1,720,956 research outputs found

    PENGARUH PEMBERIAN SARI TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill) TERHADAP STRUKTUR TESTIS MENCIT (Mus musculus L.) STRAIN BALB C SETELAH PAPARAN METHOXYCHLOR

    No full text
    Methoxychlor (MXC) merupakan pestisida hidrokarbon klorinat sebagai pengganti DDT, mempunyai sifat seperti estrogen. Methoxychlor dapat bekerja sebagai endocrine disruptor dan mengakibatkan stres oksidatif. Testis merupakan organ reproduksi jantan yang menghasilkan spermatozoa dan testosteron merupakan salah satu organ target MXC. Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan buah banyak mengandung likopen yang memiliki aktivitas antioksidan potensial. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian sari tomat dan peningkatan dosis sari tomat yang diberikan terhadap jumlah sel-sel spermatogenik (spermatogonia, spermatosit, dan spermatid), sel Sertoli, sel Leydig, tebal epitel tubulus seminiferus, dan berat testis mencit (Mus musculus L.) strain Balb C setelah paparan MXC. Penelitian dilakukan di laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Mencit dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol internal (D0i), kelompok kontrol (D0), dan 3 kelompok perlakuan (D1, D2, dan D3). Pemberian MXC dengan dosis 0,42 mg/g bb dilakukan 2 hari sekali selama 36 hari secara intraperitonial. Pemberian sari tomat dilakukan secara gavage selama 9 hari pada kelompok perlakuan dengan dosis 0,0455 g/g bb; 0,0637 g/g bb; dan 0,0819 g/g bb, D0 tanpa pemberian sari tomat sedangkan D0i dibedah setelah perlakuan MXC. Pembedahan hewan uji D0 dan kelompok perlakuan dilakukan satu hari setelah pemberian sari tomat terakhir hari ke-10 untuk pengambilan testis. Testis kiri ditimbang beratnya sedangkan testis kanan dibuat preparat dengan metode parafin vii dan pewarnaan Hematoxylin-Eosin. Data dianalisis menggunakan Anava satu arah kemudian diuji Duncan dengan derajat kepercayaan 1%. Data dilanjutkan dianalisis menggunakan regresi linear dua atau lebih variable independent dengan metode stepwise untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap spermatid. Rerata jumlah pemberian sari tomat (D0I, D0, D1, D2, dan D3) spermatogonia (38,68; 46,03; 59,65; 73,79; dan 80,07), spermatosit (41,75; 48,43; 56,24; 68,85 dan 77,40), spermatid (69,23; 69,73; 97,61; 121,69 dan 151,24), sel Sertoli (9,28; 11,53; 14,78; 27,22 dan 38,90), sel Leydig (21,38; 37,23; 51,52; 81,52 dan 83,21), dan tebal epitel tubulus seminiferus (3,56; 3,50; 4,60; 5,60 dan 6,36) dengan menggunakan uji Anava setiap parameter tersebut diperoleh P (0,00) < 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC berpengaruh sangat nyata terhadap rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa peningkatan rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus pada setiap perlakuan berbeda sangat nyata dengan kontrol internal. Rerata berat testis pemberian sari tomat D0I, D0, D1, D2, dan D3 yaitu 0,10; 0,10; 0,11; 0,12 dan 0,12 pada uji Anava diperoleh nilai P (0,00) > 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC tidak berpengaruh terhadap rerata berat testis. Hasil uji Duncan menunjukkan peningkatan berat testis pada setiap perlakuan tidak terdapat perbedaan sangat nyata dengan kontrol internal. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC berpengaruh pada struktur testis dan semakin tinggi dosis sari tomat yang diberikan semakin meningkatkan rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, tebal epitel tubulus seminiferus dan berat testis. Adanya hubungan antar variabel (jumlah sel-sel spermatogenik, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus). Jumlah sel Sertoli merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap jumlah spermatid

    PENGARUH PEMBERIAN SARI TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill) TERHADAP STRUKTUR TESTIS MENCIT (Mus musculus L.) STRAIN BALB C SETELAH PAPARAN METHOXYCHLOR

    Get PDF
    Methoxychlor (MXC) merupakan pestisida hidrokarbon klorinat sebagai pengganti DDT, mempunyai sifat seperti estrogen. Methoxychlor dapat bekerja sebagai endocrine disruptor dan mengakibatkan stres oksidatif. Testis merupakan organ reproduksi jantan yang menghasilkan spermatozoa dan testosteron merupakan salah satu organ target MXC. Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan buah banyak mengandung likopen yang memiliki aktivitas antioksidan potensial. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian sari tomat dan peningkatan dosis sari tomat yang diberikan terhadap jumlah sel-sel spermatogenik (spermatogonia, spermatosit, dan spermatid), sel Sertoli, sel Leydig, tebal epitel tubulus seminiferus, dan berat testis mencit (Mus musculus L.) strain Balb C setelah paparan MXC. Penelitian dilakukan di laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Mencit dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol internal (D0i), kelompok kontrol (D0), dan 3 kelompok perlakuan (D1, D2, dan D3). Pemberian MXC dengan dosis 0,42 mg/g bb dilakukan 2 hari sekali selama 36 hari secara intraperitonial. Pemberian sari tomat dilakukan secara gavage selama 9 hari pada kelompok perlakuan dengan dosis 0,0455 g/g bb; 0,0637 g/g bb; dan 0,0819 g/g bb, D0 tanpa pemberian sari tomat sedangkan D0i dibedah setelah perlakuan MXC. Pembedahan hewan uji D0 dan kelompok perlakuan dilakukan satu hari setelah pemberian sari tomat terakhir hari ke-10 untuk pengambilan testis. Testis kiri ditimbang beratnya sedangkan testis kanan dibuat preparat dengan metode parafindan pewarnaan Hematoxylin-Eosin. Data dianalisis menggunakan Anava satu arah kemudian diuji Duncan dengan derajat kepercayaan 1%. Data dilanjutkan dianalisis menggunakan regresi linear dua atau lebih variable independent dengan metode stepwise untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap spermatid. Rerata jumlah pemberian sari tomat (D0I, D0, D1, D2, dan D3) spermatogonia (38,68; 46,03; 59,65; 73,79; dan 80,07), spermatosit (41,75; 48,43; 56,24; 68,85 dan 77,40), spermatid (69,23; 69,73; 97,61; 121,69 dan 151,24), sel Sertoli (9,28; 11,53; 14,78; 27,22 dan 38,90), sel Leydig (21,38; 37,23; 51,52; 81,52 dan 83,21), dan tebal epitel tubulus seminiferus (3,56; 3,50; 4,60; 5,60 dan 6,36) dengan menggunakan uji Anava setiap parameter tersebut diperoleh P (0,00) < 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC berpengaruh sangat nyata terhadap rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa peningkatan rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus pada setiap perlakuan berbeda sangat nyata dengan kontrol internal. Rerata berat testis pemberian sari tomat D0I, D0, D1, D2, dan D3 yaitu 0,10; 0,10; 0,11; 0,12 dan 0,12 pada uji Anava diperoleh nilai P (0,00) > 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC tidak berpengaruh terhadap rerata berat testis. Hasil uji Duncan menunjukkan peningkatan berat testis pada setiap perlakuan tidak terdapat perbedaan sangat nyata dengan kontrol internal. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC berpengaruh pada struktur testis dan semakin tinggi dosis sari tomat yang diberikan semakin meningkatkan rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, tebal epitel tubulus seminiferus dan berat testis. Adanya hubungan antar variabel (jumlah sel-sel spermatogenik, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus). Jumlah sel Sertoli merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap jumlah spermatid

    PENGARUH PEMBERIAN SARI TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill) TERHADAP STRUKTUR TESTIS MENCIT (Mus musculus L.) STRAIN BALB C SETELAH PAPARAN METHOXYCHLOR

    No full text
    Methoxychlor (MXC) merupakan pestisida hidrokarbon klorinat sebagai pengganti DDT, mempunyai sifat seperti estrogen. Methoxychlor dapat bekerja sebagai endocrine disruptor dan mengakibatkan stres oksidatif. Testis merupakan organ reproduksi jantan yang menghasilkan spermatozoa dan testosteron merupakan salah satu organ target MXC. Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan buah banyak mengandung likopen yang memiliki aktivitas antioksidan potensial. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian sari tomat dan peningkatan dosis sari tomat yang diberikan terhadap jumlah sel-sel spermatogenik (spermatogonia, spermatosit, dan spermatid), sel Sertoli, sel Leydig, tebal epitel tubulus seminiferus, dan berat testis mencit (Mus musculus L.) strain Balb C setelah paparan MXC. Penelitian dilakukan di laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Mencit dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol internal (D0i), kelompok kontrol (D0), dan 3 kelompok perlakuan (D1, D2, dan D3). Pemberian MXC dengan dosis 0,42 mg/g bb dilakukan 2 hari sekali selama 36 hari secara intraperitonial. Pemberian sari tomat dilakukan secara gavage selama 9 hari pada kelompok perlakuan dengan dosis 0,0455 g/g bb; 0,0637 g/g bb; dan 0,0819 g/g bb, D0 tanpa pemberian sari tomat sedangkan D0i dibedah setelah perlakuan MXC. Pembedahan hewan uji D0 dan kelompok perlakuan dilakukan satu hari setelah pemberian sari tomat terakhir hari ke-10 untuk pengambilan testis. Testis kiri ditimbang beratnya sedangkan testis kanan dibuat preparat dengan metode parafin dan pewarnaan Hematoxylin-Eosin. Data dianalisis menggunakan Anava satu arah kemudian diuji Duncan dengan derajat kepercayaan 1%. Data dilanjutkan dianalisis menggunakan regresi linear dua atau lebih variable independent dengan metode stepwise untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap spermatid. Rerata jumlah pemberian sari tomat (D0I, D0, D1, D2, dan D3) spermatogonia (38,68; 46,03; 59,65; 73,79; dan 80,07), spermatosit (41,75; 48,43; 56,24; 68,85 dan 77,40), spermatid (69,23; 69,73; 97,61; 121,69 dan 151,24), sel Sertoli (9,28; 11,53; 14,78; 27,22 dan 38,90), sel Leydig (21,38; 37,23; 51,52; 81,52 dan 83,21), dan tebal epitel tubulus seminiferus (3,56; 3,50; 4,60; 5,60 dan 6,36) dengan menggunakan uji Anava setiap parameter tersebut diperoleh P (0,00) < 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC berpengaruh sangat nyata terhadap rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa peningkatan rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus pada setiap perlakuan berbeda sangat nyata dengan kontrol internal. Rerata berat testis pemberian sari tomat D0I, D0, D1, D2, dan D3 yaitu 0,10; 0,10; 0,11; 0,12 dan 0,12 pada uji Anava diperoleh nilai P (0,00) > 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC tidak berpengaruh terhadap rerata berat testis. Hasil uji Duncan menunjukkan peningkatan berat testis pada setiap perlakuan tidak terdapat perbedaan sangat nyata dengan kontrol internal. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC berpengaruh pada struktur testis dan semakin tinggi dosis sari tomat yang diberikan semakin meningkatkan rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, tebal epitel tubulus seminiferus dan berat testis. Adanya hubungan antar variabel (jumlah sel-sel spermatogenik, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus). Jumlah sel Sertoli merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap jumlah spermatid

    PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAHU MENGGUNAKAN TANAMAN KENAF (Hibiscus cannabinus L.) UNTUK MENURUNKAN KADAR AMONIUM DAN BOD PADA BED EVAPOTRANSPIRASI

    No full text
    Industri tahu merupakan salah satu penghasil limbah cair apabila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan permasalahan lingkungan. Fitotretmen adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan tumbuhan untuk mengurangi polutan zat pencemar organik maupun anorganik di dalam tanah, sedimen, atau air. Tanaman kenaf (Hibiscus cannabinusL.) dapat digunakan dalam proses fitotretmen karena mampu mengurangi zat pencemar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan penurunan kadar amonium dan BOD menggunakan tanaman kenaf untuk pengolahan limbah cair tahu. Penelitian ini menggunakan  bed evapotranspirasi dengan sistem batch. Variabel yang digunakan adalah varietas jenis tanaman kenaf (KR 12 dan KR 15) dan konsentrasi limbah cair tahu 75% dan 50% (kadar amonium sama). Penelitian ini dilakukan selama 28 hari. Efisiensi removal tertinggi untuk penurunan kadar amonium pada adalah Kenaf 15 limbah cair tahu 50% adalah 99,58%  (42,093 mg/L menjadi 0,178 mg/L). Efisiensi removal tertinggi untuk penurunan kadar BOD adalah Kenaf 15 limbah cair tahu 75% yaitu 96,59% (3371,25 menjadi 115,03 mg/L).</jats:p

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore