1,721,085 research outputs found

    Konsep Ruang Terbuka Publik Lanskap Permukiman Tradisional Minangkabau

    No full text
    Budaya Minangkabau merupakan salah satu budaya tertua yang ada di Indonesia. Budaya tersebut memiliki tradisi dan budaya yang khas sehingga mencerminkan kehidupan dan adat istiadat di dalam masyarakatnya. Perwujudan budaya Minangkabau yang khas tersebut salah satunya dapat dilihat dari bentuk ruang terbuka publiknya. Ruang terbuka publik yang khas dapat dilihat dari berbagai bentuk peninggalan seperti situs tempat dan karya sastra (Tambo). Tambo yang telah ditulis beratus tahun yang lalu dan tidak mengalami perubahan hingga saat ini. Literatur tersebut menjadi acuan untuk penelitian tentang konsep ruang terbuka publik Minangkabau untuk menjaga keorisinilan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Penelitian ini dilakukan di permukiman Jorong Pariangan, Nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang merupakan wilayah awal mula berdirinya budaya Minangkabau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi pustaka, wawancara, dan observasi lapang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga ruang terbuka publik yang ada di permukiman Minangkabau, yaitu Medan Nan Bapaneh, Galanggang, dan Tapian. Ketiga ruang terbuka publik ini dapat dikelompokan menjadi dua berdasarkan fungsi dan tujuannya, yaitu ruang terbuka publik umum dan khusus. Ruang terbuka publik umum itu seperti Galanggang dan Tapian dapat dimanfaatkan dan digunakan oleh seluruh masyarakat, sedangkan yang khusus seperti Medan Nan Bapaneh hanya dapat digunakan oleh para pemuka adat seperti penghulu. Ketiganya memiliki filosofi dan aturan adat yang mengatur untuk pembentukannya, serta terdapat berbagai elemen yang menjadi ciri khas dari ruang publik budaya Minangkabau. Konsep karakter ruang terbuka publik Minangkabau tersebut mengacu kepada alam dan aktivitas masyarakat. Hubungan antara alam dan aktivitas manusia tersebut menciptakan sebuah ruang terbuka publik yang menjadi ciri khas dari budaya Minangkabau dan sesuai dengan falsafat hidup masyarakat Minangkabau, yaitu “alam takambang jadi guru” (alam yang terkembang dijadikan guru)

    Desain Lanskap Kampung Wisata Pulo Geulis Berbasis Preferensi Masyarakat.

    No full text
    Ekonomi diyakini sebagai faktor utama fenomena urban sprawl. Fenomena ini juga telah menyebar sampai di pusat Kota Bogor karena pesatnya pertumbuhan penduduk yang menciptakan permukiman kumuh di kota. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, baik dari kalangan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, maupun akademisi untuk merumuskan solusi yang sesuai untuk memencahkan masalah tersebut. Pariwisata diyakini dapat menjadi kegiatan ekonomi yang berkontribusi nyata pada pengembangan masyarakat setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis kondisi tapak dalam konteks pengembangan kampung wisata, mengetahui preferensi masyarakat tentang pengembangan Pulo Geulis sebagai kampung wisata, dan merancang lanskap Pulo Geulis sebagai kampung wisata berdasarkan preferensi masyarakat. Proses desain mengacu pada tahapan desain lanskap menurut Booth (1983), yang terdiri dari tahap persiapan, riset dan analisis, perencanaan konsep, dan desain. Pulo Geulis dipilih sebagai studi kasus. Terlepas dari permasalahan saat ini, Pulo Geulis memiliki berbagai potensi untuk menarik wisatawan. Pengembangan Pulo Geulis sebagai kampung wisata akan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat setempat, memperbaiki kondisi sosial masyarakat, memperbaiki sarana dan prasarana, sekaligus menjaga kondisi lingkungan yang baik dan sehat. Desain Kampung Pariwisata Pulo Geulis mengacu pada preferensi responden dari kedua sisi kepentingan masyarakat lokal sebagai pemilik sumber daya pariwisata dan sisi kebutuhan wisatawan sebagai konsumen wisata. Hasil penelitian ini adalah desain lanskap yang direkomendasikan untuk Pulo Geulis sebagai kampung wisata berdasarkan preferensi masyarakat. Desain ini dapat dijadikan dasar bagi pengembangan masyarakat setempat dan referensi dalam merancang dan mengembangkan lanskap Pulo Geulis sebagai kampung wisata. Dari proses inventarisasi dengan metode kuesioner diketahui bahwa daya tarik wisata Pulo Geulis yang paling utama adalah nilai historis dan budaya. Sebagian besar masyarakat setempat menerima pengembangan Pulo Geulis sebagai Kampung Wisata. Namun, wisatawan menganggap Pulo Geulis masih kurang memadai apabila dijadikan area wisata dilihat dari sisi prasarana fisiknya. Para wisatawan berpendapat bahwa permukiman Pulo Geulis terlalu padat, tidak teratur, dan kumuh. Sementara itu, masyarakat setempat kebanyakan menolak dipindahkan ke luar wilayah Pulo Geulis. Beberapa rumah penduduk dapat dipindahkan ke bangunan hunian vertikal dengan berdasarkan beberapa kriteria legal untuk menyediakan ruang terbuka lebih banyak. Analisis data aspek fisik, biofisik, dan sosio-kultural menunjukkan bahwa konsep dasar “Kampung Keterkaitan Puasaka” atau "Heritage Linkage Kampong" paling sesuai untuk pengembangan Pulo Geulis sebagai kampusng wisata. Konsep ini menghubungkan berbagai elemen penting Pulo Geulis, yang ditandai dengan gaya desain lanskap tradisional khas Pecinan. Dalam konsep zonasi, tapak dibagi dalam lima zona, yaitu area penerimaan (welcome area), area utama (main area), area pendukung (supporting area), area pelayanan (service area), dan area permukiman (residential area). Masing-masing zona memiliki fungsi yang berbeda dan memfasilitasi aktivitas yang berbeda. Untuk memperjelas pembagian ruang, masing-masing zona dirancang untuk mewakili suasana festival Pecinan terbesar. Zona tersebut terhubung dengan sistem sirkulasi terpadu, mulai dari sirkulasi primer, sekunder, dan tersier. Desain akhir disajikan dalam bentuk rencana tapak (site plan), gambar potongan, gambar perspektif, rencana penanaman, dan desain detil. Lebih lanjut, penelitian ini juga menghasilkan rekomendasi rencana daya dukung setiap fasilitas pariwisata

    Desain Lanskap Ekologis Laboratorium Lapang Departemen Biologi FMIPA IPB sebagai Taman Koleksi dan Edukasi.

    No full text
    Lanskap Kampus IPB merupakan suatu lanskap yang terbentuk dari hubungan yang kompleks dari berbagai elemen pembentuk di dalamnya. Elemen tersebut, di antaranya adalah lanskap hutan yang mendukung kegiatan pembelajaran di dalam kampus. Sebagai salah satu kampus terbesar di Indonesia, sudah sewajarnya Kampus IPB menyediakan sarana-prasarana yang memadai bagi kegiatan akademik ataupun nonakademik di dalam kampus. Dalam mewujudkan hal tersebut Departemen Biologi yang merupakan salah satu pilar pendidikan dalam kampus merencanakan pembangunan laboratorium lapang berupa taman koleksi yang mengintegrasikan dengan kondisi eksisting lanskap hutan kampus yang ada, guna menunjang kegiatan pembelajaran mahasiswa biologi. Pembangunan taman koleksi ini menggunakan pendekatan ekologis untuk menjaga kestabilan ekosistem dan meminimalisir dampak kerusakan yang akan ditimbulkan nantinya pada lanskap hutan kampus. Mengacu pada pendekatan ekologis tersebut desain taman koleksi biologi menggunankan konsep dasar dengan tiga poin utama yang perlu terpenuhi yaitu, edukasi, ekologis dan taman. Berdasarkan konsep dasar tersebut untuk perwjudan ke dalam tapak, konsep desain yang digunakan adalah laba-laba. Bentukan tubuh laba-laba dapat digunakan sebagai pembagi tiga ruang utama dalam tapak yaitu ruang penerimaan, ruang pelayanan, dan ruang konservasi edukasi. Ruang konservasi dan edukasi dibagi menjadi delapan subruang, untuk memenuhi kerakteristik taman koleksi yang memerlukan pendataan dan penataan vegetasi secara sistematis dalam tapak. Delapan subruang ini menjadi taman koleksi di mana penataan vegetasi di dalamnya berbasis pada sistem taksonomi. Output dari penelitian ini berupa desain yang dituangkan ke dalam gambar teknis dalam bentuk gambar denah lokasi, potongan yang terlihat, perspektif, elemen desain rinci, rencana penanaman, serta ilustrasi desain dalam bentuk video animasi. Sebagai pilot project, perlu dilakukan kajian lebih lanjut baik evaluasi ataupun pengembangan pasca pembangunan desain taman koleksi biologi

    Desain Taman Edukasi Koleksi Heliconia Berbasis Kedekatan Taksonomi di Kebun Raya Bogor

    No full text
    Kebun raya (Botanical garden) merupakan sebuah taman yang didedikasikan sebagai pusat koleksi, budidaya, edukasi, dan konservasi berbagai jenis spesies flora dari berbagai daerah dan habitat. Kebun Raya Bogor sebagai salah satu kebun raya tertua di Indonesia kini tengah mengupayakan pengembangan taman-taman koleksi untuk famili tanaman tertentu, salah satunya taman koleksi Heliconiaceae. Taman ini didesain berbasis pada kedekatan tanaman heliconia dengan tanaman lain secara taksonomi dengan mempertimbangkan aspek-aspek ekologi, estetika, serta fungsional. Konsep dasar yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada fungsi utama kebun raya yaitu koservasi dan edukasi. Konsep dasar ini diharapkan dapat memberikan pengalaman kepada pengunjung Taman Koleksi Heliconia melalui penyelarasan aspek konservasi, edukasi, serta rekreasi alam. Sistem pengelompokan tanaman dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik tanaman Heliconia dan tanaman kerabatnya berdasarkan ciri-ciri fisik seperti bentuk daun, tipe daun, warna bunga, tinggi tanaman. Selain itu dipertimbangkan juga kebutuhan tanaman atas air dan cahaya matahari. Hasil penelitian berupa desain Taman Heliconia yang terdiri atas area penerimaan, area rekreasi, area pelayanan, dan area konservasi-edukasi sebagai area utama. Terdapat setidaknya 21 jenis tanaman heliconia dan 10 jenis tanaman kerabat heliconia yang dikoleksi di taman ini. Desain dituangkan ke dalam bentuk gambar-gambar teknis, berupa gambar rencana tapak, tampak potongan, perspektif, detail elemen desain, rencana penanaman; serta ilustrasi desain berupa video animasi

    Desain Lanskap Kawasan Penutupan Tempat Pembuangan Akhir Suwung sebagai Taman Hutan Raya Denpasar

    No full text
    Mahasiswa lulusan-lulusan Arsitektur Lanskap yang baru pada saat ini (fresh graduate) rata-rata masih kurang cukup memiliki pengalaman dan pemahaman dalam dunia kerja keprofesian Arsitektur Lanskap. Maka dari itu, mahasiswa Arsitektur Lanskap dianjurkan memilih magang di perusahaan keprofesian di bidang Arsitektur Lanskap. Mahasiswa Arsitektur Lanskap seharusnya mengetahui perkembangan lanskap, salah satunya berhubungan dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Saat ini Provinsi Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang paling banyak diminati baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup banyak pada suatu kota mengakibatkan limbah yang dihasilkan begitu banyak dan akan menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan sekitar. Meningkatnya permasalahan yang ada di Provinsi Bali seharusnya diikuti dengan penyediaan prasarana dan sarana. Salah satu prasarana dan sarana dasar yang dinilai cukup penting adalah pengelolaan sampah. Di Kabupaten Badung terdapat TPA yang selama ini menampung semua sampah yang dihasilkan dari beberapa daerah di Bali seperti Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar dan Tabanan. Namun, kondisi TPA sudah sangat memprihatinkan karena volume sampah yang sudah melebihi kapasitas. Oleh karena itu pemerintah selaku pemberi tugas ingin mengembalikan fungsi awal lahan TPA ini yang sebelumnya merupakan hutan tanpa harus menghilangkan fungsi dari TPA itu sendiri. Maka dari itu, ditetapkan konsep yang akan dipakai untuk kawasan ini adalah taman hutan raya. Taman Hutan Raya (THR) merupakan kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang kegiatan budi daya, budaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman hutan raya membutuhkan konsep agar memiliki nilai estetis dan fungsional yang seimbang. Untuk itu dibutuhkan fasilitas-fasilitas untuk menunjang aktivitas pengunjung ketika di tapak. Tujuan umum dari kegiatan magang ini adalah untuk menambah dan memperluas wawasan, keterampilan, dan pengalaman mahasiswa dalam dunia kerja Arsitektur Lanskap. Waktu pelaksanaan magang berlangsung selama bulan Maret sampai bulan September 2018. Pada kegiatan proses desain penutupan TPA Suwung, Metode desain yang digunakan adalah tahap pendahuluan, tahap desain skematik, tahap pengembangan desain, dan tahap pembuatan gambar kerja. Tahap pendahuluan adalah tahap yang berisi tentang pembuatan proposal. Tahap kedua adalah tahap desain skematik yaitu tahap inventarisasi data (analisis & sintesis). Tahap ketiga adalah tahap desain pengembangan, yaitu tahap pembuatan konsep sampai siteplan. Tahap terakhir adalah tahap pembuatan gambar kerja, yaitu tahap pembuatan potongan dan DED. Kegiatan magang dapat mendorong kemampuan serta keterampilan mahasiswa sehingga tercipta profesionalisme dalam bekerja yang dapat diterapkan mahasiswa ke dalam dunia kerja. Keterampilan ini adalah dalam lingkup pengerjaan tahapan dalam penyelesaian produk proyek yang baik. Mahasiswa dapat mempelajari cara penentuan konsep dengan aplikasinya pada tapak

    Desain Ekologis Taman Koleksi Pakis berbasis Sistem Klasifikasi Bioregion di Ecopark, Cibinong Science Center-Botanic Gardens

    No full text
    Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati pakis tinggi. Walau demikian, saat ini habitat alami pakis mulai terdegradasi, khususnya di wilayah dataran rendah akibat perubahan lahan yang menjadi kawasan perkotaan dan industri. Oleh karena itu, Ecology Park (Ecopark) Cibinong Science Center- Botanic Gardens sebagai area konservasi ex-situ menjadi lokasi yang tepat dalam melestarikan tumbuhan pakis dataran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain taman koleksi pakis di tapak berdasarkan proses desain lanskap ekologis. Konsep dasar penelitian adalah The Journey of Fern, yakni konsep yang bertujuan untuk memberikan pengalaman bagi pengunjung terhadap taman koleksi pakis melalui penyelarasan aspek konservasi, rekreasi, dan edukasi alam. Desain ekologis diterapkan melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R). Sistem klasifikasi bioregion diterapkan melalui pengelompokkan habitat berdasarkan kondisi cahaya, air, tanah, udara, dan suhu lingkungan. Konsep desain taman koleksi pakis berasal dari transformasi morfologi dan pola pertumbuhan pakis ke dalam bentuk organik dan geometris. Hasil penelitian berupa desain taman koleksi pakis yang terdiri atas area penerimaan, area rekreasi, area pelayanan, dan area konservasi-edukasi sebagai area utama yang difungsikan dalam mengoleksi 66 spesies pakis. Area konservasi-edukasi terdiri atas taman-taman dengan berbagai tema visual, meliputi lanskap gunung berbatu (ferns of rocky mountain), lanskap danau (ferns of tranquility lake), lanskap lembah (ferns of tremendous valley), lanskap kawah (ferns of myth crater), lanskap sungai (ferns of hidden river), lanskap hutan hujan (ferns of sacred rain forest), lanskap rawa (ferns of misty swamp), dan sebuah area konservasi indoor berupa green house berbentuk kubah sebagai pusat taman koleksi pakis dengan tema visual lanskap kepulauan (ferns of curious island)

    Kajian Konsep Desain Lanskap Jalan Kolonial Kota Bogor.

    No full text
    Bogor City is one of the historic sites in the European colonial era in Indonesia. One of a heritage form in that era is the landscape of colonial. The form of colonial landscape also reflected in the design of street landscape in Bogor City. Study on Design Concept of Colonial Streetscape at Bogor City aims to identify the component of street landscape whose colonial character, exploring the design concept of colonial street landscape, and composing the design concept of street landscape that having colonial character in Bogor. This research has obtained through descriptive analysis by field observation and tracing the information of history. Generally, three main components of colonial street landscape design those are the main elements of street, complementary elements, and colonial building. Complementary elements that characterizing the colonial has the feel of a classic Victorian, gothic and use of industrial materials. The third component of colonial street lanscape is a building that reflects the Dutch colonial era and The important part of it is the facade of the building

    Konsep Desain Lanskap Prajawangsa City, Jakarta Timur (Kegiatan Magang di Konsultan Oemardi Zain).

    No full text
    Prajawangsa City merupakan nama superblok yang terdapat di Kota Jakarta Timur, Indonesia. Total luas kurang lebih 7 hektar dengan ruang terbuka hijau 3,59 hektar. Hal ini sesuai dengan koefisien daerah hijau di wilayah administrasi Jakarta Timur dengan minimal 24,1% dari total lahan Prajawangsa City. Tujuan skripsi ini adalah mempelajari proses penyususanan konsep desain lanskap Prajawangsa City pada konsultan Oemardi Zain. Tujuan kegiatan magang di Konsultan Lanskap Oemardi Zain dalam bidang desain lanskap adalah mendapatkan pengetahuan praktis, pengalaman dan keterampilan dalam pekerjaan arsitektur lanskap, mempelajari proses dan tahapan desain lanskap secara langsung di dunia kerja. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dari data primer dan sekunder dengan mengacu pada tahapan desain dari OZ. Konsep umum lanskap Prajawangsa City adalah timeless approach, safe and efficient accessibility, dramatic space, friendly microclimate, dan art and healty. Konsep Lankap (Landscape Concept) yang diangkat adalah serenity, prosperity, paragon, liberty, dan bliss. Konsep desain Lanskap Prajawangsa City mengaplikasikan pola organik geometri

    Identifikasi Eco-Aesthetic Lanskap Desa Ancaran, Kabupaten Kuningan

    No full text
    Perdesaan merupakan wilayah yang kegiatan utamanya adalah pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Adat istiadat dan sosial budaya yang ada masih diakui dan dihormati oleh masyarakat setempat. Dalam mensejahterakan masyarakat desa banyak kegiatan-kegiatan yang terkadang kurang memperhatikan fungsi-fungsi ekologi dan estetiknya. Salah satunya yaitu Desa Ancaran, Kabupaten Kuningan, merupakan salah satu desa di Indonesia yang memiliki kegiatan utamanya pertanian dengan potensi keindahan yang baik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi suatu lanskap visual Desa Ancaran yang ditinjau dari sudut pandang eco-aesthetic. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian dilakukan dengan tiga tahapan yaitu studi pustaka, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis. Analisis yang digunakan yaitu analisis scenic beauty estimation (SBE) untuk mengetahui nilai keindahan, analisis semantic differential (SD) untuk mengetahui persepsi ekologi, dan analisis regresi multilinear. Penilaian dalam perhitungan SBE dan SD dilakukan oleh 30 responden. Hasil dari perhitungan SBE dikelompokkan menjadi lanskap kualitas estetik tinggi, lanskap kualitas estetik sedang, dan lanskap kualitas estetik rendah. Kemudian dianalisis hubungan kualitas estetik dan kualitas ekologinya dengan menggunakan metode SD. Analisis regresi multilinear digunakan untuk mengetahui variabel yang berpengaruh nyata pada suatu nilai keindahan yang ada. Data yang digunakan merupakan data yang dianggap memiliki kondisi lanskap yang teratur. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai SBE yang dimiliki Desa Ancaran berkisar -67 sampai 120. Nilai keindahan tertinggi sebesar 120 pada lanskap Nomor 28 dan lanskap dengan nilai keindahan terendah sebesar -67 pada lanskap Nomor 6. Lanskap yang memiliki nilai SBE tinggi merupakan lanskap pertanian yang merupakan lanskap paling disukai dan indah, sedangkan lanskap dengan nilai SBE rendah terdapat pada lanskap pasar yang merupakan lanskap yang paling tidak disukai dan tidak indah. Lanskap kualitas estetik tinggi memiliki persentase luasan sekitar 30,79%, lanskap kualitas sedang memiliki persentase luasan sekitar 51,02%, dan lanskap kualitas estetik rendah memiliki persentase luasan sekitar 18,19%. Lanskap kualitas estetik tinggi memiliki jumlah vegetasi yang dominan serta memiliki keteraturan dan keharmonisan antarelemen yang ada sehingga hal tersebut dapat meningkatkan nilai estetiknya. Lanskap kualitas sedang cenderung memiliki jumlah elemen pembentuk lanskap yang seimbang. Walaupun terdapat bangunan dan perkerasaan, adanya vegetasi yang mendukung mampu meningkatkan kualitas estetiknya. Lanskap kualitas rendah lebih didominasi oleh bangunan dan perkerasaan. Lanskap tersebut cenderung dalam kondisi yang tidak rapi dan tidak bersih sehingga mempengaruhi nilai estetiknya. Lanskap yang didominasi oleh vegetasi cenderung meningkatkan kualitas nilai estetik, sedangkan bangunan dan perkerasan cenderung menurunkan kualitas nilai estetik pada tapak. Hal tersebut dikarenakan pada setiap lanskap yang ada memiliki tipe lanskap yang berbeda. Tipe lanskap desa yang sering ditemui adalah pertanian, perkebunan, perumahan, permukiman padat, perkantoran, pasar, dan sarana pendidikan. Berdasarkan hasil dari hubungan kualitas estetik dengan kualitas ekologi, didapat bahwa lanskap kualitas estetik tinggi memiliki kelembaban cukup tinggi, intensitas cahaya cukup tinggi, kerapatan vegetasi cukup tinggi, dan keragaman vegetasi cukup tinggi. Lanskap yang memiliki kualitas sedang memiliki kelembaban cukup tinggi, intensitas cahaya cukup tinggi, keragaman vegetasi yang cukup rendah, dan kerapatan vegetasi cukup rendah. Lanskap yang memiliki kualitas rendah memiliki intensitas cahaya tinggi, keragaman vegetasi rendah, dan kerapatan vegetasi rendah. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan analisis statistik regresi multilinear diperoleh persamaan SBE = 75,9 + 0,1 v – 1,9 b – 1,1 p, dengan v = vegetasi, b = bangunan, dan p = perkerasan. Persamaan tersebut digunakan untuk mengetahui variabel yang mempengaruhi nilai keindahan. Elemen lanskap yang dijadikan sebagai variabel adalah vegetasi, bangunan, dan perkerasan. Variabel vegetasi dapat meningkatkan nilai SBE karena koefisien regresi benilai positif. Pada penelitian ini variabel yang dapat berpengaruh nyata terhadap nilai SBE adalah variabel bangunan dengan tingkat kepercayaan 95%. Lanskap Desa Ancaran terdiri dari 12 unit lanskap, yaitu lanskap pertanian, lanskap kebun campuran, lahan tidak terpakai, lanskap perumahan, lanskap permukiman padat, lanskap sekolah, lanskap perkantoran, lanskap rumah dekat sawah, lanskap rumah dekat pertokoan, lanskap kuburan, lanskap lapangan, dan lanskap pasar. Unit lanskap yang paling dominan adalah unit lanskap pertanian, yaitu sekitar 37%. Kualitas estetik lanskap Desa Ancaran secara umum memiliki kualitas estetik sedang. Secara perseptual, lanskap yang memiliki nilai kualitas estetik tinggi dinilai cenderung memperlihatkan kualitas ekologi yang tinggi. Lanskap yang memiliki nilai kualitas estetik sedang dinilai cenderung memperlihatkan kualitas ekologi yang sedang pula, dan lanskap yang memiliki nilai kualitas estetik rendah cenderung memperlihatkan kualitas ekologi yang rendah

    Kajian Desain Taman Rumah Tinggal Tradisional Lampung

    No full text
    Taman rumah tinggal tradisional dapat menjadi identitas dari suatu budaya. Guna memperoleh gambaran yang nyata perlu dilakukan kajian mengenai desain taman rumah tinggal tradisional berbasis budaya Lampung. Penelitian ini mengidentifikasi elemen-elemen pembentuk taman rumah, tata letak, dan maknanya serta menyusunnya kedalam konsep desain taman rumah tinggal tradisional berbasis budaya Lampung. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif melalui penelusuran informasi sejarah-kebudayaan dan diverifikasi melalui survei lapang. Observasi lapang dilakukan di beberapa wilayah Provinsi Lampung sebagai referensi, yakni Permukiman Tradisional Kampung Wana dan Sukadana Darat, Pekon Kenali, dan Negara Tulang Bawang. Halaman pada rumah tinggal tradisional Lampung dibagi menjadi tiga bagian, yang terdiri dari halaman depan atau tengahbah/terambah/beruan, halaman samping atau kebik/kakebik, serta halaman belakang atau kudan/juyu/kebon. Elemen-elemen pembentuk taman rumah tinggal tradisional adalah gakhang hadap, walai, lokasi dapur terbuka, tempat kayu bakar, dapur luar, kandang ternak, serta tanaman
    corecore