1,720,971 research outputs found
Peran Imunisasi dalam Pencegahan Hepatitis B pada Pegawai Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
The purpose this research is to know endemicity level and prevention hepatitis B. This is a descriptif observational research. Subjects are 87 Medical Faculty of UMY employee. Screening to HBsAg, anti-HBs and anti-HBc are performed by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method and investigating about history of ilness and imunisation of hepatitis B by questionnaire. The result showed that one case positive HBsAg (1,1%) included as low endemicity and not found clinical manifestasion. The history showed that 14 person (16 %) have performed hepatitis B immunization, and 73 person (74 %) have never done. Six subject (43%) immunizationed showed positive anti-HBs with low titer. Hepatitis B history are experienced by two person (2,3%), and they have been health based on clinic and laboratory. One of them has anti-HBc negative. Anti-HBs examination showed 18 (21%) positively, 6 person (33%) have immunization history and 12person (67%) are never. There are 8person who have immunization history are negative anti-HBs. Anti-HBc examination showed that 25person (29%) positively, only one person (4%) has hepatitis B illness history and 24person (96%) have no illness history. Concluded that hepatitis endemicity in Medical Faculty UMY is low.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat endemisitas dan upaya pencegahan Hepatitis B di FK UMY. Jenis penelitian adalah observasional deskriftif. Sampel penelitian adalah 87 pegawai Fakultas Kedokteran UMY. Skrining HBsAg, Anti HBs dan Anti HBc dilakukan dengan metode enzyme- linked immunosorbent assay {ELISA), riwayat sakit dan imunisasi hepatitis B dilacak dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan terdapat satu kasus HBsAg positip (1,1%) sehingga termasuk endemis rendah dan anamnesanya menunjukkan tidak ada gejala klinis. Riwayat menunjukkan 14 orang (16%) pernah melakukan imunisasi hepatitis B lengkap dan 73 orang (74%) tidak pernah divaksin. Enam orang (43%) dari yang melakukan imunisasi, memiliki anti-HBs positip dengan titer rendah. Riwayat pernah mengalami sakit hepatitis B terjadi pada 2 orang (2,3%) dan telah sembuh secara klinis dan laboratorik. Salah satu subyek dengan riwayat sakit hepatitis B memiliki hasil anti- HBc negatif. Pemeriksaan anti-HBs menunjukkan 18 orang (21%) positip, 6 orang (33%) diantaranya memiliki riwayat imunisasi dan 12 orang (67%) tidak pernah imunisasi. Delapan orang dengan riwayat imunisasi memiliki anti-HBs negatif. Pemeriksaan anti-HBc menunjukkan 25 orang (29%) positip, 1 orang (4%) diantaranya memiliki riwayat sakit hepatitis B, dan 24 orang (96%) tidak memiliki riwayat sakit hepatitis B. Disimpulkan bahwa endemisitas Hepatitis B di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta rendah
Diagnosis Laboratorik Leptospirosis;
Leptospirosis is a worldwide zoonosis caused by pathogenic leptospira species. Leptospirosis is endemic disease in the tropical urban areas. Leptospirosis must always be considered during the differential diagnosis of other tropical febrile illnesses. Laboratory tests are necessary to confirm the diagnosis of clinically suspected leptospirosis due to its varied symptomatology. Leptospira has extend serogroup. The detection of antigen and antibodies of leptospira are complicated. They depends on the samples available and temporal stage of the illness, sensitivity and spesificity of laboratory method. The conventional tests include direct microscopy, culture and the most widely used reference standard method the microscopic agglutination test but have many limitations. A variety of newer serological tests and those based on molecular techniques have been developed.Leptospirosis merupakan zoonosis di seluruh dunia yang disebabkan oleh spesies leptospira patogen. Leptospirosis merupakan endemis pada daerah urban di negara tropis. Leptospirosis harus selalu dipertimbangkan pada saat menemui penderita dengan demam di daerah tropis. Pemeriksaan laboratorium diperlukan sebagai konfirmasi diagnosis padapenderitayang secara klinis baik gejalamaupun tanda yang sangat bervariasi dicurigai leptospirosis. Leptospira memiliki serogroup yang sangat besar. Deteksi antigen dan antibodi leptospira merupakan permasalahan yang rumit oleh karena dipengaruhi ketersediaan sampel, onset penyakit maupun sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan, seroprevalensi populasi. Pemeriksaan secara konvensional adalah mikroskop secara langsung, kultur, dan metode microscopic agglutination test (MAT) yang secara luas digunakan sebagai standar rujukan, namun pemeriksaan tersebut memiliki banyak keterbatasan. Berbagai macam tes serologi yang baru dan metode yang berbasis molekuler telah dikembangkan
Pengetahuan dan Penggunaan Asam Folat Wanita Umur Reproduktif
Neural Tube defects (NTDs), termasuk spina bifida dan anencephali merupakan malformasi serius yang terjadi pada saat perkembangan janin selama hari ke 17-30 sesudah konsepsi. Konsumsi suplemen yang berisi asam folat dapat mengurangi kejadian NTDs 50-70 %.Dari laporan “The 1998 behavioral risk factor Surveillance System (BRFSS)” mengenai pengetahuan asam folat dan penggunaan multivitamin pada wanita usia reproduktif di Michigan:Telah dilakukan survey pada 739 wanita usia reproduktif (18-44 tahun) mengenai pengetahuan dan penggunaan asam folat. Usia, ras, pendidikan, status pernikahan, status berat badan, perokok, dan konsumsi sayur/buah diidentifikasi menjadi variabel perhatian dan termasuk dalam analisis multivariabelPengetahuan tentang asam folat dibatasi pada jawaban mengenai alasan rekomendasi para ahli pada penggunaan asam folat, yaitu pencegahan cacat kelahiran.Dari seluruh wanita 30% memiliki pengetahuan tentang penggunaan asam folat. Prevalensi tertinggi pada wanita lulusan sarjana (42,2%), umur 25-29 (39,8%), perokok (37,0%), menikah (35,8%), konsumsi sayur/buah (34,9%) non obesitas (31,9%), Kulit putih (31,5%). Analisa multi variabel menunjukkan bahwa wanita yang berpendidikan tinggi, perokok dan yang tidak menikah secara statistik kurang bermakna dibandingkan masing-masing kelompok pembanding terhadap pengetahuan yang benar mengenai asam folat. Wanita usia 18-29 tahun secara statistik lebih bermakna.Penggunaan multivitamin dibatasi untuk sedikitnya sekali sehari mengkonsumsi multivitamin atau suplemen asam folat. Dari survey menunjukkan bahwa 42,4% wanita mengkonsumsi suplemen asam folat tiap harinya. Penggunaan multivitamin meningkat sesuai umur, dari umur 18-24 tahun 33,1% hingga 41,8% untuk wanita umur 40-44 tahun. Prevalensi wanita yang menggunakan multivitamin paling tinggi berturut turut:Konsumsi sayur/buah (54,9%), lulusan sarjana (49,9%), umur 35-39 tahun (49,6%), perokok (47,4%) menikah (46%) non overweigth (44.5%) dan kulit putih (44,2%).Analisa multivariabel menunjukkan bahwa kelompok berikut secara statistik kurang bermakna dibanding masing-masing kelompok pembanding terhadap penggunaan multivitamin: wanita umur 18-24 tahun, berpendidikan rendah, sedikit konsumsi sayur/buah dan wanita dengan obesitas.Disarankan upaya multi strategis dalam meningkatkan intake dan penggunaan asam folat, baik melalui program pendidikan maupun fortifikasi makanan
Hiperhomosisteinemia dan Faktor Risiko Kelainan Vaskuler
Homocysteine is a sulfhydryl-containing amino acid derived from the essential amino acid methionine, which is abundant in animal sources of protein. Raised plasma homocysteine (tHcY) concentrations are caused by genetic mutations, vitamin dificiencies, renal and ather diseases, numerous drugs and increasing age. Raised tHcY concentrations are associated with laboratory evidence of atherothrombotic. In experimental studies, homocysteine causes oxidative stress, damages endothelium, and enhances thrombogenicity. Epidemiological studies have shown that too much homocysteine in the blood (plasma) is related to a higher risk of coronary heart disease, stroke and peripheral vascular disease. Supplementation of folic acid with vitamin B6 and Bn combination can be lowering homocysteine. There is currently insufficient evidence to recommend routine screening and treatment of high tHcy concentrations with folic acid and other vitamins to prevent atherothrombotic vascular disease. There is the discordance between the epidemiology of homocysteine and the results of the clinical trials.Homosistein adalah asam amino sulfhydril, merupakan senyawa antara yang terbentuk dalam metabolisme asam amino esensial metionin, banyak berasal dari protein hewani. Peningkatan homosistein disebabkan oleh mutasi genetik, defisiensi vitamin, penyakit ginjal dan penyakit lain, obat-obatan dan peningkatan usia. Peningkatan kadar homosistein menyebabkan aterotrombosis. Homosistein menyebakan stress oksidatif, kerusakan endotel (disfungsi endotel) dan memacu trombosis. Studiepidemiologimemperlihatkan peningkatan homosistein plasma beihubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner, stroke dan penyakit pembuluh darah perifer. Pemberian suplemen asam folat dengan kombinasi vitamin B6 danvitaminB12 menurunkan kadar homosistein. Buktiyang kuat untuk memberikan asam folat atau vitamin lainnya secara rutin maupun dalam terapi untuk pencegahan penyakit aterotrombosis belum didapatkan. Terdapat ketidaksesuaian antara studi epidemiologi dan clinical trial
Faktor Risiko Lekosituria pada Wanita Usia Reproduksi
The purpose of this research to know the leucocyturia prevalence and its risk factors in reproduction age women. This is an analytic-observational with case-control design, performed in Kraton, Bambang Lipuro, Bantul District, Daerah Istimewa Yogyakarta. The subject are28 women in reproduction age who has leucocyturia (dipstick test) and the control are 54 women with negative leucocyturia. The risk factors of leucocyturia obtain from questionnaire. Relation between the risk factors and leucocyturia analyzed with univariat test. The result showed that leucocyturia prevalence in reproductive age women is 28%. Contact sexual risk factor was significantly relation with leucocyturia (odd ratio : 3,0 (CI 95%: 1,1-7,7; p=0,02) but perineal hygiene pre-coitus wasn’t significant (odd ratio : 0,135 (CI 95%: 0,03 - 0,53; p=0,002).Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko lekosituria pada wanita usia reproduksi. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan case-control di Dusun Kraton, Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Subyek penelitian adalah 28 orang wanita usia reproduksi yang mengalami lekosituria (uji dipstick) tanpa kelainan non infeksi dan 54 orang kontrol wanita usia reproduksi lekosituria negatif.. Data faktor risiko lekosituria digali melalui kuesioner. Analisis hubungan faktor risiko dengan lekosituria menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi lekosituria sebesar 28%. Faktor risiko sering kontak seksual bermakna dengan rasio odds sebesar 3,0 (CI 95%: 1,1-7,7; p=0,02). Kebersihan perineal pre- koitus bermakna dengan rasio odds sebesar 0,135 (CI 95%: 0,03 - 0,53; p=0,002). Faktor arah cebok, penggunaan AKDR, riwayat leukorea dan riwayat kateterisasi tidak bermakna (p>0,05)
Korelasi Gambaran Ultrasonografi Hepar dengan Kadar Alkali Fosfatase Pasien Klinis Hepatitis
Hepatitis adalah penyakit peradangan atau infeksi hati, dengan penyebab virus, bakteri, jamur, parasit dari obat-obatan. Pemeriksaan penunjang diagnostik hepatitis adalah tes fungsi hati, salah satunya adalah alkali fosfatase, yaitu enzim yang berhubungan dengan penanda adanya penyumbatan pada kantung empedu (kolestasis) dan sensitif untuk mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim hati. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan organ seperti gambaran ekhostruktur, ukuran, permukaan hepar dan vesika felea. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara gambaran USG hepar dengan kadar alkali fosfatase pada pasien klinis hepatitis. Jenis penelitian ini observasional analitik dengan desain cross sectional, menggunakan data rekam medis. Data penelitian berjumlah 35. Analisis data menggunakan uji Spearman dan uji Lambda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi antara kadar alkali fosfatase dengan gambaran USG hepar yang meliputi: ekhostruktur (r=0,094, p=0,590), ukuran (r=0,333, p=0,050) dan permukaan hepar (r=0,324, p=0 ,057), vesika felea (r=0,615, p=0 ,001). Disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara gambaran ekhostruktur, permukaan, dan ukuran hepar dengan kadar alkali fosfatase, tapi terdapat korelasi yang bermakna antara gambaran vesika felea dengan kadar alkali fosfatase pada pasien klinis hepatitis. Hepatitis is the inflammation or infection of the liver. The causes viruses, bacteria, fungi, parasites and drugs. Additional examination a diagnostic of hepatitis are liver function test, such as Alkaline Phosphatase, Alkaline Phosphatase is an enzyme associated with markers of the blockage of the gallbladder (cholestasis) and sensitive for the detection of various types of liver parenchymal disease. Ultrasonography (USG) is to see a imaging ekhostruktur, size, surface liver and vesica felea. The aim of research to know the correlation between liver ultrasound imaging with Alkaline Phosphatase level in clinical hepatitis patient. This study was observational analytic cross-sectional design, using medical records. Research data 35. The analyzes were conducted using Spearmen test and Lambda test. The results showed a correlation between levels Alkaline Phosphatase with an ultrasound image of the liver include: echostructure (r= 0.094, p= 0.590), size (r= 0.333, p= 0.050) and the surface of the liver (r= 0.324, p= 0.057), vesica felea (r= 0.615, p= 0.001). It can concluded that there was no significant correlation between the image echostruktur, surface, and the size of the liver with levels of Alkaline Phosphatase, but there is a significant correlation between the vesica fellea features with Alkaline Phosphatase levels in patients with clinical hepatitis
Pengaruh Bekam (Al Hijamah) terhadap Kadar Kolesterol LDL pada Pria Dewasa Normal
Cupping is an Arabian traditional method of treatment in which a jar is attached to the skin surface to cause local congestion through the negative pressure created. Cupping is a therapeutic process of removing unclean blood from the body. Blood letting has been a recommended method to reduce serum lipoprotein concentrations. There are many testimony which cupping can affects a large group of blood related disorders. The aim of this research is to investigate the effect of cupping on LDL cholesterol. Reduction in LDL cholesterol, is a preventive approach against atherosclerosis. In a quasi experimental with pre test and post test, 30 men, 20-24 year old, without chronic disease, no history of hyperlipidemia and also not anti-hyperlipidemic drug consumption, were admitted. All of subjects were treated with cupping in one time. To know the serum concentrations of lipids we collect the blood from cubiti at the time of cupping and an hour after that. The data were analyzed using pair t- test.and pearson correlation. A significant LDL cholesterol increase (P < 0.0000) was found in almost subjects. There was strong positive correlation between LDL cholesterol pre and an hour post cupping (r= 0.987). Cupping will increase the number of LDL cholesterol an hour after treatment.Bekam adalah metode pengobatan tradisional Arab dengan melekatkan tabung pada permukaan kulit yang menyebabkan kongesti lokal melalui tekanan negatif. Bekam adalah proses terapeutik dari tubuh untuk mengeluarkan darah kotor. Membiarkan darah keluar telah menjadi metode yang dianjurkan untuk mengurangi konsentrasi lipoprotein serum. Ada banyak testimoni bahwa bekam dapat menyembuhkan sebagian besar penyakit yang berhubungan dengan darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan efek bekam terhadap kolesterol LDL. Penurunan kolesterol LDL dapat mencegah aterosklerosis. Penelitian ini bersifat eksperimental kuasi dengan model pre dan post test. Subyek sebanyak 30 orang berumur 20-24 tahun tanpa penyakit kronis, tidak ada sejarah hiperlipidemia atau mengkonsumsi obat anti-hiperlipidemia, dan telah menyetujui. Semua subyek diperlakukan sama pada satu waktu. Untuk mengetahui konsentrasi lipid serum, darah diambil dari vena cubiti pada awal bekam dan satu jam setelahnya. Data dianalisis menggunakan korelasi pearson pasangan dan t-test. Terdapat peningkatan kolesterol LDL yang signifikan (p=0,000) pada hampir semua subyek. Ada korelasi positif yang kuat antara LDL sebelum dan satu jam setelah bekam (R=0.987). Disimpulkan bahwa bekam meningkatkan jumlah kolesterol LDL satu jam setelah perawatan
Profil Pemeriksaan Fragilitas Osmotik Eritrosit di RS. Dr. Sardjito
Osmotic fragility test (OFT) is performed to differentiate anemia diagnose with erythrocyte physical changing. In thalassemia and hemolytic anemia, OFT probably gave variation results that can cause erroneous anemia etiology trac¬ing. Aims of this research are to describe the OFT profile and its comparison with peripheral blood morphology in thalassemia and hemolytic anemia.The method, this retrospective study was conducted in Dr. Sardjito hospital at January 2002 to June 2004. Chi-Square test was used to compare thalassemia and hemolytic anemia proportion in the OFT groups. OFT results from 61 sub¬jects were : increasing 17 (27,8%), increasing-decreasing 17 (27,8%), de¬creasing 15 (24,4%), and normal 12 (20%). There were significantly differ-ence proportions in thalassemia group between decreasing OFT to increasing and normal OFT (p-0,005 ; p=0,002), but no difference to increasing-de¬creasing group. In hemolytic anemia group, the difference proportion found significantly between increasing OFT to normal, increasing-decreasing and decreasing OFT (p=0,03; p-0,005; p=0,000, respectively). In increasing-de¬creasing OFT group, there was no difference in type anemia (p=0,32). Mor¬phologically, target cell was found in 81 % of thalassemia, and spherocyte in 70% of hemolytic anemia. In Dr. Sardjito Hospital, OFT gave variation profile and in Thalassemia and hemolytic anemia groups, morphology evaluation are needed to confirm OFT results.Latar Belakang: Pemeriksaan fragilitas osmotik eritrosit (FOE) ini dilaksanakan untuk membantu diagnosis banding beberapa jenis anemia dengan sifat fisik eritrosit berubah. Aplikasi klinis, Talasemia dan anemia hemolitik memberikan hasil bervariasi sehingga dapat menimbulkan kesalahan interpretasi dalam melacak jenis maupun etiologi anemia.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui variasi hasil FOE dan kesesuaian gambaran morfologi darah tepi pada talasemia dan anemia hemolitik. Penelitian retrospektif ini dilakukan menggunakan data rekam medik. Subyek adalah pasien yang diperiksa fragilitas osmotik eritrositnya di laboratorium Patologi Klinik RS. Dr. Sardjito antara Januari tahun 2002 sampai dengan Juni 2004. Uji Chi- square terhadap proporsi talasemia dan anemia hemolitik pada kelompok hasil FOE. Dari 61 subyek, variasi hasil FOE meliputi : peningkatan fragilitas 17 (27,8%), penurunan fragilitas 17 (24,4%), campuran peningkatan dan penurunan 15 (27,8%) dan normal 12 (20%). Terdapat perbedaan bermakna proporsi talasemia kelompok penurunun FOE terhadap kelompok peningkatan FOE (p=0,005) dan FOE normal (p= 0,002), namun tidak berbeda bermakna dengan hasil campuran penurunan dan peningkatan fragilitas (p= 0,26). Terdapat perbedaan bermakna proporsi ane¬mia hemolitik pada kelompok dengan peningkatan FOE terhadap kelompok normal FOE, campuran penurunan dan peningkatan FOE dan penurunan FOE (p =0,03; p= 0,005; p= 0,000). Tidak terdapat perbedaan bermakna proporsi jenis anemia pada hasil campuran penurunan dan peningkatan FOE (p= 0,32). Gambaran morfologi darah tepi pada kelompok talasemia, 81% memiliki sel target dan pada kelompok anemia hemolitik, 70% memiliki sel spherosit.Hasil FOE di RS Dr. Sardjito menunjukkan gambaran variasi, talasemia maupun anemia hemolitik membutuhkan konfirmasi morfologi darah tepi untuk meninjau kesesuaiannya
Efek Pemberian Madu terhadap Kadar Leukosit Urin pada Wanita Usia Subur
There are predisposition factors to develop into urinary tract infection in women with sex active. The leukosuria or piuria is one of the major sign for suspecting infection in the urinary tract. Honey is a sweet liquid which distribute by bees and produce from nectar. Honey contains antibacteria substance which can cure superficial injury and infection diseases. One of the function of honey is perservatif and high osmolality so bacteria has difficulty to life. This study aims to determine the effect of honey for decreasing urine leukocyte in fertile age women. The design of this study is experimental clinical test with pretest-posttest group control. Subject of research is fertile age women with leukosuria. Material form of the morning urine with urine stick special leukocyte test and honey. Measurements conducted in place intake of urine. Research was the subject of 28people. The provision of honey made in the test group of 3 tablespoon perday. Both group (test and control) were given equal treatment with white water to drink as much as 6 glasses a day. There are 15 person (100%) who get honey therapy which has decreasing value of leukosuria. For people who get control, there are 9 person (70%) who has decreasing of leukosuria value, 2 person (15%) with a fixed rate leukosuria same as before, and 2 person (15%) has increasing of leukosuria. The results of this research is found that honey is effective of to decrease leukosuria in fertile age women.Pada wanita dengan seksualitas yang aktif terdapat faktor predisposisi untuk berkembang menjadi Infeksi Saluran Kemih (ISK). Adanya leukosuria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting terhadap dugaan adanya ISK. Zat anti bakteri yang terkandung dalam madu baik untuk mengobati luka luar dan penyakit infeksi. Salah satu sifat madu adalah bersifat mengawetkan dan memiliki osmolalitas tinggi sehingga bakteri sulit untuk hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian madu terhadap penurunan kadar leukosit urin pada wanita usia subur. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental uji klinik dengan rancangan pretes posttes kontrol grup. Subyek penelitian adalah wanita usia subur dengan peningkatan kadar leukosit urin. Bahan berupa urin pagi yang dilakukan uji stik urin khusus leukosit dan madu. Pengukuran dilakukan di tempat pengambilan urin. Subyek penelitian berjumlah 28 orang. Pemberian madu dilakukan pada kelompok uji sebanyak 3 sendok makan perhari. Kedua kelompok (uji dan kontrol) diberi perlakuan sama dengan minum air putih sebanyak 6 gelas sehari. Kelompok uji madu yang mengalami penurunan kadar lekosit urin sebanyak 100% (15 orang), sedangkan kelompok kontrol didapatkan penurunan kadar leukosit urin sebanyak 70% (9 orang), kadar leukosit urin tetap sama seperti sebelumnya sebanyak 15% (2 orang), dan terjadi peningkatan kadar leukosit urin sebanyak 15% (2 orang). Disimpulkan bahwa pemberian madu memiliki efektifitas terhadap penurunan kadar leukosit urin wanita usia subur
Profil Protein pada Gelandangan Penderita Psikotik
Psychotic homeless people with nutrition deficiency and low hygiene- sanitation of lifestyle, have high risk for malnutrition and exposure to the infectious and toxic agents. To identify the nutrition status which is demonstrated by the total protein and albumine level; the intensity of exposure of infectious and toxic agents demonstrated by humoral immunity respon of gamma globuline; and the con-dition being exposed by infectious and toxic agents demonstrated by acute phase of globuline alpha-1, alpha-2, beta globuline. This research conducted was an analytic-descriptive cross sectional research on the protein profile of 31 psychotic homeless people who were clinically healthy at random. The method used was helene-titan gel serum pro-tein electrophoresis with agarose gel. The results of electrophoresis were total protein, albumine, globuline (alpha-1 globuline, alpha-2 globuline, beta globuline, gamma globuline). From February until May 2001, 31 psychotic homeless people who were clinically healthy in Yogyakarta were enrolled in the research randomly. They were adult (100%), males 25 (80,6%) and females 6 (19,4%). The results showed that psychotic homeless people with hypoalbuminemia (<3,5 gr/dl) were 4 (12,9%); with hyperalpha-1 globuline (>0,5 gr/dl) was not found; with hyperalpha-2 globuline (>0,8 gr/dl) 3 (9,7%)); with hyperbeta globuline (>1,3 gr/dl) was not found; with hypergamma globuline (>1,6 gr/dl) 16 (51,6%); hyperalbuminemia (4,7 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-1 globuline (<0,2 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-2 globuline (<0,5 gr/dl) 7 (22,6%); hypobeta globu¬lin (<0,7 gr/dl) 2 (6,4%) and hypogamma globulin (<0,8 gr/dl) was not found. In this research hypergamma globulinemia was the most frequent protein de¬tected; the increase of acute phase protein was relatively small and hypoalbumin¬emia was minimally found. Hypergamma globulin was caused by a condition of active immunity response to antigenic stimulation (the same boostering antigen).Psychotic homeless people with nutrition deficiency and low hygiene- sanitation of lifestyle, have high risk for malnutrition and exposure to the infectious and toxic agents. To identify the nutrition status which is demonstrated by the total protein and albumine level; the intensity of exposure of infectious and toxic agents demonstrated by humoral immunity respon of gamma globuline; and the con-dition being exposed by infectious and toxic agents demonstrated by acute phase of globuline alpha-1, alpha-2, beta globuline. This research conducted was an analytic-descriptive cross sectional research on the protein profile of 31 psychotic homeless people who were clinically healthy at random. The method used was helene-titan gel serum pro-tein electrophoresis with agarose gel. The results of electrophoresis were total protein, albumine, globuline (alpha-1 globuline, alpha-2 globuline, beta globuline, gamma globuline). From February until May 2001, 31 psychotic homeless people who were clinically healthy in Yogyakarta were enrolled in the research randomly. They were adult (100%), males 25 (80,6%) and females 6 (19,4%). The results showed that psychotic homeless people with hypoalbuminemia (<3,5 gr/dl) were 4 (12,9%); with hyperalpha-1 globuline (>0,5 gr/dl) was not found; with hyperalpha-2 globuline (>0,8 gr/dl) 3 (9,7%)); with hyperbeta globuline (>1,3 gr/dl) was not found; with hypergamma globuline (>1,6 gr/dl) 16 (51,6%); hyperalbuminemia (4,7 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-1 globuline (<0,2 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-2 globuline (<0,5 gr/dl) 7 (22,6%); hypobeta globu¬lin (<0,7 gr/dl) 2 (6,4%) and hypogamma globulin (<0,8 gr/dl) was not found. In this research hypergamma globulinemia was the most frequent protein de¬tected; the increase of acute phase protein was relatively small and hypoalbumin¬emia was minimally found. Hypergamma globulin was caused by a condition of active immunity response to antigenic stimulation (the same boostering antigen).Perubahan-perubahan sosial yang berlangsung cepat sebagai akibat dari modernisasi, industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, memberikan dampak baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Tidak semua orang mampu beradaptasi terhadap perubahan-perubahan sosial yang terjadi, sehingga perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan ketegangan atau stress pada dirinya yang akhirnya akan menimbulkan suatu gangguan jiwa. Kesehatan jiwa menurut kedokteran adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Seseorang dikatakan sakit apabila ia tidak lagi mampu berfungsi secara wajar dalam kehidupan sehari-harinya, di rumah, disekolah, di tempat kerja atau di lingkungan sosialnya. Meskipun demikian, gangguan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung. Dewasa ini, terutama di kota-kota besar, banyak terdapat penderita psikotik yang bergelandangan. Hal ini kemungkinan dapat terjadi karena berbagai hal, antara lain tidak memiliki keluarga yang mampu mengurusnya dengan baik, melarikan diri dari rumah atau pusat rehabilitasi gangguan jiwa, dibuang oleh pihak keluarga karena perasaan malu, dan sebagainya. Gelandangan psikotik adalah seseorang yang berkeliaran atau bergelandangan di tempat umum yang diperkirakan oleh karena terganggu jiwanya atau psikotik dan dianggap mengganggu ketertiban atau keamanan lingkungan. Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya penderita psikotik ini melakukan apa saja yang dianggap benar olehnya, antara lain makan dari sisa-sisa makanan yang berhasil diperolehnya baik di pinggiran atau bahkan di tempat sampah, hidup di alam bebas tanpa perlindungan seperti tidur di jalanan, berpakaian seadanya bahkan ada beberapa diantara mereka tidak berpakaian, hidup di lingkungan dengan higiene dan sanitasi yang buruk, dan lain-lain. Dikarenakan gaya hidup penderita psikotik yang sangat ekstrim dibandingkan dengan manusia normal, menimbulkan pertanyaan bagaimanakah status nutrisi dan status kesehatan pada penderita psikotik ini. Pada penelitian ini akan dianalisis fragmen-fragmen protein yang terkandung dalam serum penderita psikotik gelandangan. Protein serum merupakan campuran yang amat kompleks yang mencakup glikoprotein dan berbagai tipe lipoprotein. Pemisahan masing-masing protein dari campuran yang kompleks ini digunakan metode serum protein elektroforesis. Elektroforesis adalah istilah yang dipakai untuk memisahkan protein berdasarkan kecepatan geraknya bila satu aliran elektris melalui cairan berprotein dalam medium pendukung. Kecepatan gerak dipengaruhi oleh besarnya, konfigurasi dan muatan elektris pada molekul
- …
