1,720,985 research outputs found
Analisis Produksi dan Efisiensi Ekonomi Ayam Petelur dengan Penambahan Pakan Suplemen Tepung Ulat Hongkong
Ayam merupakan salah satu penyumbang protein hewani tertinggi di
Indonesia, salah satunya melalui telur. Telur ayam merupakan salah satu bahan
pangan yang banyak dikonsumsi di Indonesia. Produksi telur dipengaruhi beberapa
faktor salah satunya adalah pakan. Harga pakan yang tinggi membatasi peternak
skala kecil untuk mendapatkan manfaat dari usahannya. Ulat hongkong memiliki
kandungan protein tinggi serta asam amino lengkap, ketersediaan ulat hongkong
juga cukup banyak, berbeda dengan sumber protein yang kebanyakan merupakan
bahan impor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas serta
efisiensi ekonomi pada ayam petelur. Peubah yang diamati adalah produktivitas
meliputi bobot telur, hen day production, konsumsi pakan, serta konversi pakan,
peubah kelayakan usaha meliputi income over feed cost (IOFC). Penelitian ini
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan 15
ulangan kemudian dilakukan uji lanjut menggunakan uji Tukey. Hasil penelitian
menunjukan konsumsi tiap perlakuan tidak berbeda nyata (P>0.05), namun berbeda
(P<0.05) pada bobot telur, hen day production, dan konversi pakan. Hasil income
over feed cost (IOFC) pada tiap perlakuan dikatakan menunjukan pendapatan
sebesar Rp 363 726 hingga Rp 1 782 594 selama 33 hari pada fase awal produksi
Pengaruh pemberian urine sapi sebagai larutan hara terhadap produktivitas tanaman sayuran hidroponik
Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh pemberian pupuk yang berasal dari limbah urine sapi yaitu urine dan biourine terhadap produktivitas tanaman sayuran hidroponik. Sayuran yang digunakan yaitu kangkung(Ipomea reptans) dan pakcoy (Brasicca rapaL).Penelitian dilakukan selama 2 bulan dan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL)dengan 3 perlakuan dan 6 ulangan. Data yang didapat dianalisis ragam kemudian dilanjutkan uji banding berganda Tukey. Perlakuan pada penelitian ini adalah AB mix, urine, dan biourine. Peubah yang diamati yaitu tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, jumlah daun, nilai EC dan pH. Hasil penelitian menunjukan bahwapada tanaman kangkung perlakuan biourine memberikan pengaruh yang nyata (P<0.05) terhadap panjang dan jumlah daun, pada tanaman pakcoy perlakuan AB mix terhadap panjang dan lebar daun
Perencanaan Pengembangan Peternakan Sapi Potong Perkotaan Dalam Rangka Pengembangan Wilayah Di Kota Tangerang Selatan.
Pertanian kota secara umum dapat digambarkan sebagai kegiatan
budidaya, pengolahan dan distribusi tanaman pangan dan non pangan, pohon dan
peternakan yang secara langsung dapat memenuhi pasar perkotaan baik di dalam
maupun di sekitar wilayah perkotaan. Dibalik peluang usaha peternakan yang
cukup besar ini ternyata mendapat kendala dengan keadaan terbatasnya alokasi
lahan guna pengembangan usaha peternakan khususnya ternak sapi potong.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah menyusun perencanaan pengembangan
peternakan sapi potong di Kota Tangerang Selatan berdasarkan pola pemusatan
ternak sapi potong, kesesuaian ekologis ternak sapi potong, daya dukung hijauan
makanan ternak dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan peternakan
sapi potong. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Desember
2015, berlokasi di Kota Tangerang Selatan. Data primer diperoleh dari wawancara
langsung dengan stakeholders, data sekunder diperoleh dari instansi terkait.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain LQ dan SSA,
analisis kesesuaian lingkungan ekologis ternak sapi potong, analisis kesesuaian
lahan dan analisis daya dukung hijauan makanan ternak, AHP, TOPSIS dan
SWOT.
Hasil analisis LQ dan SSA menunjukkan bahwa wilayah basis ternak sapi
potong berada di Kecamatan Serpong, Pamulang dan Setu. Analisis kesesuaian
lingkungan ekologis ternak sapi potong menunjukkan bahwa 3 174 ha wilayah
Kota Tangerang Selatan memiliki kriteria Sesuai (S). Analisis kesesuaian lahan
dan analisis daya dukung hijauan makanan ternak menunjukkan bahwa luas
kesesuaian lahan untuk hijauan makanan ternak sebesar 3 881 ha dan wilayah
Kota Tangerang Selatan masih memiliki daya dukung ternak sebesar 18 645.46
ST. Prioritas arahan pengembangan ternak sapi potong berturut-turut adalah
Kecamatan Serpong, Kecamatan Pamulang, Kecamatan Setu, Kecamatan Pondok
Aren, Kecamatan Ciputat, Kecamatan Serpong Utara dan Kecamatan Ciputat
Timur. Faktor yang paling berpengaruh dalam pengembangan ternak sapi potong
di Kota Tangerang Selatan secara berurutan adalah lahan, modal, pasar,
sumberdaya manusia dan teknologi. Strategi yang digunakan dalam perencanaan
pengembangan peternakan sapi potong di Kota Tangerang Selatan menggunakan
strategi ST (Strengths-Threats) sebagai strategi utama yaitu mengoptimalkan
potensi pasar, sumberdaya manusia dan dukungan pemerintah daerah serta
mengurangi ancaman berupa efek negatif terhadap lingkungan dikarenakan lahan
yang terbatas
Karakteristik Produksi dan Potensi Pengembangan Kerbau Rawa pada Daerah Basah dan Kering di Kabupaten Bima
The purpose of this research was to study the characteristics and potential production of swamp buffalo in wet and dry areas of Bima regency. The study used survey and direct observation methods on the targeted areas. The primary and secondary data were collected and analyzed descriptively. The buffaloes in Belo district were semi-intensively reared, whereas those in Wera district were extensively reared. The buffalo in Belo district had sex ratio, age of first mating, age of first parturition, calving rate, calf crop, calf mortality, periode of first mating after calving, and calving interval were 1:3, 3.4 years, 4.2 years, 91.1%, 76.2%, 12%, 2.4 months, 15.9 months respectively. Meanwhile, the reproductive characteristics in Wera district were 1:3, 3.3 years, 4.1 years, 84.2%, 70.3%, 17.1%, 2.3 months 14.4 months respectively. The buffaloes in Belo had BCS 2 (35%), BCS 3 (60%), and BCS 4 (5%), whereas in Wera have BCS 2 (45%), BCS 3 (50%) and BCS 4 (5%). In general, the buffaloes In Belo had better performance compared to that in Wera district. However, the potential land and feed resources for development of buffalo in Wera district still high compared with Belo district
Produktivitas Ulat Tepung (Tenebrio molitor L.) pada Media Pakan yang Berbeda.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi produktivitas ulat tepung
(Tenebrio molitor L.). Materi penelitian ini menggunakan 48 ekor kumbang
betina dan 144 ekor kumbang jantan. Ulat tepung yang dihasilkan kumbang
diamati produktivitasnya dari umur 28 hingga umur 40 hari. Penelitian ini
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan media
bertelur yang berbeda, yaitu A (pollard), B (bran pollard), C (kombinasi bran
pollard dengan onggok) dan D (onggok) dengan 3 kali ulangan sehingga terdapat
12 unit percobaan. Peubah yang diamati adalah daya hidup ulat tepung, konsumsi
pakan ulat tepung, panjang tubuh ulat tepung, bobot ulat tepung, mortalitas, dan
konversi ransum. Analisis yang digunakan yaitu analisis ragam (ANOVA) dan
dilakukan uji banding berganda Duncan memberikan hasil yang berbeda nyata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media bertelur yang berbeda
memiliki perbedaaan nyata (P<0.05). Penggunaan pollard sebagai media bertelur
ulat tepung dapat memberikan produktivitas yang paling baik dilihat dari rataan
konsumsi pakan ulat tepung 0.213 g ekor-1 3 hari-1, rataan panjang tubuh ulat
tepung 18.902 mm ekor-1 3 hari-1, rataan bobot ulat tepung 0.047 g ekor-1 3 hari-1,
dan konversi ransum 18.466. Oleh karena itu, media pollard masih menjadi media
paling efisien untuk peternakan ulat tepung
Development Strategies Of PT. Madu Pramuka Cibubur And PT. Mutiara Tugu Ibu Depok
Business of honey provides benefits to human life and the sustainability of nature. Market opportunities for the honey bee are still wide open so that additional support for the enhancement and enterprise development in Indonesia beekeeping is still needed.This research analyzed development strategiesof PT.Madu PramukaCibubur and PT. Mutiara Tugu Ibu Depok. These companies were chosen intentionally because they were experienced companies in thehoney bee business. The data were collected through interviews during a month from March until end of April 2011. The Internal Factor Evaluation(IFE) and the External Factor Evaluation(EFE) were assessedto figure out strengths, weaknesses,opportunities and threats of each company. IFE and EFE matrix were used to find out the position of each company. Thesuitable development alternative strategiesof each companies were obtained through Strengthweakness- opportunity-treat (SWOT) analysis and Quantitative Strategic Planning Matrix(QSPM).The properdevelopment strategies for PT. Madu Pramuka were increasingthe promotionand offering a discountforproducts other than honey (Total Attractiveness Score/TAS= 16,732), whereas PT. Mutiara Tugu Ibu Depok strategies wereincreasingthe number of agentand promotion, making the store more attractive, and making partnerships with other companies (TAS=13,976).Usaha madu bermanfaat bagi kehidupan manusia dan kelestarian alam. Peluang pasar untuk usaha lebah madu masih terbuka lebar sehingga menambah dukungan terhadap peningkatan dan pengembangan usaha perlebahan di Indonesia.Penelitian ini dilaksanakan di Perusahaan PT. Madu Pramuka, Cibubur dan PT. Mutiara Tugu Ibu, Depok.Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang berpengalaman dalam memproduksi dan menjual produk-produk lebah madu.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan alternatif strategi yang paling sesuai untuk kedua perusahaan.Data diperoleh melalui teknik wawancara.Data penelitian dikumpulkan selama satu bulan yaitu awal bulan Maret sampai akhir bulan April 2011. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (External Factor Evaluation) untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari masing-masing perusahaan.Setelah nilai IFE dan EFE diperoleh, posisi masing-masing perusahaan dapat diketahui dengan menggunakan matriks IFE dan EFE. Alternatif strategi masing-masing perusahaan diperoleh melalui analisis SWOT(strength-weakness-opportunitytreath) dan dilanjutkan dengan matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Nilai IFE dari masing-masing perusahaan adalah 2,988 untuk PT. Madu Pramuka, serta 2,607 untuk PT. Mutiara Tugu Ibu, sedangkan nilai EFE untuk PT. Madu Pramuka adalah 3,129 dan nilai EFE PT. Mutiara Tugu Ibu adalah 2,609. Berdasarkan analisis SWOT pada PT. Madu Pramuka, strategi yang digunakan untuk memperkuat S-Oadalah mempertahankan kualitas produk untuk menambah kepercayaan konsumen memanfaatkan sifat kekeluargaan yang kuat antar karyawan dan atasan untuk bermitra dengan perusahaan lain. Pada PT. Mutiara Tugu Ibu, strategi yang dihasilkan adalah memanfaatkan teknologi yang modern untuk menghasilkan produk lain berupa produk diversifikasi, sehingga meningkatkan jumlah konsumen dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Strategi S-T pada perusahaan PT. Pramuka adalah mempertahankan kualitas produk dan menambah jumlah agen untuk mengurangi persaingan yang relatif tinggi, sedangkan pada perusahaan PT. MTI, strategi S-T yang diperoleh adalah meningkatkan variasi produk, membuat kemasan madu semenarik mungkin serta mempertahankan kualitas produk. Strategi Strategi W-O pada perusahaan PT. Pramuka adalah meningkatkan promosi dan mengadakan potongan harga untuk memperkenalkan produk selain madu, sedangkan pada PT. MTI, strategi yang disarankan adalah menambah jumlah agen dan meningkatkan promosi dengan bermitra dengan perusahaan lain serta memperbaharui pamplet toko menjadi lebih menarik. Strategi Strategi W-T pada perusahaan PT. Pramuka adalah iii iii menggunakan kemasan yang menarik serta menambah kegiatan promosi, sedangkan pada PT. MTI meningkatkan promosi serta menambah jumlah agen untuk menghadapi persaingan yang tinggi. Faktor yang paling berpengaruh terhadap perusahaan PT. Madu Pramuka adalah faktor eksternal, sedangkan PT. Mutiara Tugu Ibu, faktor yang paling berpengaruh adalah faktor internalnya. Posisi untuk PT. Madu Pramuka adalah posisi II (tumbuh/bina), sedangkan posisiPT.Mutiara Tugu Ibu adalah posisi pertahankan dan pelihara, yaitu pada posisi V. Berdasarkan hasil analisis QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix), strategi yang paling tepat untuk PT. Madu Pramuka adalah meningkatkan promosi dan mengadakan potongan harga untuk memperkenalkan produk selain madu dengan nilai Total Atractiveness Score (TAS) sebesar 16,732, sedangkan PT. Mutiara Tugu Ibu memilih strategi menambah jumlah agen dan meningkatkan promosi dengan pameran, membuat toko menjadi lebih menarik , serta bermitra dengan perusahaan lain dengan nilai TAS 13,976
Produktivitas Jangkrik Kalung (Gryllus bimaculatus) yang diberi Pakan Konsentrat Buatan Hasil Substitusi Tepung Daun Singkong Muda.
Jangkrik sangat berpotensi untuk dibudidayakan sebagai sumber protein
hewani alternatif, karena jangkrik memiliki kandungan protein yang tinggi sebesar
61.58%. Jangkrik kalung memiliki keunggulan dalam laju pertumbuhan dan
konversi pakan. Tujuan penelitian ini mengevaluasi performa jangkrik kalung
(Gryllus bimaculatus) yang diberi pakan konsentrat buatan hasil substitusi tepung
daun singkong muda dengan persentase yang berbeda. Peubah yang diamati
diantaranya konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, produksi telur, konversi
pakan, dan mortalitas. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak
Lengkap (RAL) 6 taraf perlakuan dan 3 ulangan. Jangkrik yang digunakan
sebanyak 2 160 ekor dengan perlakuan K (konsentrat komersial : daun singkong
muda) menjadi kontrol, P0 (0% tepung daun singkong muda : 100% subtitusi
tepung kedelai), P25 (25% tepung daun singkong muda : 75% subtitusi tepung
kedelai), P50 (50% tepung daun singkong muda : 50% subtitusi tepung kedelai),
P75 (75% tepung daun singkong muda : 25% subtitusi tepung kedelai), dan P100
(100% tepung daun singkong muda : 0% subtitusi tepung kedelai). Perlakuan P25
nyata lebih tinggi untuk produksi telur. Kombinasi pakan konsentrat buatan hasil
substitusi tepung daun singkong muda dengan daun singkong muda segar dapat
meningkatkan produktivitas jangkrik kalung
Technology model in broiler agroindustry partnership system
Technology management has in the last few years emerged as an important issue in companies. This kind of management encompasses four technological components, namely technoware, humanware, inforware and orgaware which are simply abbreviated as THIO. Each technological component contains various specified key factors which allegedly influence the attainment of a business success, particularly in a plasma broiler poultry breeder managed under the supervision as well as management of what so-called Perusahaan Inti Rakyat (PIR) or a core company. This study was aimed at unveiling the influence of the key factors belonging to each technological component toward the attainment of the business success in a plasma broiler supervised by the core company on the PIR. Field survey method by means of questionnaires were used to collect primary and secondary data of the core company whilst Structural Equation Modelling (SEM) method was used to analyze the data. During 2007-2009 period, field study was conducted to collect data from 27 well-managed plasma broiler in West Java’s regencies of Karawang, Subang and Indramayu under the supervision of PT Sahabat Ternak Abadi (STA) as a main company. Data analysis revealed that the technologies applied by STA were absolutely good and important to support the success of partnership being accomplished. Some of the key factors having significant influences on the partnership being accomplished were apparently the net profit, payback period and productivity growth. The Technoware component comprises three latent variables, i.e., the cage, the chicken treatment, and pest as well as disease control. Each latent variable was influenced by cage size included height (180 cm) and wall (200 cm), chicken’s mortality rate, feed conversion ratio (FCR) which in live with standard applied by main company, and cage management. The humanware component was determined by human technical ability, motivation, curiosity, sense of responsibility, goal-setting, readiness for changes, and work discipline. Meanwhile the inforware component was dictated by the type of information sources, internal information, external information, validity of the information and data, access to as well as ease of acquiring the information, information cost, communication channel, trust toward the information source, information value, and feed-back. Factors influencing the orgaware component is leadership style, self-motivation, drive for achievement, maturity, tasks assignment, responsibility, independence in work, planning ability, strategic thinking, pride in partnership, development opportunity, sensitivity to changes in business, technology orientation, willingness to be in a partnership with and balance in incentives and risks. Based on financial analyses, partnership enterprises is more beneficial than a self- managed broiler enterprises in the case of longevity and continuity. A farmer with 5,000 broilers per production cycle which were managed under the partnership pattern resulted in an annual average profit, losses, lower limit of profit, NPV and payback period of Rp33,991,776.30, 0.000058, Rp 33,987,866.20, Rp211,239,574.00 and four (4) years, respectively, whilst the self-managed pattern of the same production cycle produce in Rp29,577,620.00, 0,0000977, Rp29,571,840.00, Rp151,459,522.00 and six (6) years, respectively.Manajemen teknologi yang telah muncul sebagai isu penting dalam pengelolaan perusahaan, terdiri dari empat komponen teknologi, yaitu perangkat teknologi (technoware), perangkat manusia (humanware), perangkat informasi (inforware), dan perangkat organisasi (orgaware), disingkat THIO. Berbagai faktor kunci tertentu terkandung dalam setiap komponen teknologi yang berpengaruh kepada pencapaian keberhasilan usaha, khususnya usaha ternak plasma pada kemitraan pola Perusahaan Inti-Rakyat (PIR) ayam broiler. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor-faktor kunci setiap komponen terhadap tingkat keberhasilan usaha plasma dalam kemitraan ayam ras pedaging (broiler) pola PIR. Metode survai lapangan digunakan untuk mengumpulkan data primer dengan alat bantu kuesioner dan data sekunder dari perusahaan inti. Analisis data menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM). Dalam penelitian dikaji data yang dikumpulkan dari dua puluh tujuh peternak plasma dengan kinerja baik di wilayah kabupaten-kabupaten Karawang, Subang, dan Indramayu pada sistem kemitraan pola Perusahaan Inti-Rakyat (PIR) yang dibina oleh PT. Sahabat Ternak Abadi (STA) yang merupakan perusahaan intinya. Hasil analisis terhadap teknologi yang diterapkan STA bernilai baik, sehingga layak untuk menyokong keberhasilan kemitraan usaha yang dijalankannya. Beberapa faktor kunci yang berpengaruh kuat terhadap keberhasilan kemitraan adalah keuntungan bersih, jangka waktu penerimaan, dan pertumbuhan produktivitas. Pada komponen Technoware terdapat tiga peubah laten yaitu kandang, pemeliharaan ayam, dan pengendalian hama serta penyakit, masing-masing dipengaruhi oleh tinggi kandang (180 m), dan dinding kandang 200 m); tingkat kematian (mortalitas) ayam, dan feed convertion ratio (FCR) yang tidak melebihi standar dari perusahaan inti; dan sistem pemeliharaan kandang
Analisis Kelembagaan dan Peranannya Terhadap Pendapatan Peternak di Kelompok Tani Simpay Tampomas Kabupaten Sumedang Propinsi Jawa Barat
A survey study had been carried out in Cimalaka of Sumedang district, West Java. The objectives of the study were to analyze the institutional capacity of the Simpay Tampomas dairy goat farmers group and to understand the group roles increasing farmers income from dairy goat enterprises. The method used in this study included work performance analysis by using Likert scale, income analysis, and Rank Spearman correlation. Intercorrelated variables in this study included farmers income with organizational experience, business experience, and business scale. Seventeen farmers of Simpay Tampomas group were interviewed using questionnaires that has been provided. The results showed that farmer group was effective with the effectiveness value of 390. The Correlation between income with business scale was very strong indicated by the value of correlation coefficient of 0.722, while the correlation between income and organizational experience was -0.151. The results suggested that there was no correlation between farmers income and organizational experiences as well as between income and business experiences. The condition was relatively due to the difficulties of farmers i
Model Penangkaran Nuri Talaud ( Eos histrio talautensis ). Sebagai Satwa Endemik
Nuri Talaud (Eos histrio talautensis) adalah salah satu jenis burung di
Indonesia yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, antara lain,
berdasarkan potensi morfologis, suara dan tingkah laku. Potensi ekonomis
tersebut menyebabkan tingginya perburuan burung sehingga dapat menurunkan
populasi di alam. Berdasarkan kondisi tersebut, Nuri Talaud ditetapkan sebagai
satwa yang dilindungi oleh pemerintah UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP No.7 Tahun 1999 tentang
Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Nuri Talaud memiliki status
langkah (endangered) oleh IUCN (International Union for Conservation of
Nature and Natural Resources) Red List dan masuk ke dalam Daftar Lampiran
(Appendix) I CITES (Convention on International Trade on Endangered Species
of Flora and Fauna). Oleh karena itu tindakan konservasi perlu dilakukan, baik
secara in situ maupun secara ex situ. Kegiatan penangkaran bertujuan untuk
meningkatan populasi dan hasil penangkaran dapat dilepasliarkan ke habitat alam
atau sebagai satwa harapan.
Dalam rangka pengembangbiakan Nuri Talaud, data tentang morfologi,
akrivitas dan perilaku penting untuk diketahui agar dapat dirumuskan dan
tentukan kebijakan untuk pelestarian dan upaya budidaya Nuri Talaud sebagai
satwa harapan yang memiliki nilai ekonomi dan penghasil devisa.
Penelitian tentang pengembangan dan penangkaran Nuri Talaud sebagai
satwa endemik telah dilakukan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam Manado
untuk mendapatkan informasi karakteristik morfologi, aktivitas dan perilaku
harian serta tingkat kesukaan terhadap pakan dalam rangka pengembangan dan
penangkaran. Hingga saat ini belum banyak informasi atau penelitian yang
dilakukan tentang reproduksi burung tersebut terutama jenis kelamin.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-September 2017. Objek yang
diamati adalah Nuri Talaud yang terdiri dari tiga pasang yaitu jantan dan betina.
Alat yang digunakan diantaranya adalah 2 unit kandang ukuran 3 x 1,5 x 2 satu
unit CCTV (closed circuit television), weather meter, Stopwatch, tempat makan,
tempat minum, tenggeran dan pohon hidup.
Penelitian tahap pertama bertujuan menganalisis karakteristik morfologi
Nuri Talaud di penangkaran. Pengamatan karakteristik morfologi jantan dan
betina meliputi bentuk tubuh masing-masing jenis kelamin yang dinilai
berdasarkan kriteria yang disarankan Susetyo (2012). Pengamatan karakteristik
morfologi dilakukan di luar kandang setelah selesai pengamatan perilaku harian.
Hal ini dilakukan agar pengamatan lebih dekat, fokus, dan jelas, sehingga
memudahkan pengumpulan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik morfologi Nuri Talaud
dalam penangkaran meliputi :1) bentuk tubuh, 2) bobot badan, 3) bentuk kepala.
Berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan bentuk antara burung jantan dan
betina. Betina memiliki betuk kepala bulat, tubuh ramping, memanjang serta
warna bulu tidak cerah dan kusut, sementara jantan memiliki bentuk kepala tidak
bulat, badan besar dan lebar serta warna bulu cerah dan bulu bersih. Data ukuran
morfometri jantan lebih tinggi dari betina berdasarkan panjang kepala, lebar
kepala, panjang dada, lebar dada, panjang paruh atas, lebar paruh atas, tinggi
paruh atas dan panjang ekor.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aktivitas dan perilaku harian Nuri
Talaud selama 12 jam di penangkaran. Metode Focal Animal Sampling (Martin
dan Bateson 1999), melalui metode ini dilakukan pengamatan dan pencatatan
terhadap aktivitas dan perilaku individu hewan selama periode waktu tertentu.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa aktivitas dan perilaku harian Nuri
Talaud meliputi perilaku seperti, bergerak (locomotive), perilaku makan
(ingestive) dan perilaku perawatan tubuh (body care) serta perilaku istirahat
(resting. Lama beraktivitas didominasi oleh jantan sedangkan betina lebih banyak
aktivitas bertengger dan istirahat, artinya terdapat perbedaan antara burung jantan
dan betina.
Berdasarkan jenis pakan yang dikonsumsi menunjukkan bahwa pakan yang
disukai Nuri Talaud adalah jagung, papaya, pisang, semangka, madu, dan kacang
tanah serta kacang kedelai. Konsumsi pakan per ekor per hari untuk jantan 74 g
dan betina 98 g. Pakan diberikan dalam bentuk segar dan bervariasi dengan
frekuensi pemberian dua kali sehari untuk menjamin ketersediaan pakan secara
cukup di dalam kandang penangkaran. Dapat disimpulkan, berdasarkan
morfologi, aktivitas dan perilaku, terdapat perbedaan antara Nuri Talaud jantan
dan betina
- …
