5 research outputs found
Colonoscopy to diagnose chronic ulcerative colitis in an 11-years-old Maltese
An 11-year-old castrated male Maltese was examined for increased frequency of defecation, mucus in feces, and chronic diarrhea with hematochezia. The dog was referred to Veterinary Teaching Hospital, Faculty of Veterinary Medicine, IPB University for further evaluation. Ultrasonography and colonoscopy were performed to further diagnose. Abdominal ultrasonography was taken using a linear probe with frequency 6-11 MHz. Colonoscopy was performed using colonoscope with tube length 700 mm and diameters 10 mm under anesthesia. Abdominal ultrasonography showed that the dog had a mucocele gall bladder, cholecystitis, hepatitis, slight-mild splenitis, nephrolithiasis, urolithiasis and thickened of the duodenal wall due to inflammatory bowel diseases. Colonoscopy showed ulceration and hemorrhage along the surface of the colon, whereas hyperemia only seen on the ascending colon. Based on endoscopic examination, the dog was diagnosed with severe and chronic ulcerative colitis. The authors recommended that the colonic biopsy should be undertaken in the dog presented with chronic ulcerative colitis
Penggunaan ekstrak cabai (capsaicin) untuk pengobatan penyakit demodekosis pada anjing
Capsaicin merupakan zat yang tidak larut dalam air, namun larut dalam lemak, sehingga dapat menembus membran sel dengan mudah. Dengan sifat seperti itu, capsaicin mungkin dapat digunakan untuk mengobati penyakit kulit pada hewan yang disebabkan oleh tungau, salah satunya demodekosis. Demodekosis merupakan penyakit pada kulit yang disebabkan tungau Demodex sp. yang hidup pada folikel rambut. Gejala penyakit ini adalah kerontokan bulu di daerah tetentu, di antaranya di sekitar mata, mulut, leher, dan siku kaki depan, yang diikuti dengan munculnya tonjolan-tonjolan pada kulit yang berwarna kemerahan. Selain itu, demodekosis yang menyebabkan gatal-gatal pada kulit membuat hewan menggaruk kulitnya dan dapat menimbulkan luka yang jika dibiarkan dapat menyebabkan infeksi. Kebanyakan kasus demodekosis ditemukan pada anjing, namun Demodex sp. juga dapat menyerang kuda, sapi, domba, kambing, babi, dan kucing. Demodekosis pada anjing disebabkan oleh Demodex sp. Selama ini demodekosis masih menjadi penyakit yang sulit dalam hal pengobatan. Pengobatan yang ada untuk demodekosis saat ini, baik berupa obat luar yang dioleskan maupun yang disuntikkan ke subkutan, masih kurang efisien dan membutuhkan waktu yang lama. Berdasarkan fakta tersebut, kami memanfaatkan capsaicin pada cabai, yang memiliki beberapa sifat khusus, sebagai obat yang efektif untuk penyakit demodekosis. Dari penelitian tentang penggunaan ekstrak cabai (capsaicin) untuk pengobatan penyakit demodekosis pada anjing yang telah dilakukan, didapatkan hasil penelitian positif ekstrak cabai (capsaicin) mampu mengobati penyakit demodekosis dan mempunyai derajat persembuhan melabihi kontrol positif (kalcimetin) yang merupakan obat penyakit demodekosis. Setelah ditemukannya capsaisin sebagai alternatif pengobatan penyakit demodekosis pada anjing diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan pengobatan yang sudah ada dirasa kurang aplikatif bagi masyarakat
Studi Kasus Gallbladder Mucocele disertai Ehrlichiosis pada Anjing Beagle
Komplikasi gallbladder mucocele dan Ehrlichiosis akibat infeksi bakteri Ehrlichia canis (E. canis) dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga kematian pada anjing. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik gallbladder mucocele serta Ehrlichiosis pada anjing melalui interpretasi ultrasonografi abdomen, hematologi, dan kimia darah serta studi terkait terapi yang diberikan. Seekor anjing beagle betina berumur ±15 tahun milik RSHP SKHB IPB University memiliki keluhan muntah frekuen, penurunan nafsu makan, dan lesu. Pemeriksaan fisik pada hewan menunjukkan BCS rendah dan dehidrasi. Sonogram abdomen menunjukkan adanya pembesaran gallbladder disertai adanya endapan sekitar 90 % dengan ekhogenitas hiperekoik. Pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan nilai ALT 132 U/L, total protein 8.3 g/dL, anemia (eritrosit 2.68 x 106 µL), trombositopenia (trombosit 20 x 103 µL), leukopenia (leukosit 4.8 x 103 µL), limfopenia (limfosit 0.6 x 103), dan kadar blood urea nitrogen yang tinggi (187 mg/dL). Evaluasi Rapid test kit menunjukkan anjing positif terinfeksi E. Canis. Kombinasi terapi asam ursodeoxycholic, hepatoprotektan, antibiotik, suplemen darah, dan vitamin diberikan selama 2 bulan. Evaluasi sonogram dan darah dilakukan setiap 4 minggu. Kondisi anjing sempat menunjukkan adanya perbaikan, namun akhirnya pasien mati setelah 8 minggu pengobatan
Pencitraan Ultrasonografi Ginjal dan Profil Symmetric Dimethylarginine (SDMA) Anjing Ras Belgian Malinois di Badan Narkotika Nasional
Pencitraan Ultrasonografi (USG) ginjal dapat memberikan informasi struktur internal organ yang bermanfaat, terlebih apabila dikombinasikan dengan parameter kimia darah seperti profil Symmetric Dimethylarginine (SDMA). Penelitian ini bertujuan untuk deteksi dini perubahan morfometri dan fisiologis pada ginjal serta mengevaluasi apakah terdapat kaitan mengenai kesehatan ginjal dengan latihan fisik. Sampel yang digunakan adalah 6 ekor anjing ras Belgian malinois dengan umur 3 - 4 tahun. Tiga ekor anjing merupakan anjing yang aktif dilatih dan 3 ekor lainnya adalah anjing yang tidak aktif dilatih. Pemeriksaan USG dilakukan pada posisi hewan right and left lateral dengan microconvex probe frekuensi 5 – 8 MHz. Sampel darah diambil sebanyak 0.5 ml melalui v. cephalica dan dilakukan pemeriksaan SDMA. Hasil pengukuran menunjukan rasio panjang ginjal:aorta pada anjing aktif adalah 6.02, 6.85, dan 6.87, sedangkan pada anjing tidak aktif adalah 5.76, 6.36, dan 5.5. Nilai SDMA pada anjing aktif adalah 10, 11, dan 8 µg/dL, sedangkan pada anjing tidak aktif adalah 12, 11, dan 15 µg/dL. Hasil ini menunjukan bahwa anjing yang aktif berlatih memiliki ukuran ginjal yang lebih besar dibandingkan dengan anjing yang tidak aktif dilatih. Hasil SDMA pada ketiga anjing yang aktif berada pada rentang normal. Terdapat 1 ekor anjing yang memiliki nilai SDMA diatas rentang normal pada anjing yang tidak aktif dilatih, yang mengindikasikan mengalami chronic kidney disease (CKD) stage 1 menurut International Renal Interest Society (IRIS). Berdasarkan penelitian ini, aktifitas fisik mempengaruhi morfometri ginjal tanpa mengganggu fungsi ginjal anjing Belgian Malinois di Badan Narkotika Nasional (BNN).Pencitraan Ultrasonografi (USG) ginjal dapat memberikan informasi struktur internal organ yang bermanfaat, terlebih apabila dikombinasikan dengan parameter kimia darah seperti profil Symmetric Dimethylarginine (SDMA). Penelitian ini bertujuan untuk deteksi dini perubahan morfometri dan fisiologis pada ginjal serta mengevaluasi apakah terdapat kaitan mengenai kesehatan ginjal dengan latihan fisik. Sampel yang digunakan adalah 6 ekor anjing ras Belgian malinois dengan umur 3 - 4 tahun. Tiga ekor anjing merupakan anjing yang aktif dilatih dan 3 ekor lainnya adalah anjing yang tidak aktif dilatih. Pemeriksaan USG dilakukan pada posisi hewan right and left lateral dengan microconvex probe frekuensi 5 – 8 MHz. Sampel darah diambil sebanyak 0.5 ml melalui v. cephalica dan dilakukan pemeriksaan SDMA. Hasil pengukuran menunjukan rasio panjang ginjal:aorta pada anjing aktif adalah 6.02, 6.85, dan 6.87, sedangkan pada anjing tidak aktif adalah 5.76, 6.36, dan 5.5. Nilai SDMA pada anjing aktif adalah 10, 11, dan 8 µg/dL, sedangkan pada anjing tidak aktif adalah 12, 11, dan 15 µg/dL. Hasil ini menunjukan bahwa anjing yang aktif berlatih memiliki ukuran ginjal yang lebih besar dibandingkan dengan anjing yang tidak aktif dilatih. Hasil SDMA pada ketiga anjing yang aktif berada pada rentang normal. Terdapat 1 ekor anjing yang memiliki nilai SDMA diatas rentang normal pada anjing yang tidak aktif dilatih, yang mengindikasikan mengalami chronic kidney disease (CKD) stage 1 menurut International Renal Interest Society (IRIS). Berdasarkan penelitian ini, aktifitas fisik mempengaruhi morfometri ginjal tanpa mengganggu fungsi ginjal anjing Belgian Malinois di Badan Narkotika Nasional (BNN)
Normal Value of Transthoracic Echocardiography in Swine Model Animals (Sus scrofa domestica)
Penelitian gangguan sistem kardiovaskular semakin berkembang dilakukan pada hewan model. Babi merupakan hewan model yang umum digunakan dalam penelitian biomedis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai normal ekokardiografi jantung babi (Sus scrofa domestica) jantan dan betina. Babi yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 12 ekor babi yang digunakan dalam penelitian ini dengan usia 3 sampai 4 bulan dengan rata-rata berat badan 55 Kg (52 sampai 69 Kg). Pemeriksaan ekokardiografi transtorakalis dengan posisi right parasternal (RPS) long-axis (LAx) dan short-axis (SAx) menggunakan transduser phase-array probe dengan frekuensi 2.5-6.0 MHz yang dilakukan pada babi dalam kondisi teranestesi. Posisi RPS-SAx bertujuan menilai bentuk dan struktur dari ventrikel kiri jantung babi, sedangkan RPS-LAx bertujuan membandingkan dimensi antara ventrikel serta melihat pergerakan katup mitral jantung. Hasil pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan bahwa struktur dari ventrikel kiri babi yang dapat terlihat adalah interventricular septum (IVS), left ventricle (LV), left ventricle wall (LVW), pericardium (P), papillary muscle (PM), dan right ventricle (RV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pada parameter frekuensi jantung (HR), left ventricular internal dimension at end-diastole (LVIDd), dan stroke volume (SV) menunjukkan hasil yang berbeda secara signifikan, sedangkan parameter lainnya memiliki hasil yang tidak signifikan antara jantan dan betina. Nilai ekokardiografi normal pada babi ini dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian kardiovaskular lanjut yang menggunakan babi sebagai hewan model.Research on cardiovascular system disorders is increasingly being carried out in animal models. Swine is an animal model that is commonly used in biomedical research. This study was conducted to determine the normal value of the heart echocardiography of male and female swine (Sus scrofa domestica). There were 12 swine used in this study with an age of 3 to 4 months with an average body weight of 55 kg (52 to 69 kg).Transthoracic echocardiography examination with right parasternal (RPS) long-axis (LAx) and short-axis (SAx) positions using a 2.5-6.0 MHz phase-array probe transducer was performed on anesthetized swine. The RPS-SAx position aims to assess the shape and structure of the left ventricle of the swine heart, while the RPS-LAx aims to compare the dimensions between the ventricles and observe the movement of the mitral valve of the heart. The results of echocardiography examination showed that the structures of the left ventricle of swine that could be seen were the interventricular septum (IVS), left ventricle (LV), left ventricle wall (LVW), pericardium (P), papillary muscle (PM), and right ventricle (RV). The results showed that the values for the parameters of heart frequency (HR), left ventricular internal dimension at end-diastole (LVIDd), and stroke volume (SV) showed significant different results, while other parameters had non-significant results between males and females. Normal echocardiographic values in swine can be used as a reference in further cardiovascular research using swine as animal models
