude ethanol extract of temu putih rhizome against brine shrimp (Artemia salina) larvae and zebrafish (Danio rerio) embryos and to analyze the suspected active compounds contained in the extract. The crude ethanol extract showed 50% lethal concentration value (LC50) at 588 ppm against brine shrimp larvae and 215 ppm against zebrafish embryos. In zebrafish embryos, exposure of the crude ethanol extract has caused major malformation in development of head, namely brain and eyes organs. Based on the gas chromatography-mass spectrometry analysis, the suspected active compound that play a role in the toxicity are epicurzerenone, curzerene, and curzerenone, which 2,4,6-trimethylacetophenone as the predominant compound
Metabolit Sekunder dari Ekstrak Metanol Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria).
Temu putih yang dikenal dengan nama dagang kunyit putih merupakan
salah satu jenis tanaman Zingiberaceae yang rimpangnya telah umum digunakan
sebagai obat tradisional. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh metabolit
sekunder dari ekstrak metanol rimpangnya dan mengidentifikasi struktur
molekulnya. Ekstrak metanol difraksionasi menggunakan kromatografi cair
vakum dengan eluen n-heksana:EtOAc secara gradien dan diperoleh 14 eluat.
Fraksionasi lebih lanjut eluat ke-13 menggunakan kromatografi radial dengan
eluen n-heksana:diklorometana secara gradien menghasilkan 2 fraksi yang masih
berupa campuran. Fraksi 13B difraksionasi kembali dengan kromatografi radial
dan menghasilkan 6 fraksi. Fraksi 13B2 merupakan senyawa bis-(2-
etilheksil)ftalat berdasarkan analisis spektofotometer resonans magnetik inti
proton. Fraksi 13B5A dianalisis dengan kromatografi cair-spektrometer massa
yang menunjukkan metil 4-(2-naftil)butanoat sebagai senyawa utama, disertai
dengan sejumlah kecil prokurkumenol
Uji Toksisitas Ekstrak Etil Asetat Teraktif Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans) Menggunakan Uji Letalitas Larva Udang
Dandang gendis (Clinacanthus nutans) is a medical herb commonly used as a traditional medicine as antimalarial and antidiabetic. This study was started with maceration of the dried leaves of dandang gendis with ethanol,and then partitioned using n-hexane. The ethanol extract free of nonpolar compounds was then partitioned with ethyl acetate. The ethanol crude extract, n-hexane fraction, and ethyl acetate fraction were tested by using brine shrimp lethality test to determine the toxicity of each extract. The ethyl acetate fraction showed the highest activity with 50% lethal concentration (LC50) of 32 mg/L. Re-extraction of ethanol extract free of nonpolar compounds by using ethyl acetate in 90 minutes by three times extraction with material:solvent ratio of 1:2 resulted LC50 value of 29.02 mg/L. Phytochemical assay results showed that the ethyl acetate extract of dandang gendis leaves contained saponins, alkaloids, steroids, and flavonoids. Re-extraction of ethyl acetate extract contained higher flavonoids than ethyl acetate extract from the first extraction
Toksisitas Akut Ekstrak Daun Sirsak Ratu (Annona muricata) dan Sirsak Hutan (Annona glabra) sebagai Potensi Antikanker
Soursop plants has been known to have pharmacological activities such as anticancer. Soursop species that are widely found in Indonesia are soursop (Annona muricata) and pond apple (A. glabra). This study has determined the toxicity properties of leaf extracts of these species to brine shrimps larvae and zebra fish embryos. Overall, the pond apple extract showed higher toxicity then the soursop. The best LC50 values were obtained from hexane extract of pond apple leaves, namely 197 μg/mL to brine shrimps larvae and 326 μg/mL to zebra fish embryo. These values indicate a significant correlation as anticancer compounds. This extract of pond apple resulted 8 spots in separation by using thin layer chromatography. 1H-NMR measurement towards these 2 well-separated spot did not show acetogenin component, as previously reported as the anticancer components in soursop plants. Further fractionation of the extract is needed to ensure the structure of the anticancer active component it contained
Senyawa yang Teridentifikasi dalam Ekstrak Metanol Temu Putih (Curcuma zedoaria).
Temu putih (Curcuma zedoaria) merupakan tanaman Zingiberacae yang
banyak digunakan sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan mengisolasi
metabolit sekunder pada fraksi metanol rimpang temu putih dan diidentifikasi
senyawanya dengan kromatografi gas dan spektrometer massa (GC-MS). Ekstrak
metanol temu putih yang diperoleh adalah 20%. Pemurnian menggunakan
kromatografi radial dan kromatografi lapis tipis preparatif menghasilkan 2 fraksi,
yaitu 3A1 dan 3A2 yang kemudian dianalisis dengan menggunakan GC-MS.
Senyawa yang teridentifikasi dalam fraksi 3A1 sebanyak 47, termasuk 2 senyawa
yang diduga sebagai lippifoli-1(6)-en-4β-ol-5-on dan benzotiazola-2-tiol. Senyawa
yang teridentifikasi dalam fraksi 3A2 sebanyak 58, termasuk diantaranya α-siperon,
madolin A, 1,6-dimetil-9-(1-metiletilidena)-5,12-dioksatrisiklododekan- 8-on, dan
benzo[1,2-b:4,3-b']dipiran-3,6-dion-2,2-dimetil
Fabrikasi Dye Sensitized Solar Cells Berbahan Dasar Pewarna Asal Gardenia jasminoides dan Monmorilonit-Nafion
Dye sensitized solar cells (DSSC) merupakan sistem energi tenaga surya
yang mampu mengonversi energi foton menjadi energi listrik berbasis
semikonduktor yang mengikuti fenomena elektrokimia. Pada sistem DSSC
membutuhkan beberapa komponen seperti semikonduktor dan zat warna.
Komponen semikonduktor berfungsi sebagai transfer elektron dari zat warna
menuju elektrode kerja. Semikonduktor yang sering digunakan saat ini adalah
TiO2, namun konduktivitas elektron dan adsorpsi zat warna oleh TiO2 masih
rendah. Oleh Karena itu, pada penelitian ini melakukan pengembangan
semikonduktor menggunakan monmorilonit (MMT) dan nafion karena mampu
meningkatkan konduktivitas elektron dan adsorpsi zat warna.
Komponen zat warna berfungsi sebagai pengubah energi foton menjadi
elektron. Zat warna yang sering digunakan dan memiliki kinerja DSSC optimal
adalah zat warna anorganik, tetapi zat warna anorganik tidak ramah lingkungan.
Oleh karena itu, zat warna alami menjadi pilihan terbaik karena sifatnya yang
ramah lingkungan dan sumbernya dari tumbuh-tumbuhan. Sehingga pada
penelitian ini menggunakan zat warna alami dari ekstrak buah Gardenia
jasminoides karena mengandung flavonoid dan stabilitas panasnya sekitar 60
sampai 90oC. Ekstrak zat warna dikembangkan lebih lanjut dengan menambahkan
MMT dan nafion karena mampu meningkatkan stabilitas zat warna. Tujuan
penelitian ini adalah mengekstraksi zat warna dan menganalisis senyawa
flavonoid dari buah G. jasminoides, memodifikasi semikonduktor dan zat warna
menggunakan variasi komposisi MMT-nafion, menentukan kinerja DSSC hasil
modifikasi menggunakan MMT-nafion. Pengembangan DSSC dilakukan untuk
meningkatkan kinerja konversi energi solar menjadi energi listrik.
Preparasi ekstrak G. jasminoides menggunakan metode maserasi dan
preparasi elektrode kerja dengan menvariasikan komposisi MMT-nafion yaitu
(0:100, 25:75, 50:50, 75:25, 100:0). Penggunaan MMT-nafion dilakukan dengan
metode coating (melapis) pada TiO2, sedangkan penggunaan zat warna dilakukan
dengan 2 metode yaitu soaking (merendam) dan mixing (mencampur). Hasil
karakterisasi zat warna buah G. jasminoides menggunakan UV-Vis menunjukkan
adanya senyawa krosin dan kuersetin pada panjang gelombang 460.6 nm, 436.2
nm dan 329.2 nm. Kinerja teknologi DSSC dievaluasi menggunakan potensiostat
untuk menentukan nilai efisiensi (η). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa
variasi komposisi optimum MMT-nafion adalah 50:50 menggunakan metode
mixing dengan nilai efisiensi 0.9160%. Selain kinerja DSSC, topografi komposit
optimum juga dianalisis menggunakan Atomic Force Morphology (AFM)
menunjukkan permukaan lebih merata menggunakan metode mixing. Maka dapat
disimpulkan zat warna terdistribusi secara merata kedalam MMT-nafion
Pencirian Ekstrak Aktif Sitotoksik dari Daun Sirsak Gundul (Annona glabra) Indonesia
Pond apple (Annona glabra) is a member of Annonaceae. It has been reported that plants from Annonaceae family contains alkaloid, flavonoid, and acetogenin having good anticancer potency. The objectives of this research were to fractionate A. glabra leaves assisted with brine-shrimp lethality test (BSLT), to characterize the active extract, and to identify the phytochemical constituents. Fractionation of 95% ethanol extract using liquid-liquid extraction gave 7 fractions, namely yellow, orange, and dark water, chloroform, residue, hexane, and methanol fractions. Based on the BSLT results, chloroform fraction showed the highest activity with LC50 of 98 ppm. Phytochemical test of the most active fraction showed alkaloid, flavonoid, steroid, triterpenoid, and tanin components. Subsequent fractionation of the chloroform fraction by using hexane-CH2Cl2-methanol (90:40:5) eluent produced 16 spots. The infrared spectrum of the best separated spot was analyzed and showed functional groups with -OH, aromatic C=C, C-H sp2, and C-H sp3 bonds
Optimisasi Ekstraksi Daun Dandang Gendis Menggunakan Parameter Waktu, Nisbah Sampel-pelarut, dan Jenis Pelarut
This study was started with soxhlet extraction of the dried leaves of dandang gendis with n-hexane and then maceration of the residue. Optimization on the maceration process was carried out by varying the maceration time, ratio of sample-solvent, and solvent to obtain the lowest LC50 value. The dried leaves sample used here has 9.75% moisture content. The extraction yields obtained were varying from 13 to 18% and the brine shrimp lethality test showed that the LC50 values of the extracts were 275 to 650 mg/L. The response surface method was used to see the treatment effect to the response (e.g. LC50). The method was calculated using Minitab 15 and SAS 9.1 softwares. From these calculations, the optimum condition for the leaves of dandang gendis extraction was achieved by using 20% ethanol as solvent, 1:3 samples to solvent ratio, and 6 hours of maceration. The LC50 value of the optimum extracting condition was 240.66 mg/L. The phytochemical assay results showed that the most active the leaves of dandang gendis extract contained saponins, flavonoids, and alkaloids
Isolation and cytotoxicity of theen leaves (ficus carica linn.) flavonoid extract
Penggunaan daun tin (Ficus carica) sebagai obat mulai dikembangkan di Indonesia sejak tahun 2011. Studi mengenai potensi bioaktif tanaman tin telah banyak dilakukan di dunia, tetapi belum banyak dilakukan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan sitotoksisitas ekstrak flavonoid daun tin berdasarkan metode uji letalitas larva udang (BSLT) dan toksisitas embrio ikan zebra (ZFET). Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak flavonoid pada sampel sebesar 2.36% dengan nilai LC50 sebesar 422 ppm dengan metode BSLT dan 181 ppm dengan metode ZFET. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak kasar metanol. Uji kualitatif terhadap ekstrak menunjukkan kandungan flavonoid berupa flavon dan flavonol dalam fraksi etil asetat dari ekstrak metanol. Pemberian ekstrak kasar flavonoid daun tin pada embrio ikan zebra menimbulkan abnormalitas mayor pada sirkulasi darah. Berdasarkan hasil ini ekstrak kasar flavonoid daun tin cukup toksik dan efek toksiknya diduga dominan pada sistem sirkulasi darah makhluk hidup.Theen leaves have been used as traditional medicine in Indonesia since 2011. The bioactivity potential of the leaves has been acknowledged in international research, but lack of information in Indonesia so far. This study aims to examine the cytotoxicity of theen leaves flavonoid extract against brine shrimp (Artemia salina) and zebrafish (Danio rerio) embryo. The result showed that flavonoid in the sample was 2.36% and the 50% lethal concentrations (LC50) were 422 and 181 ppm against brine shrimp and zebrafish embryo, respectively. The qualitative assay for flavonoid class indicated the presence of flavones and flavonols class. The zebrafish embryo test indicated a major malformation on blood circulation. Based on these facts, the flavonoid extract is toxic and has effect to blood circulation of living organism. Key words: brine shrimp lethality test, flavonoid, theen leaves, zebra fish embryo toxicity
Membrane Electrode Assembly Polistirena Tersulfonasi sebagai Membran Polimer Elektrolit untuk Aplikasi Sel Bahan Bakar Mikrob
Microbial fuel cell (MFC) merupakan sistem energi biokimia yang mampu mengonversi bahan organik menjadi energi listrik dengan bantuan aktivitas elektrokatalitik dari mikroorganisme. Pada sistem MFC dibutuhkan suatu membran penukar proton (PEM) yang berfungsi untuk mentransfer proton dari anode menuju katode. Membran yang digunakan sebagai PEM harus mempunyai nilai konduktivitas yang tinggi. Nafion adalah membran yang umum digunakan pada sistem MFC karena mempunyai stabilitas mekanik yang baik dan konduktivitas proton yang tinggi. Namun, tingginya permeabilitas oksigen dan harga yang mahal menyebabkan nafion tidak efisien untuk digunakan. Salah satu upaya untuk menggantikan nafion dan meningkatkan nilai konduktivitas membran adalah dengan Membrane Electrode Assembly (MEA) berbasis polistirena tersulfonasi (PSS). Secara umum pembuatan MEA bertujuan untuk meningkatkan konduktivitas membran, mengurangi overpotensial, memaksimalkan densitas daya, mencapai panas yang efektif, dan memperpanjang umur dari sistem fuel cell. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kemampuan membrane electrode assembly dari polistirena tersulfonasi dengan menggunakan katalis Ag/C dan elektrode karbon yang diharapkan menghasilkan konduktivitas dan daya lebih tinggi dari membran biasa.
MEA berbasis polistirena tersulfonasi dan membran nafion dibentuk dengan menggunakan katalis Ag/C 20%. Membran polistirena tersulfonasi dipreparasi menggunakan oleum pada suhu 60oC dengan nilai derajat sulfonasi (DS) yang diperoleh sebesar 33.8%. Pencirian membran dilakukan dengan menggunakan spektroskopi fourier transform infrared (FT-IR) dan nuclear magnetic resonance (NMR) mengonfirmasi adanya gugus –SO3H. keberadaan gugus tersebut mengonfirmasi telah terbentuknya polistirena tersulfonasi.
Kinerja membran dan MEA berbasis PSS dan nafion dievaluasi dengan mengukur nilai konduktivitas proton dan densitas daya. Hasil pengukuran dari MEA-PSS mempunyai nilai konduktivitas proton sebesar 0.79 x 10-3 S/cm dan nilai densitas daya sebesar 7.54 mW/cm2, nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan membran PSS dan nafion non aktivasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa MEA dapat meningkatkan nilai konduktivitas proton. Selain kinerja membran, topografi membran sebelum dan sesudah proses MFC dianalisis dengan menggunakan atomic force microscopy (AFM). Sebelum proses MFC, topografi MEA berbasis PSS dan nafion menunjukkan permukaan yang lebih kasar dibandingkan membran setelah proses MFC
